Anda di halaman 1dari 4

Membaca Konflik Suriah

Ditulis oleh Muhammad Fakhry Ghafur


Jumat, 31 Agustus 2012 07:26

Krisis politik yang terjadi di Suriah dewasa ini nampaknya sudah mencapai anti klimaks,
terutama dengan semakin meningkatnya kontak senjata antara pemerintah Basyar Asad
dengan kubu pemberontak di beberapa kota. Sejak meletusnya revolusi puluhan ribu orang
tewas serta ribuan lainnya harus mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Turki, Yordania
dan Lebanon. Sampai saat ini baik PBB, OKI maupun Liga Arab belum mengambil sikap tegas
terkait kekejaman rezim al-Asad bahkan terkesan terombang ambing oleh kebijakan Uni Soviet
dan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dinilai sarat kepentingan baik politik maupun
ekonomi.

Dilema Demokratisasi

Sama halnya dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, Suriah merupakan negara yang
juga terimbas badai revolusi. Sudah setahun revolusi yang dimotori para aktivis pro-perubahan
tersebut berlalu. Namun, situasi politik di Suriah belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Bahkan Basyar Asad bersikeras akan tetap mempertahankan kekuasaannya walaupun harus
menggunakan jalur kekerasan. Sikap otoriter rezim Basyar Asad tersebut akhirnya
memunculkan gelombang demonstrasi yang menuntut Presiden Basyar Asad mundur dari
jabatannya. Para demonstran tersebut menuntut Presiden Basyar Asad untuk melakukan
langkah-langkah terkait reformasi politik dan pelaksanaan Pemilu dalam waktu dekat. Tuntutan
para demonstran tersebut dijawab pemerintah dengan merombak struktur parlemen dan
pemerintahan, namun rakyat tetap menolak karena mereka menganggap struktur pemerintahan
masih dijabat orang-orang lama yang tidak lain adalah sekutu dekat Asad. Suhu politik di
Suriah pun semakin memanas setelah pemerintah melakukan operasi militer di beberapa kota
termasuk di wilayah Khalidiyah provinsi Homs yang telah menewaskan ribuan orang.
Kekejaman yang dilakukan pemerintah pemerintah Suriah tersebut mendorong PBB melalui
dewan keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi terhadap Suriah. Namun, resolusi tersebut
gagal setelah Cina dan Rusia menolaknya. Sementara itu, negara-negara Barat seperti AS,
Perancis dan Inggris menyatakan bahwa pemerintah Suriah tidak lagi sah dan menuntut
Presiden Asad melepaskan jabatannya. Reaksi internasional tersebut ditanggapi oleh pihak
oposisi di Suriah dengan membentuk Dewan Nasional Suriah sebagai wadah pemersatu bagi
gerakan oposisi Suriah termasuk gerakan oposisi terbesar Ikhwanul Muslimin. Guna
menandingi kekuatan militer rezim Al-Asad dan melindungi para demonstran, Riyadh Al-Asad
yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin angkatan udara Suriah membentuk Tentara
Pembebasan (Al-Jays Al-Hurr) Pembentukan Tentara Pembebasan tersebut jelas semakin
memperuncing konflik antara pendukung rezim Al-Asad dengan kubu oposisi.

Dewan Nasional Suriah yang sejak semula bertujuan untuk menggalang aspirasi kelompok
oposisi belum sepenuhnya berfungsi malah semakin menemui banyak rintangan baik dalam

1/4

Membaca Konflik Suriah


Ditulis oleh Muhammad Fakhry Ghafur
Jumat, 31 Agustus 2012 07:26

tataran nasional, regional maupun internasional. Di dalam negeri pemerintah Basyar Asad yang
didukung Rusia dan Cina terus melakukan penyerangan terhadap kelompok oposisi di
beberapa daerah. Rusia dan Cina merupakan dua negara yang mempunyai kepentingan di
Suria. Kota Latakia dan Tartus merupakan basis armada laut Rusia. Karenanya, baik Rusia
mapun Cina tidak menginginkan jika hegemoni AS dengan demokrasi Liberalnya masuk ke
Suriah yang dapat mengganggu kepentingan Rusia. Sementara itu Israel yang merupakan
sekutu dekat AS sangat diuntungkan dengan berlarutnya konflik yang terjadi di Suriah.. Dengan
berlarutnya konflik, Israel dapat leluasa menyerang Hamas di Jalur Gaza yang selama ini
mendapat bantuan dari negara-negara Arab seperti Suriah dan Jordania. Senada dengan
Israel, AS yang pada mulanya mendukung revolusi Suriah justru semakin khawatir jika
kelompok Islam memimpin Suriah seandainya revolusi berhasil, karena jelas akan menghambat
kepentingan AS di Timur Tengah terutama dalam mendukung Israel. Terdapat beberapa alasan
mengapa selama ini AS terkesan membiarkan krisis yang terjadi di Suriah. Pertama, kondisi
politik dalam negeri Suriah yang sedang dilanda konflik dianggap tidak menguntungkan bagi
kepentingan politik AS. Kedua, menguatnya pengaruh gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin
di beberapa negara Timur Tengah pasca Arab Spring menjadi kendala tersendiri bagi AS untuk
menyerang dan meruntuhkan rezim Basyar Asad yang didukung kelompok Syiah. Ketiga, krisis
ekonomi yang melanda negara-negara Eropa mendorong AS untuk mengurangi operasi
militernya. Sebagaimana dimaklumi bahwa AS tengah memangkas anggaran militernya akibat
krisis finansial yang melanda negeri adidaya tersebut. Pada akhirnya strategi politik yang
dimainkan negara-negara seperti AS, Rusia dan Cina dapat menghambat proses demokratisasi
dan perdamaian di Suriah yang jika dibiarkan akan mengarah pada perang kawasan yang jelas
sangat berbahaya bagi perkembangan sosial, politik dan ekonomi di Timur Tengah.

