Anda di halaman 1dari 15

SISTEM TATA UDARA

DASAR PERHITUNGAN BEBAN PENDINGINAN


1. Jenis Beban
Dalam perhitungan beban pendinginan terhadap suatu gedung atau ruangan terdapat dua
jenis beban pendinginan, yaitu :
1.1 Beban Kalor Sensibel
1.1.1

Perhitungan Beban Kalor Sensibel di dalam Daerah Tepi Gedung


Jumlah Radiasi Matahari Melalui Jendela
Apabila sebuah jendela atau jendela-jendela dibayangi oleh gedung sebelah atau tepi
atapnya sendiri, maka tidak semua panas matahari masuk ke dalam ruangan;jadi,
jumlah radiasi matahari yang masuk ke dalam menjadi kecil. Sebaliknya, apabila
jendela ruangan berhadapan dengan benda lain yang memantulkan cahaya (misalnya
kaca jendela dari gedung sebelah atau lantai serambi rumah, dsb), maka dipandang
perlu menambahkan sebanyak 10 sampai 30 % dari radiasi matahari langsung dalam
perhitungan beban kalor, pada siang hari yang panas.
Pemasukan Tambahan Kalor ( Heat Gain ) Melalui Jendela
Ada dua macam dinding, yaitu dinding termal

tipis (memindahkan panas dengan

cepat) dan dinding termal tebal (memindahkan panas dengan lambat). Kaca jendela
adalah salah satu contoh dinding termal tipis. Banyaknya perpindahan kalor melalui
dinding termal tipis adalah:
(selisih temperatur ruangan dalam dan ruangan luar) x ( koefisien perpindahan kalor)
Beban Kalor Sensibel Karena Adanya Ventilasi
Jumlah penggatian udara dalam ventilasi dapat diperoleh dengan membagi jumlah
udara yang masuk karena adnyan gaya gesekan alamiah (misalnya angin) oleh volume
ruangan.
Beban Tansmisi Radiasi Matahari Melalui Dinding (atau Atap), Luas Dinding (atau
Atap)
Dalam hal ini luas dinding adalah luas dinding (dikurangi luas jendela); sedangkan luas

atap adalah luas bagian atap yang dikenai udara luar. Koefisien perpindahan kalor dari
dinding (atau atap) dapat dinyatakan sebagai laju perpindahankalor setiap jam
(kcal/jam) per 1 m2 luas dinding, apabila perbedaan temperatur dalam dam temperatur
luar dinding (atau atap) dapat di pertahankan 1C untuk jangka waktu yang lama,
sesuai dengan kapasitas kalor dari dinding (atau atap).
Beban Kalor Tersimpan di dalam Ruangan dengan Penyegaran Udara Tidak
Kontinu
Dalam perhitungan beban kalor dari suatu ruangan yang akan didinginkan, tetapi yang
sebelumnya mengalamai pemanasan oleh matahari , beban kalor sensibel dari ruangan
bagian tepi gedung haruslah ditambah dengan 10-20%.

1.1.2

Perhitungan Beban Kalor Sensibel di dalam Daerah Tengah Gedung


Beban Perpindahan Kalor Melalui Partisi, Langit-langit, dan Lantai
Perbedaan temperatur pada partisi (perbedaan temperatur di dalam sebuah ruangan
dengan ruangan di sebelahnya).

Apabila dua ruangan yang berdampingan

memperoleh penyegaran udara (didinginkan), maka perbedaan temperatur antara


kedua permukaan partisi yang memisahkan kedua ruangan tersebut dapat dianggap
sama dengan nol.
Beban Kalor Sensibel karena Adanya Sumber Kalor di dalam Ruangan
Jika jumlah orang yang ada di dalam ruangan diketahui dengan pasti, pergunakanlah
jumlah tersebut. Hal ini dikarenakan perbedaan usia, berat badan misalnya bagi wanita
haruslah di pakai faktor kelompok pria dewasa kali 0,82; sedangkan bagi anak-anak,
haruslah dipakai faktor kelompok pria dewasa kali 0,75. Faktor kelompok pria dewasa
saja dapat diperoleh dengan membaginya dengan faktor kelompok tersebut.

