Anda di halaman 1dari 21
DAMPAK PENGOPERASIAN JEMBATAN SURAMADU. ‘TERHADAP ANGKUTAN PENYEBERANGAN UJUNG - KAMAL. Setio Boedi Arianto *) Abstrak Tujuan dari kajian ini adalah’ untuk mengetahui sejauhmana kesediaan penumpang untuk beralih menggunakan fasilitas Jembatan Suramadu dibanding dengan angkutan penyeberangan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan baka jumilah responden secara keseluruhan terkait dengan pilihan angkutan penyeberangan atau jembatan Suramadu hasilaya hampir berimbang, yaitu sebesar 42,50 % Kelompok responden dari Kamal (Madura) memuju Ujung (Surabaya) menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan, sedangkan sisanya sebesar 57,50 % beralih menggunakan jembatan Suramadu. Untuk kelompok responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan adalah sebesar 52,50 % dan sisasnya sebesar 47,50 % beralih menggunakan jembatan Suramadu, Berpindahnya responden menggunakan Jembatan Suramadu, secara umum ‘menyatakan alasannya tentang masalah woaktu tempuh yang lebih singkat, kemudian disusul berturut- turut tentang biaya perjalan (lebih murah), transfer moda (tidak perlu berganti-ganti moda) dan Kenyamanan, sedangkan responden yang menyatakan tetap menggunakan angkutan penyeberangan menyatakan alasan yang bermacan-macam (bervariasi) dan tidak ada yang dorainan (seperti kenyamanan, Kemudahan mencapai lokasi, dsb). Kata kunci: Jembatan Suramadu PENDAHULUAN Dalam mengantisipasi globalisasi khususunya dalam mendukung tercapainya kinerja perekonomian Indonesia, Pembangunan sektor transportasi merujuk pada pembenahan transportasi antara pusat dan daerah yang serasi dalam mencapai keseimbangan pembangunan antar daerah yang mantap dan dinamis, yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi nasional dan daerah, serta memanfaatkan prasarana dan sarana transportasi dengan optimal dalam rangka peningkatan _pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Semangat desentralisasi yang tertuang dalam Undang-Undang nomor : 22 Tahun 1999 jo UU, Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, memberikan kewenangan kepada daerah dalam hal ini pemerintah daerah provinsi Jawa Timur untuk berperan aktif dalam peningkatan _ pembangunan infrastruktur dan ekonomi khususnya di pulau Madura yang relatif tertinggal dibandingkan dengan kawasan Jain di Jawa Timur. Guna mempercepat pembangunan di pulau Madura, maka pemerintah daerah provinsi Jawa Timur 158 Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor dengan segala upaya untuk merealisasikan pembangunan jembatan Suramadu yang menghubungkan antara pulau Jawa (di Surabaya) dan pulau Madura (di Bangkalan) yang memiliki bentang sepanjang + 5,4 kilometer.Dengan beroperasinya jembatan Suramadu akan membawa dampak baik secara Iangsung maupun tidak langsung khusunya terhadap aktifitas transportasi angkutan penyeberangan dari Ujung Surabaya ke Kamal Madura yang selama ini merupakan alat penghubung transportasi satu-satunya bagi masyarakat di pulau Madura dengan daerah Jain khususnya untuk wilayah Jawa Timur. Sebagai gambaran umum saat ini berdasarkan data dari PT. ASDP Indonesia Ferry bahwa jumlah penumpang dari dermaga Ujung - Kamal setiap harinya mencapai rata-rata 15 ribu penumpang pejalan kaki, 5 ribu penumpang pengendara sepeda motor, dan 2.500 penumpang pengguna mobil, dengan total omzet lintasan penyeberangan Ujung - Kamal diperkirakan mencapaisebesar 272 juta rupiah per hariKalangan pengusaha jasa penyeberangan kapal mengkawatirkan bahwa omzet mereka akan turun hingga 50 % terkait ‘September 2009 dengan pengurangan operasi kapal dari 18 (delapan belas) unit menjadi 9 (sembilan) unit saat beroperasinya Jembatan Suramadu pada bulan Juni 2009, untuk itu maka perlu dilakukan pengkajian tentang “Dampak Pengoperasian Jembatan Suramadu Terhadap Angkutan Penyeberangan Ujung - Kamal”. