Anda di halaman 1dari 61

TANDA DAN GEJALA SEORANG KLIEN MENGALAMI OBSTRUKSI JALAN

NAPAS
1. Batuk
Batuk merupakan refleks pertahanan yang timbul akibat iritasi percabangan
trakeabronkial. Kemampuan untuk batuk merupakan mekanisme yang penting
untuk membersihkan saluran napas bagian bawah, dan banyak orang dewasa normal
yang batuk beberapa kali setelah pagi hari untuk membersihkan trakea dan faring
dari sekret yang terkumpul selama tidur. Batuk juga merupakan gejala terserang
penyakit pernapasan. Segala jenis batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu
harus diselidiki untuk memastikan penyebabnya.
Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik,
kimia, dan peradangan. Inhalasi asap, debu, dan benda-benda asing kecil merupakan
penyebab batuk yang paling sering. Perokok seringkali menderita batuk kronik
karena terus menerus mengisap benda asing (asap), dan saluran napasnya sering
mengalami peradangan kronik. Rangsangan mekanik dari tumor (ekstrinsik maupun
intrinsik) terhadap saluran napas merupakan penyebab lain yang dapat
menimbulkan batuk (tumor yang paling sering menimbulkan batuk adalah
karsinoma bronkegenik). Setiap proses peradangan saluran napas dengan atau tanpa
eksudat dapat mengakibatkan batuk. Bronkitis kronik, asma, tuberkulosis, dan
pneumonia merupakan penyakit yang secara tipikal memiliki batuk sebagai gejala
yang mencolok. Batuk dapat bersifat produktif, pendek dan tidak produktif, keras
dan parau (seperti ada tekanan pada trakea), sering, jarang, atau paroksismal
(serangan batuk yang intermiten).
2. Adanya Sputum
Orang dewasa normal menghasilkan mukus sekitar 100 ml dalam saluran
napas setiap hari. Mukus ini diangkut menuju faring dengan gerakan pembersihan
normal silia yang melapisi saluran pernapasan. Kalau terbentuk mukus yang
berlebihan, proses normal pembersihan mungkin tak efektif lagi, sehingga akhirnya
mukus tertimbun. Bila hal ini terjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus
dibatukkan keluar sebagai sputum. Pembentukan mukus yang berlebihan, mungkin
disebabkan oleh gangguan fisik, kimiawi, atau infeksi pada membran mukosa.

Kapan saja seorang pasien membentuk sputum, perlu dievaluasi sumber,


warna, volume, dan konsistensinya. Sputum yang dihasilkan sewaktu
membersihkan tenggorokan kemungkinan besar berasal dari sinus atau saluran
hidung, dan bukan dari saluran napas bagian bawah. Sputum yang banyak sekali
dan purulen menyatakan adanya proses supuratif, seperti abses paru, sedangkan
pembentukan sputum yang terus meningkat perlahan dalam waktu bertahan-tahun
merupakan tanda bronkitis kronis, atau bronkiektasis.
Warna sputum juga penting. Sputum yang berwarna kekuning-kuningan
menunjukkan infeksi. Sputum yang berwarna hijau merupakan petunjuk adanya
penimbunan nanah. Warna hijau timbul karena adanya verdoperoksidase yang
dihasilkan oleh leukosit polimorfonukler (PMN) dalam sputum. Sputum yang
berwarna hijau sering ditemukan pada bronkiektasis karena penimbunan sputum
dalam bronkiolus yang melebar dan terinfeksi. Banyak penderita infeksi pada
saluran napas bagian bawah mengeluarkan sputum berwarna hijau pada pagi hari,
tetapi makin siang menjadi kuning. Fenomena ini mungkin disebabkan karena
penimbunan sputum yang purulen di malam hari, disertai pengeluaran
verdoperoksidase.
Sifat dan konsistensi sputum juga dapat memberikan informasi yang
berguna. Sputum yang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema
paru akut. Sputum yang berlendir, lekat dan berwarna abu-abu atau putih
merupakan tanda bronkitis kronik. Sedangkan sputum yang berbau busuk
merupakan tanda abses paru atau bronkiektasis.
3. Dispnea
Dispnea atau sesak napas adalah perasaan sulit bernapas dan merupakan
gejala utama dari penyakit kardiopulmonar. Seorang yang mengalami dispnea
sering mengeluh napasnya menjadi pendek atau merasa tercekik.
Gejala objektif sesak napas termasuk juga penggunaan obat-obat
pernapasan tambahan (sternokleidomastoideus, scalenus, trapezius, pectoralis
mayor), pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi. Sesak napas tidak
selalu menunjukkan adanya penyakit; orang normal akan mengalami hal yang sama
setelah melakukan kegiatan fisik dalam tingkat-tingkat yang berbeda.
Pemeriksaan harus dapat membedakan sesak napas dari gejala dan tanda lain
yag mungkin memiliki perbedaan klinis mencolok.
Takipnea adalah frekuensi pernapasan yang cepat, lebih cepat dari
pernapasan normal (12 hingga 20 kali per menit) yang dapat muncul dengan atau
tanpa dispnea.

Hiperventilasi adalah ventilasi yang lebih besar daripada jumlah yang


dibutuhkan untuk mempertahankan pengeluaran karbon dioksida (CO2) normal, hal
ini dapat diidentifikasi dengan memantau tekanan parsial CO2 arteri, atau tegangan
(PaCO2), yaitu lebih rendah dari angka normal (40 mmHg).
Dispnea sering dikeluhkan pada sindrom hiperventilasi yang sebenarnya
merupakan seseorang yang sehat dengan stres emosional. Selanjutnya, gejala lelah
yang berlebihan harus dibedakan dari dispnea. Seseorang yang sehat mengalami
lelah yang berlebihan setelah melakukan kegiatan fisik dalam tingkat yang berbedabeda, dan gejala ini juga dapat dialami pada penyakit kardiovaskular,
neuromuskular, dan penyakit lain selain paru.
Pada beberapa tahun belakangan ini, ketertarikan pada ilmu pengetahuan
dalam perhitungan dan mekanisme neurofisiologi meningkat dengan cepat. Namun,
belum tersedia keterangan tentang dispnea dengan segala keadaannya yang dapat
diterima.
Sumber penyebab dispnea termasuk: (1) reseptor-reseptor mekanik pada
otot-otot pernapasan, paru, dan dinding dada; dalam teori tegangan-panjang,
elemen-elemen sensoris, gelondong otot pada khususnya, berperan penting dalam
membandingkan tegangan dalam otot dengan derajat elastisitasnya; dispnea terjadi
bila tegangan yang ada tidak cukup besar untuk satu panjang otot (volume napas
tercapai); (2) kemoreseptor untuk tegangan CO2 dan O2 (PCO2 dan PO2) (teori
utang-oksigen); (3) peningkatan kerja pernapasan yang mengakibatkan sangat
meningkatnya rasa sesak napas; dan (4) ketidakseimbangan antara kerja pernapasan
denga kapasitas ventilasi. Mekanisme tegangan-panjang yang tidak sesuai adalah
teori yang paling banyak diterima karena teori tersebut menjelaskan paling banyak
kasus klinis dispnea.
Faktor kunci yang tampaknya menjelaskan apakah dispnea terjadi pada
tingkat ventilasi atau usaha sesuai dengan derajat aktivitasnya. Namun, rangsangan,
reseptor sensoris, dan jaras saraf yang sesuai tidak dapat ditentukan dengan pasti.
Besarnya tenaga fisik yang dikeluarkan untuk menimbulkan dispnea
bergantung pada usia, jenis kelamin, ketinggian tempat, jenis latihan fisik, dan
terlibatnya emosi dalam melakukan kegiatan itu. Dispnea yang terjadi pada
seseorang harus dikaitkan dengan tingkat aktivitas minimal yang menyebabkan
dispnea, untuk menentukan apakah dispnea terjadi setelah aktivitas sedang atau
berat, atau terjadi pada saat istirahat. Tabel 37-2 berisi skala garis besar dispnea
yang dikembangkan oleh American Thoracic Society yang mungkin sesuai untuk
penilaian klinis dispnea kronik. Selain itu, terdapat beberapa variasi gejala umum
dispnea.

