Anda di halaman 1dari 34

PENANGANAN LIMBAH PADAT

1.

Penimbunan Terbuka

Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode
penimbunan terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode
penimbunan terbuka, . Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan
kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan
oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan
menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur
dengansampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.
2.

Sanitary Landfill

Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi
iapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke
tanah. Pada landfillyang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem Iapisan ganda
(plastik lempung plastik lempung) dan pipa-pipa saluran untuk
mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari proses pembusukan
sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
3.

insinerasi

Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu alat


yang disebut insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah
berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi
menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau
untuk pemanas ruangan.
4.

Pembuatan kompos padat dan cair

metode ini adalah dengan mengolah sampah organic seperti sayuran, daun-daun
kering, kotoran hewan melalui proses penguraian oleh mikroorganisme tertentu.
Pembuatan kompos adalah salah satu cara terbaik dalam penanganan sampah
organic. Berdasarkan bentuknya kompos ada yang berbentuk padat dan cair.
Pembuatannya dapat dilakukan dengan menggunakan kultur mikroorganisme,
yakni menggunakan kompos yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran
seperti EMA efectif microorganism 4.EMA merupakan kultur campuran
mikroorganisme yang dapat meningkatkan degaradasi limbah atau sampah
organic.
5.

Daur Ulang

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan
baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi
sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan

emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampahpadat yang terdiri
atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan
pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam
manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki
sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle).
Material-material yang dapat didaur ulang dan prosesnya diantaranya adalah:
Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan
dengan mesin penghancur, kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu
bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis jalan
semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan
bangunan baru semacam bata.
Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini
relatif sulit. Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki
perhatian khusus dalam pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih
mengandung merkuri dan kadmium, harus ditangani secara lebih serius demi
mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia. Baterai
mobil umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.
Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone umumnya
tidak didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya. Material
yang dapat didaur ulang dari barang elektronik misalnya adalah logam yang
terdapat pada barang elektronik tersebut (emas, besi, baja, silikon, dll) ataupun
bagian-bagian yang masih dapat dipakai
(microchip, processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan utama dari
proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan, sudah jelas dapat menjadi
tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini meski
manfaat ekonominya masih belum jelas.
Logam
Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia.
Termasuk salah satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari
sampah lainnya dengan magnet. Daur ulang meliputi proses logam pada
umumnya; peleburan dan pencetakan kembali. Hasil yang didapat tidak
mengurangi kualitas logam tersebut.
Contoh lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling
efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang
tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai bahan
yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
Bahan Lainnya

Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain sebagainya
dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan bersama-sama dengan
material kaca baru. Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan jalan.
Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis jalan dengan menggunakan 30%
material kaca daur ulang.
Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas yang telah
dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas akan selalu
mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang. Hal ini menjadikan kertas
harus didaur ulang dengan mencampurkannya dengan material baru, atau
mendaur ulangnya menjadi bahan yang berkualitas lebih rendah.
Plastik dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam. Hanya
saja, terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini di berbagai produk
plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut
sehingga mempermudah untuk mendaur ulang. Suatu kode di kemasan yang
berbentuk segitiga 3R dengan kode angka di tengah-tengahnya adalah
contohnya. Suatu angka tertentu menunjukkan jenis plastik tertentu, dan
kadang-kadang diikuti dengan singkatan, misalnya LDPE untuk Low Density Poly
Etilene, PS untuk Polistirena, dan lain-lain, sehingga mempermudah proses daur
ulang.
sumber : witasharer.blogspot.com

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak
baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih
penting lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan
industrinya cukup tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi
industri (semi industrialized country). Sebagaimana lazimnya negara yang masih
berstatus semi industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan
pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari
pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran
terhadap lingkungan telah menjadi topic hangat di berbagai media masa,
misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap
timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk yang tinggal di
sekitar teluk tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan
hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan
bagi masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri

sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri
tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Limbah atau Sampah

Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena
pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah
juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita
tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan
bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa
berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka
menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu
lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah
secara benar maka bias menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.
Limbah padat atau sampah, istilah ini diberikan kepada barang-barang atau
bahan-bahan buangan rumah tangga atau pabrik yang tidak digunakan lagi atau
tidak terpakai dalam bentuk padat. Sampah merupakan campuran dari berbagai
bahan baik yang tidak berbahaya seperti sampah dapur (organik) maupun
bahan-bahan berbahaya yang banyak dibuang oleh pabrik dan rumah tangga
yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang maupun yang tidak dapat
didaur ulang.

2.2.

Definisi Limbah Padat

Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau
bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari
kegiatan industri dan domestik. Limbah domestic pada umumnya berbentuk
limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran,
peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat:
kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri,
kulit telur, dll.
Dengan meningkatnya populasi penduduk di setiap daerah/kota maka jumlah
sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga makin meningkat. Hal ini menjadi
masalah besar bagi kota-kota besar yang padat penduduknya seperti Jakarta,
Surabaya dan lain-lainnya untuk menangani masalah yang dihasilkan setiap hari.
Secara umum komposisi dari sampah di setiap kota bahkan negara hampir sama
yaitu:
Kertas dan katun

35 %

Logam

7 %

Gelas

5 %

Sampah halaman dan dapur

37 %

Kayu

3 %

Plastik, karet, dan kulit

7 %

Lain-lain

6 %

2.4.

Klasifikasi Limbah Padat

Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp,
kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging.
Secara garis besar limbah padat terdiri dari :
1) Limbah padat yang mudah terbakar.
2) Limbah padat yang sukar terbakar.
3) Limbah padat yang mudah membusuk.
4) Limbah yang dapat di daur ulang.
5) Limbah radioaktif.
6) Bongkaran bangunan.
7) Lumpur.
Berdasarkan klasifikasi limbah padat serta akibat-akibat yang ditimbulkannya
sistem pengelolaan dilakukan menurut:
1. Limbah padat yang dapat ditimbun tanpa membahayakan.
2. Limbah padat yang dapat ditimbun tetapi berbahaya.
3. Limbah padat yang tidak dapat ditimbun.

2.4.

Sumber Limbah Padat di Indonesia

Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Bina Lingkungan Hidup DKI,
ada sembilan kelompok besar penghasil limbah B3, delapan kelompok industri
skala menengah dan besar, serta satu kelompok rumah sakit yang juga
memiliki potensi menghasilkan limbah B3.
Industri Tekstil dan industri kulit Sumber utama limbah B3 pada industri tekstil
adalah penggunaan zat warna. Beberapa zat warna dikenal mengandung Cr,
seperti senyawa Na2Cr2O7 atau senyawa Na2Cr3oO7. Industri batik
menggunakan senyawa Naftol yang sangat berbahaya. Senyawa lain dalam

kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif


dan HClO yang bersifat toksik.
Beberapa tahap proses pada industri kulit yang mneghasilkan limbah B3 antara
lain washing, soaking, dehairing, lisneasplatting, bathing, pickling, dan
degreasing. Tahap selanjutnya meliputi tanning, shaving, dan polishing. Proses
tersebut menggunakan pewarna yang mengandung Cr dan H2SO4. Hal inilah
yang menjadi pertimbangan untuk memasukkan industrikulit dalam kategori
penghasil limbah B3.
Pabrik kertas dan percetakan Sumber limbah padat berbahaya di pabrik kertas
berasal dari proses pengambilan kmebali (recovery) bahan kimia yang
memerlukan stabilisasi sebelum ditimbun. Sumber limbah lainnya ada pada
permesinan kertas, pada pembuangan (blow down) boiler dan proses
pematangan kertas yang menghasilkan residu beracun. Setelah residu tersebut
diolah, dihasilkan konsentrat lumpur beracun.
Produk samping proses percetakan yang dianggap berbahaya dan beracun
adalah dari limbah cair pencucian rol film, pembersihan mesin, dan pemrosesan
film. Proses ini menghasilkan konsentrat lumpur sebesar 1-4 persen dari volume
limbah cair yang diolah. Industri persuratkabaran yang memiliki tiras jutaan
eksemplar ternyata memiliki potensi sebagai penghasil limbah B3.
3.
Industri kimia besar Kelompok industri ini masuk dalam kategori penghasil
limbah B3, yang antara lain meliputi pabrik pembuatan resin, pabrik pembuat
bahan pengawet kayu, pabrik cat, pabrik tinta, industri gas, pupuk, pestisida,
pigmen, dan sabun. Limbah cair pabrik resin yang sudah diolah menghasilkan
lumpur beracun sebesar 3-5 persen dari volume limbah cair yang diolah.
Pembuatan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku
(water-base) maupun zat pelarut (solvent-base). Sedangkan industri tinta
menghasilkan limbah terbesar dari dari pembersihan bejana-bejana produksi,
baik cairan maupun lumpur pekat. Sementara, timbulnya limbah beracun dari
industri pestisida bergantung pada jenis proses pada pabrik tersebut, yaitu
apakah ia benar-benar membuat bahan atau hanya memformulasikan saja.
4.
Industri farmasi Kelompok indusrti farmasi terbagi dalam dua subkelompok, yaitu sub-kelompok pembuat bahan dasar obat dan sub-kelompok
formulasi dan
pengepakan obat. Umumnya di Indonesia adalah sub-kelompok kedua yang
tidak begitu membahayakan. Tapi, limbah industri farmasi yang memproduksi
atibiotik memiliki tingkat bahaya cukup tinggi. Limbah industri farmasi
umumnya berasal dari proses pencucian peralatan dan produk yang tidak terjual
dan kadaluarsa.
5.
Industri logam dasar Industri logam dasar nonbesi menghasilkan limbah
padat dari pengecoran, percetakan, dan pelapisan, yang mengahasilkan limbah
cair pekat beracun sebesar 3 persen dari volume limbah cair yang diolah.
Industri logam untuk keperluan rumah tangga menghasilkan sedikit cairan
pickling yang tidak dapat diolah di lokasi pabrik dan memerlukan pengolahan

khusus. Selain itu juga terdapat cairan pembersih bahan dan peralatan, yang
konsentratnya masuk kategori limbah B3.
6.
Industri perakitan kendaraan bermotor. Kelompok ini meliputi perakitan
kendaraan bermotor seperti mesin, disel, dan pembuatan badan kendaraan
(karoseri). Limbahnya lebih banyak bersifat padatan, tetapi dikategorikan
sebagai non B3. Yang termasuk B3 berasal dari proses penyiapan logam
(bondering) dan pengecatan yang mengandung logam berat seperti Zn dan Cr.
7.
Industri baterai kering dan aki Limbah padat baterai kering yang dianggap
bahaya berasal dari proses filtrasi. Sedangkan limbah cairnya berasal dari proses
penyegelan. Industri aki menghasilkan limbah cair yang beracun, karena
menggunakan H2SO4 sebagai cairan elektrolit.
8.
Rumah sakit Rumah sakit menghasilkan dua jenis limbah padat maupun
cair, bahkan juga limbah gas, bakteri, maupun virus. Limbah padatnya berupa
sisa obat-obatan, bekas pembalut, bungkus obat, serta bungkus zat kimia.
Sedangkan limbah cairnya berasal dari hasil cucian, sisa-sisa obat atau bahan
kimia laboratorium dan lain-lain. Limbah padat atau cair rumah sakit
mempunyai karateristik bisa mengakibatkan infeksi atau penularan penyakit.
Sebagian juga beracun dan bersifat radioaktif. Selama ini sangat sulit
mengetahui secara persis, berapa jumlah limbah B3 yang dihasilkan suatu
industri, karena pihak industri enggan melaporkan jumlah dan akrakter limbah
yang sebenarnya. Padahal, kejujuran pihak industri untuk melaporkan secara
rutin jumlah dan karakter limbahnya merupakan informasi berharga untuk
menjaga keselamatan lingkungan bersama. Keengganan mereka berawal dari
biaya pengolahan limbah yang terlampau mahal, sehingga yang terjadi adalah
kucing-kucingan guna menghindari keharusan melakukan pengolahan. Untuk
itu diperlukan kebijaksanaan yang tidak terlampau menekan industri, agar
industri terangsang untuk mengolah limbahnya sendiri.
2.5.

Dampak Pencemaran Limbah Padat

Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada
pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat didalam
lingkungan hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti :
1). Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan
(CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan
membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan
kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur
dalam suasana aerob/anaerob.
2). Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang
ditumpuk, akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika
melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm
dapat mengakibatkan mabuk dan pusing.

3). Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang
dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan
air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.
4).

Kerusakan permukaan tanah.

Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak


limbah yang lainnya yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum.
Dampak
limbah secara umum di tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap
lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Dampak Pencemaran Udara
Dampak pencemaran udara saat ini merupakan masalah serius yang dihadapi
oleh negara-negara industri. Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara
ternyata sangat merugikan. Pencemaran tersebut tidak saja berakibat langsung
terhadap manusia, tapi berpengaruh juga terhadap lingkungan alam.
Pembangunan yang pesat dewasa ini, khususnya industri dan teknologi, serta
semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan
bakar fosil (minyak) menyebabkan udara yang kita hirup disekitar kita tercemar
oleh gas-gas buangan hasil pembakaran. Otomatis di dalam diri kita sudah
tercemar gas-gas yang berbahaya secara tidak kita sadari. Dampak pencemaran
udara dibagi atas beberapa, yaitu :
a. Dampak Pencemaran oleh Karbon Monoksida
Karbon Monoksida adalah gas yang tidak berbau. Tidak berasa dan berwarna.
Oleh sebab itu lingkungan yang tercemar oleh gas CO tidak dapat dilihat oleh
mata. Di udara gas CO terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, hanya sekitar
0,1 ppm. Tapi di daerah perkotaan dengan lalulintas yang padat konsentrasi gas
berkisar 10 15 ppm. Dalam jumlah banyak (konsentrasi tinggi) dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, bahkan menimbulkan kematian. Keracunan
gas Monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan yang ringan, berupa pusing,
sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat menurunnya kemampuan
gerak tubuh, serangan jantung sampai pada kematian.
b.
Dampak Pencemaran oleh Nitrogen Oksida
Gas Nitrogen Oksida memiliki 2 sifat yang berbeda dan keduanya sangat
berbahaya bagi kesehatan. Gas NO yang mencemari udara secara visual sulit
diamati, karena gas tersebut tidak berwarna dan tidak berbau. Sedangkan gas
NO2 bila mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat
dan warnanya coklat kemerahan. Gas ini berasal dari limbah-limbah industri,
transportasi, pembangkit listrik, pembuangan sampah, dan lain-lain. Pencemaran
udara oleh gas NOx, juga dapat menyebabkan terjadinya Peroxy Acetil Nitrate
yang menyebabkan iritasi pada mata, serta dapat menyebabkan terjadinya
kabut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat mengganggu

