Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang berbeda-beda
dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap kemampuan manusia.
Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang optimal
apabila lingkungan kerjanya mendukung. Manusia akan mampu melaksanakan pekerjaannya
dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan kerja yang baik. Suatu kondisi lingkungan kerja
dikatakan sebagai lingkungan kerja yang baik apabila manusia bisa melaksanakan kegiatannya
dengan optimal dengan sehat, aman dan selamat. Ketidakberesan lingkungan kerja dapat terlihat
akibatnya dalam waktu yang lama. Lebih jauh lagi keadaan lingkungan yang kurang baik dapat
menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak yang tentunya tidak mendukung diperolehnya
rancangan sistem kerja yang efisien dan produktif.
Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja
secara optimal dan produktif, oleh karena itu lingkungan kerja harus ditangani dan atau di desain
sedemikian sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam
suasana yang aman dan nyaman. Evaluasi lingkungan dilakukan dengan cara pengukuran kondisi
tempat kerja dan mengetahui respon pekerja terhadap paparan lingkungan kerja.
Di dalam perencanaan dan perancangan sistem kerja perlu diperhatikan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan kerja seperti, kebisingan, pencahayaan, suhu dan
lain-lain. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila dalam kondisi tertentu manusia
dapat melaksanakan kegiatannya dengan optimal. Ketidaksesuaian lingkungan kerja dengan
manusia yang bekerja pada lingkungan tersebut dapat terlihat dampaknya dalam jangka waktu
tertentu.
Kualitas lingkungan kerja yang baik dan sesuai dengan kondisi manusia sebagai pekerja
akan mendukung kinerja dan produktivitas kerja yang dihasilkan. Pengendalian dan penanganan
faktor-faktor lingkungan kerja seperti kebisingan, temperatur, getaran dan pencahayaan
merupakan suatu masalah yang harus ditangani secara serius dan berkesinambungan. Suara yang
bising, temperatur yang panas getaran dan pencahayaan yang kurang di dalam tempat kerja

merupakan salah satu sumber yang mengakibatkan tekanan kerja dan penurunan produktivitas
kerja.(www.mercubuana.ac.id)
Kesehatan adalah factor sangat penting bagi produktifitas dan peningkatan produktifitas
tenaga kerja selaku sumber daya manusia. Kondisi kesehatan yang baik merupakan potensi untuk
meraih produktifitas kerja yang baik pula. Pekerjaan yang menuntut produktifitas kerja tinggi
hanya dapat dilakukan oleh tenaga kerja dengan kondisi kesehatan prima. Sebaliknya keadaan
sakit atau gangguan kesehatan menyebabkan tenaga kerja tidak atau kurang produktif dalam
melakukan pekerjaannya.
Bahaya ditempat kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan dan ;penyakit akibat kerja
cendrung lebih sering terjadi pada populasi pekerja yang kurang memahami proses industry
ditempat kerja, atau tidak cukup dilatih dan dilindungi untuk mengatasi kemungkinan bahaya
yang dapat terjadi. Seorang dokter perusahaan bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih
pekerja untuk menjadi pekerja yang terampil, efisien dan produktif.(Harrianto, 2010)

1.2.Prinsip Dasar Higiene Industri


Higiene industry, adalah perpanduan ilmu (science) dan seni (art), dalam usaha
mengantisipasi, pengenalan/rekoknisi, evaluasi dan mengontrol faktor-faktor lingkungan yang
timbul di/dari tempat kerja, yang mungkin mengakibatkan sakit, gangguan kesehatan atau rasa
kenyamanan dan menyebabkan menurunnya efisiensi kerja diantara para pekerja.
Kesehatan kerja ,menurut defenisi bersama antara ILO & WHO berisikan hal-hal
sebagi berikut :
a. meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setingginya baik jasmani, rohani,
maupun sosial tenaga kerja dalam semua jabatan atau lapangan kerja.
b. mencegah timbulnya gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh kondisi kerja
c. melindungi tenaga kerja dalam pekerjaan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh
pekerjaan.,
d. menempatkan tenaga kerja dalam suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan faal badan
dan rohaninya .
Keselamatan kerja, menurut America Society of safety and Engineering (ASSE) diartikan
sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada
kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja, dan (sesuai UU No.1 tahun 1970 ), adalah

