Anda di halaman 1dari 10

Persepsi Masyarakat Tentang Peran Perawat

Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas Klampis Ngasem


Kecamatan Sukolilo Surabaya
Nama: Samsul A Arsad
NIM: 08.1.14.1.080

ABSTRAK
Persepsi positif tentang kinerja perawat dalam menjalankan peran perawat akan
meningkatkan motivasi masyarakat untuk berkunjung ke puskesmas. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi masyarakat tentang peran perawat
puskesmas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif sederhana dengan
pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner kepada
96 pengunjung puskesmas di Kelurahan Klampis Ngasem dengan teknik purposive
sampling. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 55,2% responden memiliki persepsi
positif tentang peran perawat secara keseluruhan. Dengan demikian, persepsi
masyarakat hampir seimbang karena selisih persetasi antara persepsi baik dan buruk
hanya 10,4.
Kata kunci: peran perawat, persepsi, puskesmas

PENDAHULUAN

Profesi
keperawatan
merupakan profesi yang penting
dalam bidang kesehatan, karena
perawat mengetahui kondisi pasien
selama 24 jam penuh. Tugas perawat
juga langsung bersentuhan dengan
klien, seperti memenuhi kebutuhan
dasar berupa kebersihan diri, makan,
istirahat, dan lain-lain.
Berdasarkan Pusat Data dan
Informasi (Pusdatin) Kementerian
Kesehatan RI Tahun 2010, terdapat
160.074 jumlah perawat dan jumlah
dokter sekitar 25.333 orang. Jumlah
perawat yang cukup banyak tentu
perlu diimbangi dengan lahan kerja
yang memadai. Perawat dapat
bekerja di berbagai wilayah dan

instansi, baik instansi pemerintah


maupun swasta. Rumah sakit dan
pusat
kesehatan
masyarakat
(puskesmas) adalah contoh area kerja
perawat yang paling sering dijumpai
sehari-hari. Khususnya puskesmas
yang dapat dijumpai masyarakat di
berbagai wilayah mulai dari tingkat
kelurahan.
Pusat
kesehatan
masyarakat (puskesmas) merupakan
garda terdepan pelayanan kesehatan
masyarakat. Hal ini disebabkan
karena puskesmas merupakan suatu
kesatuan organisasi yang dibentuk
pemerintah di tingkat terendah yaitu
kelurahan. Penempatan wilayah
puskesmas tersebut membuat setiap
masyarakat dapat dengan mudah
menggunakan fasilitas kesehatan ini.
Pembagian
wilayah
puskesmas

dimulai dari kelurahan, kecamatan,


puskesmas induk, sampai puskesmas
keliling.
Perawat sebagai salah satu
tenaga kesehatan di puskesmas
memiliki
berbagai
peran.
Kementerian Kesehatan Indonesia
menyebutkan idealnya terdapat 12
peran perawat puskesmas (Depkes,
2004). Namun, karena terbatasnya
pengetahuan dan pendidikan yang
masih
rendah,
pemerintah
menetapkan hanya enam peran yang
wajib dijalankan perawat puskesmas
yaitu pemberi asuhan keperawatan
(care provider), penemu kasus,
pendidik kesehatan, koordinator dan
kolaborator, konselor, dan sebagai
panutan (Depkes, 2004).
Enam peran utama perawat
puskesmas yaitu sebagai care
provider, penemu kasus, pendidik
kesehatan,
koordinator
dan
kolaborator, konselor, dan panutan
(role model) tentu harus dijalankan
oleh setiap perawat yang bekerja di
puskesmas. Pada kenyataannya,
keterbatasan
jumlah
perawat
puskesmas yang rata-rata sekitar dua
sampai lima orang di setiap
puskesmas menjadi salah satu
penyebab penerapan peran yang
dijalankan masih kurang optimal.
Sementara dengan penerapan peran
perawat
yang
optimal
akan
meningkatkan tercapainya kualitas
pelayanan kesehatan yang baik di
puskesmas,
sehingga
akan
meningkatkan
tercapainya
masyarakat Indonesia yang sehat.
Salah satu faktor yang
mendorong masyarakat berobat ke
pusat kesehatan masyarakat adalah
pandangan atau pendapat yang
positif
terhadap
pelayanan
puskesmas
secara
keseluruhan.