Ortopnea adalah napas pendek yang terjadi pada posisi berbaring dan
biasanya keadaan diperjelas dengan penambahan sejumlah bantal atau
penambahan elavasi sudut untuk mencegah perasaan tersebut. Penyebab tersering
ortopnea adalah gagal jantung kongestif akibat peningkatan volume darah di
vaskularisasi sentral pada posisi berbaring. Ortopnea juga merupakan gejala yang
sering muncul pada banyak gangguan pernapasan. Dispnea nokturna paroksismal
menyatakan timbulnya dispnea pada malam hari dan memerlukan posisi duduk
dengan segera untuk bernapas.
Membedakan dispnea nokturna paroksismal dengan ortopnea adalah
waktu timbulnya gejala setelah beberapa jam dalam posisi tidur. Penyebabnya sama
dengan penyebab ortopnea yaitu gagal jantung kongestif, dan waktu timbulnya yang
terlambat itu karena mobilisasi cairan edema perifer dan penambahan volume
intravaskular pusat.
Pasien dengan gejala utama dispnea biasanya memiliki satu dari keadaan ini yaitu:
(1) penyakit kardiovaskular, (2) emboli paru, (3) penyakit paru interstitial atau
alveolar, (4) gangguan dinding dada atau otot-otot, (5) penyakit obstruktif paru, atau
(6) kecemasan. Dispnea adalah gejala utama edema paru, gagal jantung kongestif,
dan penyakit katup jantung. Emboli paru ditandai oleh dispnea mendadak.
Dispnea merupakan gejala paling nyata pada penyakit yang menyerang
percabangan trakeobronkial, parenkim paru, dan rongga pleura. Dispnea biasanya
dikaitkan dengan penyakit restriktif yaitu terdapat peningkatan kerja pernapasan
akibat meningkatnya resistensi elastik paru (pneumonia, atelektasis, kongesti) atau
dinding dada (obesitas, kifoskoliosis) atau pada penyakit jalan napas obstruktif
dengan meningkatnya resistensi nonelastik bronkial (emifisema, bronkitis, asma).
Tetapi kalau beban kerja pernapasan meningkat secara kronik, maka pasien yang
bersangkutan dapat menyesuaikan diri dan tidak mengalami dispnea.
Dispnea juga dapat terjadi jika otot pernapasan lemah (contohnya, miastenia
gravis), lumpuh (contohnya, poliomielitis, sondrom Guillain-Barre), letih akibat
meningkatnya kerja pernapasan, atau otot pernapasan kurang mampu melakukan
kerja mekanis (contohnya, emfisema yang berat atau obesitas). Pada akhirnya,
penderita sindrom hiperventilasi akibat kecemasan atau stres emosional sering
mengeluhkan dispnea. Pola pernapasan pada kelompok ini seringkali aneh, dengan
ketidakteraturan frekuensi maupun tidal volume. Pada lain waktu, pola pernapasan
menjadi hiperventilasi yang menetap sehingga pasien mengeluh kesemutan pada
ekstrimitasnya dan terdapat perasaan melayang. Bila pola pernapasan abnormal
hilang saat tidur, dicurigai terdapat penyebab psikogenik.
4. Sianosis

Sianosis adalah warna kebiru-biruan pada kulit dan selapur lendir yang
terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tak berkaitan
dengan O2). Sianosis dapat tanda insufisiensi pernapasan, meskipun bukan
merupakan tanda yang dapat diandalkan.
Ada dua jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis
sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi Hb dalam paru, dan paling mudah
diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga, serta bagian bawah lidah. Sianosis
biasanya tak diketahui sebelum jumlah absolut Hb tereduksi mencapai 5g per 100
ml atau lebih pada seseorang dengan konsentrasi Hb yang normal (saturasi oksigen
[SaO2] kurang dari 90%). Jumlah normal Hb tereduksi dalam jaringan kapiler
adalah 2,5 g per 100 ml. Pada orang dengan konsentrasi Hb yang normal, sianosis
akan pertama kali terdeteksi pada SaO2 kira-kira 75% dan PaO2 50 mmHg atau
kurang. Penderita anemia (konsentrasi Hb rendah) mungkin tak pernah mengalami
sianosis walaupun mereka menderita hipoksia jaringan yang berat karena jumlah
absolut Hb tereduksi kemungkinan tidak dapat mencapai 5 g per 100 ml.
Sebaliknya, orang yang menderita polisitemia (konsentrasi Hb yang tinggi) dengan
mudah mempunyai kadar Hb tereduksi 5 g per 100 ml walaupun hanya mengalami
hipoksia yang ringan sekali. Foktor-faktor lain yang menyulitkan pengenalan
sianosis adalah variasi ketebalan kulit, pigmentasi dan kondisi penerangan.
Selain sianosis yang disebabkan oleh insufisiensi pernapasan (sianosis sentral), akan
terjadi sianosis perifer bila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat
menurunkan saurasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru.
Sianosis perifer dapat terjadi akibat insufisiensi jantung, sumbatan pada aliran
darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah akibat suhu yang dingin.
Sejumlah kecil methemoglobin atau sulfhemoglobin dalam sirkulasi dapat
menimbulkan sianosis, walaupun jarang terjadi. Ada banyak hal yang
mengakibatkan sianosis (dan sianosis sulit dikenali) sehingga sianosis merupakan
petunjuk insufisiensi paru yang tidak dapat diandalkan.
5. Hipoksemia dan Hipoksia
Istilah hipoksemia menyatakan nilai PaO2 yang rendah dan seringkali ada
hubungannya dengan hipoksia, atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai.
Hipoksemia tak selalu disertasi dengan hipoksia jaringan. Seseorang masih dapat
mempunyai oksigenasi jaringan yang normal, tapi menderita hipoksemia; seperti
juga seseorang masih dapat memiliki PaO2 normal tetapi menderita hipoksia
jaringan (karena gangguan pengiriman oksigen dan penggunaan oksigen oleh selsel).

Tetapi ada hubungan antara PaO2 dengan hipoksia jaringan, meskipun


terdapat nilai PaO2 yang tepat pada jaringan yang menggunakan O2. Kalau semua
dianggap sama, makin cepat timbulnya hipoksemia, semakin berat pula kelainan
jaringan yang diderita. Pada umumnya nilai PaO2 yang terus menerus kurang dari
50 mmHg disertai hipoksia jaringan dan asidosis (yang disebabkan oleh
metabolisme anaerobik). Hipoksia dapat terjadi pada nilai PaO2 normal maupun
rendah sehingga evaluasi pengukuran gas darah harus selalu dikaitkan dengan
pengamatan klinik dari pasien yang bersangkutan. Sianosis merupakan satu tanda
yang tidak dapat diandalkan karena SaO2 harus kurang dari 75% pada orang dengan
kadar Hb normal sebelum tanda itu dapat diketahui.
6. Hiperkapnia dan Hipokapnia
Seperti halnya ventilasi, yang dianggap memadai bila suplai O2 seimbang
dengan kebutuhan O2, pembuangan CO2 melalui paru baru dianggap memadai bila
pembuangannya seimbang dengan pembentukan CO2. CO2 mudah sekali
mengalami difusi sehingga tekanan CO2 dalam udara alveolus sama dengan tekanan
CO2 dalam darah arteri; sehingga PaCO2 merupakan gambaran ventilasi alveolus
yang langsung dan segera yang berhubungan dengan kecepatan metabolisme.
Dengan demikian PaCO2 digunakan untuk menilai kecukupan ventilasi alveolar ( )
karena pembuangan CO2 dari paru seimbang dengan sehingga PaCO2 langsung
berkaitan dengan produksi CO2 ( CO2) dan sebaliknya berkaitan dengan ventilasi
alveolar: PaCO2 CO2/ . Ventilasi yang memadai akan mempertahankan kadar
PaCO2 sebesar 40 mmHg.
Hiperkapnia didefinisikan sebagai peningkatan PaCO2 sampai di atas 45
mmHg; sedangkan hipokapnia terjadi apabila PaCO2 kurang dari 35 mmHg.
Penyebab langsung retensi CO2 adalah hipoventilasi alveolar (ventilasi kurang
memadai, untuk mengimbangi pembentukan CO2). Hiperkapnia selalu disertai
hipoksia dalam derajat tertentu apabila pasien bernapas dengan udara yang terdapat
dalam ruangan.
Penyebab utama hiperkapnia adalah penyakit obstruktif saluran napas, obat-obat
yang menekan fungsi pernapasan, kelemahan atau paralisis otot pernapasan, trauma
dada atau pembedahan abdominal yang mengakibatkan pernapasan menjadi
dangkal, dan kehilangan jaringan paru.

