Anda di halaman 1dari 11

Aliran Sastra

Posted on Desember 12, 2009 by Pakde sofa

Aliran Sastra
Supernaturalisme dan Naturalisme serta Idealisme dan Materialisme
Istilah-istilah naturalis, materialis, dan idealis, adalah istilah-istilah yang digunakan di
kalangan ilmu filsafat sebagai suatu paham, pandangan, atau falsafah hidup yang
akhirnya di kalangan ilmu sastra merupakan aliran yang dianut seseorang dalam
menghasilkan karyanya. Aliran dalam karya sastra biasanya terlihat pada periode
tertentu. Setiap periode sastra biasanya ditandai oleh aliran yang dianut para pengarang
pada masa itu. Bahkan unsur aliran yang
menjadi mode pada periode tertentu merupakan ciri khas karya sastra yang berada pada
masa tersebut.
Masalah aliran sebagai pokok pandangan hidup, berangkat dari paham yang
dikemukakan para filosof dalam menghadapi kehidupan alam semesta ini. Tafsiran yang
mula-mula diberikan oleh manusia terhadap alam ini ada dua macam, yaitu supernatural
dan natural. Penganut paham-paham tersebut dinamakan supernaturalisme dan
naturalisme. Paham supernatural mengemukakan bahwa di dalam alam ini terdapat
wujud-wujud yang bersifat gaib yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa daripada alam
nyata yang mengatur kehidupan alam sehingga menjadi alam yang ditempati sekarang ini.
Kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan yang paling tua usianya
dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia yang berpangkal pada paham
supernaturalisme dan masih dianut oleh beberapa masyarakat di muka bumi ini.
Sebagai lawan dari paham supernatural adalah naturalisme yang menolak paham
supernatural. Paham ini mengemukakan bahwa gejala-gejala alam yang terlihat ini terjadi
karena kekuatan yang terdapat di dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan
dengan demikian dapat diketahui. Paham ini juga mengemukakan bahwa dunia sama
sekali bergantung pada materi, kebendaan, dan gerak. Kenyataan pokok dalam kehidupan
dan akhir kehidupan adalah materi, atau kebendaan.
Pada bidang seni terdapat pula kedua aliran besar tersebut dengan karakteristik yang
berbeda, yaitu aliran idealisme dan materialisme. Idealisme adalah aliran yang menilai
tinggi angan-angan (idea) dan cita-cita (ideal) sebagai hasil perasaan daripada dunia
nyata. Aliran ini pada awalnya dikemukakan oleh Socrates (469-399 sM.) yang dilanjutkan
oleh muridnya yang bernama Plato (427-347 sM.). Dalam bidang seni rupa pelukis yang
beraliran idealisme cenderung lebih suka mewujudkan benda-benda sebaik mungkin
daripada apa adanya. Dalam ilmu kesusilaan idealisme mengandung pandangan hidup di
mana rohani mewujudkan kekuatan yang berkuasa dan menjelaskan bahwa semua benda
di dalam alam dan pengalaman adalah perwujudan pikiran, pandangan yang nyata.
Lawan aliran idealisme adalah aliran materialisme. Aliran ini mengemukakan bahwa
dunia sama sekali bergantung pada materi dan gerak. Ajaran ini sudah dikemukakan oleh
Democrates pada abad ke-4 sM, yang mengatakan bahwa semua kejadian yang gaib, dan
ajaib di alam ini digerakkan oleh atom dan keluasan geraknya. Tidak ada kekuatan gaib
yang bersifat supernatural yang mengatur kehidupan ini.
Di dalam bidang seni, seni rupa dan seni pahat, aliran materialisme atau naturalisme ini
disebut juga dengan aliran realisme, yaitu bentuk lukisan yang diciptakan menurut
keadaan alam yang sebenarnya yang berdasarkan atas faktor-faktor perspektif, proporsi,
warna, sinar, dan bayangan. Sedangkan di dalam seni sastra aliran materialisme atau
naturalisme ini merupakan kelanjutan dari aliran realisme.
Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra
Aliran-aliran yang terdapat di dalam karya sastra tidak dapat di- “cap”-kan sepenuhnya
kepada seorang pengarang. Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya dalam karyanya ia idealis
tetapi juga romantis, sehingga ia juga dikenal sebagai seorang yang beraliran romantis-
idealis.