keselamatan yang bertalian dengan mesin/alat, bahan baku, lingkungan tempat kerja, serta cara
melakuakan pekerjaan, yang bebas dari interaksi
Lingkungan Kerja : Area / ruang yang dipergunakan untuk aktivitas industri antara lain :
tempat/ ruang kerja, ruang/ tempat penyimpanan bahan baku hasil produksi, ruang/ tempat proses
berikut, dan semua benda-benda di sekitarnya, mesin dan bahan baku. Faktor-Faktor Lingkungan
Kerja adalah unsur-unsur dari lingkungan kerja yang dapat mengakibatkan sakit, gangguan
kesehatan, ketidak nyamanan dan keselamatan dalam bekerja, sehinga mengakibatkan efisiensi
kerja menurun. Faktor-faktor lingkungan kerja yaitu, unsur fisika, kimia, biologi, dan ergonomi .
Nilai Ambang Batas (NAB) adalah kadar suatu substansi dalam udara/tempat kerja yang
merupakan pedoman pengendalian, agar tenaga kerja masih dapat menghadapinya dengan tidak
mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan atau kenikmatan kerja dalam pekerjaan seharihari untuk waktu tidak boleh lebih 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
TLV (Threshold Limit Values), adalah kosentrasi air bone dari suatu subtansi
diudara/tempat kerja yang mana memapar tenaga kerja selama jam kerja secara berulang-ulang
setiap hari kerja, dianggap tidak menimbulkan dampak TLV- TWA (Time Weigthed Average)
adalah kosentrasi rata-rata dari substansi diudara/tempat kerja yang mana memapar para pekerja
selama jam kerja, 8 jam per hari 40 jam per minggu, dianggap tidak menimbulkan dampak

1.3. Profil Perusahaan


PT. Karma Manggala Yudha adalah sebuah perusahaan jasa konstruksi nasional berdiri
sejak tahun 1983.
1. Kegiatan Perusahaan
a. PT. Karma Manggala Yudha bergerak dibidang sipil, arsitektur, mekanikal, dan
sedang melaksanakan proyek high Rise building seperti apartemen The Green
Pramuka yang kami kunjungi ini.
b. Proyek ini dimulai sejak bulan Desember 2011 yang rencananya akan dibangun
sebanyak 17 tower apartemen di atas tanah seluas 12.6 Ha. Saat ini terdapat 2
buah tower yang sudah selesai dan telah dihuni, dan terdapat 2 buah tower yang
sedang dalam proses pembangunan.
2. Sertifikasi PT Karma Manggala Yudha

Sampai saat ini, PT Karma Manggala Yudha belum memiliki sertifikasi, dan

sedang dalam proses pengajuan.


3. Jumlah Pegawai
Jumlah pegawai tetap : 70 orang
Jumlah pegawai tidak tetap : 470 orang
4. Jam Kerja
Pekerjaan dilakukan pada hari Senin-Sabtu pk. 08.30 17.30 WIB
Waktu istirahat pada pukul 12.00-13.00 WIB
Tidak terdapat sistem pembagian shift, waktu lembur dimulai pk. 18.00 22.00
WIB.
5. Asuransi Pegawai
Asuransi pegawai PT Karma Manggala Yudha menggunakan Jamsostek.
6. Alamat
Alamat proyek The Green Pramuka berlokasi di Jl. Ahmad Yani Kav. 49 Jakarta Pusat

1.4 Alur Produksi


Alur produksi terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
7. Struktural
Terdiri dari 4 proses, yaitu :
a. Ekskavasi (penggalian)
Lantai basement dibuat dengan cara menggali tanah terlebih dahulu menggunakan
alat excavator samapi elevasi kedalaman yang sudah ditentukan oleh perusahaan,
kemudian dilaksanakan pekerjaan pondasi, tie beam, dan plat basement
b. Pembangunan
Pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan kolom, balok, plat dan struktur tangga
meliputi pekerjaan bekisting, pekerjaan pembesia dan pekerjaan cor beton.
c. Pembangunan Top level
Pembangunan Top level sama dengan pembangunan level dibawahnya
d. Finishing

Pemasangan lantai, pengecetan, pemasangan jendela dan lain sebagainya.