Pandangan terhadap kesehatan akan


mempengaruhi masyarakat dalam
memilih pengobatan yang akan
dilakukan. Pandangan atau persepsi
masyarakat yang positif terhadap
puskesmas
akan
meningkatkan
jumlah pengunjung yang datang.
Persepsi tersebut meliputi persepsi
baik mengenai perawat puskesmas
yang telah menjalankan perannya
selama
pengunjung
menerima
pelayanan keperawatan.
Persepsi yang positif tentang
peran perawat akan memberikan
gambaran mengenai kinerja perawat
berdasarkan
perannya
serta
meningkatkan minat masyarakat
berkunjung
ke
puskesmas.
Sedangkan
persepsi
negatif
menunjukkan
penerapan
peran
perawat perlu ditingkatkan, sehingga
tercapainya
tujuan
pelayanan
kesehatan. Puskesmas Kelurahan
Klampis Ngasem sebagai salah satu
puskesmas di Kecamatan Sukolilo
Surabaya menjadi tempat penelitian
karena belum adanya penelitian
terkait hal ini dan lokasi yang
berdekatan dengan kantor kelurahan,
mudah diakses, serta selalu ramai
dikunjungi masyarakat. Oleh karena
itu, peneliti ingin mengetahui
gambaran
persepsi
masyarakat
tentang peran perawat puskesmas di
Kelurahan
Klampis
Ngasem
Kecamatan Sukolilo Surabaya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
desain deskriptif sederhana, yang
bertujuan
mendapatkan
gambaran
tentang persepsi masyarakat tentang
peran perawat puskesmas di Kelurahan
Kelurahan Klampis Ngasem Sukolilo
Surabaya.
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Oktober 2013 di Puskesmas

Klampis Ngasem Kecamatan Sukolilo


Surabaya.

Populasi dalam penelitian ini


adalah dewasa pria ataupun wanita
yang pernah mengunjungi puskesmas
Kelurahan Klampis Ngasem.
Sampel ditentukan dengan rumus
deskriptif kategorik Snedecor &
Cochran (Notoatmodjo, 2010) untuk
perkiraan rata-rata sampel
yang
dibutuhkan dalam penelitian ini. Rumus
untuk menghitung jumlah sampel
adalah:
n = 2PQ
d2
Keterangan:
n : jumlah sampel
: deviasi normal standar 95%
(1,96)
P : proporsi kejadian (50%)
Q : 1-P (1-50%)
d : akurasi daya proporsi (10%)
Jadi, sampel minimal yang akan
diteliti adalah
n=
2PQ
d2
n=
(1,96)2(0,5)(0,5)
(0.1)2
n=
(3,8416) (0,25)
0,01
n = 96,04
Peneliti memperoleh rata-rata
sampel yang akan diteliti berjumlah 96
orang.
Instrument
penelitian
menggunakan kuesioner yang berisi
pernyataan
disusun
dalam bentuk
pilihan Skala Likert yaitu Tidak
Pernah (TP), Kadang-kadang (KK),
Sering (Sr), Selalu (Sl).

Penelitian ini menggunakan


analisis univariat untuk mengetahui
gambaran persepsi masyarakat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
penelitian
juga
menunjukkan bahwa jenis kelamin
responden didominasi oleh perempuan
yaitu sebanyak 60,4%. Karakter
perempuan
cenderung
mudah

