Anda di halaman 1dari 17

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL

CARE DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE


DI RUMAH BERSALIN WIKADEN IMOGIRI BANTUL

Peta Puspita Dewi, Mujahidatul Musfiroh


Mahasiswa DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS
2
Dosen DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS

ABSTRAK
Latar Belakang : Penelitian ini dilakukan di Rumah Bersalin Wikaden karena
merupakan salah satu Rumah Bersalin yang mempunyai K1 tinggi (48%) dan K4
rendah (32%). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu
hamil tentang ANC dengan frekuensi kunjungan ANC di Rumah Bersalin
Wikaden Bantul.
Metode penelitian: Jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross
sectional. Pengambilan sampel dengan cara total sampling menggunakan
kuesioner. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 38 ibu hamil.
Hasil Penelitian : Pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care di Rumah
Bersalin Wikaden Bantul sebagian besar mempunyai pengetahuan baik (60%),
dan frekuensi kunjungan 4 kali (87%). Penelitian ini menggunakan uji statistik
korelasi pearson product moment dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05).
Kesimpulan : Ada hubungan pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care
dengan frekuensi kunjungan antenatal care di Rumah Bersalin Wikaden Imogiri
Bantul.
Kata Kunci : Pengetahuan ibu hamil, Antenatal care, Frekuensi kunjungan

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

73

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia
berdasarkan
Survey
Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007 saat ini telah
terjadi
penurunan
yaitu
dari
307/100.000 kelahiran hidup (KH)
pada tahun 2002, turun menjadi
228/100.000 KH pada tahun 2007.
AKI di provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) pada tahun 2010
sebesar 103/100.000 KH. Sedangkan
di Kabupaten Bantul capaian
indikator AKI pada Tahun 2010
sebesar
82,07/100.000
KH.
Meskipun capaian AKI di Kabupaten
Bantul sudah baik, namun resiko
tinggi (resti) pada ibu hamil di
kabupaten Bantul masih mengalami
peningkatan dari 14,49% tahun 2009
menjadi 19,99% tahun 2010 (Dinkes
Bantul, 2010).
Angka kematian yang tinggi
menurut
Wiknjosastro
(2006)
disebabkan dua hal pokok yaitu
masih
kurangnya
pengetahuan
mengenai
sebab
akibat
dan
penanggulangan
komplikasikomplikasi penting dalam kehamilan,
persalinan, nifas, serta kurang
meratanya pelayanan kebidanan yang
baik untuk semua ibu hamil, salah
satunya yaitu pelayanan antenatal
care (ANC). Pelayanan ANC penting
untuk memastikan kesehatan ibu
selama kehamilan dan menjamin ibu
untuk melakukan persalinan di
fasilitas kesehatan. Para ibu yang
tidak
mendapatkan
pelayanan
antenatal cenderung bersalin di
rumah (86,7%) dibandingkan dengan
ibu yang melakukan empat kali
kunjungan pelayanan antenatal atau
lebih (45,2 %) (Bappenas, 2010).

Masih banyak ibu-ibu yang


kurang
menyadari
pentingnya
pemeriksaan kehamilan sehingga
menyebabkan tidak terdeteksinya
faktor-faktor resiko tinggi yang
mungkin dialamai oleh mereka. Hal
ini bisa disebabkan karena rendahnya
tingkat pendidikan, pengetahuan dan
kurangnya informasi (Maas,2006).
Pendidikan
dan
pengetahuan
masyarakat sangat berperan dalam
perilaku kesehatan masyarakat itu
sendiri baik itu diperoleh dari
pendidikan formal ataupun informal,
penyuluhan
atau
penginderaan.
Respon
ibu
hamil
tentang
pemeriksaan kehamilan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi
keteraturan ANC. Jadi perilaku ibu
hamil dalam merawat kehamilannya
juga dipengaruhi oleh pengetahuan
terhadap
kehamilannya
(Notoatmodjo, 2007).
Pemanfaatan
pelayanan
antenatal oleh seorang ibu hamil
dapat dilihat dari cakupan pelayanan
antenatal, salah satunya yaitu
cakupan kunjungan antenatal yang
kurang dari standar minimal.
Cakupan pelayanan antenatal dapat
dipantau melalui cakupan pelayanan
K1 dan K4. Cakupan K1 adalah
cakupan
ibu
hamil
yang
mendapatkan pelayanan antenatal
sesuai standar yang pertama kali
pada masa kehamilan dan tidak
tergantung usia kehamilan (K1),
sedangkan cakupan kunjungan ibu
hamil K4 adalah cakupan ibu hamil
yang telah memperoleh pelayanan
antenatal sesuai dengan standar
paling sedikit 4 kali di satu wilayah
kerja pada kurun waktu tertentu. Ibu
hamil di anjurkan untuk melakukan
pengawasan antenatal sedikitnya
sebanyak 4 kali, yaitu satu kali pada

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

74

trimester I, satu kali pada trimester


ke II, dan dua kali pada trimester III
(DepKes RI, 2009).
Data cakupan ibu hamil yang
pertama kali mendapat pelayanan
antenatal (K1) di kabupaten Bantul
berdasarkan data Dinkes Provinsi
Yogyakarta tahun 2010 yaitu sebesar
100% (13.377 ibu hamil). Sedangkan
ibu hamil yang telah mendapat
pelayanan antenatal minimal empat
kali (K4) masih tergolong rendah,
yaitu sebesar 83,56% (11.178 ibu
hamil). Hal ini masih dibawah target
nasional pada tahun 2015 yaitu
sebesar
95%.
Masih
belum
tercapainya cakupan K4, salah
satunya
disebabkan
karena
pemahaman
tentang
pedoman
kesehatan ibu dan bayi khususnya
kunjungan pemeriksaan yang masih
kurang. Selain itu, rendahnya K4
juga
menunjukkan
rendahnya
kesempatan untuk menjaring dan
menangani risiko tinggi obstetrik
(Saifudin, 2008).
Data yang diperoleh dari catatan
rekam medik di Puskesmas Imogiri
II Bantul Periode tahun 2010 - 2011
didapatkan bahwa tahun 2010
cakupan K1 sebesar 92,10% dan
cakupan K4 sebesar 81,10%,
sedangkan tahun 2011 cakupan K1
sebesar 100% dan cakupan K4
sebesar 85,15% dengan jumlah ibu
hamil sebanyak 823 orang, hal ini
berarti masih dibawah target
nasional. Berdasarkan data di
Puskesmas Imogiri II Bantul
tersebut, Rumah Bersalin (RB)
Wikaden Imogiri Bantul merupakan
salah satu yang mempunyai K1
tinggi (48%) dan K4 rendah (32%).
Efektifitas pelayanan ANC tidak
hanya diukur berdasarkan dari
keberhasilan cakupan K1 dan K4