8. Arsitektur
Terdiri finishing
1.5 Landasan Teori
1.5.1. Pengertian
Hygiene perusahaan atau industri adalah spesialisasi ilmu hygiene beserta prakteknya
yang lingkup dedikasinya adalah mengenali, mengukur dan melakukan penilaian (evaluasi)
terhadap factor penyebab gangguan kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan
perusahaan. Hasil pengukuran dan evaluasi demikian dipergunakan sebagai dasar tindakan
korektif

serta guna pengembangan pengendalian yang lebih bersifat preventif terhdapa

lingkungan kerja/ perusahaan.


Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/ kedokteran beserta prakteknya
yang bertujuan, agar pekerja/masyarkat pekerja memperoleh derajat kesehatan sebaik-baiknya
(dalam hal dimungkinkan; bila tidak cukup derajat kesehatan yang optimal), fisik, mental,
emosional, maupun penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pekerjaan dan /atau
lingkungan kerja, serta terhadap penyakit pada umumnya. (Sumamur, 2009)
Hygiene perusahaan dan kesehatan kerja sebagai suatu kesatuan upaya dengan tujuan
mewujudakan sumber daya manusia yang sehat dan produktif dapat diterjemahkan dalam bahasa
asing sebagai Industrial Hygiene and Occupational Health, yang cendrung diartikan sebagai
lapangan kesehatan yang mengurusi problematika kesehatan kerja secara menyeluruh.
Dalam rangka upaya menjadikan tenaga sumber daya manusia yang sehat dan produktif,
kesehatan kerja diartikan sebagai ilmu kesehatan dan penerapannya yang bertujuan mewujudkan
tenaga kerja sehat, produktif dalam bekerja, berada dalam keseimbangan yang mantap antara
kapasitas kerja, beban kerja dan keadaan lingkungan kerja, serta terlindung dari penyakit yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.
Maksud dan tujuan hygiene perusahaan adalah melindungi pekerja dan masyarakat
sekitar suatu perusahaan atau industry dari resiko bahaya khususnya factor fisis, kimiawi dan

biologis yang mungkin timbul oleh karena beroperasinya suatu proses produksi. Sasaran suatu
kegiatan hygiene perusahaan adalah factor lingkungan dengan jalan identifikasi bahaya dan
pengukuran agar tahu secara kualitatif dan kuantitatif bahaya yang sedang di hadapi atau yang
mungkin timbul, dan dengan pengetahuan yang tepat tentang resiko factor bahaya tersebut
diselenggarakan tindakan korektif yang merupakan prioritas utama waktu itu serta selanjutnya
upaya pencegahan yang bersifat menyeluruh.
Wewenang dan tanggung jawab dalam bidang hygiene industry perusahaan dibagi anatara
berbagai sector yaitu pada sector ketenagakerjaan atas dasar hygiene industry merupakan
spesialisasi dalam keselamatan dan kesehatan kerja, pada sector kesehatan oleh alas an hygiene
perusahaan tidak berdiri sendiri melainkan banyak kaitannya dengan hygiene usaha umum serta
pada lingkungan hidup karena lingkungan kerja adalah satu aspek dalam lingkungan pemukiman.
Masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat umum harus dilindungi Dario pengaruh
buruk yang mungkin ditimbulkan oleh beroperasinya suatu perusahaan. Semua sector penyebab
gangguan kesehatan dan penyakit serta gangguan umum lainnya yang mungkin mengenai
pekerja dapat pula menyebabkan hal serupa kepada masyarakat sekitar suatu perusahaan dan
masyarakat umum. Seperti hawa panas yang keluar dari pabrik atau asap yang mengandung
aneka zat kimia melalui cerobong asap. Hygiene industry dengan kompetensinya dlam hal
identifikasi, pengukuran, evaluasi dan pengendalian factor yang bersifat fisis, kimiawi dan
biologis dapat sangat berperan dalam upaya menyelenggarakan perlindungan kepada penduduk
yang berada di luar perusahaan.
1.5.2. Konsep dari Hygiene Industri
Konsep dasar dari hygiene industry adalah agar seorang tenaga kerja berada dalam keserasian
sebaik-baiknya, yang beraarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan kesehatan dan
produktifitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang positif-konstruktif,
antara unsur unsur ;
1.

