Anda di halaman 1dari 5

MEMBACA KONFLIK SURIAH

http://www.politik.lipi.go.id/in/kolom/timur-tengah/669-membaca-konflik-suriah.html
DITULIS OLEH MUHAMMAD FAKHRY GHAFUR
JUMAT, 31 AGUSTUS 2012 07:26
Krisis politik yang terjadi di Suriah dewasa ini nampaknya sudah mencapai anti klimaks,
terutama dengan semakin meningkatnya kontak senjata antara pemerintah Basyar Asad
dengan kubu pemberontak di beberapa kota. Sejak meletusnya revolusi puluhan ribu orang
tewas serta ribuan lainnya harus mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Turki,
Yordania dan Lebanon. Sampai saat ini baik PBB, OKI maupun Liga Arab belum mengambil
sikap tegas terkait kekejaman rezim al-Asad bahkan terkesan terombang ambing oleh
kebijakan Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dinilai sarat kepentingan baik
politik maupun ekonomi.
Dilema Demokratisasi
Sama halnya dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, Suriah merupakan negara yang
juga terimbas badai revolusi. Sudah setahun revolusi yang dimotori para aktivis properubahan tersebut berlalu. Namun, situasi politik di Suriah belum menunjukkan tanda-tanda
perbaikan. Bahkan Basyar Asad bersikeras akan tetap mempertahankan kekuasaannya
walaupun harus menggunakan jalur kekerasan. Sikap otoriter rezim Basyar Asad tersebut
akhirnya memunculkan gelombang demonstrasi yang menuntut Presiden Basyar Asad
mundur dari jabatannya. Para demonstran tersebut menuntut Presiden Basyar Asad untuk
melakukan langkah-langkah terkait reformasi politik dan pelaksanaan Pemilu dalam waktu
dekat. Tuntutan para demonstran tersebut dijawab pemerintah dengan merombak struktur
parlemen dan pemerintahan, namun rakyat tetap menolak karena mereka menganggap
struktur pemerintahan masih dijabat orang-orang lama yang tidak lain adalah sekutu dekat
Asad. Suhu politik di Suriah pun semakin memanas setelah pemerintah melakukan operasi
militer di beberapa kota termasuk di wilayah Khalidiyah provinsi Homs yang telah
menewaskan ribuan orang. Kekejaman yang dilakukan pemerintah pemerintah Suriah
tersebut mendorong PBB melalui dewan keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi
terhadap Suriah. Namun, resolusi tersebut gagal setelah Cina dan Rusia menolaknya.
Sementara itu, negara-negara Barat seperti AS, Perancis dan Inggris menyatakan bahwa

pemerintah Suriah tidak lagi sah dan menuntut Presiden Asad melepaskan jabatannya. Reaksi
internasional tersebut ditanggapi oleh pihak oposisi di Suriah dengan membentuk Dewan
Nasional Suriah sebagai wadah pemersatu bagi gerakan oposisi Suriah termasuk gerakan
oposisi terbesar Ikhwanul Muslimin. Guna menandingi kekuatan militer rezim Al-Asad dan
melindungi para demonstran, Riyadh Al-Asad yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin
angkatan udara Suriah membentuk Tentara Pembebasan (Al-Jays Al-Hurr) Pembentukan
Tentara Pembebasan tersebut jelas semakin memperuncing konflik antara pendukung rezim
Al-Asad dengan kubu oposisi.
Dewan Nasional Suriah yang sejak semula bertujuan untuk menggalang aspirasi kelompok
oposisi belum sepenuhnya berfungsi malah semakin menemui banyak rintangan baik dalam
tataran nasional, regional maupun internasional. Di dalam negeri pemerintah Basyar Asad
yang didukung Rusia dan Cina terus melakukan penyerangan terhadap kelompok oposisi di
beberapa daerah. Rusia dan Cina merupakan dua negara yang mempunyai kepentingan di
Suria. Kota Latakia dan Tartus merupakan basis armada laut Rusia. Karenanya, baik Rusia
mapun Cina tidak menginginkan jika hegemoni AS dengan demokrasi Liberalnya masuk ke
Suriah yang dapat mengganggu kepentingan Rusia. Sementara itu Israel yang merupakan
sekutu dekat AS sangat diuntungkan dengan berlarutnya konflik yang terjadi di Suriah..
Dengan berlarutnya konflik, Israel dapat leluasa menyerang Hamas di Jalur Gaza yang selama
ini mendapat bantuan dari negara-negara Arab seperti Suriah dan Jordania. Senada dengan
Israel, AS yang pada mulanya mendukung revolusi Suriah justru semakin khawatir jika
kelompok Islam memimpin Suriah seandainya revolusi berhasil, karena jelas akan
menghambat kepentingan AS di Timur Tengah terutama dalam mendukung Israel. Terdapat
beberapa alasan mengapa selama ini AS terkesan membiarkan krisis yang terjadi di Suriah.
Pertama, kondisi politik dalam negeri Suriah yang sedang dilanda konflik dianggap tidak
menguntungkan bagi kepentingan politik AS. Kedua, menguatnya pengaruh gerakan Islam
seperti Ikhwanul Muslimin di beberapa negara Timur Tengah pasca Arab Spring menjadi
kendala tersendiri bagi AS untuk menyerang dan meruntuhkan rezim Basyar Asad yang
didukung kelompok Syiah. Ketiga, krisis ekonomi yang melanda negara-negara Eropa
mendorong AS untuk mengurangi operasi militernya. Sebagaimana dimaklumi bahwa AS
tengah memangkas anggaran militernya akibat krisis finansial yang melanda negeri adidaya

tersebut. Pada akhirnya strategi politik yang dimainkan negara-negara seperti AS, Rusia dan
Cina dapat menghambat proses demokratisasi dan perdamaian di Suriah yang jika dibiarkan
akan mengarah pada perang kawasan yang jelas sangat berbahaya bagi perkembangan
sosial, politik dan ekonomi di Timur Tengah.

