Anda di halaman 1dari 33

Hemorhagia Post

Partum Et Causa Atonia


Uteri
Gadista P Annisa
030.09.100
Kepaniteraan Klinik ilmu Kebidanan dan Kandungan RS Budhi Asih
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Pendahuluan
Perdarahan pasca persalinan atau hemorragic
post partum(HPP) adalah kehilangan darah
melebihi 500ml yang terjadi setelah bayi lahir
normal dan 1000ml setelah bayi lahir secara
seksio saesaria
Perdarahan primer dan perdarahan sekunder
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak
perdarahan
postpartum
dini(50%),
dan
merupakan alasan paling sering untuk
melakukan histerektomi peripartum

BAB I
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama: Ny. E
Usia : 39 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Pisangan Baru No. 48 RT/RW 07/12,
Matraman, Jakarta Pusat
Agama : Islam
Suku : Sunda
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. RM : 93.41.80
Masuk RS tanggal : 10 Juli 2014 pukul 14.59

Anamnesis

Anamnesis
dilakukan
secara
autoanamnesis dan alloanamnesis terhadap
suami pasien dan pasien pada tanggal 16 Juni
2014 di ruang perawatan lantai 8 barat RS
Budhi Asih (RSBA) dan 18 Juni 2014 di ruang
perawatan lantai 8 barat RSBA.

Keluhan Utama

Pasien datang ke poli kandungan atas


rujukan
dari Puskesmas Pisangan Baru
dengan G3 P2 A0
hamil 34 minggu dengan
sirokat.

Riwayat Kehamilan Ini (1)


Pasien datang ke poli kebidanan RSBA rujukan
dari Puskesmas Pisangan Baru dengan riwayat
kehamilan G3 P2 A0 usia kehamilan 34 minggu
dengan Sirokat sejak tahun 2012.
Pasien datang ke poli kebidanan RSBA pada
tanggal 6 juni 2014 atas rujukan Puskesmas
Pisangan Baru dan dilakukan pemeriksaan Ante
Natal Care sebanyak 3 dan terkahir pada
tanggal 26 Juni 2014
Selanjutnya
pasien
dijadwalkan
untuk
melakukan operasi SC dan tubektomi pada
tanggal 11 Juli 2014

Riwayat Kehamilan Ini (2)


Pada saat menjalani operasi SC dan tubektomi
terjadi perdarahan yang banyak akibat rahim
yang tidak menyusut atau mengecil setelah bayi
dikeluarkan, selanjutnya dilakukan tindakan
berupa pengangkatan Rahim atas persetujuan
keluarga pasien.
Setelah operasi pasien menjalani perawatan
selama 5 hari di ICU RSBA karena kesadaran
pasien menurun
pada tanggal 16 Juli 2014 pasien di pindahkan ke
ruang perawatan di lantai 8 RSBA
Selanjutnya pada tanggal 18 Juli 2014 pasien
dipulangkan dari RSBA.

Riwayata Antenatal dan


Imunisasi
Di RSIA Bunda sebanyak 5 kali selama
kehamilan.
USG sebanyak 2 kali yang diakui pasien
pada usia kehamilan 6 dan 7 bulan
Diketahui letak janin baik tetapi terdapat
sirokat dengan OUI terbuka 5 mm
Telah dilakukan 2 kali imunisasi TT selama
masa kehamilan

Riwayat Persalinan
Sebelumnya
Kehamilan ini merupakan kehamilan ketiga
bagi pasien,
Pada 2 kehamilan sebelumnya, tidak pernah
ada riwayat perdarahan selama kehamilan
dan setelah proses persalinan
Kedua anak pasien dalam keadaan sehat

Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1 kali
Menikah saat berusia 23 tahun.
Lama pernikahan dengan suami sudah 16
tahun.

Riwayat Haid
Pasien pertama kali mendapatkan haid
(menarche) pada usia 13 tahun.
Siklus haid OS teratur tiap bulan.
Lama haid 5 - 7 hari tiap bulannya dengan
jumlah perdarahan yang biasa ( 3 kali ganti
pembalut

Riwayat Kontrasepsi
Pasien menggunakan KB Suntik setiap bulan
semenjak kelahiran anak kedua
Pasien menggunakan KB suntik selama 10
tahun semenjak kelahiran anak yang kedua
Berhenti pada bulan November 2013 karena
merasa tidak akan hamil lagi.

Rencana Kontrasepsi
berikutnya
Pasien berencana akan menggunakan
kontrasepsi mantap atau steril

Riwayat Penyakit Dahulu

riwayat penyakit kencing manis disangkal


Penyakit ginjal disangkal
Tekanan darah tinggi disangkal
Riwayat sirokat sejak tahun 2012

Riwayat Penyakit Keluarga

Menurut Pasien, selama ini keluarganya tidak


pernah ada yang mengalami perdarahan
selama
kehamilan
dan
setelah
proses
persalinan.
Riwayat kencing manis dalam keluarga
disangkal
Riwayat darah tinggi dalam keluarga disangkal
Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga
disangkal
Riwayat asma dan alergi dalam keluarga

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36,7C
Nadi : 96 x/menit
Pernapasan
: 24 x/menit
Mata : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Thoraks : Jantung : BJ I-II reguler, Gallop (-), murmur (-)
Paru-paru : SN Vesikuler (+/+), rhonki
(-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Lihat status obstetri
Genitalia : Lihat status obstetri
Ekstremitas: oedem (-) pada keempat ekstremitas