lingkungan.
c.
Dampak Pencemaran oleh Belerang Oksida
Sebagian besar pencemaran udara oleh belerang oksida berasal dari
pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara serta berasal dari alat-alat
transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Apabila kadar belerang
oksida SO3 tinggi diudara akan menyebabkan timbulnya hujan asam yang dapat
merusak tanaman, dimana kerusakan hutan berawal dengan terjadinya
pengikisan lapisan tanah yang subur. Hal ini menyebabkan menurunnya daya
dukung alam bagi manusia. Sehingga menimbulkan kerusakan tanah yang
permanen belum lagi penebangan liar yang seringkali terjadi, maka timbullah
tanah longsor yang membahayakan bagi penduduk yang bermukim di wilayah
tersebut. Bukan itu saja, dalam jumlah besar diudara gas SOx dapat
menyebabkan kanker, karena seharusnya walaupun jumlah gas tersebut relatif
kecil, sebaiknya tidak terdapat diudara.
d.
Dampak Pencemaran Hidrokarbon (HC)
Pencemaran udara oleh Hidrokarbon (HC) dalam jumlah sedikit tidak begitu
membahayakan kesehatan manusia, tapi apabila dalam jumlah diudara sangat
banyak dan bercampur dengan bahan pencemar lainnya, maka apabila terhisap
oleh manusia menyebabkan terjadinya pembentukan sel-sel kanker. Biasanya
gas ini banyak ditemukan di kawasan industri dan kota-kota besar seperti Jakarta
yang lalulintasnya padat.
e.
Dampak Pencemaran Partikel
Pencemaran oleh partikel disebabkan oleh dua hal, yaitu :
1)

Bisa karena peristiwa alamiah.

2)
Karena ulah manusia melalui kegiatan industri dan teknologi.
Partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan
manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernafasan.
f.
Dampak Kebisingan
Saat ini kebisingan menjadi masalah besar bagi penduduk kota besar, contohnya
Jakarta. Sumber kebisingan berasal dari suara alat-alat transportasi, seperti bus,
kereta api, pesawat dan lain-lain. Suasana akan lebih parah lagi apalagi di suatu
lingkungan terdapat industri. Kebisingan akan menimbulkan stress atau
ketegangan jiwa, dan juga merusak saraf pendengaran, sehingga pendengaran
menjadi terganggu.
g.
Dampak Pemakaian Insektisida
Akhir-akhir ini ditemukan sisa obat pemberantas hama pada sayuran dan buahbuahan, padahal apabila dimakan akan menimbulkan penyakit kanker. Hal ini
juga ditemukan pada obat-obat yang disemprotkan ke udara, seperti obat
nyamuk semprot dan lain-lain. Dimana dapat merugikan kesehatan manusia.
h.
Dampak Kerusakan Ozon dan Efek Rumah Kaca

Lapisan ozon merupakan lapisan pelindung dari sinar ultraviolet yang berlebih
berasal dari sinar matahari. Apabila lapisan ozon rusak maka sinar ultraviolet
akan masuk secara langsung ke bumi dan dapat menyebabkan berbagai macam
kerugian bagi manusia, yaitu dapat merusak kulit manusia (kanker kulit) dan
suhu bumi akan naik. Bila hal ini terjadi bumi tidak aman lagi bagi manusia,
karena kenaikan suhu bumi akan menyebabkan mencairnya es yang ada di
kutub. Dan hal ini akan mengakibatkan naiknya permukaan laut. Garis pantai
akan bergeser naik sehingga tempat-tempat yang terletak di tepi pantai
tenggelam. Selain karena kerusakan lapisan ozon, kenaikan suhu bumi dapat
juga disebabkan oleh efek rumah kaca atau greenhouse effect. Efek rumah kaca
dapat terjadi karena meningkatnya jumlah karbon dioksida (CO2) di udara.
Sedangkan karbondioksida dari tahun ke tahun terus meningkat, sejalan dengan
makin banyaknya penggunaan bahan bakar fosil untuk mencukupi keperluan
energi dunia. Karbondioksida hasil pembakaran akan mengumpul pada lapisan
tertentu di atmosfer membentuk semacam perisai. Adanya perisai ini justru
membuat panas yang berasal dari bumi tidak dapat keluar secara bebas dari
lapisan atmosfer bumi. Menyebabkan panas tersebut kembali ke bumi, sehingga
panas dari bumi yang dipantlkan lagi ke bumi berpengaruh terhadap kenaikan
suhu bumi. Akibat ini sama dengan yang ditimbulkan kerusakan ozon yaitu
kenaikan suhu bumi dan mencairnya es di kutub, sehingga permukaan laut
menjadi naik. Mungkin dapat kita lihat dari kondisi saat ini dimana terjadinya
ombak pasang diberbagai wilayah laut di tanah air kita, mungkin itu merupakan
salah satu dampak dari kedua efek rumah kaca dan kerusakan ozon yang
menimbulkan terjadinya kenaikan permukaan air laut karena mencairnya es di
Kutub.
2.
Dampak Pencemaran Air
Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Apabila air telah tercemar maka
kehidupan manusia terganggu. Ini merupakan bencana besar. Hampir semua
mahluk hidup dimuka bumi ini memerlukan air. Apabila air sudah tercemar, maka
dapat menyebabkan kerugian bagi umat manusia. Air yang sudah tercemar oleh
limbah industri, rumah tangga dan lain-lain tidak dapat dipergunakan, karena
udah tercemar. Apabila digunakan dapat menimbulkan berbagai penyakit
menular. Salah satunya penyakit Hepatitis A. Virus ini sering berada pada
makanan yang telah terkontaminasi seperti pada susu, makanan daging, buahbuahan mentah yang dikunsumsi langsung tanpa dicuci terlebih dahulu, dan
masih banyak lagi penyakit yang diakibatkan oleh pencemaran air, yaitu : folio,
kolera, typus, dysentri amoeba dan cacingan.
Pencemaran air dapat dihindari apabila masing-masing pihak mau menjaga.
Didalam kegiatan industri dan teknologi air yang telah digunakan (air limbah
industri) tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan karna dapat menyebabkan
pencemaran. Jadi, harus diproses daur ulang baru dikembalikan ke lingkungan.
Selain itu dampak pencemaran air dapat menimbulkan keracunan, yang dapat
dikategorikan dalam beberapa macam :
a. Keracunan Kadmium
Keracunan Kobalt

Keracunan Air Raksa


Keracunan Bahan Insektisida
Ketiga bahan seperti Kadmium, Kobalt dan Air Raksa biasanya terdapat di
limbah-limbah industri. Sedangkan yang keempat yaitu bahan insektisida berasal
dari persawahan karena untuk meningkatkan produksi pangan untuk
menghindari hama. Lambat laun bahan-bahan berbahaya yang masuk ke tubuh
menyebabkan terganggunya fungsi organ-organ di dalam tubuh sehingga
menimbulkan kerusakan.

