Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
Pajak telah menyokong 70% dari total penerimaan negara. Oleh karena itu, upaya
peningkatan penerimaan pajak terus menerus dilakukan pemerintah khususnya Direktorat
Jenderal Pajak. Satu hal yang dapat dipastikan bahwa kesadaran dan kepatuhan memenuhi
kewajiban perpajakan tidak hanya bergantung pada masalah-masalah teknis saja yang
menyangkut metode pemungutan, teknis pemeriksaan, penyidikan, penerapan sanksi sebagai
perwujudan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, akan tetapi
tergantung pada kemauan (willingness) wajib pajak, sampai sejauh mana wajib pajak tersebut
akan mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sesuai dengan pendapat Dr. Mohammad Zein, Ak dalam bukunya Manajemen Perpajakan,
bahwa keberhasilan pemungutan perpajakan sangat bergantung pada kemauan wajib pajak
untuk mematuhi peraturan perpajakan maka Direktorat jenderal Pajak harus mampu
membangun sebuah iklim perpajakan yang sehat, dimana sesuai sistem Self Assessment yang
dianut oleh Indonesia walaupun masyarakat diberikan kepercayaan untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak terutangnya namun Direktorat
Jenderal Pajak sebagai alat Negara harus dapat mengawasi, apakah Wajib Pajak telah
melaksanaan kewajiban perpajakannya tepat waktu dan tepat jumlah sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
Adam Smith dalam bukunya yang berjudul Wealth of nations mengajarkan tentang 4
prinsip perpajakan dimana salah satunya adalah Pemungutan pajak harus efisien (Syarat
financial), biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil
pemungutannya. Indonesia dengan segala kompleksitasnya membutuhkan sebuah institusi
perpajakan yang dapat menjalankan fungsi pengawasan dan administrasi yang efisien dan
efektif. Pemanfaatan teknologi informasi adalah salah satu cara mengurangi biaya dalam
administrasi pajak, meningkatkan efektivitas pengawasan dan mengurangi kemungkinan
kesalahan yang dilakukan manusia. Saat ini untuk mendukung operasional Direktorat
Jenderal Pajak telah dibangun beberapa sistem informasi, diantaranya SIDJP ( Sistem
Infomasi Direktorat Jenderal Pajak), dan aplikasi pendukung seperti MPN ( Modul
Penerimaan Negara) dan Aplikasi Portal DJP.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK


Direktorat Jenderal Pajak adalah sebuah direktorat jenderal di bawah Kementerian Keuangan
Indonesia yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan
standardisasi teknis di bidang perpajakan.
Visi
Menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak negara yang terbaik di wilayah Asia
Tenggara.
Misi
Menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dengan menerapkan Undang-Undang
Perpajakan secara adil dalam rangka membiayai penyelenggaraan negara demi kemakmuran
rakyat.
Di Indonesia fungsi administrasi perpajakan sebagian besar di serahkan kepada Direktorat
Jenderal Pajak, dengan landasan idiil yang dimiliki oleh Direktorat jenderal Pajak yang
dikenal dengan sebutan Tri Dharma Perpajakan yang meliputi :
1. Seluruh Wajib Pajak (WP) terdaftar
2. Seluruh Objek Pajak dipajaki
3. Pelaksanaan kewajiban perpajakan tepat waktu dan tepat jumlah sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
Tugas DJP sesuai amanat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/ PMK.01/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan adalah merumuskan dan melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Dalam mengemban tugas tersebut,
DJP menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan di bidang perpajakan;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan;
c. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perpajakan;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perpajakan; dan
e. pelaksanaan administrasi DJP.
Organisasi DJP terbagi atas unit kantor pusat dan unit kantor operasional. Kantor pusat terdiri
atas Sekretariat Direktorat Jenderal, direktorat, dan jabatan tenaga pengkaji. Unit kantor
operasional terdiri atas Kantor Wilayah DJP (Kanwil DJP), Kantor Pelayanan Pajak (KPP),
Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), dan Pusat Pengolahan
Data dan Dokumen Perpajakan (PPDDP).
Organisasi DJP, dengan jumlah kantor operasional lebih dari 500 unit dan jumlah pegawai
lebih dari 32.000 orang yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, merupakan salah satu
organisasi besar yang ada dalam lingkungan Kementerian Keuangan. Segenap sumber daya
yang ada tersebut diberdayakan untuk melaksanakan pengamanan penerimaan pajak yang
beban setiap tahunnya semakin berat.
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem Informasi Manajemen (SIM) menurut OBrien (2002) dikatakan bahwa SIM adalah
suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional,
manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi. Sistem Informasi
Manajemen (SIM) merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output)
dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi
tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

Tujuan Sisitem Informasi Manajemen adalah untuk meningkat efektivitas para menajer yang
menggunakan Informasi tersebut. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan cara :
a. Mengusahakan sebanyak mungkin keputusan-keputusan yang diambil sebaai dasar tujuan
organisasi.
b. Melancarkan semua kegiatan yang bersifat rutin agar dapat mengurai waktu supervisi.
c. Memeberi tanda sejauh mungkin sebagai peringatan untuk menghadapi kesukaran yang
mungkin timbul diluar dugaan.
d. Menyajikan informasi kepada manajer yang akan membantu membuat keputusan yang
lebih baik secara cepat dan tepat. Informasi harus jelas kepada manajer yang
membutuhkan.

BAB III
SISTEM MANAJEMEN KANTOR
Direktorat Jenderal Pajak termasuk salah satu yang telah menggunakan sistem dan teknologi
informasi dengan basis computer. Hal tersebut terbukti dengan dilakukannya improvisasi di
bidang teknologi dan sistem informasi untuk mengantisipasi dinamika bisnis dan kehidupan
ekonomi. Diharapkan dengan pemanfaatan teknologi dan sistem informasi secara tepat dan

maksimal akan mampu mendukung program transparansi dan keterbukaan, serta


meminimalisasi kemungkinan terjadinya KKN.