Beban kerja

Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban dimaksud mungkin fisik, mental, dan
atau social. Seorang tenaga kerja yang secara fisik bekerja berat seperti halnya buruh bongkar

muat barang dipelabuhan, memikul lebih banyak beban fisik dari pada beban mental maupun
social. Berlainan dari itu adalah beban kerja seorang pengusaha atau manjemen, tanggung
jawabnya merupakan beban mental yang relati jauh lebih besar dari beban fisik yang dituntut
oleh pekerjaannya. Adapun petugas social misalnya penggerak lembaga swadaya masyarakat
atau gerakan mengentaskan kemiskinan, mereka lebih menghadapi dan memikul beban kerja
social kemasyarakatan.setiap tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hal kapasitas
dalam menanggung beban kerjanya.
2.

Beban tambahan akibat dari pekerjaan dan lingkungan kerja

Ada lima factor penyebab beban tambahan dimaksud ;


a)

Faktor fisik yang meliputi keadaan fisik seperti bangunan gedung atau volume udara,
atau luas lantai kerja maupun hal-hal yang bersiat fisik seperti penerangan, suhu udara,
kelembabab udara, tekanan udara, kecepatan aliran udara, kebisingan, vibrasi mekanis,
radiasi gelombang elektromagnetis.

b)

Faktor kimiawi yaitu semua zat kimia anorganis dan organis yang mungkin wujud
fisiknya merupakan salah satu atau lebih dalam bentuk gas, uap, debu, kabut, fume (uap
logam), asap. Awan, cairan, dan atau zat padat.

c)

Factor biologis, yaitu semua makhluk hidup baik dari golongan tumbuhan maupun hewan

d)

Faktor fisiologis/ergonomis, yaitu interaksi antar faal kerja manusia dengan pekerjaan
dan lingkungan kerjanya seperti kontruksi mesin yang disesuaikan dengan fungsi indra
manusia, postur dan cara kerja yang mempertimbangkan aspek antropometris dan
fisiologis manusia.

e)

Faktor mental dan psikologis, yaitu reaksi mental dan kejiwaan terhadap suasana kerja,
hubungan antara pengusaha dan tenaga kerja, struktur dan prosedur organisasi
pelaksanaan kerja dan lain-lain.

3.

Kapasitas kerja
Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu dengan yang lainnya dan sangat

bergantung kepada motivasi kerja, pengalaman, latar belakang pendidikan, keahlian,

ketrampilan, kesesuaian terhadap pekerjaan, kondisi kesehatan, keadaan gizi, jenis kelamin, usia
dan ukuran antropometri tubuh serta reaksi kejiwaan.
Semakin tinggi mutu ketrampilan kerja yang dimiliki, kian efisien tenaga kerja bekerja
sehingga beban menjadi relative jauh lebih ringan. Tidak mengherankan angka kesakitan sangat
kurang bagi mereka yang memiliki ketrampilan tinggi, lebih lagi bila mereka cukup termotivasi
untuk mendedikasikan hidupnya kepada pekerjaannya.
1.5.3

Program Hygiene Industri

Program dan implementasinya yang meliputi ruang lingkup berikut ini;


1.

Pemeliharaan tempat dan lingkungan kerja yang mendukung efisiensi dan produktifitas
serta kenyamanan kerja atau memungkinkan kondisi kerja berada dalam koridor yang
aman menurut standar hygiene perusahaan, kesehatan kerja dan ergonomic.

2.

Penyerasian pekerjaan dan lingkungan kerja kepada karakteristika factor manusia serta
penerapan cara bekerja yang memenuhi syarat keselamatan, kesehatan, hygiene ondustri
dan ergonomic.

3.

Pelaksanaan program kedokteran-kesehatan kerja promotif, preventif, kuratif dan


rehabilitative sebagai perwujudan upaya kedokteran-kesehatan yang komprehensif antara
lain pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja sebelum bekerja, pra penempatan,
alih tugas, pasca pelaksanaan suatu tugas, berkala, dan saat memasuki masa pensiun.

4.

Penerangan, penyuluhan dan pendidikan tentang hubungan kesehatan dengan eisiensi dan
produktifitas kerja, serta upaya agar terhindar dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.

5.

Upaya kuratif (P3K, pengobatan dan perawatan, rehabilitasi medis) yang mengurangi
secara kuantitatif dan kualitatif absenteisme dan kecacatan akibat kerja.

6.