1.1.2.1

Perhitungan Beban Kalor Sensibel dari Mesin Penyegar Udara


Beban Kalor Sensibel karena Adanya Pemasukan Udara Luar

Jumlah pemasukan udara luar yang diperlukan tergantung pada jenis kegiatan yang

ada. Selisih temperatur udara luar dan temperatur udara ruangan adalah selisih antara
temperatur udara luar sesaat dan temperatur udara ruangan yang di rencanakan.
Periksalah dan catat daya penggerak kipas udara dari mesin penyegar udara yang
dipilih. Efisiensi kipas udara dari penyegar udara biasanya 0,80.

Jumlah Beban Kalor Sensibel dalam Ruangan


Untuk memperoleh beban kalor mesin penyegar udara, maka haruslah ditambahkan
beban kalor ruangan.

Kenaikan Beban Kalor karena Adanya Kebocoran pada Saluran Udara


Faktor kebocoran saluran udara dipergunakan hanya apabila saluran udara, dari mesin
penyegar udara ke ruangan yang akan disegarkan, melalui udara atmosfir. Faktor
kebocoran tersebut tergantung dari cara dan kualitas pekerjaan pemasangannya.
Faktor kebocoran dari saluran lingkaran boleh dikatakan sama dengan nol, sedangkan
untuk saluran segi empat kira-kira di antara 0,1 dan 0,2.

1.1.3

Beban Kalor Laten

1.1.3.1

Perhitungan Beban Kalor Laten di dalam Daerah Tepi Gedung

Beban Kalor Laten karena Adanya Infiltrasi


Beban kalor laten oleh infiltrasi dihitung dengan :

(Volume ruangan, m 3) x

(Jumlah ventilasi alamiah Nn) x 597,3 kcal/kg x (selisih perbandingan kelembaban di


dalam dan di luar ruangan (kg/kg)
1.1.3.2

Perhitungan Beban Kalor Laten di dalam Daerah Tengah Gedung

Beban Kalor Laten karena Adanya Sumber Penguapan di dalam Ruangan


Kalor laten dari orang yang ada di dalam ruangan tergantung dari kondisi kerja (duduk
di kursi, bekerja di belakang meja, berdiri atau berjalan lambat, dansa, bekerja) dan
jenis bangunan ( gedung, kantor atau hotel, toko serba ada atau eceran, ruang dansa,
pabrik)

1.1.3.3

Perhitungan Beban Kalor Laten dari Mesin Penyegar Udara

Beban Kalor Laten karena Adanya Pemasukan Udara Luar


Selisih perbandingan kelembaban udara luar dan udara ruangan adalah selisih antara

perbandingan kelembaban udara luar tersebut di luar ruangan dan perbandingan


kelembanan udara ruangan di dalam ruangan.
Jumlah Beban Kalor Laten Ruangan
Untuk memperoleh beban kalor laten dari mesin penyegar udara, maka haruslah
ditambahkan beban kalor laten ruangan.
Kenaikan Beban Kalor Adanya Kebocoran pada Saluran Udara
Faktor kebocoran saluran udara dipergunakan hanya apabila saluran udara, dari mesin
penyegar udara ke ruangan yang akan disegarkan, melalui udara atmosfir. Faktor
kebocoran tersebut tergantung dari cara dan kualitas pekerjaan pemasangannya.
Faktor kebocoran dari saluran lingkaran boleh dikatakan sama dengan nol, sedangkan
untuk saluran segi empat kira-kira di antara 0,1 dan 0,2.

