Anda di halaman 1dari 16

Tugas KMB 4

Gangguan tidur pada pasien gagal jantung:


Sebuah Systematical Review

DISUSUN OLEH:
SUKHRI HERIANTO RITONGA
127046001

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke Hadirat Allah SWT karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini systematical review
ini. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini banyak kelemahan serta berkat
bantuan dan tuntunan Allah SWT dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca,
atas kritik dan sarannya, penulis mengucapkan terimakasih.

Medan, 17 Mei 2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 3
BAB I

PENDAHULUAN.............................................................................................. 4

A. LATAR BELAKANG................................................................................................. 4
B. TUJUAN PENULISAN.............................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................. 6
A. GAMBARAN PENELITIAN 1................................................................................. 6
B. GAMBARAN PENELITIAN 2................................................................................. 9
C. GAMBARAN PENELITIAN 3................................................................................. 11
D. IMPLIKASI PENELITIAN...................................................................................... 13
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 15
A. KESIMPULAN........................................................................................................... 15
B. SARAN......................................................................................................................... 15

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang
Tidur merupakan kebutuhan fisik yang mendasar bagi manusia. Sewaktu tidur,
terjadi penurunan laju metabolisme tubuh dan revitalisasi fungsi fisik dan psikologis.
Sehingga kebutuhan tidur yang terpenuhi dengan baik, dapat meningkatkan status
kesehatan seseorang.
Gangguan tidur merupakan masalah yang terjadi ketika kebutuhan tidur yang
optimal tidak terpenuhi lagi. Gangguan tidur ini dapat terjadi baik akibat pola hidup
yang tidak sehat, gangguan emosi atau gangguan fisik. Gangguan tidur akibat
gangguan fisik sangat sering terjadi berbarengan dengan kondisi penyakit tersebut.
Salah satunya adalah pada penderita gagal jantung.
Gangguan tidur pada penderita gagal jantung merupakan masalah umum yang
sering kali kali terjadi. Menurut Zambroski dkk (2005) dalam Wang (2010) ada 5
gejala umum yang terjadi pada penderita gagal jantung yaitu dispnea, kekurangan
energi, mulut kering, tidur siang hari, kesulitan tidur. Diantara 5 gejala di atas,
kesulitan tidur merupakan yang paling umum terjadi. Selain itu menurut Dumbar
(2002) dalam Wong (2010) gangguan tidur terjadi pada pasien dengan gagal jantung
dan sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka yaitu kualitas hidup.
Kualitas hidup yang terganggu jelas merupakan akibat dari gangguan tidur ini.
Dimana aktifitas yang semestinya lancar untuk dilaksanakan akhirnya terganggu dan
tidak maksimal dalam melaksanakannya. Menurut Brostrom (2001) gangguan tidur
ini mengakibatkan kelemahan (fatigue), kehilangan konsentrasi dan akhirnya
mengakibatkan kualitas hidup yang buruk.

Kualitas hidup yang optimal pada penderita gagal jantung salah satunya
tergantung terhadap kualitas tidur yang baik. Jadi peningkatan kualitas tidur yang
baik, boleh jadi merupakan salah satu cara yang dapat diperhatikan dalam menangani
pasien gagal jatung dengan masalah gangguan tidur ini.
Kualitas tidur dapat didefenisikan sebagai persepsi kepuasaan seseorang
terhadap tidur itu sendiri (Wang, 2010). Kepuasan itu sendiri dapat dievaluasi secara
subjektif berdasarkan perasaan seseorang terkait tidur mereka dan secara objektik
terkait jumlah waktu tidur yang diperoleh seseorang. Sehingga intervensi yang tepat
dapat diarahkan berdasarkan hal ini.
Maka, berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk memahami
lebih lanjut tentang gangguan tidur dan segala aspek yang terkandung di dalamnya
pada pasien gagal jantung. Pemahaman ini dilakukan dengan cara mengeksplorasi
jurnal-jurnal ilmiah sebagai sumber referensi dalam melengkapi systemtical review
ini.
B.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk memperoleh pemahaman konep
yang lebih luas dan dalam terkait dengan gangguan tidur pada pasien dengan gagal
jantung.
Adapun tujuan khusus dari penulisan ini adalah:
1. Menggambarkan berbagai penelitian yang sesuai dengan kriteria.
2. Menggambarkan implikasi penelitian terhadap ilmu dan praktik keperawatan..

