Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN ATAS ASPEK PERPAJAKAN

PADA OTORITAS JASA KEUANGAN


DASAR HUKUM

UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah dubah terakhir dengan UU No 16 Tahun


2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
UU No 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan
UU No 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No 42 Tahun
2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai
UU No. 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
PP No. 11 tahun 2014 tentang Pungutan oleh Otoritas Jasa Keuangan

PENDAHULUAN
Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
Undang-undang Nomor 21 tahun 2011 mengamanahkan pementukan lembaga
baru yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK merupakan suatu lembaga independen
yang bebas dari campur tangan pihak lain yang memiliki tugas dan wewenang
dalam pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan.
Setelah dibentuknya OJK, beberapa fungsi, tugas, dan wewewang dari Bank
Indonesia dan Kementerian Keuangan (BAPEPAMLK) dilihkan ke OJK. Fungsi, tugas,
dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor
Perbankan beralih dari Bank Indonesia ke OJK. Fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal,
Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan
Lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan ke OJK.
Pembentukan OJK salah satunya dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan
stabilitas dalam sektor keuangan. Pengalaman krisis keuangan yang terjadi
beberapa kali sangat mengganggu kestabilan sistem keuangan negara. Selain itu
semakin kompleksnya sistem keuangan seiring dengan kemajuan teknologi dan
perkembangan produk dan jasa keuangan, permasalahan lintas sektoral yang
banyak bermunculan seperti moral hazard, dan perlindungan atas konsumen jasa
keuangan menjadi faktor lain yang melatarbelakangi pembentukkan OJK
Tugas dan fungsi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem


pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di
sektor jasa keuangan.

PERBANKAN
PASAR MODAL

PENGATURAN

ASURANSI
KEGIATAN JASA KEUANGAN

PENGAWASAN

PENSIUN
LEMBAGA PEMBIAYAAN
JASA KEUANGAN LAIN

Struktur Organisasi OJK


Sesuai UU OJK, dalam melaksanakan tugasnya, OJK dipimpin oleh Dewan
Komisioner. Dewan Komisioner OJK bersifat kolektif kolegial, hal ini berarti setiap
pengambilan keputusan Dewan Komisioner dilakukan secara bersama-sama oleh
Anggota Dewan Komisioner, berdasarkan musyawarah untuk mufakat dengan
berasaskan kesetaraan dan kekeluargaan di antara anggota Dewan Komisioner.
Selain itu, kepemimpinan OJK mencerminkan prinsip independensi dan masingmasing Anggota Dewan Komisioner memiliki kepastian masa jabatan dan tidak
dapat diberhentikan, kecuali dengan alasan yang diatur dalam UU OJK.
Pemilihan Dewan Komisioner dilakukan melalui mekanisme seleksi yang
transparan, akuntabel, dan melibatkan partisipasi publik melalui suatu panitia
seleksi yang unsur-unsurnya terdiri atas Pemerintah, Bank Indonesia, dan
masyarakat sektor jasa keuangan. Dewan Komisioner yang menjabat saat ini
diangkat dan ditetapkan oleh Presiden dalam Surat Keputusan Presiden untuk masa
jabatan lima tahun dari tahun 2012 hingga 2017, yang dapat dipilih kembali untuk
satu kali masa jabatan selanjutnya. Dewan komisaris berjumlah 9 orang, dengan
komposisi sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

seorang Ketua merangkap anggota;


seorang Wakil Ketua sebagai Ketua Komite Etik merangkap anggota;
seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap anggota;
seorang Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap anggota;
seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap anggota;
f. seorang Ketua Dewan Audit merangkap anggota;
g. seorang anggota yang membidangi edukasi dan perlindungan Konsumen;