menerima pelayanan yang diberikan


puskesmas, dan karakter merupakan
faktor fungsional yang mempengaruhi
persepsi (Sobur, 2003). Selain itu,
sebagian besar responden berpendidikan
Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah
Menengah Pertama (SMP) yaitu
sebanyak
44,8%.
Pendidikan
berpengaruh terhadap pengetahuan
responden (Notoatmojo, 2010), dan
pengetahuan
akan
mempengaruhi
responden dalam menilai pelayanan
keperawatan yang diterima. Selain itu,
mayoritas responden bekerja sebagai Ibu
Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak
49%. Hal ini karena mayoritas
pengunjung
puskesmas
berjenis
kelamin perempuan dan bekerja sebagai
IRT.
Karakteristik selanjutnya adalah
usia. Mayoritas responden berada
pada usia dewasa tengah (40-59 tahun)
yaitu sebanyak 59,4%. Hal ini sejalan
dengan usia mayoritas masyarakat Kota
Sukolilo Surabaya yang berada pada
rentang usia dewasa. Sesuai dengan
faktor personal yang mempengaruhi
persepsi yaitu pengalaman (Sobur,
2003), hal ini menunjukkan bahwa usia
dewasa tengah memiliki pengalaman
yang lebih banyak dibandingkan usia
dewasa muda karena seiring berjalannya
waktu maka pengalaman yang diperoleh
individu
akan
semakin
banyak.
Pengalaman
tersebut
akan
mempengaruhi persepsi
individu
terhadap pelayanan keperawatan yang
diterima di puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dari 96 responden, 55,2%
memiliki persepsi
yang
positif
terhadap peran perawat puskemas
secara
umum. Sedangkan yang
memiliki persepsi
yang negatif
sebanyak 44,8%. Selisih persentase
yang tidak terlalu besar antara
persepsi
positif
dan
negatif
menunjukkan
bahwa
pendapat
responden hampir sama. Hasil ini
sejalan dengan penelitian Nurjanah

(2003) mengenai persepsi pasien


terhadap pelayanan kesehatan di
puskesmas kecamatan Gambir, dimana
88% pasien memiliki persepsi positif
(positif) terhadap pelayanan yang
diberikan oleh perawat. Nilai tertinggi
pada pelayanan yang diberikan oleh
perawat yaitu 93% untuk kesediaan
mendengarkan keluhan, dan 78% untuk
keramahan.
Selisih persepsi yang positif
dan negatif sangat tipis yaitu 10,4%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa
persepsi masyarakat hampir sama.
Bahkan
belum
dapat
dikatakan
persepsi
masyarakat
sepenuhnya
positif karena persepsi yang positif lebih
terlihat pada persentase lebih dari 60%.
Oleh karena itu, perawat perlu terus
mengoptimalkan penerapan perannya
selama ini agar persepsi positif
masyarakat
semakin
meningkat.
Persepsi
yang
muncul
pada
masyarakat terhadap peran perawat
yang berbeda-beda walaupun stimulus
yang diberikan sama. Sobur (2003)
menyebutkan
perbedaan
persepsi
tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain faktor fungsional,
struktural, situasional, dan personal.
Faktor
fungsional
merupakan
karakteristik dari tiap individu yang
menerima
stimulus.
Kegembiraan,
pelayanan
yang
diterima,
dan
pengalaman
masa
lalu
sangat
berpengaruh. Perasaan senang yang
dimiliki pengunjung saat menerima
pelayanan keperawatan di puskesmas
dapat menyebabkan
pengunjung
berpersepsi
positif.
Selain
itu,
karakter dari individu itu sendiri yang
mudah menerima setiap stimulus yang
diberikan yaitu pelayanan keperawatan
juga mendukung terciptanya persepsi
yang Positif.
Faktor
kedua
yang
mempengaruhi
persepsi
positif
responden adalah faktor struktural yang
lebih
kearah
biologis,
dimana
seseorang
akan mempersepsikan

sesuatu sebagai suatu keseluruhan


meskipun stimulus yang diterima tidak
lengkap (Sobur, 2003). Faktor ini
membuat persepsi pengunjung terkait
pelayanan keperawatan yang diberikan
oleh salah satu tenaga kesehatan di
puskesmas,
membuat
persepsi
pengunjung terhadap seluruh pelayanan
puskesmas menjadi positif sehingga
pengunjung merasa puas
setelah
berobat.
Ketiga
adalah
faktor
situasional yang berkaitan dengan
bahasa nonverbal berupa ekspresi wajah
yang juga mempengaruhi persepsi.
Perawat yang tersenyum ramah saat
menanyakan keadaan pasien juga
menimbulkan perasaan senang di hati
pasien sehingga merasa perawat telah
memberikan apa yang dibutuhkan
pasien. Faktor terakhir adalah faktor
personal lebih ke arah pribadi
individu yang meliputi pengalaman,
sosial budaya, harapan, motivasi, dan
kepribadian individu.
Sementara itu masyarakat yang
memiliki persepsi
negatif terhadap
peran perawat
puskesmas
juga
disebabkan oleh beberapa faktor.
Pengalaman terdahulu yang kurang
menyenangkan terhadap pelayanan
keperawatan yang diterima akan
membuat masyarakat memiliki persepsi
yang negatif.
Selain itu, pelayanan yang
kurang memuaskan dan tidak sesuai
dengan harapan juga menjadi salah satu
penyebab timbulnya persepsi negatif.
Hal ini didukung dengan adanya
karakter individu yang sulit menerima
stimulus yang diberikan sehingga
mempersepsikan pelayanan keperawatan
negatif.
Puskesmas sebagai pelayanan
kesehatan terdekat merupakan garda
terdepan
pelayanan
kesehatan
Indonesia memiliki peran penting
dalam mewujudkan masyarakat yang
sehat. Tercapainya masyarakat yang
sehat diperoleh dari meningkatnya
kualitas
pelayanan
kesehatan.