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana__kesediaan penumpang untuk beralih menggunakan fasilitas Jembatan Suramadu dibanding dengan angkutan penyeberangan. Ruang lingkup kajian ini meliputi: 1. Inventarisasi jumlah sarana angkutan penyeberangan (kapal) yang beroperasi saat ini; 2. Inventarisasi jumlah prasarana angkutan penyeberangan; 3. Inventarisasi Jumlah kendaraan angkutan barang (truck), kendaraan mobil pribadi, bus umum dan sepeda motor yang menyeberang atau sebaliknya; 4, Inventarisasi kebijakan terhadap angkutan penyeberangan pada lintas Ujung - Kamal; 5. Menganalisis dan mengevaluasi strategi penataan terhadap penyelenggaraan angkutan penyeberangan; 6. Kesimpulan dan Saran Hasil yang diharapkan dari kajian ini adalah terwujudnya penataan pelayanan angkutan Penyeberangan Ujung (Surabaya) - Kamal (Madura) yang efektif dan efisien pasca pengoperasian Jembatan Suramadu METODOLOGI PENELITIAN A. AlurPikir Kondisi Existing 4 icentifikasi Permasalahan J Tujuan/Lingkup Studi Survei Lapangan + —_Pendekatan Teori 4 4 Analisis Rekomendasi Gambar 1. Alur Pikir Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 759 60 Berdasarkan pengamatan di lapangan, diketahui kondisi eksisting bahwa terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian diperlukan suatu pendekatan teoritis yang tidak terlepas dari tujuan kajian atau lingkup studi, untuk dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis permasalahan yang dihadapi. Dari alur pikir ini diharapkan dapat memudahkan penulis dalam menemukan suatu upaya pemecahan masalah sehingga dapat menghasilkan suatu rekomendasi untuk perbaikan pengoperasian angkutan penyeberangan pada lintas Ujung (Surabaya) - Kamal (Madura) dimasa yang akan datang. . Metode Analisis Metode analisis yang digunakan dalam pengkajian ini adalah deskriptif analysis, yaitu analisis non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis, peneliti hanya ingin mengetahui sejauh mana tingkat perpindahan pengguna kapal angkutan penyeberangan ke fasiltas prasarana lain yaitu pasca dioperasikannya jembatan Suramadu.Pegolahan data dilakukan sesuai dengan pendekatan penelitian yaitu pendekatan penelitian deskriptif. Pendekatan deskxiptif sering dibedakan atas dua jenis penelitian menurut proses sifat dan analisis datanya, yaitu : Riset deskriptif yang bersifat eksploratif Riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui kemungkinan hal- hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu, misalnya survei mengenai kondisi pelayanan angkutan penyeberangan. Dalam survei ini peneliti membutuhkan informasi tentang persepsi para pengguna angkutan penyeberangan serta data lain yang relevan dengan problematiknya. Apabila data telah terkumpul, maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu : data kualitatif dan data kuantitatif. Terhadap data yang besifatkualitatif, yaitu data yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran dapat diproses dengan beberapa cara antara lain : Dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase. Kadang-kadang pencarian persentase dimaksudkan untuk mengetahui status sesuatu yang dipersentasekan dan disajikan tetap berupa persentase. Tetapi kadang-kadang, sesudah sampai ke persentase lalu ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif, misalnya baik (76%-100%), cukup (56% -75%), kurang baik (40% -55%), tidak baik (kurang dari 40%). Sebaliknya data kualitatif yang ada seringkali dikuantifikasikan, diangkakan sekedar untuk mempermudah penggabungan dua atau lebih data variabel, kemudian sesudah terdapat hasil akhir lalu di kualifikasikan kembali. Teknik ini sering disebut