Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN

PRAKTIKUM PENGAMATAN
ANATOMI DAN FISIOLOGI DOMBA (RUMINANSIA)

OLEH:
NAMA

:M. SUPRIYADI

NIRM

: 07.2.2.14.1844

JURUSAN

: PENYULUHAN PETERNAKAN I B

KEMENTRIAN PERTANIAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN
STPP MALANG
Jl. Dr. Cipto 144 A, Bedali, Lawang Malang 65200
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan
Rahmat dan karunia_Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan ini
dengan tepat waktu.
Laporan

ANATOMI

DAN

FISIOLOGI

TERNAK

DOMBA

(RUMINANSIA) ini disusun berdasarkan hasil praktikum pengamatan yang


dilakukan pada Matakuliah Lingkungan Ternak tahun akademik 2014/2015.
Laporan ini membahas tentang beberapa sistem organ yang terdapat pada
domba yakni perwakilan dari ternak ruminansia kambing, sapi dan kerbau.
Penyusun membahas bagian-bagian dari sistem organ beserta fungsinya serta
penyusun sedikit mencoba mengkaitkan dengan lingkungan dan manajemen
pemeliharaannya.
Ucapan terimakasih kepada Ibu Drh. Isyunani selaku dosen dan Ibu Drh.
Iswati selaku asisten dosen yang telah meberikan penjelasan dan bimbingan pada
saat melakukan praktikum pengamatan anatomi dan fisiologi pada domba
(ruminansia). Tentunya ilmu yang di berikan sangat bermanfaat bagi kami.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu diharapkan kritik dan saran yang konstruktif guna kesempurnaan
pembuatan laporan kedepannya.
Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya
dan bagi para pembaca pada umumnya.

Malang,

Januari 2015

Penyusun,

M. supriyadi
NIRM: 07.2.2.14.1844

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1LATAR BELEKANAG.............................................................................1
1.2TUJUAN...................................................................................................1
1.3MANFAAT................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Ternak...................................................... 3
2.2 Sistem Organ Pada Ternak Ruminansia.......................................... 3
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat .................................................................................10
3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................10
3.3 Prosedur Kerja........................................................................................10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1Hasil Pengamatan ..................................................................................11
4.2 Pembahasan Hasil Pengamatan .............................................................15
4.3 Hubungan Sistem organ, Manajemen Pemeliharaan, dan Lingkungan
Ternak...........................................................................................................31
BAB V PENUTUP
5. 1 KESIMPULAN.....................................................................................33
5.2 SARAN .................................................................................................34
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................35
LAMPIRAN...........................................................................................................36

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sistem organ pencernaan ........................................................................11
Tabel 2. Sistem organ pernapasan ........................................................................11
Tabel 3. Sistem organ reproduksi .........................................................................12
Tabel 4. Sistem organ otot ....................................................................................12
Tabel 5. Sistem organ rangka ...............................................................................13
Tabel 6. Sistem organ syaraf .................................................................................13
Tabel 7. Sistem organ sirkulasi .............................................................................14
Tabel 8. Sistem organ urogenetalia .......................................................................14
Tabel 9. Sistem penginderaan ...............................................................................15
Tabel 10. Bentuk pakan pada proses pencernaan .................................................18

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELEKANAG
Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa/mahasiswi pada matakuliah
Lingkungan Ternak, yaitu bagaimana mengelola lingkungan peternakan yang
dikaitkan dengan anatomi dan fisiologi ternak untuk dapat melakukan
pemeliharaan secara optimal. Maka perlu diadakan suatu kegiatan praktikum
pengamatan tentang anatomi dan fisiolgi ternak.
Pada praktikum pengamatan yang telah dilakukan menggunakan domba
sebagai perwakilan dari ternak ruminansia yaitu kambing, sapi dan kerbau. Hewan
Ruminansia adalah hewan pemakan hijauan atau herbivora yang memiliki
lambung dengan beberapa ruangan. Hewan ruminansia termasuk dalam sub ordo
Ruminansia dan ordonya adalah Artiodaktil atau berkuku belah. Hewan
ruminansia memiliki empat lambung, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum,
Abomasum. Selain itu hewan ruminansia juga memamah makanan yang telah
dicerna atau biasa disebut memamah biak. Contoh hewan ruminansia yaitu sapi,
domba, kambing dan kerbau(Hakim. 2009). Kambing dan domba merupakan jenis
ternak ruminansia kecil sedangkan sapi dan kerbau merupakan ternak ruminansia
besar.
Dengan melakukan kegiatan praktikum pengamatan tersebut di harapkan
mahasiswa dapat memahami berbagai sistem organ yang terdapat pada ternak
ruminansia. Sistem organ tersebut diantaranya sistem pencernaan, sistem
pernapasan, sistem reproduksi, sistem otot, sistem rangka, sistem syaraf, sistem
sirkulasi, sistem urogenetalia, sistem penginderaan, dan sistem endokrin atau
hormonal.
1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum pengamatan sistem anatomi dan
fisiologi ternak rumiansia tersebut adalah:
Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa/mahasiswi pada mata kuliah
Lingkungan Ternak.
1

Mahasiswa/mahasiswi dapat memahami berbagai sistem yang terdapat pada


ternak ruminansia.
Untuk memberikan gamabaran kepada mahasiswa/mahasiswi bagaimana
megelola suatu peternakan dengan memperhatikan sistem anatomi dan
fisiologi pada ternak.

1.3 MANFAAT
Aadapun manfaat yang dapat penyusun peroleh dari kegiatan praktikum
pengamatan anatomi ternak ruminansia tersebut yaitu penyusun dapat melihat
secara nyata bagian dari sistem anatomi dan fisiologi ternak ruminansia serta
dapat memahami bagian dan fungsi-fungsi organ pada ternak ruminansia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Ternak

Anatomi digunakan untuk menunjukan ilmu yang mepelajari bentuk dan


struktur organisme (makhluk hidup). Secara harfiah kat itu berarti memotong dan
memisahkan menjadi bagian bagian dan digunkan oleh ahli ahli Anatomi pada
zaman dahulu untuk membahas dan menguraikan secara lengkap hasil
penbedahan mayat . Berbeda dengan anatomi, yang pada dasarnya mempelajari
struktur, histologi merupakan ilmu yang mempelajari jaringan tubuh pada hewan
secara lengkap dan fungsi semua bagian-bagian tubuh.
Ilmu Anotomi dalam perkembangannya terbagi menjadi beberapa cabang
khusus. (Menurut Dorlanas Medical Diktionary) terdapat 30 cabang Anatomi.
Anatomi komparative mempelajari struktur tubuh, mencakup periode konsepsi.
Cabang Anatomi yang lain,yang mempelajari jaringan dan sel serta bagian bagian
yang hanya dapat dilihat dengan hanya bantuan mikroskop. Bidang ini dikenal
sebagai (Anatomi mikroskopik dan degan mikroskop Elektron).
Semua benda hidup, baik tumbuhan maupun hewan, disusun oleh satuan
terkecil yang disebut sel. Kemudian kumpulan dari sel membentuk suatu jaringan
dan kumpulan jaringan tersebut membentuk suatu sistem organ yang memiliki
fungsi-fungsi tertentu. Sistem organ tersebut antara lain sistem pencernaan, sistem
pernapasan, sistem reproduksi, sistem otot, sistem rangka, sistem syaraf, sistem
sirkulasi, sistem urogenetalia, sistem penginderaan, dan sistem endokrin atau
hormonal.
2.2 Sistem Organ Pada Ternak Ruminansia
2.2.1 Sistem Pencernaan
Sistem

pencernaan

adalah

penghancuran

bahan

makanan

(mekanis/enzimatis, kimia dan mikrobia) dari bentuk komplek (molekul besar)


menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam saluran cerna. Tujuan dari pencernaan