Dalam aliran idealisme terdapat aliran romantisme, simbolisme, ekspresionisme,
mistisisme, dan surealisme. Sedangkan yang termasuk ke dalam aliran materialisme ialah
aliran realisme, naturalisme, impresionisme, serta determinisme. Aliran lain yang
berpandangan ke arah manusia sebagai pribadi yang unik dikenal sebagai aliran
eksistensialisme.
Aliran idealisme adalah aliran di dalam filsafat yang mengemukakan bahwa dunia
ide,dunia cita-cita, dunia harapan adalah dunia utama yang dituju dalam pemikiran
manusia. Dalam dunia sastra, idealisme berarti aliran yang menggambarkan dunia yang
dicita-citakan, dunia yang diangan-angankan, dan dunia harapan yang masih abstrak
yang jauh jangka waktu pencapaiannya. Di dalamnya digambarkan keindahan hidup yang
ideal, yang menyenangkan, penuh kedamaian, kebahagiaan, ketenteraman, adil makmur
dan segala sesuatu yang menggambarkan dunia harapan yang sesuai dengan tuntutan
batin yang menyenangkan yang tidak lagi adanya keganasan, kecemasan, kemiskinan,
penindasan, ketidakadilan, keterbelakangan, yang menyusahkan dan menyengsarakan
batin. Sastrawan Indonesia yang dikenal sebagai seorang yang idealis baik di dalam novel
maupun puisinya ialah Sutan Takdir Alisyahbana.
Aliran romantisme ini menekankan kepada ungkapan perasaan sebagai dasar perwujudan
pemikiran pengarang sehingga pembaca tersentuh emosinya setelah membaca ungkapan
perasaannya. Untuk mewujudkan pemikirannya, pengarang menggunakan bentuk
pengungkapan yang seindah-indahnya dan sesempurna-sempurnanya. Aliran romantisme
biasanya dikaitkan dengan masalah cinta karena masalah cinta memang membangkitkan
emosi. Tetapi anggapan demikian tidaklah selamanya benar.
Simbolisme adalah aliran kesusastraan yang penyajian tokoh-tokohnya bukan manusia
melainkan binatang, atau benda-benda lainnya seperti tumbuh-tumbuhan yang
disimbolkan sebagai perilaku manusia. Binatang-binatang atau tumbuh-tumbuhan
diperlakukan sebagai manusia yang dapat bertindak, berbicara, berkomunikasi, berpikir,
berpendapat sebagaimana halnya manusia. Kehadiran karya sastra yang beraliran
simbolisme ini biasanya ditentukan oleh situasi yang tidak mendukung pencerita atau
pengarang berbicara. Pada masyarakat lama, misalnya di mana kebebasan berbicara
dibatasi oleh aturan etika moral yang mengikat kebersamaan dalam kelompok
masyarakat, pandangan dan pendapat mereka disalurkan melalui bentuk-bentuk
peribahasa atau fabel.
Aliran ekspresionisme adalah aliran dalam karya seni, yang mementingkan curahan batin
atau curahan jiwa dan tidak mementingkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian
yang nyata. Ekspresi batin yang keras dan meledak-ledak. biasa dianggap sebagai
pernyataan atau sikap pengarang. Aliran ini mula-mula berkembang di Jerman sebelum
Perang Dunia I, Pengarang Indonesia yang dianggap ekspresionis ialah Chairil Anwar.
Mistisisme adalah aliran dalam kesusastraan yang mengacu pada pemikiran mistik, yaitu
pemikiran yang berdasarkan kepercayaan kepada Zat Tuhan Yang Maha Esa, yang
meliputi segala hal di alam ini. Karya sastra yang beraliran mistisisme ini memperlihatkan
karya yang mencari penyatuan diri dengan Zat Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan
Semesta Alam. Pada masa kesusastraan Klasik dikenal Raja Ali Haji dengan Gurindam
Dua Belas-nya yang sarat dengan ajaran mistik. Pada karya-karya sastra sekarang ini
yang memperlihatkan aliran mistik, misalnya Abdul Hadi W.M., Danarto, dan Rifai Ali.