dengan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase. Dijumlahkan, diklasifikasikan sehingga merupakan suatu susunan urut data (array), untuk selanjutnya dibuat tabel, baik yang hanya berhenti sampai tabel saja, maupun yang diproses lebih lanjut menjadi perhitungan pengambil kesimpulan ataupun untuk kepentingan visualisasi datanya. Visualisasi data sangat mempermudah peneliti sendiri atau orang Jain untuk memahamihasil penelitian. Cara visualisasi ini antara lain : dibuat grafik poligon, ogive, bar gram, diagram gambar, diagram serabi dan sebagainya Banyak orang yang berpendapat bahwa perelitian deskriptif kualitatif ini kurang bersifat ilmiah karena hanya menggambarkan saja, Kenyataannya, penelitian deskriptif bisa digunakan untuk mengadakan prediksi ataupun untuk keperluan generalisasi. Sedangkan untuk kajian ini nantinya akan Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 menggunakan analisis deskriptif yang besifat eksploratif. : 2. Riset deskriptif developmental yang bersifat Biasanya riset jenis ini digunakan untuk menemukan suatu model atau prototype, dan bisa digunakan untuk segala jenis bidang. Jadi di dalam penelitian deskriptif yang, bersifat developmental, pengujian datanya dibandingkan dengan suatu kriteria atau standar yang sudah ditetapkan terlebih dahulu pada waktu penyusunan desain penelitian. GAMBARAN UMUM A. Dampak dan Manfaat Suramadu Jembatan Dalam review studi kelayakan Jembatan Surabaya-Madura tahun 2002, disebutkan ada beberapa pertimbangan mengenai dampak dan manfaat dari keberadaan Jembatan Suramadu antara lain adalah: 1. Dampak Jembatan Suramadu a. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan PDRBDampak Jembatan Suramadu terhadap Pertumbuhan PDRB di 4 (empat) Kabupaten di Madura, dapat dijelaskan bahwa Kabupaten Bangkalan nilai pertumbuhan PDRB-nya paling besar di antara kabupaten-kabupaten di Madura. Hal tersebut terjadi karena Bangkalan merupakan daerah yang paling menikmati keberadaan jembatan Suramadu. Apabila dilihat dari pertumbuhan PDRB dapat disimpulkan bahwa makin dekat dititik/ Jetak jembatan Suramadu akan semakin menunjukkan perubahan yang cepatakibat meningkatnya aktivitas ekonomi. Peningkatan PDRB Kabupaten Bangkalan yang besar menunjukkan bahwa dampak jembatan Suramadu akan dapat mengembangkan sistem perekonomian yang ada, baik yang sudah berkembang maupun yang potensial untuk dikembangkan. Secara Keseluruhan, hasil prediksi dampak Jembatan Suramadu __terhadap pertumbuhan PDRB 4 (empat) Kabupaten di Madura dapat ditampilkan pada tabel berikut ini. Tabel1. Tabel Dampak Jembatan Suramadu Terhadap Pertumbuhan PDRB 4 (empat) Kabupaten di Madura Unies Ratarata tahun| a 2005 2010 205 eee [Fanpajembann| 100397| 127770] s2m5n2| 198962m Bangkalan [DCTS | 247618225] s6997191| 6881.652.02) 1 perubahan eons Bae nen Franpaembaan| oadsosai] 717370%8] 1os.ste.n| _sco7s07| Sampang PERE" sane) 2aesmes| assis fs perubahan a aa ~franpa jembatan | 589.0541 654.00047| 1.103.9703)| _928.326,66 Famekasan [PEED osoasieo] 271646658 157.2151 Is perubahan ) 60 a3 Hranpa embatn | 109.5500) 1199 403,00] 1.744.300) 1428.40800 sumenap [PEST J issseso) 2008500 200999500 ln perubahan ec Ea 250 Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 1993-2000 (Dab Review Studi Kelayakan Jembatan Surabaya-Madura Tahun 2002) Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nemor 3, September 2009 Ter b. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Penduduk : Semakin lancarnya transportasi akan menimbulkan dampak pergerakan orang maupun barang. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terbanyak penduduknya adalah Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Ternyata Kabupaten Bangkalan merupakan kabupaten yang menerima kelimpahan penduduk paling tinggi dibanding 3 kabupaten lainnya. Pada tahun 2035 atau setelah 30 tahun dibangunnya Jembatan Suramadu, maka diprediksi jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan berjumlah 2,79 juta iiwa atau hampir dua kali lipat (98,98%) dibanding pertumbuhannya tanpa jembatan (1,40 juta jiwa). Dalam keadaan tersebut, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun berkisar antara 2,02% - 3,16%. Di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun secara berturut-turut masing-masing berkisar antara 0,71%-0,51% atau dengan pertumbuhan yang cenderung menurun, 0,66%-1,45% dan 0,44%-0,50%. Jika jumlah penduduk dibandingkan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu maka jumlah penduduk rata-rata per tahun di Bangkalan akan bertambah sebanyak 59,30%, Pamekasan (23,42%), Sumenep (18,65%), dan Sampang (12,62%). Secara keseluruhan, hasil prediksi dampak Jembatan Suramadu —_ terhadap pertumbuhan penduduk dapat ditampilkan pada tabel berikut ini. Tabel2. _Dampak Jembatan Suramadu Terhadap Pertumbuhan Penduduk Tahun Ratasata Kabupaten tahun 2005 2010 2038 2006-2035 Tanpa 1.405326,7 || 2 | jantatan 869.558,98 | 941.988,11 | 1125.01556 Bangkalan | Dengan _ 27963798 8 Jembatan 1.256.412,89 ‘5 | 1.826.42556 % perubahan 32,38 98,98 5930 Tanpa Coen 741,104,88 | 755.616,77 | 838.197,18 | 789.767,02 Sampang | Dengan TOO18777 ed | eatery 814.200,83 ‘| 890.60635 % perubahan 275 19,53 1262 Tanpa 5 sce {etn 713.535,10 | 747,788,60 | 919.106,10 | 819.741,95 Pamekasa [Dengan 1237727 8 , A ienbaen | saa ‘9 | 1.015.01390 % perubahan 16,50 32,06 2342 Tanpa 1.007.167,7 1.30724,7 beet | 1.044.427,20 9 | 22267215 Sumenap | Dengan . 15511564 OA eeree 1.178 561,40 ‘9 | 1-335.051,30 % perubahan : 12,84 26,04 1865 Sumber Badan Pusat Statuk Taken 1993-2000 (Dalam Review Studi KelayaKan] embatan Swabaya -Madara Tahun 2003 162 Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 cc. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Income per Kapita Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur, tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut Kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan Jika income per kapita dibandingkan dalam keadaan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu, maka income per kapita rata- rata per tahun di Bangkalan adalah akan bertambah sebanyak 93,63%, Pamekasan (48.68%). Sampang (42,57%) dan Sumenep (20,03%). Sesudah dibangunnya Jembatan Suramadu, secara_ berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Tampaknya respon ekonomi Bangkalan tetap lebih kuat dibanding tiga kabupaten da taénnya Secara keseluruhan, hasil prediksi dampak Jembatan Suramadu terhadap pertumbuhan Income per Kapita dapat ditampilkan pada tabel 3. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Kawasan Permukiman Semakin lancarnya transportasi juga menimbulkan dampak pada pertumbuhan kawasan pemukiman. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terluas kawasan pemukimannya adalah Kabupaten Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Setelah dibangunnya JembatanSuramadu ternyata Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang memiliki kawasan pemukiman terluas dibanding 3 kabupaten Jainnya. Akan tetapi kalau melihat perbandingannya terhadap luas areal Jahan yang tersedia, Kabupaten Bangkalan yang mengalami pertumbuhan kawasan pemukiman lebih pesat dibandingkan dengan 3 kabupaten lainnya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Yabd 3. Tabel Dampak Jembatan Suramadu Terhadap Pertumbuhan Income Per Kapita (juta Rp) Tahun Rata-rata Kabupaten tahun 2006- 2005 | 2mo | 2035 2035 ‘Tanpa Jembatan u7| ast 23 170 Bangkalan | Dengan Jembatan -| 197 6.88 34 % perubahan =| 999| 1687 93,68 ‘Tanpa Jemoatan ox | 095] 129 1.09 Sampang | Dengan Jembatan -[ 1is[ 218 1.57 % perubahan =| 2067] 6933 42.57 ‘Tanpa Jembatan 08 087] 120 1.00 Pamekacan | Dengan Jembatan =| x09 | 228 18 % perubahan as] 638 | 48,68 ‘Tanpa Jembatan 1.08 iss[ 142 1z Sumenap | Dengan Jembatan - 13s] 152 | pensbatan -[ weal am 20.08 umber: Badan Pusat Statistik Tahun 1593-2000 (Dalam Review Stadi Kelayalan Jembatan Surabays-Madura Tahun 2002) Jurnal Transportasi Daral, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 763 2 a. » Tod Tabel4. Dampak Jembatan Suramadu Terhadap Pectumbuhan Kawasan Permukiiman Tahun Ratazata Kabupaten tahun 2005 | 2010 | 2035 | 2an6-2085 Tanpajemtatan | 184641 | 198740 | 2805755 23,477,068 Bangkalan [DenganJembatan =| 2491056 | 5287804 | 35.477.38 % perubahan. =| a3 [__ 8261 S112 Tanpa Jembatan | 13.815,00 | 14386,60 | 1924400 | _16.24665 Sampang [Dengan Jembatan = [1730100 | 27.01600 | _21.381,30 % perubahan [26 [4039 3016 TanpaJembatan | 99130 | 9937.60 | 1005760, 3988.00 Pamekasin [Dengan fembatan =| 10009,60/ 10.249,60| 0.11040 % perubahan E 072 191 1,23 | Tanpa Jembatan | 27:89,00 | 299%2,50 | 4355000 | 35.81885 Samenap [Dengan Jembatan =| 3836,00 | 4629800 | _50.09570 % perubahan [779s] 5085 39,74 Sumber! Badan Pusat Statistik Tahun 1993-2000 (Dalam Review Studi Kelayakan Jembatan Surabaya-Madura Tahun 2002) Manfaat Jembatan Suramadu Manfaat Langsung (Primary Benefit) Manfaat langsung dari Jembatan Suramadu adalah meniagkatnya kelancaran arus Ialu lintas atau angkutan barang dan orang. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti menghemat waktu dan biaya. Manfaat selanjutnya adalah merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian. Manfaat langsung lainnya yang dapat diperhitungkan adalah nilai penerimaan dari tarif tol yang diberlakukan. Transportasi barang dan orang yang semakin meningkat, akan meningkatkan penerimaan dari tarif tol. Manfaat Tidak Langsung (Secondary Benefit) Manfaat tidak langsung atau manfaat sekunder adalah niultiplier effect dari Jembatan Suramadu. Ini merupakan dinamika yang timbul dan merupakan pengaruh sekunder (secondary effect), antara lain: Meningkatnya jumlah penduduk akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, 2 3) industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya arus barang masuk ke Pulau Madura. Meningkatnya kebutuhan untuk kawasan pemukiman dan infrastruktur Meningkatkan PDRB dan kesejahteraan masyarakat. Di Madura, umumnya kegiatan ekonomi masih bertumpu pada sektor pertanian primer (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan), Artinya pertanian atau sektor tradisional menjadi sektor andalan yang nampak dari perolehan PDRB terbesar dibandingkan sektor lain. Sektor lainnya adalah pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, air bersih, bangunan, perdagangan, hotel, restoran, angkutan, pos, komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Kondisi Eksisting — Angkutan Penyeberangan Surabaya-Madura Pelabuhan Penyeberangan Ujung dan Kamal Satu-satunya akses dari Surabaya menuju Pulau Madura dan sebaliknya adalah menggunakan penyeberangan kapal feri Ujung-Kamal. Gambaran_ kondisi Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 2. Kinerja pelabuhan Ujung dan Kamal sebagai prasarana transportasi utama yang melayani kapal penyeberangan Surabaya- Madura. Masing-masing pelabul.an Ujung dan Pelabuhan Kamal memiliki 4 unit dermaga. Adapun spesifikasi dermaga dan kekuatan daya dukung masing-masing dermaga di Pelabuhan Ujung dan Pelabuzhan Kamal, dapat dilihat pada tabel berikut ini. Secara keseluruhan jalur penyeberangan lintas Ujung - Kamal mempunyai jarak tempuh sebesar 2,5 mil terdapat 18 unit kapal, yang pada kondisi normal dioperasikan berjumlah 