itu sendiri adalah untuk mengubah bahan komplek menjadi sederhana. Dan
kegunaanya adalah unuk mempermudah penyerapan oleh vili usus. (Anonymous,
2008).
Pada hewan bahan makanan yang diubah menjadi energi melalui
pencernaan adalah karbohidrat, lemak, protein. Sedangkan yang langsung diserap
berupa vitamin, mineral, hormon, air. Hewan mempunyai 4 aktivitas makanan,
yaitu : prehensi (mengambil makanan), mastikasi (mengunyah), salivasi
(mensekresikan air ludah), dan deglutisi (menelan). Dalam hal ini deglutisi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : peristaltik (peristaltik esophagus
mendorong bolus ke arah lambung), tekanan buccopharyngeal (mendorong bolus
ke sofagus), dan gravitasi (membantu memudahkan jalannya bolus).(Anonymous,
2008) Pada pencernaan terdapat lambung tunggal untuk hewan carnivora dan
omnivora, lambung komplek untuk hewan herbivora, dan pencernaan pada
unggas.
2.2.2 Sitem Pernapasan (Respirasi)
Respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme
melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua
proses, yaitu respirasi eksternal dan respirasi internal. Terjadinya pergerakan
karbondioksida ke dalam udara alveolar ini disebut respirasi eksternal (luar).
Respirasi internal (dalam) dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah.
Respirasi eksternal tergantung pada pergerakan udara ke dalam paru-paru
(Frandson, 1991).
Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara
darah dan udara dan respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2
dari aliran darah ke sel-sel tubuh.Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan
membuang napas ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan yaitu yang
pertama Respirasi / Pernapasan Dada. Pernapasan ini di lakukan oleh otot antar
tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut,di lakukan Tulang rusuk terangkat
ke atas,kemudian rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara
dalam dada kecil sehingga udara masuk ke dalam badan.Kemudian yang kedua
proses Respirasi / Pernapasan Perut yang dilakukan oleh otot difragma pada perut

mengalami kontraksi,kemudian Diafragma datar,kemudian volume rongga dada


menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara pada dada mengecil sehingga
udara masuk ke paru-paru(schmidt,1997).
2.2.3 Sitem Reproduksi
Sitem reproduksi adalah sistem organ yang berfungsi untuk menghasilkan
keturunan jika terjadi pembuahan yaitu bertemunya sel telur atau ovum dengan
sperma. Organ genitalia ternak jantan terdiri dari testes, scrotum, corda,
spermaticus, kelenjar tambahan (glandula accessoris), penis, preputium dan sistem
saluran reproduksi jantan. Sistem saluran ini terdiri daari vasa efferentia yang
berlokasi dalam testis, epididymis, vas differens dan urethra external yang
bersambung ke penis. Sedangkan Organ reproduksi betina terdiri dari ovarium,
oviduk, uterus, serviks, vagina dan vulva. Hal ini sesuai dengan pendapat Akoso
(2008) yang menyatakan bahwa alat kelamin betina terdiri dari dua buah indung
telur (ovarium), dua buah oviduk (tabung falopian), rahim (uterus), liang
senggama (vagina), dan vulva.
2.2.4 Sitem Otot
Sistem otot adalah suatu jalinan jaringan otot yang kompleks, sangat
khusus dan saling berhubungan dengan yang lainnya. Otot merupakan sebuah
jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya berkontraksi. Kontraksi otot
digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh dan substansi dalam tubuh.
Hampir semua gerakan oleh tubuh makhluk vertebrata hasil dari otot yang
berkontraksi.

Otot

memberi

dukungan

kepada

tubuh

dan

membantu

mempertahankan postur tubuh melawan gaya gravitasi. Bahkan ketika tubuh


memerlukan istirahat serat-serat otot yang berkontraksi untuk mempertahankan
otot (Soeparno, 2009).
Sistem otot adalah sistem organ pada hewan dan manusia yang berfungsi
untuk membuat makhluk hidup dapat bergerak. Unggas dan seperti halnya
mamalia memiliki tiga jenis otot yaitu otot polos, otot jantung, dan otot rangka.
Otot polos adalah otot yang membangun organ yang tidak dapat di kontrol
misalnya saluran pencernaan. Otot polos juga ditemukan di dalam pembuluh

darah usus dan organ lain yang tidak berada di bawah perintah otak. Otot polos
tampak tersusun dalam dua lapisan, lapisan dalam sel otot polosnya tersusun
melingkar dan lapisan sebelah luar sel otot polosnya tersusun memanjang dan
berinti sel. Ciri-ciri otot polos sel-sel berbentuk spidal, inti di tengah, serabutserabut retikuler transversal menghubungkan sel-sel otot berdekatan dan
membentuk suatu kelompok sehingga menjadi unit-unit fungsional.
2.2.5

Sistem Rangka
Sistem rangka adalah suatu sistem organ yang memberikan dukungan fisik

pada makhluk hidup. Sistem rangka umumnya dibagi menjadi tiga tipe: eksternal,
internal, dan basis cairan (rangkahidrostatik), walaupun sistem rangka hidrostatik
dapat pula dikelompokkan secara terpisah dari dua jenis lainnya karena tidak
adanya struktur penunjang (Nanda, 2012).
Tulang merupakan bagian tubuh atau organ dari suatu individu yang mulai
tumbuh dan berkembang sejak masa embrional. Sistem tulang merupakan salah
satu hasil perkembangan dari sel-sel mesoderm pola bangunan tubuh suatu
individu ditentukan oleh kerangka yang disusun dari puluhan atau ratusan tulang.
Tulang-tulang tersebut membentuk suatu susunan atau kelompok yang disebut
dengan kerangka, dalam melaksanakan fungsinya dilengkapi dengan tulang rawan
(cartilago) dan pita pengikat (ligament) (Lesty, 2011).
2.2.6 Sistem Syaraf
Saraf adalah serat-serat yang menghubungkan organ-organ tubuh dengan
sistem saraf pusat (yakni otak dan sumsum tulang belakang) dan antar bagian
sistem saraf dengan lainnya. Saraf membawa impuls dari dan ke otak atau pusat
saraf. Neuron kadang disebut sebagai sel-sel saraf, meski istilah ini sebenarnya
kurang tepat karena banyak sekali neuron yang tidak membentuk saraf.
Saraf adalah bagian dari sistem saraf periferal. Saraf aferen membawa
sinyal sensorik ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa sinyal dari
sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar. Sinyal tersebut seringkali
disebut impuls saraf, atau disebut potensial akson.Sel saraf yang dinamakan pula
sel neron berbeda dengan sel-sel dari jaringan dasar lainnya karena adanya
tonjolan-tonjolan yang panjang dari badan selnya. Semua jaringan mencerminkan

sejarahnya dengan memeperlihatkan berbagai kemampuannya untuk penyesuaian


dri

pada

keadaan

baru

selama

hidup

mereka.

Jaringan

saraf

juga

menspesialisasikan diri dalam kemampuan sepeti ini, menuju kea rah fungsi
belajar dan ingat yang tidak begitu banyak dipahami. Meskipun banyak sifat khas
organissi pesarafan itu telah terprogram secara genetik, namun detail detail dari
kontakkontak seluler dan pembentukan sirkuit fungsional untuk popolasisel
tampaknya terpengaruh oleh keadaan yang biasanya terdapat apabila sel-selnya
memperoleh kontak mereka yang pertama.
Sistem

saraf

itu

dapat

dibagi

dalam

suatu

system

saraf

peripheral (peripheral nervous sistem) dan suatu system saraf sentral (central
vernous sistemCNS). Sistem saraf peripheral mengumpulkan informasi dari
permukaan tubuh, dari organorgan khusus, dan dari isi perut, dan menghantarkan
sinyalsinyal ke sistem saraf sentral, ia juga mengandung saluran keluar yang
membawa suatu arus sinyal ke organorgan efektor (pelaksana) dalam tubuh (otot
dan kelenjar, system penggerak), yang bereaksi terhadap perubahanperubahan
dalam lingkungan dalam dan luar.
Jaringan saraf merasakan adanya stimulus atau rangsangan dan
menghantarkan sinyal dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya. Unit
fungsional jaringan saraf adalah neuron, atau sel saraf, yang secara unik
dikhususkan untuk menghantarkan sinyal yang disebut impuls saraf. Neuron
terdiri atas sebuah badan sel dan dua atau lebih penjuluran, atau proses yang
disebut dendrite dan akson, yang panjangnya bias mencapaisatu meter pada
manusia. Dendrit menghantarkan impuls dari ujungnya menuju bagian neuron
yang lainnya. Akson menghantarkan impuls menuju neuron lainnya atau menuju
efektor.
2.2.7 Sistem Sirkulasi
Sistem peredaran darah adalah sistem yang memiliki hubungan dengan
pergerakan darah di dalam pembuluh darah dan juga perpindahan dara dari suatu
tempat ke tempat lain. Fungsi peredaran darah adalah mengangkut zat-zat
makanan dari saluran pencernaan ke seluruh jaringan tubuh, mengangkut oksigen
dan karbondioksida dari seluruh jaringan ke alat respirasi, mengngkut hormon
dari kelenjar endokrin ke target organ dan mendistribusikan panas dari sumbernya

