Anda di halaman 1dari 6

Tras adalah batuan gunung api yang telah mengalami perubahan komposisi kimia yang disebabkan

oleh pelapukan dan pengaruh kondisi air bawah tanah. Bahan galian ini berwarna putih kekuningan
hingga putih kecoklatan, kompak dan padu dan agak sulit digali dengan alat sederhana. Kegunaan tras
adalah untuk bahan baku batako, industri semen, campuran bahan bangunan dan semen alam. Pada
saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun secara lokal telah dimanfaatkan penduduk untuk
pembuatan batako.
Tras adalah bahan galian yang termasuk ke dalam golongan bahan galian C atau industri
(PP No. 27/1980 tentang Penggolongan Bahan Galian). Bahan galian trass yang terdapat di alam
umumnya berasal dari batuan piroklastik dengan komposisi andesitis yang telah mengalami pelapukan
secara intensif sampai dengan derajat tertentu . Proses pelapukan berlangsung disebabkan oleh adanya
air yang mengakibatkan terjadinya pelolosan (leaching) pada sebahagian besar komponen basa seperti
: CaO, MgO dan NaO yang dikandung oleh mineral-mineral batuan asal. Komponen CaO yang
mengalami proses paling awal kemudian disusul dengan komponen berikutnya sesuai dengan mineral
pembentuk batuan dalam reaksi seri Bowen. Dengan terjadinya proses pelolosan tersebut, maka akan
tertinggal komponen-komponen SiO2, A1203 yang aktif yaitu yang akan menentukan mutu dari
endapan trass yang terjadi pada masa berikutnya . Jumlah komponen-komponen aktif ini sebanding
atau sesuai dengan derajat pelapukan dari batuan asal disamping faktor waktu turut berperan pada
tingkat proses pelapukan yang terjadi secara terus menerus sepanjang waktu.
Trass mempunyai sifat pozzolan, yaitu sifat yang sama yang dimiliki oleh semen. Dari hasil
penelitian (Dinas Pertambangan Kabupaten Lombok Barat 2003) menunjukkan bahwa tras dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, salah satunya adalah digunakan sebagai bahan pembuatan
batako. Batako yang terbuat dari bahan dasar trass secara fisik dan mekanik mempunyai kemampuan
yang tidak jauh berbeda dengan batako yang terbuat dari bahan dasar pasir. Bahkan pada pembuatan
batako trass membutuhkan campuran semen yang lebih sedikit ( 1:20 sampai dengan 1:24) dari pada
batako yang berbahan dasar pasir.

Menurut Neville (1998), sifat pozzolan adalah sifat yang dimiliki bahan-bahan yang
mengandung senyawa silika dan alumina. Sebenarnya bahan tersebut tidak memiliki sifat seperti
semen. Namun apabila bahan tersebut digiling hingga halus dan dicampur dengan klinker di finish
mill untuk membentuk semen dan kemudian semen tersebut bereaksi dengan air maka akan
membentuk senyawa CSH dan CAH. Sehingga bahan pozzolan tersebut akan mempunyai sifat seperti
semen. Reaksinya yaitu senyawa silika dan alumina akan mengikat senyawa Ca(OH)2 untuk
membentuk senyawa CSH dan CAH :
C3S + H2O ==> CSH dan Ca(OH)2
C2S + H2O ==> CSH dan Ca(OH)2
Ca(OH)2 + H2O + SiO2 ==> CSH
Ca(OH)2 + H2O + Al2O3 ==> CAH