saja, tetapi juga ditinjau dari


keteraturan
dalam
melakukan
kunjungan, agar informasi yang
penting bagi ibu hamil dapat
tersampaikan.
Tinjauan Pustaka
1.
Antenatal Care
Menurut Mufdlilah (2009), Antenatal
care adalah suatu program yang
terencana berupa observasi, edukasi,
dan penanganan medik pada ibu
hamil, untuk memperoleh suatu
proses kehamilan dan persalinan
yang aman dan memuaskan.
Tujuan antenatal care adalah :
1)
Memantau
kemajuan
kehamilan
untuk
memastikan
kesehatan ibu dan tumbuh kembang
janin.
2)
Meningkatkan
dan
mempertahankan kesehatan fisik,
mental dan sosial budaya ibu dan
bayi.
3)
Mengenali secara dini adanya
ketidaknormalan atau komplikasi
yang mungkin terjadi selama
kehamilan termasuk riwayat penyakit
secara
umum,
kebidanan,
pembedahan.
4)
Mempersiapkan
persalinan
cukup bulan, melahirkan dengan
selamat ibu maupun bayinya dengan
trauma seminimal mungkin.
5)
Mempersiapkan ibu agar
masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI eksklusif.
6)
Mempersiapkan peranan ibu
dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh
kembang secara normal.
(Depkes RI:2007; Saifudin:2008;
Mufdlillah:2009; Yeyeh dkk: 2009)
Pelayanan ANC minimal 5T,
meningkat
menjadi
7T,
dan
kemudian 12T, sedangkan untuk
daerah gondok dan endemik malaria

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

75

menjadi 14T (Pantikawati dan


Saryono, 2010). Standar pelayanan
ANC 14T antara lain:
1)
Timbang berat badan (BB)
2)
Ukur tekanan darah (TD)
3)
Ukur Tinggi Fundus Uterus
(TFU)
4)
Pemberian Imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) Lengkap
5)
Pemberian Tablet Zat Besi
6)
Tes
terhadap
Penyakit
Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS
7)
Temu Wicara (Konseling)
8)
Pemeriksaan Hb
9)
Tes/pemeriksaan urin protein
10)
Tes reduksi urin
11)
Perawatan payudara (tekan
pijat payudara)
12)
Pemeliharaan
tingkat
kebugaran / senam ibu hamil
13)
Terapi
kapsul
yodium
(khusus daerah endemik gondok)
14)
Pemberian terapi obat anti
malaria untuk daerah endemis
malaria
Pada setiap kunjungan antenatal,
perlu didapatkan informasi yang
sangat penting, diantaranya adalah:
1)
Trimester
pertama
(kunjungan ibu hamil sebelum
minggu ke 14)
a)
Membangun hubungan saling
percaya antara petugas kesehatan dan
ibu hamil.
b)
Mendeteksi masalah dan
menanganinya
c)
Melakukan
tindakan
pencegahan
seperti
tetanus
neonatorum, anemia kekurangan zat
besi, penggunaan praktek tradisional
yang merugikan
d)
Mendorong perilaku yang
sehat (gizi, latihan dan kebersihan,
istirahat dan sebagainya)
2)
Trimester kedua (kunjungan
ibu hamil sebelum minggu ke 28)

Sama seperti Trimester I, ditambah


kewaspadaan
khusus
mengenai
preeklampsia (tanya ibu tentang
gejala gejala preeklamsia, pantau
tekanan darah, dan evaluasi edema.
3)
Trimester ketiga (kunjungan
ibu hamil antara minggu 28-36)
Sama seperti Trimester II, dtambah
palpasi abdominal untuk mengetahui
apakah ada kehamilan ganda.
4)
Trimester ketiga (kunjungn
ibu hamil setelah 36 minggu)
Sama seperti Trimester ketiga antara
minggu 28-36, ditambah deteksi
letak bayi yang tidak normal, atau
kondisi lain yang memerlukan
kelahiran di rumah sakit (Saifuddin,
dkk., 2008).
Frekuensi melakukan kunjungan
ANC merupakan salah satu bentuk
perilaku
seorang
ibu
hamil.
Notoatmodjo (2007) mengatakan
bahwa faktor yang mempengaruhi
perilaku kesehatan ada 3 yaitu :
1) Faktor yang mempermudah
(predisposing factor), antara lain :
pengetahuan, sikap, kepercayaan,
dan unsur lain yang terdapat dalam
diri individu/masyarakat, misalnya
umur dan paritas.
2) Faktor pendukung (enabling
factor), antara lain : letak geografis,
Jumlah pendapatan/Sosial ekonomi.
3) Faktor pendorong (reinforcing
factor), antara lain : sikap suami,
orang tua, tokoh masyarakat, atau
petugas kesehatan.
2.
Pengetahuan
Pengetahuan adalah kesan didalam
pikiran
manusia
sebagai
hasil penggunaan panca indranya,
yang
berbeda
sekali
dengan
kepercayaan,takhayul
dan
penerangan yang keliru (Soekanto,
2005).
Sedangkan
menurut
Notoatmodjo (2010), pengetahuan

