Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manajemen strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan,
dan pengevaluasian keputusan-keputusan lintas fungsional yang dapat
memungkinkan suatu perusahaan mencapat sasarannya. Manajemen strategis
adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan
perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber
daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan
organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari
berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajemen strategis merupakan aktivitas manajemen tertinggi yang
biasanya disusun oleh dewan direksi dan dilaksanakan oleh CEO serta tim
eksekutif organisasi tersebut. Manajemen strategis memberikan arahan
menyeluruh untuk perusahaan dan terkait erat dengan bidang perilaku
organisasi.
Manajemen strategis berbicara tentang gambaran besar. Inti dari
manajemen strategis adalah mengidentifikasi tujuan organisasi, sumber
dayanya, dan bagaimana sumber daya yang ada tersebut dapat digunakan
secara paling efektif untuk memenuhi tujuan strategis. Manajemen strategis di
saat ini harus memberikan fondasi dasar atau pedoman untuk pengambilan
keputusan dalam organisasi. Ini adalah proses yang berkesinambungan dan
terus-menerus. Rencana strategis organisasi merupakan dokumen hidup yang
selalu dikunjungi dan kembali dikunjungi. Bahkan mungkin sampai perlu
dianggap sebagaimana suatu cairan karena sifatnya yang terus harus
dimodifikasi. Seiring dengan adanya informasi baru telah tersedia, dia harus
digunakan untuk membuat penyesuaian dan revisi.
Menurut Thomas L.Wheelen J. David Hunger manajemen strategi
adalah serangkaian dari pada keputusan majerial dan kegiatan-kegiatan yang
menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut

terdiri dari perumusan / perencanaan strategi, pelaksanaan / implementasi, dan


evaluasi.
Lingkungan dunia yang mengalami perubahan seperti adanya
globalisasi, control masyarakat, perkembangan teknologi, memberikan
dampak bagi perkembangan suatu negara maupun bisnis. Control masyarakat
terhadap pelaksanaan kegiatan pemerintahan maupun perusahaan, sehingga
pemerintah maupun pemimpin perusahaan tidak dapat membuat kebijakan
yang mengabaikan kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu dalam
menjalankan kegiatannya perlu adanya keselarasan antara kompetensi yang
dimiliki perusahaan maupun pemerintah dengan lingkungan yang ada di luar
organisasi (perusahaan dan pemerintah).
Pertimbangan global praktis berdampak pada keputusan strategis,
batas-batas negara diabaikan.Untuk mengetahui dan menghargai dunia dari
perspektif orang lain telah menjadi masalah hidup atau mati untuk bisnis.
Dengan demikian perlu adanya kegiatan dalam pengambilan keputusan yang
disesuaikan antara kemampuan yang dimiliki dengan lingkungan yang ada di
sekitar sehingga perlunya adanya manajemen strategi. Menopang manajemen
strategis tergantung pada manajer mendapat pengertian mengenai pesaing,
pasar, harga, pemasok, distributor, pemerintah, kreditor, pemegang saham dan
pelanggan diseluruh dunia. Harga dan mutu dari produk dan jasa perusahaan
harus dapat bersaing di seluruh dunia, bukan hanya di pasar lokal.
Persaingan yang memunculkan daya saing erat kaitannya dengan
pemahaman mekanisme pasar (standar dan benchmarking), kecepatan dan
ketepatan penyampaian produk (barang dan jasa) yang mampu menciptakan
nilai tambah. Oleh karena itu, peningkatan daya saing organisasi bersifat unik,
tetapi pada intinya dipengaruhi oleh aspek kreativitas, kapasitas, teknologi
yang diguna-kan dan jangkauan pemasaran yang dicapai. Hal tersebut
diwujudkan dari tampilan produk, produktivitas yang ting-gi dan pelayanan
yang baik.
2

2.1 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah penjelasan mengenai ilmu manajemen strategi dan kebijakan
bisnis?
2. Bagaimana awal perubahan strategi ?
3. Apakah model manajemen strategi ?
4. Bagaimanakah hirarki strategi ?
2.2 TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui dan memahami ilmu manajemen strategi dan kebijakan
bisnis.