3. Dampak Pencemaran Daratan


Pencemaran daratan pada umumnya berasal dari limbah berbentuk padat yang
dibuang atau dikumpulkan disuatu tempat penampungan. Tempat pengumpulan
limbah padat ini dapat bersifat sementara atau tetap. Oleh karena tempat
pengumpulan padat sudah ditentukan, maka sudah saatnya diperhitungkan
kemungkinan dampaknya.
Bentuk dampak pencemaran daratan dibagi atas 2 bagian, yaitu :
a.

Dampak Langsung

Dampak pencemaran daratan yang secara langsung oleh manusia adalah


dampak dari pembuangan limbah padat organik yang berasal dari kegiatan
rumah tangga dan kegiatan industri. Dampak langsung akibat pencemaran
daratan lainnya adalah timbunan limbah padat dalam jumlah besar yang akan
menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, kotor dan kumuh. Hal ini sering
terjadi pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau dump station menyebabkan
pemandangan sekitar terlihat kurang enak dipandang dan mempengaruhi psikis
penduduk sekitar.
b.
Dampak Tidak Langsung
Dampak yang dirasakan secara tidak langsung akibat pencemaran daratan
adalah apabila kaleng bekas, ban dan lain-lainnya bila hujan akan berisi air yang
menjadi sarang nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Apabila menggigit
manusia dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti penyakitpenyakit di bawah ini disebabkan oleh nyamuk, yaitu :
1)

Penyakit Pes

2)

Penyakit Kaki Gajah

3)

Penyakit Malaria

4)

Penyakit Demam Berdarah

Sebenarnya masalah dampak pencemaran lingkungan tidak dapat dipisahkan


sendiri-sendiri karena saling berkaitan. Oleh sebab itu segala macam

kemungkinan yang dapat menimbulkan pencemaran harus dapat dicegah agar


tidak menambah parah kondisi yang sekarang.

2.6.

Penanggulangan Pencemaran Limbah Padat

Dampak negatif dari sampah tersebut dapat terjadi di tempat penampungan


sementara (TPS) yang terdapat di setiap wilayah seperti di setiap RW atau
Kelurahan, pasar dan sebagainya maupun di tempat penampungan akhir (TPA).
Dampak negatif di TPS biasanya dalam bentuk bau yang kurang sedap karena
terjadi penguraian secara anaerob, kumpulan lalat di atas sampah yang dapat
menimbulkan berjangkitnya penyakit dan estetika. Tempat penampungan
sampah akhir (TPA) dalam bentuk penimbunan sampah terbuka akan
menimbulkan dampak negatif yang lebih besar karena selain bau yang tidak
sedap yang berasal dari penguraian secara anaerob dari komponen-komponen
sampah, seperti gas H2S, NH3, CH4juga dapat terjadi rembesan dari proses
leachinglogam-logam berbahaya ke dalam air tanah atau sumber air. Untuk
menanggulangi pencemaran tanah akibat penumpukan sampah itu dapat
dilakukan melalui berbagai cara seperti melalui program 3 R yaitu Reduce,
Reuse, Recycle.
Reduce artinya mengurangi atau mereduksi sampah yang akan terbentuk. Hal ini
dapat dilakukan bila ibu-ibu rumah tangga kembali ke pola lama yaitu membawa
keranjang belanja ke pasar. Dengan demikian jumlah kantong plastik yang
dibawa ke rumah akan berkurang (tereduksi). Selain itu bila setiap orang
menggunakan kembali saputangan daripada tissue, di samping akan mengurangi
sampahnya, dengan tidak menggunakan tissue dapat terjadi penghematan
terhadap bahan baku untuk tissue, yang tidak lain adalah kayu dari hutan. Kalau
setiap orang melakukan hal tersebut beberapa ton sampah yang akan tereduksi
per bulan dan beberapa hasil hutan yang dapat diselamatkan.
Reuse adalah program pemakaian kembali sampah yang sudah terbentuk seperti
penggunaan bahan-bahan plastik/kertas bekas untuk benda-benda souvenir,
bekas ban untuk tempat pot atau kursi taman, botol- botol minuman yang telah
kosong diisi kembali dan sebagainya.
Proses Recycle agak berbeda dengan kedua program sebelumnya. Dalam hal ini
sampah sebelum digunakan perlu diolah ulang terlebih dahulu. Bahan-bahan
yang dapat direcycle atau didaur-ulang seperti kertas atau sampah bekas,
pecahan-pecahan gelas atau kaca, besi atau logam bekas dan sampah organik
yang berasal dari dapur atau pasar dapat didaur-ulang menjadi kompos (pupuk).
Proses daur-ulang ini juga dapat mengubah sampah menjadi energi panas yang
dikenal dengan proses insenerasi. Insenerasi sederhana sudah ada yang
melakukan oleh beberapa industri misal di Jakarta, yaitu menggunakan limbah
padat dalam bentuk lumpur hasil akhir pengolahan air limbahnya tidak dibuang
ke tanah tetapi digunakan sebagai bahan bakar setelah mengalami pengeringan.

Senyawa organik yang dapat membusuk karena diuraikan oleh mikroorganisme,


seperti sisa-sisa makanan, daun, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati.
Senyawa organik dan senyawa anorganik yang tidak dapat
dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme seperti plastik, serat, keramik,
kaleng-kaleng dan bekas bahan bangunan, menyebabkan tanah menjadi kurang
subur.
Pencemar Udara berupa gas yang larut dalam air hujan seperti oksida nitrogen
(NO dan NO2), oksida belerang (SO2 dan SO3), oksida karbon (CO dan CO2),
menghasilan hujan asam yang akan menyebabkan tanah bersifat asam dan
merusak kesuburan tanah/tanaman.
Pencemar berupa logam-logam berat yang dihasilkan dari limbah industri seperti
Hg, Zn, Pb, Cd dapat mencemari tanah.
Zat radioaktif yang dihasilkan dari PLTN, reaktor atom atau dari percobaan lain
yang menggunakan atau menghasikan zat radioaktif. Misalnya unsur Sr-90
sebagai hasil fisi nuklir dapat mempengaruhi perkembangan xilem pada?
tumbuh-tumbuhandan tulang hewan, akan menyebabkan jaringan tubuh menjadi
lemah, adalah bahan radioaktif, masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya
dapat menyebabkan kematian pada makhluk yang memakannya.

Gambar 1. Plastik dan Sejenisnya yang sulit diuraikan oleh


Mikroorganisme

2.7.

Pengolahan Limbah Padat

Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang tentunya
dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan
ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi
menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan
pengolahan limbah
padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang tidak mengandung unsur
kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu
sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan pengolahan :
Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus
diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana
lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah rumah. Cara ini bisa menjadikan
limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang

yang ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga
kita yang menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat
dijual antara lain kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas,
ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling mudah
untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan
dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan
menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara membakar
ini
adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau
lokasi
yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk
pembangkit
uap air panas, listrik dan pencairan logam.
Faktorfaktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat
tersebut adalah sebagai berikut :
1.