Tanda klinik yang dikaitkan dengan hiperkapnia adalah: kekacauan mental


yang berkembang menjadi koma, sakit kepala (akibat vasodilatasi serebral),
asteriksis atau tremor kasar pada tangan yang teregang (flapping tremor), dan
volume denyut nadi yang penuh disertai tangan dan kaki yang terasa panas dan
berkeringat (akibat vasodilatasi perifer karena hiperkapnia). Hiperkapnia kronik
akibat penyakit paru kronik dapat mengakibatkan pasien sangat toleran terhadap
PaCO2 yang tinggi, sehingga pernapasan terutama dikendalikan oleh hipoksia.
Dalam keadaan ini, bila diberi oksigen kadar tinggi, pernapasan akan dihambat
sehingga hiperkapnea bertambah berat.
Kehilangan CO2 dari paru yang berlebihan (hipokapnia) akan terjadi apabila terjadi
hiperventilasi (ventilasi dalam keadaan kebutuhan metabolisme meningkat untuk
membuang CO2). Tanda dan gejala yang sering berkaitan dengan hipokapnia
adalah sering mendesah dan menguap, pusing, palpitasi, tangan dan kaki kesemutan
dan baal, serta kedutan otot. Hipokapnia hebat (PaCO2 < 25 mmHg) dapat
menyebabkan kejang.

ASKEP INFLUENZA
1. Influenza yang lebih sering dikenal sebagai flu adalah penyakit saluran pernapasan akut
yang disebabkan oleh virus influenza A dan B.
2. Virus influenza merupakan virus yang kompleks dan terus-menerus berubah. Struktur
fisik virus ini cenderung mengalami perubahan-perubahan kecil pada antigen
permukaan selama fase replikasi yang dapat meyebabkan virus menginvasi sistem
kekebalan pejamu. Hal ini menjelaskan bahwa seseorang yang terinfeksi dapat
mengalami reinfeksi pada tahun berikutnya meskipun sudah punya antibodi terhadap
virus pertama.
3. Ada dua tipe virus influenza yang dapat menyebabkan epidemi pada manusia, yaitu
influenza A dan influenza B.
1. Virus influenza A dibagi lagi dalam subtipe berdasarkan dua antigen permukaan,
hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N).
2. Virus influenza B tidak dibagi lagi dalam subtipe.
4. Selanjutnya virus influenza A dan B dikelompokkan berdasarkan karakteristik
antigeniknya.
5. Virus influenza dengan antigen permukaan baru merupakan varian virus yang telah ada,
berasal dari perubahan antigen yang cepat terjadi karena mutasi yang terjadi pada saat
replikasi.
1. Virus A dapat menginfeksi beberapa spesies hewan, seperti burung, babi,kuda, ikan
paus dan singa laut.
2. Virus influenza B mengalami perubahan antigen lebih lambat dibanding dengan
virus influenza A
6. Virus influenza digolongkan dalam kelompok virus RNA (Ribose Nucleic Acid) dan
dibagi atas tiga tipe, yaitu A, B, dan C.
7. Virus dengan tipe A dan B bisa menyebabkan epidemik, khususnya saat musim salju di
negara dengan empat musim.
8. Sedangkan virus influenza tipe C hanya menyebabkan masalah pernafasan yang ringan,
dan diduga bukan penyebab dari epidemik.
9. Penyakit flu sukar sekali dibasmi karena virus flu sering mengadakan perubahan.
Perubahan yang terjadi pada virus flu terdiri dari dua macam cara.

1. Yang pertama dikenal dengan antigenic drift atau penyimpangan antigen, yaitu
perubahan kecil pada virus yang terjadi setiap saat. Antigenic drift menyebabkan
munculnya virus yang berbeda dengan sebelumnya, sehingga tidak dapat dikenali
oleh sistem imun tubuh.
Hasilnya, sebagian besar orang yang telah kebal terhadap virus sebelumnya karena
telah terpapar, menjadi berisiko untuk sakit kembali.
2. Proses kedua yang dapat menyebabkan perubahan adalah antigenic shift. Yaitu
perubahan yang besar dari virus, ketika terbentuk hemagglutinin yang baru yang
dapat diikuti dengan protein neuraminidase yang baru pula. Antigenic shift dapat
menimbulkan munculnya subtipe virus influenza yang baru.
10. Gejala berupa:
1. Demam mendadak disertai menggigil
2. Sakit kepala
3. Badan lemah
4. Nyeri otot dan sendi
11. Gejala ini bertahan selama 3 7 hari. Bila penyakit bertambah berat, gejala tersebut
diatas akan berganti dengan gejala penyakit saluran pernafasan seperti batuk, pilek dan
sakit tenggorokan. Kadang-kadang juga disertai gejala sakit perut, mual dan muntah.
Pada pemeriksaan fisik : muka kemerahan, mata kemerahan dan berair serta kelenjar
getah bening leher dapat teraba.
12.
Apa yang dapat diakibatkan Penyakit Influenza? Akibat penyakit Influenza yang
ditakutkan adalah timbulnya infeksi sekunder, seperti; radang paru-paru( Pneumonia ),
myositis, sindroma Reye, gangguan syaraf pusat. Disamping itu, penderita/ pengidap
penyakit kronis dapat bertambah berat bila terkena penyakit Influenza. Beberapa
penyakit kronis tersebut, seperti; Asma, paruparu kronis, jantung, kencing manis,
ginjal kronis, gangguan status imunitas tubuh, kelainan darah dll.
13.
14. Komplikasi Influenza
15. Komplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh infeksi tambahan termasuk bakteri
pneumonia karena dehidrasi, dan kondisi lain yang memperparah keadaan, seperti
mengidap diabetes, asma, dan kelainan jantung. Anak-anak sering mendapat masalah
pada sinus dan infeksi telinga sebagai komplikasi dari flu. Manula di atas 65 tahun atau
pasien yang masih anak-anak, dan penderita yang memiliki penyakit kronis, jika

terkena flu akan mudah mengalami komplikasi.

16. Masa Inkubasi


17. Jangka waktu seseorang terpapar virus hingga munculnya gejala adalah satu sampai
empat hari, dengan rata-rata dua hari. Sedangkan periode seseorang dapat menularkan
penyakitnya ke orang lain bervariasi untuk tiap usia.
Penularan sudah mulai terjadi dari sebelum penderita merasa sakit, yang berlanjut
hingga tiga sampai tujuh hari setelah timbul gejala pertama pada orang dewasa.
Sedangkan pada anak-anak dapat lebih dari satu minggu.
18. Dinegara bermusim empat, setiap tahun pada musim dingin terjadi letusan influenza
yang banyak menimbulkan konmplikasi dan kematian pada orang-orang beresiko tinggi
:
a. Usia lanjut ( > 60 tahun )
b. Anak anak penderita Asma
c. Penderita penyakit kronis ( Paru , Jantung, Ginjal, Diabetes )
d. Penderita gangguan sistem kekebalan tubuh.
19. Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi sepanjang tahun. Setiap
tahun influenza menyebabkan ribuan orang meninggal diseluruh dunia. Biaya
pengobatan, biaya penanganan komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja
( absen dari sekolah dan tempat kerja ) sangat tinggi.
20.

21. Pemeriksaan Diagnostik


1. Sinar x dada: Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula.
2. Tes fungsi paru: Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruks atau restriksi.
3. Bronkogram; dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi
JDL dan Diferensial: Hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan
eosinofil
4. Sputum dan sekret: Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi
patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
5. EKG: Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P; disritmia atrial, peninggian
gelombang P pada lead II, III, AVF; aksis vertikal QRS.
22.

23. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OBSTRUKSI JALAN


NAPAS
1. Data dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/Istirahat
24. Gejala:
-

Keletihan, kelelahan, malaise

Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit


bernapas

Ketidakmampuan untuk tidur

b. Sirkulasi
Tanda:
-

Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia.

Warna kulit/membran mukosa: sianosis

c. Integritas Ego
Tanda: Ansietas, ketakutan, peka rangsang
d. Makanan/Cairan
Gejala:
-

Mual/muntah.

Napsu makan buruk/anoreksia.

Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan.

Penurunan berat badan menetap

25. Tanda:
-

Turgor kulit buruk.

e. Pernapasan
Gejala:
-

Napas pendek khususnya pada kerja.

Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan
berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun.

26. Tanda:
-

Penggunaan obat bantu pernapasan, misalanya meninggikan bahu, retraksi


fosa supraklafikula, melebarkan hidung.

Dada: Dapat terlihat hperinflasi dengan peninggian diameter AP.

Bunyi napas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi; menyebar, lembut


atau krekels lembab kasar; ronki, mengi sepanjang area paru pada ekspirasi
dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak
adanya bunyi napas.

f. Interaksi Sosial
Gejala:
-

Hubungan ketergantungan.

Kurang sistem pendukung.

Kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang terdekat.

g. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala:
-

Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan.