Bahan pozzolan terbagi menjadi 2 yaitu pozzolan alam dan pozzolan buatan. Bahan pozzolan
alam contohnya yaitu trass, sedangkan bahan pozzolan buatan contohnya yaitu fly ash.
Tras merupakan bahan galian golongan bahan galian C atau industri (PP No. 27/1980 tentang
Penggolongan Bahan Galian). Bahan galian trass yang terdapat di alam umumnya berasal dari batuan
piroklastik dengan komposisi andesitis yang telah mengalami pelapukan secara intensif sampai
dengan derajat tertentu . Tras sendiri adalah batuan gunung api yang telah mengalami perubahan
komposisi kimia yang disebabkan oleh pelapukan dan pengaruh kondisi air bawah tanah. Bahan
galian ini berwarna putih kekuningan hingga putih kecoklatan, kompak dan padu.
Proses pelapukan berlangsung pada tras disebabkan oleh adanya air yang mengakibatkan
terjadinya pelolosan (leaching) pada sebahagian besar komponen basa seperti : CaO, MgO
dan NaO yang dikandung oleh mineral-mineral batuan asal. Komponen CaO yang mengalami proses
paling awal kemudian disusul dengan komponen berikutnya sesuai dengan mineral pembentuk batuan
dalam reaksi seri Bowen. Dengan terjadinya proses pelolosan tersebut, maka akan tertinggal
komponen-komponen SiO2, A1203 yang aktif yaitu yang akan menentukan mutu dari endapan trass
yang terjadi pada masa berikutnya . Jumlah komponen-komponen aktif ini sebanding atau sesuai
dengan derajat pelapukan dari batuan asal disamping faktor waktu turut berperan pada tingkat proses
pelapukan yang terjadi secara terus menerus sepanjang waktu.
Tras disebut pula sebagai pozolan, merupakan bahan yang mengandung senyawa silica dan
Alumina dimana bahan pozzolan itu sendiri tidak mempunyai sifat seperti semen, akan tetapi dengan
bentuknya yang halus dan dengan adanya air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi secara
kimiawi dengan Kalsium hidroksida (senyawa hasil reaksi antara semen dan air) pada suhu kamar
membentuk senyawa Kalsium Aluminat hidrat yang mempunyai sifat seperti semen. Nama pozolan
diambil dari nama desa Puzzouli de Napel, Italia dimana bahan tersebut ditemukan.
Bahan Pozzolan terbagi 2 yaitu :
1. Pozzolan Alam (Natural) : Tufa, abu vulkanis dan tanah Diatomae. Di Indonesia Pozzolan
alam dikenal dengan nama TRASS.
2. Pozzolan Buatan (sintetis) : yang termasuk dalam jenis ini adlah hasil pembakaran tanah liat
dan hasil pembakaran batu bara (Fly Ash)
Tras ( alam) pada umumnya terbentuk dari batuan vulkanik yang banyak mengandung
feldspar dan silica, antara lain breksi andesit, granit, rhyolit, yang telah mengalami pelapukan lanjut.
Akibat proses pelapukan feldspar akan berubah menjadi mineral lempung/ kaolin dan senyawa silika
amorf. Makin lanjut tingkat kelapukannya makin bagus kualitas tras tersebut.
Standar unsur kimia tras yang diusahakan adalah sebagai berikut:
Unsur
SiO2
Al2O3
Fe2O3
H2O
CaO
MgO

Kisaran % berat
40,76 - 56,20
17,35 - 27,95
7,35 13,15
3,35 10,70
0,82 10,27
1.95 8,05

Sebagai bahan banguna Tras mempunyai sifat sifat yang khas, sifat tras yang terpenting
adalah apabila di campur dengan kapur padam ( kapur tohor ) dan air akan mempunyai sifat seperti
semen. Sifat ini disebabkan oleh Oksida silica ( SiO 2) yang amorf dan oksida alumunia ( Al 2O3 ) di
dalam tras yang menjadikannya bersifat asam.
Tempat Penyebaran

Penyebaran tras di Indonesia mengikuti jalur rangkaian gunung api Tersier dan Kuarter antara lain :
Nanggroe Aceh Darussalam : Ujung Batu dan Krueng Raya, Kab. Aceh besar ( pelapukan tufa
breksi dengan komponen dasit dan andesit ), Gronggong Kab. Aceh Pidie ( beupa tufa pasiran berbutir
kasar kasar halus telah mengalami pelapukan), Takengon Kec. Takengon Kab, Aceh Tengah
( berupa tufa pasir bebutir kasar mengandung komponen batu apung yang telah lapuk )

