Anda di halaman 1dari 24

REFERAT BEDAH PLASTIK

LUKA BAKAR LISTRIK

Oleh :
Mustiqa Febriniata

G99122079

Pembimbing :
dr. Dewi Haryanti Kurniasih, Sp.BP

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan
radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas
tinggi. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi.1 Di Indonesia, luka
bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar
dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu,
penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari
spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis,
spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi.
B. Definisi dan Etiologi
Luka bakar atau combustio adalah kasus emergensi yang sering ditemukan dalam
dunia kedokteran. Etiologi dari luka bakar dapat terjadi karena faktor termal, kimia, listrik
dan radiasi.
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah,
dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya tunika intima,
sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali kerusakan berada jauh
dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun ground.
C. Karakteristik Listrik

Karakteristik listrik serta sifat berbagai jaringan menentukan derajat kerusakan


dan memberikan prediksi mengenai kemungkinan morbiditas yang bahkan mortalitas.
Beberapa karakteristik listrik yang perlu diketahui antara lain adalah tegangan (voltage),
arus listrik, resistensi dan konduksi
1. Tegangan
Tegangan adalah gaya elektromotif atau perbedaan potensial listrik. Semakin
besar tegangan listrik yang dialirkan ke jaringan yang memiliki resistensi relatif tetap,
semakin besar arus yang dialirkan.
2. Arus Listrik

Arus listrik (electric current) adalah aliran litrik yang dibagi menjadi dua yaitu
arus bolak balik (alternating current, AC) dan satu arah (direct current, DC).
Arus DC tegangan tinggi menimbulkan spasme muscular, menyebabkan
korban terpental menjauhi sumber arus. Hal ini mengakibatkan waktu paparan dengan
arus relatif singkat, namun diikuti kemungkinan timbulnya trauma tumpul.
Sedangkan, arus AC lebih berbahaya, karena menyebabkan kontraksi muskular
kontinu, tetani, dan timbul bila serat-serat otot mendapat stimulasi 40-110 kali per
detik.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar
kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik tersebut. Kekuatan arus
listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada
arus serendah 60-100 mA dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang
mengalir melalui dada dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama
jantung yang tidak beraturan, yang bisa berakibat fatal. Arus bolak-balik lebih dapat
menyebabkan aritmia jantung dibanding arus searah. Arus dari AC pada 100 mA
dalam seperlima detik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel dan henti jantung.
Efek

yang

sama

ditimbulkan

oleh

DC

sebesar

300-500

mA.

Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka
bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah
(kurang dari 1 mA).
3. Resistensi dan Konduksi.
Resistensi adalah tahanan jaringan atau oposisi terhadap aliran listrik,
sedangkan konduksi adalah kapasitas jaringan menyampaikan (mengalirkan arus
listrik). Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh, akan menurun besarnya pada
tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan tubuh. Tahanan kulit rata-rata 50010.000 ohm. Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar
keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering.
Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar <
1,000 ohm.
Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar
yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai dengan

hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik. Tergantung
kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka bakar.
Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam
atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat.
Pertimbangkan tentang transitional resistance, yaitu suatu tahanan yang menyertai
akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh atau antara
tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan karet, sepatu karet, dan lain-lain.
D. Klasifikasi Luka Bakar
Berdasarkan American Burn Associations, Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan
kedalaman, luas permukaan, dan derajat berat ringannya luka bakar.
1. Berdasarkan Kedalaman
a) Luka bakar derajat I (superficial burns)
Luka bakar derajat ini terbatas hanya sampai lapisan epidermis. Gejalanya berupa
kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis, nyeri, hangat pada perabaan
dan pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini, fungsi kulit masih utuh. Contoh
dari luka bakar derajat 1 adalah bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama
atau tersiram air panas. Proses penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar
derajat ini tidak menghasilkan jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar
pasien merasa nyaman dengan mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa gel
lidah buaya.

Gambar 2. Luka bakar derajat I


b) Luka bakar derajat II (partial thickness burns)

Luka bakar derajat ini merupakan luka bakar yang kedalamannya mencapai batas
dermis. Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan dermis (superficial
partial thickness).Luka bakar derajat II superficial ini tampak eritema, nyeri, pucat
jika ditekan, dan ditandai adanya bulla berisi cairan eksudat yang keluar dari
pembuluh darah karena permeabilitas dindingnya meningkat. Luka ini
mereepitelisasi dari struktur epidermis yang tersisa pada rete ridge, folikel rambut
dan keringat dalam 7-14 hari secara spontan. Setelah penyembuhan, luka bakar ini
dapat memiliki sedikit perubahan warna kulit dalam jangka waktu yang lama.

