Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tulisan ini merupakan makalah yang digunakan sebagai bahan bacaan


untuk mahasiswa agar mengetahui cara mengaplikasikan pelajaran teknologi
terhadap siswa sekolah. Walaupun para mahasiswa yang tidak disiapkan
sebagai guru, namun mereka harus mengetahui suka duka dan situasi belajar
mengajar yang terjadi di sekolah atau di mana saja. Dengan mengacu pada
pendapat ini maka, bagian akhir makalah membahas hal tersebut secara
sederhana.

Namun, sebelumnya, agar mahasiswa mampu menganalisis proses


belajar mengajar dengan sebaik-baiknya, maka mereka memerlukan landasan
berpikir yang stabil dan menjadi ciri khas dari seseorang yang mendalami
bidang pendidikan. Berpikir sistemik dan berlandaskan system dibahas pada
bagian awal makalah ini. Dengan demikian, mahasiswa sudah dipersiapkan
sebelumnya bagaimana mengamati kejadian sehari-hari di kelas, bagaimana
proses belajar bisa terjadi dalam diri seseorang dan bagaimana lingkungan belajar
yang sehat harus dipersiapkan.

Dengan makalah ini, diharapkan bacaan dasar dibidang teknologi


pendidikan sementara dapat diatasi. Tentu saja masukan dari pembaca sangat
bermanfaat bagi perbaikan yang akan dilaksanakan nanti.

1.2. Batasan Masalah


berdasarkan latar belakang masalah di atas penulismengambil batasan
masalah makalah ini adalah Perlunya pengajaran teknologi pendidikan bagi siswa

1.3. Tujuan Penulisan


1. Mahasiswa dapat memahami bagaimana cara pengaplikasian teknologi.
pendidikan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui sistem dan analisis mengenai teknologi.
pendidikan.
3. mahasiswa dapat mengetahui bagaimana berinteraksi dalam proses belajar-
mengajar dalam teknologi pendidikan.
4. mahasiswa dapat mengetahui media instruksional dan sumber belajar yang
sesui bagi siswa

1
BAB 2
LANDASAN BERPIKIR
2.1. Pengertian

Teknologi pendidikan memandang proses belajar sebagai suatu


peristiwa internal. Proses belajar disebut internal karena terjadi dalam diri siswa.
Sejauh ini sudah banyak sekali teori belajar yang dirumuskan oleh para pakar
dengan berbagai pendekatan ilmu. Proses belajar dapat ditinjau dari berbagai
disiplin ilmu. Sebagai contoh, psikolog beranggapan bahwa proses belajar
sebagai suatu proses kognitif, sedangkan pakar komunikasi beranggapan bahwa
proses belajar adalah suatu pemrosesan informasi dalam diri seseorang.

Teknologi pendidikan mengadaptasikan konsep pendekatan sistem sebagai


kerangka berpikir. Tatakerja pendekatan sistem menelaah masalah pendidikan
atau belajar dari berbagai sudut pandang hingga menghasilkan beberapa
alternatif. Penyelesaian masalah dipilih dari alternatif tadi. Pendekatan sistem
juga memandu pola berpikir penyelesaian masalah dengan efisiensi.

Banyak sekali faktor yang dapat menghambat atau mendukung


terjadinya proses belajar. Upaya teknologi pendidikan bersifat kongkrit, yaitu
penciptaan atau rancangan lingkungan belajar, atau sering disebut faktor
eksternal belajar. Rancangan kegiatan instruksional beserta guru adalah
lingkungan belajar yang biasa ditemui sehari-hari dan dianggap berpengaruh
banyak terhadap proses belajar.

2.2. Proses Belajar

Perhatian teknologi pendidikan terhadap proses belajar dikemukakan


oleh Percival dan Ellington, 1984 dalam rumusan konsep orientasi siswa
(student-oriented) sebagai suatu pendekatan dalam mengatasi kesulitan proses
belajar- mengajar. Keduanya berpendapat bahwa kebutuhan setiap individu
siswa merupakan bahan pertimbangan terpenting dibandingkan komponen
lainnya dalam dunia pendidikan; terutama demi tercapainya tujuan belajar.
Berikut rincian proses belajar.

a. Definisi Belajar
Bagi Kemp & Dayton, 1985, belajar “sebagai suatu proses terjadi
pada seseorang sebagai suatu pengalaman. Belajar berlangsung manakala
perilaku seseorang dimodifikasi – atau terjadi jika seseorang berpikir atau
bertindak berbeda”. Heinich, et al, 1993 menganggap belajar sebagai
pengembangan pengetahuan, keahlian, atau sikap ketika seseorang
berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Bagi mereka, waktu dan
tempat belajar tidak tertentu, belajar bisa terjadi kapan saja. Bagi Ellington &

2
Haris, 1986, proses belajar adalah perubahan perilaku menetap (permanen) akibat
pengalaman dan instruksional terarah.

b Peristiwa Belajar
(1). Belajar sebagai suatu pemrosesan informasi Gagne, Briggs, dan Wager
menjabarkan peristiwa belajar berdasarkan pola pemprosesan informasi dapat
dilihat berikut ini:

Menurut teori pemrosesan informasi, belajar terjadi karena seseorang


menerima informasi dari lingkungan. Informasi kemudian diterima seketika
melalui memori jangka pendek. Pengendapan dan penyimpanan informasi tadi
dilakukan oleh memori jangka panjang. Sebelum diendapkan, informasi tadi
diolah dan disesuaikan dengan pola berpikir individu. Untuk optimalisasi
proses belajar, diperlukan pemantauan dan harapan sebagai penggerak dan
motor bagi kemajuan belajar agar mudah jika informasi tersebut dibutuhkan.

