Anda di halaman 1dari 12

LIABILITIES AND OWNERS’ EQUITY

Based on Chapter 8 Godfrey 7th Edition

LIABILITIES AND OWNERS’ EQUITY Based on Chapter 8 Godfrey 7th Edition Kelas X-D Khusus/ Kelompok 4
LIABILITIES AND OWNERS’ EQUITY Based on Chapter 8 Godfrey 7th Edition Kelas X-D Khusus/ Kelompok 4
LIABILITIES AND OWNERS’ EQUITY Based on Chapter 8 Godfrey 7th Edition Kelas X-D Khusus/ Kelompok 4

Kelas X-D Khusus/ Kelompok 4

  • 1. Andika Putra Wijaya

  • 2. Dwi Yanis Wijanarko

  • 3. Isramia Larasati

  • 4. Muhammad Rico Firmansyah

  • 5. Tommy

DIPLOMA IV AKUNTANSI KURIKULUM KHUSUS STAN, 2014

LO 1 – PROPRIETARY AND ENTITY THEORY

Terdapat dua teori yang diusulkan untuk memahami akuntansi, yaitu teori kepemilikan dan teori entitas.

Proprietary Theory

Kepemilikan orang (proprietorship) atas perusahaan merupakan jumlah aset perusahaan dikurangi dengan utang perusahaan kepada kreditor. Utang merupakan kewajiban perusahaan yang dapat diklaim oleh pemberi utang, maka besar kepemilikan atas sebuah perusahaan merupakan aset yang telah terbebas dari kewajiban terhadap kreditor. Dapat dituliskan di dalam persamaan sebagai berikut:

Terdapat dua teori yang diusulkan untuk memahami akuntansi, yaitu teori kepemilikan dan teori entitas. Proprietary Theory

Kepemilikan (owner equity) sama dengan aset dIkurangi liabilitas.

Nilai P merupakan representasi dari kekayaan dari pemilik perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Sprague:

Balance sheet merupakan penjumlahan dari elemen-elemen yang membentuk kekayaan pemilik di dalam suatu rentang waktu tertentu. Dengan fokus untuk mengumpulkan kekayaan dalam berbisnis yang juga merupkan peningkatan atas kepemilikan.

Akuntansi berdasarkan teori ini diperuntukkan untuk menunjukkan kekayaan dari pemilik bisnis. Aset melambangkan jumlah yang dimiliki oleh pemilik, sedangkan liabilitas merupakan kewajiban dari pemilik terhadap kreditor. Konsep income dari berbisnis merupakan peningkatan dari kekayaan pemilik yang juga dapat diartikan sebagai return bagi pelaku bisnis. Pemilik atau perwakilan dari pemilik di dalam bisnis melakukan keputusan di dalam bisnis yang menghasilkan pendapatan dan pengeluaran.

Pendapatan dan pengeluaran di dalam berbisnis merupakan bagian dari akun P. Kedua akun ini sengaja untuk dipisahkan agar dapat melihat keuntungan yang diterima di dalam proses berbinis. Pendapatan meningkatkan kepemilikan, sebaliknya pengeluaran menurunkan kepemilikan. Seperti yang dikatakan oleh Vatter:

Pencatatan double entry didasarkan pada ide bahwa pendapatan dan pengeluaran merupakan satu bagian dari kekayaan bersih. Akun yang meningkatkan kekayaan bersih meningkat berdasarkan kredit, sebaliknya akun yang menurunkan kekayaan bersih berdasarkan debit.

Pendapatan bersih berasal dari kegiatan menghasilkan pendapatan serta perubahan nilai aset. Misalnya, nilai intrinsik dari surat kabar masthead dapat meningkatkan nilai dan bisa menarik premi yang signifikan untuk pemilik jika dijual. Dalam kasus tersebut, argumennya adalah bahwa peningkatan kekayaan bersih pemilik harus diakui, meskipun perubahan kekayaan tersebut abstrak hingga pada saat surat kabar tersebut benar – benar dijual kepada pihak ketiga. Masalah akuntansi adalah mengukur perubahan abstrak yang terjadi pada nilai.

Secara umum, praktik akuntansi saat ini didasarkan pada teori kepemilikan. Dividen dianggap sebagai pembagian keuntungan daripada beban karena dividen dibayarkan kepada pemilik. Di sisi lain, bunga atas utang dan pajak penghasilan dianggap beban karena mereka mengurangi kekayaan pemilik.