Sumatera Utara : Sarula Kab. Tapanuli Utara ( berasal dari pelapukan tufa riolit berbatu apung
)

Sumatera Barat : Muaro Labuah Kab. Solok Selatan, Kota Padang Panjang, Matur dan Gadut
Kab.Agam( dapat dipergunakan sebagai bata cetak atau tanah mantap dengan penstabil kapur atau
semen, kuat tekan = 4,6 19; kuat lentur = 1,9-9,3 ), Bonjol Kab. Pasaman ( telah digunakan sebagai
bahan baku bata cetak dan bahan bangunan )

Jambi : P. Pandan dan Batuputih Kec. Danau Kerinci Kab, Kerinci (terdapat sebagai hasil
pelapukan batuan gunung api yang mengandungdung fragmen batu apung ), Kampai Bukit Limon,
Selai Pulau Tengah dan Batu Putih ( merupakan hasil pelapukan batuan gunung api yang mengandung
fragmen batu apung )

Bengkulu : Jambu Keling, Kotadonok ( pelapukan breksi tufa berbatu apung ), Tanjung Panai
Kec. Padang Ulaktanding, Lubuk Tanjung Kec. Kerakap, Kepahiang dekat perbatasan dengan
Sumatera Barat ( pelapukan batuan vulkanik muda )

Lampung : Mutaralam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung Utara ( baik untuk bahan pembuatan
batako dan plester, merupakan hasil pelapukan batuan vulkanik berumur kuarter )

Jawa Barat : Ciomas Kab. Serang ( sebagai tufa batu apug hasil kegiatan Gn. Danan), Batu
Reog dan Bongkor, Kec. Lembang Kab. Bandung ( berasosiasi dengan pelapukan bahan yang berasal
dari Gn. Tangkuban Perahu dan bercampur dengan obsidian dan batuapung ), Cicurug Kab. Sukabumi
( merupakan hasil pelapukan bahan yang berasal dari Gn. Salak. Lapisan atas bercampur dengan batu
apung ), Sulukuning Kab. Purwakarta ( kandunga SiO 2 = 42,1 % - 48,5 %, Al 2O3 = 11,5% -17,2 %,
Fe2O3 = 13,1 % - 19,2 %, CaO = 1,9 % - 4,6 %, MgO = 1,2 % - 6,0 %, Na 2O = 0,6% - 1,5%, K2O =
0,1% - 0,6 %, H2O = 6,2% - 9,7%, HD = 12,3 19,2 %, beart jenis = 2,43 ), Nagreg Ka. Bandung
( terdapat batuan tufa andesit, dapat dipergunakan sebagai batuan campuran semen
portlandpuzzolan ), Cimeong, Sukaresmi Kec. Maja Kab. Majalengka ( merupakan hasil pelapukan
tuf dan breksi andesit ), Sukamelang Kec. Kedipaten Kab. Majalengka ( kandungan SiO 2 = 46,60%,
Al2O3 + Fe2O3 = 38,22 %, CaO = 5,08%, MgO = 1,24%, kadar air rata-rata 1,0%, dapat digunakan
sebagai tanah mantap tanpa tekan ), Sukaraja, Maruyung dan Cikancung Kab.Bandung, Cikalong
Wetan Kab. Bandung, Nyalindung, Padalarang Kab.Bandung, Batu jajar Kec. Cililing Kab.Bandung,
Bobos dan Loji Kec. Sumber Kab. Cirebon (kandungan SiO 2 = 68,74 %, Al2O3 + Fe2O3 = 23,26 %,

CaO = 1,70 %, MgO = 0,54 %, kadar air = 2,38% ), Gekbrog Kec. Warungkondang Kab. Cianjur
( KandunganSiO2 = 45%, Al2O3= 20 % kuat tekan 52-100 kg/cm2 )