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

76

merupakan hasil dari tahu, dan ini


terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pancaindera manusia, yakni indera
penglihatan,
pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga.
Pengetahuan yang dicakup di dalam
domain kognitif (cognitive domain)
mempunyai 6 tingkatan, yaitu : tahu
(know), paham (comprehension),
aplikasi
(application),
analisis
(analysis),
sintesis
(synthesis),
evaluasi (evaluation) (Notoatmodjo,
2010).
Pengetahuan dapat diukur melalui
wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi suatu
obyek yang ingin diukur dari subyek
penelitian
atau
responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin
kita capai atau kita ukur dapat kita
sesuaikan
dengan
tingkatan
pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
Sudijono (2006) menyatakan bahwa
pertanyaan yang dapat digunakan
untuk mengukur pengetahuan secara
umum dapat dikelompokkan menjadi
dua jenis, antara lain:pertanyaan
subjektif berupa jenis pertanyaan
essai dan pertanyaan objektif berupa
pertanyaan pilihan berganda dan
benar salah. Selain itu, menurut
Arikunto
(2006)
pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan
cara memberikan seperangkat alat tes
/
kuesioner
tentang
object
pengetahuan yang mau diukur,
selanjutnya dilakukan penilaian
dimana setiap jawaban benar dari
masing-masing pertanyaan diberi
nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0.
Penilaian dilakukan dengan cara
membandingkan
jumlah

skor jawaban dengan skor yang


diharapkan (tertinggi) kemudian
dikalikan
100%.
Selanjutnya
persentase jawaban diinterpretasikan
dalam kalimat kualitatif dengan
acuan sebagai berikut:
a)
Baik : Nilai = 76-100%
b)
Cukup : Nilai = 56-75%
c)
Kurang : Nilai = <56%
Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui
hubungan
pengetahuan ibu hamil tentang ANC
dengan frekuensi kunjungan ANC di
Rumah Bersalin Wikaden Imogiri
Bantul.

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

77

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
observasional
analitik
dengan
rancangan cross sectional yaitu suatu
penelitian untuk mencari hubungan
antara pengetahuan ibu hamil tentang
ANC dengan frekuensi kunjungan
ANC yang analisisnya untuk
menentukan ada tidaknya hubungan
antar variabel.
Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah
Bersalin
Wikaden,
Kecamatan
Imogiri, Kabupaten Bantul pada
bulan Februari-Juni 2012. Dengan
populasi adalah semua ibu hamil
trimester III yang melakukan
kunjungan antenatal care di Rumah
Bersalin Wikaden pada bulan Juni
2012 sebesar 38 ibu hamil. Teknik
sampling yang digunakan dalam
penelitian
ini
yaitu
teknik
nonprobability sampling. Metode
pengambilan sampel menggunakan
metode total sampling yaitu semua
populasi ibu hamil Trimester III.

Definisi Operasional Variabel


Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel
Definisi
Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional
1
Variabel
Besarnya
skor Kuesioner
Total skor
bebas:
pemahaman
ibu
jawaban
Pengetahuan hamil
dalam
benar
ibu
hamil menjawab
dalam
tentang
kuesioner tentang
kuesioner
antenatal
antenatal care yang
care
meliputi pengertian
antenatal,
tujuan
antenatal,
pelayanan
antenatal, tempat
pelayanan
antenatal,
serta
frekuensi
kunjungan
antenatal.
2

Skala
Data
Interval
Nilai
skor
jawaba
n 0-26

Variabel
Terikat:
Frekuensi
kunjungan
antenatal care

Banyaknya
Buku
Total skor Rasio
kunjungan
ibu KMS ibu
jumlah
Nilai
hamil
yang hamil.
kunjungan skor 1melakukan
ibu hamil 18
pemeriksaan
sampai
kehamilan sampai
Trimester
Trimester
III
III
kepada
bidan
dilihat dari data
yang
terdapat
dalam buku KMS
yang dibawa ibu
hamil
saat
melakukan
kunjungan
antenatal,
yang
dinyatakan dengan
satuan kali.
antenatal
care.
Bagian
awal
instrumen berisi data demografi
Teknik
dan
Instrumentasi
responden yang terdiri dari nomor
Pengumpulan Data
Instrumen
yang
digunakan
responden,
umur,
pendidikan,
dalam
penelitian
ini
adalah
pekerjaan serta usia kehamilan dan
kuesioner, terdiri dari kuesioner
jumlah
kunjungan
pemeriksaan
pengetahuan ibu hamil tentang
kehamilan. Data demografi hanya

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

78

bertujuan
untuk
mengetahui
karakteristik responden. Bagian
kedua instrumen berisi pertanyaan
untuk mengidentifikasi pengetahuan
responden tentang antenatal care.
Pengetahuan antenatal care ini
meliputi pengertian ANC, tujuan
ANC, pelayanan ANC, tempat
pelayanan ANC dan kunjungan
ANC. Kuesioner ini disusun dengan
menggunakan bentuk pertanyaan
tertutup, yang terdiri dari 30
pertanyaan dengan dua alternatif
jawaban yaitu benar dan salah.
Jawaban yang benar diberi nilai 1
dan jawaban yang salah diberi nilai 0
(Hidayat, 2009). Untuk menentukan
nilai digunakan rumus :

oi
uesionsr
oi si u
u
Sedangkan untuk frekuensi
kunjungan antenatal care dengan
menuliskan
jumlah
kunjungan
pemeriksaan kehamilan pada lembar
observasi
serta
dengan
cara
wawancara dengan ibu hamil tentang
jumlah kunjungan antenatal care,
yang kemudian di cocokkan dengan
buku KMS ibu.
Sebelum
instrumen
digunakan/diberikan
kepada
responden maka perlu dilakukan uji
validitas
dan
reliabilitas
(Sulistyaningsih, 2010). Uji validitas
dan reliabilitas dalam penelitian ini
telah dilakukan di Bidan Praktek
Mandiri (BPM) Supiyah Jetis Bantul
dengan 20 responden.
1. Uji validitas
Uji validitas yang digunakan
adalah uji validitas dengan
mengukur aspek-aspek kuisioner
yang berdasarkan tinjauan pustaka
kemudian membuat
kisi-kisi
variabel hubungan
tingkat