Modal finansial lebih wajar bila menyangkut teori kepemilikan, dibandingkan dengan modal fisik. Modal finansial menekankan investasi keuangan pemilik, sedangkan modal fisik berfokus pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan operasi fisik tanpa mempedulikan klaim kepemilikan. Pandangan hak milik tidak melihat perbedaan antara aset pemilik dan aset entitas. Oleh karena itu, semua laba entitas dapat didistribusikan kepada pemilik perusahaan. Jika entitas memerlukan sumber daya tambahan. Modal untuk itu tersedia dari sumber daya pribadi si pemilik. Kebanyakan orang mengadopsi pandangan keuangan modal dan juga posisi yang diambil dalam praktek akuntansi konvensional tradisional.

Akuntabilitas untuk pemilik adalah hal yang penting bagi perusahaan besar karena adanya kesenjangan antara manajemen dan pemegang saham. Untuk perusahaan kecil, pemilik menyadari status keuangan usaha sehingga gagasan akuntabilitas atau kepengurusan tidak seberarti pada perusahaan besar. Beda halnya dengan kontak pemegang saham dengan urusan perusahaan yang sangat minim.

Entity Theory

Teori entitas merupakan teori yang dibentuk akibat ketidakmampuan teori sebelumnya dalam menjelaskan status hukum perusahaan yang terpisah dari pemiliknya. Teori ini menyatakan bahwa sebuah perusahaan merupakan perusahaan yang berdirri sendiri

dengan identitasnya sendiri. Menurut Martin ada dua asumsi untuk gagasan entitas akuntansi yaitu:

Separation, untuk tujuan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.

Viewpoint, prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.

Meskipun teori entitas sangat cocok untuk akuntansi perusahaan, pendukung teori ini

percaya bahwa teori ini juga dapat diterapkan untuk kepemilikan, kemitraan dan bahkan untuk organisasai non profit, yang menyediakan:

  • - Laporan keuangan dan transaksi diklasifikasikan dan dianalisis dari sudut pandang entitas sebagai unit operasi dan,

  • - Prinsip dan prosedur Akuntansi tidak diformulasikan dalam bentuk kepentingan tunggal, seperti kepemilikan.

Ketika sebuah perspektif entitas diambil, tujuan akuntansi adalah antara kepengurusan atau akuntabilitas. Versi tradisional dari teori entitas adalah bahwa perusahaan bisnis beroperasi untuk kepentingan pemegang saham, yaitu mereka yang menyediakan dana untuk entitas. Oleh karena itu entitas harus melaporkan status dan konsekuensi dari investasi mereka kepada pemegang saham.

Fokus akuntansi berdasarkan teori ini ialah pada persamaaan antara aset dan modal. Hal ini dikarenakan entitas yang tidak lagi memandang bahwa kekayaan dari pemilik sebagai fokus melainkan berfokus kepada diri perusahaan itu sendiri. Pemegang saham dan kreditor dianggap sebagai pihak luar yang hanya memberika dana untuk entitas dalam menjalankan bisnis:

Modal finansial lebih wajar bila menyangkut teori kepemilikan, dibandingkan dengan modal fisik. Modal finansial menekankan investasi

Neraca menunjukkan aset entitas, yang Paton sebut mewakili pernyataan langsung dari nilai entitas dan ekuitas, yang disebut sebagai ekspresi berbeda dari total yang sama. Aset milik perusahaan dan utang merupakan kewajiban perusahaan, bukan pemilik. Hal ini telah

diargumenkan karena jumlah yang diinvestasikan oleh pemilik saham harus dicatat, tujuan ini mengarah ke penggunaan biaya historis untuk aktiva non moneter, karena total pada sisi kanan dari laporan keuangan harus sama dengan total di sisi kiri. Setelah menerima dana yang diberikan oleh pemilik saham, perusahaan menginvestasikan dana dalam aset.

Aset dan beban pada dasarnya memiliki sifat yang sama. mereka menyediakan jasa. Yang membedakannya hanyalah sebuah pertanyaan apakah jasa digunakan hingga habis atau akan digunakan untuk penggunaan masa depan. Karakteristik dasar dari pendapatan adalah pendapatan itu menciptakan aset lebih sedangkan biaya akhirnya mengurangi aset.

Oleh karena itu, teori Akuntansi seharusnya menjelaskan konsep pendapatan (penghasilan) dan biaya dalam hal perubahan aset perusahaan bukan sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas pemilik atau pemegang saham.

Paton dan Littleton berpendapat bahwa para pemegang saham memiliki klaim sisa kontrak pada total aktiva, dan karena alasan inilah kenapa net income diletakkan pada retained earning. Para pemegang saham mendapatkan residual, sisanya, setelah para kreditur dibayar dalam hal terjadi likuidasi perusahaan. Penjelasan ini berkembang dari versi konvensional teori ekuitas. Penafsiran yang lebih baru melihat akun laba ditahan sebagai modal perusahaan atau investasi sendiri. Pembayaran untuk penggunaan uang adalah biaya karena baik kreditur dan pemegang saham dianggap pihak eksternal. Oleh karena itu, bunga perubahan dan dividen, serta pajak penghasilan, adalah biaya-biaya bisnis. Mereka mengurangi jumlah ekuitas entitas memiliki dalam dirinya sendiri.