Surealisme adalah aliran di dalam kesusastraan yang banyak melukiskan kehidupan dan
pembicaraan alam bawah sadar, alam mimpi. Segala peristiwa yang dilukiskan terjadi
dalam waktu yang bersamaan dan serentak. Aliran ini dipengaruhi oleh Sigmund Freud
(1856-1939) ahli psikiatri Austria yang dikenal dengan psikoanalisisnya terhadap gejala
histeria yang dialami manusia. Dia berpendapat bahwa gejala histeria traumatik yang
dialami seseorang dapat disembuhkan melalui analisis kejiwaan yang dilakukan dengan
kondisi kesadaran pasien, bukan dengan cara menghipnotis sebagaimana yang dilakukan
oleh rekannya Breuer. Menurut Freud emosi yang terpendam itu bersifat seksual.
Perbuatan manusia digerakkan oleh libido, nafsu seksual yang asli. Dengan menggali
bawah sadar manusia, ia akan dapat dikembalikan kepada kondisinya semula.
Realisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra
Realisme adalah aliran dalam karya sastra yang berusaha melukiskan suatu objek seperti
apa adanya Pengarang berperan secara objektif. Dalam keobjektifanlah ia melihat
keindahan objek yang dibidiknya dan dihasilkan di dalam karya sastra. Pengarang tidak
memasukkan ide, pikiran, tanggapan dalam menghadapi objeknya. Gustaf Flaubert
seorang pengarang realisme Perancis mengemukakan bahwa objektivitas pengarang
sangat diperlukan dalam menghasilkan karyanya. Objek yang dibidik pengarang sebagai
objek ceritanya tidak hanya manusia dengan beragam karakternya, ia juga dapat berupa
binatang, alam, tumbuh-tumbuhan, dan objek lainnya yang berkesan bagi pengarang
sebagai sumber inspirasinya.
Impresionisme berarti aliran dalam bidang seni sastra, seni lukis, seni musik yang lebih
mengutamakan kesan tentang suatu objek yang diamati dari pada wujud objek itu sendiri.
Di bidang seni lukis, aliran ini bermula di Perancis pada akhir abad ke-l9.. Di dalam seni
sastra aliran impresionisme tidak berbeda dengan aliran realisme, hanya pada
impresionisme yang dipentingkan adalah kesan yang diperoleh tentang objek yang diamati
penulis. Selanjutnya, kesan awal yang diperoleh pengarang diolah dan dideskripsikan
menjadi visi pengarang yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
Karya sastra yang beraliran impresionisme pada umumnya terdapat pada masa angkatan
Pujangga Baru, masa Jepang, yang pada masa itu kebebasan berekspresi tentang cita-cita,
harapan, ide belum dapat disalurkan secara terbuka. Semua idealisme disalurkan melalui
bentuk yang halus yang maknanya terselubung.
Pengarang Indonesia yang karyanya bersifat impresif antara lain ialah Sanusi Pane,
dengan puisi-puisinya Candi, Teratai, Sungai, Abdul Hadi W.M., dan W.S Rendra.
Aliran naturalisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa fenomena alam yang nyata
ini terjadi karena kekuatan alam itu sendiri yang berinteraksi sesamanya. Kebenaran
penciptaan alam ini bersumber pada kekuatan alam (natura). Di dalam seni lukis aliran
naturalisme ini dimaksudkan sebagai karya seni yang menampilkan keadaan alam apa
adanya, berdasarkan faktor perspektif, proporsi sinar, dan bayangan. Di dalam karya
sastra aliran naturalisme adalah aliran yang juga menampilkan peristiwa sebagaimana
adanya. Karena itu ia tidak jauh berbeda dengan realisme. Hanya saja, kalau realisme
menampilkan objek apa adanya yang mengarah kepada kesan positif, kesan yang
menyenangkan, sedangkan naturalisme sebaliknya.