Peningkatan kualitas dapat diwujudkan


dengan
memperluas
pengetahuan
tenaga kesehatan. Adanya pelatihan
untuk meningkatkan skill masingmasing individu sangat dibutuhkan
untuk menghadapi perkembangan ilmu
pengetahuan yang semakin pesat.
Seperti yang dikemukakan oleh Ashton
(2005) bahwa peningkatan kualitas
pelayanan
kesehatan
yang
komprehensif melalui pengembangan
pengetahuan dan
kemampuan akan
meningkatkan pemulihan kesehatan
pasien.
Salah
satu
faktor
yang
menentukan
kualitas
pelayanan
puskesmas
adalah
pelayanan
keperawatan. Perawat sebagai salah satu
tenaga
kesehatan yang
bertugas
memberikan
asuhan
keperawatan
secara
holistik
(utuh) memegang
peranan yang penting. Peran perawat
dapat diklasifikasikan menjadi enam
peran utama perawat puskesmas
(Depkes, 2004).
Kementerian
Kesehatan
menetapkan
enam
peran
utama
perawat karena pendidikan rata-rata
perawat puskesmas di Indonesia masih
rendah, yaitu pendidikan D3 dan SPK.
Sedangkan seharusnya perawat yang
bekerja di primary health care
(puskesmas) beragam pendidikan mulai
dari clinical nurse specialist (perawat
spesialis), clinical nurse midwives
(bidan), dan certified registered nurse
practitioners (Cotroneo, Margaret.,
Outlaw, Freida Hopkins., King, Joan.,
Brince, Jean., 1997). Oleh karena itu,
sebaiknya
standar
kualifikasi
penerimaan perawat yang bekerja di
puskesmas harus lebih ditingkatkan agar
standar pelayanan yang diberikan
perawat juga meningkat.
Peran
yang
diterapkan
Kementerian Kesehatan antara lain
sebagai pemberi asuhan keperawatan,
penemu kasus, pendidik kesehatan,
koordinator dan kolaborator, konselor,
dan sebagai panutan. Peran utama

dari
perawat puskesmas
adalah
memberikan
asuhan
keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok,
dan masyarakat baik
yang sehat
maupun
yang sakit atau
yang
mempunyai masalah kesehatan baik
dirumah,
sekolah,
panti, dan
sebagainya
sesuai
kebutuhannya
(Depkes, 2004).

Peran
Pemberi
Keperawatan

Asuhan

Hasil penelitian menunjukkan


sebagian besar masyarakat berpersepsi
positif terhadap peran perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan yaitu
sebanyak 59,4%. Pada pernyataan
kuesioner mengenai peran pemberi
asuhan
keperawatan,
mayoritas
responden menjawab selalu, yang
berarti perawat selalu menanyakan
keluhan utama klien setiap berobat.
Sebanyak 42,7% responden menjawab
perawat kadang-kadangbersikap ramah
kepada klien. Selain itu, sebanyak
83,3% responden menjawab perawat
selalu menulis resep obat dan 72,9%
responden menyebutkan perawat selalu
mendiagnosis
penyakit.
Hal
ini
menunjukkan
bahwa
perawat
menjalankan peran tenaga kesehatan
lain.
Hasil tersebut menunjukkan
bahwa terjadi overlapping (tumpang
tindih) antara peran perawat dan
dokter, serta menjadi celah terjadinya
malpraktik. Akibatnya akan beresiko
tinggi
membahayakan
klien.
Sedangkan tugas perawat dan dokter
telah jelas tercantum pada Undangundang Kesehatan sehingga apabila
terjadi pelanggaran dapat dikatakan
sebagai
malpraktik.
Keterbatasan
sumber
daya
manusia
menjadi
penyebab
utama
terjadinya
overlapping tugas antara tenaga
kesehatan dan terjadinya malpraktik di
puskesmas ini.