Jumlah Limbah

Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat membutuhkan
penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2.

Sifat fisik dan kimia limbah

Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan dan


pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan
mencemari lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3.

Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran, maka
perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan terkena,
dan tingkat pencemaran yang akan timbul.
4.

Tujuan akhir dari pengolahan

Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifat nonekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan
meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan
yang masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain. Sedangkan tujuan
pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk mencegah pencemaran
dan kerusakan lingkungan.
Mekanisme Pengolahan Limbah
Bahan Baku Sumber Daya Lingkungan

Industri

Limbah

Produk

Beracun dan Berbahaya

Konsumen

Limbah

Pengolahan

Daur ulang

Pembuangan

Produk

Konsumen

Limbah

Pengolahan

Pembuangan memenuhi syarat

2.8.

Proses Pengolahan Limbah Padat

1).

Proses Pengolahan

Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu


pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah.
1.

Pemisahan

Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman
ukuran / berat / volume.
Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya;
barang yang ringan / terapung dan barang yang berat / tenggelam.
Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang
bersifat magnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.
2.

Penyusunan Ukuran

Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil agar
pengolahannya menjadi mudah.
3.

Pengomposan

Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk,


sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan
ukurannya atau volumenya.
4.

Pembuangan Limbah

Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a)

Pembuangan Di Laut

Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang tempat
dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal
ini disebabkan :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
3. Laut menjadi dangkal.

4.Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya dapat
membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
2. Struktur tanah.
3. Jaraknya jauh dengan permukiman.
4. Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora atau
fauna. Pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan
apapun.
Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan
berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian
dibuang dan dibakar. Perlakuan limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis
sebagian besar dilakukan sebagai berikut:
1. Ditumpuk pada Areal Tertentu
Penimbunan limbah padat pada areal tertentu membutuhkan areal yang luas dan
merusakkan pemandangan di sekeliling penimbunan. Penimbunan. ini
mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di sekitarnya, karena
adanya reaksi kimia yang rnenghasilkan gas tertentu.Dengan penimbunan,
permukaan tanah menjadi rusak dan
air yang meresap ke dalam tanah mengalami kontaminasi dengan bakteri
tertentu yang mengakibatkan turunnya kualitas air tanah.Pada musim kemarau
timbunan mengalami kekeringan dan ini mengundang bahaya kebakaran.
2. Pembakaran
Limbah padat yang dibakar menimbulkan asap, bau dan debu. Pembakaran ini
menjadi sumber pencemaran melalui udara dengan timbulnya bahan
pencemar baru seperti NOR, hidrokarbon, karbonmonoksida, bau, partikel dan
sulfur dioksida.
3. Pembuangan
Pembuangan tanpa rencana sangat membahayakan lingkungan.Di antara
beberapa pabrik membuang limbah padatnya ke sungai karena diperkirakan
larut ataupun membusuk dalam air. Ini adalah perkiraan yang keliru, sebab
setiap pembuangan bahan padatan apakah namanya lumpur atau buburan, akan
menambah total solid dalam air sungai.

2. Metode Pembuangan

a). Penimbunan Darat


Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk
membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia.
Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas
pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di
desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah
yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan darat yg tidak dirancang dan
tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan ,
diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama , dan adanya
genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan
karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas
methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah)
Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode
pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis
plastik.Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan
kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak
penimbunan samapah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang
untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar
dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di
mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk
membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia.
Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas
pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di
desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah
yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan darat yg tidak dirancang dan
tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan ,
diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama , dan adanya
genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan
karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas
methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah) Kendaraan pemadat
sampah penimbunan darat.
Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode
pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis
plastik.Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan
kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak
penimbunan samapah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang
untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar
dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di
mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
Penimbunan darat sampah di Hawai

Kendaraan pemadat sampah

3. Metode Daur Ulang


Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk
digunakan kembali disebut sebagai daur ulang.Ada beberapa cara daur ulang ,
pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau
mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik.
Metode metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan
dibawah.
a).

Pengolahan Kembali Secara Fisik

Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang , yaitu mengumpulkan
dan menggunakan kembali sampah yang dibuang , contohnya botol bekas pakai
yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa
dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak
sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja
makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton,koran,
majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di
daurulang.Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil
lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan
menurut jenis bahannya.
b).

Pengolahan Biologis

Material sampah organik , seperti zat tanaman , sisa makanan atau kertas , bisa
diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan
istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi
pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan
adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana
sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman
dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.
c).

Pemulihan Energi

Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung


dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan
cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara
perlakuan panas bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan bakar
memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan
boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan
gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan , dimana
sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini
biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah

padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat , gas, dan cair. Produk
cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi
produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti
karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan
untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran
antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk
menghasilkan listrik dan uap.
4. Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat
sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan pengurangan sampah. Metode
pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki
barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa
digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ),
mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai
(contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan
yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng
minuman).

2.9.

Peran Lokasi Penimbunan Limbah

Tujuan pembuatan penimbunan limbah ialah menstabilkan limbah padat dan


membuatnya menjadi bersih melalui penyimpanan limbah secara benar dan
penggunaan fungsi metabolis alami yang benar. Adapun klasifikasi lokasi
penimbunan limbah antara lain :
Adapun klasifikasi struktur penimbunan limbah digolongkan ke dalam 5 jenis
menurut struktur sebagaimana ditunjukkan pada penjelasan dibawah ini. Dari
segi mutu lindi dan gas yang ditimbulkan dari lokasi penimbunan limbah, baik
metode penimbunan limbah semi-aerobik maupun aerobik yang dikehendaki.

Penimbunan Limbah Anaerobik


Limbah padat harus ditimbun kedalam galian di area tanah datar atau lembah.
Limbah berisi air dan dalam keadaan anaerobic.

Penimbunan Limbah Saniter Anaerobik


Penimbunan limbah anaerobic dengan penutup berbentuk sandwich. Kondisi
limbah padat sama dengan penimbunan limbah anaerobic.

Penimbunan limbah saniter anaerobic yang telah disempurnakan (penimbunan


limbah saniter yang telah disempurnakan.
Saluran penampungan lindi didasar lokasi penimbunan limbah, sedangkan yang
lainnya sama seperti penimbunan limbah saniter anaerobic. Kondisinya tetap
anaerobic dan kadar air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penimbunan
limbah saniter anaerobic.

Penimbunan limbah semi-anaerobik

Saluran penampungan lindi lebih besar daripada saluran penimbunan limbah


saniter yang telah disempurnakan. Lubang saluran dikelilingi udara dan
salurannya ditutupi batu yang telah dihancurkan kecil-kecil. Kadar air pada
limbah padat kecil. Oksigen disediakan bagi limbah padat dari saluran
penampungan lindi.