ke seluruh bagian tubuh. Denngan adanya peredaran darah maka akan tercipta
lingkungan yang sesuai dengan jaringan tubuh. Kondisi yang tetap dapat tercapai
bila ada pemindahan zat melintasi dinding pembuluh kapiler yang arahnya baik
dari darah menuju cairan jaringan atau dari cairan jaringan menuju darah.
Fenomena ini dikenal sebagai konsep Homeostasi.
2.2.8 Sistem Urogenetalia
Systema urinaria meliputi : Ginjal, Vesicula urinaria dan saluransalurannya.
Terdapat dua buah ren terletak di daerah lumbalis. Cairan urin akan keluar
darimasing-masing ren ke bawah melalui ureter ditampung sementara
dalam vesica urinaria yang terletak di media ventralis dari rectum. Secara
periodic musculus dindingvesica urinaria berkotraksi sehingga urin akan keluar
melalui uretra. Pada hewan betina berakhir pada aperture urogenitalis, tapi pada
hewan jantan uretra berada pada penis merupakan jalan umum untuk urin dan
cairan sperma. Proses pembersihan darah dalam ren adalah proses filtrasi dan
reabsorbsi selektif.
2.2.9 Sistem Endokrin/Hormonal
Kelenjar merupakan suatu sel-sel tubuh yang menghasilkan substansi
khusus untuk bagian tubuh yang lain. Kelenjar diklasifikasikan menjadi kelenjar
endokrin dan kelenjar eksokrin. Kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya ke
dalam duktus pada permukaan tubuh, seperti kulit, atau organ internal. Kelenjar
endokrin adalah kelenjar yang tidak memiliki saluran keluar atau disebut juga
dengan kelenjar buntu.Kelenjar endokrin mensekresikan hormon dan merupakan
sekelompok susunan selyang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana.
Kelompok ini terdiri dari deretan sel-sel, lempengan atau gumpalan sel disokong
oleh jaringan ikat halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler. Kelenjar
endokrin mensekresi substansi kimia yang langsung dikeluarkan ke dalam
pembuluh darah. Kelenjar-kelenjar endokrin yang penting antara lain, yaitu
kelenjar hipofisa, kelenjar kelamin, kelenjaranak ginjal, kelenjar pankreas,
kelenjar tiroid, dan kelenjar paratiroid (Campbell etal., 2004).

Hormon adalah substansi kimia yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar


endokrin dan masuk ke dalam peredaran darah lalu menimbulkan efek pada suatu organ
di bagian tubuh lain yang membutuhkan untuk dapat berfungsi normal. Hormon dapat
mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis-jenis sel tertentu saja, yaitu sel-sel target yang
memiliki kemampuan untuk memberikan respons terhadap sinyal tersebut. Hormon
berfungsi dalam mengatur atau mempengaruhi organ-organ supaya bekerja. Misalnya
dalam hal

pematangan

sel-sel

kelamin,

metabolisme,

tingkah laku

reproduksi,

petumbuhan dan lain-lain (Brotowijoyo, 1994).

BAB III METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum pengamatan
Anatomi dan Fisiologi ternak yaitu:
Hari/ Tanggal : Jumat,16 Januari 2015
Pukul

: 13.00 sampai selesai

Tempat

: Laboratorium Reproduksi dan Kesehatan Ternak Sekolah


Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang.

3.2 Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah glope
(sarung tangan plastik, alat bedah, kertas koran, dan karung
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah satu
ekor domba betina.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan seekor kambing yang telah disembeli terlebih dahulu yang
sudah dikuliti dan karkas dengan jeroannya sudah di pisah.
2. Sebelum melakukan pengamatan, kami diberikan pengenalan terlebih
dahulu oleh dosen Ibu Drh. Isyunani mengenai beberapa sistem yang
terdapat pada ternak ruminansia.
3. Melakukan pengamtan sambil memperhatikan dan mendengarkan
penjelasan bagian-bagian sitem organ beserta fungsinya pada domba
(ruminansia) oleh asisten dosen Ibu Drh. Iswati .
4. Pengamatan dilakukan dengan melakukan pengamatan pada sistem organ
dalam terlebih dahulu kemudian bagian luar yakni otot dan rangka.

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Tabel 1. Sistem Pencernaan
No Nama Organ
1
Mulut

Fungsi
untuk minum dan memasukan makanan,
menghasilkan air liur (enzim pengurai
makanan), dan mempermudah makanan

2
3

Kerongkongan
Faring

masuk ke kerongkongan
Sebagai saluran
untuk rongga dibelakang mulut yang
merupakan persimpangan jalan makanan

4
5

Esofagus

dari jalan respirasi


Berfungsi sebagai jalan makanan menuju

Hati

perut besar atau lambung


Pusat metabolisme yang dapat
mengeluarkan getah empedu.

Lambung
Rumen

Sebagai tempat utama proses pencernaan


yang berlangsung secara fermentatif.

Reticulum

Tempat fermentasi oleh mikroba rumen,


Membantu proses ruminasi bolus, sebagai
penahan partikel pakan pada regurgitasi

Omasum

rumen
Membantu proses menggiling partikel
makanan, menyerap air bersama-sama

Abomasum

natrium
Untuk mencegah digesta yang ada di
abomasum kembali ke omasum, tempat
permulaan pencernaan enzimatis dan
pencernaan protein, mengatur arus digesta
dari abomasum ke duodenum

11

Usus halus
Duodenum
Ileum
Jejenum
Usus kasar
Kaekum
Rektum
Anus

Sebagai pencernaan enzimatis dan absorpsi,


terjadi proses penyerapan sari-sari makanan
Sebagai fermentasi oleh mikroba.
Pencernaan selulosa
Sebagai tempat bermuaranya feses
Sebagai tempat pembuangan akhir feses

4.1.2 Tabel 2. Sistem Pernapasan


No
1
2
3
4
5
6
7

Nama Organ
Hidung
Faring
Laring
Trakea

Fungsi
Tempat masuknya udara.
Penghubung hidung dan trakea
Saluran udara yang menuju bronkus
menyalurkan udara kedalam paru-paru

bronchi
Bronchioli
Alveolus

melalui anak cabangnya


cabang dari trachea
cabang dari brochus
dapat dibesarkan atau disempitkan, sehingga

(Paru-paru)

udara dapat keluar masuk.

4.1.3 Tabel 3. Sistem Reproduksi Betina


No Nama Organ
1
Ovarium

Fungsi
Berfungsi untuk memproduksi sel telur atau

Oviduk

ovum dan penghasil hormon estrogen.


Berfungsi sebagai tempat fertilisasi atau

Uterus

bertemunya sel sperma dan sel telur.


Berfungsi sebagai tempat perkembangan

Servix

fetus menjadi embrio.


Berfungsi untuk menutup uterus dari

masuknya benda- benda asing dan menutup


5

Vagina

saat terjadi kebuntingan.


Berfungsi sebagai alat kopulasi pada organ
reproduksi betina dan tempet keluarnya
fetus pada saat partus atau saat terjadinya

Vulva

kelahiran.
Sebagai pelindung, tempat keluarnya lendir
dan hormon pheromon untuk menarik

12

pejantan.
4.1.4 Tabel 4. Sistem Otot
No Nama organ
1. Otot lurik

Fungsi
Berkontraksi cepat tetapi tidak mampu
bekerja dalam waktu yang lama. Otot lurik
bekerja di bawah pengaruh otak dan
melekat pada rangka tubuh sehingga sering

2.

Otot polos

disebut sebagai otot rangka.


Bekerja lamban tidak di bawah pengaruh
otak.

3.

Otot jantung

Merupkan otot khusus penyusun organ


jantung. Keistimewaanya adalah bekerja
tidak di bawah pengaruh otak namun dapat
berkontraksi

secara

ritmis

dan

terus

menerus.

4.1.5 Tabel 5. Sistem Rangka


No Nama Organ
1. Tulang

Fungsi
Untuk melindungi bagian dalam kepala

2.

tengkorak
Tulang rusuk

yaitu otak.
Untuk melindungi organ bagian dalam dada,

Sum-sum

seperti jantung dan paru-paru.