Pengumpulan dan analisis data hubungan tingkat kesehatan dan produktifitas tenaga kerja
dan juga produktifitas perusahaan atas dasar angka sakit, absenteisme, tingkat keparahan
penyakit dan kecelakaan serta hasil pelaksanaan kerja.

7.

Pembinaan fisik, mental dan social terhadap tenaga kerja secara luas yang menunjang
kualitas kesehatan dan efisiensi serta produktifitas kerja.

8.

Penelitian dan upaya pengembangan dalam peningkatan program hygiene perusahaan dan
kesehatan kerja.

9.

Pencegahan terhadap pencemaran lingkungan sebagai akibat beroperasinya industri atau


juga kegiatan lainnya.

1.5.4. Pelayanan kesehatan di perusahaan


Tujuan pelayanan kesehatan kerja didasarkan pada rekomendasi ILO No. 112 (1959)
yang didukung oleh Masyarakat ekonomi eropa (1962) dan Majelis eropa (1972). Tujuan itu
didukung pula oleh konvensi ILO 161 dan rekomendasi No. 171 (1985). Tujuan itu adalah
sebagai berikut ;
a.

Melindungi pekerja dari bahaya kesehatan ditempat kerja

b.

Menyesuaikan pekerjaan agar serasi dengan status kesehatan pekerja

c.

Menyumbang pembangunan dan pemeliharaan kesejahteraan fisik dan mental yang


setinggi-tingginya ditempat kerja. (Harrington, 2005)

1.5.4.1 Dokter perusahaan


Dokter perusahaan adalah setiap dokter yang ditunjuk atau bekerja di perusahaan,
memimpin dan menjalankan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja diperusahaan yang
bersangkutan. Antara kesejateraan pekerja dan keuntungan yang menjadi tujuan dunia usaha
terdapat peluang untuk timbul konflik berkepanjangan yang tidak mudah diselesaikan. Dokter
yang praktek melayani kesehatan pekerja berada dilingkungan seperti itu dan tidak ada
alternative lain baginya untuk menghadapi kenyataan seperti itu. Seorang dokter tidak boleh
memihak dan dokter perusahaan harus bekerja sebagai dokter yang mematuhi sumpah dokternya
dan menjalankan prakteknya dengan objektif sejujur-jujurnya.
Dalam rangka menuju sasaran yaitu kesehatan dan produktifitas kerja yang optimal, misi
dari dokter perusahaan adalah sesuai dengan tujuan dari pelayanan kesehatan seperti yang

dijelaskan diatas. Dan dokter perusahaan harus mempunyai hubungan baik dan kerja sama erat
dengan dokter luar, ia harus mengatur konsultasi ke dokter ahli, bilamana diperlukan. Ia kadangkadang perlu pula mengatur penggunaan fasilitas kesehatan yang terdapat di wilayah tempat
perusahaan berada atau didaerah lain untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan atau
pengobatan penyakit pada pekerja atau unsure pimpinan perusahaan, misalnya rujukan ke rumah
sakit.
1.5.4.2 Perawat Perusahaan
Tenaga paramedis perusahaan adalah setiap tenaga paramedic yang ditunjuk atau
ditugaskan untuk melaksanakan atau membantu penyelenggaraan tugas-tugas pelayanan
kesehatan kerja diperusahaan atas petunjuk dan bimbingan dokter perusahaan. Perawat adalah
salah satu dari tenaga paramedic perusahaan tersebut. Seorang perawat dalam pelayanan
kesehatan kerja diperusahaan merupakan pembantu utama bagi dan mewakili dokter perusahaan,
apabila dokter tidak berada ditempat.
Seorang perawat hyperkes adalah seorang yang berijazah perawat dan memiliki
pengalaman/training keperawatan dalam hyperkes dan bekerja melayani kesehatan tenaga kerja
di perusahaan atau komunitas tenaga kerja lainnya. Suatu syarat yang sangat penting adalah
pengetahuan dan ketrampilan dalam dasar-dasar dan teknik keperawatan, serta juga dalam soal
pertolongan pertama pada kecelakaan dan keadaan darurat khususnya yang ringan. Seorang
perawat hiperkes dalam pekerjaannya harus mempunyai hubungan dengan unsur-unsur; dokter
perusahaan, pengusaha, tenaga kerja, dokter umum/spesialis, fasilitas kesehatan diluar
perusahaan, dan ikatan perawat yang ada.