2.5

Klasifikasi Perhitungan Beban


Sumber beban pendinginan dari suatu gedung/ruangan berasal dari luar maupun dari

dalam gedung/ruangan itu sendiri yang dapat berupa beban sensibel atau laten. Adapun sumbersumber beban itu sebagai berikut :
2.5.1 Beban dari Luar :
A.

Tranmisi panas melalui atap.

B.

Transmisi panas melalui dinding.

C.

Tranmisi panas melalui kaca :

D.

Secara konduksi.

Secara radiasi.

Tranmisi panas melalui partisi, langit-langit dan lantai.

2.5.2 Beban dari Dalam :


A.

Panas dari penghuni ruangan.

B.

Panas dari lampu.

C.

Panas dari peralatan.

D.

Panas dari elektromotor.

2.5.3 Ventilasi dan Infiltrasi :


A.

Penambahan panas sensibel.

B.

Penambahan panas laten.

2.6

Rumus Perhitungan Beban

2.6.1

Beban dari Luar

2.6.1.1 Atap
Q = U . A . Te ( W )

(ASHRAE,116)

Dimana:
Q

= Laju aliran kalor (W)

= Koefisien perpindahan panas bahan total Btu ft 2 .hr. F

= Luas atap dilihat dari gambar arsitektur ft 2

Te

= Perbedaan temperatur ekuivalen F

2.6.1.2 Dinding
Q = U . A . Te ( W )

(ASHRAE,116)

Dimana:
Q

= Laju aliran kalor (W)

= Koefisien perpindahan panas bahan total Btu ft 2 .hr. F

= Luas atap dilihat dari gambar arsitektur ft 2

Te

= Perbedaan temperatur ekuivalen F

2.6.1.3 Kaca
Transmisi panas melalui kaca dapat dibagi dua, yaitu :
1.

Secara konduksi
Q = U . A . CLTD corr

(W)

CLTD corr = CLTD 25.5 Tr To 29.4

(STOCKER, 77)

Dimana :

= Koefisien perpindahan panas bahan total Btu ft 2 .hr. F

= Luas kaca dilihat dari gambar arsitektur ft 2

CLTD = Cooling Load Temperature Difference.


CLTDcorr

= Cooling Load Temperature Difference Correction.

Tr

= Temperatur bola kering ruangan.

To

= Temperatur rata-rata udara luar.

2.

Secara radiasi
Q = A . SC . SHGF . CLF

(W)

(STOCKER, 71)

Dimana :

= Luas kaca dilihat dari gambar arsitektur ft 2

SC

= Shading Cofficient.

SHGF = Solar Heat Gain Factor Btu ft 2 .hr. F


CLF

= Cooling Load factor.

2.6.1.4 Partisi, Langit-Langit dan Lantai


Q = U . A . TD

(W)

(ASHRAE,117)

Dimana :

= Koefisien perpindahan panas bahan total Btu ft 2 .hr. F

= Luas partisi, langit-langit, dan lantai ft 2

TD

= Design Temperature Difference F

2.6.2

Beban dari Dalam

2.6.2.1 Panas dari Penghuni Ruangan

Panas dari penghuni ruang terdiri dari panas sensibel dan panas laten. Jumlah panas yang
dihasilkan tergantung dari jenis kelamin, usia, dan tingkat kegiatan yang dilakukan. Panas dari
tubuh manusia dipancarkan dengan cara :
1. Radiasi dari permukaan tubuh ke permukaan sekitarnya.
2. Konveksi dari permukaan tubuh dan dari penafasan udara sekitanya.
3. Penguapan keringat dari permukaan tubuh.
Jumlah panas yang dikeluarkan dengan cara radiasi dan konveksi besarnya tergantung
pada perbedaan temperatur antara tubuh manusia dengan udara ruang. Sedangkan laju
penguapan besarnya tergantung pada tekanan uap udara sekitarnya.

1. Beban sensibel
Qs = No . SHG . CLF

(W)

(STOCKER, 69)

Dimana :
No

= Jumlah penghuni ruangan.

SHG

= Sensibel Head Gain of Occupants.