Kesulitan menghentikan merokok.

2. Diagnosa keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan Bersihan jalan napas, berihubungan
dengan peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental akibat
influenza.
Intervensi:
1. Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi napas, misal mengi, krekels,
ronki
Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas
dan dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi napas adventisius, misal
penyebaran, krekels basah (bronkitis); bunyi napas redup dengan ekspirasi
mengi (emfisema); atau tak adanya bunyi napas (asma berat).
2. Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Catat rasio inspirasi/ekspirasi.
Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan
pada penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut. Pernapasan dapat
melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
3. Catat adanya/derajat dispnea, mis., keluhan lapar udara, gelisah, ansietas,
distres pernapasan, penggunaan otot bantu.
Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap
proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit,
mis., infeksi, reaksi alergi.
4. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, mis., peninggian kepala tempat tidur,
duduk pada sandaran tempat tidur
Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan
dengan menggunakan gravitasi. Namun, pasien dengan distres berat akan
mencari posisi yang paling mudah untuk bernapas. Sokongan tangan/kaki
dengan meja, bantal, dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan
dapat sebagai alat ekspansi dada.
5. Pertahankan polusi lingkungan minimum, mis., debu, asap, dan bulu bantal

yang berhubungan dengan kondisi individu.


Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode
akut.
6. Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir.
Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol
dispnea dan menurunkan jebakan udara.
b. Diagnosa Keperawatan: Pertukaran gas, kerusakan dapat dihubungkan dengan
gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi).
Intervensi:
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas
bibir, ketidakmampuan bicara/berbincang.
Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan/atau kronisnya
proses penyakit.
2. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai
kebutuhan/toleransi individu.
Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan
latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja napas.
3. Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat
sekitar bibir/atau daun telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral
mengindikasikan beratnya hipoksemia.
4. Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.
Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan
pertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak
efektif.
5. Palpasi fremitus
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara
terjebak.
6. Awasi tingkat kesadaran/status mental. Selidiki adanya perubahan.
Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia. GDA
memburuk disertai bingung/somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang
berhubungan dengan hipoksemia.
7. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan kalem.
Batasi aktivitas pasien atau dorong untuk tidur/istirahat di kursi selama fase
akut. Mungkinkan pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan
sesuai toleransi individu.

Rasional : Selama distres pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara total tak


mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea.
Istirahat diselingi aktivitas perawatan masih penting dari program pengobatan.
Namun, program latihan ditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan
tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkatkan rasa sehat.
c. Diagnosa Keperawatan: Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh dapat
dihubungkan dengan dispnea.
Intervensi:
1. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan.
Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Rasional : Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea,
produksi sputum, dan obat.
2. Auskultasi bunyi usus
Rasional : Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas
gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan
pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.
3. Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk
sekali pakai dan tisu.
Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap
napsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan
kesulitan napas.
4. Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.
Berikan makan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan
memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas
abdomen dan gerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.
6. Hindari makanan yang sangat pedas atau sangat dingin.
Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.
7. Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat
badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan: Penurunan berat
badan dapat berlanjut, meskipun masukan adekuat sesuai teratasinya edema.
Evaluasi yang diharapkan
Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih,tak disnea,sianosis

Mengidentifikasi perilaku mencapai bersiha jalan napas


Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan
Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi
Mengidentifikasi intervensi unutk mencegah/menurunkan risiko infeksi
Menunjukkan peningkatan nafsu makan
Mempertahankan berat badan normal
3. Pengobatan
Umumnya penyakit yang diakibatkan oleh virus bisa sembuh sendiri. Yang perlu
diperhatikan adalah infeksi bakteri/kuman lainnya yang biasanya menyertai infeksi
virus (komplikasi). Pengobatan influenza adalah dengan membiarkan tubuh
penderita membentuk antibodinya sendiri.
Hal itu dapat dilakukan dengan banyak beristirahat dan mengurangi aktivitasnya,
termasuk tidak banyak bercakap-cakap. Pengobatan yang umum diberikan adalah
untuk mengurangi gejala yang mengganggu dari flu, seperti pemberian obat untuk
(simptomatik) menurunkan panas, menghentikan pilek dan batuk.
Pemberian obat itu akan meredakan gejala sekaligus mengurangi penderitaan pasien
flu.
Obat flu biasanya terdiri dari komponen untuk menurunkan panas (parasetamol,
ibuprofen), mengurangi pilek atau hidung berair (efedrin, pseudo-efedrin, atau
fenilpropanolamin [maksimal 15 mg/tablet]), dan komponen obat batuk
(dekstrometorfan atau noskapin). Namun, bila gejalanya hanya demam saja, tidak
perlu mengonsumsi semua komponen.
Bagaimana bila hanya pilek? Cukup pilih obat bebas yang mengandung komponen
pilek saja; bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masih
diperbolehkan. Pemilihan obat kombinasi tergantung kecocokan individual.
Vitamin dan pengencer dahak tidak mutlak diperlukan dan perlu dinilai secara
individual.
Yang perlu diingat, dengan atau tanpa antibiotik flu akan sembuh dalam beberapa
hari hingga seminggu. Namun, bila tidak, sebaiknya konsultasikan kepada dokter
keluarga Anda.
Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah dari risiko tertular
penyakit Influenza?
Upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan, yaitu: Memelihara kebersihan diri
dan lingkungan pondokan secara baik.
Istirahat yang cukup, banyak mengkonsumsi buah-bahan segar dan sayur-sayuran
hijau.
Minum air yang cukup

Membiasakan diri untuk membersihkan ingus memakai kertas tissu atau sapu
tangan yang dapat menyerap cairan hidung dan membuangnya di tempat sampah.
Selalu memakai masker (penutup) hidung dan mulut yang bersih agr terhindar dari
percikan air ludah/ liur yang keluar dari penderita sewaktu bercakap-cakap atau
terkena percikan dahak, ingus, batuk dan bersin.
jangan sering keluar malam, jika ada alergi antisipasi dengan minum vitamin sesuai
kebutuhan.
Menghindari diri agar tidak kontak dekat dengan penderita bergejala dan tanda
penyakit Influenza.
Sedapat mungkin menghindari kerumunan kepadatan manusia atau tempat - tempat
yang dipadati orang terutama pada tempat seperti dipasar, atau pun tempat
keramaian lainnya.
27. DAFTAR PUSTAKA
Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC
Corwin,Ellizabetz,2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta.EGC
Doengoes,1999.Perencanaan Asuhan Keperawatan.Jakartan.EGC
BPhttp://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=15HI setempat.
http://www.freelists.org/archives/ppi/03-2004/msg00000.html
hthttp://beingmom.org/index.php/2006/12/08/penjelasan-imunisasi/
tp://www.pikiranrakyat.com/cetak/0204/26/cakrawala/laput1.htmhttp://www.pppl.depkes.go.id/catalogcd
c/kamus_detail_klik.asp?abjad=P&id=2005111810220104830710&count=13&page=1
28. Diposting oleh keperawatan ADIL AKPER di 01:25 0 komentar
29.

30. POLIP HIDUNG


31. Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat
dalam rongga hidung.
32. Etiologi
33. Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat hipersensitifitas atau reaksi alergi pada
mukosa hidung. Peranan infeksi terhadap kejadian polip hidung belum diketahui
dengan pasti tetapi tidak ada keraguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal
serinkali ditemuakan bersamaan dengan adanya polip.
34. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang terjadai pada anak-anak . Polip
mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis (mucoviscidosis)
35. Patofisiologi
36. Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan interseluler
dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat.
37. Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali
bilateral. Polip hiung paling sering berasal dari sinus maksila (antrum) dapat keluar
melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke ronga hidung dan membesar di koana dan
nasopharing. Polip ini disebut polip koana.
38. Secara makroskopik polip tershat sebagai massa yang lunak berwarna putih atau keabuabuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak submukosa hipertropi dan sembab. Sel
tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel eosinofil, limfosit dan sel plasma
sedangkan letaknya berjauhan dipisahkan oleh cairan interseluler. Pembuluh darah,
syaraf dan kelenjar sangat sedikit dalam polip dan dilapisi oleh epitel throrak berlapis
semu.
39.
40. Reaksi Alergi/Hipersensitivitas
41.
42. Edema mukosa nasal
43. (Pembengkakan mukosa hidung)
44.
45.

