Anda di halaman 1dari 10

Kisah Pengusaha Sukses Pecel Lele Lela

Lela bukanlah nama istri atau anak, tapi berdiri Kode lebih. Nama saya
Rangga Umara. Umur 31 tahun. RM saya telah menyiapkan sejak
Desember 2006.
Kugeluti profesi yang bisa dibilang melenceng dari pekerjaan ayah
saya, Deddy Hasanudin, seorang ustaz dan ibu, Tintin Martini, pegawai
negeri yang akan segera pensiun.
Pertama, tujuan saya adalah untuk menjadi seorang pengusahaTapi
entah kenapa saya akhirnya belajar di sebuah perguruan tinggi di
London Departemen Manajemen Informasi. Ini ilmu akademis membawa saya untuk bekerja di
sebuah perusahaan pengembangan di Bekasi sebagai manajer komunikasi pemasaran di
perusahaan.
Sistem Pemasaran yang diterapkan
Pemilihan lokasi
Lokasi paing berpengaruh terhadap apa yang akan kita jual dan maju tidaknya usaha kita.
Terkadang anda memerlukan keberuntungan untuk menentukan loksai yang strategis bagi usaha.
Biasanya lokasi yang strategis akan memilikiharga sewa yang tinggi. Hal ini yang harus
dipertimbangkan bila memilih lokasi apakah keutungan akan sebanding dengan modal yang
dikeluarkan untuk menyewa lokasi tersebut
Ciri-ciri lokasi yang strategis
1. Berada di lingkungan yang daya beli masyarakat sangat tinggi
2. Tepat untuk parkir tersedia luas
3. Berada di pingi jalan, pertigaan, perempatan yang ramai oleh orang yang berlalu-lalang
4. Mobilitas
Mempersiapkan semuanya
Persiapkan kebutuhan anda yang mendukung usaha anda tersebut

Memantapkan menu
Buatlah menu apa saja dalam berbisnis. Kebanyakan pecel lele akan bersanding dengan men
pecel ayam, pecel bebek, soto ayam, nasi goring, tahu, dan tempe. Kebanyakan bahan-bahan
yang digunakan pun dapat saling mendukung dan tidak memerlukan bahan yang terlalu beragm.
Makanan inovatif
Menu yang enak serta berkualitas menjadi daya tarik tersendiri, pembeli akan ketagihan dan
datang kembali. Bila ada ide kreatif terhadap makanan anda, tuang kan ke dalam masakan yang
akan anda jual.
Harga yang pantas
Menentukan harga pasar akan berdampak pada keuntungan yang anda dapatkan. Bila anda
bingung, sejajarkan harga makanan yang anda jual sejajar dengan harga yang dijualdilain tempat.
Disetiap daerah berbeda-beda dalam harga pasar suatu produk. Kalau pecel lele Lela mematok
keuntungan antara 30-40%.
Selain itu anda harus mempertahankan keuntungan. Misalkan setiap orang memiliki permintaan
khusus. Apabila permintan tersebut mengurangi pendapatan anda contoh nasi tambah, itu hak
anda untuk menghitung harga dari nasi tambah tersebut. Namun bila anda telah menghitung laba
yang nada dapatkan, dapat anda pertimbangkan untuk menghitung atau tidaknya nasi tersebut.
Daya tarik yang selalu diingat
Untuk memberikan kesan tersendiri kita harus memberikan daya tarik yang mengingatkan
pengunjung dengan apapun yang ada di tempat pemasaran. Dalam pecel lele lela ada beberapa
yang menjadi ciri khas yaitu:
1. Ucapan Selamat Pagi di setiap waktu, yang menunjukan makanannya selalu segar.
2. Adanya reward untuk pengunjung yang ulang tahun dan yang bernama lela untuk makan
gratis dengan cara hanya melampirkan fotokopi KTP. Selain gratis, anda akan dirayakan ulang
tahunnya disana oleh para pelayan.