BAB II
PEMBAHASAN
3

2.1 Bidang ilmu manajemen strategi dan kebijakan bisnis


2.1.1 Evolusi Manajemen Strategi
Sebelum melangkah lebih jauh tentang seberapa jauh peran
manajemen stratejik dalam pengembangan organisasi, kita akan menyimak
dulu pengertian dari manajemen stratejik itu sendiri, berikut beberapa ahli
yang memberikan gambaran atau teori tentang manajemen stratejik itu sendiri.
Barney, 1997:27 Manajemen strategis (strategic management) dapat
dipahami sebagai proses pemilihan dan penerapan strategi-strategi. Sedangkan
strategi adalah pola alokasi sumber daya yang memungkinkan organisasiorganisasi dapat mempertahankan kinerjanya.
Grant, 1995:10 Strategi juga dapat diartikan sebagai keseluruhan
rencana mengenai penggunaan sumber daya-sumber daya untuk menciptakan
suatu posisi menguntungkan. Dengan kata lain, manajamen strategis terlibat
dengan pengembangan dan implementasi strategi-strategi dalam kerangka
pengembangan keunggulan bersaing.
Michael A. Hitt & R. Duane Ireland & Robert E. Hoslisson (1997,XV)
Manajemen strategis adalah proses untuk membantu organisasi dalam
mengidentifikasi apa yang ingin mereka capai, dan bagaimana seharusnya
mereka mencapai hasil yang bernilai. Besarnya peranan manajemen strategis
semakin banyak diakui pada masa-masa ini dibanding masa-masa sebelumnya.
Dalam perekonomian global yang memungkinkan pergerakan barang dan jasa
secara bebas diantara berbagai negara, perusahaan-perusahaan terus ditantang
untuk semakin kompetitif. Banyak dari perusahaan yang telah meningkatkan
tingkat kompetisinya ini menawarkan produk kepada konsumen dengan nilai
yang lebih tinggi, dan hal ini sering menghasilkan laba diatas rata-rata
David 2002:5 Seni dan pengetahuan untuk merumuskan,
mengimplementasikan and mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang
membuat organisasi mampu mencapai obyektifnya. Hunger dan Wheelen
2003:4 Serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan
kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

Dengan demikian dari definisi di atas dapat diketahui fokus manajemen


strategis terletak dalam memadukan manajemen, pemasaran, keuangan/akunting,
produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta system informasi komputer
untuk mencapai keberhasilan organisasi. Manajemen strategis di katakan efektif
apabila memberi tahu seluruh karyawan mengenai sasaran bisnis, arah bisnis,
kemajuan kearah pencapaian sasaran dan pelanggan, pesaing dan rencana produk
kami. Komunikasi merupakan kunci keberhasilan manajemen strategis.
Dari definisi tersebut terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan,
yaitu:
1. Manajemen Strategik terdiri atas tiga proses:
a. Pembuatan Strategi, yang meliputi pengembnagan misi dan tujuan
jangka panjang, mengidentifiksikan peluang dan ancaman dari luar
serta kekuatan dan kelemahan organisasi, pengembangan alternatifalternatif strategi dan penentuan strategi yang sesuai untuk diadopsi.
b. Penerapan strategi meliputi penentuan sasaran-sasaran operasional
tahunan, kebijakan organisasi, memotovasi anggota dan
mengalokasikan sumber-sumber daya agar strategi yang telah
ditetapkan dapat diimplementasikan.
c. Evaluasi/Kontrol strategi, mencakup usaha-usaha untuk memonitor
seluruh hasil-hasil dari pembuatan dan penerapan strategi, termasuk
mengukur kinerja individu dan organisasi serta mengambil langkahlangkah perbaikan jika diperlukan.
2. Manajemen Strategik memfokuskan pada penyatuan/
penggabungan aspek - aspek pemasaran, riset dan pengembangan
keuangan/ akuntansi, operasional/produksi dari sebuah organisasi.
Strategi selalu memberikan sebuah keuntungan, sehingga apabila proses
manajemen yang dilakukan oleh organisasi gagal menciptakan keuntungan bagi
organisasi tersebut maka dapat dikatakan proses manajemen tersebut bukan
manajemen strategi.
Tujuan Sebuah Perusahaan Menerapkan Sistem Manajemen Strategi juga
sebagai berikut memberikan Arah Pencapaian Tujuan Organisasi / Perusahaan.
5