Gambar 3. Luka bakar derajat IIA


Luka bakar derajat II yang mengenai bagian reticular dermis (deep partial
thickness) tampak lebih pucat, tetapi masih terasa nyeri jika di tusuk dengan jarum
(pin prick test). Luka bakar ini sembuh dalam 14-35 hari dengan reepitelisasi dari
folikel rambut, dan keratinosit kelenjar keringat, seringkali parut berat muncul
sebagai akibat dari hilangnya dermis.

Gambar 4. Luka bakar derajat IIB


c) Luka bakar derajat III (full-thickness)
Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis sampai ke
lemak subkutan. Luka bakar ini ditandai dengan eskar yang keras, tidak nyeri, dan
warnanya hitam, putih atau merah ceri. Tidak ada sisa epidermis ataupun dermis

sehingga luka harus sembuh dengan reepitelisasi dari tepi luka. Full thickness
memerlukan eksisi dengan skin grafting.

Gambar 5. Luka bakar derajat III


d) Luka bakar derajat IV
Luka bakar derajat ini hingga mencapai organ di bawah kulit seperti otot, dan
tulang.

Gambar 6. Luka bakar derajat IV


Tabel 1. Kategori derajat luka bakar

2. Luas Luka Bakar

Wallace membagi tubuh atas bagian nagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal
dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.

Gambar 7.
Dalam
dapat
adalah 1 %
anak
Lund
tahun,

and
5

Kepala dan leher

9%

Lengan

18 %

Badan Depan

18 %

Badan Belakang

18 %

Tungkai

36 %

Genitalia/perineum -

1%

Total

100 %

Rules of nine
perhitungan agar lebih mempermudah
dipakai luas telapak tangan penderita
dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak
dipakai modifikasi Rule of Nine menurut
Brower, yaitu ditekankan pada umur 15
tahun dan 1 tahun.

Gambar 8. Rules of nine sesuai umur

3. Kriteria Berat-ringannya
Kriteria berat-ringannya suatu luka bakar menurut American Burn Association adalah
a) Luka bakar ringan.
-

Luka bakar derajat II <15 %

Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak

Luka bakar derajat III < 2 %

b) Luka bakar sedang


-

Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa

Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak

Luka bakar derajat III < 10 %

c) Luka bakar berat


-

Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa

Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.

Luka bakar derajat III 10 % atau lebih

Luka

bakar

mengenai

tangan,

wajah,

telinga,

mata,

kaki

dan

genitalia/perineum.
-

Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

E. Patofisiologi
Pada luka bakar terjadi perubahan lokal berupa nekrosis koagulatif pada
epidermis, dermis dan jaringan di bawahnya, dengan kedalaman tergantung pada
temperatur bahan dan durasi pajanan.
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan bahan penyebab dan kedalaman luka.
Bahan yang dapat menyebabkan luka bakar adalah api, sclad (cairan panas), kontak
dengan bahan padat yang panas, bahan kimia, dan listrik. Sedangkan kedalaman luka
dapat dibagi menjadi :
1. Derajat 1

: luka terbatas pada epidermis (eritema)

2. Derajat 2 superfisial : luka pada epidermis hingga dermis superfisial atau papila
dermis (bullae)
3. Derajat 2 dalam

: luka pada epidermis hingga dermis dalam atau reticular

dermis (bullae)
4. Derajat 3

: luka mencapai seluruh dermis dan jaringan subkutan di

bawahnya. (warna kulit putih hingga coklat kehitaman, tanpa bullae)

Gambar 9. Penampang kedalaman luka bakar4


Pada luka yang melibatkan sebagian tebal lapisan kulit (derajat 1 dan 2) disertai
rasa nyeri, sedangkan derajat 3 biasanya rasa nyeri minimal atau tidak ada. Berdasarkan
gambaran histologis, pada luka bakar terdapat tiga zona yaitu zona koagulasi, zona stasis,
dan zona hiperemia. Pada zona koagulasi terjadi nekrosis jaringan dan kerusakan yang
ireversibel. Zona stasis berada di sekitar zona koagulasi, dimana terjadi penurunan perfusi
jaringan dengan kerusakan dan kebocoran vaskuler. Pada zona hiperemia terjadi
vasodilatasi karena inflamasi, jaringannya masih viable dan proses penyembuhan berawal
dari zona ini.