Ini kisah pengusaha muda pecel lele lela


Sebelum di-PHK dari jabatan manajer di
sebuah perusahaan, Rangga Umara (31)
memilih jualan pecel lele di pinggir jalan.
Modal cekak membuat ia terjerat hutang
renternir. Bagaimana jatuh-bangun Rangga
membangun usaha bisnis RM Pecel Lele
Lela? Yuk, simak kisahnya.
Selamat Pagi! Begitu sapaan khas di RM
Lele Lela, begitu Anda masuk ke sana. Tak peduli Anda datang pada pagi, siang, sore, atau
malam, tetap disambut dengan ucapan, Selamat pagi!
Begitulah aku mendoktrin stafku dalam menyambut tamu di rumah makan Lele Lela milikku.
Hal itu kulakukan agar para karyawan termotivasi dan produk yang disediakan selalu segar
seperti segarnya suasana pagi hari.
Lela bukanlah nama istri atau anak-anakku, melainkan singkatan dari Lebih Laku. Oh, ya,
kenalkan, namaku Rangga Umara. Meski usiaku tergolong muda, 31 tahun, pahit getirnya
membangun usaha sudah kurasakan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum akhirnya RM Pecel Lele
Lela dikenal luas. RM ini kudirikan sejak Desember 2006. Bolehlah kini dibilang sukses. Sebab,
aku telah melewati masa - masa sulit. Karena itu, aku lebih bisa menghargai jerih payahku,
menghargai hidup dan orang lain.
Profesi yang kugeluti ini bisa dibilang melenceng dari pekerjaan bapakku, Deddy Hasanudin,
seorang ustaz dan ibuku, Tintin Martini, pegawai negeri yang sebentar lagi bakal memasuki masa
pensiun.
Dulu, cita-citaku memang menjadi pengusaha. Namun, entah kenapa akhirnya aku kuliah di
sebuah perguruan tinggi di Bandung Jurusan Manajemen Informatika. Ilmu akademis ini
mengantarku bekerja di sebuah perusahaan pengembang di Bekasi sebagai marketing

communication manager di perusahaan itu.


Sayang, setelah hampir lima tahun bekerja, kuketahui kondisi perusahaan sedang tidak sehat. Hal
itu membuat banyak karyawan di-PHK. Saat itulah aku tersadar, aku tinggal menunggu giliran.
Karena itu aku mulai memikirkan lebih serius soal rencana hidupku berikutnya. Yang jelas, saat
itu yang terpikir olehku, tak ingin lagi menjadi karyawan kantoran karena sewaktu-waktu bisa
menghadapi masalah PHK lagi.
Nekat Wirausaha
Akhirnya, aku bertekad ingin membuka usaha sendiri. Sayangnya aku bingung mau berbisnis
apa. Sebelumnya, aku pernah membuka beberapa usaha kecil-kecilan, antara lain penyewaan
komputer, tapi bisnisku selalu gagal. Setelah kupikir-pikir, kuputuskan membuka usaha di bidang
kuliner. Alasannya sederhana saja, aku suka sekali makan.
Aku memilih membuka warung seafood seperti yang banyak ditemukan di kaki lima. Modalku
hanya Rp 3 juta. Uang itu kuperoleh dari hasil menjual barang-barang pribadiku ke teman-teman,
antara lain telepon genggam, parfum, dan jam tangan. Sampai sekarang, barang-barang itu masih
disimpan mereka, katanya buat kenang-kenangan. Istriku, Siti Umairoh yang seumur denganku,
mendukung keputusanku.
Awalnya, ia pikir aku hanya berbisnis sampingan saja seperti sebelumnya, karena aku mulai
berjualan sebelum mengundurkan diri dari perusahaan. Ia kaget ketika aku benar-benar
menekuni bisnis ini, meski tetap saja ia mendukung.
Yang keberatan justru orang tuaku. Mungkin mereka khawatir memikirkan masa depan anaknya
yang jadi tidak jelas. Maklum aku yang sebelumnya kerja kantoran dengan berbaju rapi, malah
jadi terkesan luntang-lantung tidak jelas.
Warung semi permanen berukuran 2x2 meter persegi kudirikan di daerah Pondok Kelapa.
Lantaran modal pas-pasan, aku mencari yang sewanya cukup murah, sekitar Rp 250 ribu per
bulan. Aku mempekerjakan tiga orang, dua di antaranya adalah suami-istri. Berbeda dari warung

