Anda di halaman 1dari 14

TUGAS INDIVIDU LEARNING ISSUE

SKENARIO A BLOK 23

Nama

: Rafenia Nayani

NIIM

: 04121401024

KELOMPOK : 5

Tutor : dr. Julniar M. Tasli Sp.A (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA


2015

1. ANATOMI DAN FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI WANITA


ANATOMI ALAT REPRODUKSI WANITA
Alai reproduksi wanita berada di bagian tubuh seorang wanita yang disebut panggul.
Secara anatomi nilai reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu : bagian yang
terlihatdari luar ( genitalia eksterna ) dan bagian yang berada di dalam panggul ( genitalia
interna ).Genitalia eksterna meliputi bagian yang disebut kemaluan ( vulva ) dan liang
sanggama ( vagina).Genetika interna terdiri dari rahim ( uterus ), saluran telur ( tuba ), dan
indung telur ( avarium ).Pada vulva terdapat bagian yang menonjol yang di dalamnya terdiri
dari tulang kemaluan yangditutupi jaringan lemak yang tebal. Pada saat pubertas bagian
kulitnya akan ditumbuhi rambut.Lubang kemaluan ditutupi oleh selaput tipis yang biasanya
berlubang sebesar ujung jari yang disebut selaput dara ( hymen ). Di belakang bibir vulva
terdapat kelenjar-kelenjar yangmengeluarkan cairan. Di ujung atas bibir terdapat bagian yang
disebut clitoris, merupakan bagianyang mengandung banyak urat-urat syaraf. Di bawah
clitoris agak kedalam terdapat lubang kecilyang merupakan lubang saluran air seni (
urethra ). Agak ke bawah lagi terdapat vagina yang merupakan saluran dengan dindi ng
elastis, tidak kaku seper ti dinding pipa. Saluran inimenghubungkan vulva dengan mulut
rahim. Mulut rahim terdapat pada bagian yang disebut leherrahim ( cervrz ), yaitu bagian
ujung rahim yang menyempit. Rahim berbentuk seperti buah pirgepeng, berukuran panjang B9 cm. Letaknya terdapat di belakang kandung k encing dan didepan saluran pelepasan. Dindi
ngnya terdiri dari dua lapisan Mot yang teranyam saingmetintang. Lapisan dinding rah im
yang terdalam disebut endometrium, merupakan lapisansetaput kndir. tvtutai dari ujung atas
kanan kiri rahim terdapat saluran telur yang ujungnyaberdekatan dengan indung telur kiri dan
kanan. lndung tekur berukuran 2,5x1,5x0,6 cm,mengandung sel-sel telur ( ovum ) yang
jumtahnya lebih kurang 200.000-400.000 butir. Otot-ototpanggul dan jaringan ikat
disekitarnya menyangga alat-alat reproduksi, kandung kencing dansaluran peiepasan sehingga
alat-alat itu tetap berada pada tempatnya.
FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI WANITA
Berdasarkan fungsinya ( fisiobginya ), alat reproduksi wanita mempunyai 3 fungsi, yaitu:
1. Fungsi seksual
2. Fungsi hormonal
3. Fungsi Reproduksi ( melanjutkan keturunan ).
Fungsi Seksual
2

Alat yang berperan adalah vulva clan vagina. Ketenjar pada vulva yang dapat
mengeluarkan cairan, berguna sebagai pefumas pada saat sanggama. Selain itu vulva clan
vaginajuga berfungsi sebagai jalan lahir.

Fungsi Hormonal

Yang disebut fungsi hormonal ialah peran indung telur clan rahim didalam
memperlahankan ciri kewanitaan clan pengaturan haid. Perubahan-perubahan fisik clan
psikhisyang terjadi sepanjang kehidupan seorang wanita erat hubungannya dengan fungsi
indung telur yangmenghasilkan hormon-harmon vmnita yaitu estrogen dan progesteron.
Daam masa kanak kanak indung telur belum menunaikan fungsinya dengan baik. manakala
indung teiur mulai berfungsi,yaitu kurang lebih pada usia 9 tahun, mulailah ia secara
produktif menghaskan hormon hormon wanita. Hormon-hormon ini mengadakan interaksi
dengan hormon-hormon yangdihasilkan

kelenjar-kelenjar di otak. Akibatnya terjadilah

perubahan-perubahan fisik pada Wanita.Paling awall terjadi pertumbuhan payudara, kemudian