pengetahuan tentang antenatal


care dengan frekuensi kunjungan
antenatal care pada ibu hamil
sebagai tolok ukur dari item atau
pertanyaan. Uji validitas pada
penelitian
ini
dengan
menggunakan rumus korelasi
pearson
product
moment
(Riwidikdo, 2008).
Uji validitas telah dilakukan pada
ibu hamil trimester III di BPM
Supiyah sebanyak 20 responden.
Karakteristik frekuensi kunjungan
antenatal di BPM Supiyah hampir
sama dengan RB Wikaden pada
bulan Juni 2012, yaitu pada ibu
hamil trimester 3. Uji validitas
dilakukan
dengan
mengisi
kuesioner yang terdiri dari 30
pertanyaan berupa pengetahuan
tentang antenatal care dengan
jumlah responden 20 orang.
Jika uji validitas dilakukan
terhadap 20 responden, maka
didapatkan nilai rtabel 0,444
dengan tingkat kemaknaan 5%.
Pertanyaan
dikatakan
valid
apabila
nilai
rhitung>
rtabel
(Sugiyono, 2007). Berdasarkan
hasil
perhitungan
statistik
menggunakan Person Correlation
Product Moment dengan bantuan
SPSS 17 diperoleh 26 pernyataan
yang valid dengan nilai rhitung >
0,444. Item yang tidak valid
dikeluarkan dari perhitungan,
walaupun ada sebagian item
pernyataan yang dikeluarkan tidak
menjadi permasalahan, karena
sudah ada item pernyataan yang
mewakili indikator.
2. Reliabilitas
Setelah mengukur validitas maka
perlu mengukur reliabilitas data,
apakah alat ukur dapat digunakan
atau tidak. Reliabilitas adalah

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

79

indeks yang menunjukkan sejauh


mana suatu alat pengukur dapat
dipercaya.
Dalam
hal
ini
pengujian reabilitas digunakan uji
Alpha Cronbach.
Kuesioner atau angket dikatakan
reliabel jika memiliki nilai alpha
minimal 0,7 (Riwidikdo, 2008).
Pada uji reliabilitas penelitian ini,
26
pernyataan
mengenai
pengetahuan
tentang
ANC
didapatkan nilai alpha sebesar
0,929 (alpha 0,7), maka dapat
disimpulkan bahwa kuesioner
yang digunakan dalam penelitian
ini reliabel.
Pengolahan dan Analisis Data
Langkah-langkah mengolah dan
meganalisis
data
menurut
Sulistyaningsih
(2010)
adalah
sebagai berikut :editin, coding, entry
data, cleanning
Analisis data adalah proses
penyederhanaan data kedalam bentuk
yang lebih mudah dibaca dan
diinterpretasikan. Analisis data yang
akan dilakukan adalah analisis
univariat dan bivariat.
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan
untuk menggambarkan variabel
variabel
penelitian
termasuk
karakteristik sampel penelitian
dengan tabel distribusi frekuensi
(Setiawan, 2010). Pada penelitian
ini analisis univariat dapat
disajikan dalam bentuk distribusi
frekuensi
berdasarkan
karakteristik ibu hamil yaitu: usia
ibu hamil, pendidikan terakhir,
pekerjaan, jumlah pendapatan,
usia kehamilan, dan paritas ibu
hamil, serta berdasarkan variabel
bebas dan terikatnya, yaitu
pengetahuan ibu hamil tentang
kunjungan ANC dan frekuensi

kunjungan ANC. Berdasarkan uji


tersebut akan didapatkan distribusi
responden
berdasarkan
karakteristik, pengetahuan dan
frekuensi kunjungan ANC.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan
analisis yang dilakukan terhadap
dua
variabel
yang
diduga
berhubungan atau berkorelasi
(Notoatmodjo, 2005). Analisa ini
dilakukan
untuk
mengetahui
hubungan antara dua variabel
yaitu
pengetahuan
tentang
antenatal care dengan frekuensi
kunjungan antenatal care, dimana
kedua variabel berupa data
parametrik yaitu mempunyai skala
interval
dan
rasio,
maka
sebelumnya
dilakukan
uji
normalitas dengan menggunakan
uji shapiro-wilk, karena data <50
(Dahlan, 2009). Uji statistik yang
digunakan dalam penelitian ini
yaitu uji statistik Pearson Product
Moment dengan bantuan program
statistical program social science
(SPSS) versi 17 (Riwidikdo,
2008).

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

80

HASIL PENELITIAN
1. Gambaran
Umum
Lokasi
Penelitian
Rumah Bersalin (RB) Wikaden
merupakan rumah bersalin yang
ada di Desa Siluk wilayah
kerja pukesmas
Imogiri
II,
kecamatan Imogiri, Kabupaten
Bantul, Propinsi Yogyakarta. RB
ini dahulu hanya sebatas Bidan
Praktek Mandiri (BPM) didirikan
oleh seorang bidan bernama Ibu
Sri Purwanti Amd.Keb. sejak
tahun 1993. Pada tahun 2007
BPM milik ibu Sri Purwanti
berubah menjadi RB Wikaden,

dan merupakan salah satu RB


paling besar di wilayah kerja
Puskesmas Imogiri dengan ratarata kunjungan ibu hamil tiap
bulannya 100 orang.

Pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa


sebagian besar responden tingkat
pendidikannya
adalah

SMA/Sederajat yaitu sebanyak 16


orang (42%).
c.
Pekerjaan
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan
Pekerjaan
Pekerjaan
Jumlah Persentase
(%)
IRT/Tidak
22
58%
Bekerja
4
11%
Buruh
4
11%
Pedagang
6
15%
Pegawai
2
5%
Swasta
PNS
Sumber :Data primer, 2012
Pada tabel 4.3 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden adalah Ibu
Rumah Tangga/ Tidak bekerja yaitu
sebanyak 22 orang (58%).
d.
Jumlah Pendapatan
Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan
Jumlah Pendapatan
N Jumlah
Jumla Persenta
o Pendapata h
se (%)
n
1 <Rp
26
69%
2 800.000,00 10
26%
Rp
3 800.000,00 2
5%

Rp
1.500.000,
00
Rp
1.500.000,
00 Rp
2.500.000,
00
Sumber :Data primer, 2012
Pada tabel 4.4 diketahui bahwa
sebagian
besar
responden
mempunyai
penghasilan
<Rp
800.000,00 yaitu ada 26 orang
(69%).