Peran Penemu Kasus


Peran perawat sebagai penemu
kasus
menuntut
perawat
untuk
mendeteksi serta dalam menemukan
kasus serta melakukan penelusuran
terjadinya penyakit. Berdasarkan hasil
penelitian
mayoritas masyarakat
memiliki persepsi positif terhadap peran
perawat sebagai penemu kasus yaitu
63,5%.
Dari
total
96
orang
responden, 79,2% menjawab tidak
pernah dikunjungi rumah, hanya
15,6%
responden
yang
sering
dikunjungi
rumah.
Hal
ini
menunjukkan perawat masih lebih
banyak menjalankan pasif case finding
karena hanya pasien khusus saja yang
dikunjungi ke rumah seperti pasien
dengan TB paru, diare, atau gizi
buruk.
Penemuan
kasus
dapat
dilakukan dengan jalan mencari
langsung ke masyarakat (aktif case
finding) dan dapat pula didapat
secara
tidak langsung yaitu pada
kunjungan pasien ke puskesmas (pasif
case finding) (Depkes, 2004). Narain
(2011) mengemukakan bahwa pasien
dengan TB paru atau gizi buruk akan
lebih baik apabila dilakukan skrining
secara berkala ke lingkungan rumah
pasien sehingga dapat menerapkan peran
perawat sebagai actif case finding
dan
langsung
dapat
diberikan
intervensi saat itu juga.

Peran Pendidik Kesehatan


Sebagian
besar
masyarakat
memiliki
persepsi
yang
positif
terhadap peran
perawat
sebagai
pendidik kesehatan yaitu sebanyak
58,3%. Perawat
sebagai
pendidik
menuntut perawat untuk memberikan
pendidikan kesehatan kepada individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat
baik setting di rumah, di puskesmas,
dan di masyarakat secara terorganisir
dalam rangka menanamkan perilaku
sehat, sehingga terjadi
perubahan
perilaku seperti yang diharapkan

dalam mencapai tingkat kesehatan yang


optimal (Depkes, 2004).
Pernyataan
mengenai
peran
pendidik kesehatan, 30,2% menjawab
sering, yang berarti bahwa perawat
sering
tidak
menjelaskan
cara
mencegah penyakit pasien, tetapi
lebih
sering
menjelaskan
cara
mengatasi penyakit yang sedang
dialami yaitu sebanyak 39,6%.
Berdasarkan
pengamatan
peneliti, perawat juga lebih sering
memberikan
pendidikan
kesehatan
pada pengunjung dengan masalah
kesehatan kronis seperti diabetes
mellitus (DM), hipertensi, dan penyakit
jantung, sedangkan untuk pasien
dengan keluhan nyeri sendi dan
abdomen jarang diberikan pendidikan
kesehatan.
Penyakit kronik dan tidak
menular
seperti
DM,
penyakit
kardiovaskuler, kanker, dan penyakit
paru obstruktif menahun merupakan
jenis penyakit yang sering terjadi di
kawasan Asia Tenggara (Narain,
2011).
Jenis penyakit
tersebut
membutuhkan program pencegahan
yang berkelanjutan
karena
lebih
diakibatkan faktor gaya hidup yang
tidak sehat. Oleh karena itu, perawat
perlu menjelaskan faktor risiko penyakit
tersebut antara lain seperti merokok,
pola makan yang tidak sehat, dan kurang
beraktifitas. Namun, dengan tetap
memberikan
pendidikan kesehatan
kepada pasien dengan keluhan yang lain
seperti nyeri. Skill tenaga kesehatan
khususnya perawat di Indonesia
masih rendah (Depkes, 2004).
Sama halnya yang terjadi di
India dimana pemerintah India mulai
terus mengembangkan kemampuan
perawat
terhadap
pengontrolan
penyakit. Cara yang dilakukan dengan
menyediakan pelatihan bagi perawar
terkait penyakit yang sering mewabah
di lingkungan cakupan puskesmas dan
terkait penyakit kronik seperti DM dan
asma. Tujuannya agar para tenaga