CLF

= Cooling Load factor.

2. Beban Laten
QL = No . LHG

(W)

Dimana:
No

= Jumlah penghuni ruangan.

LHG

= Laten Head Gain of Occupants.

2.6.2.2 Panas dari Lampu


QLampu = SHG . CLF

(W)

Dimana :
CLF

= Cooling Load Factor.

SHG

= Sensibel Head Gain of Occupants.

2.6.2.3 Panas dari Peralatan

(STOCKER, 69)

Qalat = SHG . CLF

(W)

(STOCKER, 68)

Dimana :
CLF

= Cooling Load Factor.

SHG

= Sensibel Head Gain of Occupants

2.6.3

Ventilasi dan Infiltrasi


Ventilasi sangat dibutuhkan untuk menggantikan udara ruangan yang telah digunakan

dengan udara segar. Udara segar tersebut berasal dari luar yang masuk ke dalam ruangan
melewati filter sehingga kebersihan terjaga.
Infiltrasi adalah udara luar yang masuk ke dalam ruangan terkondisi secara tidak sengaja.
Infiltrasi dapat masuk melalui celah-celah pintu dan jendela yang tertutup maupun pintu dan
jendela yang sering dibuka. Hal ini disebabkan adanya perbedaan temperatur dan tekanan udara
luar dengan udara ruangan.
Beban pendinginan ventilasi dan infiltrasi merupakan beban sensibel dan laten.
1. Beban sensibel
Qs = 1,232 . I/s . t

(STOCKER, 64)

Dimana :
I/s

= Jumlah udara ventilasi atau infiltrasi.

= Perbandingan temperatur dalam dan luar ruangan.

2. Beban laten.
QL = 3012 . I/s . W

(STOCKER, 65)

Dimana :
I/s

= Jumlah udara ventilasi atau infiltrasi

= Perbandingan enthalpi udara dalam dan udara ruangan.

3. Total penambahan panas.


Total penambahan panaas dari udara ventilasi dan infiltrasi dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
Q = 4,334 . I/s. h

Dimana :
I/s

= Jumlah udara ventilasi atau infiltrasi

= Perbandingan enthalpi udara dalam dan luar ruangan.

4. Jumlah udara Ventilasi dan Infiltrasi


4.1 Ventilasi
Jumlah udara yang dibutuhkan di tentukan dengan rumus :
Uv = V . N o
Dimana :
V

= Udara ventilasi yang dibutuhkan per orang.

No

= Jumlah penghuni ruangan.

4.2 Infiltrasi
Jumlah udara infiltrasi yang masuk melalui celah-celah ditentukan dengan rumus :
Ui= I . CL
Dimana :
I

= Udara infltrasi yang masuk, per meter celah

CL

= Panjang celah dari pintu atau jendela.

2.4

Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan


Untuk perhitungan beban pendinginan perlu diketahui harga koefisien perpindahan energi-

energi kalor dari setiap jenis bahan yang dipergunanakan. Dasar perhitungan R dan U pada table
8-6 dan 8-7 (ASHRAE,1977 :118-119) adalah dengan menggunakan analogi rangkaian listrik.
Dalam hal tahanan thermal tiap-tiap bahan bentuknya dianalogikan sebagai tahanan listrik yang
disusun secara seri untuk mendapatkan tahanan total, perlu ditambahkan harga lapisan udara
pada posisi luar dan dibawah struktur bangunan.
Pada gambar dibawah ini, diperlihatkan contoh perhitungan untuk menentukan harga
koefisien perpindahan panas keseluruhan untuk dinding luar.