BAB II
PEMBAHASAN
Untuk membuat makalah systematical review ini, penulis mengumpulkan berbagai
macam jurnal dan penelitian secara online seperti EBSCO, ProQuest, CINALH. Ada 3 buah
jurnal dan penelitian yang diangkat dalam makalah ini yang membahas tentang masalah
gangguan tidur pada pasien dengan gagal jantung.
A.

Gambaran penelitian 1
Penelitian pertama yang dibahas berjudul Factors influencing heart failure
patients sleep quality. Penelitian ini dilaksanakan oleh Tsae-Jyy Wang, Shu-Chiung
Lee, Shiow-Luan Tsay dan Heng-Hsin Tung.
1. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas tidur pasien dengan gagal jantung
2. Metode penelitian
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah predictive
correlational. Metode sampling yang digunakan adalah convenient sampling
dengan jumlah 101 pasien dengan gagal jantung yang direkrut dari klinik
kardiologi di Taipe.
Kriteria inklusi sampel: umur 55 tahun atau lebih, Didiagnosis gagal
jantung. Kriteria eksklusi sampel: hospitalisasi sebulan belakangan dengan
masalah jantung, menderita kanker, tinggal di tempat perawatan jangka
panjang.
Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner untuk mengumpulkan
data demografi, karakteristik penyakit, dan gaya hidup. Perceived Health

Scale, Physical Activity Scale for the Elderly (PASE), Short-Form Geriatric
Depression Scale (SF-GDS), dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).
Kuesioner dibaca oleh masing-masing partisipan dan diberikan penjelasan
seperlunya. Partisipan menjawab masing-masing pertanyaan tanpa asisten,
3. Hasil penelitian
a. Data demografi: Pada penelitian ini, 101 partisipan dengan gagal
jantung didapatkan dapat demografi yaitu: 77,2 % adalah laki-laki,
menikah (76,2%), rata-rata usia adalah 74 tahun, rata-rata BMI adalah
24,3. Sebagian besar (94,1%) tidak merokok, tidak minum teh
(60,4%), tidak minum kopi (87,1%), tidak minum alkohol (82,2%).
Sebagian besar melakukan tidur singkat pada siang hari (74,3%),
latihan teratur (67,3%). Rata-rata level aktifitas diukur dengan PASE
72,5, berjalan merupakan aktifitas yang umum (91,1%).
Rata-rata durasi didiagnosa dengan gagal jantung 36,8 bulan, rata-rata
hospitalisasi 1,2. Mayoritas (63,4%) fungsi jantung NYHA class II.
Rata-rata ejection fraction 37,0. Rata-rata 3,8 punya penyakit penyerta.
Penyakit penyerta yang paling umum adalah hipertensi 66,3%,CHD
57,4% dan hiperlipidemia 56,4%. Rata-rata pasien dengan medikasi
6,7. Diantara yang mendapat medikasi, antiplatelet 79,2% dan diuretik
73,3%, Rata-rata perceived health scale 8,1. Rata-rata depresi 5,1.
b. Qualitas tidur
Rata-rata kualitas tidur adalah 10,8. 82 partisipan dengan kualitas tidur
buruk, 26 orang kualitas tidurnya buruk dan 5 orang sangat buruk. 32
orang tidur kurang dari 5 jam, 25 orang tidur diantar 5-5,9 jam. 14
Orang butuh 31-60 menit untuk tidur, 15 orang butuh lebih dari 1 jam
7