Gambar 10. Zona luka bakar Jackson dan efeknya terhadap resusitasi adekuat dan inadekuat5
Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan endotel dan epitel akibat
cedera termis yang melepaskan mediator-mediator proinflamasi dan berkembang menjadi

Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), kondisi ini hampir selalu berlanjut
dengan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS). MODS terjadi karena
gangguan perfusi jaringan yang berkepanjangan akibat gangguan sirkulasi mikro.
Berdasarkan konsep SIRS, paradigma penatalaksanaan luka bakar fase akut berubah,
semula berorientasi pada gangguan sirkulasi makro menjadi berubah orientasi pada proses
perbaikan perfusi (srkulasi mikro) sebagai end-point dari prosedur resusitasi.
Pelepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya di tempat terjadinya luka bakar
memiliki efek sistemik jika luka bakar mencapai 30% luas permukaan tubuh. Perubahanperubahan yang terjadi sebagai efek sistemik tersebut anatara lain berupa
1. Gangguan

kardiovaskular, berupa

peningkatan

permeabilitas

vaskular

yang

menyebabkan keluarnya protein dan cairan dari intravaskular ke interstitial. Terjadi


vasokonstriksi di pembuluh darah sphlancnic dan perifer. Kontraktilitas miokardium
menurun, kemungkinan disebabkan adanya TNF. Perubahan ini disertai dengan
kehilangan cairan dari luka bakar menyebabkan hipotensi sistemik dan hipoperfusi
organ.
2. Gangguan sistem respirasi, mediator inflamasi menyebabkan bronkokonstriksi, dan
pada luka bakar yang berat dapat timbul respiratory distress syndrome.
3. Gangguan metabolik, terjadi peningkatan basal metabolic rate hingga 3 kali lipat. Hal
ini, disertai dengan adanya hipoperfusi sphlancnic menyebabkan dibutuhkannya
pemberian makanan enteral secara agresif untuk menurunkan katabolisme dan
mempertahankan integritas saluran pencernaan.
4. Gangguan imunologis, terdapat penuruanan sistem imun yang mempengaruhi sistem
imun humoral dan seluler.
Masalah pada luka bakar berdasarkan kronologi dibagi menjadi:
1. Fase akut

: deteriorasi airway, breathing, circulation, berlangsung selama 0 - 48

jam (72 jam).


2. Fase subakut : SIRS dan MODS, berlangsung sampai 21 hari.
3. Fase lanjut

: jaringan parut (hipertrofik, keloid, kontraktur), berlangsung sampai

8-12 bulan.
Masalah yang timbul pada luka bakar fase akut terutama berkaitan dengan
gangguan jalan napas (cedera inhalasi), gengguan mekanisme bernapas dan gangguan
sirkulasi. Ketiga hal tersebut menyebabkan gangguan perfusi jaringan yang dapat
menyebabkan kematian.

Cedera inhalasi merupakan gangguan mukosa saluran napas akibat kontak dengan
sumber termis, toxic fumes, dan zat toksik lainnya. Dugaan kuat mengenai adanya cedera
inhalasi bila dijumpai riwayat luka bakar yang disebabkan api, terperangkap di ruang
tertutup, luka bakar pada wajah dan leher, bulu hidung terbakar, sputum dan air liur
mengandung karbon. Kerusakan mukosa dapat pula disebabkan oleh minyak panas, air
panas, bahan kimia yang mengenai muka, leher, dada bagian atas. Pada cedera inhalasi
terjadi edema mukosa dari orofaring dan laring hingga membran alveoli. Hal ini dapat
menyebabkan obstruksi yang ditandai dengan stridor, suara serak, sulit bernapas, gelisah.
Bronkospasme dapat terjadi bila reaksi inflamasi melibatkan otot polos bronkus.
Tabel 2. Tanda dan Gejala cedera inhalasi

