Anda di halaman 1dari 27

ANEMIA

HEMOLITIK

Nama Kelompok:
1.Adhetya Ayu Pratiwi
(121.0003)
2.Akbar Dwi Guntoro
3.Angga Wahyu Indarto
(121.0011)
4.Erisky Try P.
5.Intan Ayu R.
6.Neli Rosidawilda
(121.0069)

(121.0007)
(121.0033)
(121.0049)

Pengertian Anemia
Anemia merupakan keadaan
dimana masa eritrosit dan/atau
masa hemoglobin yang beredar
tidak memenuhi fungsinya untuk
menyediakan
oksigen
bagi
jaringan tubuh.

Kriteria Anemia
Menurut kriteria WHO pada
tahun 1968, dinyatakan sebagai
anemia
apabila
terdapat
nilai
dengan kriteria sebagai berikut:
a.Laki-laki dewasa
Hb < 13 gr/dl
b.Perempuan dewasa Hb < 12 gr/dl
c.Perempuan Hamil
Hb < 11 gr/dl
d.Anak usia 6-14 tahun Hb < 12 gr/dl
e.Anak usia 6 bln-6 tahun Hb < 11
gr/dl

Untuk kriteria anemia di klinik


atau tempat praktik, umumnya
dinyatakan anemia bila terdapat
nilai sebagai berikut:
a.Hb < 10 gr/dl
b.Hematokrit < 30%
c.Eritrosit < 2,8 juta/mm3

Derajat Anemia
Klasifikasi derajat anemia yang
umum
dipakai
adalah
sebagai
berikut:
a.Ringan Sekali Hb 10 gr/dl-13 gr/dl
b.Ringan
Hb 8 gr/dl-9,9 gr/dl
c.Sedang
Hb 6 gr/dl-7,9 gr/dl
d.Berat Hb < 6 gr/dl

Definisi Anemia
Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan oleh


proses
hemolisis,
yaitu
pemecahan
eritrosit dalam pembuluh darah sebelum
waktunya. Penurunan jumlah sel darah
merah akibat destruksi sel darah merah
yang berlebihan. Sel darah yang merah
yang tersisa bersifat normositik dan
nomokromik. Pembentukan sel darah
merah di sumsum tulang akan meningkat
untuk mengganti sel-sel yang mati, lalu
mengalami peningkatan sel darah merah
yang belum matur atau retikulosit yang
dipercepat masuk ke dalam darah.

Gambaran Klinis
Kepucatan membran mukosa
Ikterus ringan yang berfluktuasi
Splenomegali
Tidak ada bilirubin dalam urine,
tapi
urobilinogen
berlebihan
sehingga warna urine tidak
kekuningan

Temuan Laboratorium
1. Gambaran peningkatan pemecahan
Bilirubin serum meningkat
Urobilinogen urine meningkat
Sterkobilinogen feses meningkat
Haptoglobin serum tidak ada
2.Gambaran
peningkatan
produksi
eritrosit
Retikulositosis
Hiperplasia eritroid sumsum tulang

3.Eritrosit yang rusak


Morfologi
Fragilitas osmotik,
autohemolisis
Ketahanan eritrosit
memendek

Klasifikasi
Anemia hemolitik menurut faktor
penyebabnya :
Anemia hemolitik defek imun :
Anemia hemolitik warm antibody
Anemia hemolitik cold antibody
Anemia hemolitik defek membran :
Sferositosis herediter
Eliptositosis herediter
Paroksimal nokturnal hemoglobinuria

Anemia Hemolitik Defek


Imun
A. Warm Antibody
Suatu keadaan dimana tubuh membentuk
autoantibodi yang bereaksi terhadap sel
darah

merah

Autoantibodi
merah,

yang

ini

pada

suhu

melapisi
kemudian

sel

tubuh.
darah

dikenalinya

sebagai benda asing dan dihancurkan


oleh sel perusak dalam limpa atau kadang
dalam hati dan sumsum tulang.

B. Cold Antibody
Suatu

keadaan

dimana

tubuh

membentuk autoantibodi yang bereaksi


terhadap sel darah merah dalam suhu
ruangan atau dalam suhu yang dingin.
Anemia jenis ini dapat berbentuk akut
atau kronik. Bentuk yang akut sering
terjadi

pada

terutama

penderita

pneumonia

infeksi

akut,

tertentu

atau

mononukleosis infeksiosa.

Gambaran Klinis
Menunjukkan
gejala
mudah
lelah,
malaise & demam, ikterus & perubahan
warna urine
Adanya nyeri abdomen & gangguan
pernapasan
Hepatomegali & splenomegali
Timbulnya anemia akibat penyakit
lain,,
misalnya
lupus
atau
glomerulonefritis kronik

Anemia Hemolitik Defek


Membran

Sferositosis Herediter

Biasanya disebabkan oleh defek protein yang terlibat


dalam interaksi vertikal antara rangka membran
dan lapisan lemak dua lapis eritrosit. Hilangnya
membran dapat terjadi akibat terlepasnya bagianbagian lemak 2 lapis yang tidak ditunjang oleh
rangka.