Menghasilkan sel darah merah

tulang

menyimpan bahan mineral kalsium dan

Tulang lainnya

fosforus.
Tempat melekatnya daging dan memberikan

3.

dan

bentuk tubuh.
4.1.6 Tabel 6. Sistem Syaraf
No Nama Organ
1. Syaraf pusat
- Otak depan

Fungsi
a) Untuk mengolah informasi yang masuk
- untuk membau
- untuk melihat

13

- Otak tengah
- Otak belakang
2. Syaraf tepi
(perifer)

untuk mendengar

b) Untuk mengumpulkan informasi yang


berbentuk rangsangan listrik (impuls)
dari berbagai organ dalam dan luar untuk
disampaikan pada syaraf pusat, juga
membawa impuls dari syaraf menuju
pusat motorik tubuh

4.1.7 Tabel 7. Sistem Sirkulasi


No Nama Organ
1
Jantung
2
Pembuluh
darah
a) Aorta

Fungsi
Untuk memompa darah
sistem sirkulasi sistemik dan sistem sirkulasi
paru-paru
berfungsi untuk membawa darah jantung

b) Arteriol

yang penuh berisi oksigen ke pembuluh ateri


bekerja sebagai katup pengatur di mana

c) Kapiler

darah dilepaskan ke dalam kapiler


untuk menukar cairan dan bahan gizi di

d) Vena

antara darah dan ruang interstisial.


Vena adalah pembuluh darah yang berfungsi
sebagai penyalur yang membawa darah dari
jaringan kembali ke jantung.

4.1.8 Tabel 8. Sistem Urogenetalia


No Nama Organ
1
Ginjal
2
Ureter

Fungsi
Sebagai penyaring sebelum menjadi urine
Saluran yang menghubungkan ginjal dengan

Kandung

kandung kemih
Tempat penampungan urine sebelum di

kemih
Uretra

keluarkan.
Sebagai saluran untuk mengeluarkan urine
dari tubuh.

4.1.9 Tabel 9. Sistem Penginderaan


No Nama Organ
1. Mata

Fungsi
Untuk melihat
14

2.
3.
4.
5.

Hidung
Telinga
Lidah
Kulit

Untuk mencium bau


Untuk mendengar
Untuk mengecap makanannya
Sebagai indera peraba.

4.2 Pembahasan Hasil Pengamatan


4.2.1 Sistem Pencernaan

Dari hasil pengamatan yang di lakukan bahwa sistem pencernaan domba


(ruminansia) dimulai dari mulut, kerongkongan, faring, lambung (rumen,
reticulum, omasum, abomasum), usus halus, usus besar, dan terakhir anus.
Dari pengamatan yang telah di lakukan bahwa domba (ruminansia) tidak
mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham. Hal
ini sesuai dengan pendapat Anonim (2000) baahwa heawan memamah biak tidak
mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham
lebih banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk
mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri
atas 50% selulosa (Anonim, 2000).
Faring pada domba atau kambinglebih panjang dibandingkan dengan sapi
sangat pendek. Esofagus (kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta
lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya
bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm (Anonim, 2000).
Dari pengamatan tersebut lambung domba(ruminansia) sangat besar,
diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan
penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali
(kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan
peragian. Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum,
omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan
makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan
abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot
sfinkter berkontraksi (Anonim, 2000).
Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai
gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan
protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan

15

oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke
retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan
yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut
untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk
diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim
yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke
abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses
pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim (Anonim, 2000).
Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan
merombak selulosa menjadi asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di
abomasum karena pH yang sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun
dapat dicernakan untuk menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak.
Dengan demikian, hewan ini tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada
manusia (Anonim, 2000).
Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan
sekum karnivora. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar
dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil
dan pencernaan berlangsung dengan cepat. Usus pada sapi sangat panjang, usus
halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang
sebagian besar terdiri dari serat (selulosa). Enzim selulase yang dihasilkan oleh
bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak,
tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH 4 yang dapat digunakan
sebagai sumber energi alternatif (Anonim, 2000).
Menurut Ardianto (2012), secara garis besar pencernaan dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
1. Pencernaan Mekanik
Pencernaan mekanik merupakan pencernaan mengubah pakan menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil atau sederhana. Pencernaan mekanik
dilakukan dimulut dengan bantuan gigi. Tahap-tahap tersebut adalah: (1)
Prehension

yaitu

proses pengambilan

pakan,

misalnya

ternak

sapi

menggunakan bantuan lidah; (2) Mastikasi yaitu proses pengunyahan pakan,


dengan tujuan untuk memperkecil volume pakan; (3) Salivasi yaitu proses

16

membasahi pakan dengan saliva; dan (4) Deglutisi yaitu proses penelanan
pakan. Ternak sapi merupakan ternak memamah biak, pakan yang telah
dimakan akibat dari gerakan bolus pakan maka pakan dimuntahkan kembali
kemulut untuk dilakukan remastikasi, reensalivasi dan redeglutisi.
2. Pencernaan Fermentatif
Pencernaan fermentatif merupakan pencernaan yang menghasilkan
produk yang jauh berbeda dengan senyawa asal. Pencernaan ini
membutuhkan bantuan atau peran dari mikroba. Contohnya adalah protein
setelah mengalami fermentasi berubah menjadi ammonia.
3. Pencernaan Hidrolitik
Pencernaan hidrolitik merupakan pencernaan untuk menguraikan
senyawa yang lebih kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana.
Pencernaan

ini

umumnya

dibantu oleh

peran

enzim.

Contohnya

adalah protein dirubah menjadi asam amino dan lemak dirubah menjadi
gliserol dan asam lemak. Pakan ternak ruminansia khususnya hijauan
mengandung serat kasar yang tinggi. Contohnya pada rumput gajah,
kandungan ligninnya tinggi, akan tetapi mempunyai kandungan selulosa dan
hemiselulosa yang dapat dicerna oleh ternak sapi menjadi energi. Hasil
proses fermentasi selulosa (C2), Propionat (C3), Butirat (C4H2), CO2 dan
Methan (CH4).
Walaupun memiliki caecum yang besar, kambing ternyata tidak mampu
mencerna bahan-bahan organik dan serat kasar dari hijauan sebanyak yang dapat
dicerna oleh ternak ruminansia murni. Daya cerna kambing dalam mengonsumsi
hijauan daun mungkin hanya 10% (Etawafarm, 2011).
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, bentuk pakan mulai dari oesofagus
sampai anus dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Bentuk pakan pada proses pencernaan
No
1
2
3
4
5

Nama organ
Oesophagus
Rumen
Reticulum
Omasum
Abomasum

Bentuk pakan
Berbentuk pecahan pecahan kecil
Berbentuk serat-serat kasar,
Bentuk pakan sudah mulai lembek,
Pakan sudah lembut seperti bubur
Berbentuk bubur karena disini dicerna secara kimiawi

17

6
7
8
9
10

Usus halus
Cecum
Usus besar

Bentuk pakan sudah lembut


Bentuk pakan agak padat
Bentuk pakan agak padat karena disini mengalami absorpsi

Rectum
Anus

air
Bentuk pakan padat
Bentuk pakan padat

4.2.2 Sistem Pernapasan

Dari

hasil

praktikum

di

jelaskan

bahwa

udara

masuk

ke

hidung (nares) terus melalui mulut, selanjutnya melalui faring dan laring,
kemudian masuk ke trakea terus bercabang menjadi bronchi yang berada
dalam cavum throracalis. Tiap bronchi bercabang lagi dalam pulmo menjadi
bronchioli dan berakhir dengan alveolus. Gelembung alveolus ini diliputi oleh
pembuluh kapiler dan padanya terjadi pertukaran zat O2 CO2 sebagai respirasi
luar.
Normalnya kambing (ruminansia) butuh kurang lebih 300 liter oksigen
perhari. Dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang
diperlukan pun menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kalilipat.
Ketika oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang
banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara(Swenson,1997).
Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg
dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya
40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam
tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan
4,3 cc karbondioksida / CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar dari jaringan
menuju paruparu dengan bantuan darah(john kimbal,2000)

4.2.3 Sistem Reproduksi

Pada saat praktikum yang di gunakan adalah domba betina, akan tetapi
disini penyusun sedikit membahas tentang organ reproduksi jantan dan betina
pada ruminansia.
A. Organ reproduksi pada ruminansia jantan
1) Testis