Jawa Tengah : Kalirejo Kec. Unggaran Kab. Semarang ( dapat digunakan untuk batako tanpa
beban, Kuat takan = 29,0 kuat lentur = 10,5 kg/ cm 2 ) Pudak Payung Kec. Ungaran Kab. Semarang
( kuat tekan= 83,2 kuat lentur = 25,5 kg/cm 2, dapat digunakan untuk batako tanpa beban ), Lajan Kec.
Sumowono ( dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa beban, kandungan SiO 2 = 57,82%, Al2O3 +
Fe2O3 = 28,40 %, CaO = 6,10%, MgO = 1,62%, kadar air rata-rata 1,5% ), Bandungan Kec.
Ambarawa ( dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa beban , kandungan SiO 2 = 50,5 %, Al2O3 +
Fe2O3 = 34,78 %, CaO = 7,92%, MgO = 1,83%, kadar air rata-rata 1,08%), Kragilan Kec. Mojosongo
Kab. Boyolali ( dapat digunakan sebagai bata cetak dengan beban, kandungan SiO 2 = 44,44%, Al2O3 +
Fe2O3 = 35,24 %, CaO = 7,54%, MgO = 0,42%, kadar air rata-rata 4,1%), Kaligesing Kab. Purworejo
( merupakan breksi vulkanik bersifat lunak, kandungan SiO 2 = 50%, Al2O3= 20 % ), Gn. Muria Kab.
Pati (kandungan SiO2 = 50,13 %, Al2O3 + Fe2O3 = 38,93 %, CaO = 0,286%, MgO = 0,14%,MnO =
0,386 %, SO3 = 1,59 % ) , Kendel Kec. Kemusu Kab. Boyolali (kandungan SiO 2 = 47,36%, Al2O3 +
Fe2O3 = 35,86 %, CaO = 11,86%, MgO = 0,22%, kadar air rata-rata 3,3% ), Jatinom Kec, Jatinom,
Klaten ( dapat digunakan sebagai bata cetak dengan beban, kandungan SiO 2 = 53,0%, Al2O3 + Fe2O3 =
33,4 %, CaO = 8,58%, MgO = 0,44%, kadar air rata-rata 3,8% ), Towel Kab. Tegal ( baik untuk
batako ), Badungan Kab. Magelang ( baik untuk Batako ), Samigaluh, Kulon Progo DIY ( baik untuk
batako ), Wonogiri Kab. Wonogiri, Rembang Kab. Probolinggo.

Jawa Timur : Batu Malang, Kec. Pujon Kab, Malang, Sumberbrantas Kec. Batu Kab. Malang,
Punten Kec.Batu Malang, Turan Kab. Malang, Jari Kec. Bubukan Kab. Bojonegoro, Gn. Kelud, Pacet
Kec. Pacet Mojokerto, Made Kec. Pacet Kab. Mojokerto (dapat digunakan untuk bata cetak bersifat
puzolianik ), Singgahan, Pulung Kab. Ponorogo, Puger Kab.Trenggalek (baik untuk Batako),
Panarukan Situbondo, Pandak, Parseh, Tegalampel, Bondowoso ( baik untuk batako dan plester ).

Bali : Bajar males dan Batujulung Kec. Kuta Kab.Badung, Marga Kab.Tabanan, Bringkit
Kab. Badung, Samplangan, Gua Gajah, Bunitan Kab.Gianyar, Bukitjambul Kab.Klungkung, Banjar
Wanyu Kec. Marga, Tabanan

NTB : Tanah beak Kab. Lombok Barat ( dapat dimanfaatkan sebagai batako, kuat tarik =2,97,7 kg/cm2 kuat tekan = 20,7-35,0 kg/cm2 )

NTT : Waipors Kec.Bola Kab. Sikka ( merupakan hasil pelapukan batuan tufa, baik untuk
batako ), Maumere Kab. Sikka (pelapukan batuan tufa), Waulupang Kab. Flores Timur (pelapukan
batuan tufa), Lawoleba, P.Lembata ( pelapukan batuan tufa, sudah dimanfaatkan ), Rainimi dan
Atambua Kab. Kupang.