Akar Konflik
Suriah merupakan negara di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan Turki di sebelah
utara, Palestina dan Jordania di sebelah selatan, Lebanon dan Laut Tengah di Barat dan Irak di
Timur. Karenanya secara geografis dapat dikatakan bahwa Suriah adalah penghubung antara
dua benua, Asia dan Afrika. Letak yang strategis tersebut menjadikan Suriah sebagai wilayah
yang diperebutkan berbagai unsur kekuatan global. Pada mulanya Suriah merupakan bagian
dari wilayah kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Namun, pada tahun 1918
dengan dukungan dari Inggris, akhirnya Suriah memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan
pada tahun 1920 membentuk negara Republik Arab Suriah (Al-Jumhuriyyah Al-Arabiyyah AsSuriyah). Pada tahun 1958-1961 Suriah bergabung dalam pan-Arabisme setelah akhirnya
memisahkan diri akibat kudeta militer yang dipimpin oleh Abdul Karim Nahlawy yang tidak
lain adalah pengikut Syiah Alawiyah. Pasca kudeta militer, peta politik di Suriah dikuasai oleh
Partai Sosialis Baats (Hizb Al-Baats Al-Isytiraki) yang mayoritas anggotanya berasal dari
kalangan Syiah Alawiyah. Melalui partai Baats inilah kelompok Syiah Alawiyah berhasil
menguasai peta politik Suriah. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan militer yang sejak
semula didominasi Syiah. Kelompok ini berhasil memperluas kekuatan militer serta
membentuk undang-undang guna membatasi pergerakan kelompok oposisi yang sebagian
besar bermazhab Sunni dibawah kendali Ikhwanul Muslimin. Sementara itu dibidang ekonomi,
kelompok Syiah Alawiyah yang merupakan minoritas dengan jumlah sekitar 15 persen dari 26
juta penduduk, mampu menguasai berbagai sektor perekonomian di Suriah. Struktur ekonomi
Suriah yang berbasis pada sektor perminyakan pun sebagian besar dikuasai oleh keluarga,
pejabat partai Baats dan pihak militer. Sikap diskrimanisi yang dilakukan rezim Asad tersebut

menimbulkan kecemburuan sosial dari kalangan Sunni hingga berujung pada berbagai
macam bentuk perlawanan di beberapa wilayah.
Sejak Syiah Alawiyah berhasil menguasai Partai Baats pada 1955 sentimen anti Sunni pun
mengemuka di Suriah. Operasi militer kerap dilakukan pemerintah di beberapa wilayah
seperti di Hama pada Februari 1982 yang mayoritas penduduknya Sunni. Perkembangan
terakhir pada Februari 2012, pemerintah Asad telah melakukan hal yang sama dengan
memborbardir kota Hama hingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang di kota tersebut.
Dunia internasional seolah menutup mata terhadap kekejaman rezim Asad yang menurut
catatan Gerakan Perubahan Nasional Suriah, tentara Assad telah membunuh lebih dari 15.000
orang di beberapa provinsi Suriah. Nampaknya, sulit memprediksi kapan konflik di Suriah
akan berakhir dan menyusul keberhasilan Arab Spring di Tunisia, Mesir dan Libya yang telah
mampu melakukan reformasi sistem pemerintahan.
Masa Depan Revolusi
Maraknya pelanggaran HAM yang terjadi di Suriah menimbulkan tanda tanya besar bagi masa
depan revolusi di Suriah. Apakah revolusi yang dimulai dengan Hari Kemarahan Suriah akan
berakhir dengan konflik atau akan menghasilkan demokratisasi layaknya di Tunisia dan Mesir.
Nampaknya, sulit diprediksi kapan konflik yang terjadi di Suriah akan berakhir. Kendati
demikian, pihak-pihak yang bersengketa di Suriah dituntut untuk melakukan dialog guna
mencari sosuli konflik yang kian hari semakin akut tersebut.

Baik rezim Asad maupun kubu oposisi harus mengakhiri konflik yang telah mengakibatkan
tewasnya puluhan ribuan orang. Bila rakyat Suriah bersatu untuk mensukseskan
demokratisasi, maka konflik sektarian yang melanda Suriah yang terjadi sejak lama tersebut
akan surut. Disamping itu presiden Assad sebagai pemegang otoritas- diharapkan mampu
mengadakan perundingan damai dengan pihak yang bersengketa sehingga bisa terhindar dari
perang saudara yang selama ini dikhawatirkan berbagai pihak. Disisi lain, intervensi yang
melibatkan kekuatan militer seyogyanya harus dapat dihindari. Sebab dengan adanya campur

tangan militer justru menambah kerugian bagi rakyat sipil yang selama revolusi kerap
menjadi sasaran pihak militer. (Muhammad Fakhry Ghafur)