Sebagai kesimpulan, kita dapat mengatakan bahwa baik teori kepemilikan dan teori entitas memiliki pengaruh dalam praktik. teori akuntansi konvensional didasarkan pada konsep entitas dan laporan keuangan mencerminkan pandangan entitas, dengan berfokus pada dividen dan laba bersih per saham. Perusahaan memperdagangkan saham mereka sendiri, yang menunjukkan bahwa pasar menerima bahwa mereka adalah entitas yang terpisah. Namun, pandangan hak milik juga memiliki pengaruh sendiri.

LO 2 – LIABILITIES DEFINED

Kewajiban adalah hutang entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, dimana penyelesaiannya menyebabkan adanya arus keluar sumber daya ekonomi entitas tersebut. (IASB Framework par 49b)

Dua komponen utama di dalamnya, yaitu:

Adanya kewajiban masa kini yang memerlukan penyelesaian di masa mendatang

Hasil dari transaksi masa lalu atau peristiwa masa lalu yang lain

Present Obligation

Definisi dari IASB Framework menyatakan bahwa liabilities diharapkan dapat menyebabkan terjadinya outflow dari manfaat ekonomi. Definisi ini berfokus pada future event, dalam artian, pengorbanan sebenarnya belum dilakukan. Pertimbangan yang mendasari hal ini adalah bahwa obligasi telah ada dalam hubungannya pengorbanan di masa depan. Sebagai contoh, utang dagang adalah current obligation, yang muncul dari provisi jasa pihak lain.

Dalam paragraph 62 di IASB Framework, diakui bahwa settlement dari obligasi bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti pembayaran kas, transfer aset selain kas, provisi jasa, penggantian obligasi dengan obligasi lain, konversi obligasi menjadi ekuitas, atau kreditor melepaskan obligasi yang bersangkutan. Dalam berbagai metode penyelesaian obligasi, hanya dua cara yang disebutkan di awal yang tentunya terlibat terhadap outflow aset. Sebagai contoh, utang dagang akan diselesaikan oleh pembayaran kas (outflow aset), sedangkan kewajiban untuk unearned revenue (pendapatan dibayar di awal) akan diselesaikan dengan provisi barang atau jasa.

Past Transaction

Hanya peristiwa masa lalu sajalah yang dapat membuat suatu item dikategorikan sebagai kewajiban, peristiwa masa depan tidak termasuk. Hal ini harus diterapkan secara kontekstual, termasuk dalam hal semisal perusahaan memesan barang yang mengandung ketentuan yang menyatakan bahwa tidak ada hutang selama barang belum diterima; maka persitiwa masa lalu yang dimaksud tentu bukanlah saat pemesanan barang, namun saat penerimaan barang. Sebuah contoh lain dapat dipakai untuk mengilustrasikan pentingnya pemahaman yang benar tentang kewajiban kini dan peristiwa masa lalu. Ketika sebuah perusahaan pertambangan mengumumkan penambangan, apakah saat itu juga perusahaan dapat dikatakan memiliki kewajiban kini untuk memulihkan situs tambang? Jawabannya adalah ya, kewajiban kini tersebut muncul sebagai akibat dari peristiwa msa lalu yaitu penandatanganan kontrak.

Liability recognition

Akuntan membutuhkan suatu peraturan untuk menentukan pengakuan kewajiban. Jenis peraturan yang telah diterapkan di masa lalu mirip dengan yang diterapkan dalam pengakuan aset, yaitu :

  • 1. Berdasarkan pada hukum

  • 2. Adanya penentuan substansi ekonomi

  • 3. Dapat diukur nilainya

  • 4. Penggunaan prinsip konservatisme

Kriteria pertama, jika ada klaim yang memiliki kekuatan secara hukum, ada sedikit keraguan bahwa suatu kewajiban terjadi. Meskipun kewajiban adil atau konstruktif dianut dalam definisi kewajiban, sebagian besar kewajiban ditentukan atas dasar apakah ada kewajiban klaim hukum terhadap entitas untuk memenuhinya. Kewajiban untuk pemulihan operasi penambangan adalah kewajiban hukum jika hukum mensyaratkan pemulihan tetapi juga bisa dianggap sebagai suatu yang adil.