terjadi pertumbuhan rambut kemaGrandisusul rambut-rambut di ketiak. Selanjutnya terjadilah
haid yang pertama kaG, disebut
menarche, yaitu sekitar usia 10-16 tahun. mula-mula haid datang tidak teratur, selanjutnya
timbul secara teratur. Sejak saat inilah seorang wanita masuk kedalam masa reproduksinya
yangberlangsung kurang lebih 30 tahun. Pertumbuhan badan menjelang menarche dan 1
sampai 3tahun setelah menarche bertangsung dengan cepat, saat ini disebut masa puberras.
Setelahmasa reproduksi wanita masuk kedalam masa kllmakterium yaitu masa yang
menunjukan fungsi indung telur yang mulai berkurang. Mula mula haid menjadi sedikit,
kemudian datang 1-2 bulan sekali atau tidak teratur dan akhirnya berhenti sama sekali Bila
keadaan ini berlangsung 1 tahun, maka dikatakan wanita mengalami menopause. Menurunnya
fungsi indung telur ini seringdisertai gejala-gejala panas, berkeringat, jantung berdebar,
gangguan psikhis yaitu emosi yanglabil. Pada saat ini terjadi pengecilan alat-alat reproduksi
clan kerapuhan tulang.Menstruasi atau haid yang terjadi secara sik6s, 24-36 had sekafi,
timbul karen apengaruh-pengaruh hormon yang berinteraksi terhadap setaput lendir terbuang
berupa darah haid. Biasarrya haid berlansung 2- 8 haridan jumlahnya kurang lebih 30-80 cc.
Sesaat setefah darah haid habis, lapisan tersebut mulaitumbuh kembang, mula-mula tipis
kemudian bertambah tebal untuk kemudian mengelupas lagi berupa darah haid. Menjelang
haid dan beberapa hari saat haid wanita sering mengeluh lelah, mudah tersinggung, pusing,
nafsu makan berkurang, buah dada tegang, mual dan sakit perut bagian bawah. Kebanyakan
wanffa merryadari adarrya keluhan inf dan tidak mengganggu
2

aktivitasnya, tetapi beberapa wanita merasakan keluhan ini berkbihan. Berat ringannya
keluhan ini, sesungguhrrya tergantung dari latar belakang psikobgis dan keadaan emosi pada
saat haid.

Fungsi reproduksi

Tugas reproduksi dilakukan oleh indung telur, saluran telur dan rahim. Sel telur yang
setiap bulannya dikeluarkan dari kantung telur pada saat masa subur akan masuk kedatam
saluran telur untuk kemudian bertemu dan menyatu dengan sel benih pria ( spermatozoa )
membentuk organisme baru yang disebut Zygote, pada saat inilah ditentukan jenis kelamin
janindan sifat -sifat genetikrrya. Sefanjutrrya zygote akan terus berjalan sepanjang saluran
telur danmasuk kedalam rahim. Biasanya pada bagian atas rahim zygote akan menanamkan
diri danberkembang men)adi mudigah. Mudlgah selanJutnya tumbuh dan berkembang
sebaga! Janin yang kemudlan akan lahir pada umur kehamilan eukup bulan. masa subur pada
siklus haid 28 hari, terjadi sekitar hari ke empatbelas dari hari pertama haid. Umur sel telur
sejak dikeluarkan dari indung telur hanya benumur 24 jam, sedangkan sel benih (sperma) pria
berumur kurang lebih 3 hari.

2. Post Partum Haemorrhage


perdarahan pervaginam 500 ml atau lebih sesudah anak lahir. Perdarahan merupakan
penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia.
Pendarahan pasca persalinan dapat

disebabkan oleh atonia uteri, sisa plasenta,

retensio plasenta, inversio uteri, laserasi jalan lahir dan gangguan pembekuan darah.
Klasifikasi Klinis
1) Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage, atau
Perdarahan Postpartum Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan
pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan
pasca persalinan primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan
jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
2) Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau
Perdarahan Pasca Persalinan Lambat, atau Late PPH). Perdarahan pascapersalinan
sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering
diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang
tertinggal.
Gejala Klinis
2

perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak


darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah
rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain. Penderita tanpa
disadari dapat kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat bila pendarahan
tersebut sedikit dalam waktu yang lama.
Diagnosis
Perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum lahir
biasanya disebabkan oleh robekan jalan lahir. Perdarahan setelah plasenta lahir,
biasanya disebabkan oleh atonia uteri. Atonia uteri dapat diketahui dengan palpasi
uterus ; fundus uteri tinggi di atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus tidak baik.
Sisa plasenta yang tertinggal dalam kavum uteri dapat diketahui dengan memeriksa
plasenta yang lahir apakah lengkap atau tidak kemudian eksplorasi kavum uteri
terhadap sisa plasenta, sisa selaput ketuban, atau plasenta suksenturiata (anak
plasenta). Eksplorasi kavum uteri dapat juga berguna untuk mengetahui apakan ada
robekan rahum. Laserasi (robekan) serviks dan vagina dapat diketahui dengan
inspekulo. Diagnosis pendarahan pasca persalinan juga memerlukan pemeriksaan
laboratorium antara lain pemeriksaan Hb, COT (Clot Observation Test), kadar
fibrinogen, dan lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan
1. Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu
Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat
mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun
fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan
pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami
penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk
terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih besar.
Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita
hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada
perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan
pascapersalinan meningkat kembali setelah usia 30-35tahun.
2. Perdarahan pascapersalinan dan gravida

Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida
mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan
dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama
kali). Hal ini dikarenakan pada multigravida, fungsi reproduksi mengalami penurunan
sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.
3. Perdarahan pascapersalinan dan paritas
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan
pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan
paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan
lebih tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam
menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan
ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan
dan nifas.
4. Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care
Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental
ibu serta anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga angka
morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat diturunkan.
Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko
tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan yang
mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. Hal ini disebabkan karena
dengan adanya antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihan dapat
dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat.
5. Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin
Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin
dibawah nilai normal. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%.
Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau
lebih, dan jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat dan akurat
akan mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin dibawah nilai normal

Post Partum Haemorrhage


2

Perdarahan pervaginam 500 ml atau lebih sesudah anak lahir. Perdarahan merupakan
penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia.
Pendarahan pasca persalinan dapat

disebabkan oleh atonia uteri, sisa plasenta, retensio

plasenta, inversio uteri, laserasi jalan lahir dan gangguan pembekuan darah4.
Klasifikasi Klinis
1) Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage, atau Perdarahan
Postpartum Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan pasca persalinan
primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer
adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri.
Terbanyak dalam 2 jam pertama.
2) Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau Perdarahan
Pasca Persalinan Lambat, atau Late PPH). Perdarahan pascapersalinan sekunder terjadi
setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.
Gejala Klinis
perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah
tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut
nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain. Penderita tanpa disadari dapat
kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat bila pendarahan tersebut sedikit dalam
waktu yang lama.
Diagnosis
Perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum lahir biasanya
disebabkan oleh robekan jalan lahir. Perdarahan setelah plasenta lahir, biasanya disebabkan
oleh atonia uteri. Atonia uteri dapat diketahui dengan palpasi uterus ; fundus uteri tinggi di
atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus tidak baik. Sisa plasenta yang tertinggal dalam
kavum uteri dapat diketahui dengan memeriksa plasenta yang lahir apakah lengkap atau tidak
kemudian eksplorasi kavum uteri terhadap sisa plasenta, sisa selaput ketuban, atau plasenta
suksenturiata (anak plasenta). Eksplorasi kavum uteri dapat juga berguna untuk mengetahui
apakan ada robekan rahum. Laserasi (robekan) serviks dan vagina dapat diketahui dengan
inspekulo. Diagnosis pendarahan pasca persalinan juga memerlukan pemeriksaan
laboratorium antara lain pemeriksaan Hb, COT (Clot Observation Test), kadar fibrinogen, dan
lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan
1. Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu
2

Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan
faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian
maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita
belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi
seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga
kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih
besar. Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil
yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan
pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan pascapersalinan meningkat
kembali setelah usia 30-35tahun.
2. Perdarahan pascapersalinan dan gravida
Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida mempunyai
risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan dibandingkan dengan ibuibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali). Hal ini dikarenakan pada
multigravida, fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya
perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.
3. Perdarahan pascapersalinan dan paritas
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pascapersalinan
yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga)
mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Pada paritas yang rendah
(paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan
faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama
kehamilan, persalinan dan nifas.
4. Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care
Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu serta
anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan mortalitas
ibu serta anak dapat diturunkan.
Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi
terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan yang mengakibatkan
kematian maternal dapat diturunkan. Hal ini disebabkan karena dengan adanya antenatal care
tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihan dapat dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat.
2

5. Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin


Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin dibawah
nilai normal. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. Perdarahan
pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, dan jika hal ini
terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya
kadar hemoglobin dibawah nilai normal.