Dalam hal ini, manajer strategi harus mampu menunjukan kepada semua pihak
kemana arah tujuan organisasi / perusahaan. Karena, arah yang jelas akan dapat
dijadikan landasan untuk pengendalian dan mengevaluasi keberhasilan.
Membantu Memikirkan Kepentingan Berbagai Pihak Organisasi /
perusahaan harus mempertemukan kebutuhan berbagai pihak, pemasok,
karyawan, pemegang saham, pihak perbankan, dan masyarakat luas lainnya yang
terkait dengan perusahaan atau disebut dengan istilah Stakeholder Benefits,
memegang peranan terhadap sukses atau gagalnya perusahaan.
Dapat Mengantisipasi Setiap Perubahan Kembali Secara Merata
Manajemen strategi memungkinkan eksekutif puncak untuk mengantisipasi
perubahan dan menyiapkan pedoman dan pengendalian, sehingga dapat
memperluas kerangka waktu/ berpikir mereka secara prespektif dan memahami
konstribusi yang baik untuk hari ini dan hari esok.
Berhubungan dengan Efisiensi dan Efektifitas Tanggung jawab seorang
manajer bukan hanya mengkonsentrasikan terhadap kemampuan atas kepentingan
efisiensi, akan tetapi hendaknya juga mempunyai perhatian yang serius agar
bekerja keras melakukan sesuatu secara lebih baik dan efektif
2.1.2 Pengaruh Manajemen Strategi terhadap Kinerja
Untuk meraih segala cita-cita atau tujuan yang diinginkan oleh suatu
organisasi atau perusahaan maka penerapan manajemen stratejik justru sangat
dibutuhkan guna apa yang diinginkan bersama dapat kit capai dengan sebaik
mungkin. Peran manajemen stratejik ketika diimplementasikan dalam suatu
organisasi maka setiap unit atau bagian yang ada dalam organisasi tersebut dapat
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Apalagi melihat
perkembangan zaman sekarang ini, dimana setiap organisasi perusahaan telah
melakukan ekspansi pasar guna mendapatkan keuntunga yang banyak. Semuanya
itu perlu langkah strategis dan taktik yang tepat sehingga proses atau langkah
yang diambil oleh pimpinan dapat dijalankan seefektif dan seefisen mungkin.
Persaingan yang memunculkan daya saing erat kaitannya dengan
pemahaman mekanisme pasar (standar dan benchmarking), kecepatan dan

ketepatan penyampaian produk (barang dan jasa) yang mampu menciptakan nilai
tambah. Oleh karena itu, peningkatan daya saing organisasi bersifat unik, tetapi
pada intinya dipengaruhi oleh aspek kreativitas, kapasitas, teknologi yang digunakan dan jangkauan pemasaran yang dicapai. Hal tersebut diwujudkan dari
tampilan produk, produktivitas yang ting-gi dan pelayanan yang baik.
Esensi Manajemen Strategik dalam pengembangan daya saing organisasi,
baik bersifat nirlaba maupun ber-orientasi laba dapat dijabarkan atas hal pokok
berikut :
1. Pertumbuhan dan Keberlanjutan
Hal ini dicirikan oleh adanya kegiatan lebih besar dari organisasi yang
nantinya berdampak pada peningkatan kesejahteraan SDM. Pencapaian
kondisi tersebut di-dapatkan dari kerjasama antar individu yang mampu
mewujudkan sinergi perkembangan organisasi sesuai siklus organisasi
(pengenalan, pertumbuhan, kedewa-saa dan pembaharuan dengan kondisi
penurunan, tetap dan naik kembali) ditinjau dari faktor internal maupun
eksternal yang dipengaruhi oleh perubahan-perubahan, baik fundamental,
incremental dan radikal dari nilai-nilai keinginan konsumen, serta
persaingan yang ketat dalam kondisi yang mengandung ketidak-pastian dan
penuh risiko.
2. Berpikir Strategik
Hal ini dicirikan oleh pemahaman tentang pentingnya faktor waktu (lalu,
kini dan esok), proses kontinu (siklus) dan iteratif (sekuens pembelajaran)
dalam mengidentifikasi kegiatan yang menjanjikan ke depan yang berbasis
pada pemetaan kemampuan (superior-tas) yang dimiliki (sumber daya
seperti SDA, SDM dan SDB) dengan secara komprehensif memperhati-kan
faktor-faktor makro seperti politik, ekonomi, teknologi dan sosial budaya,
disamping upaya pem-belajaran organisasi dalam menuju daya saing secara
parsial ataupun utuh. Realisasi berpikir strategik dapat ditunjukkan oleh konsep
masukan, proses dan luaran dalam mengelola perubahan menurut peluang maupun
ancaman yang ditemui sesuai dengan fase-fase berikut : pembentukan kelompok
kerja, inventarisasi kegiatan, keterlibatan unit kerja dan status kegiatan. Hal

