Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS BEDAH PLASTIK

SEORANG LAKI-LAKI 53 TAHUN DENGAN


COMBUTIO API WAJAH, KEDUA LENGAN DAN
KAKI
Periode : 6 11 Oktober 2014

Oleh:
Asri Sukawati Putri

G99122020

Made Ratna Dewi S G99122073


Zefania Yonisa P

G99141008

Pembimbing:
dr. Amru Sungkar, SpB, SpBP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

BAB I
STATUS PASIEN
A. ANAMNESIS
1. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa
Nomor rekam medis

: Tn. MI
: 53 Tahun
: Laki-Laki
: Islam
: Petani
: Sragen
: 4 Oktober 2014
: 6 Oktober 2014
: 01273580

2. Keluhan Utama
Luka bakar api di wajah, kedua lengan dan kaki
3. Riwayat Penyakit Sekarang
4 jam sebelum masuk rumah sakit saat pasien menghidupkan mesin diesel
di sawah yang berbahan bakar gas kemudian apinya meledak menyambar tubuh
pasien. Setelah kejadian pasien sadar, pingsan (-), sesak (-), muntah (-).
Kemudian oleh keluarga pasien dibawa ke klinik sarana medika, karena
keterbatasan alat dan sarana pasien di rujuk k RSDM.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi/asma

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes Mellitus

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat trauma sebelumnya : disangkal


5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat alergi obat

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes Mellitus

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

6. Riwayat Kebiasaan
Pasien makan sehari 3 kali dengan nasi, sayur, dan lauk pauk seperti
tempe, tahu, ikan, atau ayam.
7. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien berobat dengan pembiayaan BPJS.
B. ANAMNESIS SISTEMIK
1. Kepala
: sakit kepala (-), luka (+) wajah
2. Mata :
pandangan kabur (-), oedem palpebra (-),
konjungtivapucat (-/-)
3. Tenggorokan
: sakit menelan (-), suara serak (-), gatal (-)
4. Sistem respirasi
: sesak nafas (-), batuk (-), batuk darah (-), mengi (-).
5. Sistem kardiovaskuler : sesak nafas saat beraktivitas (-), nyeri dada (-),
berdebar-debar (-)
6. Sistem gastrointestinal : mual (-), muntah (-), sakit perut (-), susah berak (-),
7. Sistem genitourinaria

perut sebah (-), kembung (-).


: air kencing berwarna merah (-), nyeri saat kencing (-),

8. Ekstremitas atas

keluar darah (-), kencing nanah (-)


: luka (+/+), tremor (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-),

9. Ekstremitas bawah

kesemutan (-/-), sakit sendi (-/-), nyeri (-/-)


: bengkak (-), nyeri (-),luka (+/+), tremor (-), ujung jari
terasa dingin (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Primary Survey
a. Airway
: bebas
b. Breathing
: torakoabdominal, frekuensi pernafasan 20 x/menit
c. Circulation : tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 86 x/menit
d. Disability
: GCS E4V5M6, reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm)
e. Exposure
: suhu 36,7C, jejas (+) lihat status lokalis
2. Secondary Survey
a. Kepala
: bentuk mesocephal, luka (+) wajah lihat status lokalis
b. Mata
: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
(3mm/3mm), reflek cahaya (-/-), hematom periorbita (-/-),
c. Telinga

diplopia (-/-)
: sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), nyeri

d. Hidung

tragus (-/-)
: bentuk simetris, napas cuping hidung (-), secret (-), keluar
darah (-)
2

e. Mulut
f. Leher

: gusi berdarah (-), lidah kotor (-), jejas (-),maloklusi (-)


: pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi (-), nyeri
tekan (-), JVP tidak meningkat
: bentuk normochest, ketertinggalan gerak (-), jejas (-)

g. Thorak
h. Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi

: bunyi jantung I-II intensitas normal, regular,bising(-)

i. Pulmo
Inspeksi

: pengembangan dada kanan sama dengan kiri

Palpasi

: fremitus raba kanan sama dengan kiri, nyeri tekan(-/-)

Perkusi

: sonor/sonor

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+) normal, suara tambahan (-/-)

j. Abdomen
Inspeksi

: distended (-)

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), defense muscular (-)

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

k. Genitourinaria : BAK normal, BAK darah (-), BAK nanah (-), nyeri BAK
(-)
l. Muskuloskletal : nyeri (+), ROM terbatas pada kedua ekstremitas atas dan
bawah
m. Ekstremitas
Akral dingin