Sumsum

tulang

memproduksi

eritrosit

berbentuk bikonkaf normal, tapi eritrosit tersebut


kehilangan

membran

dan

jadi

semakin

sferis,

akibatnya tidak mampu melewati mikrosirkulasi


limpa, kemudian mati secara prematur.

Eliptositosis Herediter
Defek

dasarnya

heterodimer
dengan

spektrin
dirinya

adalah

kegagalan

untuk

bergabung

untuk

menjadi

heterotentramer. Defisiensi a-spectrin dan


b-spectrin serta defek spectrin heterodimer
self associations menyebabkan fragmentasi
eritrosit, sebagian diantaranya mengalami
mutasi pada protein 4.1 dan glikoporin C
sehingga
eliptositosis.

menyebabkan

terjadinya

Gambaran Klinis
Eliptositosis Herediter
Ikterik
Splenomegali
Gambaran
darah
tepi
poikilositosis & piknositosis
Kolelitiasis
Kadar
bilirubin
indirek
meningkat

Paroksismal Nokturnal Hemoglobinuria


Suatu penyakit klonal sel induk sumsum
tulang yang didapat dan jarang terjadi,
dengan gangguan struktur (GPI) yang
melekatkan beberapa protein permukaan
pada membran sel. Hal ini karena adanya
mutasi

pada

protein

GPI

kromosom
menjadi

X,

sehingga

tidak

ada

menyebabkan eritrosit rentan terhadap


lisis oleh komplemen dan mengakibatkan
hemolisis intravaskular kronik.

Gambaran Klinis Paroksismal


Nokturnal Hemoglobinuria
Gangguan sumsum tulang disertai
anemia

kronis

&

hemolisis

intravaskular (hemosiderinuria)
Hemoglobinuria
Nyeri kepala, abdomen, pinggang

Trombosis

akibat

&

tromboembolik

aktifitas

glikoprotein

permukaan meningkat
Adanya

tes

positif

dari

asam

serum (Ham) dan tes lisis sukrose


Berkurangnya

kadar

asetilkolinesterase
eritrosit

&

aktifitas
dari

sel

berkurangnya

kadar

dari decay-accelerating factor

Etiologi
Anemia hemolitik disebabkan
oleh:
1.Anemia sel sabit
2.Malaria
3.Penyakit hemolitik pada BBL
4.Reaksi transfusi

Patofisiologi
Proses hemolisis akan menimbulkan
beberapa gejala berikut ini:
1. Penurunan kadar hemoglobin yang
akan mengakibatkan anemia.
2. Peningkatan
hasil
pemecahan
eritrosit
dalam
tubuh.
Hemolisis
berdasarkan tempatnya dibagi menjadi
dua:
a.Hemolisis Ekstravaskuler
b.Hemolisis Intravaskuler
3. Kompensasi Sumsum tulang untuk
meningkatkan eritropoiesis.

Hemolitik Ekstra dan


Intra
Terdapat
2
mekanisme
utama
penghancuran eritrosit pada anemia
hemolitik :

1.Hemolitik Ekstravaskuler
Penghancuran eritrosit berlebihan oleh
sel sistem RE

2.Hemolitik Intravaskuler
Eritrosit yang dihancurkan
dalam sirkulasi

langsung

Anemia Hemolitik pada


BBL
Adalah
suatu
anemia
normositik normokromik pada bayi
positif Rh yang lahir dari ibu
negatif Rh yang sebelumnya telah
membentuk
antibodi
terhadap
antigen Rh.

Etiologi
Penyakit
anemia
hemolitik
pada BBL ini dapat terjadi akibat
ketidakcocokan
ABO
atau
Rh
antara bayi dan ibunya. Bentuk
yang
lebih
parah
biasanya
berkaitan dengan ketidakcocokan
faktor Rh.

Tanda dan Gejala


1.

2.

Ringan kulit tampak


sedikit pucat dan hati
mungkin
sedikit
membesar.
Berat
ikterus,
hepatomegali,
dan
splenomegali.

Penatalaksanaan pada
BBL dengan Penyakit
Hemolitik
Untuk kasus ringan pada penyakit
hemolitik pada BBL, Fototerapi
dapat menyembuhkan penyakit.
Untuk kasus yang berat atau
parah, bayi dapat diterapi dengan
transfusi
darah
yaitu
bayi
ditransfusi darah positif Rh yang
tidak mengandung antibodi Rh.