tersebut dalam praktiknya didukung oleh konsep-konsep stra-tegi, baik yang


klasik (siklus hidup produk dan SWOT), modern (BCG/Shell, A.D. Little,
McKinsey, PIMS, SRI dan Porter) dan alternatif (PRECOM) yang dalam
implementasinya sangat ditentukan oleh besar-an dimensinya (2-5) atau tema
tertentunya.
3.

Manajemen Strategik
Manajemen Strategik dalam implementasinya ditentukan oleh tahapan identifikasi
lingkungan (internal dan eksternal), perumusan strategi, implementasi strategi,
pemantauan dan evaluasi strategi. Hal tersebut disusun dari sistem lingkungan
yang terdiri dari analisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan : sumber
daya, kapabilitas dan kompetensi inti) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang
dikenal sebagai SWOT ataupun pendekatan peran (policy, strategik dan fungsi)
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, baik secara luas maupun
spesifik, seperti:
a. Masuknya pendatang baru (skala ekonomi, diferensiasi
produk, persyaratan modal, biaya peralih-an pemasok, akses ke saluran
distribusi, kebijakan pemerintah dan lainnya;
b. Ancaman produk peng-ganti (biaya/harga);
c. Kekuatan tawar menawar pembeli (kuantitas, mutu dan ketersediaan);
d. kekuatan tawar menawar pemasok (dominasi, integrasi dan keunikan);
Dalam proses manajemen strategik diperlukan pernyataan-pernyataan
yang terkait dengan penetapan visi (jati diri), misi (justifikasi/pembeda) dan
tujuan (target/standar) sebagai jawaban terhadap pencanangan strategi yang telah
disusun menurut tingkatannya (korporat, bisnis dan fungsional) yang didasarkan
pada muatan, konsis-tensi dan keterpaduannya dari suatu kerangka kerja proses
pengambilan keputusan organisasi untuk jang-ka panjang. Dalam hal ini, struktur
organisasi dengan berbagai bentuknya (sederhana, fungsional, divisional, matriks,
unit bisnis strategik berperan pen-ting dalam pencapaian tujuan dari kebijakan
yang dibuat.

Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja


(frame work) untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi
terutama berkaitan dengan persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir
lebih kreatif atau berpikir secara strategik.
Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih
banyak alternatif yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih
menjanjikan suatu hasil yang menguntungkan.. Ada bebarapa manfaat yang
diperoleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen strategik, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.


Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif
Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam

lingkungan yang semakin beresiko.


5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan
untuk mencegah munculnya masalah di masa datang.
6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih
memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurang

2.2 Awal Perubahan Strategi


Ketika persaingan dunia bisnis tidak bisa dihindari maka manajemen
perubahan menjadi sangat penting diterapkan. Namun demikian dalam
kenyataannya proses perubahan yang terjadi tidak selalu mendapat respon positif.
Resistensi dari dalam berpeluang terjadi. Terutama dalam hal-hal kebijakan yang
menyangkut sisi efisiensi penggunaan tenaga kerja atau rasionalisasi. Termasuk
yang ada kiatannya dengan manajemen karir dan kompensasi.
Manajer perlu memahami mengapa organisasi harus siap menghadapi
perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis. Perubahan inovatif
adalah perbaikan secara kontinyu di dalam kerangka sumberdaya yang ada.
Sementara perubahan strategis adalah perubahan melakukan sesuatu yang baru.