Gangguan mekanisme bernapas pada luka bakar dapat terjadi pada pasien dengan
eskar melingkar di dada yang menyebabkan gangguan proses ekspansi rongga toraks
sehingga compliance paru berkurang.
Gangguan sirkulasi pada luka bakar terjadi melalui mekanisme perubahan
integritas membran mikrovaskuler, perubahan hukum Starling, gangguan perfusi (syok
seluler), dan evaporative heat loss. Setelah cedera termis, terjadi pelepasan histamin
diikuti pelepasan histmain dan aktivasi komplemen yang menyebabkan perlekatan
leukosit PMN dengan endotel. Endotel inflamatif akan melepaskan radikal bebas yang
diikuti oleh peroksidasi lipid yang mengaktivasi asam arakidonat. Hal ini menyebabkan
aktivasi kaskade koagulasi dan pelepasan sitokin (IL1, IL6, TNFa). Proses inflamasi
mengakibatkan perubahan morfologi endotel dan peningkatan permeabilitas kapiler.
Peningkatan permeabilitas kapiler ini mengakibatkan perpindahan cairan dari
intravaskuler ke ruang interstisium. Selain itu mediator inflamasi memacu sel-sel epitel
mukosa mengalami proses inflamasi akut terutama mengakibatkan sel epitel nekrosis.
Pada mukosa alveoli penumpukan fibrin membentuk membran hialin yang menyebabkan

gangguan difusi dan perfusi oksigen (acute respiratory distress syndrom). ARDS ini
umumnya muncul 4-5 hari pasca cedera luka bakar.
F. Gejala dan Tanda Klinis
Menurut Henderson, gejala klinis yang utama pada luka bakar yaitu lepuh yang
merupakan tanda khas luka bakar superfisial. Cairan dihasilkan dari jaringan cedera yang
lebih dalam sehingga permukaan superfisial yang terbakar (mati) akan terangkat. Lepuh
atau bullae pada luka bakar sering pecah dan meninggalkan suatu permukaan merah kasar
yang mengeluarkan cairan serous dan dapat berdarah. Luka bakar yang superfisial terasa
nyeri karena ujung saraf terpapar dan mengalami inflamasi.
Luka bakar yang dalam, gejala klinisnya yaitu, kulit mungkin terlihat normal.
Akan tetapi, tampak mengkilap sehingga pembuluh-pembuluh darahnya mudah dilihat,
tetapi darah dalam pembuluh darah tersebut tidak dapat keluar karena sudah mengalami
koagulasi sehingga saat ditusuk tidak akan mengeluarkan darah. Selain itu, kulit amat
kaku ketika disentuh, serta tidak dapat merasakan nyeri, karena sebagian besar ujung
saraf sudah mati. Pada kondisi yang lebih berat, dapat terjadi pengarangan dan
karbonisasi (hitam).
Gejala-gejala klinis lain selain diatas, yaitu adanya tanda-tanda distress
pernapasan seperti suara serak, ngiler, tanda-tanda cedera inhalasi seperti pernapasan
cepat dan sulit, krakles, stridor, serta batuk pendek.
G. Pengaruh Listrik Terhadap Tubuh
Berdasarkan aspek resistensi dan konduksi ini, dibedakan menjadi dua jenis arus,
yaitu arus langsung (direk) dan tidak langsung (indirek) yang membedakan dua jenis luka
bakar listrik
1. Arus Langsung (Direk)
Terjadi saat seseorang menyentuh sebuah konduktor yang terhubung dengan arus
listrik. Dampak jaringan listrik diuraikan berikut ini :
a) Kulit
Kulit adalah jaringan yang merupakan resistor (namun tidak sebaik tulang),
bukan konduktor yang baik (tidak sebaik saraf, pembuluh darah, dan otot). Oleh
karena itu, sebagian besar energi listrik diserap oleh kulit terutama di daerah yang
memiliki lapisan keratin tebal (telapak tangan, telapak kaki) dan diubah menjadi
energi panas menimbulkan luka bakar (efek termal).