kesehatan
di
pusat
kesehatan
masyarakat
mampu
memberikan
pelayanan
sekunder
sebelum
memberikan
pelayanan
primer.
Pemerintah
Indonesia
diharapkan
melakukan
upaya
untuk
mengembangkan skill perawat dengan
menyediakan
pelatihan
yang
dibutuhkan.

Peran
Koordinator
Kolaborator

dan

Persepsi masyarakat terhadap


peran perawat sebagai koordinator
dan kolaborator mayoritas positif yaitu
sebanyak 55,2%. Koordinator dan
kolaborator merupakan peran yang
sangat penting karena pada peran
inilah perawat mampu bekerjasama
dengan tenaga kesehatan lain untuk
meningkatkan derajat kesehatan klien.
Perawat dapat berkolaborasi dengan
dokter, apoteker, ahli gizi, petugas
laboratorium,
dan
lainnya untuk
menegakkan diagnosa keperawatan
dan menentukan intervensi yang tepat.
Kerjasama
antar
tenaga
kesehatan
di
puskesmas
sangat
penting. Kerja tim kesehatan yang baik
akan memberikan kepuasan kerja dan
kepuasan pasien dalam menerima
pelayanan kesehatan (Leggat, Sandra
G., Bartram, Timothy., & Stanton,
Pauline., 2011). Kepuasan pasien
akan menentukan persepsi terhadap
penerapan peran perawat. Selain itu,
kualitas pelayanan
kesehatan di
puskesmas juga dapat diukur melalui
penurunan
mortalitas,
penurunan
kesalahan medikasi, hasil klinik, dan
kepuasan pasien. Dimana kepuasan
pasien merupakan alat ukur yang
valid untuk menentukan hasil kinerja
tenaga kesehatan (Leggat, Sandra G.,
Bartram, Timothy., & Stanton, Pauline.,
2011) sehingga
kerjasama perlu
dioptimalkan.
Sebagian
besar
responden
menjawab selalu untuk pernyataan
kuesioner mengenai manfaat obat,

efek samping obat, dan dosis obat.


Hal ini disebabkan karena perawat
seringkali membantu apoteker untuk
membagikan dan menjelaskan obat
kepada pasien yang berobat. Selain itu,
jumlah apoteker di puskesmas hanya
satu orang sehingga antar tenaga
kesehatan saling membantu peran
yang lain untuk memenuhi kebutuhan
pasien. Namun mayoritas responden
menjawab perawat jarang bekerjasama
dengan tenaga kesehatan lain untuk
meningkatkan kesehatan klien. Perawat
langsung memutuskan secara mandiri
tindakan yang akan dilakukan kepada
pasien, kecuali pada pasien yang
membutuhkan
pemeriksaan
laboratorium. Selain itu, 49 responden
(51%) menyebutkan perawat selalu
sibuk mencatat saat memeriksakan
kesehatan klien sehingga kurang
memperhatikan respon klien.
Peran antara perawat dan
dokter dalam berkolaborasi untuk
meningkatkan
kesehatan
pasien
dilakukan melalui timbal balik positif.
Perawat
memberikan
saran
dan
rekomendasi terkait pelayanan pasien
dengan cara yang baik, tanpa
langsung
menantang
permintaan
dokter. Sebagai
respon,
dokter
seringkali
menerima
rekomendasi
perawat sehingga
akan
terjadi
kolaborasi yang baik (Faria, 2009).
Kerjasama yang baik antar tim
kesehatan juga perlu diimbangi dengan
kemampuan masing-masing individu.
Perawat
perlu
meningkatkan
kemampuan (skill)
yang
dimiliki
dengan sering mengikuti pelatihan
terkait keperawatan.
Selain
itu,
perawat juga perlu memperkaya
pengetahuan dengan mencari informasi
seputar
perkembangan
ilmu
keperawatan
terbaru
melalui
perkembangan teknologi informasi.
Hal ini juga perlu didukung oleh
pihak puskesmas dengan memfasilitasi
pelatihan bagi perawat, memberikan
kejelasan apa saja peran perawat

puskesmas,
serta
meningkatkan
prasyarat calon perawat yang akan
bekerja di puskesmas.