Kegiatan belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi mengandung arti luas.
Belajar dapat multidimensi, tidak tergantung usia dan jadwal atau bisa terjadi
di mana saja selama situasi memungkinkan. Plomp & Ely, 1996 dalam
International Encyclopedia of Educational Technology berhasil merumuskan
beberapa model belajar.

Model-model belajar tersebut diantaranya adalah


- belajar langsung (direct instruction) yaitu kegiatan belajar yang
berpola pada belajar berstruktur dengan mengikuti kurikulum yang berlaku.
Pola belajarnya adalah pola konvensional yang memerlukan kehadiran guru,
mengandalkan kegiatan tatapmuka, serta membutuhkan

- Belajar secara terbuka (open learning) : kegiatan belajar yang tidak


terpaku pada kegiatan belajar di kelas, atau tidak memiliki jadwal dan lokasi
tetap untuk bertatap muka. Belajar terbuka juga tidak mengenal batasan umur.
Sudah tentu kehadiran guru tidak lagi menjadi syarat mutlak bagi proses
belajar. Kemandirian sangat dituntut dari siswa. Belajar terbuka dapat diterapkan
untuk peserta dalam jumlah yang banyak (massa). Kurikulum yang digunakan
sama dengan kurikulum bagi kelas konvensional.

- Belajar kooperatif (cooperative learning) : suatu inovasi dari situasi


belajar di kelas, yang memanfaatkan keterlibatan dan kerjasama seluruh siswa.
Belajar kooperatif memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih banyak
lagi dari siswa lain sewaktu penyelesaian suatu tugas kelompok. Bagi siswa
yang memiliki kemampuan di atas rata-rata temannya, ia dapat dipilih untuk
menjadi tutor.

3
2.3. Analisis Siswa

Seperti tersebut tadi, peristiwa belajar merupakan proses internal.


Pengamatan terhadap siswa sebaiknya dilakukan sejak dini, karena siswa
memerlukan kesiapan mental dan akademik. Pengamatan diprioritaskan pada
aspek :

a. Karakteristik umum
Kondisi fisik sejak lahir, merupakan karakteristik umum siswa yang
tidak dapat diubah. Sebagai contoh, kondisi indera penglihatan siswa, yaitu
mengenai ketajaman visual. Setiap individu siswa memiliki ketajaman visual
berbeda. Bagi siswa yang memiliki ketajaman visual kurang dari rata-rata,
maka ia dapat dibantu dengan penggunaan kacamata. Siswa juga memiliki sifat
dan karakter tertentu yang tidak atau belum tentu dapat diubah melalui proses
belajar.

Bagi Heinich, Molenda, dan Russell, 1996, karakteristik umum adalah


analisis keadaan siswa dan latar belakangnya; tidak terkait dengan materi
belajar, tetapi dapat membantu menentukan tingkat kesulitan, pemilihan
pesan (materi belajar). Umur, kelas/tingkat, pekerjaan, serta posisi adalah
contoh dari karakteristik umum. Ketiga pakar menyebutkan pentingnya
karakteristik umum siswa untuk dikaji. Karakteristik umum cenderung statis,
dan menetap selama beberapa waktu, dan tidak berubah hanya karena seseorang
belajar.

b. Karakteristik Akademik
Karakteristik akademik berkaitan dengan kemampuan prasyarat siswa.
Kemampuan prasyarat merupakan kemampuan yang menjadi landasan bagi
penguasaan materi yang akan dipelajari oleh siswa. Kemampuan prasyarat bisa
bersifat inti (essential), yaitu kemampuan yang menjadi bagian dari penguasaan
materi atau keahlian yang akan dipelajari. Kemampuan prasyarat bersifat
pendukung (supportive) yaitu kemampuan prasyarat yang membantu
memperlancar penguasaan materi baru.

c. Tipe Belajar
Analisis siswa dapat dilakukan dengan menganalisis unsur psikologis serta
kebiasaan belajar. Unsur psikologis tersebut misalnya tentang pengelompokkan
tipe kecerdasan setiap individu siswa berdasarkan suatu teori; misalnya teori
Gardner tentang kecerdasan ganda. Gardner berpendapat bahwa setiap individu
memiliki lebih dari satu kemampuan. Klasifikasi kemampuan menurutnya
yaitu logika-matematis, kebahasaan, kelenturan gerak, musik, ruang, hubungan
antar manusia (interpersonal), dan intra-diri (intrapersonal).

4
2.4. Persepsi

a. Konsep dasar persepsi


Satu hal yang perlu diwaspadai sehubungan dengan proses belajar
adalah persepsi. Persepsi adalah awal dari segala macam kegiatan belajar yang
bisa terjadi pada setiap kesempatan, disengaja atau tidak. Fleming & Levie
mempercayai persepsi sebagai “suatu proses penerimaan informasi yang
rumit, yang diterima atau diekstrasi manusia dari lingkungan …….. persepsi
termasuk penggunaan indera manusia”. Kemp & Dayton, 1985 menganggap
persepsi “sebagai suatu proses dimana seseoang menyadari keberadaan
lingkungannya serta dunia yang mengelilinginya”. Persepsi terjadi karena
setiap manusia memiliki indera untuk menyerap obyek-obyek serta kejadian di
sekitarnya.

c. Persepsi visual
Secara khusus, Rieber, 1994 menyatakan pentingnya persepsi visual.
Persepsi visual sangat berperan karena proses ini menunjukkan kemampuan
seseorang untuk mengikuti, menyadari, menyerap arti atau makna dari
tampilan visual di sekitarnya secara selektif. Ia juga percaya bahwa manusia
terbiasa untuk berpikir secara visual atau memiliki gambaran visual dalam
otaknya, walau informasi yang diterima berbentuk verbal. Sebagai contoh, si Ani
membaca kata ‘kucing’. Pesan verbal yang diterima si Ani, selanjutnya sudah
diterima dalam bentuk visual. Ani dapat membayangkan wujud kucing dalam
pikirannya walaupun ia tidak melihat kucing melintas di depannya. Persepsi
visual tergantung atas pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.