BAB I I
PELAKSANAAN

8.1 Tanggal dan waktu pengamatan


Kunjungan perusaahan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2014 pada pukul 09.00 wib
12.00 wib
8.2 Lokasi Pengamatan
Lokasi pengamatan kunjungan perusahaan dilaksanakan di PT. Krama manggala yuda
8.3 Dokumen Pengamatan

Gambar
1

Gambar
4

Gambar
2

Gambar
5

Gambar
3

Gambar
6

Gambar
7

Gambar
8

Gambar
10

Gambar
11

Gambar
12

Gambar
14

Gambar
15

Gambar
13

Gambar
9

Gambar
16

Gambar
19

Gambar
17

Gambar
18

Gambar
20

Gambar
21

Gambar
22

BAB III
HASIL PENGAMATAN
3.1 Faktor Fisik

1. Bising
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan secara langsung. Alat-alat yang digunakan
dalam pembangunan gedung tersebut berupa alat-alat berat diantaranya: tentu saja hal ini
belum memenuhi syarat kep-51/Men/1999 tentang nilai ambang batas kebisingan yang
di tolerir yaitu sebesar 85 dB. Belum dilakukan pengukuran pada pekerja namun para
pekerja sepertinya tidak terganggu dengan kebisingan tersebut.
2. Pencahayaan
Dari hasil pengamatan secara langsung menggunakan pencahayaan alami pada siang hari
(matahari) dan sumber buatan pada ruangan di bantu oleh beberapa lampu yang berasal
dari bolham dan neon disesuaikan dengan kebutuhan namun nilai lux belum diketahui.
Tidak di temukan permasaalahan pada penerangan.
3. Getaran
Dari hasil wawancara dan pengamatan di gunakan beberapa alat yang dapat
menimbulkan getaran di antaranya berasal dari alat bor dan kendaraan pengangkut berat.
Para pekerja hanya menggunakan sarung tangan.
4. Radiasi
Tidak ditemukan permasalahan pada radiasi
5. Iklim dan suhu
Saat melakukan pengamatan dilokasi kerja banyak para pekerja yang terpapar oleh sinar
matahari secara langsung, namun suhu tidak bisa diukur karena tidak ada alat pengukur
suhu di tempat tersebut. Terkadang para opekerja merasakan panas yang tidak nyaman.

3.2 Faktor Kimia


Sebelum membahas faktor kimia industry di PT. Krama Manggala Yudha, disini akan dijelaskan
beberapa pekerjaan struktural yang para pekerja lakukan di perusahaan tersebut, antara lain :
a.
b.
c.
d.
A.

Penggalian
Pembesian atau pengelasan
Pengecoran
Penggunaan genset
Penggalian
Dari penggalian di konstruksi tersebut didapatkan bahan kimia berupa debu.
Untuk kita ketahui debu dapat membahayakan karena dapat terhirup dan masuk ke paruparu. Tenaga kerja di PT. Krama Manggala Yudha terlihat banyak yang tidak

menggunakan APD seperti masker, tetapi operator perusahaan mengatakan bahwa semua
pekerja diberikan APD.
B. Pembesian atau pengelasan
Di perusahaan ini ada beberapa tenaga kerja yang melakukan pengelasan. Yang kita
ketahui pengelasan mengeluarkan fume, dimana fume tersebut merupakan partikel padat
yang terbentuk dari hasil kondensasi dari bentuk uap. Bentuk gas fume yang dikeluarkan
seperti Zn, Mg, dan Oksida, dimana gas berbahaya ini akan dapat mengakibatkan
penyakit metal fume fever yang terjadi akibat terhisapnya uap/ gas tersebut. Dan menurut
informasi dari operator perusahaan, APD yang digunakan para pekerja tersebut adalah
sarung tangan dan googles.
C. Pengecoran
Untuk pengecoran itu sendiri, faktor kimia yang dikeluarkan seperti debu silika, asap
metal, CO, dan senyawa kimia lain yang dilibatkan dalam prose. Dan untuk APD tidak
ada informasi dari operator perusahaan.
D. Penggunaan genset
Dari penggunaan genset, factor kimia yang dikeluarkan berupa zat CO. disini kami tidak
mengetahui letak genset tersebut dan juga tidak ada penjelasan mengenai APD.
3.3 Faktor Biologi
Faktor biologi yang didapat dari informasi operator di lingkungan kerja PT. Krama
Manggala Yudha adalah adanya keluhan dari beberapa tenaga kerja seperti gatal-gatal setelah
penggunaan air di lingkungan kerja tersebut. Dan untuk saat ini belum ada tindak lanjut dari
perusahaan tersebut.
3.4 Kebersihan
Higiene Industri yang kami dapatkan PT. Karma Manggala Yuda terdapat petugas
hygiene, untuk kebersihan per-shift diserahkan ke bagian mandor. Sedangkan untuk kebersihan
perorangan tenaga kerja disediakan kamar mandi berjumlah 24 WC.
Dalam proyek tersebut juga disediakan barak kolam 4 buah. Pada gudang penyimpanan
terdapat banyak sampah. Di ruangan kantin cukup tertata baik, namun ada beberapa makanan
yang tidak tertutup dan tidak tersedianya tempat cuci tangan dan tempat duduk untuk makan.
Kantin tersebut memiliki hygiene yang kurang.