R1
RD

R2

R3
RL

Diluar

Didalam

Aliran kalor

Gambar 2.6 Komponen dari tahanan perpindahan kalor

Maka bentuk persamaan dari harga koefisien transmisi kalor tersebut adalah :

1
R

R = RD + R1 + R2 + R3 + RL
Dimana :
U

= Koefisien perpindahan kalor Btu h.Ft 2 . F

F
Btu

Ft 2

= Tahanan perpindahan kalor dari struktur bangunan

RD

= Tahanan perpindahan kalor dari lapisan permukaan struktur bangunan

Btu
RL

dalam

Ft 2

= Tahanan perpindahan kalor dari lapisan permukaan struktur bangunan

luar

h.Ft 2

Btu

R1, R2, R3

h.Ft 2
Btu

= Tahanan perpindahan kalor dari setiap lapisan struktur bangunan

Harga RD dan RL dapat di peroleh dari table 8-8 (ASHRAE, 1977 : 119), sedangkan harga R1, R2,
R3, didapat dari table 8-9 (ASHRAE, 1977 : 120)

DAFTAR PERHITUNGAN BEBAN AIR CONDITIONER


Langganan: ...................................

dihitung oleh: ................................

Tanggal: .................
Bagian

Ukuran

1. JENDELA

Faktor perkalian

Beban

Siang Hari
Tanpa Ditutup Tenda

Mengapa matahata:

Penutup

(Pilih satu, beban yang terbesar)

atau

dari

tirai

luar

dingin
BTU/h
Ukuran x
Faktor

sqft
a). Timur laut

sqft

b). Timur

sqft

c). Tenggara

sqft

d). Selatan

sqft

e). Barat daya

sqft

f). Barat

sqft

g). Barat laut

sqft

h). Utara

75

30

20

100

40

25

75

30

20

75

35

20

120

50

35

150

65

45

120

50

35

75

35

20

2. JENDELA-JENDELA
Tidak menghadap matahari:
Jumlah semua jendela

sgft

a. Gelas tunggal

sgft

b. Gelas ganda atau gelas block


3. DINDING-DINDING

7
konstruksi

Panjang

a. Bagian luar
Menghadap matahari

14

........ft

Ringan

Berat

60

30

c. Bagian dalam
Hanya pada dinding yang me
30

rupakan batas dari ruangan lain


yang tidak didinginkan
4. ATAP atau LAGIT-LAGIT

..........ft

(Pilihan sebuah saja)


a. Atap tanpa isolasi

sqft

19

b. Atap berisolasi

sqft

c. Langit-lagit diatasnya bertingkat

aqft

sqft

sqft

12

aqft

d. Langit-langit berisolasi di atas


adalah ruangan
e. Langit-langit tampa isolasi
diatasnya adalah ruang
5. LANTAI
(Hilangkan jika di atas tanah atau
diatas ruang bawah tanah)
6. ORANG & VENTILASI
Jumlah orang
7. LAMPU-LAMPU & ALAT-ALAT
LISTRIK YANG DIPAKAI
8. PINTU & ARCHES

600
watt
Panjang

Terus-menerus terbuka keruang


yang tidak didinginkan.
Lebar
9. JUMLAH 1 s/d 8
10. JUMLAH BEBAN DINGIN

ft

(Bagian 9) x 1.1 (Faktor)=

Keterangan untuk mengisi daftar perhitungan beban dari RAC


Daftar perhitungan beban ini adalah untuk comfort air conditioning, yang tidak memerlukan
keadaan tetentu dari suhu dan kelembaban dalam ruang. Faktor dalam daftar ini didasarkan pada
suhu udara luar 950F (350C) DB, dan 750F (240C) WB, pada siang hari. Dipakai untuk ruang duduk,
kantor, kamar tidur, dan sebagainya.
Nomor urut dibawah ini disesuaikan dengan tabel diatas:
1. Kalikan luas jendela dengan sqft. daritiap-tiap arah dengan faktor-faktor dari arah jendela.
Untuk jendela yang memakai penutup dari dalam (tirai atau gordeng) atau ventilasi blinds,