seafood di kaki lima yang umumnya bertenda biru dan berspanduk putih, warungku kudesain
unik.
Ternyata, desain unik tak membantu penjualan. Tiga bulan pertama, hasil penjualan selalu minus.
Tak satu pun pembeli datang. Aku mencoba berbesar hati, mungkin warungku sepi lantaran
banyak yang tidak tahu keberadaan warung tendaku itu. Aku mulai melirik lokasi lain yang lebih
ramai. Kutawarkan sistem kerjasama dengan rumah makan dan warung lain, tapi selalu ditolak.
Sampai suatu hari, aku mendatangi sebuah rumah makan semi permanen di kawasan tempat
makan, masih di kawasan Pondok Kelapa. Seperti yang lain, pemilik rumah makan ini juga
menolak tawaran kerjasamaku. Ia justru menawariku membeli peralatan rumah makannya yang
hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Aku menolak, karena tak punya uang. Akhirnya, ia
menawarkan sewa tempat seharga Rp 1 juta per bulan. Aku pun setuju.
Mirip Pisang Goreng
Bulan pertama buka usaha, mulai tampak hasilnya. Pembeli mulai berdatangan. Aku tahu, usaha
yang bisa sukses dan bertahan adalah usaha yang punya spesialisasi. Kuputuskan untuk berjualan
pecel lele, makanan favoritku sejak kuliah. Ya, semasa kuliah dulu, aku rajin berburu warung
pecel lele yang enak. Kupikir, orang yang khusus berjualan makanan dari lele belum ada.
Lagi-lagi, nasib baik belum sepenuhnya berpihak kepadaku. Begitu aku berjualan lele, yang laku
justru ayam. Kalau menu ayam habis, pembeli langsung memilih pulang. Namun, aku tak mau
menyerah. Karena aku tahu lele itu enak. Jadi, ketika para pembeli duduk menikmati hidangan,
aku berkeliling meja, minta mereka mencicipi lele hasil masakan kami. Syukurlah, mereka
berpendapat masakannya enak.
Dari situ, aku berusaha lebih giat untuk memperkenalkan masakan lele. Aku berusaha
menonjolkan kelebihan lele yang terletak pada dagingnya yang lembut dan gurih. Untuk
menutupi kekurangan tampilan fisik lele yang mungkin kurang menarik, lelenya aku baluri
tepung lalu digoreng. Hasilnya? Gagal total!

Kuamati lele berbalur tepung itu. He..he..he.. ternyata memang mirip pisang goreng. Aku
pantang menyerah. Kucoba lagi menggoreng lele dengan tepung. Kali ini, digoreng dengan telur
dan melalui beberapa kali proses. Alhamdulillah, sukses! Pembeli makin suka makan lele olahan
kami. Pelangganku yang suka makan ayam, mulai beralih ke lele tepung.
Setelah tiga bulan pindah ke tempat baru itu, pendapatan rumah makanku meningkat menjadi Rp
3 juta per bulan. Aku sangat bersyukur. Dari situ aku berpikir untuk lebih total menekuni bisnis
ini. Apalagi bila dibandingkan dengan penghasilanku sebagai karyawan kantoran yang cuma
tiga koma. Maksudnya, setelah tanggal tiga, lalu koma Ha ha.. ha
Terjebak Rentenir
Tahu usahaku laris, pemilik rumah makan menaikkan biaya sewa jadi dua kali lipat, yaitu Rp 2
juta per bulan. Aku mulai merasa seolah-olah bekerja untuk orang lain karena hasil yang kuraih
hanya untuk membayar sewa tempat.
Masalah bertambah lagi karena aku juga harus memikirkan gaji karyawan. Kuputar otakku guna
mendapatkan uang untuk membayar gaji karyawan. Aku sudah mantap tidak akan kerja kantoran
lagi. Sebab ada tiga orang karyawan yang menggantungkan nasibnya padaku.
Aku mencoba tetap bertahan, walaupun pendapatanku masih minus. Saking pusingnya, di awal
2007 aku nekat berhutang pada seorang rentenir sebesar Rp 5 juta, sekadar untuk menggaji
karyawan. Aku berprinsip, dalam kondisi seperti apa pun, karyawan tetap harus diprioritaskan.
Setelah berkali-kali jatuh bangun merintis Pecel Lele Lela, akhirnya Rangga mulai mereguk
manisnya madu berbisnis kuliner. Usahanya kian menanjak, terutama setelah banyak orang
tertarik menjadi pewaralaba Pecel Lele Lela.
Syukurlah, masalah demi masalah yang menimpa usahaku satu per satu berhasil kulalui. Selain
pantang menyerah setiap kali bertemu masalah, aku juga tak ingin terfokus pada masalah yang
sedang kuhadapi. Aku lebih suka mencari peluang untuk membuka jalan keluar. Bukannya lari
dari masalah, lho. Cara seperti ini justru membuatku terus berpikir optimis dan semangat

mencari solusi terbaik.