Kriteria kedua mengharuskan kita mempertimbangkan substansi ekonomi dari sebuah transaksi. Apakah beberapa kewajiban benar-benar terjadi? Seberapa penting pencatatan dan penampilan akhir dari kewajiban bagi pengguna dalam neraca? Pemegang saham dan investor khawatir tentang besarnya aliran manfaat ekonomi sehubungan dengan penyelesaian klaim ganti rugi, sedangkan karyawan khawatir terkait keberlangsungan perusahaan untuk memenuhi klaim masa depan mereka.

Kriteria ketiga berkaitan dengan menentukan nilai kewajiban. Untuk beberapa kewajiban, nilai diwakili oleh harga kontrak, seperti jumlah uang yang harus dibayar untuk barang dan jasa yang diterima. Nilai kewajiban mungkin berbeda dengan jumlah nominalnya. misalnya, jika kewajiban melibatkan jangka waktu lebih dari 12 bulan harus dipertimbangkan nilai

waktu dari uang. Sehingga perhitungan nilai kewajiban akan didasarkan pada nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan, bukan jumlah nominalnya.

Kriteria keempat terkait prinsip konservatisme, bahwa lebih baik mencatat kewajiban terlebih dini dibanding aset, sehingga timbul kesan bahwa lebih aman memiliki keadaan assets understated daripada liabilities understated. Masalah yang kemudian muncul adalah sampai sejauh mana perusahaan akan bersikap konservatis? Konservatisme yang berlebihan akan mengakibatkan laporan keuangan menjadi bias, sementara pengambil keputusan tentu memerlukan informasi yang netral dalam mengambil keputusan.

Kewajiban diakui dalam neraca apabila besar kemungkinan bahwa suatu arus keluar sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi merupakan hasil dari penyelesaian kewajiban saat ini dan jumlah di mana penyelesaian akan berlangsung serta dapat diukur dengan andal.

IASB Framework

Kerangka IASB memberikan panduan dalam kaitannya dengan pengakuan elemen neraca dan laporan laba rugi. Dinyatakan bahwa item yang memenuhi definisi elemen harus diakui jika:

Kemungkinan adanya manfaat ekonomi masa depan berkenaan dengan item akan mengalir ke atau dari entitas

Item memiliki nilai yang dapat diukur dengan andal

Suatu kewajiban diakui dalam neraca ketika kemungkinan besar tersebut mengakibatkan arus keluar dari sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi yang diakibatkan dari penyelesaian kewajiban kini dan jumlah di mana penyelesaian akan berlangsung dapat diukur dengan andal. Oleh karena itu, masalah-masalah penting yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan pengakuan kewajiban, yaitu:

kemungkinan besar arus keluar dari manfaat ekonomi

reliabilitas pengukuran

Dalam prakteknya, mungkin sulit untuk menerapkan kriteria tersebut. misalnya, apa maksud dari kemungkinan? Bisa dikatakan bahwa itu berarti semakin besar kemungkinan daripada lebih kecil kemungkinannya. Namun, perbedaan individu dalam perkiraan probabilitas dari suatu peristiwa dapat bervariasi, menyebabkan inkonsistensi dalam pengukuran.

Kerangka menyatakan pengukuran yang dapat diandalkan adalah 'bebas dari kesalahan material dan bias'; lebih lanjut, bahwa item diukur sehingga 'menunjukkan dengan tepat' apa yang dimaksudkan. Kerangka kerja menyatakan secara spesifik bahwa kewajiban yang tidak dapat diakui jika mereka tidak dapat diukur dengan andal. Salah satu contoh adalah tindakan hukum. Jika kerusakan yang akan dibayar tidak dapat diestimasi dengan andal maka item tidak dapat diakui sebagai kewajiban.

LO 3 – LIABILITY MEASUREMENT

Berdasarkan IFRS, metode pengukuran yang paling umum digunakan untuk kewajiban adalah biaya historis. Pengukuran fair value digunakan pada pengukuran awal transaksi yang melibatkan kewajiban dalam hubungannya dengan IAS 17 sewa/lease, IAS 39 pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan, IFRS 2 setoran saham berbasis, IFRS 3 penggabungan usaha. Kewajiban yang timbul dalam finance lease diakui pada awal berdasarkan nilai wajar sewa atau nilai kini dari present value pembayaran sewa minimum jika lebih rendah. Di tahun-tahun berikutnya, kewajiban diukur berdasarkan metode biaya diamortisasi yaitu biaya dari kewajiban pada awal disesuaikan secara tahunan untuk mencerminkan estimasi nilai saat ini. Saldo kewajiban adalah berdasarkan metode tingkat bunga efektif amortisasi. Dalam hal sewa pembiayaan, standar yang memberikan panduan yang jelas untuk menentukan nilai kewajiban sewa guna usaha. Namun, dalam kasus lain, pengukuran nilai wajar kewajiban hadir beberapa tantangan. Sebagai contoh, bagaimana kita memperkirakan nilai wajar suatu kewajiban yang tidak ada nilai pasar.