Oedema

3. Status Lokalis
a. Regio Facial
Inspeksi
: combutio api grade II A 1%
b. Regio Antebrachii Dekstra
Inspeksi
: combutio api grade II A 5%
Regio Antebrachii Sinistra
Inspeksi
: combutio api grade II A 5%

c. Regio Pedis Dekstra


Inspeksi
: combutio api grade II A 1%
D. ASSESMENT I
Combutio api grade II A 12%
E. PLANNING I
1. Cek darah lengkap
2. Rawat luka dengan woundress dan tulle
3. Infus RL 20 tpm
4. Injeksi ceftriaxon 1 gr/12 jam
5. Injeksi ranitidin 1 amp /12 jam
6. Injeksi metamizol 1 amp/8 jam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
LUKA BAKAR
A.

DEFINISI
Luka bakar merupakan kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang

diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan
kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki
penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat
keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka bakar dapat merusak
jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan
kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan.
B.

ETIOLOGI
Luka bakar dapat disebabkan oleh banyak hal:

1.

Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn): gas, cairan, bahan padat.
Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas (scald), jilatan api

ketubuh (flash), kobaran api di tubuh (flam), dan akibat terpapar atau kontak dengan
objek-objek panas lainnya.
2.

Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn)


Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang biasa

digunakan dalam bidang industri militer ataupu bahan pembersih yang sering digunakan
untuk keperluan rumah tangga.
3.

Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)

Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah.
Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya tunika intima,sehingga
menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Sering kali kerusakan berada jauh dari
lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun grown.

4.

Luka bakar radiasi


Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe

injury ini sering disebabkan oleh penggunaan radio aktif untuk keperluan terapeutik
dalam dunia kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar matahari yang terlalu lama
juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi.
C.

PATOFISIOLOGI
Secara umum berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent, lamanya

terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan dengan trauma, usia dan kondisi
penyakit sebelumnya. Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber
panas ke tubuh. Panas tersebut mungkin dipindahkan melalui konduksi atau radiasi
elektromagnetik. Luka bakar dikategorikan sebagai luka bakar termal, radiasi, atau luka
bakar kimiawi. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis,
dermis maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak
dengan sumber panas atau penyebabnya. Dalamnya luka bakar akan mempengaruhi
kerusakan atau gangguan integritas kulit dan kematian sel-sel.
Fisiologi syok pada luka bakar akibat dari lolosnya cairan dalam sirkulasi kapiler
secara massive dan berpengaruh pada sistem kardiovaskular karena hilangnya atau
rusaknya kapiler, yang menyebabkan cairan akan lolos atau hilang dari compartment
intravaskuler kedalam jaringan interstisial. Eritrosit dan leukosit tetap dalam sirkulasi
dan menyebabkan peningkatan hematokrit dan leukosit. Darah dan cairan akan hilang
melalui evaporasi sehingga terjadi kekurangan cairan.
Kompensasi terhadap syok dengan kehilangan cairan maka tubuh mengadakan
respon dengan menurunkan sirkulasi sistem gastrointestinal yang mana dapat terjadi
ilius paralitik. Takikardia dan takipnea merupakan kompensasi untuk menurunkan

volume vaskuler dengan meningkatkan kebutuhan oksigen terhadap injury jaringan dan
perubahan sistem. Kemudian menurunkan perfusi pada ginjal, dan terjadi vasokontriksi
yang akan berakibat pada depresi filtrasi glomerulus dan oliguri. Repon luka bakar akan
meningkatkan aliran darah ke organ vital dan menurunkan aliran darah ke perifer dan
organ yang tidak vital.
Respon metabolik pada luka bakar adalah hipermetabolisme dimana terjadi
peningkatan temperatur dan metabolisme. Hiperglikemi karena meningkatnya
pengeluaran glukosa untuk kebutuhan metabolik, ketidakseimbangan nitrogen oleh
karena status hipermetabolisme dan injury jaringan.
Kerusakan pada sel daerah merah dan hemolisis menimbulkan anemia, yang
kemudian akan meningkatkan curah jantung untuk mempertahankan perfusi.
Pertumbuhan dapat terhambat oleh depresi hormon pertumbuhan karena terfokus pada
penyembuhan jaringan yang rusak. Pembentukan edema karena adanya peningkatan
permeabilitas kapiler dan pada saat yang sama terjadi vasodilatasi yang menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler. Terjadi pertukaran elektrolit yang
abnormal antara sel dan cairan interstisial dimana secara khusus natrium masuk
kedalam sel dan kalium keluar dari dalam sel. Dengan demikian mengakibatkan
kekurangan sodium dalam intravaskuler.
D.