Dalam keadaan basah, kulit menjadi konduktor yang baik, sehingga tidak ada
energi yang diserap, namun langsung diteruskan ke jaringan dibawahnya. Kondisi
ini menyebabkan electric shock (lectrocotion) pada jaringan yang letaknya lebih
dalam disertai gangguan jantung (aritmia ventricular, cardiac arrest) tanpa luka
bakar sama sekali di permukaan (misal pada bathtub injury).
b) Saraf
Saraf merupakan jaringan tubuh yang didesain untuk menghantarkan aliran
listrik. Jaringan saraf dapat mengalami kerusakan pada sistem konduktivitasnya
karena mengalami nekrosis koagulasi.
c) Sistem otot dan pembuluh darah
Sistem otot dan pembuluh darah mengandung air dan kadar elektrolit dengan
konsentarsi tinggi sehingga berperan baik sebagai konduktor.Otot menghantarkan
arus listrik jauh lebih banyak, sekaligus memanaskan jaringan sekitarnya.
Kerusakan otot periosteal dapat terjadi meski otot yang terletak superficial terlihat
normal.
Pembuluh darah mengalami kerusakan paling berat, disebabkan difusi panas
melalui tunika intima. Kerusakan pada pembuluh darah berupa erosi endotel
(diikuti gangguan integritas endotel), adhesi leukosit-trombosit dan terbentuknya
trombus-trombus, trombosis menyebabkan terganggunya aliran sirkulasi.
d) Tulang, lemak, dan tendon
Tulang, lemak dan tendon merupakan resistor yang baik sehingga tidak
menghantarkan listrik namun lebih menimbulkan panas dan mengalami koagulasi.
2. Arus Tidak Langsung (indirek)
a) Arc (percikan listrik)
b) Flash
c) Step voltage
Sebab kematian karena arus listrik yaitu :
a) Fibrilasi ventrikel
Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961) memperkirakan pada
manusia, arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan
ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Hal yang paling berbahaya adalah jika
arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang
berlawanan/kanan. Jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan
keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal dunia.

b) Paralisis respiratorik
Paralisis respiratorik timbul akibat spasme dari otot-otot pernafasan sehingga
korban dapat meninggal karena asfiksia. Jantung mungkin masih berdenyut
sampai timbul kematian. Hal ini terjadi bila arus listrik yang memasuki tubuh
korban di atas nilai ambang yang membahayakan, tetapi masih di batas bawah
yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Menurut Koeppen, spasme otot-otot
pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA, sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada
arus 70-100 mA.
c) Paralisis pusat nafas
Jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, dapat menyebabkan trauma
pada pusat-pusat vital di otak sehingga dapat terjadi koagulasi dan
mengakibatkan efek hipertermia. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat
pernafasan tetap terjadi, tetapi jantung masih berdenyut, oleh karena itu dengan
bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi
jika arus listrik melalui jalur kepala.
d) Luka bakar
Paparan arus yang dihasilkan oleh sumber tegangan rendah (termasuk sumber
listrik rumah tangga) dapat menyebabkan luka bakar di jaringan kutaneus yang
disebabkan transformasi energi listrik menjadi energi termal. Luka bakar dapat
berupa eritema lokal hingga luka bakar derajat berat. Tingkat keparahan luka
bakar tergantung pada intensitas arus, permukaan daerah, dan durasi paparan.
H. Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada pasien luka bakar adalah anamnesis singkat
dikarenakan luka bakar merupakan bagian dari kegawat daruratan biasanya anamnesis
dilakuakan secara auto dan alloanamnesis. Anamnesis yang sering ditanyakan adalah,
berat badan pasien, umur, sudah berapa lama setelah terapar ledakan, terkena ledakan
apa, seberapa besar ledakan, penanganan apa yang sudah dilakukan dan lain lain
seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu riwayat
penyakit keluarga, riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi, dan kejiwaan, gaya hidup
menyusul.

2. Pemeriksaan Fisik
a) Primary survey
A (Airway) Jalan nafas
Edema mukosa dapat terjadi pada pasien luka bakar atau trauma inhalasi,
obstruksi pada saluran napas atas (pharynx/larynx) dapat berkembang dengan
cepat terutama pada anak. Trauma inhalasi harus dicurigai pada siapa pun dengan
luka bakar dan diasumsikan sampai terbukti sebaliknya, pada siapa pun yang
terbakar dalam ruang tertutup. Inspeksi dari mulut dan pharynx harus dilakukan
lebih awal, dan intubasi endotracheal dilakukan jika perlu. Suara serak dan bunyi
wheezing pada ekspirasi adalah tanda-tanda edema saluran napas yang serius atau
trauma inhalasi. Produksi lendir berlebihan dan dahak karbon

yaitu dahak

bercampur flek hitam juga tanda-tanda positif trauma inhalasi. Tingkat


karboksihemoglobin harus didapatkan dan peningkatan tingkat gejala atau
keracunan karbon monoksida (CO) adalah berdasarkan kemungkinan trauma
inhalasi.