Employee Benefit – Pension (superannuation) Plans

Pada beberapa negara, iuran pensiun ditetapkan oleh atasan untuk memberikan manfaat pensiun kepada karyawan. Pengusaha melakukan pembayaran kepada dana pensiun yang memiliki aktiva, kepercayaan, untuk mendanai pembayaran ketika karyawan pensiun. Dana pensiun adalah suatu badan hukum, terpisah dari perusahaan pemberi kerja. Dana pensiun mungkin iuran atau non-iuran. Untuk dana imbalan pasti, jumlah yang akan dibayarkan kepada karyawan setidaknya sebagian fungsi dari gaji karyawan akhir atau rata-rata, sebaliknya, suatu iuran pasti dana membayar jumlah yang adalah fungsi dari kontribusi dibuat untuk dana tersebut.

Dana pensiun dapat seluruhnya dibiayai, sebagian didanai atau tidak didanai. Sepenuhnya didanai rencana memiliki kas yang cukup atau investasi untuk memenuhi kewajiban dana untuk anggota. Sebaliknya, rencana didanai tidak memiliki uang tunai atau investasi untuk menutupi potensi pembayaran di bawah rencana. Sejauh yang jumlah yang diselenggarakan di percaya dan yang dibayarkan ke dana pensiun tidak cukup untuk memenuhi kewajiban berdasarkan program saat mereka jatuh tempo, dana pensiun adalah kekurangan dana.

Dana pensiun adalah badan hukum yang terpisah, mungkin akan dianggap bahwa komitmen tidak didanai. Rencana bukan merupakan kewajiban dari sebuah perusahaan atasan yang membayar ke dana pensiun. Namun, bisa dikatakan bahwa perusahaan memiliki kewajiban yang adil untuk memenuhi komitmen tidak didanai.

Masalah

lainnya

berkaitan

dibayarkan, yaitu:

dengan

kapan

harus

mengakui

kewajiban

untuk

pensiun

Sebagai jasa karyawan yang membuat? gagasannya bahwa pembayaran adalah

bentuk kompensasi yang diterima oleh karyawan pada saat pemberian jasa. Namun, dibayarkan di masa depan, setelah pensiun. Ketika karyawan pensiun?

Bila dana yang dibutuhkan untuk membuat pembayaran berdasarkan program

pensiun?

Dana pensiun dapat dianggap sebagai janji entitas untuk memberikan pensiun kepada karyawan sebagai imbalan jasa masa lalu dan saat ini. Manfaat pensiun adalah bentuk kompensasi ditangguhkan ditawarkan oleh perusahaan dalam pertukaran untuk pelayanan

oleh karyawan yang telah memilih, baik implisit maupun eksplisit, untuk menerima kompensasi yang lebih rendah saat pembayaran pensiun di masa depan. Manfaat pensiun yang diterima oleh karyawan, dan biaya dicatat selama bertahun-tahun merupakan sebagai bentuk imbalan jasa yang telah diberikan.

Provisions and contingencies

Ketentuan dan kontinjensi terjadi di mana ada batas kabur antara kewajiban sekarang dan masa depan. PSAK 37 Penyediaan, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi mengakui tumpang tindih definisi dalam ayat 12, ketika menyatakan bahwa semua ketentuan yang kontingen karena mereka tidak yakin dalam waktu atau jumlah. Mencoba untuk membedakan antara sekarang, masa depan dan potensi (atau kontinjen) kewajiban tidak sesederhana mungkin muncul. Perbedaan ini tergantung tingkat besar pada sifat ' bahkan masa lalu ' tersebut

IAS 37/AASB 137 ayat 10 mendefinisikan kewajiban kontinjensi sebagai :

  • a) Kewajiban kemungkinan yang timbul dari peristiwa masa lalu dan yang keberadaannya akan dikonfirmasi hanya oleh terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa masa depan pasti tidak sepenuhnya dalam kendali entitas

  • b) Kewajiban kini yang timbul dari peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena: Kemungkinan tidak mengakibatkan arus keluar sumber daya dan manfaat ekonomi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban tersebut.

Jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur dengan keandalan yang cukup.

Kewajiban dan ketentuan diakui hanya jika ada kewajiban kini, adanya kemungkinan bahwa suatu arus keluar sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban, dan jumlah kewajiban tersebut dapat diukur secara andal. Kewajiban kontinjensi tidak memenuhi kriteria tersebut. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa kewajiban kontinjensi yang tidak diakui dalam laporan keuangan. PSAK 37 dikaji oleh IASB sebagai bagian dari proyek kewajiban. Salah satu proposal adalah untuk menghilangkan 'ketentuan' syarat dan 'kewajiban kontinjensi', menggantinya dengan 'kewajiban non- finansial'.