Berdasarkan derajat kedalaman perubahan dan metodenya maka jenis perubahan


yang bakal manajemen hadapi meliputi perubahan rutin, darurat, mutu, radikal,
dan kondisi makro.
Perubahan inovatif adalah suatu proses yang dicirikan dengan adanya
perbaikan apa yang sudah dilakukan. Perbaikan-perbaikan ini menyangkut dalam
praktek pekerjaan dan proses, perubahan dalam rancangan, perakitan, distribusi
produk atau perubahan dalam manejemen material. Sementara itu perubahan
strategik meliputi : perubahan preferensi pelanggan, ukuran pasar, cara
mendistribusi komoditi, cara mempromosi komoditi, perubahan unsur pendukung
dan biaya tenaga kerja-operasional. Dalam pelaksanaannya, ada dua prosedur
perubahan:
(a) Prosedur perubahan inovatif yang memungkinkan organisasi memperbaiki
efektifitas dengan mutu SDM yang terus dikembangkan;
(b) Prosedur perubahan strategik yang memungkinkan organisasi merubah apa
yang perusahaan lakukan dan cara melakukannya. Agar resistensi dapat ditekan
demi tercapainya keberhasilan suatu program perubahan maka setiap orang harus
siap dan mampu merubah perilakunya. Hal ini sangat bergantung pada apa yang
mempengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah.
Beragam faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku: pengetahuan,
kepercayaan, ketrampilan, lingkungan dan tujuan perusahaan. Untuk itu
sosialisasi intensif dan penerapan pendekatan partisipasi sangat dibutuhkan.
Semua elemen organisasi penting dilibatkan sejak awal dalam
merumuskan syarat-syarat agar perubahan berhasil seperti adanya kerangka
perubahan, batasan perubahan yang diinginkan, target hasil, keterkaitan dengan
tujuan perusahaan, komit pada kepemimpinan, memahami implikasi perubahan,
memilih metode yang benar, melibatkan pemangku kepentingan, menggunakan
strategi, dan memantau dan mengendalikan proses.
Ketika membicarakan perubahan, ada jargon yang selalu didengungkan,
yaitu:Di dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti kecuali perubahan itu
sendiri. Ada banyak aspek yang memicu perubahan, baik yang berasal dari
internal maupun eksternal perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan harus

10

menganalisis perubahan yang akan terjadi seandainya formulasi strategi yang


telah disepakati bersama diimplementasikan.
Melalui analisis ini perusahaan memperhitungkan secara rinci seberapa
besar perusahaan akan berubah, apakah secara sangat sederhana dimana tidak ada
perubahan strategi yang signifikan, sampai kepada perubahan yang kompleks,
misalnya merubah misi perusahaan.
Perubahan strategi dapat diklasifikasikan dalam 5 level perubahan, di
mana semakin besar perubahan maka akan semakin kompleks usaha untuk
mengimplementasi. Adapun 5 level perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Continuation : Pola ini terjadi karena perusahaan mengulang strategi yang
sama dengan strategi yang digunakan pada periode sebelumnya. Karena
strategi ini pernah dilakukan sebelumnya, maka tidak banyak membutuhkan
kemampuan atau aktivitas yang baru. Bahkan, melalui pengalaman
sebelumnya akan mampu membuat perusahaan beroperasi lebih efisien.
b. Routine Change : Perubahan ini dilakukan perusahaan untuk
meningkatkan daya tarik pasarnya (market appeal) agar konsumen lebih
terpikat.

Dalam strategi ini, biasanya perusahaan melakukan

perubahan appeal (daya tarik) dari iklannya, kemasan, harga, metode distribusi,
dan sebagainya. Jadi, dalam hal ini, perubahan yang dilakukan bukanlah
perubahan yang signifikan, sebab perusahaan masih menekuni industri yang
sama dan format organisasinyapun tidak berubah.
c. Limited Change : Perubahan ini dilakukan karena perusahaan menawarkan
produk baru pada pasar yang baru. Dalam hal ini, kendati perusahaan masih
beroperasi dalam industri yang sama, namun akibat perubahan produk baru
tersebut maka format organisasipun ikut mengalami perubahan.
d. Radical Change : Dalam hal ini perusahaan melakukan suatu strategi cukup
mendasar sehingga perusahaan memandang perlu dilakukannya
reorganisasi secara besar-besaran. Jenis perubahan ini biasanya dilakukan
ketika perusahaan melakukan merger atau akuisisi namun masih dalam industri
yang sama. Proses akuisisi dan merger dapat menjadi lebih kompleks jika
perusahaan bermaksud mengintergrasikan kedua perusahaan secara utuh.