Berkat lele goreng tepung andalan, rumah makanku semakin ramai pengunjung. Pecinta lele dari
berbagai kawasan datang ke rumah makanku di Pondok Kelapa untuk menikmatinya. Senang
rasanya melihat perubahan positif ini, terutama bila mengingat bulan-bulan pertama yang sepi
pembeli. Ini membuatku makin bersemangat mengajak kerjasama dengan lebih banyak orang
lagi.
Sehingga, akhirnya aku bisa segera pindah dari tempat makan pertama yang kusewa seharga Rp
2 juta per bulan. Menu lele yang disediakan pun makin beragam, antara lain lele goreng tepung,
lele fillet kremes, dan lele saus padang. Tiga menu inilah yang jadi andalan kami, bahkan jadi
favorit pembeli hingga kini.
Namun, di balik kesuksesanku, cobaan kembali menimpa. Salah satu kokiku berhenti bekerja.
Belakangan, aku tahu ternyata ia membuka usaha sejenis sepertiku. Apakah aku marah? Tidak.
Aku justru kecewa mengapa ia tak memberitahuku sejak awal. Kalau saja tahu, aku pasti akan
mendukungnya. Tak bisa kita berharap orang akan seterusnya loyal bekerja pada kita. Aku
senang, kok, melihat orang lain maju.
Aku juga senang bila usahaku bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain. Bagiku, rezeki
sudah ada yang mengatur. Bahkan ketika saat ini banyak orang berbisnis kuliner lele sepertiku,
aku tak menganggap mereka sebagai ancaman. Ini justru memotivasiku untuk terus berusaha
lebih baik. Namun, tak urung aku kelimpungan dengan mundurnya sang koki. Apalagi, saat itu
rumah makanku mulai ramai.
Istriku kini juga ikut membantu mengembangkan usahaku.
Buka Waralaba
Berkat kerja keras para karyawan, rumah makanku tetap bisa berjalan seperti biasa. Suatu hari,
dalam perjalanan pulang ke rumah orangtuaku di Bandung, aku mampir ke sebuah restoran cepat
saji asal Amerika. Di situlah aku bertemu Bambang, teman lamaku saat SMA. Dulu, kami sering

main basket bareng. Rupanya, Bambang bekerja di restoran itu sebagai manajer.
Aku lalu bercerita, aku sudah punya rumah makan dan mempersilakannya untuk mampir bila ada
waktu. Tak disangka, beberapa minggu kemudian ia datang berkunjung ke rumah makanku yang
sebetulnya lokasinya sangat jauh dari tempat kerjanya.
Dari situlah kami banyak mengobrol soal bisnis rumah makan. Aku juga curhat soal
kebingunganku sebelumnya ketika ditinggal koki. Bambang lalu banyak memberi masukan,
bagaimana mengelola sebuah rumah makan. Tertarik dengan saran-sarannya, akhirnya aku
menjadikannya sebagai konsultan, meski kecil-kecilan.
Sebagai honornya, aku mengganti uang bensinnya. Ia membantuku membuat Standar
Operasional Prosedur (SOP) menjalankan rumah makan. Dengan cara seperti ini, aku tak lagi
kelimpungan bila ditinggal koki. Bambang juga melatih para karyawan sehingga mereka bekerja
lebih profesional, sesuai SOP.
Peran Bambang memang cukup besar. Rupanya, ia menaruh perhatian pada rumah makanku ini,
sehingga akhirnya ia berhenti bekerja dari tempatnya bekerja dan pindah kerja padaku. Bahkan,
temannya banyak yang mengikuti jejaknya. Kini, Bambang jadi General Manager untuk Pecel
Lele Lela.
Syukurlah, dengan adanya SOP ini, usahaku jadi makin berkembang. Aku bisa membuka cabang
lagi. Istriku juga ikut membantu usahaku. Bahkan, atas permintaan banyak orang, sejak 2009
Pecel Lele Lela mulai kuwaralabakan. Sebenarnya, aku tak punya rencana untuk
mewaralabakannya. Namun, para peminat justru mendukungku untuk melakukannya.
Usahaku tak sia-sia, tahun lalu aku mendapat penghargaan dari Menteri UKM.
Raih Penghargaan
Banyaknya permintaan bisnis waralaba, membuatku akhirnya tak bisa menolak untuk
mewaralabakan Pecel Lele Lela. Ya, hitung-hitung lebih memperkenalkan rumah makanku

