Anda di halaman 1dari 3

COATING PADA LIDAH PASIEN DENGAN PENYAKIT

SALURAN PENCERNAAN DAN PENYAKIT HATI


RINGKASAN
Diketahui bahwa coating pada lidah dapat dilihat secara berbeda, dari coating tipis seperti susu
ke coating tebal kecoklatan pada lidah, yang sering berhubungan dengan bau yang tidak sedap
dari mulut. Beberapa penyakit diduga dapat menyebabkan peningkatan coating pada lapisan
lidah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti dan membandingkan tingkat coating pada lidah
pasien dengan penyakit saluran pencernaan, penyakit hati dan yang sehat.
Kata kunci: coating pada lidah, penyakit hati, penyakit saluran perncernaan
PENDAHULUAN
Coating pada lidah terdiri dari bakteri, sejumlah besar sel epitel desquamasi yang dilepaskan dari
mukosa mulut, leukosit dari poket periodontal, metabolit darah dan nutrisi lain. Fakta
menunjukkan bahwa pasien yang lebih tua lebih cenderung menunjukkan peningkatan coating
pada lidah dibandingkan pasien yang lebih muda (2). Perubahan kebiasaan diet, kebersihan
mulut yang buruk, penurunan aliran saliva, obat-obatan dapat meningkatkan coating pada lidah
(2).
Coating pada lidah dapat dilihat secara berbeda, dari coating tipis seperti susu ke coating tebal
kecoklatan pada lidah, yang sering berhubungan dengan bau yang tidak sedap dari mulut.
Beberapa penyakit diduga dapat menyebabkan peningkatan coating pada lapisan lidah. (3, 5, 9).
Kami memberi perhatian khusus terhadap coating pada lidah karena adanya pendapat yang
mengatakan bahwa lidah adalah cerminan dari tubuh serta peran fisiologisnya sebagai bagian
utama dalam saluran pencernaan. Kami meneliti apakah ada hubungan antara coating pada lidah
dan kesehatan.
TUJUAN
Tujuan kami adalah untuk meneliti dan membandingkan tingkat coating pada lidah pasien
dengan penyakit saluran pencernaan dan penyakit hati kronis dengan subjek yang sehat.
BAHAN DAN METODE:
56 pasien dengan penyakit saluran pencernaan (31 pasien gastritis, tukak lambung dan
gastroduodenitis, 25 hepatitis B dan C kronis dan sirosis), yang termasuk dalam penelitian ini.
Pasien direkrut dari Klinik Gastroenterologi Rumah Sakit "St Ivan Rilski", Universitas Medik
Sofia.

71 subjek yang bebas penyakit adalah mewakili kelompok kontrol. Mereka adalah subjek tanpa:
faringitis dan tonsilitis, abses periodontal, lesi oral, radioterapi atau kemoterapi, infeksi
mikrobilogikal dan pengobatan antibiotik setidaknya 1 bulan sebelum survei, tidak memiliki
riwayat dan data klinis penyakit kronis, termasuk kehamilan dan gangguan mental.
Untuk mengetahui adanya coating pada lidah kami menggunakan Indeks Kojima (Tabel. 1), yang
dinilai pertama secara visual dan kedua berdasarkan warna fotografi setiap orang.
0
1
2
3
4

Kojima Indeks (1985)


Tidak ada coating pada lidah (visual)
Coating tipis kurang dari 1/3 belakang lidah
Coating kurang dari 2/3 lidah atau kurang dari 1/3 lidah dengan coating yang tebal
Lebih dari 2/3 coating pada lidah yang tipis atau kurang dari 2/3 coating pada lidah yang
tebal
Lebih dari 2/3 coating pada lidah yang tebal