46. Persisten
47.
48.
49. Polip Hidung
50.
51.
52. Ggn. Pola nafas
53.
54. Gejala Klinik :
-

Sumbatan hidung

Hiposmia / anosmia

Sinusitis, nyeri kepala, rinorhea

Alergi; berupa bersin-bersin dan iritasi

55.
56.
57. Pengobatan :
58. Polip yang masih kecl dapat diobati dengan kortikosteroid (secara konservatif) baik
lokal maupun secara sistemik. Pada polip yang cukup besar dan persisten dilakukan
tindakan operatif berupa pengangkatan polip (polipectomy).
59. Dalam kejadian polip berulang maka dilakukan etmoidectomy baik intranasal maupun
ekstranasal.
60.

61. Proses Keperawatan


62.
63. Pengkajian
64. AKTIVITAS/ISTIRAHAT
65. Gejal 66. Kelelahan, kelemahan atau malaise umum
a:
67. Tand

68. Penurunan kekuatan, menunjukkan kelelahan

a :
69.
70. SIRKULASI
71. Gejal 72. Lelah, pucat atau tidak ada tanda sama sekali
a
73. Tand
a

74. Takikardia, disritmia.


75. Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam.

76.
77. INTEGRITAS EGO
78. Gejala

79. Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan .

80. Tanda

81. Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif

82.
83. MAKANAN/CAIRAN
84. Gejala

85. Anoreksia/kehilangan nafsu makan


86. Adanya penurunan berat badan sebanyak 10% atau lebih dari
berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet.

87. Tanda
89.

88. -

90. NYERI/KENYAMANAN
91. Gejala

92. Nyeri tekan/nyeri pada daerah hidung

93. Tanda

94. Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati.

95.
96. PERNAPASAN
97. Gejala

98. Dispnea

99. Tanda

100.

Dispnea, takikardia

101.

Pernafasan mulut

102.

Tanda distres pernapasan, sianosis.(bila obstruksi total)

103.

Terdapat pembesaran polip

104.
105.
1.

Rencana Keperawatan

106.

PRIORITAS KEPERAWATAN

1. Memberikan dukungan fisik dan psikologi selama tes diagnostik dan program pengobatan.
2. Mencegah komplikasi
3. Menghilangkan nyeri
4. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan
107.
108.

TUJUAN PEMULANGAN

109.

Komplikasi dicegah/menurun

110.

Nyeri hilang/terkontrol

111.

Proses penyakit/prognosis, kemungkinan komplikasi dan program pengobatan di pahami.

112.
113.

Diagnosa

114.

Pola Pernapasan/Bersihkan Jalan Napas, Tak

Keperawatan
115.

Hasil Yang

Efektif Resiko Tinggi Terhadap


116.

Mempertahankan Pola Pernapasan

Diharapkan/Kriteria

Normal/Efektif Bebas Dispnea, Sianosis Atau

Evaluasi Pasien Akan

Tanda Lain Distres Pernapasan

117.
118.
119.

INTERVENSI

120.
121.

122.

Kaji/awasi prekuensi

RASIONAL

Mandiri
123.

Perubahan (seperti takipnea,

pernapasan, kedalaman, irama.

dispnea, penggunaan otot aksesori)

Perhatikan laporan dispnea

dapat mengindikasikan berlanjutnya

dan/atau penggunaan otot bantu

keterlibatan/ pengaruh pernapasan

pernapasan cuping hidung,

yang membutuhkan upaya intervensi

gangguan pengembangan dada


124.

Beri posisi dan bantu ubah

posisi secara periodik

125.

Meningkatkan aerasi semua

segmen paru dan memobilisasikaan


sekresi

126.

Anjurkan/bantu dengan tehnik

127.

Membantu meningkatkan difusi

napas dalam dan/atau pernapasan

gas dan ekspansi jalan napas kecil,

bibiratau pernapasan

memberikan pasien beberapa kontrol

diagfragmatik abdomen bila

terhadap pernapasan, membantu

diindikasikan

menurunkan ansietas

128.

Awasi/evaluasi warna kulit,

129.

Proliferasi SDP dapat

perhatikan pucat, terjadinya

menurunkan kapasitas pembawa

sianosis (khususnya pada dasar

oksigen darah, menimbulkan

kulit, daun telinga,dan bibir)

hipoksemia.

130.

Kaji respon pernapasan

131.

Penurunan oksigen seluler

terhadap aktivitas. Perhatikan

menurunkan toleransi aktivitas.

keluhan dispnea/lapar udara

Istirahat menurunkan kebutuhan

meningkatkan kelelahan.

oksigen dan mencegah kelelahandan

Jadwalkaan periode istirahat

dispnea

antara aktivitas
132.

Identifikasi/dorong tehnik

133.

Membantu menurunkan

penghematan energi mis : periode

kelelahan dan dispnea dan

istirahat sebelum dan setelah

menyimpan energi untuk regenerasi

makan, gunakan mandi dengan

selulerdan fungsi pernapasan

kursi, duduk sebelum perawatan


134.

Tingkatkan tirah baring dan

135.

Memburuknya keterlibatan

berikan perawatan sesuai indikasi

pernapasan/ hipoksia dapat

selama eksaserbasi akut/panjang

mengindikasikan penghentian
aktivitas untuk mencegah pengaruh
pernapasan lebih serius

136.

Berikan lingkungan tenang

137.

Meningkatkan relaksasi,

penyimpanan energi dan menurunkan


kebutuhan oksigen
138.

Observasi distensi vena leher,

139.

Pasien non-Hodgkin pada resiko

sakit kepala, pusing, edema

sindrom vena kava superior dan

periorbital/fasial, dispnea,dan

obstruksi jalan napas, menunjukkan

stridor

kedaruratan onkologis.
140.

141.

Berikan tambahan oksigen

Kolaborasi
142.

Memaksimalkan ketersediaan

untuk untuk kebutuhan sirkulasi,


membantu menurunkan hipoksemia
143.

Awasi pemeriksaan

laboratorium, mis : GDA,


oksimetri
145.
146.

144.

Mengukur keadekuatan fungsi

pernapasan dan keefektifan terapi

147.
148.
149.

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN TUMOR RONGGA HIDUNG

150.

I. KONSEP MEDIS

151.

1. Definisi: Semua tumor jinak maupun ganas yang terdapat pada

rongga hidung.
152.
a.

2. Klasifikasi Histopatologi:
Tumor jinak:
Dari jaringan lunak :

fibroma, neurofibroma, meningioma

Dari jaringan tulang

osteoma, giant cell tumor,

displasia fibrosa/ossifying fibrome.


Odontogenik

kista-isata gigi, ameloblastoma.

b. Tumor pra ganas:


Inverted papilloma
c. Tumor ganas:
Dari epitel :

karsinoma sel skuamosa, limfoepitelioma,

karsinoma sel basal, silindroma dsb.


Dari jaringan ikat :
Dari

jaringan

fibrisarkoma, rabdomiosarkoma.
tulang/tulang

rawan:

osteosarkoma,

kondrosarkoma.
153.

Gejala Klinis:

154.

Gejala dini tidak khas, pada stadium lanjut tergantung asal tumor dan arah

perluasannya.
155.

Gejala hidung:

a. Buntu hidung unilateral dan progresif.


b. Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
c. Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.

d. Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan


keganasan.
e. Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan
rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.
f. Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
g. Pembengkakan pipi
h. Pembengkakan palatum durum
i. Geraham atas goyah, maloklusi gigi
j. Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.
156.

Diagnosis:

Anamnesis yang cermat terhadap gejala klinis.

Pemeriksaan:

Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum

Palpasi tumor yang tampak dan kelenjar leher

Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung

Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring

Pemeriksaan THT lainnya menurut keperluan.

Pemeriksaan penunjang:
-

Foto sinar X:
o WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan
sinus frontal)
o Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
o RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
o CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)

Biopsi:
o Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak.
Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi
inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan CaldwellLuc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi.

Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku


untuk diperiksa lebih lanjut.
157.

Terapi:
Tumor jinak:
158.

Terapi pilihan adalah pembedahan dengan pendekatan antara lain:

1) Rinotomi lateral
2) Caldwell-Luc
3) Pendekatan trans-palatal

Tumor ganas:
1) Pembedahan:
o Reseksi:

Rinotomi lateral

Maksilektomi partial/total (kombinasi eksenterasi orbita atau dengan


kombinasi deseksi leher radikal)

o Paliatif: mengurangi besar tumor (debulking) sebelum radiasi.


2) Radiasi:
o Dilakukan bila operasi kurang radikal atau residif
o Pra bedah pada tumor yang radio sensitif (mis. Karsinoma Anaplastik,
undifferentiated)
3) Kemoterapi:
o Dilakukan atas indikasi tertentu (mis. Tumor sangat besar/inoperable, metastasis
jauh, kombinasi dengan radiasi)
159.
160.
II.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
161.