Struktur penimbunan limbah semi-aerobik memungkinkan terjadinya proses


masuknya udara melalui pipa penampung lindi yang dipasang di dasar
penimbunan limbah, yang membantu memperbesar terjadinya proses aerobik,
dan membuat bakteri aerobik menjadi aktif, serta mempercepat terjadinya
dekomposisi limbah. Sebagaimana ditunjukkan pada gambar dibawah ini :
Gambar 2. Jenis Penimbunan limbah dan Sistem Penampungan Lindi

Selanjutnya kegiatan ini akan membuat mutu dari lindi menjadi lebih baik
dengan terjadinya penurunan kepekatan lindi, juga mengurangi terbentuknya
gas berbahaya, yang seluruhnya dapat menimbulkan stabilisasi lokasi dari
penimbunan limbah menjadi lebih cepat. Lihat Gambar 3.

Gambar 3. Perubahan Kadar Kepekatan Lindi dalam BOD


sesuai dengan jenis Penimbunan

Penimbunan limbah aerobic


Disamping saluran penampungan lindi, pipa persediaan udara dipasang dan
udara didorong agar memasuki limbah padat sehingga kondisinya menjadi lebih
aerobic dibandingkan dengan penimbunan limbah semi-aerobik.

Lokasi penimbunan limbah dapat melaksanakan fungsinya hanya apabila kita


memiliki rancangan dan cara kerja yang baik. Rancangan yang baik dengan cara
kerja yang buruk atau rancangan yang buruk dengan cara kerja yang baik tidak
akan menimbulkan hasil yang baik. Lihat Gambar 4.

Gambar 4. Ilustrasi konsep Lokasi Penimbunan limbah Sanitasi Khusus

2.10. Pengelolaan dan Kegiatan Lokasi Penimbunan limbah


Hal yang penting diperhatikan ialah memelihara lokasi penimbunan limbah agar
tetap bersih dan sehat, dan memperbesar kapasitas lokasi penimbunan limbah

dengan operasi yang baik. Aktivitas pengelolaan dan operasi lokasi meliputi halhal berikut:
(a). Analisa limbah
Periksa semua jenis limbah yang masuk. Jangan menerima limbah berbahaya
jenis apapun. Buat catatan limbah yang masuk mengenai jenis dan banyaknya.
(b). Penimbunan limbah saniter
Membuat rencana kegiatan lokasi penimbunan limbah dimuka, dan ikuti rencana
ini. Merencanakan sebelum Operasi sungguh penting bagi sanitasi lokasi
penimbunan limbah.
(c). Upaya pelestarian lingkungan hidup
Memantau lindi dan gas secara reguler, dan kontrol vektor.
(d). Catatan Penimbunan limbah
Ukur dan buat catatan ketinggian lokasi penimbunan secara rutin, yang dapat
berguna untuk memperkirakan kapasitas lokasi penimbunan yang masih ada.
Sediakan semua bahan yang diperlukan.
(e). Pengelolaan lokasi paska-penimbunan limbah
Bahkan setelah penyelesaian pembuatan lokasi penimbunan limbah, perlu
dilanjutkan dengan pemantauan penurunan tanah dan polusi lingkungan hidup
yang diakibatkan oleh lindi.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan

Pada dasarnya limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil
pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi
sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak
yang dihasilkan oleh limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau
solusi tersebut tidak ada hasilnya karena masih banyak pula kita jumpai limbah
atau sampah disungai dan didarat yang dapat pula menimbulkan banjir serta
kerusakan lingkungan lainnya.

3.2.

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Deva, 2009,http://mklh8pencemaranlingkungan.blogspot.com/

file:///G:/New%20Folder/sumber-limbah-padat-dan-cair-di-indonesia.html

http://antochaniago.wordpress.com/2010/05/24/sanitasi-2/

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah

Pranowo, Galih., 2008, Limbah Padat, Jurusan Matematika Ilmu Komputer


Fakultas Sains Terapan, Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta.

www. Pengelolaan Limbah _ Pusat Teknologi Limbah Radioaktif.htm

www. Limbah Padat _ Chem-Is-Try.Org _ Situs Kimia Indonesia _.htm

www. Sanitasi_Limbah_part_I_untuk_muridku.htm
INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI
I. PENDAHULUAN
Peningkatan kebutuhan akan obat di Indonesia telah menyebabkan peningkatan jumlah dan kegiatan
industri farmasi. Peningkatan jumlah dan kegiatan industri farmasi ini tentu saja akan
mempengaruhi kehidupan lingkungan yang bersinggungan langsung maupun berdekatan dengan
lokasi industri farmasi tersebut. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1988 disebutkan bahwa:
Dalam pembangunan industri harus selalu diusahakan untuk memelihara kelestarian lingkungan dan
mencegah pencemaran serta perusakan lingkungan hidup dan pemborosan penggunaan sumber alam.
Dalam Undang-undang No. 4 Tahun. 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bab III, Pasal 5, Ayat (2) ditegaskan bahwa: Setiap orang berkewajiban
memelihara lingkungan hidup dan mencegah serta menanggulangi kerusakan dan pencemarannya.

Ketentuan ini masih banyak dilanggar oleh kalangan industri.


Industri farmasi adalah industri yang menghasilkan produk yang memiliki nilai terapetik bagi
manusia dan /atau hewan. Produk-produk tersebut antara lain:
1. Senyawa kimia dan produk botani yang digunakan dalam pengobatan,
2. Sediaan farmasi (tablet, kapsul, sirup, injeksi, salep, krim, infus, dll.),
3. Produk diagnostik in vitro dan in vivo,
4. Produk biologi seperti vaksin dan sera.
Proses dan kegiatan yang dilakukan industri farmasi sangat beragam, tergantung dari produk yang
dihasilkan. Masing-masing industri farmasi tersebut menghasilkan limbah yang berlainan dengan
karakteristik yang berlainan pula. Limbah dapat diartikan sebagai produk sampingan yang dihasilkan
dari suatu aktivitas produksi. Berikut adalah karakteristik dan limbah yang dihasilkan dari masingmasing industri farmasi:
Jenis Industri Farmasi Karakteristik Limbah Limbah
Industri Farmasi Sintesis Kimia Jenis, komposisi dan jumlah limbah sangat kompleks dan beragam
tergantung pada reaksi kimia dan pemurnian yang terlibat dalam proses.
Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik yang toksik, kandungan BOD dan COD
tinggi. Senyawa asam, basa, garam dan katalis (logam Serat, sianida, dll)
Pelarut organik yang digunakan dalam pe-murnian
Deterjen yang digunakan dalam pencucian alat-alat
Industri Farmasi Ekstraksi Bahan Alam Limbah bahan padat tinggi (ampas).
Kadar BOD dan COD bisa rendah, tetapi kandungan pelarut organiknya tinggi. Ampas bahan alam
yang digunakan
Pelarut-pelarut
Uap pelarut
Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan
Industri Farmasi Fermentasi Nilai BOD dan COD limbah tinggi. Medium fermentasi
Sel dan misel dalam bentuk padat
Pelarut organik untuk ekstraksi
Senyawa kimia dan pelarut pada pemurnian / kristalisasi
Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan
Industri Farmasi Formulasi Sediaan Farmasi Limbah relatif sama dengan limbah domestik / rumah
tangga. Produk yang gagal dan terbuang
Tumpahan bahan-bahan
Debu (pencampuran dan pencetakan tablet)
Air buangan dari pencucian alat dan sterilisasi
Buangan dari laboratorium

Bahan kemasan yang tidak terpakai


Riset dan pengembangan
Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik Bahan kimia, pelarut yang digunakan,
bangkai hewan, jaringan, dan air buangan cucian peralatan, alat laboratorium, dll.