18

Testis adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, sebagaimana


halnya ovarium pada ternak betina. Testis dikatakan sebagai organ primer
karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa) dan hormon
kelamin jantan (androgens).
Testis pada sapi mempunyai panjang berkisar dari 10-13 cm, lebar berkisar
6-6,5 cm dan beratnya 300-400 gr. Babi mempunyai ukuran testis serupa
pada sapi, tetapi domba dan kuda ukuran testisnya lebih kecil. Pada semua
jenis ternak, testisnya ditutupi oleh tunica vaginalis, sebuah jaringan serous
yang merupakan perluasan dari peritoneum.
2) Epididymis
Epididynis merupakan saluran eksternal pertama yang keluar dari testis
dibagian apeks testis menurun longitudinal pada permukaan testis, dikurung
oleh tunica vaginalis dan testis. Epididymis ini dapat dibagi menjadi tiga
bagian yaitu, caput (kepala), corpus (badan), dan cauda (ekor) epididymis.
Caput epididymis nampak pipih dibagian apiks testis, terdapat 12-15 buah
saluran kecil, vasa efferentia yang menyatu menjadi satu saluran.
Corpus epididymis memanjang dari apeks menurun sepanjang sumbu
memanjang testis, merupakan saluran tunggal yang bersambungan dengan
cauda epididymis. Panjang total dari epididymis diperkirakan mencapai 34
meter pada babi dan kuda. Lumen cauda epididymis dan saluran eksternal
lainnya, vas deferens dan urethtra adalah serupa pada saluran tubuler dari
saluran reproduksi betina. Tunica serosa dibagian luar, diikuti dengan otot
daging licin pada bagian tengah dan lapisan paling dalam adalah epithelial.
(Nuryadi, 2000).
Fungsi dari epididymis
a) Transportasi, Epididymis sebagai sebuah saluran yang meninggalkan
testis mempunyai fungsi pertama sebagai sarana transportasi bagi
spermatozoa. Beberapa faktor yang menunjang perjalanan spermatozoa
dalam epididymis, di antaranya adalah faktor tekanan yang diakibatkan
oleh produksi spermatozoa baru dari dalam tubuli seminiferi. Hal ini
menyebabkan tekanan pada rete testis, vasa efferentia dan sampai pada
epididymis.
b) Konsentrasi, Fungsi kedua dari epididymis adalah konsentrasi
spermatozoa, di mana sewaktu spermatozoa memasuki epididymis
bersama cairan asal testis dalam keadaan relatif encer. Diperkirakan
19

sejumlah 100 juta per mililiter pada sapi, domba dan babi. Dalam
spermatozoa dikonsentrasikan menjadi kira-kira 4 milyar spermatozoa
permilimeter. Mekanisme terjadinya konsentrasi ini, karena sel-sel
epithel yang ada pada dinding epididymis mengabsorbsi cairan asal
testis. Absorbsi cairan ini sebagian besar terjadi pada caput dan ujung
proximal dari corpus epididymis.
c) Deposisi, Fungsi ketiga dari epididymis adalah sebagai tempat deposisi
(penyimpanan) spermatozoa. Sebagian besar spermatozoa disimpan di
bagian cauda, dimana spermatozoa terkonsentrasi di bagian yang
mempunyai lumen besar.
B. Organ Reproduksi Betina
1) Ovarium
Ovarium merupakan alat reproduksi betina yang berfungsi untuk
memproduksi sel telur atau ovum dan penghasil hormon estrogen. Sel telur
dihasilkan dari folikel. Ovarium berbentuk menyerupai biji almond,
ovarium terletak di dekat ginjal dan tidak mengalami pergeseran. Hal ini
sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa
ovari yaitu merupakan organ betina yang homolog dengan testes pada
hewan jantan, berada di dalam rongga tubuh, di dekat ginjal dan tidak
mengalami pergeseran atau perubahan tempat seperti pada testes. Ovari
seekor sapi betina bentuknya menyerupai biji almond dengan berat rata- rata
10 20 gram. Akoso (2008) menambahkan bahwa ovarium berjumlah 2
buah dan berfungsi sebagai penghasil produksi sel telur.
2) Oviduk
Oviduk terletak setelah ovarium dan berfungsi sebagai tempat
fertilisasi atau bertemunya sel sperma dan sel telur. Oviduk berbentuk
menjadi dua saluran yang panjang dan menghubungkan ovarium dan uterus.
Hal ini sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan
bahwa

ovari

dirangsang

untuk

melepaskan

ovum

ke

dalaminfundibulum dari oviduk. Peristiwa ini sebenarnya tertunda sampai


12 jam setelah akhir birahi. Pembuahan, yaitu persatuan antara sel telur dan
sperma, terjadi di sepertiga bagian atas dari oviduk. Akoso (2008)

20

menambahkan bahwa oviduk bertbentuk dua saluran dengan panjang yang


bervariasi dan berdiameter 3mm yang menghubungkan ovarium dan uterus.
Fungsi oviduk adalah menyalurkan telur dari indung telur ke rahim.

3) Uterus
Uterus merupakan tabung di rongga perut yang terdiri dari dua buah
tanduk, sebuah batang dan sebuah leher. Uterus berfungsi sebagai tempat
perkembangan fetus menjadi embrio. Uterus terdiri dari tanduk uterus
(cornua uteri), dan badan uterus (corpus uteri). Proporsi relatif masingmasing uterus, bentuk dan tanduk uterus bervariasi tergantung spesies. Hal
ini sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan
bahwa fungsi uterus itu banyak. Sebagai contoh, sebagai jalannya sperma
pada saat kopulasi dan motilitas (pergerakan sperma) ke tuba falopii dibantu
dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Uterus juga berperan besar dalam
mendorong fetus serta membrannya pada saat kelahiran. Akoso (2008)
menambahkan bahwa uterus adalah tabung berotot tebal terletak di rongga
perut terdiri atas dua buah tanduk, sebuah batang dan sebuah leher (serviks).
4) Serviks
Serviks merupakan suatu struktur yang memisahkan rongga uterus
dengan rongga vagina. Serviks berfungsi untuk menutup uterus dari
masuknya benda- benda asing dan menutup saat terjadi kebuntingan. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Toelihere (1983) yang mengatakan fungsi
cervix adalah mencegah benda-benda asing atau mikroorganisme masuk ke
lumen uterus. Serviks menutup pada saat ternak mengalami kebuntingan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan
bahwa

suatu

struktur

yang

menyerupai sfingter (sphincter)

yang

memisahkan rongga uterin dengan rongga vagina disebut serviks. Fungsi


pokok serviks adalah untuk menutup uterus guna melindungi masuknya
bakteri maupun masuknya bahan- bahan asing. Selama birahi dan kopulasi
serviks berperan sebagai jalan masuknya sperma. Jika kemudian terjadi

21

kebuntingan, saluran uterin itu tertutup dengan sempurna guna melindungi


fetus.
5) Vagina
Vagina alat reproduksi paling luar yang berfungsi sebagai alat
kopulasi pada organ reproduksi betina dan tempet keluarnya fetus pada saat
partus atau saat terjadinya kelahiran. Menurut pendapat Blakley dan Bade
(1994) yang menyatakan bahwa struktur reproduksi internal yang paling
bawah (paling luar) adalah vagina yang berperan sebagai organ kopulasi
pada betina. Disinilah semen ditumpahkan oleh penis pejantan. Seperti
halnya serviks, vagina juga mengembang agar fetus dan membran dapat
lewat pada waktunya. Toelihere (1983) yang mengatakan bahwa vagina
berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi foetus
sewaktu partus.
6) Vulva
Vulva adalah lubang terluar dari alat reproduksi. Fungsi vulva adalah
sebagai pelindung, tempat keluarnya lendir dan hormon pheromon untuk
menarik pejantan. Vulva berasal dari intoderm sinus urogenitalis dan
ektoderm embrional. Vulva terdiri atas labia mayora (luar) dan labia minora
(dalam). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Toelihere (1983) yang
menyatakan, bahwa vulva terdiri dari labia majora, labia minora, commisura
dorsalis, dan ventralis dan clitoris. Vulva dan vestibulum tidak timbul dari
saluran paramesonephrik primitif tetapi berasal dari intoderm sinus
urogenitalis dan ektoderm embrional. Menurut Wodzicka et al (1991) labia
vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran
reproduksi.
4.2.4 Sistem Otot

Pada saat praktikum pengamatan anatom dan fisiologi

ternak domba

(ruminansia) di jelaskan bahwa sistem otot di bagi menjadi 3 yaitu otot polos ,
otot jantung, dan otot lurik(otot rangka). Fungsi otot polos yaitu mengontrol