Peran Konselor
Penelitian
menunjukkan
sebagian besar masyarakat memiliki
persepsi postitif
terhadap
peran
perawat sebagai konselor sebanyak
54,2%, sedangkan
untuk
persepsi
negatif sebanyak 45,8%. Selisih
antara persepsi positif dan negatif
yang hanya 8,4% menyatakan bahwa
persepsi masyarakat hampir sama.
Peran sebagai konselor melakukan
konseling
keperawatan
untuk
membantu memecahkan masalah klien
secara efektif. Kegiatan yang dapat
dilakukan perawat puskesmas antara lain
menyediakan informasi, mendengar
secara objektif, memberi dukungan,
memberi asuhan dan meyakinkan
klien, menolong klien mengidentifikasi
masalah dan faktor-faktor terkait,
memandu
klien
menggali
permasalahan dan memilih pemecahan
masalah
yang dikerjakan (Depkes,
2004).
Empat dari total lima pernyataan
kuesioner dijawab dengan pernyataan
yang kurang memuaskan. Sebanyak
37,5% masyarakat merasa perawat tidak
pernah menggali masalah kesehatan
klien. Selain itu, 31,2% masyarakat
juga menganggap perawat tidak
pernah
membantu memecahkan
masalah kesehatan klien. Proses
pemeriksaan kesehatan yang singkat
membuat waktu interaksi antara
perawat dan pasien menjadi sempit.
Pasien seringkali merasa masih ingin
mengungkapkan
perasaan
namun
terkendala oleh durasi berobat yang
singkat. Banyaknya pasien
di
puskesmas mendorong perawat untuk
bergerak cepat agar pasien lain tidak
menunggu lama. Selain itu, tidak adanya
inisiatif antara perawat maupun pasien
untuk melakukan konseling di luar
puskesmas atau di luar jam kerja

perawat.
Perawat
lebih
sering
membiarkan
klien
memecahkan
masalahnya sendiri sehingga klien
cenderung
enggan mendiskusikan
permasalahannya kepada perawat.
Persepsi positif terhadap peran
sebagai konselor ini juga didukung oleh
jawaban responden bahwa 84,4%
perawat selalu mendukung klien untuk
sembuh
dari
penyakit
yang
dialaminya. Dukungan yang diberikan
membuat klien merasa cukup dihargai
dan memotivasi klien untuk segera
sembuh.
Namun
berdasarkan
wawancara peneliti dengan responden,
hampir
semua
responden
menginginkan perawat lebih menggali
permasalahan
kesehatan
dan
membantu untuk menemukan solusi
yang
tepat
sehingga
masalah
kesehatan
klien
yang
sulit
diungkapkan segera teratasi.
Perkembangan teknologi yang
semakin
pesat
juga
mendorong
pelayanan kesehatan
untuk
dapat
memanfaatkannya.
Salah
satunya
pemanfaatan website
puskesmas.
Fungsi website dapat dijadikan tempat
bertukar pikiran antar tenaga kesehatan
di seluruh Indonesia atau kepada
instansi pemerintah lain, serta kepada
masyarakat umum. Seperti yang
dilakukan di
Korea
dengan
memanfaatkan internet sebagai sarana
sharing ilmu pengetahuan oleh tenaga
kesehatan (Han, Dongwoon., & Lee,
Heejin., 2003).
Namun
pada
kenyataannya penggunaan internet di
Indonesia khususnya puskesmas masih
sangat minim sehingga perlu terus
ditingkatkan baik dari sisi pengguna
maupun koneksi.