Perusahaan ini tidak memilki halaman. Beberapa jalan yang biasanya digunakan mobil
pengangkut belum ditutupi aspal sehingga kondisi lingkungan Perusahaan masih berdebu. Selain
itu terdapat juga beberapa genangan air di beberapa titik di lingkungan kerja perusahaan ini.
Air yang tersedia berasal dari PAM, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa. Air
tersebut digunakan untuk mandi, cuci tangan di WC. Air minum yang disediakan tidak dilakukan
pemeriksaan khusus unyuk menilai kualitas air.
Makanan yang tersedia di kantin untuk bahan dan proses pengelolaannya tidak tersedia
data yang menunjang, dikarenakan pengelolaannya diserahkan pada mandornya masing-masing
(independen).
Pada pemeliharaan fasilitas industri, mesin, peralatan kerja gudang penyimpanan, tempat
istirahat untuk kebersihannya diserahkan kepada mandor masing-masing.
3.5 Petugas Hygiene Industri
Petugas Hygiene Industri di Perusahaan ini bertugas membersihkan Lingkungan kerja
dengan sistem berkelanjutan. Berdasarkan keterangan dari Tn. Pandi, yang dimaksudkan dengan
sistem berkelanjutan, petugas kebersihan hanya membersihkan jika kondisi tampak kotor secara
cisual, Tn Pandi tidak memberikan info yang lebih spesifik menganai beberapa kali dalam sehari
petugas kesehatan melakukan inspeksi lingkungan.

3.6 Pengelolaan Limbah


Berdasarkan hasil wawancara dengan Tn. Pandi, Limbah perusahaan yang dihasilkan
berupa limbah cair, padat dan gas. Pengelolaan limbah cair dibuat saluran ke titik penampungan
limbah cair dalam wadah beton tanpa penutup, untuk limbah padat dibuat tempat pembuangan
limbah sementara, sedangkan untuk pengelolaan limbah gas dibiarkan gas mengalir ke udara,
karena sumber limbah gas yang terbilang tidak begitu banyak (dari pembangkit energi tenaga
bensin)

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
4.2 Faktor Fisik
1. Bising
a. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kebisingan pada alat alat penghasil bising, jika
intensitas kebisingan melebihi 85 db, dilakukan penyegelan alat untuk mengurangi
intensitas bisang hingga kurang dari 85 db.

b. Rotasi kerja dapat dilakukan bila dengan penyegelan intensitas bising masih melebihi 85
db
c. Penyediaan APD secara Cuma Cuma untuk setiap tenaga kerja bila hal tersebut diatas
tidak mungkin dilakukan
2. Pencahayaan
Di setiap ruang sebaiknya diberikan pencahayaan yang sesuai, yaitu 100 lux untuk ruang
kantin, WC, P3K.
3. Getaran
Sebaiknya dilakukan pengukuran getaran pada setiap alat penghasil getar.
Jika intensitas getaran yang dihasilkan melebihi NAB, maka alat tersebut diberi peredam
getar yang sesuai
Rotasi jam kerja dapat disesuaikan jika cara diatas belum dapat mengurangi jumlah getaran
dibawah NAB
Pemberian APD secara cuma cuma bagi setiap tenaga kerja jika hal tersebut diatas tidak
memungkinkan untuk dilaksanakan
4. Radiasi
Tidak ditemukan radiasi
5. Iklim dan suhu
Sebaiknya dilakukan pengukuran dengan WBGT di lingkungan kerja
Pembuatan taman dapat menurunkan suhu tempat kerja
Disetiap ruangan sebaiknya diberikan sirkulasi udara yang baik
4.2 Faktor Kimia