LUAS LUKA BAKAR


Wallace membagi tubuh atas 9 % atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule

of nine atau rule of Wallace. Telapak tangan penderita dianggap luas 1%. Bila
ditemukan luas luka bakar yang luasnya tidak sampai seluas telapak tangan penderita
dilaporkan sebagai luas 1%.
1. Kepala dan leher

9%

2. Lengan kiri

9%

3. Lengan kanan

9%

4. Perut

9%

5. Bokong/pinggang

9%

6. Dada

9%

7. Punggung

9%

8. Tungkai atas kiri

9%

9. Tungkai atas kanan

9%

10. Tungkai bawah kiri


11.Tungkai bawah kanan
12. Genitalia

9%
9%
1%

Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak dan bayi karena luas
relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih
kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-20 dari Lund
dan Browder untuk anak.
Luas luka bakar menurut Lund dan Browder :
Area luka bakar

0-1 Tahun 1-4 Tahun 5-9 Tahun 10-14 Tahun 15 Tahun

Kepala

19

17

13

11

Leher

Dada

13

13

13

13

13

Punggung

13

13

13

13

13

Lengan kanan atas

Lengan kiri atas

Lengan kanan
bawah

Lengan kiri bawah

Tangan kanan

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Tangan kiri

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Bokong kanan

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Bokong kiri

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

Paha kanan

5,5

6,5

8,5

Paha kiri

5,5

6,5

8,5

Genetalia

Tungkai kanan

5,5

6,5

Tungkai kiri

5,5

6,5

Kaki kanan

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

Kaki kiri

3,5

3,5

3,5

3,5

3,5

Tabel 1. Luas luka bakar menurut umur


Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara
lain:
1. Persentasi area (luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh
2. Kedalaman luka bakar
3. Anatomi/lokasi luka bakar
4. Umur penderita
5. Riwayat pengobatan yang lalu
6. Trauma yang menyertai atau bersama

E.

DERAJAT LUKA BAKAR


Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas,

sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita.


1. Luka bakar derajat I: Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperfisial),
kulit hiperemik berupa eritem, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung-ujung
saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.
2. Luka bakar derajat II: Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis,
berupa reaksi inflamasi disertai proseseksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujungujung saraf sensorik teriritasi, dibedakan atas 2 (dua) bagian:
a) Derajat II dangkal/superficial (IIA): Kerusakan mengenai bagian epidermis dan
lapisan atas dari corium/dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar sebecea masih banyak.Semua ini merupakan benih-benih epitel.
Penyembuhan terjadi secara spontandalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk
sikatrik.
b) Derajat II dalam / deep (IIB): Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian
dermis dan sisa sisa jaringanepitel tinggal sedikit. Organ organ kulit seperti
9

folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjarsebacea tinggal sedikit. Penyembuhan


terjadi lebih lama dandisertai parut hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi
dalam waktu lebih dari satu bulan
3. Luka bakar derajat III: Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang
lebih dalam sampai mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit
mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisaelemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit
yang terbakar berwarna abu-abu dan lebih pucatsampai berwarna hitam kering. Terjadi
koagulasi protein pada epidermis dan dermis yangdikenal sebagai esker. Tidak dijumpai
rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung-ujung sensorik rusak. Penyembuhan terjadi
lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan
4. Luka bakar derajat IV: Luka full thickness yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya kerusakan yang luas. Kerusakan meliputi seluruh
dermis, organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat
mengalami kerusakan, tidak dijumpai bula, kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan
pucat, terletak lebih rendah dibandingkan kulit sekitar,terjadi koagulasi protein pada
epidemis dan dermis yang dikenal scar,tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensori
karena

ujung-ujung

syaraf

sensorik

mengalami

kerusakan

dan

kematian.

Penyembuhannya terjadi lebih lama karena ada proses epitelisasi spontan dan rasa luka.
F.

PENATALAKSANAAN
Tatalaksana pada luka bakar dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase akut, subakut

dan lanjut.
1.