Penurunan rasio dari tekanan oksigen arteri (PaO 2) dan persentase

oksigen terinspirasi (FiO2), adalah salah satu indikator yang paling awal pasien
telah menghirup asap. Bila pasien positif trauma inhalasi sebaiknya pasien dirujuk
ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas pusat luka bakar (burn centre) dengan
dilakukan intubasi terlebih dahulu untuk memastikan jalan nafas tetap terbuka.
B (Breathing) Kemampuan bernafas
Jika jalan napas baik dan pasien dapat bernapas, pemberian oksigen dengan
sungkup atau nasal kanul mungkin dapat mencukupi. Tetapi jika pasien tidak
dapat bernapas akibat obstruksi jalan napas atas atau akibat penurunan kesadaran,
dapat diberikan intubasi endotrakeal. Trakeostomi emergensi harus dihindari
kecuali jika hal itu benar-benar dibutuhkan. Jika curiga terdapat trauma pada
vertebra servikalis, manipulasi jalan napas harus dilakukan dengan tetap
meimobilisasi leher dan kepala pada axis tubuh sampai vertebra servikal
terevaluasi sepenuhnya.
C (Circulation)
Sirkulasi perifer yang adekuat harus ditemukan dengan cepat setelah terjadinya
luka bakar dengan meraba pulsasi di perifer.Semua pakaian pasien harus
dilepaskan. Cincin, jam dan perhiasan harus dilepaskan pada anggota tubuh yang
mengalami cedera, konstriksi pada bagian yang bengkak akibat jeratan perhiasan
dapat mengakibatkan iskemia di bagian distal. Pada luka bakar, permeabilitas

pembuluh darah meningkat, sehingga terjadi perpindahan cairan dari pembuluh


darah ke jaringan intersitial, akibatnya dapat menimbulkan syok hipovolemik.
Semakin luas area luka bakar, semakin berat syok hipovolemik yang
terjadi.Resusitasi cairan harus diberikan secepatnya.
D (Disability/Drugs)
Apakah ada gangguan ekstremitas atau gerakan lain, dan apakah ada penggunaan
obat-obatan.
E (Exposure)
Bagaimana tampak keseluruhan dari unjung rambut sampai ujung kaki.
b) Secondary survey
Kepala

: apakah ada deformitas

Wajah

: adakah luka bakar di wajah bagian depan dan kiri dan kanan

Rambut

: adakah terbakar

Mata

: apakah ada bagian mata yang mengalami gangguan atau cacat

THT

: apakah ada jelaga dan ada kelainan pendengaran atau mengeluarkan


darah

Paru

: simetris, fremitus, vesikuler , rhonki, wheezing

Jantung

: BJ I-II, murmur, gallop

Abdomen : apakah distended, lemas, bagaimana bunyi usus


Ekstremitas

: akral hangat atau dingin , apakah ada edema.

c) Status Lokalis
Status lokalis akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan derajat luka bakar.
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Hitung darah lengkap : peningkatan Hct awal menunjukkan hemokonsentrasi
sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan.
b) Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan
penurunan fungsi ginjal. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air.
c) Alkalin

fosfat

peningkatan

sehubungan

dengan

perpindahan

cairan

interstitiil/ganguan pompa natrium.


d) Urine : adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan
dalam dan kehilangan protein.
e) Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi
f) Scan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi
g) EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik.

h) BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.


i) Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi.
j) Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
k) Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan.
l) Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar
selanjutnya.
4. Diagnosis
Diagnosis dari luka bakar dapat diambil dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Selain itu diagnosis pembagian derajat juga diperlukan agar
penanganannya tepat dan cepat. Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar
tergantung pada derajat panas sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh
penderita.
I. Penatalaksanaan
1. Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemuikan pasien luka bakar di
tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya adalah
membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan memperhatikan keselamatan
diri sendiri. Kemudian lepaskan semua bahan yang dapat menahan panas (pakaian,
perhiasan, logam), hal ini untuk mencegah luka yang semakin dalam karena tubuh
masih terpajan dengan sumber. Bahan yang meleleh dan menempel pada kulit tidak
boleh dilepaskan. Air suhu kamar dapat disiramkan ke atas luka dalam waktu 15 menit
sejak kejadian, namun air dingin tidak boleh diberikan untuk mencegah terjadinya
hipotermia dan vasokonstriksi.
2. Resusitasi jalan napas
Resusitasi jalan napas bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang
adekuat. Pada luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi
dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum
dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan menggunakan face mask. Intubasi
bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas, fasilitas pemeliharaan jalan
napas (penghisapan sekret) dan bronchoalveolar lavage. Krikotiroidotomi masih
menjadi diperdebatkan karena dianggap terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar
dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan

akan lama menggunakan endotracheal tube (ETT) yaitu lebih dari 2 minggu pada
luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi.
Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui pipa endotrakeal.
Terapi inhalasi mengupayakan suasana udara yang lebih baik di saluran napas dengan
cara uap air menurunkan suhu yang menigkat pada proses inflamasi dan mencairkan
sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Terapi inhalasi dengan Ringer
Laktat hasilnya lebih baik dibandingkan NaCl 0,9%. Dapat juga diberikan
bronkodilator bila terjadi bronkokonstriksi seperti pada cedera inhalasi yang
disebabkan oleh bahan kimiawi dan listrik. Pada cedera inhalasi perlu dilakukan
pemantauan gejala dan tanda distres pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak,
gelisah, takipnea, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan, dan
stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial
dan foto toraks.
3. Resusitasi cairan
Syok pada luka bakar umum terjadi dan merupakan faktor utama
berkembangnya SIRS dan MODS. Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar
adalah:

Preservasi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh vaskuler


regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan

Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan

Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin survival


seluruh sel

Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan stabilisasi


pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.

a) Dasar pemilihan jenis cairan

Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid (isotonik), cairan
hipertonik dan koloid. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan
cairan adalah efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan
permeabilitas kapiler, oxygen carrier, pH buffering, efek hemostasis, modulasi
respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi, praktis dan efisiensi. Jenis cairan
terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan
terus diteliti. Sebagian orang berpendapat kristaloid adalah cairan yang paling
aman digunakan untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu.

Sebagian berpendapat koloid bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini
dihubungkan dengan karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan
dan kekurangan, sehingga sulit untuk mengambil keputusan untuk diterapkan
secara umum sebagai protokol. Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan cairan
di kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam
pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid.
b) Penentuan jumlah cairan
Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai
empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1L cairan kristaloid akan meningkatkan
volume intravaskuler 300ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac
output dan memperbaiki transpor oksigen.
c) Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau Ringer asetat, menggunakan
beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar >2530% atau dijumpai keterlambatan >2jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan
kristaloid sebanyak 3[25%(70%x BBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan
tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh yang dapat
menimbulkan gejala klinik sindrom syok.

Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas <25-30%,
tanpa atau dijumpai keterlambatan <2jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan
rumus Baxter: 3-4 ml/kgBB/ % luas LB.3 Metode Parkland merupakan metode
resusitasi yang paling umum digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan
cairan kristaloid. Metode ini mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal <
8 jam sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu
luas dan tanpa keterlambatan. Pemberian cairan menurut formula Parkland
adalah sebagai berikut:

Pada 24 jam pertama : separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama,
sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan orang tua,
kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan
cairan 4ml ditambah 1% dari kebutuhan. Bila dijumpai hipertermia, kebutuhan
cairan ditambah 1% dari kebutuhan.

Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3


mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah
teteasan dibagi rata dalam 24 jam.

Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral


(minimal 6-12cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi
urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam) dan hari1-2 (1-2
ml/kgBB/jam). Jika produksi urin <0,5ml/kgBB/jam maka jumlah cairan
ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Jika produksi urin >1ml/kgBB/jam
maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya.

Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan
sedimen)

Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan


lembung melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan pasase
lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400ml gangguan berat.

d) Penatalaksanaan 24 jam kedua

Pemberian cairan yang mengandung glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam.
Jenis cairan yang dapat diberikan adalah Glukosa 5% atau 10% 1500-2000ml.
Batasi Ringer laktat karena dapat memperberat edema interstisial.

Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi
urin (1-2ml.kgBB/jam). Jika jumlah cairan sudah mencukupi namun produksi
urin <1-2ml/kgBB/jam, berikan vasoaktif sampai 5mg/kgBB.

Pemantauan analisa gas darah, elektrolit.

e) Penatalaksanaan setelah 48 jam

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4ml/kgBB/jam),


hemoglobin dan hematokrit

4. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme
bernapas dan resusitasi cairan dilakuakan. Tindakan meliputi debridement, nekrotomi
dan pencucian luka. Tujuan perawatan luka adalah mencegah degradasi luka dan
mengupayakan proses epitelisasi. Untuk bullae ukuran kecil tindakannya konservatif
sedangkan untuk ukuran besar (>5cm) dipecahkan tanpa membuang lapis epidermis di
atasnya. Untuk eskar yang melingkar dan mengganggu aliran atau perfusi dilakukan