Gejala-gejala khas tergantung ukuran tumor, kegansan dan stadium

penyakit, antara lain:

162.

Gejala hidung:

Buntu hidung unilateral dan progresif.

Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.

Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.

Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan


keganasan.

Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan
rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.

163.

Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang

tumor seperti:

Pembengkakan pipi

Pembengkakan palatum durum

Geraham atas goyah, maloklusi gigi

Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.

164.

Pada tumor ganas didapati gejala sistemik:

Penurunan berat badan lebih dari 10 %

Kelelahan/malaise umum

Napsu makan berkurang (anoreksia)


165.
166.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan:

Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum: didapatkan pembengkakan
sesuai lokasi pertumbuhan tumor

Palpasi, teraba tumor dan pembesaran kelenjar leher

b. Pengkajian Diagnostik:

Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung

Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring

Foto sinar X:

WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus
frontal)

Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)

RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)

CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)

Biopsi:

Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor
dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila
perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak
mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap
keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


1) Kecemasan b/d krisis situasi (keganasan), ancaman perubahan status kesehatan-sosialekonomik, perubahan fungsi-peran, perubahan interaksi sosial, ancaman kematian,
perpisahan dari keluarga.
167.
168.

INTERVENSI KEPERAWATAN

170.

169.

RASIONAL

181.

1. Orientasikan klien dan orang terdekat 182. Informasi yang tepat tentang situasi
terhadap prosedur rutin dan aktivitas
yang dihadapi klien dapat menurunkan
yang diharapkan.

kecemasan/rasa

asing

terhadap

171.

lingkungan sekitar dan membantu klien

172.

mengantisipasi dan menerima situasi


yang terjadi.

173.
2. Eksplorasi

kecemasan

klien

dan 183.

berikan umpan balik.

184.

Mengidentifikasi

faktor

174.

pencetus/pemberat masalah kecemasan

175.

dan menawarkan solusi yang dapat

3. Tekankan bahwa kecemasan adalah

masalah yang lazim dialami oleh


banyak orang dalam situasi klien saat
ini.

klien

(significant
kecemasan

ditemani

others)
dan

keluarga

selama

fase

pertahankan

ketenangan lingkungan.
177.
5. Kolaborasi pemberian obat sedatif.
178.
179.

185.
186.

176.
4. Ijinkan

dilakukan klien.

Menunjukkan bahwa kecemasan

adalah wajar dan tidak hanya dialami


oleh klien satu-satunya dengan harapan
klien dapat memahami dan menerima
keadaanya.
187.
188.

Memobilisasi sistem pendukung,

mencegah

perasaan

terisolasi

dan

menurunkan kecemsan.

6. Pantau dan catat respon verbal dan 189.


non verbal klien yang menunjukan
190.
kecemasan.
180.

191.

Menurunkan

kecemasan,

memudahkan istirahat.
192.
193.

Menilai

klien.
194.
195.
196.
197.

perkembangan

masalah

2) Gangguan harga diri b/d kelainan bentuk bagian tubuh akibat keganasan, efek-efek
radioterapi/kemoterapi.
i.
198.

INTERVENSI KEPERAWATAN

200.

199.

RASIONAL

208.

1. Diskusikan dengan klien dan keluarga 209. Membantu klien dan keluarga
pengaruh diagnosis dan terapi
memahami masalah yang dihadapinya
terhadap kehidupan pribadi klien dan

sebagai

aktiviats kerja.

pemecahan masalah.

langkah

awal

proses

201.
2. Jelaskan

efek

samping

dari

210.

pembedahan, radiasi dan kemoterapi 211.


yang perlu diantisipasi klien

212.

202.

memudahkan proses adaptasi klien

3. Diskusikan tentang upaya pemecahan


masalah perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat berkaitan
dengan penyakitnya.
203.
4. Terima

Efek terapi yang diantisipasi lebih

terhadap

adaptasi

klien

yang

mungkin

timbul.
213.
214.

kesulitan

masalah

Perubahan status kesehatan yang

membawa perubahan status sosial-

terhadap masalah yang dihadapinya

ekonomi-fungsi-peran

dan

masalah yang sering terjadi pada klien

informasikan

kemungkinan

perlunya konseling psikologis


204.
5. Evaluasi support sistem yang dapat
membantu klien (keluarga, kerabat,
organisasi sosial, tokoh spiritual)
205.

merupakan

keganasan.
215.
216.

Menginformasikan

alternatif

konseling profesional yang mungkin


dapat ditempuh dalam penyelesaian

206.

masalah klien.

6. Evaluasi gejala keputusasaan, tidak 217.


berdaya, penolakan terapi dan
218.
perasaan
tidak
berharga
yang
menunjukkan gangguan harga diri 219. Mengidentifikasi sumber-sumber
klien.
pendukung yang mungkin dapat
207.
dimanfaatkan dalam meringankan
masalah klien.
220.
221.

Menilai

perkembangan

masalah

klien.
222.
223.
224.
3) Nyeri b/d kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses inflamasi.
225.

INTERVENSI KEPERAWATAN

227.

226.

RASIONAL

232.

1. Lakukan tindakan kenyamanan dasar 233. Meningkatkan


relaksasi
dan
(reposisi, masase punggung) dan
mengalihkan fokus perhatian klien dari
pertahankan aktivitas hiburan (koran,
nyeri.
radio)
234.

228.

2. Ajarkan kepada klien manajemen 235.


penatalaksanaan

nyeri

(teknik

236.

relaksasi, napas dalam, visualisasi,


bimbingan imajinasi)
229.

237.

Meningkatkan

partisipasi

klien

secara aktif dalam pemecahan masalah

3. Berikan analgetik sesuai program


terapi.
230.

dan

meningkatkan

rasa

kontrol

diri/keman-dirian.
238.

4. Evaluasi keluhan nyeri (skala, lokasi,


frekuensi, durasi)
231.

239.

Analgetik mengurangi respon nyeri.

240.
241.
242.

Menilai

perkembangan

masalah

klien.
243.
244.
ii.
4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat
keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.
245.
246.

INTERVENSI KEPERAWATAN

248.

247.

RASIONAL

257.

1. Dorong klien untuk meningkatkan 258. Asupan nutrisi dan cairan yang
asupan nutrisi (tinggi kalori tinggi
adekuat diperlukan untuk mengimbangi
protein) dan asupan cairan yang

status

adekuat.

dengan keganasan.

hipermetabolik

pada

klien

249.
2. Kolaborasi dengan tim gizi untuk

259.

nutrisi
perlu
menetapkan program diet pemulihan 260. Kebutuhan
diprogramkan secara individual dengan
bagi klien.
250.

melibatkan klien dan tim gizi bila

3. Berikan

obat

anti

emetik

dan

roborans sesuai program terapi.

diperlukan.
261.

251.

262.

252.

Anti emetik diberikan bila klien

mengalami mual dan roborans mungkin

253.

diperlukan untuk meningkatkan napsu

4. Dampingi klien pada saat makan,


identifikasi keluhan klien tentang
makan yang disajikan.

makan

dan

membantu

proses

metabolisme.
263.

254.

5. Timbang berat badan dan ketebalan 264. Mencegah masalah kekurangan


asupan yang disebabkan oleh diet yang
lipatan
kulit
trisep
(ukuran
antropometrik

lainnya)

sekali

seminggu

disajikan.
265.

255.
6. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium

266.

(Hb, limfosit total, transferin serum, 267.


albumin serum)
256.

Menilai

perkembangan

masalah

perkembangan

masalah

klien.
268.
269.
270.
271.
272.

Menilai

klien.
273.
274.

iii.
5) Risiko infeksi b/d ketidak-adekuatan pertahanan sekunder dan efek imunosupresi
radioterapi/kemoterapi
iv.
275.

INTERVENSI KEPERAWATAN

277.

276.

RASIONAL

287.

1. Tekankan penting oral hygiene.

288.

Infeksi pada cavum nasi dapat

278.

bersumber dari ketidakadekuatan oral

279.

hygiene.

2. Ajarkan

teknik

mencuci

tangan 289.

kepada klien dan keluarga, tekankan


untuk

menghindari

mengorek/me-

nyentuh area luka pada rongga hidung


(area operasi).

290.

Mengajarkan upaya preventif untuk

menghindari infeksi sekunder.


291.

280.

292.

3. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium


yang menunjukkan penurunana fungsi 293.
pertahanan tubuh (lekosit, eritrosit, 294.
trombosit, Hb, albumin plasma)
295. Menilai perkembagan
281.
seluler/ humoral.
4. Berikan antibiotik sesuai dengan

imunitas

296.

program terapi.
282.

297.