Pada Fase Akut / Awal :


Cedera inhalasi merupakan faktor yang secara nyata memiliki korelasi dengan

angka mortalitas. Kematian akibat cedera inhalasi terjadi dalam waktu singkat, dalam 8
sampai 24 jam pertama pasca cedera. Pemasangan pipa endotrakeal dan atau
krikotirotomi merupakan suatu tindakan mandatorik pada kasus dengan kecurigaan
adanya cedera inhalasi. Sementara penatalaksanaan lanjutan setelah tindakan
penyelamatan tersebut ( terapi inhalasi, pembebasan saluran nafas dari produk secret
mukosa, pengaturan posisi penderita dan fisioterapi seawal mungkin). Masing- masing
turut berperan dalam keberhasilan terapi awal. Penderita yang bertahan hidup setelah
ancaman cedera inhalasi dalam waktu 8- 24 jam pertama ini, masih dihadapkan pada
10

komplikasi saluran pernafasan yang biasanya terjadi dalam 3-5 hari pasca trauma.
Komplikasi dari cedera inhalasi, dikenal sebagai kondisi ARDS, yang juga memiliki
prognosis sangat buruk.
Penanggulangan terhadap shock, terutama syok hipovolemik yang merupakan suatu
proses yang terjadi pada luka bakar sedang sampai berat.
Menurut BAXTER formula
Hari Pertama :
Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam
Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka + kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
Umur < 1 Tahun : berat badan x 100 cc
1 3 Tahun : berat badan x 75 cc
3 5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua :
Dewasa : hari I
Anak : diberi sesuai kebutuhan faali
2.

Pada fase subakut atau lanjutan:


Kerusakan / kehilangan kulit/ jaringan karena cedera termis menimbulkan masalah

yang dapat dikelompokan dalam dua golongan, dan masing- masing saling
berhubungan, yaitu memicu stress metabolism dan memicu SIRS, sepsis dan SDOM.
Kulit sebagai organ yang memiliki fungsi mencegah penguapan, dengan sendirinya

11

kerusakan kulit menyebabkan penguapamn berlangsung tanpa kendali dan penguapan


yang terjadi tidak ahnya sekedar cairan namun juga melibatkan protein dan energy
(evaporation heat loss). Kondisi pertama yang terjadi adalah hipotermi, yang disusul
dengan menurunnya kadar protein total, khususnya albumin. Imbalans protein timbul
sebagai akibat, namun segera disusul oleh imbalans karbohidrat dan lemak disamping
imbalans cairan yang memang sudah terjadi sebelumnya.
Penatalaksanaan secara sistematik dapat dilakukan :
1. Clothing: singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian
yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase
cleaning.
2. Cooling: Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air
mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal,
terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah
kejadian luka bakar Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap
memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang
terlokalisasi Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah
mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko
hipotermia Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram
dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar
berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang
mengalir.
3. Cleaning: Pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa
sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih
cepat dan risiko infeksi berkurang
4. Covering: penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat
luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya.
Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi
pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan
berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan
meningkatkan risiko infeksi.
5. Comforting dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri untuk membantu

12

pasien mengatasi kegelisahan karena nyeri yang berat.

Dikenal dua cara merawat luka :


1.

Perawatan terbuka (exposure method)

2.

Perawatan tertutup (occlusive dressing method)


Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan luka yang

selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang.
Kerugiannya bila digunakan obat tertentu, misalnya mitras-argenti, alas tidur menjadi
kotor. Penderita dan keluargapun merasa kurang enak karena melihat luka yang tampak
kotor.
Perawatan terbuka ini memerlukan ketelatenan dan pengawasan yang ketat dan
aktif. Keadaan luka harus diamati beberapa kali dalam sehari. Cara ini baik untuk
merawat LB yang dangkal. Untuk LB III dengan eksudasi dan pembentukan pus harus
dilakukan pembersihan luka berulang-ulang untuk menjaga luka tetap kering. Penderita
perlu dimandikan tiap hari, tubuh sebagian yang luka dicuci dengan sabun atau
antiseptik dan secara bertahap dilakukan eksisi eskar atau debridement.
Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan untuk
menutup luka dari kemungkinan kontaminasi. Keuntungannya adalah luka tampak rapi,
terlindung dan enak bagi penderita. Hanya diperlukan tenaga dan biaya yang lebih
karena dipakainya banyak pembalut dan antiseptik. Untuk menghindari kemungkinan
kuman untuk berkembang biak, sedapat mungkin luka ditutup kasa penyerap (tole)
setelah dibubuhi dan dikompres dengan antispetik. Balutan kompres diganti beberapa
kali sehari. Pada waktu penggantian balut, eskar yang terkelupas dari dasarnya akan
terangkat, sehingga dilakukan debridement. Tetapi untuk LB luas debridement harus
lebih aktif dan dicuci yaitu dengan melakukan eksisi eskar.
Indikasi rawat inap pasien luka bakar yaitu :
1. Derajat II (dewasa > 30 %, anak > 20 %).
2. Derajat III > 10%