d. Prinsip dasar persepsi


Prinsip-prinsip dasar persepsi (Fleming & Levie, 1978) meliputi antara lain :
- persepsi bersifat relatif
Prinsip relatif menyatakan bahwa setiap orang akan memberikan
persepsi yang berbeda, sehingga pandangan terhadap sesuatu hal
sangat tergantung dari siapa yang melakukan persepsi.
- Persepsi bersifat sangat selektif
Prinsip kedua menyatakan bahwa persepsi tergantung pada
pilihan, minat, kegunaan, kesesuaian bagi seseorang.
- Persepsi dapat diatur
Persepsi perlu diatur atau ditata agar orang lebih mudah
mencerna lingkungan atau stimulus (baca : materi belajar).
- Persepsi bersifat subyektif
Persepsi seseorang dipengaruhi oleh harapan atau keinginan
tesebut. Pengertian ini menunjukkan bahwa persepsi sebenarnya
bersifat subyektif.
- Persepsi seseorang atau kelompok bervariasi, walaupun mereka berada
dalam situasi yang sama. Prinsip ini berkaitan erat dengan
perbedaan karakteristik individu, sehingga setiap individu bisa
mencerna stimuli dari lingkungan tidak sama dengan individu lain.

5
BAB 3
SISTEM

3.1. RUANG LINGKUP SISTEM.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, disiplin teknologi pendidikan


membutuhkan alur pemikiran yang tegas dan jelas dalam mengatasi masalah
belajar. Pendekatan sistem merupakan suatu “budaya” berpikir bagi setiap orang
yang berkecimpung dalam bidang teknologi pendidikan. Berkaitan dengan
pola berpikir pendekatan sistem, modul ini membahas subtopik yang relatif
mempunyai hubungan erat. Sistem dikelompokkan berdasarkan :

a. Jenis
Penjabaran sistem menurut kamus, seperti dikutip oleh Banathy, adalah “….
…. satu rangkaian obyek yang terintegrasi oleh interaksi atau unsure
ketergantungan reguler; keseluruhan yang terorganisasi, sebagaimana sistem
tatasurya atau sistem telegraf”. Banathy menggarisbawahi kedua contoh –
sistem tatasurya dan sistem telegraf. Pakar tersebut membedakan ada sistem alam
dan buatan manusia. Untuk teknologi pendidikan, maka yang dibahas adalah
sistem yang termasuk buatan manusia.

b. Jenjang
Kategorisasi sistem menurut jenjang meliputi :
(1). Sistem
Sistem menurut Banathy sendiri, yaitu “organisme sintetis yang
sengaja dirancang, terdiri atas komponen-komponen yang terkait dan tergantung
satu sama lain, dan bekerja sama secara terintegrasi untuk mencapai tujuan
belajar yang sudah ditetapkan “. AECT (1977) merangkum beberapa definisi dari
beberapa sumber. Definisi-definisi tersebut diantaranya berasal dari Silvern,
yang merumuskan sistem sebagai “struktur atau pengaturan dari keseluruhan,
menunjukkan keterkaitan antar bagian-bagiannya pada suatu proses dalam
satu kerangka berpikir”, menurut Kaufman, sistem itu, “(sistem sebagai proses
rancangan) keseluruhan bagian-bagian yang bekerja secara independen dan
bersama-sama untuk mencapai hasil yang baik”.

(2). Subsistem
Sistem mempunyai bagian atau unsur di dalamnya. Unsur atau bagian yang
terlibat di dalam sistem disebut subsistem. Kutipan AECT atas pendapat
Silvern mengenai subsistem, yaitu “……ada dua atau lebih bagian yang
tertata rapih, …. bsa berbentuk komponen –komponen atau satu kelompok
komponen bersama-sama melaksanakan pekerjaan dalam suatu sistem yang
rumit”. Dalam satu sistem, biasanya setiap subsistem memiliki tata kerja
berbeda dari subsistem-subsistem lain. Koordinasi dan kerjasama diantara
komponen itu sendiri merupakan hal yang lebih penting.

6
(3). Suprasistem
Di lingkungan masyarakat banyak sekali sistem; selanjutnya sistem-
sistem tadi membentuk sistem lainyang jauh lebih besar, lebih rumit, dan lebih
canggih. Sistem terbesar disebut suprasistem. Ilustrasi pada halaman berikut
mewakili konsep sistem secara hierarkikal.

c. Cara bekerja / berpikir


Cara kerja sistem sangat bervariasi. Di bawah ini uraian cara kerja
sistem yang berkaitan denga fungsi sistem tersebut dalam bidang teknologi
pendidikan.
(1). Terbuka vs tertutup
Ditinjau dari cara kerja, sistem bisa bersifat terbuka. Suatu sistem
terbuka biasanya menerima masukan dari lingkungan, kemudian mentransformasi
masukan tersebut menjadi kegiatan-kegiatan dalam sistem, lalu menghasilkan
keluaran untuk lingkungan tadi sehingga dapat memperolehumpan-balik.
Dengan mengkaji umpan-balik, diharapkan sistem tersebut dapat memperbaiki
diri.

Sistem tertutup bekerja sebaliknya. Sistem jenis ini tidak dapat menerima
masukan dari luar tatakerjanya. Sistem tertutup bersifat baku. Proses pencernaan
makanan pada manusia, cara kerja komputer (dengan subsistem keyboard, CPU,
monitor, disk drive, serta printer) adalah dua contoh dari sistem tertutup.