11

e. Organizational Redirection : Dalam hal ini perusahaan melakukan


perubahan orientasi sedemikian rupa sehingga merubah industri yang dimasuki,
merubah misi, keahlian dan sebagainya. Organizational Redirection juga dapat
terjadi ketika suatu perusahaan melakukan merger atau akuisisi terhadap
perusahaan yang berasal dari industri yang sama sekali beda. Jenis perubahan
ini merupakan perubahan yang paling kompleks.
Esensi perbedaan diantara lima level perubahan di atas dapat disajikan dalam
tabel berikut.
2.3 Model Manajemen Strategi
Lalu bagaimana langkah-langkahnya untuk dapat mempersiapkan suatu
strategi yang terencana dengan baik, terimplementasi dengan semestinya, dan
mendapatkan hasil yang optimal, berikut adalah langkah-langkah besar untuk
model manajemen strategi tersebut:
1. Pengamatan Lingkungan
Terdiri dari dua entitas, yaitu analisa lingkungan eksternal dan internal.
2. Perumusan Strategi
Terdiri dari milestone yang dimulai dari penentuan Misi", kemudian
menentukan Tujuan, membangun Strategi untuk mencapai misi dan tujuan
tadi, dan pembuatan Kebijakan sebagai rambu-rambu dasar untuk pembuatan
keputusan bisnis.
3. Implementasi Strategi
Pada fase ini terdiri dari tiga langkah-langkah yang terdapat di dalamnya, yaitu:
program (aktifitas yang dibutuhkan untuk menunaikan tujuan sesuai dengan
strategi yang sudah ditetapkan), anggaran (biaya yang dibutuhkan untuk
menjalankan program-program yang dibuat) dan prosedur (panduan detil untuk
melakukan suatu aktifitas terkait program yang telah dibuat).
4. Evaluasi dan Pengendalian

12

Manajemen kinerja bisnis berada pada fase ini. Kinerja bisnis yang sudah
dicapai apakah sudah sesuai dengan rencana awal ataukah justru lemenceng
jauh dari sasaran.
Corporate/Business performance management dapat digunakan pads case ini,
seperti penggunana KPI sebagai salah satu met ode untuk dapat menilai kinerja
dan dapat menemukan bad actor serta langkah kerja untuk memperbaikinya.
Untuk lebih memudahkan dalam mengingat dan mengimplementasikan kaidah
langkah-langkah dasar dari model manajemen strategi diatas, maka sajak/puisi
berikut semoga bisa memberikan suatu kemudahan:
(1) Kenali Diri dan Lingkungan
(2) Siapkan bekal untuk pertarungan
(3) Misi dan Tujuan sebagai Pedoman
(4) Strategi dibuat untuk Pencapaian
(5) Kebijakan menentukan Keputusan
(6) Rancang Program; tentukan Anggaran
(7) Prosedur panduan dalam pekerjaan
(8) Kinerja terbaik bukan halangan
(9) Bisnis Sukses Mulia sebagai Persembahan
2.4 Hirarki Strategi
Hierarki pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan biasanya terdiri dari tiga
jenjang. Pada puncak hirarki yang terletak tingkat korporasi (perusahaan) yaitu
suatu urusan yang merupakan sebuah kumpulan bisnis yang secara relatif
independen, yang kadang-kadang disebut sebagai Strategic Unit Bisnis.
Pada bagian tengah hirarki, pengambilan keputusan terletak tingkat bisnis atau
strategi kompetitif. Para manajer yang terdapat di dalamnya biasanya disebut
manajer bisnis dan korporasi. Mereka menerjemahkan rumusan arah dan
keinginan yang dihasilkan pada tingkat korporasi ke dalam sasaran dan strategi
yang kongkret untuk masing-masing divisi usaha.