h. seorang anggota Ex-officio dari Bank Indonesia yang merupakan anggota Dewan
Gubernur Bank Indonesia; dan
i. seorang anggota Ex-officio dari Kementerian Keuangan yang merupakan pejabat
setingkat eselon I Kementerian Keuangan.
Rencana Kerja dan Anggaran
Pasal 34 ayat 2 UU No. 21 tahun 2011 tentang OJK menyebutkan bahwa:
Anggaran OJK bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
dan/atau pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.
Hal ini kemudian dijelaksan dalam bagian penjelasan UU bahwa sewajarnya
pembiayaan kegiatan OJK didanai secara mandiri yang pendanaannya bersumber
dari pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.
Penetapan besaran pungutan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan
kemampuan pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan serta
kebutuhan pendanaan OJK. Namun, pembiayaan OJK yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan OJK
pada saat pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan di industri jasa keuangan
belum dapat mendanai seluruh kegiatan operasional secara mandiri, antara lain
pada masa awal pembentukan OJKDewan Komisioner menyusun dan menetapkan
rencana kerja dan anggaran OJK.
Anggaran OJK digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, administratif,
pengadaan aset serta kegiatan pendukung lainnya. Anggaran dan penggunaan
anggaran untuk membiayai kegiatan ditetapkan berdasarkan standar yang wajar di
sektor jasa keuangan dan dikecualikan dari standar biaya umum, proses pengadaan
barang dan jasa, dan sistem remunerasi sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara, pengadaan barang dan jasa Pemerintah, dan sistem remunerasi. Yang
dimaksud dengan standar yang wajar pada sektor jasa keuangan adalah standar
biaya yang lazim digunakan oleh sektor jasa keuangan atau regulator sektor jasa
keuangan sejenis, baik domestik maupun internasional. Hal ini dilakukan agar OJK
dapat mengimbangi tuntutan dan dinamika sektor jasa keuangan, baik secara
domestik maupun internasional. Yang dimaksud dengan standar biaya umum
adalah standar biaya umum yang diberlakukan terhadap Kementerian dan Lembaga
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Untuk mendukung kegiatan operasional OJK, Pemerintah melakukan
penempatan dana awal ke OJK. Penetapan anggaran OJK terlebih dahulu harus
mendapat persetujuan dari DPR. Dana awal berasal dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang jumlah dan peruntukannya berdasarkan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Pungutan OJK
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas, salah satu sumber
pendapatan OJK adalah berasal dari pungutan yang dikenakan kepada pihak yang

melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Ketetapan mengenai pungutan ini


kemudian diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2014 tentang
Pungutan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan adalah Lembaga Jasa
Keuangan dan/atau orang perseorangan atau badan yang melakukan kegiatan di
sektor jasa keuangan yang meliputi sektor Perbankan, Pasar Modal, Perasuransian,
Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Pungutan yang diterima OJK pada tahun berjalan digunakan untuk membiayai
kegiatan OJK pada tahun anggaran berikutnya. Dalam hal Pungutan yang diterima
OJK pada tahun berjalan melebihi kebutuhan OJK untuk tahun anggaran berikutnya,
kelebihan tersebut disetorkan ke Kas Negara.
Jenis Pungutan yang berlaku pada OJK meliputi:
a. biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pengesahan, dan penelaahan atas
rencana aksi korporasi; dan
b. biaya tahunan dalam rangka pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan
penelitian.
Biaya tahunan, besaran tarifnya ditetapkan dalam:
a. persentase tertentu yang mengacu pada laporan keuangan tahunan yang
telah diaudit;
b. nominal tertentu yang mengacu pada laporan keuangan tahunan yang telah
diaudit; atau
c. Nominal tertentu yang tidak mengacu pada laporan keuangan.
Biaya tahunan wajib dibayar dalam 4 (empat) tahap paling lambat tanggal 15
(lima belas) setiap bulan April, Juli, Oktober dan tanggal 31 Desember pada tahun
berjalan.
Pelaporan dan Akuntabilitas
OJK wajib menyusun laporan keuangan yang terdiri atas laporan keuangan
semesteran dan tahunan. OJK wajib menyusun laporan kegiatan yang terdiri atas
laporan kegiatan bulanan, triwulanan, dan tahunan. OJK wajib menyampaikan
laporan kegiatan triwulanan kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bentuk
pertanggungjawaban kepada masyarakat. Laporan kegiatan disampaikan kepada
Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat. Laporan keuangan tahunan diaudit oleh
Badan Pemeriksa Keuangan atau Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk oleh Badan
Pemeriksa Keuangan.

ASPEK PERPAJAKAN PADA OTORITAS JASA KEUANGAN


Di dalam KUP dijelaskan bahwa setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi
persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak

yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak
dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.
Untuk meninjau aspek perpajakan dari OJK, pemenuhan atas persyaratan objektif
dan subjektif wajib pajak perlu untuk dilihat lebih lanjut.
Syarat Subjektif
Seperti yang dijelaskan dalam UU PPh bahwa subjek pajak meliputi:
a. 1. Orang pribadi; 2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak
b. badan
c. bentuk usaha tetap.
OJK, seperti yang telah dijelaskan diatas, merupakan suatu badan baru yang
dibentuk oleh pemerintah yang berfungsi dalam pengaturan dan pengawasan jasa
keuangan. Namun apakah definisi badan disini sama dengan definisi badan yang
dimaksudkan dalam Undang-undang perpajakan?
Pasal 1 KUP menjelaskan Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal
yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,
perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah
dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi,koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak
investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
Namun dalam UU PPh dijelaskan bahwa ada pengecualian untuk unit tertentu
dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria
Kriteria
a. pembentukannya
berdasarkan
ketentuan
peraturan
perundangundangan;
b. pembiayaannya
bersumber
dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara atau Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah;

c. penerimaannya
dimasukkan
dalam
anggaran
Pemerintah
Pusat atau Pemerintah Daerah;