(2). Sistem analisis


Heinich dan Schiffman dalam Anglin, 1996 mengajukan rumusan
sistem analisis. Bagi Heinich, sistem analisis merupakan tehnik yang
menggabungkan dan mengkaitkan komponen-komponen – lama dan baru –
kemudia membentuk sistem baru, atau rancang-ulang sistem dengan maksud
agar sistem baru bekerja lebih efektif lagi dalam mencapai tujuannya.
Sedangkan Schiffman berpendapat bahwa sistem tersebut dapat terbagi dua
menjadi pengumpulan data dan analisis data. Berdasarkan kedua pendapat
pakar, maka sistem analisis sangat bermanfaat untuk menguji keefektifan
program kerja, berdasarkan data dan hasil analisis. Hasil analisis dijadikan
acuan untuk memperbaiki sistem lama atau membentuk sistem baru berdasarkan
dukungan data dan masukan.

(3). Sistem pandang (system view)


Pola berpikir ala sistem perlu ditanamkan untuk berbagai masalah
pendidikan atau instruksional. Penerapan pola berpikir dalam menanggapi
masalah disebut sistem pandang (system view). Hal ini seiring dengan
pendapat Banathy, yakni bahwa konsep berpikir sistem (buatan) utuh perlu
diterapkan. Penerapan ini dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar tujuan
dapat tercapai. Seandainya pola berpikir sistem sudah melekat atau menjadi
kebiasaan, maka seseorang yang berpatokan pada konsep sistem akan
menghasilkan rumusan yang sistemik.

7
3.2. PENDEKATAN SISTEM

a. Pengertian Pendekatan sistem


(1). Rumusan konsep
Dalam buku mengenai definisi, AECT mengutip definisi pendekatan sistem.
Salah satu definisi tersebut dirumuskan oleh Kaufman. Ia menyatakan
“pendekatan sistem merupakan suatu proses pencapaian hasil atau tujuan logis
dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien, dan dianggap sebagai
suatu metode ilmiah”. Pakar ini menambahkan bahwa bisa saja pendekatan
sistem dianggap sebagai suatu proses yang harus diidentifikasikan , kemudian
masalahnya dipilih, persyaratan dan alternatif pemecahan diatur dan dipilih.
Setelah itu, ditentukan metode serta sarana yang dibutuhkan. Pemecahan
masalah terpilih perlu dievaluasi melalui serangkaian ujicoba untuk mendapat
masukan. Masukan tersebut kemudian dijadikan bahan perbaikan atas alternatif
terpilih tadi.
(2). Penerapan
Teknologi pendidikan menggunakan konsep pendekatan sistem sebagai
pola berpikir dalam menanggulangi kesulitan suatu proses belajar (dan
mengajar). Masalah yang timbul tidak hanya dipertanyakan dalam wujud saja
atau dengan kata tanya “apa?”, tetapi mengupayakan agar penyebab serta
alternatif bisa segera dirumuskan. Dalam hal ini, teknologi pendidikan perlu
mempertanyakan “mengapa?”, selain “bagaimana?”. Kedua kata tanya
tersebut perlu dijawab dan disusun jawabannya secara logis. Setelah itu,
masalah kembali dikaji ulang dengan baik sehingga tercapai suatu struktur
alternatif yang mampu menjawab seluruh pertanyaan tadi.

b. Model penerapan pendekatan sistem


(1). Model pendekatan sistem untuk disain belajar.
Skema di bawah ini adalahmodel penerapan pendekatan sistem yang
dikembangkan oleh Brown, Lewis, dan Harcleroad, 1977. Skema ini dianggap
multiguna karena dapat digunakan untuk menjabarkan pandangan bidang
teknologi pendidikan terhadap proses belajar. Skema ini juga menjelaskan
suatu model kegiatan instruksional yang mengacu pada pola pemikiran
pendekatan sistem.

(2). Proses individualisasi sebagai suatu pendekatan sistem.


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, teknologi pendidikan sangat
memperhatikan kepentingan siswa dengan mengacu pada pola berpikir
pendekatan sistem. Usaha penerapan pendekatan sistem telah diteapkan bagi
kepentingan individu yang belajar. Romiszowski berhasil merumuskan proses
individualisasi yang sudah dilakukan oleh bidang teknologi instruksional selama
ini.

(2). Proses individualisasi sebagai suatu pendekatan sistem.

8
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, teknologi pendidikan sangat
memperhatikan kepentingan siswa dengan mengacu pada pola berpikir
pendekatan sistem. Usaha penerapan pendekatan sistem telah diteapkan bagi
kepentingan individu yang belajar. Romiszowski berhasil merumuskan proses
individualisasi yang sudah dilakukan oleh bidang teknologi instruksional
selama ini. Penjelasan ilustrasi di atas sebagai berikut.
a. Rumusan
Konsep individualisasi (individualized learning) merupakan upaya
teknologi pendidikan yang mencoba mengatasi perbedaan setiap individu siswa
dalam pola belajar mengajar konvensional. Perbedaan tersebut biasanya
berkaitan dengan kemampuan, tipe belajar dan laju belajar. (lihat : Anderson
dalam Plomp & Ely, ibid, pp. 353 – 358). Keunikan dan kebutuhan siswa
secara individu sulit diterapkan karena kendala-kendala tertentu. eterbatasan
kemampuan dan waktu guru, sarana belajar yang tidak memadai, serta
waktu yang kaku merupakan hambatan sehari-hari dalam pola konvensional.