13

Pada bagian bawah hierarki pengambilan keputusan strategi, terletak tingkat


fungsional. Strategi fungsional berkaitan dengan interpretasi peran dari fungsi
atau departemen dalam menerapkan strategi kompetitif. Dalam hal ini, strategi
fungsional diarahkan oleh strategi kompetitif atau bisnis.
1. Strategi Korporasi/Perusahaan
Menentukan bidang usaha atau serangkaian bidang usaha yang diminati dan
bagaimana perusahaan merencanakan strategi secara mendasar untuk dapat
memimpin pada bidang usaha tsb. Strategi korporasi dirumuskan oleh manajemen
puncak dan dirancang sedemikian rupa guna mencapai tujuan organisasi.
Memformulasikan strategi korporasi di dalam perusahaan besar akan sangat sulit
sekali sebab banyak sekali strategi tingkat bisnis yang sangat berbeda dan
memerlukan koordinasi guna mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.
Demikian model strategi yang dipakai adalah portofolio bisnis, sbb
-

Strategi Portofolio

Strategi portofolio adalah tipe strategi tingkat perusahaan yang berhubungan


dengan bauran antara unit-unit bisnis (UBS=SBU) dan lini-lini produk yang
sesuai satu sama lain dalam cara-cara yang masuk akal sehingga memberikan
keunggulan kompetitif bagi perusahaan. UBS (Unit Bisnis Strategi) merupakan
suatu divisi organisasi yang memiliki misi bisnis, lini produk, pesaing dan pasar
berbeda terhadap UBS lain dalam organisasi yang sama.
-

Matriks BCG

Matriks BCG (Boston Consulting Group) mengorganisir bisnis-bisnis dalam dua


dimensi yaitu pertumbuhan bisnis dan pangsa pasar (market share).
Tingkat pertumbuhan bisnis (Business Growth Rate) berkaitan dengan seberapa
cepat industri mengalami peningkatan.
Pangsa pasar (market share) mendefinisikan apakah sebuah unit bisnis memiliki
pangsa yang lebih kecil atau lebih besar dibandingkan dengan pesaingnya.
2. Strategi Bisnis
Merumuskan strategi bisnis melibatkan pengambilan keputusan pada tingkat unit
bisnis. strategi bisnis merupakan istilah yang umum untuk menunjukkan
bagaimana sebuah unit usaha merencanakan untuk bersaing dengan perusahaan

14

lain yang bergerak pada bidang usaha yang sama. Di dalam strategi tingkat ini
yamh ditujukan adalah bagaimana cara bersaingnya. Pendekatan yang berguna di
dalam merumuskan strategi bisnis sebainya didasarkan atas analisis persaingan
yang dicetuskan oleh Michael Porter:
Lima Kekuatan Kompetitif Porter
Pendekatan Porter didasarkan atas analisis 5 kekuatan persaingan. Tekanan
persaingan mencakup:
Ancaman Pendatang Baru, perusahaan yang memasuki industri yang membawa
kapasitas baru dan ingin memperoleh pangsa pasar yang baik dan laba, akan tetapi
semua itu sangat tergantung kepada rintangan atau kendala yang mengitarinya.
Daya Tawar Menawar Pemasok, pemasok dapat juga menjadi ancaman dalam
suatu industri sebab pemasok dapat menaikkan harga produk yang dijual atau
mengurangi kualitas produk. Jika harga produk pemasok naik maka harga pokok
perusahaan juga naik sehingga akan menaikkan harga jual produk. Jika harga jual
produk naik maka sesuai dengan hukum permintaan, permintaan produk akan
menurun. Begitu pula jika pemasok menurunkan kualitas produk, maka kualitas
produk penghasil juga akan turun, sehingga akan mengurangi kepuasan
konsumen.
Daya Tawar Menawar Pembeli, pembeli akan selalu berusaha mendapat produk
dengan kualitas baik dan dengan harga yang murah. Sikap pembeli semacam ini
berlaku universal dan memainkan peran yang cukup menentukan bagi perusahaan.
Jika suatu produk dinilai harganya jauh lebih tinggi dari kualitas (harganya tidak
mencerminkan yang sepantasnya) maka pembeli (konsumen) tidak akan membeli
produk perusahaan.
Daya Tawar Produk Pengganti, produk pengganti secara fungsional mempunyai
manfaat yang serupa dengan produk utama (asli), namun memiliki kualitas produk
dan harga yang lebih rendah. Umumnya, produk pengganti disenangi oleh orang
yang berpenghasilan rendah akan tetapi ingin tampil dengan status lebih tinggi
dari keadaan sebenarnya.
Persaingan Antar Pesaing, persaingan konvensional selalu berusaha sekeras
mungkin untuk merebut pangsa pasar perusahaan lain. Konsumen merupakan