Sulawesi Utara : Pineleng Kec. Pineleng Kab. Tondano ( pelapukan batuan tufa kaca ),
Matani, Kec. Tomohon ( dapat digunakan sebagai batako )

Sulawesi Selatan : Bukit Lakapala Kec. MAlusetasi Kab. Barru Malino Kec. Tinggimoncong,
Kab. Gowa

Teknik Penambangan
Bahan galian tras relative lunak dan dekat permukaan. Oleh sebab itu penambangan terbuka
dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

PENGUJIAN POZZOLAN
Pozzolan merupakan material tambahan selain gypsum pada proses penggilingan klinker menjadi
semen, pozzolan adalah bahan yang mengandung senyawa silika dan alumina dimana bahan pozzolan
itu sendiri tidak mempunyai sifat seperti semen , akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan
adanya air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida
Ca(OH)2 pada suhu biasa dan membentuk kalsium Alumina Hidrat-CAH yang bersifat hidraulis,
pozzolan juga disebut SCM-Supplementary Cementitious Material.
Pozzolan dalam semen bereaksi dengan Kalsium Hidroksida-Ca(OH)2 hasil dari reaksi hidrasi semen
Semen + Air -CSH + Ca(OH)2
Pozzolan + Ca(OH)2 - besifat seperti hidraulisis
Sebelum digunakan pozzolan terlebih di uji kualitasnya, apakah pozzolan tersebut memenuhi
persyaratan yang dipersyaratkan oleh ASTM C-618 atau tidak .
SYARAT MUTU POZZOLAN MENURUT ASTM C.618-99)
1.

SiO2 + Al2O3 + Fe2O3, Min 70 %

2.

SO3 ..Max

3.

Loss On Ignition .Max 10 %

4.

Pozzolanic Activity Index .Min 75 %

4%

Selain syarat yang tertera pada ASTM C.618-99 seperti diatas, persyaratan pozzolan juga dapat
mengacu pada ASTM C.595 dan ASTM C.593
Pada ASTM C.593 -95 pada ASTM tahun 2000 , Pozzolanic Activity diuji dengan menggunakan
kapur tohor pada umur pengujian 7 hari, dan dipersyaratkan kuat tekannya adalah 600 psi.
Selain ASTM pengujian pozzolan dapat juga menggunakan BS EN 196-5, part.5 Pozzolanicity test
for pozzolanic cement.
Pengujian dilakukan dengan mencampur 20 gram semen dengan menggunakan air 100 dengan suhu
40 deg C dan disimpan pada suhu 40 deg C sampai dengan perionde pengujian bisa 8 hari atau 15
hari.
pozzolanicity diukur dengan membandingkan kuantitas (jumlah) kalsium hidroksida yang ada dalam
larutan yang kontak dengan semen terhidrasi setelah periode waktu tertentu, dengan jumlah kalsium

hidroksida jenuh dalam larutan pada tingkat kebasaan yang sama. Tes dianggap positif jika
konsentrasi kalsium hidroksida dalam larutan lebih rendah dari konsentrasi kejenuhan.
Telah dilakukan percobaan untuk beberapa material antara lain : Fly ash, Pozzolan (trass), Andesit,
Abu sekam, material tersebut dihaluskan hingga lolos 100% pada ayakan 90 mikron. Kemudian
masing masing material tersebut dicampurkan dengan semen dengan perbandingan 10 % material dan
90 % semen.
Grafik hasil percobaan.

Dari grafik diatas terlihat reaksi pozzolanic tercepat adalah abu sekam dan yang paling lambat adalah
Andesit.