b. Belajar dan pendekatan sistem


Untuk mengatasi masalah tadi, teknologi pendidikan menawarkan pola
belajar beragam seperti belajar secara terbuka dan belajar mandiri, dan
sebagainya. Alternatif kegiatan belajar ini sangat berbeda dari model belajar
konvensional. Kehadiran guru, jadwal tetap, atau ritme belajar yang harus
sama diantara siswa merupakan persyaratan pola konvensional yang perlu lagi
dipenuhi dalam proses belajar. Upaya penyediaan pola belajar tersebut termasuk
penerapan konsep pendekatan sistem.

c. Pendapat Romiszowski
Romiszowski mengemukakan beberapa alasan mengenai alternatif proses
belajar tersebut. Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah :
- alternatif tadi sebagai suatu contoh pola belajar yang memperhatikan
siswa
- perbedaan karakteristik siswa jauh lebih diperhatikan karena siswa tidak
perlu lagi menunggu teman lainnya untuk melanjutkan proses belajar
- model belajar tadi memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan rasa tanggung-jawab terhadap keberhasilan
belajar sendiri.
Individualisasi belajar dapat dilakukan terhadap :
- laju belajar : korelasi kecepatan seseorang dalam mengkaji atau
menelaah materi dengan waktu yang dibutuhkan
- materi belajar, media, dan metode : berkaitan dengan disain pesan
- tujuan belajar, metode serta kriteria evaluasi (belajar).

9
Bab 4
INTERAKSI BELAJAR-MENGAJAR

4.1. INTERAKSI BELAJAR – MENGAJAR

a. Faktor eksternal
Belajar memerlukan dukungan dari lingkungan atau faktor eksternal. Guru,
sekolah, serta sarana belajar lain termasuk lingkungan belajar. Situasi interaktif
dituntut agar proses belajar berjalan lancar. Situasi interaktif adalah situasi
yang memungkinkan seorang siswa atau peserta didik berinteraksi dengan
lingkungan belajar fisik (media dan sumber belajar lain) dan guru atau
narasumber. Situasi interaktif perlu memberi kesempatan kepada siswa /
peserta didik untuk menciptakan respon selama proses penyerapan materi
berlangsung. Situasi belajar interaktif juga ditandai dengan pemberian umpan-
balik segera yang dibutuhkan siswa.

b. Kegiatan instruksional
Kegiatan instruksional dianggap sebagai faktor eksternal atau
lingkungan fisik harus dirancang agar bisa menjadi landasan situas interaktif
tadi. Gagne mengungkapkan pada pelaksanaannya kegiatan instruksional, atau
selama peristiwa belajar terjadi, berupa satu rangkaian kegiatan yang
memberi peluang untuk maju. Siswa perlu dilibatkan dalam kegiatan
instruksional.

Heinich, et al, edisi ke 5, 1996 menganggap kegiatan instruksional


sebagai upaya pengaturan informasi dan lingkungan untuk membantu dan
menyediakan berbagai keperluan (facilitate) proses belajar. Lingkungan tidak
hanya berarti lokasi atau tempat proses belajar berlangsung. Termasuk di
dalamnya adalah metode, media, serta perangkat keras yang dibutuhkan untuk
menyampaikan dan menuntun / membina siswa aau peserta didik untuk
belajar. Rumusan mereka itu sejalan dengan pendapat Gagne (edisi ke empat,
1992) mengenai kegiatan instruksional sebagai faktor eksternal belajar.

4.2. MODEL INTERAKSI BELAJAR-MENGAJAR

Heinich, et al., 1996 merumuskan interaksi belajar-mengajar berbentuk


suatu proses yang melibatkan pemilihan, pengaturan, dan penyampaian
informasi (materi belajar) serta cara atau usaha siswa untuk berinteraksi
terhadap materi tersebut. Berdasarkan definisi ini kegiatan instruksional perlu
dirancang secara optimal dan hati-hati agar respons atau interaksi bisa
terjadi. Jika interaksi terjadi, maka situasi interaktif berhasil diciptakan.
Heinich, et al. menganjurkan penerapan konsep komunikasi dari Schramm
sebagai jalan keluar untuk menciptakan situasi interaktif.

10
a. Model interaksi belajar-mengajar dari Schramm
Skema Schramm menggambarkan konsep dasar komunikasi yang
disesuaikan dengan kondisi belajar mengajar.
Landasan skema di atas adalah konsep dasar komunikasi. Interaksi belajar-
mengajar yang baik berwujud sebagai suatu komunikasi. Komunikasi terjadi
karena ada pengiriman pesan atau informasi untuk penerima melalui metode atau
saluran tertentu.

Tugas utama pengirim secara aktif, merumuskan pesan dalam bentuk kode-
kode atau mengolah pesan sesuai dengan kebutuhan penerima. Kemudian,
pengirim menentukan saluran, metode tertentu disesuaikan dengan pesan dan
sifat penerima. Sebaliknya, tugas utama penerima yaitu mempersiapkan diri
untuk menerima dan mengolah pesan (dan kode-kode) tadi. Penerima, setelah
mencerna pesan, diharapkan dapat memberikan reaksi terhadap proses
pengiriman pesan.