HASIL DAN DISKUSI


Kondisi medis yang berbeda dapat mempengaruhi lidah (demam, dehidrasi, gagal ginjal kronis,
diabetes, lambung dan duodenum ulkus, enterocolitis, nefritis kronis, leukemia, glositis, dan lainlain) (3, 8, 9). Ada beberapa data dalam literatur medis tentang manifestasi oral dan lidah yang
terkait dengan kelompok pasien yang kami pilih. (7, 11, 12).
VV Afanas'ev dan rakan kerja (2008), menyatakan bahwa 50 pasien dengan hepatitis aktif
memiliki tanda-tanda oral yang berbeda seperti infeksi candida dan lingua geographica (1).
Peneliti yang lain juga mengeluarkan data yang sama pada anak-anak dengan penyakit saluran
pencernaan. Para peneliti menyimpulkan bahwa manifestasi oral yang paling umum adalah
perubahan pada bibir, lidah dan gingiva (R. Z. Urazova, 2001). W. Deng dan rakan-rakan
mempelajari manifestasi normal pada lidah pada pasien dengan kanker hati primer (4). C. Li,
pada tahun 2003 melakukan penelitian untuk mencari hubungan antara gambaran lidah dan sel
apoptosis pada pasien gastritis kronis (7).
Kami memilih untuk mengevaluasi coating pada lidah dengan Sistem indeks Kodjima (6), karena
kami memiliki informasi tidak hanya untuk adanya coating pada lidah, tapi tentang ketebalannya
juga. Hal ini sering diabaikan oleh sistem pemeriksaan coating pada lidah yang lain (10).
Kesimpulan kami (tabel 2). Indikasi yang paling sering:
I - Tingkat pertama dari skor coating pada lidah terdapat pada pasien dengan penyakit hati,
II - Tingkat kedua terdapat pada pasien dengan penyakit saluran pencernaan,
III- Tingkat ketiga lebih sering terlihat pada kelompok kontrol;

IV - Paling sering pada tingkat keempat terdapat pada pasien dengan gangguan usus, 5 kali lebih
sering dibandingkan kelompok kontrol dan dua kali lebih sering daripada pasien dengan penyakit
hati.
Tabel 2. skor coating pada lidah pasien penyakit saluran pencernaan dan penyakit hati
Indeks
0
1
2
3
4

Grup Kontrol
23,7%
36,8%
10,5%
26,3%
2,6%

Penyakit Saluran Pencernaan


20,8%
25,0%
25,0%
16,7%
12,5%

Penyakit hati
23,8%
47,6%
4,8%
19,0%
4,8%

Pada kelompok pasien dengan penyakit saluran pencernaan pasien dengan indeks 1 (sesuai
dengan coating tipis kurang dari 1/3 bagian belakang lidah) dan indeks 2 (coating tipis kurang
dari 2/3 dari lidah) berada di proporsi yang sama (25%) (Tabel 2).
Pada kelompok dengan penyakit hati dari Lingual Index oleh Kojima dilihat mempunyai data
yang berbeda dari kelompok pasien dengan penyakit saluran pencernaan. Data dikuasai dengan
pasien indeks 1, diikuti oleh pasien dengan indeks 3 (di mana lebih dari 2/3 dari lidah permukaan
dilapisi coating tipis atau kurang dari 2/3 ditutupi dengan coating pada lidah yang tebal).
Indeks 4 mewakili 12,5% dalam kelompok ini.
Kami tidak melihat coating pada lidah di sekitar 20% dari kontrol dan pasien.
Sebagai perbandingan - pada pasien dengan pemindahan fungsi ginjal 50% dari pasien yang
diteliti memiliki II a tingkat kedua indeks lingual (3) dan 10% permukaan lingual dorsal
sepenuhnya ditutupi (sesuai dengan indeks 4) (3).
KESIMPULAN:
Kami mengamati adanya coating tebal pada lidah pada tingkat keempat Kojima Indeks dalam
lima kali lebih banyak pada pasien dengan penyakit saluran pencernaan dan sekitar dua kali lebih
banyak pada pasien dengan penyakit hati dibandingkan dengan subjek sehat. Parameter ini dapat
mengarahkan kita tentang keterlibatan penyakit saluran pencernaan dengan mudah dan cepat.