untuk tidur. 1/3 partisipan tidak bisa tidur dalam 30 menit lebih dari 3
kali seminggu, dan 28 orang 2 kali seminggu. Alasan utama yang
menginterupsi tidur adalah untuk kencing (79 orang) dan tidak bisa
kembali tidur lagi sepanjang malam ada 38 orang.
Terkait masalah efisiensi tidur, hanya 26 orang yang efisiensi tidurnya
sama atau lebih dari 85 %, 34 orang kurang dari 65 %. Mengenai
aktifitas pada siang hari, 67 orang melaporkan paling sedikit sekali
dalam seminggu mereka tidak bisa mempertahankan kesigapan
sepanjang hari. Sebagai tambahan, 86 orang melaporkan
c. Hubungan antara data demografi, gaya hidup, karakteristik penyakit
dan kualitas tidur.
Kualitas tidur memiliki hubungan positif dengan NYHA function class,
jumlah hospitalisasi, jumlah penyakit penyerta, jumlah medikasi, dan
skor depresi. Maksudnya adalah pasien yang memiliki hospitalisasi
yang sering, NYHA functional class yang paling buruk, jumlah
penyakit penyerta terbanyak, penggunaan medikasi terbanyak dan skor
depresi tertinggi memiliki kualitas tidur yang paling buruk.
Kualitas tidur memiliki hubungan negatif dengan persepsi diri terhadap
kesehatan dan BMI. Jadi pasien yang memiliki persepsi kesehatan
yang baik dan BMI tertinggi memiliki kualitas tidur yang lebih baik.
d. Prediksi kualitas tidur
Pasien dengan gagal jantung yang perempuan, yang punya persepsi
kesehatan yang buruk, yang punya penyakit penyerta terbanyak dan
status depresi memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kualitas tidur

yang buruk dibandingkan yang tidak. Diantara faktor tersebut, persepsi


kesehatan yang paling bervariasi pada kualitas tidur.
B.

Gambaran penelitian 2
Penelitian kedua yang dibahas berjudul Patients with congestive heart failure and their
conceptions of their sleep situation. Penelitian ini dilaksanakan oleh Anders Brostrom,
Anna Stromberg, Ulf Dahlstrom dan Bengt Fridlund.
1. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan berdasarkan perspektif
keperawatan, bagaimana pasien dengan gagal jantung memandang situasi tidur
mereka.
2. Metode penelitian
Desain

penelitian

ini

adalah

desain

kualitatif

dengan

pendekatan

phenomenografi. Pendekatan ini digunakan untuk menegakkan bagaimana


pasien dengan gagal jantung mengkonsep situasi tidur mereka.
Partisipan pada penelitian ada 20 orang yang diseleksi dari ruang rawat
medikal, ruang rawat jantung dan klinik spesialis untuk pasien gagal jantung.
Kontak yang pertama dengan partisipan dilakukan melalui surat. Partisipan
yang dilibatkan adalah yang sukarela ikut dan yang merasa tertarik. Mereka
juga diminta untuk mengisi informed consent. Satu minggu kemudian,
partisipan dikontrak melalui telepon. Untuk meningkatkan kemaksimalan
variasi sampel, sebuah strategi seleksi digunakan berdasarkan jenis kelamin,
umur, status kewarganegaraan dan status pendidikan, NYHA classification,
etiologi dan durasi menderita gagal jantung.

Wawancara dilakukan dengan cara wawancara terstruktur. Rencana struktur


wawancara disusun oleh 3 perawat, yaitu seorang kardiologist, dan seorang
peneliti tidur.
3. Hasil penelitian
Didapatkan hasil penelitian yaitu 3 kategori deskripsi, 7 kategori dan 21
subkategori.
a. Penyebab gangguan tidur.
1) Dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari, dimaksudkan dengan
bagaimana aktifitas dan masalah pada kehidupan sehari-hari
mempengaruhi tidur.
2) Dipengaruhi oleh penyakit, dimaksudkan dengan bagaimana
efek negatif penyakit mempengaruhi tidur, seperti debut of
CHF, keparahan penyakit, dan pikiran negatif terkait medikasi
3) Dipengaruhi oleh gejala dari penyakit jantung, seperti dispnu,
disritmia dan batuk
b. Akibat dari gangguan tidur
1) Efek lanjutan
Kategori