15

objek persaingan dari perusahaan yang sejenis yang bermain di pasar. Siapa yang
dapat memikat hati konsumen maka perusahaan akan dapat memenangkan
persaingan. Untuk dapat memikat konsumen maka berbagai cara dilakukan mulai
dari memberikan fasilitas khusus, pemberian kredit dengan syarat ringan, harga
murah atau diskon.
Strategi Kompetitif Porter
Diferensiasi (Differentiation), adalah salah satu tipe strategi kompetitif di mana
organisasi berupaya membuat produk atau jasa yang ditawarkannya berbeda
dengan pesaing. Organisasi dapat menggunakan periklanan, fitur produk yang
berbeda, pelayanan atau teknologi baru untuk meraih persepsi produk yang
dianggap unik.
Kepemimpinan Biaya (Cost Leadership), merupakan salah satu tipe strategi
kompetitif di mana organisasi secara agresif berupaya menjadi lebih efisien
(melakukan reduksi biaya) dari pesaing-pesaingnya dengan memotong biaya
produksi dan pengawasan biaya yang sangat ketat.
Fokus (Focus), adalah salah satu tipe strategi kompetitif yang menekankan pada
kondentrasi terhadap suatu segmen pasar atau kelompok pembeli tertentu.

3. Strategi Fungsional
Strategi fungsional adalah strategi yang lebih bersifat teknis yang merupakan
rumusan arahan dan pedoman dan operasional. berisi rencana untuk mencapai
tingkat penggunaan sumber daya secara efisien, efektif dan optimal pada setiap
fungsi guna mendukung strategi korporasi dan bisnis. Startegi tersebut terdiri dari
6 jenis, yaitu:
Strategi produksi, strategi ini untuk menetapkan apa yang menjadi produk
unggulan, produk kompetitif, produk baru, sesuai dengan kompetensi pokok yang
dimiliki.
Strategi pemasaran, strategi ini untuk menetapkan pasar mana yang akan digarap,
kondisi pasar yang bagaimana yang akan diinginkan, dan lain sebagainya.

16

Strategi promosi, strategi ini merupakan kelanjutan dari pemasaran dan produksi,
dimana promosi apa yang dihendak diluncurkan, media apa yang akan digunakan
untuk promosi dan sebagainya.
Strategi keuangan, dimana berkaitan dengan pendanaan serta ketersediaan dana
baik untuk produksi, pemasaran dan bagian fungsional lainnya. Dari mana dana
tersebut didapat dan bagaimana penggunaannya.
Strategi sumber daya manusia (SDM), merupakan strategi yang penting dan harus
mencakup seluruh fungsi manajemen. Pemilihan SDM yang tepat dan
berkompeten pada bidang yang tepat sangat lah diperlukan.
Startegi fungsional lainnya, ini berkaitan dengan pihak luar seperti suplier,
konsultan, agen dan lain sebagainya dengan memperhatikan transparansi,
kejujuran, dan keterbukaan.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang
obyektif, logis, sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu
organisasi. Proses ini berusaha untuk mengorganisasikan informasi
kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang memungkinkan keputusan
efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu. Berdasarkan pada
pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik. Intuisi terutama bermamfaat untuk

17

membuat keputusan dalam situasi yang amat tidak menentu atau sedikit
preseden. Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa
organisasi seharusnya terus-menerus memonitor peristiwa dan
kecenderungan internal dan eksternal sehingga melaukan perubahan tepat
waktu. Teknologi informasi dan globalisasi adalah perubahan eksternal
yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa ini. Arus informasi yang
cepat menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh dunia dapat
melihat sendiri bagaimana cara hidup orang lain. Dunia menjadi tanpa
perbatasan dengan warga Negara global, pesaing global, pelanggan global,
pemasok global, dan distributor global.
3.2

SARAN
Semoga pembaca dapat mengerti dan memahami pengertian dari proyek,
tata cara perencanaan proyek dan macam-macam proyek.

18