283.

298.

5. Tekankan pentingnya asupan nutrisi


kaya

protein

sehubungan

penurunan daya tahan tubuh.

digunakan
untuk
dengan 299. Antibiotik
mengatasi infeksi atau diberikan secara

284.

profilaksis pada pasien dengan risiko

6. Kaji

tanda-tanda

gejala/tanda

infeksi

vital
pada

dan

infeksi.

seluruh 300.

sistem tubuh.
301.

285.

Protein diperlukan sebagai prekusor

pembentukan asam amino penyusun

286.

antibodi.
302.
303.

Efek imunosupresif terapi radiasi

dan kemoterapi dapat mempermudah


timbulnya infeksi lokal dan sistemik.
304.
305.
306.
307.

DAFTAR PUSTAKA

308.

Adams at al (1997), Buku Ajar Penyakit THT, Ed. 6, EGC, Jakarta

309.

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6, EGC,


Jakarta

310.

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

311.

Tim RSUD Dr. Soetomo (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit THT,
RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

312.

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC,
Jakarta
313.

LAPORAN PENDAHULUAN
314.

SINUSITIS
315.

316.

Definisi :

317.

Sinusitis adalah : merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau

virus.
318.

Etiologi

1. Rinogen
319.

Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :

Rinitis Akut (influenza)

Polip, septum deviasi

2. Dentogen
320.

Penjalaran infeksidari gigi geraham atas

321.

Kuman penyebab :

Streptococcus pneumoniae

Hamophilus influenza

Steptococcus viridans

Staphylococcus aureus

Branchamella catarhatis

322.

Patofisilologi

323.4. Infeksi

1. Iri
ta

Kuman

2. eksudat
Purulen

324.
325.
5.

326.

Kuman
menyebar ke

7. Tekanan pada sinus


meningkat

327.
328.

10.Batuk
Gejalabatuk
Klinis :

329.
a.

8. Nyeri

Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah

3. pilek
bau

b.

c.

330.

Nyeri :
-

Pipi : biasanya unilateral

Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari

Gigi (geraham atas) homolateral.

Hidung :
-

buntu homolateral

Suara bindeng.

Cara pemeriksaan

a. Rinoskopi anterior :
-

Mukosa merah

Mukosa bengkak

Mukopus di meatus medius.

b. Rinoskopi postorior
-

mukopus nasofaring.

c. Nyeri tekan pipi yang sakit.


d. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit.
e. X Foto sinus paranasalis
-

Kesuraman

Gambaran airfluidlevel

Penebalan mukosa

331.

Penatalaksanaan :

a.

Drainage
-

b.

Medical :
332.

* Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) %(anak)

333.

* Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg

Surgikal : irigasi sinus maksilaris.

antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :

ampisilin 4 X 500 mg

amoksilin 3 x 500 mg

Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet

c.

Diksisiklin 100 mg/hari.


Simtomatik

d.

parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.


Untuk kromis adalah :

Cabut geraham atas bila penyebab dentogen

Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)

Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)

334.
335.
1.

Tinjauan Keperawatan

Pengkajian :
336.

Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,

337.

Riwayat Penyakit sekarang :

338.

Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.

339.

Riwayat penyakit dahulu :

Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma

Pernah mempunyai riwayat penyakit THT

Pernah menedrita sakit gigi geraham

340. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
341. Riwayat spikososial
a.

Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0

b.

Interpersonal : hubungan dengan orang lain.

342.

Pola fungsi kesehatan


a.

Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat


-

Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan


efek samping

b.

Pola nutrisi dan metabolisme :


c.

Pola istirahat dan tidur


-

d.

biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung


selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek

Pola Persepsi dan konsep diri

343.

klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun
Pola sensorik

daya penciuman klien

terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus

menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).


2.

Pemeriksaan fisik
a.

status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.

b.

Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa
merah dan bengkak).

344.

Data subyektif :

345.

Observasi nares :

a.

Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya

b.

Riwayat pembedahan hidung atau trauma

c.

Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinyya , lamanya.

346.

Sekret hidung :

a.

warna, jumlah, konsistensi secret

b.

Epistaksis

c.

Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.

347.

Riwayat Sinusitis :

a.

Nyeri kepala, lokasi dan beratnya

b.

Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.

348.

Gangguan umum lainnya : kelemahan

349.

Data Obyektif

350.

Demam, drainage ada : Serous

353.

351.

Mukppurulen

352.

Purulen

Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang

mengalami radang Pucat, Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus
354.

Kemerahan dan Odema membran mukosa

355.
3.
a.

Pemeriksaan penunjung :

Kultur organisme hidung dan tenggorokan

b.

Pemeriksaan rongent sinus.


356.
357.

Diagnosa Keperawatan

1.

Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung

2.

Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur
tindakan medis(irigasi sinus/operasi)

3.

Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang
mengental

4.

Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan
hidung

5.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan
menurun sekunder dari peradangan sinus

6.

Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek


358.
359.

1.

Perencanaan

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung


360.

Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang

361.

Kriteria hasil :

Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang

Klien tidak menyeringai kesakitan

362.
363. Intervensi
a. Kaji tingkat nyeri klien

a.

365.

dalam menentukan tindakan


selanjutnya

366.
b.

364. Rasional
Mengetahui tingkat nyeri klien

b.

Dengan sebab dan akibat nyeri

Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada

diharapkan klien berpartisipasi

klien serta keluarganya

dalam perawatan untuk mengurangi

367.

nyeri
c.

Klien mengetahui tehnik distraksi dn

368.
c.

relaksasi sehinggga dapat


Ajarkan tehnik relaksasi dan

mempraktekkannya bila mengalami

distraksi

nyeri
d.

369.

perkembangan kondisi klien.

370.
d.

Mengetahui keadaan umum dan

e. Menghilangkan /mengurangi keluhan


Observasi tanda tanda vital dan

nyeri klien

keluhan klien
e.

Kolaborasi dngan tim medis :


1) Terapi konservatif :
-

obat Acetaminopen;
Aspirin, dekongestan
hidung

Drainase sinus

2) Pembedahan :
-

Irigasi Antral :
371.

Untuk sinusitis

maksilaris
-

Operasi Cadwell Luc.

372.
2.

Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur
tindakan medis (irigasi/operasi)
373.

Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang

374.

Kriteria :

Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya

Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.

a.

375. Intervensi
Kaji tingkat kecemasan klien

a.

376. Rasional
Menentukan tindakan selanjutnya

b.

Berikan kenyamanan dan

b.

Memudahkan penerimaan klien

ketentaman pada klien :

terhadap informasi yang diberikan

Temani klien

Perlihatkan rasa empati( datang


dengan menyentuh klien )

c.

Berikan penjelasan pada klien


tentang penyakit yang dideritanya
perlahan, tenang seta gunakan

378.
379.
380.
c.

tentang penyakit dan terapi untuk

kalimat yang jelas, singkat mudah

penyakit tersebut sehingga klien

dimengerti
d.

Singkirkan stimulasi yang berlebihan


misalnya :
-

Tempatkan klien diruangan yang

Meingkatkan pemahaman klien

lebih kooperatif
381.
d.

Dengan menghilangkan stimulus

lebih tenang

yang mencemaskan akan

Batasi kontak dengan orang

meningkatkan ketenangan klien.

lain /klien lain yang kemungkinan 382.


mengalami kecemasan
e.

Observasi tanda-tanda vital.

384.

377.
f.

383.

Bila perlu , kolaborasi dengan tim


medis

385.
e.

Mengetahui perkembangan klien


secara dini.

f.

Obat dapat menurunkan tingkat


kecemasan klien

386.
3.

Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung)
sekunder dari peradangan sinus
387.

Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous,purulen) dikeluarkan

388.

Kriteria :

Klien tidak bernafas lagi melalui mulut

Jalan nafas kembali normal terutama hidung

a.

389. Intervensi
kaji penumpukan secret yang ada

a.

391.
b.

tindakan selanjutnya
Observasi tanda-tanda vital.

b.

Mengetahui perkembangan klien


sebelum dilakukan operasi

392.
c.

390. Rasional
Mengetahui tingkat keparahan dan

Koaborasi dengan tim medis untuk

c.

Kerjasama untuk menghilangkan


penumpukan secret/masalah

pembersihan sekret
393.
4.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan
menurun sekunder dari peradangan sinus

a.

394.

Tujuan : kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi

395.

Kriteria :

Klien menghabiskan porsi makannya

Berat badan tetap (seperti sebelum sakit ) atau bertambah

396. Intervensi
kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi

a.

klien
b.