ini

dideskripsikan

bagaimana

gangguan

tidur

memberikan efek pada fisik dan emosional. Misalnya fatigue,


tidak bersemangat, kehilangan konsentrasi, gangguan pada
kemampuan maksimal.
2) Peningkatan level kebutuhan.
Kategori ini dideskripsikan kebutuhan fisik dan emosional yang
disebabkan oleh gangguan tidur. Misalnya meningkatnya
kebutuhan untuk tidur pada siang hari, peningkatan kebutuhan
10

untuk kesenyapan, dan kebutuhan untuk konseling dan


informasi.
c. Koping dengan gangguan tidur
1) Pengembangan pola hidup sehari-hari
Kategori ini maksudnya adalah pembentukan pola hidup agar
tidur dapat maksimal, seperti perubahan aktifitas rutin,
perubahan reflectif dan perubahan lingkungan.
2) Dukungan dari lingkungan psikososial
Maksudnya adalah adanya dukungan nyata dari lingkungan
psikososial seperti keluarga dan teman.
C.

Gambaran penelitian 3
Penelitian ketiga yang dibahas berjudul Self-care strategies to facilitate sleep in
patients with heart disease-a qualitative study. Penelitian ini dilaksanakan oleh Anna
Johansson, Johan Karlsson, Karin Brodje dan Ulla Edell-Gustafsson.
1. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplor dan menggambarkan
managemen diri sendiri yang digunakan pasien CAD untuk memfasilitasi
tidur.
2. Metode penelitian
Desain penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan phenomenografi.
Partisipannya adalah 9 perempuan dan 11 laki-laki dengan kriteria inklusi
penderita CAD, akan atau sudah diintervensi coronary percutaneus, intervensi
lain atau terapi farmakologi untuk mengatasi angina pectoris. Pasien diberi
informed consent secara verbal.

11

Pengumpulan data dengan interview di ruang konsultasi medical heart di


rumah sakit umum, direkam audio dan transkrip verbatim langsung dilakukan
setelah wawancara oleh peneliti pertama. Peneliti kedua dan ketiga membuat
analisis preliminary dengan diskusi berkelanjutan dengan kelompok riset.
Dialog dimulai dari pertanyaan umum tentang data demografi yang
dikombinasikan dengan pertanyaan tentang tidur, istirahat, aktifitas dan
kesehatan.
3. Hasil penelitian.
Didapatkan 2 tema dan 4 kategori pada masing-masing tema.
a. Sleep-rhythm;

dimaksudkan

dengan perilaku

self

care untuk

mempertahankan keseimbangan diantara tidur, istirahat dan aktifitas.


1) Going to bed; dimaksudkan dengan pasien yang tidak
menggunakan startegi tertentu untuk tidur. Kalau mau tidur
langsung berbaring saja. Beberapa pasien menghindari tidur
pada siang haru atau pergi tidur sudah larut agar dapat tidur
lebih panjang pada pagi harinya. Dan ada juga yang sambil
merilekskan diri dengan menonton televisi dan tidur.
2) Having a break; dimaksudkan dengan membuat jeda diantara
tidur seperti jalan-jalan sebentar terus tidur lagi.
3) Relaxation; dimaksudkan dengan meningkatkan kerileksan
pada diri paritisipan seperti duduk dan merilekskan diri
sebelum pergi tidur.
4) Relief of physical symptoms; dimaksudkan dengan mengurangi
gejala atau ketidaknyamanan, misalnya kencing dulu sebelum
tidur, menggunakan compression stocking untuk mengurangi
12