Dalam kesusastraan Barat, yang dikenal sebagai tokoh naturalis ialah Emil Zola (1840-
1902) pengarang Perancis. Dalam karyanya gambaran kemesuman, pornografi
digambarkan apa adanya. Aliran seni untuk seni (l’art pour art’) melatarbelakangi
pandangannya dalam berkarya. Di Indonesia pengarang yang karyanya cenderung
beraliran naturalisme adalah Armijn Pane dengan novel Belenggu-nya, Motinggo Busye
pada awal-awal novelnya tahun 60-an dan 70-an bahkan memperlihatkan novel yang
dikategorikan pornografis. Novel Saman (l998) karya Ayu Utami juga memperlihatkan
kecenderungan ke arah naturalis.
Determinisme ialah aliran dalam kesusastraan yang merupakan cabang dari naturalisme
yang menekankan kepada takdir sebagai bagian dari kehidupan manusia yang ditentukan
oleh unsur biologis dan lingkungan. Takdir yang dialami manusia bukanlah takdir yang
ditentukan oleh yang Mahakuasa melainkan takdir yang datang menimpa nasib seseorang
karena faktor keturunan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Eksistensialisme dalam Karya Sastra
Di samping aliran-aliran yang telah dibicarakan sebelumnya, terdapat pula aliran
kesusastraan yang berkembang akhir-akhir ini, yaitu aliran eksistensialisme. Aliran ini
adalah aliran di dalam filsafat yang muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap dikotomi
aliran idealisme dan aliran materialisme dalam memaknai kehidupan ini. Aliran idealisme
yang hanya mementingkan ide sebagai sumber kebenaran kehidupan dan materialisme
yang menganggap materi sebagai sumber kebenaran kehidupan, mengabaikan manusia
sebagai makhluk hidup yang mempunyai keberadaan sendiri yang tidak sama dengan
makhluk lainnya. Idealisme melihat manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai
kesadaran, sedangkan materialisme melihat manusia hanya sebagai objek. Materialisme
lupa bahwa sesuatu di dunia ini disebut objek karena adanya subjek. Eksistensialisme
ingin mencari jalan ke luar dari kedua pemikiran yang dianggap ekstrem itu yang
berpikiran bahwa manusia di samping ia sebagai subjek ia pun juga sekaligus sebagai
objek dalam kehidupan ini (Ahmad Tafsir,1994 hal 193).
Kata eksistensi berasal dari kata exist, bahasa Latin yang diturunkan dari kata ex yang
berarti ke luar dan sistere berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti berdiri dengan ke luar
dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam bahasa Jerman dikenal dengan dasei. Dengan ia
ke luar dari dirinya, manusia menyadari keberadaan dirinya, ia berada sebagai aku atau
sebagai pribadi yang menghadapi dunia dan mengerti apa yang dihadapinya dan
bagaimana menghadapinya. Dalam menyadari keberadaannya, manusia selalu
memperbaiki, atau membangun dirinya, ia tidak pernah selesai dalam membangun
dirinya.
Filsuf yang pertama mengemukakan eksistensi manusia ialah Soren Aabye Kierkegaard
(1813-1855) dari Denmark, kemudian Jean Paul Satre (1905-1980) filsuf Perancis yang
menyebabkan eksistensialisme menjadi terkenal. Menurut Satre karena manusia
menyadari bahwa dia ada, yang berarti manusia menyadari pula bahwa ia menghadapi
masa depan. Karenanya manusia sebagai individu mempunyai tanggung jawab terhadap
masa depan dirinya sendiri dan tanggung jawab terhadap manusia secara keseluruhan.
Akibatnya, orang eksistensialisme berpendapat bahwa salah satu watak keberadaan
manusia adalah rasa takut yang datang dari kesadaran tentang wujudnya di dunia ini.
Sebagai manusia yang mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap
manusia lainnya di dunia ini, mereka bebas menentukan, bebas memutuskan dan sendiri
pula memikul akibat keputusannya tanpa ada orang lain atau sesuatu yang bersamanya.
Dari konsepnya ini timbul pemikiran bahwa nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri
dengan tidak bantuan sedikit pun dari yang lain. Akibatnya, manusia selalu hidup dalam
rasa sunyi, cemas, putus asa, dan takut serta selalu dipenuhi bayangan harapan yang tak
pernah terwujud dan berakhir.