kepada lebih banyak orang sekaligus bagi-bagi rezeki. Meski awalnya permintaan waralaba
hanya berasal dari Jabodetabek, kini mulai merambah ke daerah. Di antaranya, Bandung,
Yogyakarta, Karawang, dan Purwokerto.
Beberapa cabang lagi akan dibuka dalam waktu dekat, di Medan dan beberapa kota lain. Bahkan,
sudah ada permintaan waralaba dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jeddah, Penang,
Kuala Lumpur, dan Singapura. Rencananya, cabang-cabang di luar negeri akan direalisasikan
tahun ini. Alhamdulillah, kini Pecel Lele Lela telah memiliki 27 cabang, 3 di antaranya adalah
milikku sendiri.
Nama Lela sendiri sebenarnya bukan nama istriku atau anak-anakku. Kedua anakku laki-laki,
Razan Muhammad (2,5) dan Ghanny Adzra Umara (1,5). Lela hanyalah sebuah singkatan, yaitu
Lebih Laku. Ini sekaligus menjadi doa buatku, agar usahaku makin lancar. Alhamdulillah,
Ramadan lalu Pecel Lele Lela ikut mengisi menu acara buka bersama yang diadakan Presiden
SBY di Istana Negara, yang dihadiri para menteri dan duta dari negara sahabat.
Selain itu, tahun lalu aku juga menerima penghargaan dari Menteri Perikanan dan Kelautan
karena usahaku dinilai paling inovatif dalam mengenalkan dan mengangkat citra lele dengan
menciptakan makanan kreatif sekaligus mendorong peningkatan konsumsi ikan. Penghargaan
lain yang juga kuraih, Indonesian Small and Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA)
2010 dari Menteri Usaha Kecil dan Menengah.
Dua penghargaan ini makin memotivasi diriku untuk lebih bekerja giat sekaligus senang karena
usahaku membuat lele jadi menu modern ternyata tak sia-sia. Kini, selain sibuk mengembangkan
Pecel Lele Lela, aku juga kerap diundang jadi pembicara di berbagai seminar, termasuk di
kampus-kampus di seluruh Indonesia. Senang rasanya berbagi ilmu, agar mereka kelak bisa
menciptakan lapangan kerja sendiri.
Mentraktir karyawan makan di restoran lain jadi salah satu caraku menghargai hasil kerja
mereka.

Gratis Makan
Cita-citaku untuk jadi pengusaha kini tercapai sudah. Asal tahu saja, dulu aku pernah bermimpi
punya rumah makan dengan konsep seperti restoran cepat saji terkenal. Kini, pelan-pelan mimpi
itu mulai terwujud. Aku sendiri tak pernah membayangkan usahaku akan sesukses ini. Banyak
orang bilang, kesuksesanku terbilang cepat datangnya.
Aku sangat bersyukur, kini omzet seluruh cabang mencapai Rp 1,8 miliar per bulan, mengingat
dulu aku punya banyak rasa takut untuk memulai. Sampai kini, aku masih memegang keyakinan,
jika kita mau fokus dalam melangkah, pasti akan sukses.
Prinsipku yang lain sejak memulai usaha adalah selalu mengawali sesuatu dengan akhir yang
positif. Maksudnya, aku selalu memikirkan bagaimana nanti kalau usahaku sukses, bukan
sebaliknya. Dengan demikian, aku selalu optimis.
Inovasi juga harus jadi kebiasaan, selain terus meningkatkan kualitas dan pencitraan Pecel Lele
Lela. Itu sebabnya, kini aku sedang menggodok konsep baru untuk jangka panjang. Diversifikasi
menu dan pencitraan Pecel Lele Lela sendiri juga semakin kupikirkan.
Kini, ada banyak pilihan menu lele di Pecel Lele Lela. Untuk menarik hati pembeli, Pecel Lele
Lela juga menggratiskan hidangannya bagi pembeli yang berulang tahun di hari kedatangannya.
Dan, pembeli bernama Lela juga akan mendapat keistimewaan berupa makan gratis seumur
hidup. Menarik, bukan?
Namun, kesuksesan yang kuraih bukan semata-mata kematangan konsep dan kelezatan menu
saja, lho. Para karyawan juga punya andil besar. Itu sebabnya, penting bagiku membuat mereka
betah dan bekerja dengan hati.
Sebagai penghargaan, tak jarang mereka kutraktir makan di restoran lain. Jika hati senang,
mereka juga pasti akan bekerja dengan semangat. Oh ya, soal logo Pecel Lele Lela yang sempat
diprotes kedai kopi asal Amerika karena dianggap mirip, juga sudah kuganti sejak membuka
cabang ke-16. Doakan aku makin sukses, ya!