eskarotomi. Pencucian luka dilakukan dengan memandikan pasien dengan air hangat
mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa lembab steril dengan
atau tanpa krim pelembab. Perawatan luka tertutup dengan oclusive dressing untuk
mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle berfungsi sebagai penutup luka
yang memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan
untuk mengatasi infeksi pada luka.
5. Penggunaan antibiotik
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis
infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Penggunaan antibiotik sebagai
profilaksis masih merupakan suatu kontroversi.4Dalam 3-5 hari pertama populasi
kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram positif non-patogen. Sedangkan hari
5-10 adalah bakteri Gram negatif patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka
masih dalam keadaan steril sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik
topikal yang dapat digunakan adalah silver sulfadiazin, povidone-iodine 10%,
gentamicin sulfate, mupirocin, dan bacitracin/polymixin.
Tabel 3. Agen penyebab infeksi pada luka bakar.

6. Tatalaksana Nutrisi
Pemberian nutrisi enteral dini melalui pipa nasogastrik dalam 24 jam pertama
pascacedera bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi mukosa usus. Pemberian
nutrisi enteral dilakukan dengan aman bila Gastric residual volume (GRV)
<150ml/jam, yang menandakan pasase saluran cerna baik.

Penentuan kebutuhan energi basal (Harris-Benedict):


Tabel 4. Penghitungan kalori dengan rumus Harris Benedict
Laki-laki

: 66,5 + 13,7 BB + 5TB 6,8 U

Perempuan

: 65,5 + 9,6 BB + 1,8 TB 4,7 U

Kebutuhan energi total = KEB x AF x FS


Keterangan:
AF: aktivitas fisik (peningkatan persentase terhadap keluaran
energi, tirah baring/duduk 20%, aktivitas ringan 30%, sedang
40-50%, berat 75%)
FS: faktor stress besarnya sesuai dengan luas luka bakar
Penentuan kebutuhan nutrien:
Protein : 1,5-2,15 g/kgBB/hari
Lemak : 6-8 g/kgBB/hari
Karbohidrat: 7-8 g/kgBB/hari.
Namun ada metode penghitungan kebutuhan kalori yang lebih mudah dengan
menggunakan quick methode yaitu 25-30 kkal /kgBB/ hari. Metode ini lebih mudah
dan praktis serta menghindari jumlah kalori yang berlebihan jika menggunakan rumus
Harris-Benedict.
7. Eksisi dan grafting
Luka bakar derajat dua dalam dan tiga tidak dapat mengalami penyembuhan
spontan tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang sudah mati ini akan menjadi
fokus inflamasi dan infeksi. Eksisi dini dan grafting saat ini dilakukan oleh sebagian
besar ahli bedah karena memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan debridement
serial. Setelah dilakukan eksisi, luka harus ditutup, idealnya luka ditutup dengan kulit
pasien sendiri. Pada luka bakar seluas 20-30%, biasanya dapat dilakukan dalam satu
kali operasi dengan penutupan oleh autograft split-thickness yang diambil dari bagian
tubuh pasien. Sebagian besar ahili bedah melakukan eksisi pada minggu pertama,
biasanya dalam satu kali operasi dapat dilakukan eksisi seluas 20%. Eksisi tidak boleh
melebihi kemampuan untuk menutup luka baik dengan autograft, biologic dressing
atau allograft.
J. Komplikasi

Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat perawatan
kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan grafting. Komplikasi
yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan MODS. Selain itu komplikasi
pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu atrofi mukosa, ulserasi dan perdarahan
mukosa , motilitas usus menurun dan ileus. Pada ginjal dapat terjadi acute tubular
necrosis karena perfusi ke renal yang menurun. Skin graft loss merupakan komplikasi
yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada
fase lanjut suatu luka bakar, dapat terjadi jaringan parut berupa jaringan parut hipertrofik,
keloid dan kontraktur.

DAFTAR PUSTAKA
Greer, Steven E. 2004. Handbook Of Plastic Surgery. New York, U.S.A: Library of Congress
Cataloging-in-Publication Data.
Moya J. Morison. 2003. Manajemen Luka. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat, R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Sudjatmiko, G. 2011. Petunjuk Praktis Ilmi Bedah Plastik Rekonstruksi. Jakarta : Yayasan
Khasanah Kebajikan.
Swartz, MH. 2002. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC.
Thorne, Charles

H. 2007. Grabb

and

Smith's Plastic

Surgery, Sixth Edition.

Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, A Wolters Kluwer Business

Anda mungkin juga menyukai