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

81

2.
Hasil Analisis Univariat
1.
Karakteristik Responden
a.
Usia
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan
Usia
Usia
Jumlah Persentase
(%)
<20 tahun
5
13%
20-35 tahun orang
58%
>35 tahun
22
29%
orang
11
orang
Sumber :Data primer,
2012
Pada tabel 4.1 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden berada
pada kelompok usia 20-35 tahun
yaitu sebanyak 22 orang (58%).
b.
Pendidikan Terakhir
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan
Pendidikan Terakhir
Pendidikan
Jumla Persentas
h
e (%)
SD
4
11%
SMP/Sederaja 11
29%
t
18
47%
SMA/Sederaja 3
8%
t
2
5%
Diploma
Sarjana
Sumber :Data primer,
2012

e.
Paritas
Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan
Paritas
Paritas
Jumlah Persentase
(%)
0
19
50%
1
9
24%
2
6
16%
4
10%
3
Sumber :Data primer, 2012
Pada tabel 4.5 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden adalah
paritas 0 yaitu sebanyak 19 orang
(50%).
2.
Pengetahuan
Ibu
Hamil
Tentang ANC
Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan
Pengetahuan Tentang ANC
Skor
Jumlah Persentase
Pengetahuan
(%)
13
2
5%
14
2
5%
15
1
3%
16
1
3%
17
2
5%
18
3
8%
19
4
10%
20
2
5%
21
6
16%
22
5
13%
23
4
10%
24
4
11%
25
1
3%
26
1
3%
Total
38
100%
Sumber :Data primer, 2012
Pada tabel 4.6 menunjukan bahwa
skor pengetahuan yang paling tinggi
adalah 26 sebanyak 1 orang (3%) dan
skor yang paling rendah adalah 13
sebanyak 2 orang (5%). Di dalam
analisis
statistik
dikategorikan
menjadi 3 kelompok tingkat nilai
yaitu baik, cukup, dan kurang.

Pengetahuan
baik
jika
skor
pengetahuan 20-26, cukup skor
pengetahuan 15-19 dan kurang jika
skor pengetahuan 0-14.

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

82

3.
Frekuensi Kunjungan ANC
Tabel 4.7
Distribusi Responden Berdasarkan
Frekuensi Kunjungan ANC
Skor
Jumlah Persentase
Frekuensi
(%)
Kunjungan
2
1
3%
3
4
10%
4
3
8%
5
3
8%
6
5
13%
7
6
16%
8
6
16%
9
4
10%
10
1
3%
11
4
10%
12
1
3%
Sumber :Data primer, 2012
Pada tabel 4.7 diketahui bahwa
frekuensi kunjungan ANC paling
banyak adalah 12 kali yaitu sebanyak
1 orang (3%), sedangkan frekuensi
kunjungan yang paling sedikit adalah
2 kali sebanyak 1 orang (3%). Di
dalam analisis statistik dikategorikan
menjadi 2 kelompok tingkat nilai
yaitu cukup (4 kali) dan kurang (<4
kali).
3.
Hasil Analisis Bivariat
Berdasarkan data pengetahuan ibu
hamil dan frekuensi kunjungan ANC,
kemudian
dilakukan
pengujian
hipotesis untuk menguji signifikansi
hubungan
yaitu
dengan
menggunakan Korelasi Pearson
Product Moment dengan SPSS 16.
Akan tetapi, terlebih dahulu kita
lakukan uji normalitas data untuk
mengetahui data berdistribusi normal

atau tidak. Untuk data <50 maka uji


normalitas menggunakan uji shapirowilk (Dahlan, 2009), yaitu sebagai
berikut:
Tabel 4.8
Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk
Hasil Uji ShapiroWilk
Statist D Signifika
ic
f nsi
Pengetah 0,950 3 0,087
uan
8
Frekuensi 0,966 3 0,298
Kunjunga
8
n

0,000, dimana p < 0,05, maka Ha


diterima sesuai dengan hipotesis
yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pengetahuan ibu
hamil dengan frekuensi kunjungan
ANC. Jadi terdapat hubungan positif
sebesar 0,763 antara pengetahuan ibu
hamil tentang ANC dengan frekuensi
kunjungan ANC, hal ini berarti
semakin tinggi tingkat pengetahuan
maka akan semakin sering frekuensi
kunjungan ANC nya.

Berdasarkan
perhitungan
yang
dilakukan terhadap 38 responden,
didapatkan nilai signifikansi (p) =

PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Juni 2012 di Rumah Bersalin
Wikaden Imogiri Bantul, dengan
jumlah responden 38 ibu hamil
trimester III. Hasil penelitian yang
dilakukan terhadap 38 responden di
RB Wikaden didapatkan hasil bahwa
sebagian
besar
responden
mempunyai pengetahuan baik (60%)
dan frekuensi kunjungan cukup
(87%). Salah satu faktor yang
mempengaruhi pengetahuan pada
responden adalah usia ibu dan
pendidikan terakhir, sedangkan yang
mempengaruhi frekuensi kunjungan
ANC adalah pengetahuan, pekerjaan,
jumlah pendapatan dan paritas.
Berdasarkan
karakteristik
responden
di
RB
Wikaden,
menunjukkan bahwa responden
terbanyak adalah ibu pada kelompok
usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 22
orang (58%). Hal ini sesuai
pernyataan Mubarak, dkk (2007)
bahwa usia mempengaruhi daya
tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia akan
semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya, sehingga
pengetahuan yang diperolehnya
semakin membaik. Berdasarkan data
tersebut maka dapat disimpulkan