13

3. Luka bakar dengan komplikasi pada saluran nafas, fraktur, trauma jaringan
lunak yang hebat.
4. Luka bakar akibat sengatan listrik
5. Derajat III yang mengenai bagian tubuh yang kritis seperti muka, tangan, kaki,
mata, telinga, dan anogenital.
6. Penderita syok atau terancam syok bila luas luka bakar > 10% pada anak atau >
15% pada orang dewasa.
7. Terancam edema laring akibat terhirupnya asap atau udara hangat.
8. Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat, seperti pada wajah,
mata, tangan, kaki atau perineum
9. Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat kelamin atau kaki
10.

Penderita akan mengalami kesulitan dalam merawat lukanya secara baik

dan benar di rumah


11.Penderita berumur kurang dari 2 tahun atau lebih dari 70 tahun
12.

G.

Terjadi luka bakar pada organ dalam.

PROSES PENYEMBUHAN LUKA BAKAR


Berdasarkan klasifikasi lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua yaitu: akut

dan kronis. Luka dikatakan akut jika penyembuhan yang terjadi dalam jangka waktu 2
3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak tanda- -tanda
untuk sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu.
Pada dasarnya proses penyembuhan luka sama untuk setiap cedera jaringan lunak.
Begitu juga halnya dengan kriteria sembuhnya luka pada tipa cedera jaringan luka baik
luka ulseratif kronik, seperti dekubitus dan ulkus tungkai, luka traumatis, misalnya
laserasi, abrasi, dan luka bakar, atau luka akibat tindakan bedah. Luka dikatakan
mengalami proses penyembuhan jika mengalami proses fase respon inflamasi akut
terhadap cedera, fase destruktif, fase proliferatif, dan fase maturasi. Kemudian disertai
dengan berkurangnya luasnya luka, jumlah eksudat berkurang, jaringan luka semakin
membaik. Tubuh secara normal akan merespon terhadap luka melalui proses
peradangan yang dikarakteristikan dengan lima tanda utama yaitu bengkak, kemerahan,

14

panas, nyeri dan kerusakan fungi. Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase
yaitu:
a) Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 34 hari. Dua proses utama
terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan fagositosis. Hemostasis (penghentian
perdarahan) akibat vasokonstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi
pembuluh darah, endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan
bekuan darah di daerah luka. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka.
Scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme.
Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Sel epitel membantu
sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya
mikroorganisme. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan
dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan.
Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel
berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini
ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam
setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui
proses yang disebut fagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis
(AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah.
Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon
inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan.
Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel
berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini
ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam
setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui
proses yang disebut fagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis
(AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah.
Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon
inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan.
b) Fase Proliferatif

15

Fase kedua ini berlangsung dari hari ke4 atau 5 sampai hari ke 21. Jaringan
granulasi terdiri dari kombinasi fibroblas, sel inflamasi, pembuluh darah yang baru,
fibronectin and hyularonic acid. Fibroblas (menghubungkan sel-sel jaringan) yang
berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah terjadi luka. Diawali
dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira
5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang menambah
tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah
kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Kapilarisasi
dan epitelisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan
oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan.
c) Fase maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke21 dan berakhir 12 tahun. Fibroblas terus
mensintesis kolagen. Kolagen menyalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang
lebih kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalka garis
putih. Dalam fase ini terdapat remodeling luka yang merupakan hasil dari
peningkatan jaringan kolagen, pemecahan kolagen yang berlebih dan regresi
vaskularitas luka. Terbentuknya kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka
serta peningkatan kekuatan jaringan. Terbentuk jaringan parut 5080% sama
kuatnya dengan jaringan sebelumnya. Kemudian terdapat pengurangan secara
bertahap pada aktivitas selular dan vaskularisasi jaringan yang mengalami
perbaikan.

16

DAFTAR PUSTAKA
1.

Afife Ayla KABALAK, Ahmet nar YASTI. Management of inhalation injury and
respiratory complications in Burns Intensive Care Unit. Turkish Journal of Trauma
& Emergency Surgery (2012);18 (4):333-338

2.