Status Obstetri
Inspeksi
Buncit simetris, striae gravidarum (+)
Palpasi
Hasil palpasi: supel, nyeri tekan (+), turgor baik
Tinggi fundus uteri : (-)
HIS
: (-)
DJJ
: (-)
Leopold I : (-)
Leopold II : (-)
Leopold III : (-)
Leopold IV : (-)
Auskultasi
Bising usus : normal (+).
Pemeriksaan Dalam (Tidak dilakukan)

Pemeriksaan Penunjang
(Laboratorium)
11 Juli 2014
(ICU post histerektomi)

13 Juli 2014
(ICU post transfusi)

Diagnosis Kerja
P3A0 post sc atas indikasi sirokat
Haemorraghic post partum et causa
atonia uteri

Penatalaksanaan (ICU)
Operatif

Medika Mentosa

Histerektomi Sub-total

Kaen MG3 IVFD 42 tpm


Recofol
Ketorolac dan Tramal tiap 8 jam IVFD
Dobuject 5 meq/menit (Syringe Pump)
Dopamin 3 meq/menit (Syringe
Pump)
Packed Red Cell 1000 cc (Transfusi)
Fresh Frozen Plasma 2 x 300 cc
(Transfusi)
Plasmanat 500 cc (Transfusi)
Ceftriaxone 2 x 2 gr IV
Nexium 2 x 40 mg IV
Vit C 1 x 1 gr IV
Vit K 3 x 1 amp IV
Ketorolac 3 x 30 mg IV
Tramal 3 x 100 mg IV
Dexamethason 1 x 2 amp IV
Lasix 1 amp (intra FFP)

Penatalaksanaan (Bangsal)

Asering IVFD 20 tpm


Cefadroxil 2x500mg
Metronidazol 3x500mg
Metilergometrin 3x0,125mg
Tramadol 4x50mg
Paracetamol 4x500mg

Resume
Pasien G3 P2 A0 usia kehamilan 37 minggu memiliki riwayat
sirokat sejak tahun 2012. saat menjalani operasi SC dan
tubektomi terjadi perdarahan yang banyak akibat rahim yang
tidak menyusut atau mengecil setelah bayi dikeluarkan,
selanjutnya dilakukan tindakan berupa histerektomi atas
persetujuan keluarga pasien. Bayi lahir sehat, berjenis kelamin
perempuan dengan berat badan 2800 gram. Setelah operasi
pasien menjalani perawatan selama 5 hari di ICU RSBA karena
kesadaran pasien menurun. Pasien juga dilakukan beberapa
pemeriksaan laboraturium darah yang hasilnya leukosit mingkat
hingga 12,2 mg/dL, eritrosit menurun hingga 3,5 juta/uL,
hematokrit menurun hingga 29%, trombosit 83ribu/uL dan
hemoglobin sempat menurun sangat rendah dari 2,5 g/dL
ditransfusi PRC 1000cc, FFP 600cc dan plasmanat 500cc
sehingga mengalami perbaikan hemoglobin menjadi 9,9 g/dL.
Saat kondisi pasien semakin membaik, pasien di pindahkan ke
ruang perawatan di lantai 8 RSBA karena kondisi pasien yang
mulai stabil dan kesadaran pasien sudah kembali seperti
semula. 3 hari setelahnya pasien dipulangkam dari RSBA.

Prognosis
ad vitam

: dubia ad bonam

ad sanationam: dubia ad bonam


ad functionam

: dubia ad malam

BAB II
PEMBAHASAN KASUS

Pasien ini dapat dimasukkan kedalam diagnosis


Haemorhagia post partum ec Atonia uteri, karena
pada anamnesis didapatkan pada saat pasien
menjalani operasi SC dan tubektomi terjadi
perdarahan yang tidak berhenti karenan uterus tidak
berkontraksi setelah bayi dan plasenta dilahirkan, hal
ini sesuai dengan definisi perdarahan pasca
persalinan yaitu darah lebih dari 1000 cc pada sectio
caesaria setelah bayi lahir dan hal ini sesuai dengan
kriteria diagnosis atonia uteri yaitu adanya kontraksi
rahim yang buruk. Pada pemeriksaan fisik setelah
operasi histerektomi didapatkan pada palpasi
abdomen fundus tidak teraba dan didapatkan adanya
nyeri tekan. Selain itu pada kasus perdarahan pasca
persalinan ec atonia uteri, pada umumnya disertai
tanda-tanda syok hipovolemik.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Atonia Uteri
Atonia uteri terjadi bila miometrium
tidak berkontraksi.
Atonia merupakan penyebab tersering
perdarahan postpartum (2/3
Perdarahan post partum)

Faktor Penyebab
Uterus meregang lebih dari kondisi normal
seperti pada:
Polihidramnion
Kehamilan kembar
Makrosomi
Persalinan lama
Persalinan terlalu cepat
Persalinan dengan induksi atau akselerasi
oksitosin
Infeksi intrapartum
Paritas tinggi

Pencegahan Atonia Uteri


dalam upaya mencegah atonia uteri ialah melakukan
penanganan kala tiga secara aktif, yaitu:
1. Menyuntikan Oksitosin
2. Peregangan Tali Pusat Terkendali
3. Mengeluarkan plasenta
4. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan
melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila terasa ada
tahanan, penegangan plasenta dan selaput secara
perlahan dan sabar untuk mencegah robeknya selaput
ketuban.
5. Masase Uterus
6. Memeriksa kemungkinan adanya perdarahan pasca
persalinan

Penatalaksanaan Atonia
Uteri

Penatalaksanaan Atonia
Uteri

TERIMA KASIH