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

83

Nilai signifikansi untuk variabel


pengetahuan
dan
frekuensi
kunjungan lebih besar dari 0,05 maka
data dinyatakan normal dan asumsi
normalitas terpenuhi, maka berlanjut
pada analisis berikutnya, yaitu
menguji
signifikansi
hubungan
menggunakan Korelasi Pearson
Product Moment dengan SPSS 16.
Tabel 4.9
Hasil Uji Korelasi Pearson Product
Moment
Pengeta Freku
huan
ensi
Kunju
ngan
Pengeta Pearso 1
0,797
huan
n
.
0,000
Correl
ation
p
Frekue Pearso 0,797
1
nsi
n
0,000
.
Kunjun Correl
gan
ation
p

bahwa sebagian besar responden


adalah ibu-ibu yang masih berada
pada masa reproduktif dimana pada
masa tersebut daya tangkap ibu
terhadap segala bentuk informasi
yang disampaikan oleh tenaga
kesehatan
akan
memperluas
pengetahuan
ibu
tentang
pemeriksaan kehamilan sehingga ibu
akan melakukan kunjungan untuk
memeriksakan kehamilannya.
Responden pada penelitian ini
juga memiliki tingkat pendidikan
SMA/Sederajat sebanyak 18 orang
(47%). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Munib (2006) bahwa
pendidikan merupakan salah satu
faktor yang menentukan luasnya
wawasan dan pengetahuan seseorang
secara umum, dengan adanya
pendidikan yang sebagian besar
SMA
maka
akan berpengaruh
terhadap pengetahuan dan sikap
tentang pelayanan dan kunjungan
antenatal. Semakin tinggi pendidikan
seseorang maka diharapkan semakin
mudah seseorang untuk menyerap
pengetahuan yang diperolehnya.
Selain itu, pendidikan merupakan
faktor yang memotivasi seseorang
dalam bersikap dan berperilaku.
Namun perlu ditekankan bahwa
seseorang
yang
berpendidikan
rendah
tidak
berarti
mutlak
berpengetahuan
rendah
pula.
Peningkatan
pengetahuan
tidak
mutlak
diperoleh
dipendidikan
formal, akan tetapi juga dapat
diperoleh pada pendidikan non
formal.
Notoadmodjo
(2010)
mengatakan bahwa pengetahuan
merupakan hasil tahu dan terjadi
setelah
orang
melakukan
penginderaan
terhadap
obyek
tertentu, penginderaan terjadi melalui

panca indra manusia yaitu indra


penglihatan,
pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sehingga
dengan pernyataan tersebut dapat
dilihat bahwa adanya informasi yang
diberikan bidan sebagai tenaga
kesehatan yang bertanggung jawab
dalam wilayah setempat mampu
meningkatkan
pengetahuan
responden tentang antenatal care,
walaupun masih ada responden yang
mempunyai
tingkat
pendidikan
SD/SMP sebanyak 15 orang (40%).
Pada penelitian ini menunjukkan
bahwa sebagian besar responden
tidak bekerja (ibu rumah tangga)
yaitu sebanyak 22 orang (58%). Hal
ini berhubungan dengan jumlah
pendapatan responden yang sebagian
besar
<Rp
800.000,00
yaitu
sebanyak 26 orang (69%). Pekerjaan
mempengaruhi
tingkat
sosial
ekonomi seseorang, seseorang yang
mempunyai tingkat sosial ekonomi
yang rendah dan tidak mampu
mencukupi kebutuhan hidupnya
mempengaruhi kepatuhan seseorang
dalam
melakukan
pemeriksaan
kehamilan. Sesuai dengan pernyataan
Depkes RI (2007) bahwa ibu dan
atau anggota keluarganya yang tidak
mampu membayar atau tidak
mempunyai
biaya
untuk
memeriksakan
kehamilannya
merupakan salah satu alasan
mengapa ibu hamil tidak melakukan
kunjungan
ANC.
Pekerjaan
mempengaruhi perilaku seseorang
dalam
melakukan
pemeriksaan
kehamilan.
Ibu yang bekerja mempunyai
cara pandang yang lebih baik
daripada ibu yang tidak bekerja. Ibu
yang bekerja lebih banyak memiliki
kesempatan
untuk
berinteraksi
dengan orang lain sehingga lebih

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

84

banyak peluang untuk mendapatkan


informasi tentang kehamilan dan
persalinan dibandingkan ibu yang
tidak bekerja (Maulana, 2008).
Walaupun pada penelitian ini
sebagian besar responden tidak
bekerja, akan tetapi pengetahuan dan
perilaku
tentang
pemeriksaan
kehamilannya sudah cukup baik. Hal
ini mungkin disebabkan oleh faktor
eksternal
yaitu
lingkungan.
Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke
dalam individu yang berada dalam
lingkungan tersebut. Hal ini terjadi
karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon
sebagai pengetahuan oleh setiap
individu. Oleh karena itu, dengan
pengetahuan yang baik maka
frekuensi
kunjungannya
juga
semakin baik, sehingga komplikasi
yang terjadi dalam kehamilan juga
dapat dicegah sedini mungkin.
Selain itu, pada penelitian ini
sebagian besar ibu mempunyai
paritas 0 yaitu sebanyak 19 orang
(50%) atau dengan kata lain,
sebagian besar ibu hamil belum
pernah
melahirkan
ataupun
mengalami
keguguran.
Sesuai
pernyataan Wiknjosastro (2007)
bahwa ibu yang baru pertama kali
hamil merupakan hal yang sangat
baru sehingga termotivasi dalam
memeriksakan
kehamilannya
ketenaga kesehatan. Sebaliknya ibu
yang sudah pernah melahirkan lebih
dari satu orang mempunyai anggapan
bahwa ia sudah berpengalaman
sehingga tidak termotivasi untuk
memeriksakan kehamilannya. Paritas
1 dan paritas tinggi (lebih dari 3)
mempunyai angka kematian maternal
lebih tinggi. Lebih tinggi paritas,
lebih tinggi kematian maternal. Hal