Alharbi Ziya, Platkowski, Rolf Dembinski, Swen, Reckort, Gerrit Grieb, Jens K,
Norbert Pallua. Treatment of burn in the first 24 hours: simple and practical guide
by answering 10 questions in a step-by-step form. Wound Journal of Emergency
Surgery (2012), 7:13.

3.

Cameron AM, Ruzehaji N, Cowin AJ. Burn Wound Management: A Surgical


Perspective. Wound Practice and Research. 2010

4.

Chamania S, Hemvani N, oshi S. Burn wound infection: current problem and unmet
needs. India Journal of Burns. 2012; 20: 18-22

5.

Desanti L. Phatophisiology and management of burn injury. Wound care journal.


2005; 18:323-32

6.

Dries DJ. Management of burn injuries recent developments in resuscitation,


infection control and outcomes research. Scandinavian Journal of Trauma,
Resuscitation and Emergency Medicine . 2009. 17.

7.

G Nambi, Beck B,Lahhmana A, Lamba S, Kingsly M, Gupta AK, Dhanraj P. Study


of superficial burns in adults and a cost effective method of managemen. India
Journal of Burns. 2009; 17: 21-25

8.

Harbin KR, Norria TE. Anesthetic Management of Patients With Major Burn
Injury. AANA Journal. 2012. 80.

9.

Heberal M, Abali ES, Karkayali H. Fluid management in major burn injuries.


Indian Journal of Plastic Surgery. 2010. 43

10. Jaim M, Yellinedi R, Nuwalla R. Tissue expansion for reconstruction of facial burns
sequel . India Journal of Burns. 2011; 19
11. Kamolz LP, Kitzinger HB, Frey M. The Surgical Treatment of Acute Burns.
European Surgery. 2006.

17

12. Karpelowsky, Rode H. Basic principles in the management of thermal injuries. SA


Fam Pract (2008) Vol 50 No 3.
13. Lahane V.Long term result of meek micrograft technique in the management of
severe burns. India Journal of Burns. 2010; 18: 30-33
14. M. Justin-Temu, G. Rimoy, Z. Premji, G. Matemu. Causes, magnitude and
management of burns in under-fives in district hospitals in dar es salaam, tanzania.
East African Journal of Public Health (2008) Volume 5 Number 1.
15. Melanie Stander and Lee Alan Wallis. The Emergency Management and Treatment
of Severe Burns. Emergency Medicine International Volume 2011, Article ID
161375.
16. Misra A, Thussu D, Agrawal K. Assessment of psychological status and quality of
life in patient with facial burn scars. India Journal of Burns. 2012. 20; 57-61
17. Morgan ED, Bledsoe SC, Barker J. Ambulatory management of Burns . American
associationof family Physician, 2000.5.
18. Papimi R. ABC of burns : Management of burn injuries of various depths. British
Medical Journal. 2004.
19. Pius Agbenorku, Setri Fugar, Joseph Akpaloo, Paa E Hoyte-Williams, Zainab
Alhassan, Fareeda Agyei. Management of severe burn injuries with topical heparin:
the first evidence-based study in Ghana. Int J Burn Trauma 2013;3(1):30-36.
20. R. Palao, I. Monge, M. Ruiz J.P. Barret Chemical burns: pathophysiology and
treatment. JBurns (2009).
21. Rice PL, Orgill DP. Emergency Care of Moderate and Severe Thermal Burns in
Adult. Walters Kluwer Health. 2014
22. Schwarz R. Management of postburn contractures of the upper extremity. Journal
of burn care and research. 2007; 28: 212-219
23. Shankar Gowri, Naik Vijaya A, Rajesh Powar, Ravindra Honnungar, Mallapur M
D. Epidemiology and Outcome of Burn Injuries. J Indian Acad Forensic Med.
(2012), Vol. 34, No. 4
24. Sterling P, Heimbach DM, Gibran NS. Management of the burn wound. ACS
surgey: principle and practice. 2010; 15: 89-96
25. Torpy Janet M, Lynm Cassio, Glass Richard. Burn injuries. The Journal of the
American Medical Association (2008).
26. Ullrich PM, Askay SW, Patterson DR. Pain, Depression, and Physical Functioning
Following Burn Injury. Rehabil Psychol, 2009. 5

18

27. Vyas K, Wagh S, RAwat APArhar S. Use of local skin as an islanded flap in
coverage of post burn contracture release. India Journal of Burns. 2011; 19
28. Ziadi N, Alam K, Maheswari v, Khan AH, Ahmad I. Clinico-pathological
correlation and assessment of burn wounds. India Journal of Burns. 2011; 19

19