Owners’ equity

Ekuitas Pemilik merupakan aktiva bersih (aktiva dikurangi kewajiban) dari entitas. Dengan demikian, pemilik ekuitas sebagai pemilik klaim terhadap aktiva bersih entitas. Ekuitas pemilik mewakili kepentingan pemilik atau modal dalam perusahaan. Kerangka mendefinisikan ekuitas adalah kepentingan sisa dalam aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajibannya. Oleh karena itu, ekuitas pemilik tidak punya kewajiban untuk pengalihan aset, namun dapat klaim sisa. Selanjutnya, hal itu tidak dapat didefinisikan secara terpisah dari aktiva dan kewajiban. Dengan demikian, definisi aset dan kewajiban yang harus disepakati sebelum definisi ekuitas dapat diselesaikan dan diterapkan dalam arti teoritis atau praktis suara. Sebagai hasil dari sifat residu, jumlah yang ditampilkan dalam neraca sebagai mewakili ekuitas tergantung pada tidak hanya aset dan kewajiban yang diakui tetapi juga bagaimana mereka diukur.

Ada dua fitur penting yang dapat membantu kita untuk membedakan antara kewajiban dan ekuitas pemilik, yaitu:

Hak para pihak

Pengaturan substansi ekonomi

Hak hukum adalah pertimbangan yang sangat penting. Namun, mereka tidak boleh menjadi dasar satu-satunya perbedaan antara kreditur dan pemilik. Sudut pandang hukum terlalu sempit fokusnya dalam mencapai tujuan penggunaan keputusan akuntansi. Oleh karena itu, substansi ekonomi juga harus dipelajari.

Right of The Parties

Hak-hak yang dimiliki oleh kreditor dan pemilik, didapatkan karena hukum atau peraturan perusahaan terkait. Secara sah, kreditor memiliki klaim terhadap pemilik dalam kepemilikan tunggal atau persekutuan, sedangkan dalam perusahaan, kreditor memiliki klaim terhadap perusahaan. Bagaimanapun, dalam teori akuntansi, tidak peduli bagaimana bentuk hukum sebuah organisasi, entitas diakui sebagai unit akuntabilitas. Oleh karena itu, kreditor memiliki klaim terhadap entitas dan juga asetnya. Berikut ini merupakan hak-hak yang dimiliki oleh kreditor:

  • - Penyelesaian atas klaim kreditor dengan jangka waktu yang telah ditentukan, melalui transfer aset (barang atau jasa).

  • - Penyelesaian klaim kreditor merupakan prioritas utama dibandingkan hak-hak pemilik, jika terjadi likuidasi.

Harus diingat bahwa klaim yang dimiliki kreditor itu terbatas untuk jumlah tertentu (yang mungkin berbeda-beda, sesuai dengan terms of agreement). Sebaliknya, pemilik ‘hanya memiliki residual interest’, meskipun dengan pengaturan kontral yang berbeda, pemilik dapat memiliki prioritas yang berbeda dalam pengembalian modal (the return of the capital).

Aspek lain yang membedakan hak antara kreditor dan pemilik adalah hak atas penggunaan aset atau pengoperasian perusahaan. Kreditor tidak memiliki hak atas penggunaan aset perusahaan selain yang ditentukan dalam kontrak. Selain itu kreditor juga tidak memiliki hak dalam proses pengambilan keputusan bisnis, kecuali dengan secara tidak langsung dalam beberapa kasus. Contohnya kreditor dapat mempengaruhi perusahaan dengan membatasi retained earnings, atau sejumlah aset tertentu tidak dapat dijual sebelum mendapatkan persetujuan dari kreditor. Di sisi lain, pemilik mempunyai hak atau otoritas untuk menjalankan perusahaan.

Economic Substances

Liabilities dan owner’s equity melambangkan klaim terhadap entitas. Semua klaim terhadap entitas memiliki resiko kerugian, namun resiko kerugian kreditor sedikit lebih rendah dibandingkan resiko kerugian pemilik. Pemilik harus menanggung kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan. Perbedaan utama antara kreditor dan pemilik ialah, kreditor memiliki hak atas settlement, sedangkan pemilik memiliki hak atas pembagian profit. Perbedaan tersebut mencerminkan resiko ekonomi dan timbal balik dari kedua jenis klaim:

kreditor menanggung resiko yang lebih rendah dan mendapatkan timbal balik dengan pengembalian yang relatif tetap (fixed return), sedangkan pemilik menanggung resiko yang lebih tinggi dan dengan demikian mendapatkan timbale balik dengan pengembalian (lebih sering meningkat) melalui partisipasi mereka dalam pembagian keuntungan. Figur berikut ini menjelaskan hubungan antara substansi ekonomi (economic substance) dengan hak-hak (rights) yang dimiliki oleh kreditor dan pemilik.