ini dapat ditunjukkan bahwa masih


ada responden yang mempunyai
paritas 1 sebanyak 9 orang (24%)
dan paritas 3 yaitu sebanyak 4
orang (10%). Resiko pada paritas 1
dapat ditangani dengan asuhan
obstetri lebih baik, sedangkan resiko
pada paritas tinggi dapat dikurangi
atau dicegah dengan keluarga
berencana. Sebagian kehamilan pada
paritas
tinggi
adalah
tidak
direncanakan.
Berdasarkan hasil penelitian
tingkat pengetahuan ibu hamil
tentang antenatal care didapatkan
rata-rata ibu hamil mendapatkan skor
20, skor tertinggi yaitu 26 dan skor
terendah 13. Untuk memperjelas
analisis,
maka
dilakukan
pengkategorian menurut Arikunto
(2006) yaitu tingkat pengetahuan
baik bila 76 - 100% pertanyaan
dijawab benar (skor 20-26), cukup
bila 56-75% pertanyaan dijawab
benar (skor 15-19), dan kurang bila <
56 % pertanyaan dijawab benar (skor
0-14). Pengkategorian ini bertujuan
agar tidak terjadi ketimpangan
pernyataan dalam menganalisis data,
karena skor pengetahuan tinggi
belum tentu frekuensi kunjungannya
tinggi/banyak.
Sesuai pernyataan tersebut,
maka pada penelitian ini sebagian
besar ibu hamil yaitu 23 orang (60%)
mempunyai
pengetahuan
baik,
seperti
mengetahui
manfaat
pelayanan
antenatal,
tempat
pelayanan antenatal, serta segala
informasi yang berkaitan dengan
antenatal care. Tingkat pengetahuan
seseorang pada penelitian ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti usia, tingkat pendidikan,
pengalaman. Akan tetapi dari hasil
penelitian didapatkan bahwa masih

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

85

ada responden yang mempunyai skor


antara 15-19 (hanya menjawab benar
56-75% pertanyaan) yang bisa
dikategorikan pengetahuan cukup
dan skor 0-14 (hanya menjawab
benar <56% pertanyaan) yang bisa
dikategorikan pengetahuan kurang.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor
eksternal yaitu pekerjaan, sosial
budaya/sosial
ekonomi
dan
lingkungan.
Rata-rata frekuensi kunjungan
ANC pada penelitian ini adalah
sebanyak
7
kali.
Frekuensi
kunjungan paling sedikit adalah 2
kali sebanyak 1 orang (3%) dan
paling banyak adalah 12 kali
sebanyak 1 orang (3%). Depkes RI
(2009) menyatakan bahwa wanita
hamil memerlukan sedikitnya empat
kali kunjungan selama periode
antenatal, yaitu satu kali pada
trimester pertama, satu kali pada
trimester kedua, dan dua kali pada
trimester ketiga. Jika dilihat dari
pernyataan tersebut, maka sebagian
besar ibu hamil memiliki frekuensi
kunjungan ANC 4 kali yaitu
sebanyak 33 orang (87%). Faktor
yang paling dominan mempengaruhi
frekuensi kunjungan ANC pada
penelitian ini adalah pengetahuan
dan paritas. Hal ini sesuai dengan
pernyatan Eryando (2008) yang
mengatakan
bahwa
frekuensi
pemeriksaan kehamilan tergantung
dengan jumlah kehamilan (paritas)
dan pengetahuan tentang resiko
kehamilan/persalinan. Akan tetapi
masih ada ibu hamil yang
mempunyai frekuensi kunjungan
kurang (<4 kali) sebanyak 5 orang
(13%). Hal ini bisa disebabkan
karena sebagian besar ibu hamil
mempunyai pendapatan yang rendah.

Berdasarkan uji statistik dengan


menggunakan Korelasi Pearson
Product Moment dengan bantuan
SPSS 17 diperoleh nilai signifikansi
(p) = 0,000 (p < 0,05) dan nilai
pearson correlation = 0,763,
sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan sebesar 0,763 antara
pengetahuan ibu hamil tentang ANC
dengan frekuensi kunjungan ANC di
Rumah Bersalin Wikaden Imogiri
Bantul. Hal ini berarti semakin tinggi
tingkat pengetahuan ibu hamil maka
akan semakin sering frekuensi
kunjungan ANC nya.
Hasil penelitian ini mendukung
penelitian yang dilakukan oleh
Samdiana (2009) yang meneliti
tentang
Faktor-Faktor
Yang
Berhubungan Dengan Frekuensi
Kunjungan Antenatal Care (ANC) Di
Puskesmas Keraton Yogyakarta
Tahun 2009. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara pendidikan
dan pengetahuan ibu dengan
frekuensi kunjungan ANC di
Puskesmas Kraton Yogyakarta.
Selain itu, hal ini juga sesuai dengan
teori yang diungkapkan oleh
Notoatmodjo
(2007)
bahwa
pengetahuan merupakan salah satu
faktor internal yang berpengaruh
terhadap pembentukan perilaku
seseorang.
Notoatmodjo (2010) menyatakan
bahwa pengetahuan
memegang
peranan penting dalam menentukan
sikap seseorang, sebab pengetahuan
akan membawa seseorang untuk
berfikir
dan
berusaha
untuk
melakukan tindakan yang benar.
Dalam berfikir ini komponen emosi
dan keyakinan ikut bekerja sehingga
ibu berniat untuk memeriksakan
kehamilannnya. Pengetahuan yang

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

86

terdapat dalam diri seseorang


merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi perilaku, dan perilaku
akan mempengaruhi status kesehatan
orang tersebut. Penelitian ini
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berperilaku baik terhadap
kehamilannya. Hal tersebut sesuai
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Murniati (2007) yang
menyatakan bahwa pengetahuan
berhubungan dengan perilaku ibu
hamil
dalam
memanfaatkan
pelayanan antenatal. Ketidaktahuan
ibu dan keluarga terhadap pentingnya
pemeriksaan kehamilan berdampak
pada ibu hamil tidak memeriksakan
kehamilannya
pada petugas
kesehatan (WHO, 2003).
Pengetahuan
dapat
mempengaruhi seseorang secara
alamiah dan mendasari dalam
mengambil keputusan rasional dan
efektif dalam menerima perilaku
baru yang akan menghasilkan
persepsi yang positif dan negatif.
Apabila ibu hamil didasari oleh
pengetahuan, kesadaran, dan sikap
yang positif, maka perilaku tersebut
(frekuensi kunjungan ANC) akan
bersifat langgeng (long lasting).
Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak
didasari oleh pengetahuan dan
kesadaran
maka
tidak
akan
berlangsung lama. Semakin banyak
pengetahuan tentang pemeriksaan
kehamilan, maka ibu hamil akan
semakin
sering
melakukan
pemeriksaan kehamilan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah dilakukan uji statistik
dengan
menggunakan
Korelasi
Pearson Product Moment diperoleh
nilai signifikansi (p) = 0,000 (p <