Reaksi atau umpan balik dibutuhkan agar pengirim bisa memantau


kelancaran proses komunikasi. Titik temu atau persinggungan bidang pengalaman
pengirim dan penerima pesan (arsir pada gambar) merupakan peningkatan
pengetahuan atau informasi di pihak penerima sebagai akibat proses
komunikasi.

b. Penerapan dalam PBM


Jika diterapkan pada situasi kelas, skema ini menunjukkan bahwa
guru sebagai pengirim, sedangkan siswa sebagai penerima. Metode penyampaian
dan media disimbolkan sebagai signal. Signal sebenarnya menunjuk pada proses
pengolahan informasi meliputi pemilihan bentuk, rangkaian serta cara sampai
bentuk informasi yang diterima pada siswa. Misalnya, dalam bentuk metode
ceramah dan diskusi kelompok. Adapun titik temu atau persinggungan yang
terjadi antara bidang pengalaman guru dan siswa dianggap sebagai hasil
belajar yang berbentuk peningkatan kemampuan atau ketrampilan siswa.

c. Model kegiatan instruksional Gagne


Gagne percaya bahwa faktor eksternal sangat berpengaruh terhadap
kelancaran proses belajar. Seperti dikutip oleh Gagne, Briggs, dan Wager,
model kegiatan instruksional yang diusulkan oleh Gagne meliputi 9 langkah,
tetapi dapat dibagi menjadi 4 fase. Fase-fase instruksional itu adalah :
(1). Fase Motivasi
Fase ini meliputi dua kegiatan awal, yaitu memusatkan konsentrasi belajar,
menjelaskan tujuan belajar, serta fase pengaktifan materi belajar sebelumnya.
Fase ini menunjukkan bahwa proses belajar perlu dikendalikan oleh guru.
(2). Fase Penyampaian materi belajar.
Fase ini meliputi penyampaian materi belajar (penyampaian materi inti
– materi berkaitan dengan topik, bimbingan belajar, penerapan / latihan kinerja,
serta pemberian umpan balik.

11
(3). Fase Evaluasi
Fase evaluasi adalah fase pemantauan proses belajar. Fase ini memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencobakan kemampuan atau ketrampilannya
dalam situasi tertentu.
(4). Fase Penerapan.
Fase penerapan berkaitan dengan pengaktifan kinerja belajar pada situasi
berbeda dari kondisi belajar-mengajar. Pada fase ini, siswa dituntut untuk
memperlihatkan kemampuannya mengadaptasi kemampuan dalam situasi lain
di luar proses belajar mengajar (PBM).

4.3. PERAN GURU

Di Indonesia, seorang guru memiliki tanggung jawab yang sangat


besar. Ia bekerja dengan waktu yang tidak terbatas. Ia tidak hanya mengajar,
namun seringkali ia juga harus mengemban peran mendidik dalam arti yang
luas.
Berikut penjelasan tentang profesi guru.
a. Guru sebagai penyaji materi
Fungsi guru yang utama selama ini adalah sebagai penyaji materi.
Peran guru ini menempatkan posisi guru bagi siswa sebagai narasumber. Ia harus
menjabarkan atau menjelaskan materi selama proses belajar berlangsung.
Peran ini terbagi dua, yakni sebagai guru kelas dan guru bidang studi.
(1). Guru kelas
Pada tingkat pendidikan dasar, konsep guru kelas diterapkan menyeluruh.
Guru kelas bertanggung jawab atas penyajian seluruh materi belajar serta
pengelolaan kelas di tingkat tertentu. Seorang guru kelas 3 SD, bertanggung
jawab untuk mengajar semua materi yang tercantum dalam kurikulum.
Selain itu, dia juga harus menjadi wali kelas serta mengelola kelancaran
proses belajar mengajar sehari-hari.

(2). Guru bidang studi


Guru bidang studi bertanggung jawab atas satu bidang ajaran, namun
mengajar di seluruh jenjang pendidikan. Guru bidang studi biasanya ditemui
pada tingkat pada tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMU). Jadi, sebagai
guru ia bertanggung jawab atas penyajian materinya saja serta pengelolaan
belajar bagi materinya.

b. Multiperan Guru dalam PBM


(1). Guru adalah komunikator
Berkaitan dengan penyajian materi dan penciptaan situasi interaktif di kelas,
guru harus bertindak sebagai komunikator. Seorang guru harus memikirkan
sistem penyampaian materi yang efektif. Untuk melaksanakan tugas ini, guru
perlu mengolahmateri, memilih cara penyampaian, serta menentukan umpan
balik seperti yang dibutuhkan siswa.

12
(2). Guru adalah perancang sekaligus pengelola PBM
Disamping penyaji materi serta komunikator, seorang guru harus mampu
menjadi perancang lingkungan dan kondisi belajar mengajar. Salah satu
wujud tuga ini berbentuk pengembangan ‘satuan pelajaran’ (SATPEL).
Satuan pelajaran ini merupakan ‘terjemahan’ dari garis-garis besar materi
yang tertuang dalam kurikulum. Satuan pelajaran disusun untuk kebutuhan
materi belajar sehari-hari. Sebagai pengelola, guru harus dapat mengoptimalkan
serta menerapkan teori-teori belajar dan teori instruksional bagi penciptaan
proses belajar. Selain itu, guru dituntut harus jeli untuk memanfaatkan lingkungan
bagi kepentingan siswa.
Cangelosi & Ely mendeteksi perubahan peran guru sebagai perancang dan
pengelola seiring dengan tuntutan zaman. Menurutnya, ternyata kewajiban guru
itu multiperan. Ia dituntut harus mampu membina siswa untuk bersikap
kooperatif. Siswa memang perlu dipersiapkan untuk dilibatkan dalam proses
belajar mengajar di kelas. Keberhasilan belajar harus didukung oleh sikap
kooperatif seluruh siswa yang ada di kelas.

(3). Guru adalah evaluator


Sebagai evaluator, guru harus dapat mengamati tingkat keberhasilan siswa.
Ia juga harus menentukan tehnik pengukuran dan criteria keberhasilan
belajar, menentukan format pengurukan hasil belajar. Berkaitan dengan
kesulitan belajar, guru harus mendeteksi kesulitan serta menentukan
penyelesaiannya. Pada akhir masa belajar, biasanya guru tersebut harus
menentukan keberhasilan atau “nilai” yang diperoleh siswa sebagai bahan
pertimbangan untuk kenaikan jenjang belajar.