Peran Panutan
Peran yang terakhir adalah
peran sebagai panutan (role model).
Penelitian persepsi masyarakat terhadap
peran
perawat
sebagai
panutan
mendapatkan nilai tertinggi diantara
peran yang lain. 66,7% masyarakat

memiliki persepsi yang positif terhadap


peran perawat sebagai panutan. Pada
pernyataan mengenai peran sebagai
panutan,
responden
yakin bahwa
seorang perawat pasti memiliki gaya
hidup yang sehat. Hal ini dibuktikan
dengan 54,2% responden menjawab
perilaku perawat dijadikan inspirasi
untuk memiliki gaya hidup sehat.
Selain itu, 71% responden selalu
dimotivasi oleh perawat untuk tetap
menjaga kesehatan.
Perawat
puskesmas
harus
mampu memberikan contoh kepada
masyarakat bagaimana cara hidup sehat.
Kegiatan yang dapat dilakukan antara
lain memberi contoh praktik menjaga
tubuh yang sehat baik fisik maupun
mental seperti makanan bergizi, menjaga
berat badan, olahraga secara teratur,
tidak merokok, menyediakan waktu
untuk istirahat setiap hari, komunikasi
efektif, dll (Depkes, 2004). Peran ini
tidak mudah dijalankan karena perawat
harus memahami bagaimana cara hidup
sehat dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari sehingga dapat
terlihat oleh masyarakat.
SIMPULAN
Hasil
penelitian
diketahui
bahwa dari total 96 responden,
masyarakat memiliki persepsi yang
hampir seimbang antara persepsi positif
dan negatif. Namun selisih persepsi
positif dan negatif yang tipis dapat
disimpulkan
bahwa
persepsi
masyarakat hampir seimbang.
Persepsi masyarakat cenderung
positif terhadap masing-masing peran
perawat dengan jumlah persepsi positif
tertinggi terdapat pada peran sebagai
panutan, dan persepsi positif terendah
pada peran sebagai konselor.
DAFTAR PUSTAKA
Ashton, Toni. (2005). Change through
continuity: a quiet revolution in
primary health care in New

Zealand.
Australian
Health
Review. Vol. 29 No. 4 pp 380382.
Controneo, Margaret., Outlaw, Freida
Hopkins., King, Joan., Brince,
Jean. (1997). Advanced practice
psychiatric-mental health nursing
in a community-based nursemanaged primary care program.
Journal of Psychosocial nursing
& mental health services. Vol. 35
pp. 18
Departemen Kesehatan RI. (2004).
Keputusan menteri kesehatan RI
No.128/Menkes/SK/II/2004
tentang kebijakan dasar pusat
kesehatan masyarakat. Jakarta:
Direktorat
Jenderal
Bina
Kesehatan Masyarakat.
Departemen Kesehatan RI. (2004).
Rancangan pedoman kegiatan
perawat kesehatan masyarakat di
puskesmas. Jakarta: Direktorat
Jenderal
Bina
Kesehatan
Masyarakat.
Departemen Kesehatan RI. (2004).
Rancangan
pedoman
peningkatan kinerja perawat di
puskesmas. Jakarta: Direktorat
Jenderal
Bina
Kesehatan
Masyarakat.
Faria,
Catherine.
(2009).
Nurse
practitioner perceptions and
experiences of international
collaboration
physicians
in
primary health settings.Canada:
Thesis Queen;s University.
Han, Dongwoon., & Lee, Heejin.
(2003).
District
health
information systems in the public
sector: health centres in Korea.
Logistics
Information
Management. Vol. 16 pp. 278-285
Leggat, Sandra G., Bartram, Timothy.,
& Stanton, Pauline. (2011). High
performances work systems: the
gap between policy and practice
in health care reform. Journal of
Health
Organization
and

Management Vol. 25 No. 3 pp.


281-297
Narain, Jai P. (2011). Integrating
services for Noncommunicable
Diseases Prevention and Control:
Use of Primary health care
Approach. Indian. Journal of
community medicine. Vol.36 pp
567-571
Notoatmodjo,
Soekidjo.
2010.
Metodologi penelitian kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
Nurjanah, Nunung. (2003). Gambaran
persepsi
pasien
terhadap
pelayanan
kesehatan
di
puskesmas kecamatan Gambir.
Depok: Skripsi FKM-UI.
Pusdatin Depkes RI. (2010). Bank
Data Puskesmas. Style Sheet:
http://www.bankdata.depkes.go.id
/puskesmas/public/report
(diunduh pada 11 Oktober 2013)
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum.
Bandung: Pustaka Setia