22

segala aktivitas motor (gerak) alat dalam (visceral) dan mengelola tekan darah di
seluruh tubuh (Lesty, 2011).
Otot jantung merupakan otot yang membangun jantung. Otot jantung juga
merupakan otot yang tidak dapat diperintah, kontraksinya tidak tergantung pada
faktor luar (ekstrinsik). Otot jantung terdiri dari tiga bentuk otot, yaitu otot atrial,
otot ventricular, dan serabut otot purkinje. Bentuk otot atrial dan otot vetrikular
kontraksinya sama seperti otot skelet karena mengandung syncytium. Sedangkan
serabut otot purkinje kontraksinya sangat lemah karena hanya mengandung sedikit
elemen kontraktil. Kontraksi otot jantung adalah ritmik dan terus menerus, karena
jantung mempunyai centrum otomasi. Ciri-ciri otot jantung adalah adanya cakram
intercalated (intercalated disk) yang berfungsinya sebagai penyusun organ
jantung (Edipermadi, 2012).
Otot rangka merupakan otot yang membangun sebagian besar tubuh.
Serabut otot pada penampang memanjangnya tampak sebagai pita-pita panjang
yang tersusun sejajar satu sama lainnya. Intinya berbentuk lonjong, jumlahnya
banyak dan terdapat di tepi serabut tepat di bawah sarkolema. Miofibri serabut
otot rangka mengandung keping-keping gelap dan terang secara berurutan dan
pada tiap myofibril letaknya pada ketinggian yang sama. Diantara serabut-serabut
otot terdapat jaringan ikat kendur yang disebut endomisium. Ciri-ciri dari otot
rangka yaitu selnya berbentuk serabut, inti terletak di bawah permukaan sel
dengan arah aksis panjang serabut-serabut otot, membran sel otot disebut
sarkolema, lapisan permukaannya menyatu membentuk tendon dan dipersarafi
oleh satu ujung syaraf terletak pada bagian tengah serat (Anonim, 2012).
Menurut (Fradson, 1993) sejumlah besar otot dengan ukuran, bentuk dan
struktur internal yang berbeda, merupakan penyusun rangka tubuh makhluk
hidup. Struktur dari otot-otot strip mengikuti skema organisasi secara umum:
a) Kumpulan dari serat-serat otot yang bergabung satu sama lainnya dan
ditopang oleh jaringan ikat yang banyak.
b) Organisasi dari jaringan ikat ini memungkinkan untuk membedakan
kelompok serat-serat muskuler menjadi kelompok pertama, kelompok
kedua, kelompok ketiga dan kadang sampai kelompok empat.
c) Pada otot besar, kelompok tingkat superior akan mengelompokkan
kelompok dengan tingkat yang lebih rendah (inferior).

23

Umumnya diketahui bahwa sifat-sifat reologik daging sangat tergantung


pada kedua komponen tersebut yaitu serat muskuler dan jaringan ikat. Kontraksi
pada otot melibatkan sel syaraf (syaraf motorik/afferent) sebagai rangkaian yang
akan mengirimkan pesan dari afektor atau rangsangan terjadi dalam bentuk aksi
potensial ke syaraf pusat dan kembali melalui syaraf efferent ke pusat reaksi
(kontraksi/efektor). Aksi potensial yang sampai pada ujung axon sel syaraf
menyebabkan terlepasnya NAC (Neurotransmiter Asetil Cholin). Neurotranmiter
ini akan menempel pada reseptor pada membran sel otot dan kanal Na+ dan
K+ terbuka, sehingga ion natrium masuk, terjadi depolarisasi dimana proses
terjadinya aksi potensial dimulai (Soeparno, 2009).
Sel otot dapat berkontraksi karena mengandung protein kontraktif yang
disebut miofibril. Miofibril terbuat dari protein kontraktil aktin dan miosin.
Serabut otot tersusun menjadi berkas paralel yang kemudian membentuk otot
(Fradson, 1993).
4.2.5 Sistem Rangka

Dari kegiatan praktikum pengamatan di jelaskan bahwa skeleton (rangka)


sebagian besar terdiri atas tulang keras dan tulang rawan pada permukaan
sambungan sambungan dan pada bagian tertentu. Di samping tulang rawan
terdapat tulang membran. Tulang tempurung kepala keras dan merupakan suatu
kotak. Pada permukaan sebelah posterior terdapat lubang foramen yang dilalui
oleh medulla spinalis yang berhubungan dengan ota. Columna vertebralis
tersusun sedemikian rupa sehingga lentur, sebagai pendukung tubuh dan
pelindung medulla spinalis (nerve cord).
Skeleton termasuk tulang, rawan, gigi dan sendi. Rangka struktur yang
keras biasanya terdiri dari tulang dan rawan. Struktur ini menyokong dan
melindungi tisu-tisu yang lembut. Tulang dibentuk terutamanya melalui
intramembranous ossification yang mana tulang leper terbentuk atau melalui
endochondra formationseperti pembentukan tulang panjang. Tulang terdiri dari
pada sel-sel dalam matriks interselular dipanggil osteoid. Tulang terdiri daripada
1/3 bahan organik dan 2/3 bahan tak organik (Soeparno, 2009).
Skeleton sebagian besar terdiri atas tulang keras dan tulang rawan pada
permukaan sambungan-sambungan dan pada bagian tertentu. Disamping tulang

24

rawan terdapat tulang membran dan kadang-kadang terdapat tendon yang berisi
sel-sel tulang yang terkena sebagai assmoidus. Sebagai contoh yang terkenal
adalah patelia (tulang tempurung lutut) dan kemin (tulang mata kaki). Tulang
tempurung kepala cukup keras dan merupakan suatu kotak yang tersusun atas
bagian tulang yang bersenyawa pada bagian sutura. Bagian fasial terdapat nostril
di sebelah dorsal dan sepasang orbita, sebagai tempat biji mata dan di sebelah
ventral terdapat plat dengan tepi tulang rahang atas yang mengandung gigi. Di
sebelah luar orbita terdapat archus zygomaticus (Frandson, 1993).
Menurut (Hunter, 1995) tulang rangka mempunyai fungsi yaitu sebagai
berikut:
a) Menyokong badan (membenarkan pergerakan normal hanya pada
kawasan tertentu saja).
b) Melindungi struktur-struktur

dalaman

badan,

contohnya

otak

dilindungi oleh tengkorak, jantung dan paru-paru dilindungi oleh


tulang rusuk.
c) Menghasilkan sel darah merah dalam sum-sum tulang dan menyimpan
bahan mineral kalsium dan fosforus.
d) Bertindak sebagai organ hemopoietik.
Sistem skeleton dibagi menjadi 3 yaitu skeleton aksial adalah skeleton
yang terletak dibagian median badan. Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari
tengkorak (skull), tulang rusuk (rib), tulang vertebra dan tulang sternum. Tulangtulang skeleton ini tidak berpasangan kecuali tulang rusuk (tulang-tulang
tengkorak ada yang berpasangan dan ada yang tidak). Skeleton apendikular adalah
skeleton yang bersambung dengan skeleton aksial (melalui dua struktur tulang
bahu dan tulang pelvik). Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari tulang-tulang kaki
(apendej). Skeleton splanknik yang terdiri dari tulang yang terbina dari tisu visera
atau organ lembut, contohnya os penis anjing, os cordis lembu (tulang dalam
jantung) dan gelang skelera dalam mata burung (Anonim, 2012).
Columna vertebralis merupakan bagian dari skeleton axial yang
melindungi corda spinalis. Pada kebanyakan cordata, tersusun oleh struktur
skeletal bersegmen yaitu vertebrae dan merupakan kesatuan antara spinalis dan
columna. Perluasan dasar tulang-tulang tengkorak ke arah posterior sampai ke

25

arah ekor. Columna vertebralis mempunyai (memberikan bentuk) yang keras atau
kaku pada tubuh, selanjutnya sebagai tempat pelekatan secara langsung maupun
tidak langsung pada otot (Edipermadi, 2012).
Sternum (apparatus sternal) berbentuk seperti pisau belati. Terdiri dari tiga
bagian, yaitu hulu (manubrum), badan (sternum) dan taju pedang (prosessus
xiphoid). Manubrium bersambungan dengan klavikula dan tulang rusuk pertama.
Bagian badan merupakan tempat melekatnya 9 tulang rusuk berikutnya (Ernawati,
2011).
Dari hasil pengamatan yaitu kami menghitung jumlah tulang rusuk sejati
(costae verae) ada 7 pasang dan melekat langsung pada tulang dada, tulang rusuk
palsu (costae spurea) ada 5 pasang, yaitu 3 pasang tulang rusuk yang melekat
pada tulang rusuk diatasnya dan 2 pasang rusuk melayang (costae fluctantes).
4.2.6 Sistem Syaraf