OJK
UU No. 21 2011 tentang OJK

Pasal 34 ayat 2 UU No. 21 tahun 2011


tentang OJK menyebutkan bahwa:
Anggaran OJK bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara dan/atau pungutan dari pihak
yang melakukan kegiatan di sektor jasa
keuangan.
Pasal 37 ayat 5 tahun 2011 tentang OJK
menyebutkan bahwa:
Dalam hal pungutan yang diterima
pada
tahun
berjalan
melebihi
kebutuhan OJK untuk tahun anggaran
berikutnya,
kelebihan
tersebut
disetorkan ke Kas Negara.

d. pembukuannya
diperiksa
oleh
aparat
pengawasan
fungsional
negara;

Pasal 38 ayat 8 tahun 2011 tentang OJK


menyebutkan bahwa:
Laporan
keuangan
tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diaudit
oleh
Badan
Pemeriksa
Keuangan atau Kantor Akuntan Publik
yang ditunjuk oleh Badan Pemeriksa
Keuangan.

Apakah kriteria diatas harus dipenuhi semua???

Pembiayaan OJK berasal dari APBN dan/ atau pungutan. Klausul ini menyiratkan
bahwa pembiyaan OJK bisa saja secara penuh bukan berasal dari APBN tapi
hanya dari pungutan. Apakah ini masih memenuhi kriteria b. pembiayaannya
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah??????
Lembaga independen (pasal awal UU OJK) apakah masuk dalam definisi badan
pemerintah????
Penerimaan OJK tahun berjalan digunakan untuk pembiayaan tahun berikutnya,
sisanya disetor ke kas negara. Apakah itu memenuhi kriteria c. penerimaannya
dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah;???? Apakah dimasukkan kas negara itu harus langsung disetor, atau
boleh dikelola dulu (seperti OJK??)

Syarat Objektif
Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau
memperoleh
penghasilan
atau
diwajibkan
untuk
melakukan
pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak
Penghasilan 1984 dan perubahannya. UU PPh menjelaskan yang menjadi objek
pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan
Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
Pengertian penghasilan dalam Undang-Undang ini tidak memperhatikan adanya
penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan
ekonomis. Termasuk dalam pengertian ini antara lain:
a. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,bonus,
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan
lain dalam undang-undang ini;
b. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;
c. laba usaha;
d. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta
e. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;

f.
g.

h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.

bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian


utang;
dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasilusaha
koperasi;
royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu
yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
keuntungan selisih kurs mata uang asing;
selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri
dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan
pajak;
penghasilan dari usaha berbasis syariah;
imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan;
surplus Bank Indonesia.

------Surplus BI sebagai Objek Pajak-----Bank Indonesia adalah lembaga negara yang otonomi, dalam artian bahwa
untuk melaksanakan seluruh tugasnya tidak mendapatkan pembiayaan dari APBN.
Bank Indonesia mendapatkan penerimaan terbesar dari kewenangannya untuk
mengelola cadangan devisa, memberikan sanksi dan denda kepada perbankan,
serta memungut biaya penyelenggaraan kliring. Disisi lain pengeluaran terbesar
adalah untuk pelaksanaan kebijakan moneter antara lain berupa operasi pasar
terbuka, membayar SBI, serta melakukan clean money policy yaitu mencetak uang
rupiah guna menyediakan uang dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan
masyarakat.
Dalam konteks perpajakan, perlakuan atas surplus (laba) Bank Indonesia
mengalami perubahan-perubahan yang cukup berarti.
Peraturan
1. UU No. 11 tahun 1953
2. UU No.13 Tahun 1968
3. UU No. 23 Tahun 1999

4. UU No. 3 Tahun 2004

Status suplus BI
Surplus (Laba) Bank Sentral tidak
dikenai PPh
Surplus (Laba) Bank Sentral dikenai PPh
Sesuai Pasal 62 ayat (4) UU No. 23
Tahun 1999 ditentukan bahwa Terhadap
surplus Bank Indonesia tidak dikenakan
pajak penghasilan.
Sesuai dengan Pasal II ayat 4 UU No. 3

5. UU No 7 Tahun 1983 sebagaimana


telah diubah terakhir dengan UU No 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan

tahun 2004 diatur bahwa Sepanjang


belum ada peraturan perundangundangan yang mengatur bahwa atas
surplus Bank Indonesia dikenakan pajak
penghasilan, maka berdasarkan
undang-undang ini surplus Bank
Indonesia tidak dikenakan pajak
penghasilan.
Termasuk dalam objek pajak.