Karena dasar eksistensialisme ini adalah ide tentang keberadaan manusia, maka aliran ini
tidak mementingkan gaya bahasa yang khas yang mencerminkan aliran tertentu,
melainkan menekankan kepada pandangan pengarang terhadap kehidupan dan
keberadaan manusia. Dalam perkembangannya, aliran eksistensialisme berkembang
menjadi dua jalur, yaitu eksistensialisme yang ateistis dan eksistensialisme yang theistis.
Eksistensialisme yang ateistis dikembangkan oleh Jean Paul Sartre dan eksistensialisme
yang theistis dikembangkan oleh Gabriel Marcel. Dia menyatakan dengan tegas bahwa
semua eksistensi adalah kenyataan karena adanya Tuhan. Manusia tidak mungkin ada
kalau tidak ada Tuhan yang menciptakannya, dan konkretisasi alam dunia ini merupakan
bukti nyata dari keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, keberadaan
manusia di alam ini harus kembali ke jalan Tuhan dan mewujudkan pujian kepada
Tuhan.
Di dalam kesusastraan Indonesia, eksistensialisme ini terlihat pada novel-novel karya Iwan
Simatupang, seperti Ziarah, Merahnya Merah, dan Kering, Dalam karyanya, Iwan
Simatupang memperlihatkan manusia sebagai tamu di dunia ini. Sebagai tamu, ia datang,
dan pergi lagi. Manusia gelisah, tidak punya rumah, selalu berada dalam perjalanan dan
berlangitkan relativisme-relativisme.
DIarsipkan di bawah: Bahasa
« Teori-Teori Sastra
Posted on Desember 8, 2009 by Pakde sofa

Writing
Every sentence must have a subject and a verb and must express a complete thought. A
word group that lacks a subject or a verb and that does not express a complete thought is a
fragment. There are four most common types of fragments that people write. They are (1)
dependent-word fragments, (2) -ing and to fragments, (3) added-detail fragments, and (4)
missing-subject fragment
Once you understand the specific kind or kinds of fragments that you might write, you
should be able to eliminate them from your writing.
Run-On, Shift and Mixed Constructions
A run-on is two complete thoughts that are run together with no adequate sign given to
mark the break between them. Two types of run-ons are fused sentences and comma
splices. Some run-on sentences have no punctuation at all to mark the break between the
thoughts. Such run-ons are known as fused sentences. In other run-on sentences, known as
comma splices, a comma is used to connect or splice together two complete thoughts.
Four common methods of correcting a run-on sentence are:
1. Use a period and a capital letter to separate the two complete thoughts.
2. Use a comma plus a joining word (and, but, for, or, nor, so, yet) to connect the two
complete thoughts.
3. Use a semicolon to connect the two complete thoughts.
4. Use subordination.
Readers expect a logical consistency in the person and a number of subjects, in the forms of
verbs, and in the way quotations are reproduced within a sentence. A change in any of
these elements is called a shift. Often a writer’s meaning does require a shift, such as a
change of subject from third person to first person or from singular to plural.
Mixed construction is a sentence that begins one way and then takes a sudden, unexpected
turn, so that readers are unsure what it means. One kind of mixed construction uses a
grammatically unacceptable element as a subject or predicate. Another kind of mixed
construction links subject and verb in an illogical way.
Modifiers
Word order problems in writing often involve modifiers adjectives, adverbs, and phrases
or clauses used as adjectives and adverbs. If a modifier’s placement within a sentence does
not make clear what it modifies, readers may misinterpret the sentence. Modifiers that
seem to modify the wrong thing are called misplaced. Those that are ambiguous about
what they modify are called squinting. Those that have no element to modify sensibly are
called dangling. Finally, modifiers that come between sentence elements that should not be
separated are called disruptive.
Pronoun Reference
Pronouns serve as stand-ins for nouns, noun phrases, or other pronouns. Unless reader can
understand what word a pronoun such `she’ refers to, they may find themselves asking,
“She who?” Pronouns are words that take place of nouns (persons, places, or things). In
fact, the word pronoun means for a noun. Pronouns are shortcuts that keep you from
unnecessarily repeating words in writing.
The word for which a pronoun substitutes is called its antecedent (from Latin roots
meaning `to go before’). Although antecedents normally appear before pronouns that refer
to them, sometimes they follow the pronouns. In either case, there must be no conflicting
choices to confuse readers.