Rights

Economic Substance

Interest and Settlement/

  • Risk and Return

Participation in profits Use of asets

  • Control

Pemilik atau wakilnya (agent) memiliki kendali atas akuisisi, komposisi, penggunaan dan disposisi aset perusahaan. Mereka memiliki kendali atas pengoperasian dan bertanggung jawab dalam menjalankan perusahaan serta keberlangsungan dan profitabilitasnya. Pada umumnya, pemilik menyerahkan hampir seluruh tanggung jawab dan kendali tersebut kepada direktur dan manajer (agent). Bagaimanapun, konsep ini memiliki kelemahan. Pengakuan atas owner’s equity menggunakan teori proprietary, yang tidak cocok ketika diterapkan kepada perusahaan besar.

Concept of Capital

Akuntansi untuk ekuitas pemegang saham dipengaruhi oleh ketentuan hukum. Sebagai contoh, hukum bisnis Inggris dan Australia memuat undang-undang mengenai akuntansi untuk modal. Konsep yang paling krusial adalah ketentuan mengenai capital maintenance, yaitu perusahaan dituntut untuk mempertahankan keutuhan modal dasarnya. Framework mengakui bahwa perusahaan mempertahankan keutuhan modal dasarnya atau tidak, merupakan sebuah fungsi, bukan hanya sebagai definisi ekuitas sebagai hak residu suatu entitas, melainkan juga concept of capital. Modal dapat dikonseptualisasi sebagai”the invested money”, “invested purchasing power” atau kapasitas produktivitas sebuah entitas. Modal dapat diukur dalam nominal mata uang, atau skala daya beli (sesungguhnya). Framework tidak memberikan arahan mengenai model mana yang paling sesuai, namun dijelaskan di paragraph 108 dan 109 bahwa perusahaan harus mempertahankan jumlah yang berbeda atas sumber dayanya untuk mempertahankan konsep dan pengukuran modal yang berbeda.

Tujuan lain dari capital maintenance adalah melindungi kreditor dengan menyediakan ‘bantalan’ atau ‘penyangga’. Sebagai contoh, misalkan perusahaan A memiliki modal sebesar Rp 100.000.000. Jika total aset sebesar Rp 1.000.000.000, maka besarnya kewajiban sebesar Rp 900.000.000. Berikut ini adalah penghitungannya:

Aset = Kewajiban + Modal Rp 1.000.000.000 = Rp 900.000.000 + Rp 100.000.000

Jika perusahaan A harus mengalami likuidasi dan aset perusahaan hanya dinilai sebesar Rp 800.000.000, perusahaan A masih mampu untuk membayar kewajibannya kepada kreditor. Hal ini dikarenakan perusahaan A masih memiliki modal sebesar Rp 100.000.000. Tanpa modal tersebut, kreditor tidak akan mendapatkan bayarannya secara penuh dari perusahaan A. Modal memang bukanlah sebuah jaminan dalam perlindungan kreditor, namun membantu memberikan sedikit ‘rasa aman’ kepada kreditor.

Classifications Within Owner’s Equity

Pemisahan antara contributed dan earned capital ternyata berguna bagi para akuntan. Contributed capital merupakan modal yang diserahkan secara langsung oleh pemilik untuk keberlangsungan perusahaan (invested), sedangkan earned capital adalah modal yang

berasal dari profit, didapatkan oleh perusahaan seiring dengan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan (reinvested). Logikanya adalah memisahkan modal yang telah diinventasikan secara langsung dengan modal yang diinvestasikan kembali. Contributed capital itu untuk financing transactions. Retained earnings, atau unnappropriated profit meningkatkan earned capital. Namun, demarkasi antara contributed dan earned capital tidak bisa dipisahkan secara tegas dikarenakan tidak ada transaksi yang benar-benar sesuai atas dua kategori tersebut. Sebagai contoh, dividen (yang telah dibayarkan) mencerminkan bahwa ada perubahan klasifikasi dari earned menjadi contributed capital.

LO 4 - CHALLENGES FOR STANDARD SETTERS

IASB saat ini memiliki beberapa proyek yang dapat mempengaruhi definisi, pengakuan dan pengukuran kewajiban, kerangka konseptual, instrumen keuangan, ketentuan serta hak-hak karyawan. Contohnya IAS 37 tentang Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets dan IAS 19 Employee Benefits sebagai bagian dari kewajiban. Tujuan dari proyek ini (IAS 37 & IAS 19) adalah untuk menyatukan standar IASB dengan US GAAP dan untuk meningkatkan standar saat ini dalam kaitannya dengan identifikasi dan pengakuan kewajiban. Untuk mengilustrasikan tantangan yang di hadapi para pembuat standar, kita akan mendiskusikan tiga topik utama yang sesuai dengan chapter ini.

