Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jamur telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak lama, bahkan sudah
dibudidayakan secara turun temurun (Suriawiria, 2000). Jamur merupakan komoditi yang
bermamfaat bagi manusia, karena jamur merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi dan
memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Jamur pada umumnya mengandung protein dan
garam mineral dengan kadar yang tinggi, mengandung besi, tembaga kalium, kapur dan
vitamin B.
Budidaya jamur tiram putih yang bernama latin Pleurotus ostreatus ini masih tergolong
baru. Di Indonesia budidaya jamur tiram mulai dirintis dan diperkenalkan kepada para petani
terutama di Cisarua, Lembang, Jawa Barat pada tahun 1988, dan pada waktu itu petani dan
pengusaha jamur tiram masih sangat sedikit. Sekitar tahun 1995, para petani di kawasan
Cisarua, yang semula merupakan petani bunga, peternak ayam dan sapi mulai beralih menjadi
petani jamur tiram meski masih dalam skala rumah tangga. Dalam perkembangannya,
beberapa industri berskala rumah tangga bergabung hingga terbentuk CV dan memiliki badan
hukum. Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik. Pasar jamur tiram yang
telah jelas dan permintaan pasar yang selalu tinggi dan minus ini memudahkan para
pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram.
Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan
teknik yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah
diperoleh seperti serbuk gergaji, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak
membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana profil usaha pada pengusaha agrobisnis Jamur Tiram Putih ?
2. Bagaimana hasil dari wawancara agrobisnis Jamur Tiram Putih yang telah dilakukan
melalui observasi ?
3. Bagaimana teknik budidaya Jamur Tiram Putih tersebut ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana profil usaha pada agrobisnis Jamur Tiram Putih.

2. Untuk mengetahui bagaimana informasi hasil dari wawancara agrobisnis Jamur Tiram
Putih yang telah dilakukan melalui observasi.
3. Untuk mengetahui teknik budidaya Jamur Tiram Putih.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Usaha Agrobisnis Jamur Tiram Putih


Budidaya jamur tiram putih yang bernama latin Pleurotus ostreatus ini masih tergolong
baru. Di Indonesia budidaya jamur tiram mulai dirintis dan diperkenalkan kepada para petani
terutama di Cisarua, Lembang, Jawa Barat pada tahun 1988, dan pada waktu itu petani dan
pengusaha jamur tiram masih sangat sedikit. Sekitar tahun 1995, para petani di kawasan
Cisarua, yang semula merupakan petani bunga, peternak ayam dan sapi mulai beralih
menjadi

petani

jamur

tiram meski

masih

dalam skala rumah

tangga.

Dalam

perkembangannya, beberapa industri berskala rumah tangga bergabung hingga terbentuk CV


dan memiliki badan hukum.
Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup populer di tengah
masyarakat Indonesia, selain Jenis jamur lainnya seperti jamur merang, jamur kuping dan
jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran
untuk kebutuhan sehari-hari. Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan
nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung
protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis
jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh
manusia dan tidak mengandung kolesterol dan kemudahan dalam proses budidayanya
sehingga dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil,
menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur
tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan adalah Cina, belanda, Spanyol, Prancis,
Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia.
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sangat
baik untuk dikonsumsi manusia. Selain karena memiliki cita rasa yang khas, jamur tiram juga
memiliki nilai gizi yang tinggi. Jamur tiram mengandung protein sebanyak 19 - 35 % dari
berat kering jamur, dan karbohidrat sebanyak 46,6 - 81,8 %. Selain itu jamur tiram
mengandung tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin serta beberapa garam
mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dalam komposisi yang seimbang. Bila
dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0
gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih komplit
sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.
B. Hasil Wawancara Agrobisnis Jamur Tiram Putih
Data wawancara
3

Nama
Alamat
Umur
Komoditi yang ditanam

Wahyudin
Desa Windujanten
45 tahun
Jamur Tiram Putih

Waktu wawancara :
Hari

: Minggu

Tanggal

: 19 November 2014

Pukul

: 13.00 14.00 WIB

Hasil wawancara sebagai berikut :


No Pertanyaan wawancara
Hasil wawancara
1. Persiapa apa saja yang dilakukan sarana produksi yang diperlukan dalam
usaha budidaya jamur tiram putih antara
bapak untuk memulai usaha
lain bangunan, peralatan dan bahanjamur tiram? (sarana produksi)
bahan
2
Seperti apakah bangunan yang
Bangunan jamur sederhana
dapat dibuat dari kerangka kayu (bambu)
diperlukan untuk
beratap daun rumbia, anyaman bambu
membudidayakan jamur tiram?
atau anyaman jerami padi
3. Berapakah ukuran bangunan Ukuran kumbung yang ideal adalah 84 m
2 (12 m x 7 m) dan tinggi 3,5 m. Pada

jamur tersebut?

umumnya kumbung atau bangunan jamur


terdiri atas beberapa ruangan, yaitu ruang
persiapan, ruang inokulasi, ruang inkubasi,
ruang penanaman, dan ruang pembibitan

4.