To clarify pronoun reference, edit your sentences using the following strategies:
Make sure a pronoun clearly refers to a single antecedent.
Place a pronoun close to its antecedent.
Provide an explicit antecedent.
Use it, they, and you appropriately.
Avoid overusing it.
Choose who, which, or that according to the antecedent.
Eliminate unneeded pronouns.
Coordination, Subordination, and Parallelism
An effective sentence means a clear, coherent sentence that produces precisely the reader’s
response you want. An effective sentence consistently clarifies the purpose of writing. In
order to construct effective sentences, basically, we should know kinds of sentences,
coordination, subordination, and parallelism.
A compound sentence is two or more independent clauses joined together; each clause is of
equal importance and could stand alone. It is the coordination. A complex sentence
contains one independent clause and one (or more) dependent clause. It is the
subordination. In order to make the ideas in your sentences clear and understandable,
words, phrases, and clauses should have parallelism-that is, the sentence structures should
be grammatically balanced. Parallelism is a paragraph means using the same grammatical
structures in several sentences to establish coherence.
Conciseness Versus Wordiness
Almost all writing suffers from wordiness – the tendency to use more words than
necessary. Wordiness is frequently the result of using one or more of the following: 1)
deadword construction, 2) redundancies, and 3) pretentiousness. If you can avoid
wordiness, you might have conciseness. You have also to know the sentence problems and
revise them. There are four major sentence structure problems:
A fragment is only a part of a sentence. You can fix it most easily by attaching it to an
independent clause.
A run-on or comma splice sentence is two independent clauses written without
punctuation. To fix it, separate the clauses with a period or semicolon.
Choppy sentences result from too many simple sentences in one paragraph. To fix this
problem, join some of the sentences to make compound and complex sentences.
A stringy sentence results from too many clauses in one sentence. Divide the stringy
sentence into two or three compound or complex sentences.
In other-shorter-words , to attract and hold your readers’ attention, to communicate
clearly and quickly, make your sentences as informative, straightforward, specific, and
concise as possible. God writing demands clarity and conciseness.
Variety and Emphasis
Good writing must be clear, concise, lively, forceful, and interesting. In order to have such
kind of writing, the following practical suggestions are useful for you:
use specific, descriptive verbs;
use specific, precise modifiers that help the reader see, hear, or feel what you are
describing;
emphasize people when possible;
vary your sentence style;
avoid overuse of any one kind of construction in the same sentence;
don’t change your point of view between or within sentences.
Furthermore, you need to give emphasis on some words and phrases in your sentence.
Three ways to vary emphasis are by 1) word order, 2) coordination, and 3) subordination.
Appropriate Word Choice
Slang is the comfortable, in-group language of neighborhood friends, coworkers,
teammates, or of any group to which we feel we belong. We often use slang expressions
when we talk because they are so vivid and colorful. However, slang is usually out of place
in formal writing. Clichés are expressions that have been worn out through constant use.
Pretentious Words are fancy and elevated words. People use artificial and stilted language
that more often obscures their meaning than communicates it clearly
Sexiest and Biased Language
Using generalizations about a group of people to describe, interpret, or predict the
behavior or characteristics of an individual is particularly risky. Careless generalizations,
especially those based on race, ethnicity, gender, cultural background, age, physical
characteristics, or lifestyle, are called stereotypes. People often speak of themselves in
terms of the racial, gender, political, professional, or ethnic groups to which they belong.
But labels inevitably focus on a single feature and have the potential to offend those who do
not want to be characterized in one particular way and some labels are considered
derogatory. If you use words that embody sexual stereotypes, you run the risk of alienating
half your potential audience (or more). Several kinds of gender bias arise from habits of
thought and language.
Exact Word Choice
The writer’s first concern in selecting a word is to be sure that its denotation, or dictionary
meaning, is appropriate for the sentence at hand. Once you are satisfied that you are using
a word correctly according to its denotation, consider its connotations-its implications,
associations, and nuances of meaning. Specific details, illustrations, and observations are
more vivid and more memorable than general remarks. Successful writers shuttle back and
forth between the general and specific. Like general words, abstract words are broad. They
name categories or ideas. Concrete expressions provide details that give readers a chance to
see, hear, and touch-and in this way to understand how an idea or category is made real.