Dari kegiatan praktikum pengamatan di jelaskan bahwa Saraf adalah seratserat yang menghubungkan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat (yakni
otak dan sumsum tulang belakang) dan antar bagian sistem saraf dengan lainnya.
Saraf membawa impuls dari dan ke otak atau pusat saraf. Neuron kadang disebut
sebagai sel-sel saraf, meski istilah ini sebenarnya kurang tepat karena banyak
sekali neuron yang tidak membentuk saraf.
Unit fungsional system saraf pada domba dan ternak ruminansia lainnya
adalah neuron. Sel yang sangat terspesialisasi itu, yang mengandung berbagai
organel khas yang ditemukan pada kebanyakan sel eukariotik, sangat teradaptasi
bagi komunikasi berkat penjuluranpenjulurannya yang laksana kabel. Dendrit
adalah penjuluranpenjuluran, seringkali bercabangcabang seperti pohon, yang
mengangkut impuls menuju badan sel pusat. Badan sel adalah daerah yang lebih
tebal di neuron dan mengandung nucleus serta sebagian besar sitoplasma. Akson
adalah penjuluran, umumnya sangat panjang, yang mengangkut impuls menjauhi
badan sel.
Sistem saraf dibangun oleh komponen komponensel saraf atau neuron,
sel-sel glia (sel Schwann, oligodendrosit, migroglia, ependim, astrosit, dan sel-sel
satelit) dan jaringan ikat sejati.

26

4.2.7 Sistem Sirkulasi

Dari kegiatan praktikum pengamatan di jelaskan sistem sirkulasi, yaitu


terdiri atas jantung terbungkus oleh kantung pericardium yang terdiri atas dua
lembaranyakni lamina

penistalis sebelah

luar

dan lamina

viceralis yang

menempel pada dinding jantung sendiri. Di antara kedua lembar terbentuk cavum
pericardi. Jantung terbagi atas empat ruang yakni atrium snistrum dan dextrum,
ventriculum dextrum dan sinistrum. Peredaran darah dari jantung ke paru-paru
adalah sama, dari ventriculum sinistrum ke tubuh adalah berbeda, karena pada
mamalia melalui sinistrum ke tubuh adalah berbeda. System vena terdiri atas
sepasang vena jugularis dari daerah kepala, leher.
4.2.8 Sistem Urogenetalia

Dari hasil kegiatan praktikum sistem urogenetalia aua urinaria terdiri


dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.
1. Ginjal
Pada umumnya ginjal ada sepasang (dua buah) yang terdapat di dalam
rongga perut, mempunyai bentuk menyerupai kacang buncis dengan hilus renalis
yakni tempat masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter, mempunyai
permukaan yang rata, kecuali pada sapi ginjalnya berlobus. Selubung ginjal (Ren)
disebut kapsula ginjal, tersusun dari campuran jaringan konektif yakni serabut
kolagen dan beberapa serabut elastis.(Anonymous, 2008).
Struktur histologis pada berbagai jenis hewan piara tidak sama, sehingga
bentuk ginjal dibedakan menjadi:
Unilober atau unipiramidal: pada kelinci dan kucing mempunyai struktur
histologis sama yakni tidak dijumpai adanya percabangan pada kalik
renalis, papila renalis turun ke dalam pelvis renalis, dan duktus papilaris
bermuara pada kalik. Pada kuda, domba, kambing, dan anjing terjadi
peleburan dari beberapa lobus, sehingga terbentuk papila renalis tunggal
yang tersusun longitudinal.
Multilober atau multipiramidal: bentuk ini dijumpai pada babi, sapi, dan
kerbau. Lobus (piramid) dan papila renalis lebih dari satu jelas terlihat.
Fungsi ginjal secara umum adalah:

27

Membuang sisa-sisa hasil metabolisme dengan cara menyaring dari darah

berupa air seni (urin)


Mengatur kadar air, elektrolit tertentu serta bahan-bahan lain dari darah
Membuang bahan-bahan yang berlebihan atau tidak lagi dibutuhkan tubuh
Sebagai kelenjar endokrin (sel-sel jukstaglomeruli dan makula densa) yang
mengatur hemodinamika serta tekanan darah dengan menghasilhan zat
renin.
Fungsi ginjal erat hubungannya dengan paru-paru dan kulit dalam

mempertahankan volume dan komposisi darah terhadap zat-zat tertentu. Pada


darah zat tersebut mempunyai nilai ambang yang konstan, dan bila melebihi nilai
ambang, maka zat tersebut dibuang melalui ginjal, paru-paru, maupun kulit.
Sinus renalis berisi :
a. Pelvis renal, dibentuk oleh calyx mayor dna calyx minor. Pelvis ini
merupakan bagian atas ureter yang melebar.
b. Arteri, vena dan nervus.
c. Lemak dengan jumlah sedikit dan tidak dijumpai jaringan konektif.
Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua zone, yaitu : kortek (luar ) dan
Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi pyramid yang juga
disebut pyramid medulla hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortex antara
pyramid-pyramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal.
Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak-bercak
merah yang kecil (Petichie) yang sebenarnya merupakan kumpulan veskuler
khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal corpuscle atau badan
malphigi. Kortek ginjal terutama terdiri atas nefron pada bagian glomerulus,
tubulus Konvulatus proximalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada
daerah medulla dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle s dan
tubulus kolectivus. Tiap-tiap ginjal mempunyai 1-4 juta filtrasi yang fungsional
dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron.
2. Kandung Kemih
Kandung kemih (Buli-buli/bladder) merupakan sebuah kantong yang
terdiri atas otot halus, berfungsi menampung urine. Dalam kandung kemih
terdapat beberapa lapisan jaringan otot yang paling dalam, memanjang ditengah,
dan melingkar yang disebut sebagai destrusor, berfungsi untuk mengeluarkan
urine bila terjadi kontraksi.

28

Pada dasar kandung kemih terdapat lapisan tengan jaringan otot berbentuk
lingkaran bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi menjaga
saluran antara kandung kemih dan uretra, sehingga uretra dapat menyalurkan
urine dari kandung kemih keluar tubuh. Penyaluran ransangan kekandung kemih
dan ransangan motoris ke otot lingkar bagian dalam diatur oleh sistem simpatis.
Akibat dari ransangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi kokntraksi
sfingter bagian dalam sehingga urine tetap tinggal dalam kandung kemih. Sistem
para simpatis menyalurkan ransangan motoris kandung kemih dan ransangan
penghalang ke bagian dalam otot lingkar. Rangansang aini dapat menyebabkan
terjadinya kontraksi otot destrusor dan kendurnya sfingter.

4.2.9 Sistem Endokrin/Hormonal

Sistem endokrin tidak secepat untuk menanggapi rangsangan seperti


sistemsaraf yang dapat merespon dalam waktu kurang dari satu detik. Sistem
endokrin dapat merespon dalam hitungan menit dan efek biasanya berlangsung
lebih lama dari efek dari sistem saraf. Sistem endokrin memiliki fungsi yaitu :
1. Membedakan

sistem

saraf dan

sistem

reproduktif

pada

janin

yang sedang berkembang.


2. Menstimulasi urutan perkembangan.
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif.
4. Memelihara lingkungan internal optimal.
Semua hewan vertebrata memiliki kelenjar endokrin yang sama dan
melepaskan hormon yang berfungsi untuk pertumbuhan, reproduksi, serta
tanggapan lainnya. Berikut adalah beberapa kelenjar utama kelenjar endokrin
menurut Sivan(2005).
1. Hipotalamus
2. Kelenjar pineal
3. Anterior kelenjar pituitari
4. Posterior kelenjar hipofisis
5. Kelenjar gondok (tiroid)
6. Kelenjar paratiroid
7. Timus
8. Kelenjar adrenal
9. Pankreas
10. Ovarium
29

11. Testis
Hormon adalah substansi kimia yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar
endokrin dan masuk ke dalam peredaran darah lalu menimbulkan efek pada suatu organ
di bagian tubuh lain yang membutuhkan untuk dapat berfungsi normal. Hormon dapat
mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis-jenis sel tertentu saja, yaitu sel-sel target yang
memiliki kemampuan untuk memberikan respons terhadap sinyal tersebut. Hormon
berfungsi dalam mengatur atau mempengaruhi organ-organ supaya bekerja. Misalnya
dalam hal

pematangan

sel-sel

kelamin,

metabolisme,

tingkah laku

reproduksi,

petumbuhan dan lain-lain (Brotowijoyo, 1994).