Debt vs Equity Distinction

Sesuai dengan kriteria definisi dan pengakuan yang telah kita bahas di chapter ini, saham yang telah di terbitkan kepada investor termasuk bagian dari equity sedangkan pinjaman dari kreditor di klasifikasikan sebagai liabilities. Lalu bagaimana dengan akun yang memiliki hybrid instrument? Contohnya, saham preference yang dianggap sebagai bagian dari modal dan diklasifikasi sebagai equity. Namun, saham preference juga memiliki karateristik yang sesuai dengan liabilities yakni:

  • - Memiliki penerimaan yang tetap

  • - Tidak memiliki partisipasi dalam pembagian dividen lebih kearah specified rate

-

Memiliki

prioritas

lebih

pengembalian modal

utama

dibandingkan

dengan

saham

  • - Pada umumnya tidak memiliki hak voting.

biasa

dalam

Meskipun saham preference di klasifikasikan sebagai equity namun saham preference juga memiliki definisi dari liabilities.

IAS 32/AASB 132 paragraf 18 mengatakan :

“The substance of financial instrument, rather than its legal form, governs the classification ... substance and legal form are commonly consistent, but not always. Some financial instrument take the legal form of equity but are liabilities in substance and other may combine features associated with equity but are liabilities in substance and other may combine features associated with equity instrument and features associated with financial liabilities.”

Jadi IAS 32/AAS 132 mengatakan bahwa saham preference yang memberikan penerimaan tetap atau yang telah ditentukan untuk masa mendatang dikategorikan sebagai financial liabilities. Sebuah instrumen keuangan yang memberikan hak kepada pemegang instrumen

untuk dikembalikan dan diganti dengan cash atau financial asset lainya di kategorikan sebagai financial liabilities.

Extinguish Debt

Hutang dapat di selesaikan dengan cara membayar lunas atau memberikan jasa kepada kreditur. Namun bila debitur tidak mampu melunasi hutangnya, kreditur dapat menghapuskan hutang debitor. IAS 32/ AASB 132 membahas hal ini. Hal ini memungkinkan debitor untuk menghapus hutang dari neraca dan melaporkan aset financial bersih atau hutang hanya jika entitas tersebut di perbolehkan secara hukum.

Employee Shares

Para akuntan berdebat apakah pembayaran karyawan dalam bentuk gaji dimasukan kedalam beban atau tidak. Isu lainya adalah pemberian upah karyawan dalam bentuk saham perusahaan dikategorika ke dalam liabilities atau equity. Bila termasuk ke dalam liabilities, economic benefit apa yang akan dikorbankan? Mereka yang berargumen employee shares menciptakan expense dan liabilities berpendapat para karyawan mendapatkan sesuatu yang bernilai, oleh karenanya ada cost oleh perusahaan. Cost inilah yang dianggap beban. Dan liabilities ada sampai di lunasi dengan hutang dan ekuitas bertambah. Bagi mereka yang berpendapat Employee shares tidak menciptakan “expense” mereka beranggapan employee shares tidak lebih menciptakan additional shares. Sebaliknya para shareholder lah yang mengalami penurunan nilai saham.

ASB telah memutuskan untuk memperlakukan imbalan dalam bentuk saham kedalam beban.IFRS 2/AASB 2 ,pembayaran dalam bentuk saham dibedakan menjadi dua cash settled dan equity settled. IFRS2/AASB 2 juga mengarahkan perlakuan yang berbeda untuk “Fair value” yang berhubungan dengan cash settled dan equity settled. Nilai wajar dari equity settled di tetapkan pada tanggal pemberian sedangkan perubahan berikutnya di abaikan. Sedangkan untuk cash settled di adjust tiap periode.

Issue for Auditor

Lengkapnya liabilities yang diakui, pengungkapan note dan obligasi lainya merupakan salah satu isu yang di hadapi para auditor. Mereka wajib mengumpulkan bukti bahwa account payable, accrual, and other liabilities disajikan secara benar. Auditor perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya penyimpangan waktu, dimana liability yang ada sebelum akhir periode tidak dicatat oleh entitas sampai dimulainya periode baru. Dengan uji cut off para auditor dapat mengumpulkan bukti bahwa transaksi dicatat dalam perode yang tepat.

Pengenalan IFRS2/AASB berbasis pembayaran shares meningkatkan paduan otoritas untuk auditor saaat menilai kewajaran dari nilai fair value yang di berikan. Standar menyatakan bahwa fair value dapat ditentukan baik oleh nilai saham yang diberikan atau dengan nilai barang/jasa yang diterima.