Jelaskan pentingnya makanan bagi

kliem
b.

proses penyembuhan

meningkatkan pemenuhan nutrisi


Catat intake dan output makanan
klien.

d.

Dengan pengetahuan yang baik


tentang nutrisi akan memotivasi

398.
c.

397. Rasional
Mengetahui kekurangan nutrisi

Anjurkan makan sediki-sedikit tapi

c.

pemenuhan nutrisi klien


d.

Dengan sedikit tapi sering


mengurangi penekanan yang

sering
399.

Mengetahui perkembangan

berlebihan pada lambung


e.

Mengkatkan selera makan klien

e. Sajikan makanan secara menarik


400.
5.

Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder dari proses
peradangan

401.

Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman

402.

Kriteria :

a.

Klien tidur 6-8 jam sehari

403. Intervensi
kaji kebutuhan tidur klien.

a.

405.

404. Rasional
Mengetahui permasalahan klien
dalam pemenuhan kebutuhan
istirahat tidur

406.

b.

Agar klien dapat tidur dengan tenang

b.

ciptakan suasana yang nyaman.

c.

Pernafasan tidak terganggu.

c.

Anjurkan klien bernafas lewat mulut

d.

Pernafasan dapat efektif kembali

d.

Kolaborasi dengan tim medis

407.

pemberian obat
DAFTAR PUSTAKA

lewat hidung

408.

Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000

409.

Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman
diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya

410.
411.

Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta

412.
413.

CA NASOFARING

Pengertian

414. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan
predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan
tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty &
Nurbaiti, 2001)
415.

Etiologi

416. Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan,
lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997). Selain itu faktor geografis, rasial,
jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi
kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi
sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epsteinbarr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi
(Efiaty & Nurbaiti, 2001).
Tanda dan Gejala
417.

Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara

lain :
1.

Gejala nasofaring
418.

2.

Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung.

Gangguan pada telinga


419.

Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius

(fosa Rosenmuller). Gangguan yang timbul akibat sumbatan pada tuba eustachius seperti
tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia)
3.

Gangguan mata dan syaraf


420.

Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen

laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling,
eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.
421.

Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika

penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf
otak terkena disebut sindrom unialteral.

4.

Metastasis ke kelenjar leher


422.

Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang

akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat.


423.

Patofisiologi

12.424.geografis
hidup
425.

-pekerjaan

30. Kerus

29. gg.int

akan
jaring

egrita
s kulit

31. Tx.

26. Gejala

radiasi

17. Post

- gaya

35.Pertumbuhan sel
abnormal
34. Karsinoma
nasofaring

25. Gejala

hidung

22. Hidun

radiotera

g
tersu

11.Virus Eistein Barr

mata

21. p
i

28. Meneka
n bone
narrow

27. Sist
haemo
poetik

16. Kekeringan kelenjar


33. Resti
perdarahan

426.

23. Gejala

24. Gejala

pendeng
aran

18. Hilan
g
pend

saraf

32. Gejala
tumor
lain

20. N
ye
ri

19. S
us
ah

427.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor
sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
2. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virus
E-B.
3. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan
Xylocain 10 %.
4. Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.

Penatalaksanaan Medis
1. Radioterapi merupakan pengobatan utama
2. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher
yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan
tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan
serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi,
vaksin dan antivirus.
3. Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil.
Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi
kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan
radiasi yang bersifat RADIOSENSITIZER.
428.

Pengkajian
Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker
payudara
Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.
Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan
yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).
Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan
hidup.
1. Tanda dan gejala :

Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yangmempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.

Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan
bising usus, distensi abdomen.

Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah,
mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan
kelembaban/turgor kulit.

Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus

Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah
leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran

Pernapasan
429.

Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),

pemajanan

Keamanan
430.

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /

berlebihan, demam, ruam kulit.

Seksualitas
431.

Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat

kepuasan.

Interaksi sosial
432.

433.
434.
435.

Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
436.
437.

5. Purnaman S. Pandi

438.

ANGIOFIBROMA
439.

A.

PENGERTIAN
440.

Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang

cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki
prepubertas dan remaja.
441.

Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya

ada laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja


442.

Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak

antara usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
443.

Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh

tumor kepala dan leher


444.
B.

ETIOLOGI
445.

Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan.

Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal.


446.

Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena

bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya
pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri
maksilaris interna. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap
nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini
meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra
kranial setelah mengerosi dasar tengkorak .
447.
448.
449.

C.

TANDA DAN GEJALA


450.

Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang

paling sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala
(25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan
gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas
pipi. Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan
jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.
451.
D.

PENEGAKAN DIAGNOSIS
452.

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti

x-foto polos, CT scan, angiografi atau MRI. Dijumpai tanda Holman-Miller pada
pemeriksaan x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila4.
Biopsi tidak dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik
pemeriksaan radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat
ketepatan yang tinggi.
453.

Tumor ini dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan

lain-lain.
454.
E.

PENATALAKSANAAN
455.

Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren,

stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus
yang rekuren.
456.

Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh

embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan
selama operasi2,4,5. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel
reabsorpsi seperti Gelfoam, Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon
dan Terbal. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing. \
F.

KOMPLIKASI

457.

Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan

transformasi maligna.
458.
G.

STADIUM ANGIOFIBROMA
459.

Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang

paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.


460.

Klasifikasi menurut Sessions sebagai erikut :

1.

Stage IA

: Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau

Stage IB

: Tumor melibatkan nares posterior dan/atau

nasofaring
2.

nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.


3.

Stage IIA

: Perluasan lateral minimal ke dalam fossa

Stage IIB

: Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau

pterygomaksila.
4.

tanpa erosi ke tulang orbita.


5.

Stage IIIA

: Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial

Stage IIIB

: Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa

yang minimal.
6.

perluasan ke dalam sinus kavernosus.


461.
462.

Klasifikasi menurut Fisch :

1. Stage I

: Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.

2. Stage II

:Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan

destruksi tulang.
3. Stage III

:Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar

sampai sinus kavernosus.


4. Stage IV
pituitary.

: Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa

463.
464.
465.
466.
467.
H. PENGKAJIAN

a.

Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan
riwayat kanker payudara

b.

Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu
tertentu.

c.

Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan
makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).

d.

Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan
dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)

e.

Tanda dan gejala :

Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.

Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan
bising usus, distensi abdomen.

Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah,
mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan
kelembaban/turgor kulit.

468.
Neurosensori

Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus


Nyeri/kenyamanan

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah
leher karena fibrosis jaringan
Pernapasan

469.

Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok)


Keamanan

470.

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /

berlebihan, demam, ruam kulit.


Interaksi sosial

471.
472.

Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung


(Doenges, 2000)

I. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf
473.

Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol

474.

Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri .

475.

Intervensi :

Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi

Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan.

Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi,


bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.

Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol

Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau


campuran narkotik.

476.
2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder
477.

Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi

478.

Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan

479.

Intervensi :

Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.

Orientasikan pasien terhadap lingkungan

Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi

Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur

Bicara dengan gerak mulut yang jelas

Bicara pada sisi telinga yang sehat

480.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah
sekunder
481.

Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.

482.

Kriteria hasil :

Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah


Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat
Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan
483.

Intervensi :

Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan
toleransi pasien

Berikan dorongan higiene oral yang sering

Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan

Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji
masukan dan haluaran.

Pantau masukan makanan tiap hari.

Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)

Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan
adekuat.

Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan)

484.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder
imunosupresi
485.

Tujuan : tidak terjadi infeksi

486.

Kriteria hasil :

Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal

Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.

Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi
dan infeksi respiratori

487.

Intervensi :

Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :

Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil,
perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat
berkemih

Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi
pengunjung yang mengalami infeksi.

Tekankan higiene personal

Pantau suhu

Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)

488.
9. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik
489.

Tujuan : perdarahan dapat teratasi

490.

Kriteria hasil :

Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi

Tidak menunjukkan adanya epistaksis

491.

Intervensi :

Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit

Kaji terhadap perdarahan : epsitaksis

Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : minimalkan penekanan/ gesekan


pada hidung

492.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Averdi R, Umar SD. Angiofibroma Nasofaring Belia. Dalam : Efiaty AS, Nurbaiti I.

2.

Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5, Jakarta :
Balai Penerbit FK UI, 2001. 151-2.

3.

Tewfik

TL.

Juvenile

Nasopharyngeal Angiofibroma. Available

from

URL :

http://www.emedicine.com/ent/topic470.htm
4.

Adams GL, et al. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 1997.

5.

Sadeghi

N.

Sinonasal

Papillomas,

Treatment.

Available

from

URL

http://www.emedicine.com/ent/topic529.htm
6.

Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan


pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

7.

Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001

8.

R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ;
1997

493.

4. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.

Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001
494.

495.