MALPRESENTASI
Faktor yang mempengaruhi malpresentasi:

Faktor maternal dan uterus : panggul sempit, neoplasma, kelainan uterus, pada uterus
bicornis, kelainan letak dan besarnya plasenta. Keadaan seperti plansenta previa disertai
dengan kedudukan janin yang tidak baik.
1. Faktor janin : bayi yang besar, kesalahan dalam dalam prioritas janin misalnya pada
presentasi bokong atau letak lintang, sikap janin: tidak fleksi tapi ekstensi, kehamilan ganda,
kelaina janin : hidrosefalus dan anenchepalus, hydramnion.
Pengaruh malpresentasi:
1. Pengaruh pada ibu : karena diperlukan kerja otot uterus dan perut yang lebih besar dan
karena persalinan sering berjalan lama, perineum dsn jaringan lunak lebih teregang sehingga
lebih banyak terjadi robekan, perdarahan lebih banyak berasal dari robekan uterus, cervix, dan
vagina dan tempat perlekatan plasenta.Insidensi infeksi lebih tinggi, disebabkan oelh:

Ketuban pecah awal


Perdarahan banyak
Kerusakan jaringan
Pemeriksaan vaginal dan rectal yang sering
Pasien mengeluh kesakitan sebelum uterus mengeras dan masih

terus merasakan nyeri setelah uterus relaksasi.


Paresis usus dasn vesica urinaria menambah penderitaan pasien.

2. Pengaruh pada janin : janin tidak sempurna menyesuaikan diri dengan panggul sehingga
lebih melewati panggul dan menyebabkan perputaran (moulage) berlebihan. Persalian yang
lama berpengaruh lebih berat untuk janin, mengakibatkan insidensi yang lebih tinggi.
Insidensi tindakan yang juga lebih tinggi memperbesar bahaya trauma pada bayi. Tali pusat
membumbung lebih sering terjadi.
Presentasi sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di
fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kacum uteri. Presentasi sungsang terjadi bila
panggung atau ekstremitas bawah janin berada di pintu atas panggul. Dengan insidensi
kejadian 3-4%.

Klasifikasi Presentasi Sungsang


1. Frank breech /bokong murni (50-7-%) ekstremitas bawah mengalami fleksi pada sendi
panggul dan ekstensi pada sendi lutut sehingga kaki terletak berdekatan dengan kepala.
2. Complete breech/bokong sempurna (5-10%) satu atau kedua kaki atau lutut dalam keadaan
fleksi.
3. Foot lign atau incomplete /presentasi kakai (10-30%) satu atau kedua kaki atau lutut
terletak dibawah bokong sehingga kaki atau lutut bayi terletak paling bawah pada jalan lahir.

Presentasi sungsang pada kehamilan tunggal dengan BB janin <2500g : 40%


adalah FrankBreech, 10% adalah complete breech, dan 50% adalah foot ling

breech
Presentasi sungsang pada kehamilan tunggal dengan BB janin >2500g: adalah
65% frank breech, 10% adalah complete breech, dan 25% adalah foot ling
breech.

Etiologi:

Kehamilan prematur
Hidramnion, ologohidramnion
Kelainan uterus (uterus bicornu atau uterus septum)
Tumor panggul
Riwayat presentasi bokong
Multipara
Panggul sempit
Hidrosepalus, anensepalus
Kehamilan kembar
Penyulit

Morbiditas dan motalitas perinatal akibat pelahiran yang sulit


BBLR pada kehamilan preterm, pertumbuhan terlambat atau keduanya
Prolaps tali pusat
Plasenta previa
Anomali janin, neonatus dan bayi
Anomali dan tumor uterus
Diagnosis

Palpasi dan balotement leopold I: teraba kepala (balotement) di fundus uteri


Vaginal toucher: teraba bokong yang lunak dan irregular
X-ray: dapat membedakan dengan presentasi kepala dan pemeriksaan ini penting untuk
menentukan jenis presentasi sungsang dan jumlah kehamilan serta adanya kelainan
kongenital.
2

USG : presentasi janin, ukuran, jumlah kehamilan, lokasi plasenta, jumlah cairan amnion,
malforasi jaringan lunak atau tulang janin.

Penatalaksanaan:
1. Pemeriksaan:
Pasien harus dirawat di RS bila terdapat tanda persalinan atau terjadi ketuban pecah
(dikhawatirkan terjadi prolaps tali pusat)
Di RS dilakukan pemeriksaan USG ulang untuk memastikan jenis persalian sungsang fleksi

2.

kepala janian kelainan kongenital


Lakukan anamnesi dan pemeriksaan untuk menentukan keadaan ibu dan anak
Tentukan cara persalinan yang dipilih
Pemantauan kesehatan janin
Selama persalinan, bila mungkin lakukan pemantauan detak jantung janin secara terus-

menerus (electronic fetal heart rate monitoring)


3. Oksitosin drip
Digunakan bila kontraksi uterus tidak memuaskan dengan pengawasan pada ibu dan anak
secara ketat.
Persalinan
Penentuan cara persalinan;

Metode lain:
Zatuchni Andros Breech Scoring
2

Persalinan sungsang pervaginam dengan prognosis baik bila Zatuchni Andros Breech Scoring
antara 0-4. Persalinan sungsang perabdominal dengan sectio caesarea saat ini lebih sering
dilakukan.