Sistem endokrin merupakan bagian dari sistem regulasi pada hewan
danmembantu menjaga keseimbangan internal tubuh. Baik vertebrata dan invertebrata
memiliki

sistem

endokrin.

Sistem

endokrin

mengatur

banyak

fungsi

tubuh,

termasuk pertumbuhan, metabolisme, keseimbangan air, gula, keseimbangan kalsium dala


maliran darah, dan fungsi yang berkaitan dengan kematangan seksual maupun reproduksi.
Dua

fungsi

utama

di

bawah

kontrol

endokrin

di

invertebrata

adalah penumpahan dari eksoskeleton untuk pertumbuhan, yang disebut molting danmeta
morfosis, fungsi yang tidak terjadi pada vertebrata (Hernayati, 2008)

4.3 Hubungan Sitem Organ, Manajmen Pemeliharaan, dan Lingkungan


Ternak
Dalam usaha peternakan perlu di ketahui bahwa lingkungan sangat berpengaruh
terhadap performance ternak. Dimana pengaruh lingkungan bagi performance ternak
yaitu sebanyak 70 % sedangkan gen hanya 30 %. Untuk itu peternak harus dapat
mengatasi hal tersebut untuk mendapatkan hasil yang produksi yang optimal dengan
mamanfaatkan tekhnologi yang ada.
Pemberian pakan pada ternak sebaiknya di berikan konsentrat terlebih dahulu,
mengingat bahwa di dalam rumen terdapat mikroba yang membantu dalam proses
pencernaan. Pemberian konsentrat ini di maksudkan untuk meberikan energi pada
mikroba agar pakan hijauan yang mempunyai serat kasar dapat dicerna. Serta pakan yang
diberikan sebaiknya di haluskan terlebih dahulu.

Mamalia umunya mempertahankan suhu tubuh yang tinggi dan memiliki


kisaran suhu tubuh sekitar 36o-38o C untuk sebagian besar mamalia.
Mempertahankan suhu dalam kisaran yang sempit ini memerlukan kemampuan
untuk secara ketat menyeimbangkan laju produksi panas metabolism dengan laju
30

kehilangan panas atau perolehan panas dari lingkungan luarnya. Laju produksi
panas dapat ditingkatkan melalui satu atau dua cara: dengan meningkatkan
kontraksi otot (dengan cara bergerak atau menggigil) atau dengan kerja hormone
yang meningkatkan laju metabolisme dan produksi panas disebut termogenesis
tanpa menggigil (nonshivering thermogenesis) (Campbell, 2004: 105).
Jika pada suhu tinggi ternak akan cenderung lebih banyak mium di
bandingkan makan. Sedangkan pada saat suhu rendah ternak akan cenderung lebih
banyak makan dibandingkan minum. Hal ini di sebabkan karena pada suhu panas,
tubuh ternak menyerap panas dan ternak akan lebih banyak minum untuk
menyeimbangkan suhu tubuh. Dan sebaliknya pada suhu rendah tubuh ternak
mengelurkan panas(energi panas) sehingga ternak akan banyak makan untuk
menggantikan energi yang hilang.
Dalam usaha penggemukan sapi potong, salah satu tekhnik yang dapat dilaukan
yakni melakukan kastrasi. Kastrasi adalah pemotongan testis pada ternak jantan, hal ini
bertujuan untuk mempercepat pertambahan bobot badan karena testis yang berfungsi
sebagai penghasil spermatozoa akan terhenti dan akan terfokus pada pertumbuhan bobot
badan.

31

BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari kegiatan praktikum pengamatan anatomi dan
fisiologi domba (ruminansia) adalah :
1. Sitem Pencernaan ruminansia terdiri mulut, kerongkongan, faring, lambung
(rumen, reticulum, omasum, abomasum), usus halus, usus besar, dan terakhir
anus.
2. Sistem pernapasan terdiri dari hdung, farink, larink, trecea, bronchis,
bronchiolus, dan paru-paru.
3. Sitem reproduksi ternak jantan terdiri dari testes, scrotum, corda, spermaticus,
kelenjar tambahan (glandula accessoris), penis, preputium dan sistem saluran
reproduksi jantan. Sistem saluran tersebut terdiri dari vas defferentia yang
berlokasi dalam testis, epididymis, vas differens dan urethra external yang
bersambung ke penis. Sedangkan

Organ reproduksi betina terdiri dari

ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina dan vulva.


4. Sitem otot terdiri dari otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
5. Sistem rangaka berfungsi menyokong badan (membenarkan pergerakan
normal hanya pada kawasan tertentu saja), melindungi struktur-struktur
dalaman badan, contohnya otak dilindungi oleh tengkorak, jantung dan paruparu dilindungi oleh tulang rusuk, menghasilkan sel darah merah dalam sumsum tulang dan menyimpan bahan mineral kalsium dan fosforus, dan
bertindak sebagai organ hemopoietik.
6. Sitem syaraf s y s t e m t e r d i r i s a r a f p u s a t d a n s a r a f p e r i f e r i .
S i s t e m s a r a f p u s a t t e r d i r i d a r i o t a k d a n medula spinalis (sumsum tulang belakang) yang terdapat pada di dalam canalisvertebralis dan
berhubungan dengan otak melalui foramen magnu.
7. Sistem sirkulasi terdiri dari jantung dan pembuluh darah.
8. Sistem urogenetalia dari ginjal ke kantong kemih melewati ureter, dan dari
kantong kemih menuju ke luar tubuh melewati uretra.
9. Kelenjar endokrin melepaskan hormon yang berfungsi untuk pertumbuhan,
reproduksi, serta tanggapan lainnya.
10. Untuk mendpatkan produksi yang optimal peternak harus dapat mensiasati
usaha ternaknya dan dengan melakukan manajemen yang baik.
32

11. Dalam manajemen pemberian pakan sebaiknya pakan yang akan di berikan
kepada ternak ruminansia dihaluskan terlebih serta di berikan pakan konsntrat
sebagai pakan starter.

5.2 SARAN
Adapun saran yang dapat penyusun sampaikan, yakni: Sebaiknya pada
saat praktikum anatomi dan fisiologi pada domba (ruminansia), mahasiswa/
mahasiswi bisa melihat proses penyembelihan agar mahasiswa/wi dapat
mengetahui sistem morfologi pada ternak tersebut dan agar mahasiswi dapat
mengetahui bagaimana cara menguliti ternak ruminansia.

33

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Sistem Pencernaan Makanan Hewan Memamah Biak. (2000).
http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0066%2
0Bio% 202-5d.htm. (16 Desember 2012)
Budidaya Ternak Kambing. (2005). http://www.iptek.net.id/ind/ wari
ntek. (16 Desember 2012).
Sapi. (2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Sapi. (16 Desember 2012)
Apik. Pencernaan Ruminansia VS Non-ruminansia. (2011). http://apikdewefpp
undip2011.wordpress.com/2012/04/05/pencernaan-ruminansiavs-non-ruminansia.
(16 Desember 2012).
Ardianto, Aris. Ternak Ruminansia dan Non Ruminansia. (2012).
http://ayisakin.blogspot.com/2012/03/ternak-ruminansia-dan-nonruminansia.html. (16 Desember 2012).
Etawafarm. Pakan Kambing. (2011). http://www.etawafarm.com/2011/11/
pakankambing.html.(16 Desember 2012).
Hasanah. Perbedaan hewan ruminansia dan non ruminansia. (2011).
http://mellyhatulhasanah.blogspot.com/2011/11/perbedaan-hewan-ruminansiadan-non.html. (16 Desember 2012).
Hidayah, Nur. Mikrobiologi In Vitro. (2011)http://www.scribd.com/LaporanMikrob-in. (16 Desember 2012).
Junaedi. Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia. (2011). http://peternakan
junaedi.blogspot.com/2011/06/sistem-pencernaan-ternakruminansia.html.
(16 Desember 2012).

34

LAMPIRAN
Foto Kegiatan
1. Sistem Pencernaan

2. Paru-paru

3. Rangka dan Otot

35

36