Limbah industri farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik maupun non toksik, baik dalam bentuk
padat, cair, maupun uap. Namun kebanyakan limbah industri farmasi digolongkan sebagai limbah
berbahaya dan beracun serta membutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk menghindari resiko
pencemaran lingkungan.

II. SKEMA INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH

Konsep sistem
1 Lumpur primer 12
post-thickener

2 septic sludge 13 HUBER Sludge Gallow


3 Lumpur sekunder 14
ROTAMAT Screw Press RoS 3 - sludge dewatering...mengurangi kandungan air dalam lumpur dari
pencucian tanaman dalam proses industri

4 ROTAMAT Sludge Screening Plant Ro 3.1 - septage receiving


15 Belt Filter Press HUBER Bogenpress BS - sludge thickening
5 Screenings

16
ROTAMAT Screw Conveyor Ro 8 + Dosing Screw with Tank RoSF 7
Terdapat keranjang kawat baji berbentuk silinderT
Air mengalir melewati keranjang sementara padatan tertarik di keranjang sambil berputar.
Selanjutnya penghilangan air dari lumpur kemudian berpindah pada Screw Press dengan
penambahan tekanan.

6 pre-thickener 17 KULT Middle Temperature Dryer BT+ - fungsinya adalah untuk mengeringkan
lumpur dan kotoran air pembuangan
7 STRAINPRESS Sludgecleaner SP - sludge screening
18 Quenscher

ROTAMAT Disc Thickener RoS 2S - sludge thickening. Memisahkan bagian flokulasi lumpur
dengan filtrat. Plat buffle, memindahkan dari reaktor flokulasi melewati jari-jari radius.
Fleksibilitas mendukung lumpur terpisah. Membuka alur sehingga dengan mudah air mengalir
melewati lapisan filter.meningkatkan proses penyaringan. cakraFilter terus memerus berputar secara
kontinu.alat prngerik mendorong lumpur dari cakra dan filter dicuci kembali dengan batang
penyemprot.
19 Biofilter
9 HUBER Sludge Squeezer HSS - sludge desintegration. Menghomogenkan kotoran lumpur,
menggunakan alat mekanik, sehingga dapat memisahkan bagian yang padat dengan yang cair
kemudian dialirkan
20 incinieration sludge2energy - thermal utilisation
10 anaerobic digester 21 power/heat cogen.

11. gas holder


22 polymere station

III. PEMBAHASAN
Industri farmasi adalah salah satu penyumbang limbah terbesar dalam lingkungan terutama
berkaitan dengan limbah cair. Hal ini dikarenakan industri farmasi dalam proses produksinya
menggunakan berbagai macam pereaksi kimia. Kegiatan utama industri farmasi adalah mengolah
bahan baku menjadi produk berupa obat atau bahan baku obat, namun akibat pengolahan ini
terbentuk pula limbah. Adanya limbah industri farmasi, terutama limbah cairnya akan berkaitan erat
dengan masalah pencemaran lingkungan; khususnya pencemaran badan air yang disebabkan oleh
limbah cair yang dibuang tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Berkaitan dengan kegiatan yang
berjalan di industri farmasi, sebaiknya limbah industri farmasi diolah terlebih dahulu agar tidak
mencemari lingkungan. Dengan demikian diperlukan adanya fasilitas atau instalasi pengolahan
limbah sehingga pada saat ke lingkungan limbah industri tersebut telah memenuhi kriteria baku

mutu yang telah ditetapkan.


Di samping komponen yang umum terdapat dalam limbah industri, dalam limbah industri farmasi
akan terdapat senyawa obat yang terlibat dalam proses. Setelah masuk ke lingkungan atau di tempat
pengolahan limbah, obat akan mengalami hal sebagai berikut :
Mengalami biodegradasi sempurna
Mengalami biodegradasi sebagian atau menjadi senyawa lain (metabolit)
Tahan lama terhadap penguraian (persisten)

Dalam proses pengolahan limbah industri farmasi, diperlukan suatu instalasi pengolah limbah
sehingga saat dibuang ke lingkungan, limbah tersebut telah memenuhi standar baku mutu yang telah
ditetapkan. Pengolahan limbah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemilihan teknologi
pengolahan limbah yang tepat dapat didasarkan pada:
1. Karakteristik limbah, misalnya kandungan senyawa organik (BOD dan COD), bahan padat
tersuspensi, derajat degradabilitas, komponen toksisnya dan jumlah limbah yang dibuang per
harinya.
2. Mutu baku lingkungan terutama perairan tempat pembuangan limbahnya dan mutu baku limbah
yang berlaku.
3. Biaya operasional pengolahan.
4. Lahan yang harus disediakan.
Proses pengolahan air limbah serta urutan prosesnya :
a. Pretreatment : saringan kasar, pemisah pasir, bak penampung dan homogenizer aliran/pencemar,
pemisah lemak dan minyak
b. Primary treatment : proses netralisasi, koagulasi, flotasi, sedimentasi, dan filtrasi
c. Secondary treatment : untuk menurunkan organik terlarut, misalnya sistem lumpur aktif lagoon
anaerobik, aerated lagoon, stabilisasi, trackling filter
d. Tertiary treatment : klarifikasi dalam bentuk koagulasi dan sedimentasi, filtrasi, adsorpsi karbon
aktif, penukar ion, membran osmosis, desinfektasi, dan filtrasi membran
e. Pengolahan lumpur : misalnya dalam bentuk digestion atau wet combustion, pemekatan atau flotasi
lumpur, sentrifugasi, drying bed dan lagooning
f. Pembuangan lumpur : dalam bentuk pembakaran, insinerasi, sanitary landfill serta pembuangan ke
laut
g. Pembuangan effluent (hasil pengolahan) misalnya ke sungai, danau, laut, ke dalam tanah, injeksi ke
sumur dalam, penguapan dan pembakaran.

Untuk meminimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara mengurangi sumber penghasil limbah
(source reduction) dan daur ulang (recycling and reuse).

Pengurangan Sumber Limbah Daur Ulang


Penggantian/substitusi bahan baku untuk mengurangi jumlah, volume dan toksisitas limbah
Limbah yang dikeluarkan digunakan kembali (re-use), di daur ulang (recycling), atau diambil
kembali (recovery
Modifikasi proses, bertujuan untuk efisiensi proses yang potensial mengeluarkan limbah dan
sekaligus mengganti dan memutakhirkan proses yang ramah lingkungan
Dalam hal ini limbah dihilangkan cemarannya dan diperoleh bahan yang relatif berharga

Good Operating Practices, dapat membantu mengurangi limbah dan kehilangan bahan yang
tumpah, tercecer, dan bocor. Meliputi materials handling, waste management and plan management

Untuk menangani limbah industri farmasi, dibutuhkan suatu metode pembuangan yang tepat.
Metode pembuangan tersebut antara lain adalah:
1. Pengembalian ke donatur atau pabrik pembuat
2. Landfill (mengubur) terencana dan Sanitary landfill sangat terencana
Cara ini untuk mencegah terjadinya kebocoran zat kimia ke lingkungan. Landfill yang benar terdiri
dari lubang kosong yang jauh dari badan air dan lokasinya berada di atas permukaan air. Limbah
yang dihasilkan setiap hari dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah untuk mempertahankan
kondisi saniter.