Akar Konflik

Suriah merupakan negara di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan Turki di sebelah
utara, Palestina dan Jordania di sebelah selatan, Lebanon dan Laut Tengah di Barat dan Irak di
Timur. Karenanya secara geografis dapat dikatakan bahwa Suriah adalah penghubung antara
dua benua, Asia dan Afrika. Letak yang strategis tersebut menjadikan Suriah sebagai wilayah
yang diperebutkan berbagai unsur kekuatan global. Pada mulanya Suriah merupakan bagian
dari wilayah kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Namun, pada tahun 1918
dengan dukungan dari Inggris, akhirnya Suriah memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan
pada tahun 1920 membentuk negara Republik Arab Suriah (Al-Jumhuriyyah Al-Arabiyyah
As-Suriyah
). Pada tahun
1958-1961 Suriah bergabung dalam pan-Arabisme setelah akhirnya memisahkan diri akibat
kudeta militer yang dipimpin oleh Abdul Karim Nahlawy yang tidak lain adalah pengikut Syiah
Alawiyah. Pasca kudeta militer, peta politik di Suriah dikuasai oleh Partai Sosialis Baats (
Hizb Al-Baats Al-Isytiraki
) yang mayoritas anggotanya berasal dari kalangan Syiah Alawiyah. Melalui partai Baats inilah
kelompok Syiah Alawiyah berhasil menguasai peta politik Suriah. Hal tersebut tidak terlepas
dari dukungan militer yang sejak semula didominasi Syiah. Kelompok ini berhasil memperluas

2/4

Membaca Konflik Suriah


Ditulis oleh Muhammad Fakhry Ghafur
Jumat, 31 Agustus 2012 07:26

kekuatan militer serta membentuk undang-undang guna membatasi pergerakan kelompok


oposisi yang sebagian besar bermazhab Sunni dibawah kendali Ikhwanul Muslimin. Sementara
itu dibidang ekonomi, kelompok Syiah Alawiyah yang merupakan minoritas dengan jumlah
sekitar 15 persen dari 26 juta penduduk, mampu menguasai berbagai sektor perekonomian di
Suriah. Struktur ekonomi Suriah yang berbasis pada sektor perminyakan pun sebagian besar
dikuasai oleh keluarga, pejabat partai Baats dan pihak militer. Sikap diskrimanisi yang
dilakukan rezim Asad tersebut menimbulkan kecemburuan sosial dari kalangan Sunni hingga
berujung pada berbagai macam bentuk perlawanan di beberapa wilayah.

Sejak Syiah Alawiyah berhasil menguasai Partai Baats pada 1955 sentimen anti Sunni pun
mengemuka di Suriah. Operasi militer kerap dilakukan pemerintah di beberapa wilayah seperti
di Hama pada Februari 1982 yang mayoritas penduduknya Sunni. Perkembangan terakhir pada
Februari 2012, pemerintah Asad telah melakukan hal yang sama dengan memborbardir kota
Hama hingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang di kota tersebut. Dunia internasional
seolah menutup mata terhadap kekejaman rezim Asad yang menurut catatan Gerakan
Perubahan Nasional Suriah, tentara Assad telah membunuh lebih dari 15.000 orang di
beberapa provinsi Suriah. Nampaknya, sulit memprediksi kapan konflik di Suriah akan berakhir
dan menyusul keberhasilan Arab Spring di Tunisia, Mesir dan Libya yang telah mampu
melakukan reformasi sistem pemerintahan.

Masa Depan Revolusi

Maraknya pelanggaran HAM yang terjadi di Suriah menimbulkan tanda tanya besar bagi
masa depan revolusi di Suriah. Apakah revolusi yang dimulai dengan Hari Kemarahan
Suriah akan berakhir dengan konflik atau akan menghasilkan demokratisasi layaknya di
Tunisia dan Mesir. Nampaknya, sulit diprediksi kapan konflik yang terjadi di Suriah akan
berakhir. Kendati demikian, pihak-pihak yang bersengketa di Suriah dituntut untuk
melakukan dialog guna mencari sosuli konflik yang kian hari semakin akut tersebut.

Baik rezim Asad maupun kubu oposisi harus mengakhiri konflik yang telah
mengakibatkan tewasnya puluhan ribuan orang. Bila rakyat Suriah bersatu untuk
mensukseskan demokratisasi, maka konflik sektarian yang melanda Suriah yang terjadi
sejak lama tersebut akan surut. Disamping itu presiden Assad sebagai pemegang
otoritas- diharapkan mampu mengadakan perundingan damai dengan pihak yang
bersengketa sehingga bisa terhindar dari perang saudara yang selama ini dikhawatirkan
berbagai pihak. Disisi lain, intervensi yang melibatkan kekuatan militer seyogyanya

3/4

Membaca Konflik Suriah


Ditulis oleh Muhammad Fakhry Ghafur
Jumat, 31 Agustus 2012 07:26

harus dapat dihindari. Sebab dengan adanya campur tangan militer justru menambah
kerugian bagi rakyat sipil yang selama revolusi kerap menjadi sasaran pihak militer. (M
uhammad Fakhry Ghafur)

4/4