Anda di halaman 1dari 4

1.

Jelaskan perbedaan antara fakta dan opini disertai dengan masing masing 2 buah
contoh!
2. Bacalah cerpen di bawah ini !
Gede Mulut
Pada awalnya, Bu Kristin enggan menerima tawaran Neni. Sudah cukup
matang rasanya ia memikirkan cara pemasaran baju-bajunya. Apalagi, Bu Kristin
membuat sedemikian rupa sehingga model-model baju buatannya pas benar dengan
selera pasar. "Buat apa lagi diorderkan ke orang lain? Malah berat di ongkos,"
pikirnya. Tapi bukan Neni namanya kalau menyerah pada tolakan pertama. Mulutnya
sangat boros mengubar. Isi kepalanya sibuk menghitung-hitung laba. "Kalau saya
dapat komisi 10 persen saja sudah lumayan. Yah, itung-itung buat nambah kebutuhan
dapur," begitu pikirnya. Karena itulah, begitu gigihnya Neni menawarkan jasa
baiknya kepada Bu Kristin.
"Coba hitung saja kalau Anda menggaji seorang karyawan khusus pemasaran,
berapa gajinya sebulan. Usaha konveksi Bu Kristin kan masih kecil-kecilan, apa iya
perlu tenaga pemasaran khusus. Belum lagi fasilitas yang dimintanya. Sudahlah Bu,
serahkan saja kepada saya. Nanti Anda tinggal memikirkan model-model yang sedang
berkembang. Enak, kan, Bu?" begitu cara Neni meyakinkan Bu Kristin.
Bukan itu saja, Neni lantas membeberkan keberhasilannya dalam bisnis jualbeli berlian. Menceritakan luasnya pergaulan dan banyaknya kenalan di mana-mana.
"Kalau sehari saya bisa menjual 5 potong, dalam sebulan sudah 125 potong.
Ya, kan, Bu? Dipotong komisi buat saya 10%, Bu Kristin masih mendapat untung
banyak. Perputaran uang cepat, Bu Kristin tidak perlu bercapai-capai memikirkan
pemasaran. Pokoknya, Bu Kristin mikir produksi saja, soal pemasaran tahunya beres."
Begitu menggiurkan bujukan Neni, Bu Kristin akhirnya menyerah. Apalagi, ia
memang sudah mendengar keberhasilan Neni menjual berlian. Bahkan, dalam
pikirannya, Neni akan membuat baju-baju produksinya menjadi "bonus" untuk
berliannya. "Harga berlian dinaikkan sedikit, nanti dalam tawar-menawar baju-baju
itu sebagai bonus. Pintar memang Neni itu," begitu pikir Bu Kristin.
Sehari kemudian, Neni sudah memboyong puluhan baju dari rumah Bu
Kristin.
"Aduh, Bu, masa baru seminggu sudah tanya-tanya. Sabar sedikit dong, ini,
kan, masih masa promosi. Biarkan konsumen mengenal dulu baju-baju buatan Bu
Kristin. Untuk sementara, harganya saya diskon sampai 60%. Yang penting nyebar
dulu. Ya, kan, Bu?"
Bu Kristin hanya manggut-manggut. Dipikir-pikir, memang, benar harus pakai
promosi. Sebetulnya, agak rugi mendiskon sampai 60%. Belum lagi dipotong fee
10% untuk Neni. Tapi namanya dagang, kan, harus ada promosi.
Ketika dua minggu kemudian Neni datang lagi, hati Bu Kristin sedikit
berbunga-bunga. "Sudah laku semua, kan? Neni mau bawa berapa lagi sekarang?"
"Oalah, Bu Kristin itu gimana sih! Sabar dulu, dong. Begini, biar kelasnya
sedikit naik, harus masuk juga ke outlet dan mal. Tapi, biasanya, pengelolanya minta
diskon 60 persen. Kalau menurut saya, sih, biar saja. Ya, hitung-hitung biaya promosi.
Kan, nggak terlalu rugi. Kalau Bu Kristin mau, biar saya yang ngurus. Untuk yang
begini komisi buat saya cukup 5% saja. Gimana Bu, setuju, kan? Nah, begitu."
Bu Kristin masih manggut-manggut. Tapi hatinya menolak saran-saran Neni
itu.