3. Imobilisasi limbah; encapsulation (penyegelan limbah dan inertization)


Enkapsulasi yaitu menjadikan limbah farmasi ke dalam bentuk padat dalam drum, plastik, atau baja.
Sedangkan inertisasi adalah bentuk lain dari enkapsulasi dengan pelepasan materi, kertas, kardus,
dan plastik kemasan dari limbah farmasi.

4. Saluran pembuangan air kotor


5. Pembakaran dalam kontainer terbuka untuk limbah farmasi dalam jumlah sedikit
6. Insinerasi suhu sedang
7. Insinerasi suhu tinggi
8. Penguraian kimia
Berikut tabel mengenai metode pembuangan limbah industry farmasi :
Metode pembuangan Tipe perbekalan farmasi keterangan
Pengembalian ke donatur atau perusahaan, pengiriman lintas negara untuk pembuangan. Semua sisa
perbekalan farmasi, terutama antineoplastik Biasanya tidak praktis (prosedur lintas Negara biasanya
menghabiskan waktu)

Insinerasi suhu tinggi


Dengan suhu jauh di atas 1200 C Limbah padat, semi padat, bubuk, antineoplastik, zat yang diawasi
Mahal, terutama untuk incinerator dengan tujuan khusus. Pemanfaatan pabrik yang adamungkin
lebih praktis.
Insinerasi suhu sedang
Dengan incinerator bilik ganda pada suhu minimum 850C Jika tidak ada incinerator suhu tinggi,
limbah padat, semi padat, bubuk, zat yang diawasi. Antineoplastik paling baik dibakar pada suhu
tinggi
Imobilisasi
Encapsulation (penyegelan) limbah Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang
diawasi.
Inertization Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi.
Landfill
Sanitary landfill sangat terencana Limbah padat, semi padat, dan bubuk tak diolah dalam jumlah
terbatas.Pembuangan limbah farmasi dianjurkan melalui imobilisasi. Plastik PVC.
Landfill terencana Limbah padat, semi padat,dan bubuk. Sebaiknya setelah imobilisasi. Plastik PVC.
Tempat pembuangan terbuka tak terencana dan tak terkendali Sebagai pilihan terakhir limbah padat,
semi padat, tak diolah (harus segera ditutupi dengan limbah perkotaan). Lebih baik dilakukan
imobilisasi limbah padat, semipadat, bubuk. Tidak untuk mengolah zat yang diawasi
Saluran pembuangan air limbah Cairan encr, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil disinfektan.
Tidak dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak diencerkan.
Badan air berarus deras Cairan encr, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil disinfektan. Tidak
dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak diencerkan.
Pembakaran dalam container terbuka Sebagai pilihan terakhir: kemasan, kertas, kardus. Tidak sesuai
untuk plastic PVC atau perbekalan farmasi.
Penguraian kimia Tidak dianjurkan kecuali tenaga ahli kimia dan bahan kimianya tersedia. Tidak
praktis untuk jumlah diatas 50 kg.

Dalam pembuangan limbah industri farmasi, diperlukan suatu pemilahan. Tujuan pemilahan adalah
memisahkan limbah farmasi ke dalam kategori-kategori yang memerlukan metode pembuangan
berbeda. Metode pembuangan secara aman yang direkomendasikan akan bergantung terutama pada
label dosis sediaan farmasi dalam obat-obatan.
Prioritas utama proses pemilahan adalah memisahkan perbekalan Farmasi yang dikelompokkan
sebagai zat yang diawasi (mis. narkotika), obat antineoplastik (sitotoksik antikanker), dan semua
produk non-farmasi lain yang berbahaya dan mungkin tercampur dalam perbekalan farmasi.
Semuanya harus disimpan di ruang khusus yang terpisah dan aman sebelum pembuangan masing-

masing secara aman.


Sisa perbekalan farmasi yang tak diinginkan lebih lanjut harus dipilah ke dalam beberapa kategori
berdasarkan kandungan dosisnya (kapsul, bubuk, larutan, suppositoria, sirup, tablet).

Kategori
Metode pembuangan Keterangan
Padat
Semi padat
Bubuk

Landfill
Encapsulation limbah
Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi Tidak lebih dari 1% limbah harian perkotaan dapat dibuang
dalam bentuk yang tidak diolah (tidak diimobilisasi ke landfill)
cairan

Saluran pembuangan limbah


Insinerasi suhu tinggi
Antineoplastik jangan ke saluran air kotor
Ampul Penggilingan atau penggerusan ampul dan membuang cairan yang dilarutkan ke saluran
pembuangan air kotor
Antineoplastik jangan ke saluran air kotor
Obat-obatan anti infeksi Encapsulation limbah
Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi

Antibiotic cair dapat dilarutkan dengan air, didiamkan selama beberapa minggu, kemudian dibuang
ke saluran air kotor
antineoplastik Pengembalian ke donatur atau pabrik yang membuat
Inertization limbah
Insinerasi suhu tinggi
Penguraian kimia
Tidak boleh ke landfill kecuali menjalani encapsulation
Jangan ke saluran air kotor

Jangan pembakaran suhu sedang

Obat-obatan yang diawasi Encapsulation limbah


Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi
Jangan ke landfill kecuali menjalani encapsulation
Kanister aerosol Landfill
Encapsulation limbah

Jangan dibakar ; dapat meledak


Disinfektan Buang ke selokan atau badan air yang arusnya deras ; sejumlah kecil disinfektan yang
telah dilarutkan (maksimal 50 liter per hari di bawah pengawasan)

Plastic PVC,
kaca Landfill

Jangan dibakar dalam container terbuka


Kertas,
kardus
Daur ulang, pembakaran, landfill

IV. DAFTAR PUSTAKA


Anonima, 2009, Pengolahan Limbah Industri Farmasi, tersedia online, http://download.fa.itb.ac.i
d/filenya/Handout%20Kuliah/Farmasi%20Lingkungan/Limbah%20Industri%20Farmasi.pdf,
diakses 25 November 2009
Anonimb, 2009, Residu Farmasi, http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://www.tuharburg.de/aww/publikationen/pdf/paper_hammer_kiev.pdf&prev=/translate_s%3Fhl%3Did%26q
%3Dskema%2Bpengolahan%2Blimbah%2Bindustri%2Bfarmasi%26tq%3Dwaste%2Btreatment
%2Bscheme%2Bpharmaceutical%2Bindustry%26sl%3Did%26tl%3Den%26start%3D10, tersedia
online, diakses 25 November 2009
Anonimc, 2009, Teknologi Pengolahan Limbah, tersedia online
http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/, diakses 25 November 2009
Anonimd, 2009, Pengantar Pengolahan Limbah, tersedia online http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/wpcontent/uploads/2009/03/pengantar- pengolahan-air-limbah-compatibility-mode1.pdf, diakses 25

November 2009
Salmiyatun, 2003, Panduan Pembuangan Limbah Perbekalan Farmasi, penerbit Buku Kedokteran
EGC