Alat-alat

apa

digunakan

dalam

saja

yang alat-alat

pembuatan

yang

digunakan

mudah

diperoleh seperti cangkul, sekop, botol

JamurTiram Putih?

atau kayu (untuk memadatkan media


tanam), alat pensteril, lampu spiritus
dan keranjang pengangkutan yang
dibuat dari anyaman bambu atau
keranjang
penyemporotan

plastik.

Sprayer

(pengabut)

penyiraman yang paling

untuk

sederhana

dapat dibuat dari plastik mirip dengan


4

semprotan nyamuk.
Untuk kapasitas produksi yang cukup
besar diperlukan peralatan yang cukup
besar seperti mesin ayakan, mixer
(sebagai

alat

pencampur),

filler

(sebagai alat pengisi media ke dalam


kantong

plastik),

boiler

(sebagai

sumber

pemanas),

dan

chamber

sterilizer
5.

saja

(sebagai

alat

untuk

sterilisasi)
yang Bahan yang perlu disediakan dalam

Bahan/bibit

apa

digunakan

dalam

pembuatan pembuatan subrat jamur adalah serbuk

Jamur Tiram Putih?

kayu, bekatul, kapur (CaCO3), gips


(CaSO4), dapat pula ditambahkan tepung
tapioka atau tepung biji-bijian yang lain.
Adapun bahan yang perlu disediakan
dalam pemeliharaan jamur tiram adalah
bibit jamur, kapur, air bersih, lembaran
plastik, kawat kasa, daun rumbia, paku,
tali dan lain-lainnya.

Bagaimana

cara

Jamur Tiram Putih?

pembuatan Pembuatan Jamur Tiram Putih dilakukan


dengan beberapa proses, diantaranya
pemilihan lokasi, pembuatan kumbung,
pembuatan media tanam, penumbuhan,
penyiraman, pengendalian hama dan
penyakit,

pengaturan

suhu

ruangan,

7.

pemanenan.
Berapa baglog yang didapat Satu kali mengaduk mendapatkan 6000

8.

dalam 1 kali mengaduk?


baglog
Bahan apa saja yang terdapat 150 karung serbuk gergaji, tepung jagung
dalam 1 kali adukan?

150 kg, dedak 300 kg, dan 20 karung


kapur.
5

9.

Berapa lama dalam pembuatan Setelah satu minggu akan keluar jamur,
Jamur Tiram Putih ini?

dalam waktu satu bulan akan memuth,


siklusnya 15 hari hingga akhir bibit. Juga
selama

9.

2-

bulan

masih

dapat

memproduksi
Sekali panen/hari berapa banyak 3 kwintal atau 300 kg

Jamur Tiram Putih yang didapat?


10. Berapa harga 1 kg JamurTiram Rp. 10.000,Putih?
11. Konsumen
target?

yang

dijadikan Biasanya para Bandar atau orang-orang


(konsumen) yang membutuhkan akan
datang ke tempat usaha Jamur tiram
Putih. Konsumen tersebut dating dari
Cirebon, Cibingbin, pasar barus, dll.

C. Teknik Budidaya Jamur Tiram Putih


Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang
dilaksanakan antara lain:
1. Persiapan bahan
Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung
jagung, dan glukosa.
2. Pengayakan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang
kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang
baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama
dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker
karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir
3. Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk
gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 60 % atau bila kita kepal serbuk
tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup
4. Pengomposan
6

Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun
campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik.
5. Pembungkusan (pembuatan baglog)
Pembungkusan membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik
kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat
pemadat) kemudian disimpan.menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran
yang dibutuhkan.
6. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan

dengan

mempergunakan

alat

sterilizer

yang

bertujuan

menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu


pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 100 derajat C
selama 12 jam.
7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah
disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil
dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar
+ 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur
Tiram yang baik
8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan
kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata,
biasanya media akan tampak putih merata antara 40 60 hari.
9. Panen Jamur Tiram
Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan
ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya
dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah
pemasaran. (Galeriukm).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pelaksanaan wawancara dan observasi dapat disimpulkan bahwa :
- Secara teknis, mentimun merupakan tanaman mudah dibudidayakan , karena tidak
-

memerlukan perlakuan secara khusus hanya memerlukan keuletan dan ketelitian


Secara ekonomi, dilihat dari cukup menguntungkan apabila menjalanan usaha agrobisnis

mentimun
Secara social, mampu menyerap tenaga kerja, juga dapat meningkatkan gizi masyarakat

DAFTAR PUSTAKA
http://www.infopeluangusaha.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=5&artid=46
http://eprints.undip.ac.id/32164/5/B02_Khusnatul_Rohmah_chapter_I.pdf
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1672/1/MUHAMAD%20ZULFAHMIFST.PDF