13
BAB 5
MEDIA INSTRUKSIONAL DAN SUMBER BELAJAR

5.1. PERAN MEDIA INSTRUKSIONAL

a. Pengertian Media Instruksional


(1). Media sebagai saluran komunikasi belajar –mengajar
Sebagai suatu proses komunikasi, interaksi belajar-mengajar memerlukan
saluran tertentu untuk menyampaikan materi. Media sangat penting dalam proses
penyampaian materi tersebut. Heinich, et al, edisi keempat, merumuskan media
instruksional sebagai suatu saluran komunikasi, berbentuk apa saja selama
dapat menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima. Dengan demikian,
media instruksional bisa dipilih apa saja selama media tersebut mampu
menyampaikan materi dan “membelajarkan” penerima pesan atau siswa.

(2). Peran media instruksional


Media instruksional digunakan dalam PBM untuk mencegah timbulnya
gejala verbalisme. Gejala ini terjadi karena pesan berupa kata-kata
(pengertian abstrak) yang bisa membingungkan. Media instruksional juga
diharapkan agar menciptakan suasana yang “mendekati” kenyataan. Kenyataan
atau bentuk fisik diwakili oleh media. Seperti disarankan oleh Bruner dan Dale
– dua ahli instruksional – dengan digunakan media dalam proses belajar, maka
proses belajar menjadi lebih mudah. Apalagi jika materi dimulai dari bersifat
kongkrit menuju abstrak kontinum.

b. Kategori media instruksional


Penggunaan media dalam menyampaikan materi berkaitan erat dengan
upaya penggunaan indera manusia secara optimal. Dengan mengaktifkan
seluruh indera manusia, proses komunikasi dapat terbentuk melalui lebih dari
satu saluran saja.

Berdasarkan indera ini, rumusan kategori media instruksional terdiri atas :


- benda nyata atau model
- media audio, misalnya audio kaset
- media visual, misalnya foto
- media audiovisual, misalnya video
- media interaktif : komputer, interactive video, CD-ROM

5.2. SUMBER BELAJAR


Sumber belajar merupakan upaya pelembagaan segala bentuk dan
karakteristik media instruksional. Pelembagaan tidak dimaksudkan untuk
menunjuk satu gedung atau satu atap. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang
dapat dijadikan materi belajar dan dimanfaatkan oleh lembaga penyelenggara

14
pendidikan. Bagi Percival dan Ellington, seperti dikutip oleh Prawiradilaga,
sumber belajar diarahkan untuk penyelenggaraan proses belajar secara optimal.
Sumber belajar terbagi atas sumber belajar nonmanusia dan manusia.

a. Sumber belajar nonmanusia : Lingkungan


Pada uraian sebelumnya, seringkali lingkungan disebut-sebut dalam
proses belajar. Lingkungan memang merupakan materi belajar yang sangat
bermanfaat. Lingkungan dimana individu berada dapat dimanfaatkan sebagai
sumber materi, baik materi yang terikat dengan kurikulum, maupun materi
yang tidak mengikat namun dapat digunakan pada satu peristiwa belajar.
Lingkungan belajar memang ada yang sengaja diciptakan, seperti museum,
perpustakaan, dan sebagainya. Disamping itu, ada lingkungan alam dan
kebendaan lain yang dimanfaatkan karena kebutuhan akan penyerapan materi
tersebut. Lingkungan belajar tadi termasuk lingkungan belajar bersifat
nonmanusia. Lingkungan yang dirancang sebagai sumber belajar misalnya
museum dan perpustakaan.

b. Manusia sebagai sumber belajar


Manusia, selain guru, bisa berperan sebagai sumber belajar. Istilah
sumber belajar manusia adalah narasumber. Para pakar dan seseorang yang
dianggap ahli atau tahu secara mendalam akan sesuatu hal termasuk
kelompok narasumber. Persyaratan utama narasumber adalah memiliki
wawasan luas mengenai penerapan bidang ilmunya. Selain itu, narasumber
perlu memiliki kemampuan untuk “menularkan” kemampuan atau keahliannya
kepada siswa atau peserta didik.

c. Pusat Sumber Belajar


Pusat Sumber Belajar adalah tempat yang sengaja dirancang untuk
mengembangkan, menggunakan, menyimpan berbagai sumber belajar
yang dimanfaatkan untuk proses belajar. Tentu saja suatu pusat sumber
belajar memerlukan pengelolaan tersendiri agar pemanfaat seluruh sumber
belajar makalahTP2\DSP. 27 yang ada dapat terlaksana secara maksimal. Suatu
pusat sumber belajar terdiri atas sumber belajar nonmanusia dan manusia.
Khusus sumber belajar manusia adalah para tenaga ahli atau pakar yang
dapat membantu dan mendukung setiap pengguna atau peserta didik untuk
memanfaatkan sumber belajar dan mengatasi kesulitan belajar. Beberapa
contoh tenaga ahli adalah tenaga ahli bidang tertentu, misalnya ahli fisika,
matematik, ilmu sosial serta pakar untuk bidang proses belajar, pengembang
instruksional serta ahli media instruksional. Seluruh aspek pusat sumber
belajar bersifat sistem, sehingga setiap pihak memiliki peran penting terhadap
proses belajar.