dipakai factor pada ditutup atau tirai. untuk jendela yang memakai tutup dari luar atau
keduanya didalam dan diluar, dipakai factor pada tenda dari luar.
(perhatiakan: untuk jendela dengan gelas block, factor-faktor pada bagian harus dikalikan
0.5 dan untuk gelas ganda atau storm window dikalikan dengan 0.8)
2. Kalikan jumlah semua luas jendela dalam sqft. dengan faktor yang sesuai.
3. a. Kalikan jumlah panjang dalam feet dari semua dinding yamg menghadap keluar dengan
factor yang sesuai. Pintu dianggap sebai dari dinding yang tebal 8(20cm) atau kurang
dianggap konstruksi ringan. Dinding yang berisolasi tau dinding tebal lebih dari 8
diamggap lonstruksi berat.
b.

Kalikan semua dinding dalam feet dari dinding-dinding bagian dalam yanga

berbatasan dengan ruang yang tidak dindingkan dengan paktor yang diberikan. Dinding
yang dibatasi dengan lain ruangan yang juga didinginkan tidak perlu dijumlahkan untuk
dihitung.
4. Kalikan jumlah luas atap (roof) atau langit-langit (ceiling)dalam sqft, dengan factor-faktor
yang diberikan paling sesuai (hanya dipilih sebuah yang paling sesuai).
5. Kalikan jumlah luas lantai dalam sqft. Dengan faktor yang diberikan, hilangakan bagianbagian ini jika lantai berada langsung diatas tanah atau diruang bawah tanah (basemen).
6. Kalikan jumlah orang yang ada dalam ruangan yang diatur udaranya dengan faktor yang
diberikan. Ambil paling sedikit 2 orang.
7. Hitunglah jumlah watt dari lampu-lampu dan alat-alat listrik yang dipakai waktu RAC
sedang bekerja, kalikan jumlah watt dengan paktor yang diberikan.
8. Kalikan lebar dalam feet dari pintu atau dinding yang terbuka, atau terus menerus terbuka
dan berhubungnan dengan lain ruangan yang tidak didinginkan dengan faktor yang
diberikan. Jika lebar atau dinding yang terbuka dari 5 feet (1.5m), beben yang
sesungguhnya akan melebihi dari perhitungan. Dalam hal ini kedua rungan tersebut harus
dianggap sebagai suatu ruangan yang lebih besar dan bebanya harus dihitung kembal.
9. Jumlahkan beban-beban dari semua bagian diatas: 1 s/d 8.
10. Kalikan jumlah beban yang didapat dari bagian 9 dengan faltor kreksi dan hasilnya adalah
jumlah perkiraan beban dingin dalam BTU per jam.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik kita harus memilih RAC yang kapasitasnya yang
mendekati beban yang diperlukan. Pada umumnya RAC dari kapasitas yang lebih besar akan
bekerja dengan berhenti-henti dan kurang memuaskan, dari pada RAC yang sedikit kurang
kapasitasnya yang akan bekerja hampir terus menerus.

PERKIRAAN BEBAN AIR CONDITIONING PADA BEBERAPA PEMAKAIAN


Pemakain untuk
Kamar tidur

m2/ton
46-56

feet/ton
500-600

Flat (rumah susun), dengan 1 atau

33-42

355-450

2 kamar

30-35

325-375

Ruang kantor kecil

28-33

300-355

Ruang kantor besar, bagian dalam

23-28

250-300

Hotel, kamar tamu

23-28

250-300

Rumah sakit, kamar pasien

23-28

250-300

Pabrik, barang-barang presisi

23-28

250-300

Pusat kesehatan

21-25

225-270

Ruang kantor besar, bagian luar

21-25

225-270

Sekolah, ruang kelas

19-23

200-250

Toko serba ada

18-23

190-250

Bank, ruang utama

14-23

150-250

Gereja

9-23

100-250

Rumah makan

16-21

170-225

Kamar makan

18-20

190-215

Salon kecantikan

14-19

150-200

Ruang perjamuan

9-16

100-170

Aula (Auditorium)

5-14

50-150