Hingga saat ini penetapan surplus pajak sebagai objek pajak masih menuai
kontrovesi. Pihak yang setuju berargumen kebijakan ini sesuai dengan prinsip
keadilan. Kebijakan ini juga dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. Jika
badan usaha lain memperoleh profit dikenakan pajak maka surplus BI juga harus
dikenakan pajak. BI sebenarnya tidak ada bedanya dengan Bank lain dari segi
kegiatan yang dijalankan. BI memperoleh penerimaan dari:

Pengelolaan Moneter terdiri dari:


o Pengelolaan Devisa
o Pengelolaan SSB Dalam Negeri
o Pemberian Kredit dan Pembiayaan
o Selisih Kurs karena Transaksi Valuta Asing
Pengelolaan Sistem Pembayaran
Pengawasan Perbankan
Lainnya

Selain itu BI juga dapat melakukan penyertaan modal pada badan-badan yang
dirasa dapat mendukung pekerjaanya. Sehingga proses bisnis yang dijalankan oleh
BI sebenarnya lebih mengarah pada proses bisnis perusahaan berorientasi profit.
Disisi lain, pihak yang tidak sependapat dengan penetapan surplus BI sebagai
objek pajak berpendapat bahwa BI berbeda dengan bank umum. Meskipun
memperoleh penerimaan dari usahanya, tetapi BI tidak mengutamakan perolehan
laba sebagai tujuannya. Berdasarkan definisi pajak yang dikemukakan oleh Ray M.
Somerfield, pajak merupakan iuran dari swasta ke publik yaitu negara, dalam
konteksi ini BI merupakan lembaga negara yang dibentuk melalui undang-undang
serta badan hukum publik yang tidak berorientasi profit. Maka pengenaan pajak
tidaklah tepat karena hanya memindahkan uang dari kantong yang satu ke kantong
lainnya.

Surplus OJK sebagai Objek Pajak


OJK merupakan lembaga baru yang kemudian mengambil alih sebagian tugas dan
fungsi dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Salah satu tugas yang

diambil alih adalah pengawasan perbankan. Sebelum diambil alih oleh OJK, fungsi
pengawasan terhadap perbankan oleh BI menghasilkan penerimaan untuk mereka.
Persamaan antara OJK dan BI sama-sama lembaga independen negara yang tidak
berorientasi profit. BI penerimaannya berasal dari kegiatan-kegiatannya. Sedangkan
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sumber penerimaan OJK berasal dari
APBN dan/ atau dari pungutan terhadap penyelenggara jasa keuangan. Apabila
dibandingkan dengan BI maka sumber penerimaan OJK jauh lebih terbatas.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, argumen yang mendukung penetapan
surplus BI sebagai objek pajak salah satunya adalah adanya kegiatan/ usaha BI
yang mirip dengan Bank umum seperti fasilitas pinjaman dan simpanan, kliring, dll.
Apabila ditinjau dari hal tersebut maka surplus OJK kurang tepat apabila dijadikan
sebagai objek pajak. Hal ini karena pungutan-pungutan yang dilakukan oleh OJK
sumbernya terbatas pada biaya administrasi dan iuran tahunan dari pengusaha jasa
keuangan. Sehingga jumlah dan risikonya lebih kecil dibandingkan dengan
penerimaan BI.
Selain itu dijelaskan di UU OJK bahwa penerimaan OJK digunakan untuk kegiatan
operasional dan administratif yang berarti penerimaan ini tidak digunakan untuk
mengusahakan keuntungan. Seperti prinsip awal OJK berdiri yaitu lembaga
independen yang bertugas memberikan layanan pada masyarakat dan tidak
mencari profit. tanpa dikenakan pajak pun, surplus OJK yang berupa penerimaan
kas dari pungutan akan disetor ke kas negara.
Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau
memperoleh
penghasilan
atau
diwajibkan
untuk
melakukan
pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak
Penghasilan 1984 dan perubahannya.
Berdasarkan pasal 4 ayat 1 UU PPh, penghasilan merupakan tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun.
Klo OJK memenuhi syarat subjek pajak maka syarat objektifnya gimana??
Kan tidak memperhatikan sumber tambahan kemampuan ekonomisnya
dari mana? Bisa dari swasta bisa dari badan negara?????
Referensi

UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah dubah terakhir dengan UU No 16 Tahun


2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
UU No 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan
UU No 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No 42 Tahun
2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai
UU No. 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
PP No. 11 tahun 2014 tentang Pungutan oleh Otoritas Jasa Keuangan

Otoritas Jasa Keuangan Indonesia Financial Services Authority A N N U A L R E P


ORT2013

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/122549-T%2025824-Surplus%20bankPendahuluan.pdf
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/governance/internal-audit/Contents/Default.aspx
http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan-tahunan/bi/Documents/LTBI%202013%20%20Laporan%20Keuangan.pdf