15
BAB 6
PENUTUP

6.1. KESIMPULAN
Berdasarkan data diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan tentang
Perlunya pengajaran teknologi pendidikan bagi siswa adalah sebagai
berikut:
1. Landasan Berpikir
Landasan berpikir merupakan Proses belajar disebut internal karena
terjadi dalam diri siswa. Sejauh ini sudah banyak sekali teori belajar yang
dirumuskan oleh para pakar dengan berbagai pendekatan ilmu. Proses belajar
dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu.
2. Proses Belajar
Proses belajar mempunyai rincian sebagai berikut:
a. Definisi Belajar
Bagi Kemp & Dayton, 1985, belajar “sebagai suatu proses terjadi
pada seseorang sebagai suatu pengalaman
b. Peristiwa Belajar
Belajar sebagai suatu pemrosesan informasi Gagne, Briggs, dan
Wager menjabarkan peristiwa belajar berdasarkan pola pemprosesan
informasi
3. Analisis Siswa
Pengamatan Analisis siswa diprioritaskan pada aspek :
1. Karakteristik umum
2. Karakteristik akademik
3. Tipe belajar
4. Interaksi Belajar – Mengajar
Interaksi belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Faktor eksternal
2. Kegiatan instruksional
5. Model Interaksi Belajar-Mengajar
1. Model interaksi belajar-mengajar dari Schramm
Skema Schramm menggambarkan konsep dasar komunikasi yang
disesuaikan dengan kondisi belajar mengajar
2. Penerapan dalam PBM
3. Model kegiatan instruksional Gagne
Mempunyai beberapa fase antara lain:
a. Fase Motivasi
b. Fase penyampaian materi belajar
c. Fase evaluasi
d. Fase Motivasi
e. Fase penyampaian materi belajar
f. Fase evaluasi
g. Fase penerapan

16
6. Sumber Belajar
1. Sumber belajar nonmanusia : Lingkungan
2. Manusia sebagai sumber belajar
3. Pusat Sumber Belajar

6.2. SARAN
Berdasarkan data diatas penulis memberikan beberapa saran antara lain:
1. Mahasiawa yang tidak dapat menguasai semua materi diatas, maka
mahasiswa perlu menentukan cara yang sesuai dengan dirinya tentang
bagaimana ia melakukan pengajaran
2. Mahasiswa harus dapat menganalisis tentang teknologi pendidikan secara
baik dan benar
3. mahasiswa harus dapat mengetahui tentang media instruksional dan
sumber belajar dalam teknologi pendidikan secara baik

17
DAFTAR PUSTAKA

Heinich, Robert M.; Michael H Molenda & James D.Russell (1993).


Instructional
Media and the New Technologies of Instruction (4th ed.). New York :
MacMillan
Publishing, Co.
Kemp, Jerold E. & Diane K. Dayton (1985). Planning and Producing
Instructional
Media (5th ed.). New York : Harper & Row, Publ.
Prawiradilaga, Dewi Salma, “Antara PSDM dan Teknologi Pendidikan : Suatu
Gagasan untuk Penerapan Teknologi Pendidikan di Dunia Bisnis”, Makalah.
Kongres II IPTPI di Malang, 1992.
-----------------, “Restrukturisasi Peran PSB bagi Masyarakat Akademik”,
Makalah.
Temukarya LSB di IKIP Jakarta, 1993.
Fleming, Malcolm & W Howard Levie (1978). Instructional Message
Design
Principles. Englewood Cliffs, NJ : Educational Technology Publ.
Gagne, Robert M & Leslie J. Briggs, Walter W. Wager (1992). Principles
of
Instructional Design (4th ed.). Fort Wort, TX : Harcorut, Brace, Jovanovich.
Slavin, Robert E. (1993). Cooperative Learning : Theory, Research, and
Practice.
Boston, MA : Allyn & Bacon.
Armstrong, Thomas (1994). Multiple Intelligences in the Classroom.
Alexandria,
VA : Association for Curriculum Development.
Saettler, Paul (1990). The Evolution of American Educational Technology.
Englewood, COL. : Libraries Ltd.
Wittich, Walter A. & Charles F. Schuller (1973). Instructional
Technology : Its
Nature and Use. New York : Harper & Row, Publ.
Gagne, Robert M. (Ed., 1987). Instructional Technology Foundations. Hillsdale,
NJ :
Lawrence Erlbaum Assc., Publ.
Ellington, Hendry & Duncan Harris (1986). Dictionary of Instructional
Technology.
London, UK : Kogan Page.
AECT (1977). The Definition of Educational Technology. Washington, DC :
AECT.
NSPI (1986). Introduction to Performance Technology. Washington, DC : NSPI.
makalahTP2\DSP. 29

18
Seels, Barbara & Rita C. Richey (1994). Instructional Technology : The
Definitions
and Domains of the Field. Washington, DC : AECT.
Ely, Donald P. & Tjeerd Plomp (1996). Classic Writings on Instructional
Technology.
Englewood, COL. : Libraries Unlimited, Inc.

19
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ….…………………………………………………………………..i


BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang…………………………………………………………….1
1.2. Batasan masalah…………………………………………………..………1
1.3. Tujuan penulisan………………………………………………………….1
BAB 2 LANDASAN BERPIKIR
2.1. Pengertian………………………………………………………...………2
2.2. Proses Belajar……………………………………………………….……2
2.3. Analisis Siswa……………………………………………………………4
2.4. Persepsi………………………………………………………………..…5
BAB 3 SISTEM
3.1. Ruang Linkup Sistem…………………………………………………….6
3.2. Pendekatan Sistem……………………………………………………….8
BAB 4 INTERAKSI BELAJAR-MENGAJAR
4.1. Interaksi Belajar-Mengajar……………………………………..……….10
4.2. Model Interaksi Belajar-Mengajar……………………………….……..10
4.3. Peran Guru …………………………………………………………..…12
BAB 5 MEDIA INSTRUKSIONAL DAN SUMBER BELAJAR
5.1. Media Instruksional……………………………………………………..14
5.2. Peran Sumber Belajar…………………………………………..….……14
BAB 6 PENUTUP
6.1. Kesimpulan………………………………………………………...……16
6.2. Saran………………………………………………………………….….17
DAFTAR PUSTAKA

20