Just as with general and specific language, you should seek a balance between the abstract
and concrete.
End Punctuation
A period is used to mark the end of a statement or a mild command, in relation to end
quotation mark and parentheses, and with abbreviations. The question mark is used after a
direct question, after a quoted question with a statement, and within parentheses to
indicate that the accuracy of information is in doubt. Exclamation point is used to mark an
emphatic statement or command, please mark mild exclamation with periods or comma.
The Comma, Semicolon, And Colon
Comma is used before coordinating conjunction joining independent clauses, after
introductory elements, to set off nonrestrictive modifier and appositives, between items in a
series and between coordinate adjectives, to set off parenthetical expressions and elements
of contrast, to set off interjections, tag sentences, and direct address, with quotation, and
many other uses. Semicolon is used between independent clauses and in a series containing
commas. Colon is used to introduce a list, to introduce a long quotation, and to introduce
an explanation.
The Apostrophe, Quotation Mark, and Other Punctuation
The apostrophe, used primarily to form the possessive of a noun or pronoun, also indicates
certain unusual plural forms and shows where a letter has been dropped in contraction.
Quotation marks are like shoes: use them in pairs. In written American English, there are
two types of quotation marks: double quotation marks (” “) which identify quotations,
titles, and so on, and single quotation marks (‘ ‘) which identify quotations with in
quotations (or titles within titles). In print and in handwriting, a distinction is made
between an opening quotation mark (“) and a closing quotation mark (“), Most typewriters
and personal computers, however; use the same quotation mark or marks at both ends of a
quotation. Parentheses enclose elements that would otherwise interrupt a sentence:
explanations, examples, asides, and supplementary information. They are also used to set
off cross-references, citations, and numbers in a list. Parentheses can be distracting, so use
them sparingly. Brackets are used to enclose words that are added to or changed within
direct quotations. They can also enclose comments about quotations and about material
that is already inside parentheses. Use a slash, preceded and followed by a space, to mark
the end of a line of poetry incorporated in text.
Capitals, Abbreviations, and Numbers
Capital letters are used with: a) the first word in a sentence or direct quotation, b) names of
persons and the word I, c) names of particular places, d) names of days of the week,
months, and holidays, e) names of commercial products, f) names of organizations such as
religious and political groups, associations, companies, unions, and clubs, and g) titles of
books, magazines, newspapers, articles, stories, poems, films, television shows, songs,
papers that you write, and the like.
The following kinds of information can be abbreviated in most writing situations: a) titles
and degrees, b) numbers, symbols, and amounts, c) addresses, d) common Latin terms, and
e) initials and acronyms.
The following kind s of information are useful for using numbers: a) spell out numbers that
can be expressed in one or two words; otherwise, use numerals, b) be consistent when you
use a series of numbers, and c) use numerals for dates, times, addresses, percentages, and
parts of a book.
Common Uses of Italics
As you edit, check for your use of italics with the following:
- Titles of long published works, musical works, and works of art
- Specific words you wish to give special emphasis
- Words, numerals, and letters used as words
- Words from languages other than English
- Names of trains, ships, and other specific vehicles
Word Divisions
Hyphen are commonly used for the following purposes:
Use hyphen to make compound words.
Use hyphen to divide a word at the end of a line.
Use hyphen to add prefixes and suffixes.
Use hyphen to avoid misreading.
Use hyphen with numbers, fractions, and units of measure.
An Introduction To Paragraph
To write effectively in English, you must conform to the accepted patterns of organization
and you should master master some elements of good writing, namely subject, purpose,
and audience. A paragraph is a group of sentences that develop one subject logically. The
number of sentences in the paragraph depends on its subjects.
A good paragraph should fulfill the following rules: a) indent the first word of a new
paragraph, b) begin each sentence with a capital letter, c) end each sentence with a period,
d) do not start each new sentece on a new line, and e) place the title of the paragraph in the
center position.
Components of A Paragraph
A paragraph is a small unit of writing that contains information about one idea. A good
paragraph should have a topic sentence, several related supporting details, and a
concluding sentence. A good topic sentence should contain a topic, a main idea, the
controlling idea(s). Supporting ideas should be relevant to the general subject being
developed by the topic sentence. They should be specific enough to describe and contain
specific facts and/or examples. Concluding sentence should review the topic sentence and
give some final thought about the subject.