"Bu, sebetulnya banyak yang tertarik dengan baju-baju buatan Bu Kristin. Tapi
gimana, ya, harganya terlalu mahal. Kalau mau laris, harus di bawah harga outlet atau
mal.. Ya, habis, Bu Kristin kasih harga terlalu tinggi. Sulit saya menjualnya.
"Bu Kristin manggut-manggut, tapi kali ini sambil terus berpikir. Mengapa di
kompleks dan di kantornya baju buatannya laku?
Sudah seminggu ini Neni tidak menghubunginya. Terakhir mereka bicara di
telefon. Biasa, selalu saja ada yang dicela. "Modelnya kurang up to date, sih.". Atau,
"Mestinya Bu Kristin jangan membuat model span begitu." Atau, "Bu Kristin nggak
nurut omongan saya, sih. Kan, saya sudah bilang, yang sedang laku itu stelan rok
mini dengan blazer."
Atau, "Saya minta dimasukkan ke outlet atau mal, Ibu nggak percaya. Saya,
kan, jadi susah menjualnya." Pokoknya, kalau dari Neni hanya celaan melulu yang
datang. Yang paling menyebalkan adalah ketika Neni mengatakan, "Saya jadi malas
jualan. Karena Ibu terlalu banyak tanya. Sudah laku berapa, sudah laku berapa. Kan,
konsentrasi saya jadi buyar.
"Tiba-tiba Bu Kristin kembali berpikir, apa iya Neni pandai jualan? Lo, yang
lain nggak banyak cakap saja laku, kok. "Begini Neni," kata Bu Kristin suatu sore.
"Saya, kan, tidak pernah minta Anda menjualkan baju-baju saya. Sejak awal saya
sudah mau jualan sendiri, eh, Anda memaksa. Mana janji lima potong sehari? Saya
sudah rugi banyak, lo. Untuk yang katanya promosi, atau diskon 60% yang buat
outlet atau mal. Itu belum termasuk potongan 10% untuk sampeyan. Lalu, saya dapat
apa?
"Kali ini Neni tidak banyak cakap. "Apa iya harganya terlalu tinggi, modelnya
kuno, sasarannya nggak jelas? Neni, asal tahu saja, dalam dua bulan ini, di kantor,
saya sudah laku 50 potong, di kantor suami saya laku 20 potong, belum di kompleks
saya sendiri. Terus, Bu Farika, Bu Surindah, Dik Narti, dan beberapa ibu yang lain
setiap minggu datang ke sini untuk menukar baju sambil tambah jatah. Mereka selalu
tambah, lo, Nen. Padahal, saya hanya mengenakan diskon 40% dan komisi buat
mereka diambil dari diskon itu."
Kali ini Neni tutup mulut.
"Mereka nggak pernah mencela, baik harga maupun modelnya, lo." Tiba-tiba
roman rnuka Neni berubah. "Bu Kristin, saya memang goblok, saya memang nggak
bisa memasarkan baju buatan Bu Kristin.
Kalau Bu Kristin sudah nggak percaya lagi, ya, sudah. Silakan urus sendiri,
termasuk tagihan-tagihannya," kata Neni ketus.Kali ini, Bu Kristin tidak manggutmanggut, tetapi mengelus dada.
Sumber: Kilau Sebuah Cincin, Edi Warsidi

Tentukanlah :
a. Tema
b. Latar
c. Penokohan dari cerpen diatas
3. Tuliskan pengertian dari ungkapan dan pribahasa disertai dengan contoh dan
maknanya!
4. Jelaskan perbedaan antara kata baku dan kata tidak baku disertai dengan contoh !
5. Tulislah masing-masing 2 paragraf
a. Paragraf deduktif
b. Paragraf induktif

6. Buatlah 1 laporan kegiatan berdasarkan langkah-langkahnya!


7. Lengkapilah teks yang rumpang di bawah ini
Masa remaja adalah masa penting dalam kehidupan manusia. Masa remaja
sering dianggap sebagai masa ... seseorang dari masa anak-anak menuju dewasa.
Dalam masa ini, remaja akan mengalami proses perubahan pola pikir yang disertai
dengan perubahan perilaku. Pada masa ini, seorang ... memerlukan arahan dan teladan
dari orang-orang di sekitarnya dan orang terdekat yang dapat memberikan ..., yakni
keluarga (orang tua).
Pada kenyataannya, kita sering dihadapkan pada fenomena semakin maraknya
perilaku negatif yang dilakukan para remaja. Orang tua sering menganggap. .. remaja
lebih banyak disebabkan oleh faktor diri mereka sendiri. Akibatnya, ketika mereka
berperilaku negatif, ... lebih sering menyalahkan remaja tanpa mau memahami
mengapa mereka melakukan hal tersebut.
8. Bacalah puisi dibawah ini
Doa
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
(Deru Campur Debu, 1959)
Tentukanlah
a. Tema

b. Amanat

c. Makna

d. Gaya bahasa

Kunci jawaban
1. Fakta adalah sesuatu yang benar-benar terjadi dan bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya
Opini adalah pendapat seseorang mengenai sesuatu hal dan belum bisa diuji
kebenarannya
2. Tema
Latar waktu
Latar tempat
Latar suasana
Penokohan

: kisah seorang ibu yang ditipu oleh temannya


: pagi, siang, dan malam hari
: rumah, toko, mall
: kecewa dan marah
: Bu kristin : Pekerja keras, kurang berpendirian
Neni
: Suka merayu, pembohong

3. Ungkapan adalah kata atau kelompok kata yang mempunyai makna khusus dan
makna tersebut sudah disepakati oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut.
Contoh : Buah hati, bertekuk lutut
Pribahasa adalah kalimat atau kelompok kata yang tetap susunannya dan biasanya,
mengiaskan maksud tertentu.
Contoh Bagai air di daun talas
4. Kata baku adalah kata yang sesuai dengan aturan dan standar kaidah bahasa indonesia
Kata tidak baku adalah kata yang tidak sesuai dengan aturan dan kaidah bahasa
indonesia
Contoh
Kata baku
: Apotek, sistem
Kata tidak baku
: Apotik, sistim
5. Berdasarkan temuan siswa
6. Berdasarkan temuan siswa
7. Masa remaja adalah masa penting dalam kehidupan manusia. Masa remaja sering
dianggap sebagai masa transisi seseorang dari masa anak-anak menuju dewasa.
Dalam masa ini, remaja akan mengalami proses perubahan pola pikir yang disertai
dengan perubahan perilaku. Pada masa ini, seorang remaja memerlukan arahan dan
teladan dari orang-orang di sekitarnya dan orang terdekat yang dapat memberikan
bimbingan, yakni keluarga (orang tua).
Pada kenyataannya, kita sering dihadapkan pada fenomena semakin maraknya
perilaku negatif yang dilakukan para remaja. Orang tua sering menganggap kenakalan
remaja lebih banyak disebabkan oleh faktor diri mereka sendiri. Akibatnya, ketika
mereka berperilaku negatif, orang tua lebih sering menyalahkan remaja tanpa mau
memahami mengapa mereka melakukan hal tersebut.