restless

leg

syndrome,

atau

berhenti

merokok

untuk

mengurangi apnu.
b. Sleep-hygiene
Sleep-hygiene dimaksudkan kepada faktor-faktor gaya hidup dan
faktor-faktor ruang tidur.
1) Sleeping position; maksudnya adalah seperti mengubah posisi
tidur sehingga dapat posisi yang nyaman.
2) Physical environment; maksudnya bagaimana pasien deal
dengan sesuatu yang ada pada lingkungan tidur yang
mengganggu tidurnya, misalnya menghentikan orang yang
mengorok, kasur yang empuk dsb.
3) Physical activity; maksudnya adalah melakukan aktifitas fisik
pada siang hari, seperti pergi ke kebun dsb
4) Pharmacological or non pharmacological procedures for sleep;
dimaksudkan adalah setelah menggunakan medikasi atau juga
misalnya minum susu dulu baru tidur.
D.

Implikasi penelitian terhadap ilmu dan praktik keperawatan


Masalah gangguan tidur merupakan masalah yang paling umum terjadi pada
pasien dengan penyakit jantung. Sehingga pemahaman secara konfrehensif terhadap
masalah gangguan tidur ini harus betul-betul dikuasai oleh perawat dan tujuan
akhirnya adalah terjadi penanganan yang efektif terhadap pasien tersebut.
Pasien dengan persepsi kesehatan yang baik, kondisi penyakit yang terkontrol
akan mendapatkan kualitas tidur yang baik. Namun, bila hal tersebut tidak terjadi
otomatis, maka peranan perawat sangat penting di dalamnya. Salah satunya melalui

13

beberapa jurnal ini dapat ditemukan intervensi yang efektif sesuai dengan penyebab
spesifik yang dirasakan pasien.
Secara umum penyebab yang menjadi terjadinya gangguan tidur ini adalah
masalah lingkungan dan masalah yang ada pada diri pasien itu sendiri. Pada
lingkungan ada 2 buah jenis yang diperhatikan, yaitu: lingkungan fisik dan
lingkungan psikososial. Lingkungan fisik termasuk ketenangan lingkungan dan
kenyamanan tempat tidur sedangkan lingkungan psikososial termasuk kehadiran
support system. Pada masalah yang ada pada diri pasien, seperti gejala penyakit dan
kondisi stress yang dialami pasien. Sehingga beberapa intervensi dapat muncul dari
kondisi spesifik penyebab terjadinya gangguan tidur.

14

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Pada makalah ini dibahas 3 buah penelitian dalam bentuk jurnal. Jurnal
pertama membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur. Jurnal
kedua membahas tentang gambaran konsep pasien gagal jantung tentang gangguan
tidur yang mereka alami. Jurnal ketiga membahas strategi self care manajemen untuk
mengatasi gangguan tidur yang mereka alami.
Penulis sengaja mengambil jurnal pertama yang membahas tentang faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas tidur terus dilanjutkan dengan gambaran pasien
itu sendiri tentang masalah tidur yang mereka alami serta ditutup dengan strategi self
care manajemen untuk mengatasi masalah tidur yang dialami oleh pasien dengan
penyakit jantung. Hal ini dilakukan agar, pemahaman yang menyeluruh dapat muncul
dan dapat menggambarkan strategi yang paling efektif untuk mengatasi gangguan
tidur ini. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa ada beberapa hal yang
menyebabkan gangguan tidur ini sehingga strateginya juga tidak bisa digeneralisasi
kepada semua gangguan tidur tanpa melihat penyebab gangguan itu sendiri.
Penanganan yang dilakukan bisa melalui modifikasi lingkungan, penanganan gejala
penyakit secara tepat atau mengatasi persepsi yang sering menimbulkan stress berat
bagi penderita.

B.

Saran
Analisis jurnal ini masih terbatas pada tiga buah jurnal saja, sehingga tentu saja akan
memiliki banyak kelemahan. Jadi melalui ini penulis menyarankan untuk:
1. Menganalisis jurnal lainnya dengan beragam desain dan beragam daerah,
sehingga variasi yang luas dapat dipahami.
15

2. Mengevaluasi efektifitas dari beberapa intervensi keperawatan yang muncul


dalam jurnal keperawatan ini pada penelitian yang lebih spesifik.

16