Composing a Good Paragraph
have discussed that each sentence in a paragraph should relate to the topic and develop the
controlling idea. If a sentence does not relate to or develop that that idea, it is irrelevant
and should be omitted. A paragraph that has sentences that do not relate to or discuss the
controlling idea lacks unity. Another element that a paragraph needs is coherence. A
coherent paragraph contains sentences that are logically arranged and flow smoothly.
There are various ways to order the sentences, depending on the purposes: from the least
important to the most important and chronological order.
Introduction to Narrative Paragraph
There are three main types of paragraphs in English: narrative, descriptive, and
expository. A narrative paragraph tells a story. When you write a story, it is very
important to write the sequence of event in the right time order. The topic sentence should
tell the time and place of the story. Then, the rest of the sentences should tell what
happened in the correct time order. This is known as chronological order. Chronological
order, or time, is used to write about past events.
Coherent is one of the most important elements of a good paragraph. To make your
paragraph coherent, arrange the supporting sentence in chronological order, the order in
which the events or pieces of information occur. Words such as just last week, last night,
and a few minutes ago signal time and provide a smooth transition to the next sentence or
thought.
In addition to a topic sentence and supporting points, a good paragraph has a concluding
sentence. The concluding sentence restates or returns to the main idea in the topic sentence.
Your concluding sentence is your final statement. It should logically end the paragraph by
supporting the point you made in the topic sentence. It should never undermine that point
or stray from the point.
Writing a Narrative Paragraph
There are many things your need to consider when you write effective narration. They are
know your purpose, maintain a consistent point of view, follow a logical time sequence, use
a variety of sentence lengths, use parallel structure, use quoted (direct) speech, and
organize your narrative with a clear topic and controlling idea, supporting ideas, using a
chronological sequence. Narration can be developed through prewriting and revising.
Moreover, there are two types of narrative paragraphs; present narration and past
narration
Describing A Person
You can describe a person’s appearance in many ways. You can describe the person’s
clothes, manner of walking, color and style of hair, facial appearance, body shape, and
expression. You can also describe the person’s way of talking. Just what you select again
depends on the topic and purpose. When you describe someone, you give your readers a
picture in words. To make this “word picture” as vivid and real as possible, you must
observe and record specific details that appeal to your readers’ senses (sight, hearing, taste,
smell and touch).
Describing a Place
When you describe a place, you use space order to explain where things are located. The
easiest way to do this is to choose a starting point. Then you describe where things are
located in relation to your starting point. Decide on a logical method to follow. The
arrangement of the details in a descriptive paragraph depends on the subject. The selection
and the description of details depend on the describer’s purpose. When painting a picture
with words, you can begin from left to right, from right to left, from top to bottom or from
bottom to top.
Describing Things
The subject of a descriptive paragraph must be a limited object with a small number of
important parts-usually something that can be held in the hand. In the topic sentence of a
descriptive paragraph, the general idea is the object, and the specific parts are the most
important parts of the object. The specific parts are written down in the order they will be
developed. The subject development of a descriptive paragraph details each part, shows
how that part is related to the other parts, and explains the use of the part
Process and Procedure
SA Process is a continuous series of steps that produces a result. A directional process
analysis explain step-by-step how to the process. In the topic sentence of process
paragraph, the general idea is the process, and the specific parts are short description of
each step.
Comparison and Contrast
Comparison and contrast paragraphs are the ones that tell the reader about the things.
Comparison paragraphs are about the similarities of two things, while contrast paragraphs
are about the differences of two things. There are two common methods, or formats, of
development in a comparison or contrast paper. One format presents the details one side at
a time. The other presents the details point by point
Cause and Effect
Cause and effect Paragraphs can be developed into two ways: cause analysis and effect
analysis. In a “cause” paragraph, the writer usually wants to discover the reason why a
situation exists or the reasons why a change has occurred in a situation. An effect is the
result of a cause. An effect analysis paragraph explains the main effects that result from a
cause. In effect analysis, the writer simply answers the question `What are the effects of
this cause? ‘
Sumber Writing 1 Karya Refnaldi, Jufrizal, Jufri