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

0,05) dan nilai pearson correlation =


0,763, sehingga dapat disimpulkan
bahwa ada hubungan sebesar 0,763
antara pengetahuan ibu hamil tentang
ANC dengan frekuensi kunjungan
ANC di Rumah Bersalin Wikaden
Imogiri Bantul. Hal ini berarti
semakin tinggi tingkat pengetahuan
ibu hamil maka akan semakin sering
frekuensi kunjungan ANC nya.
Saran
Penelitian
selanjutnya
diharapkan
dapat
melanjutkan
penelitian yang lebih mendalam
tentang faktor-faktor lain yang
mempengaruhi frekuensi kunjungan
antenatal care dengan menggunakan
metode pengambilan data yang lain
seperti eksperimen dan wawancara
langsung kepada responden sehingga
didapatkan data yang lebih akurat
dan hasil penelitian yang lebih
komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta pp.67-88
BAPPENAS.
2010.
Laporan
Pencapaian
Tujuan
Pembangunan Milenium Di
Indonesia. ISBN 978 - 979 3764 - 64 1
Dahlan, S. 2009. Besar Sampel dan
Cara Pengambilan Sampel.
Jakarta. Salemba Medika
pp.1-2, 125-33
_______., 2009. Statistik Untuk
Kedokteran dan Kesehatan.

87

Jakarta: Salemba Medika pp


16-18
Depkes

RI.
2007.
Pedoman
Pelayanan Antenatal. Jakarta:
Depkes pp.28-35

_________. 2009. Buku Kesehatan


Ibu dan Anak. Jakarta:
Depkes pp.18-22
_________.
2009.
Pedoman
Pemantauan
Wilayah
Setempat Kesejahteraan Ibu
dan Anak (PWS KIA).
Jakarta: Depkes pp.11
Dinkes

Bantul.
2010.
Profl
Kesehatan Kabupaten Bantul.
Yogyakarta: Dinkes

___________. 2010. Statistik Daerah


Kabupaten
Bantul.
http://bantulkab.bps.go.id/ind
ex.php/pelayananstatistik/statistik-daerah-kabbantul-2011.html#kesehatan
(14 Februari 2012)
Eryando,
T.
2008.
Alasan
Pemeriksaan Kehamilan dan
Pemilihan
Penolong
Persalinan.
http://journal.unair.ac.id/filer
PDF/8.Tris%20Eryando.pdf
(30 Juni 2012)
Hidayat
A.A.
2009.
Metode
Penelitian Keperawatan Dan
Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Madika pp.55-76
Maas L.T. 2006 Kesehatan Ibu Dan
Anak : Persepsi Budaya Dan
Dampak
Kesehatannya.
http://repository.usu.ac.id/bits

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

tream/123456789/3711/1/fkm
%20linda2.pdf
(23 Mei
2012)
Maulana M. 2008. Panduan Lengkap
Kehamilan.
Yogyakarta:
Fitramaya pp.11-9
Mufdlilah. 2009. Antenatal Care
Focused. Yogyakarta: Nuha
Medika pp. 1-35
Mubarak., Wahit, I., Nurul, C.,
Khoirul, R., Supradi. 2007.
Promosi
Kesehatan.Yogyakarta:
Graha Ilmu pp 107-14
Munib, A. 2006. Pengantar Ilmu
Pendidikan.
Semarang
:
UNNES Press pp.17-23
Murniati. 2007. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan
Dengan
Pemanfaatan
Pelayanan
Antenatal Oleh Ibu Hamil Di
Kabupaten Aceh Tenggara.
http://repository.usu.ac.id/bits
tream/123456789/22463/5/Ch
apter%20I.pdf (1 Juli 2012)
Notoatmodjo S. 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta
: Rineka Cipta pp.85-96
Notoatmodjo
S.2007.
Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta:Rineka Cipta pp. 13945
____________. 2010. Ilmu Perilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta pp. 20-33
Pantikawati I dan Saryono. 2010.
Asuhan
Kebidanan
I

88

(Kehamilan). Yogyakarta :
Nuha Medika pp.33
Riwidikdo, H. 2008. Statistik
Kesehatan.
Yogyakarta:
Mitra Cendikia Press pp.11824,151-65
Saifudin A.B. 2008. Pelayanan
Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta : Bina
Pustaka pp.28
Samdiana, 2009. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan
Dengan
Frekuensi
Kunjungan
Antenatal Care (ANC) Di
Puskesmas
Keraton
Yogyakarta Tahun 2009.
http://uad.ac.id/ (3 Maret
2012)

WHO.

2003.
What
is
the
efficacy/effectiveness
of
antenatal care and the
financial and organizational
implications?
http://www.euro.who.int/Doc
ument/e82996.pdf.(
24
Februari 2012)

Wiknjosastro, H. 2007. Ilmu


Kebidanan. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo pp.185
Yeyeh, R., Yulianti., Maemunah.,
Susilawati, L. 2009. Asuhan
Kebidanan I (Kehamilan).
Jakarta: Trans Info Media
pp.2-10, 151-52

Setiawan A dan Saryono. 2010.


Metodologi
Penelitian
kebidanan. Nuha
Medika. Jakarta pp. 47
Soekanto, S. 2005. Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Pustaka. Pp 68
Sudijono A. 2006. Pengantar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Rajawali Press pp.40
Sugiyono. 2007. Statistik Untuk
Penelitian
.
Bandung:
Alfabeta pp.253-56
Sulistyaningsih. 2010. Metodologi
Penelitian
Kebidanan
Kuantitatif-Kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu
pp.75, 131-34, 150-52

MATERNAL VOLUME 8 EDISI APRIL 2013

89