Seharusnya ada tindak lanjut mengenai APD itu sendiri. Seperti pemakaian masker, bagi
perkerja yang tidak menggunakan akan diberikan sanksi. Sama seperti yang lainnya juga. Ada
sikap ketegasan bagi para perkerja yang tidak taat akan penggunaan APD tersebut.
4.3 Faktor Biologi
Sedangkan untuk faktor biologi seharusnya ada sikap peduli dan mawas terhadap para
pekerjanya. Dimana sanitasi yang buruk sangat mengganggu para pekerja dan mengurangi
produktifitas perusahaan.
4.4 Kebersihan
4.4.1. WC (Toilet)
1. WC sebaiknya dibersihkan secara berkala minimum, sebanyak 3 kali sehari
2. WC yang disediakan seharusnya sesuai dengan kapasitas tenaga kerja yaitu 1 WC untuk
24 tenaga kerja
3. Setiap WC sebainya disediakan sabun dan air mengalir yang bersih
4. Setiap sebaiknya disediakan tempat sampah sementara
4.1.2. Gudang penyimpanan
1. Sampah yang berada dalam gudang penyimpanan sebaiknya dipindah tempatkan pada
2.
3.

titik penampungan sampah sementara


Gudang penyimpanan sebaiknya dibersihkan minimal 3 kali sehari
Penataan letak barang penyimpan sebaiknya ditata secara teratur sehingga petugas dapat
berjalan melintasi gudang dengan nyaman

4.3.3. Kantin
1. Sebaiknya dibuat ruang tertutup yang letaknya jauh dari tempat kerja dan tempat
2.

penampungan sampah sementara.


Di kantin sebaiknya disediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir yang bersih

3.

dan sabun cuci tangan


Petugas kebersihan sebaiknya membersihkan kantin minimal 3 kali sehari

4.3.3. Jalanan
1. Sebaiknya tenaga kerja diberikan APD yang Bersertikasi untuk melindungi mereka
dari debu
4.3.4. Makanan

1. Sebaiknya disesuaikan dengan jumlah kalori yang mereka butuhkan selama mereka
bekerja dengan prinsip gizi seimbang.
4.5. Pengelolaan Limbah
4.5.1. Limbah cair
Sebaiknya dilakukan pengelolaan limbah secara kimiawi, fisik dan biologi sesuai standar
yang letaknya jauh dari tempat makan dan tempat kerja tenaga kerja
4.5.2. Limbah Padat
Sebaiknya tempat penampungan sementara dibuat jauh dari tempat makan dan tempat
kerja tenaga kerja
4.5.3. Limbah gas
Tenaga kerja operator sebaiknya diberikan APD secara cuma cuma

BAB IV
PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
Konsep dasar dari hygiene industry adalah agar seorang tenaga kerja berada dalam
keserasian sebaik-baiknya, yang beraarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan
kesehatan dan produktifitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang positifkonstruktif, antara unsur beban kerja, beban tambahan akibat dari pekerjaan dan lingkungan
kerja dan kapasitas kerja.
Gangguan pada kesehatan dan daya kerja akibat berbagai factor dalam pekerjaan dan
lingkungan kerja bias dihindarkan, asal saja perusahaan, pimpinan atau manajemen perusahaan

dan pekerja serta serikat pekerja ada kemauan yang kuat untuk mencegahnya. Peraturan
perundang-undangan tidak aka nada faedahnya, apabila perusahaan tidak melaksanakan
ketetapan yang berlaku sebagaimana diatur oleh perundang-undangan, juga sama halnya apabila
pengurus perusahaan dan pekerja tidak mengambil peranan proaktif dalam menghindarkan
terjadinya gangguan terhadap kesehatan, daya kerja dan produktiitas tenaga kerja.
3.2. Saran.
1.

Diharapkan agar pimpinan perusahaan, manjemen perusahaan dan pekerja memahami


betul konsep dari hygiene industry.

2.

Diharapkan pihak perusahaan dapat menjalankan semua program hygiene industri agar
produktiitas tenaga kerja tetap terjaga.