12 unit kapal dengan pembagian masing-masing 3 unit per dermaga dengan pola operasi 2 hari operasi (24) jam dan 1 hari digunakan untuk perawatan. ‘Tabel 5. Spesifikasi Dermaga di Pelabuhan Ujung dan Kamal Dermaga | Hydrolick ‘Semi Hydeolick Ponton Beton Pelabuhan Ujung Surabaya Dermaga I Dermaga Il Dermaga II i Dermaga IV Pelabuhan Kamal Madura Dermaga ! ‘Dermaga Dermaga Ul 1 Dermaga IV Sumber: PT ASDP Indoneata Femry (Perera), Cabang Surabaya 20H ‘Tabel 6. Kekuatan Daya Dukung Dermaga Di Pelabuhan Ujung dan Kamal Jenis Jembatan Daya Dukung | Pelabuhan Ujung Suraboya Hydrolick 35 ton Semi hidrolick Dermage I 25 ton Semi hidrotick Dermaga T 25 ton Beton 40t0n Pelabuhan Kamal Madara Hydrobick ion Semi hidrolick 15ton Ponton 20t0n Beton 40 ton ‘Sumber PTASDD Tndonesia Fen? (ersera), Cabang Surabaya, 2008 Pelayanan — Angkutan Penyeberangan Ujung dan Kamal Saat ini jalur penyeberangan tersebut dilayani dengan armada karal eri berjenis RO-RO yang berjumlah 18 unit kapal. Rata-rata per bulan masing-masing kapal beroperasi selama 20 hari. Interval waktu (time headway) antar kapal diketahui selama 24 menit untuk setiap dermaga atau 8 menit untuk masing-masing pelabuhan (3 dermaga). Dengan waktu loading/ Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 165 unloading masing-masing 8 menit untuk perjalalan sekitar 24 menit, maka dalam 1 hari masing-masing kapal melakukan lebih kurang 30 trip (pp) dengan total frekuensi kapal 360 trip (pp) pada lintas penyeberangan Ujung-Kamal tersebut, Dari data yang diperoleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya diketahui bahwa volume angkutan Ferry pada tahun 2008 untuk penumpang berjurlah 10,88 juta, kendaranan roda-2 berjumlah 3,72 juta dan kendaraan roda-4 berjumlah 16,30 juta PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS A. Pengumpulan Data Untuk memberikan gambaran hasil survei Pengkajian Dampak Pengoperasian Jembatan Suramadu terhadap Angkutan Penyeberangan Ujung - Kamal dengan melakukan serangkaian wawancara secara langsung melalui kuesioner kepada para pengguna angkutan penyeberangan di pelabuhan Ujung (Surabaya) dan Pelabuhan Kamal (Madura) untuk mendapatkan gambaran karakteristik responden yang meliputi antara lain profil responden, karakteristik perjalanan dan persepsi responden terhadap penumpang pengguna kendaraan pribadi, penumpang penumpang pengguna sepeda motor dan penumpang pejalan kaki (Individual Travellers).Pelaksanaan kegiatan survei wawancara dilakukan pada akhir Maret sampai dengan awal April 2009. Jumlah keseluruhan responden/pelaku perjalanan antara Surabaya - Madura dan sebaliknya adalah sebanyak 80 responden dengan rincian seperti pada tabel 7. . Karakteristik Responden Karakteristik pengguna jasa transportasi penyeberangan pada dasarnya menggambarkan pola dan keterkaitan pengguna jasa terhadap kinerja jasa transportasi penyeberangan secara umum, sehingga dari data karakteristik tersebut dapat dilihat kinerja pelayanan jasa transportasi penyeberangan dari sisi penggunanya. 1. Profil Responden Profil responden dilihat dari jenis kelamin, berdasarkan hasil survei terhadap penumpang Angkutan penyeberangan dapat diketahui bahwa jumlah responden secara keseluruhan yaitu pengguna mobil pribadi, pengguna Angkutan umum/bus, pengguna sepeda motor dan pejalan kaki yang berjenis kelamin pria berjumlah sebesar 72,50% dan sisanya 27,50% pengguna kendaraan umum/bus, berjenis kelamin wanita, secara rinci dapat dilihat dalam gambar 2. ‘Tabel 7. Data Jumlah Responden Jumlah Responden (Orang) No. Moda Transportasi —————_ Madura-Surabaya |Surabaya-Madura| 1. |Mobil Pribadi 10 10 2. |Angkutan Umum/Bus 10 10 3. |Sepeda Motor 10 10 4, |Pejalan kaki (Individual Traveller) 10 10 Jumlah| 40 40 Sumber Flasil Survel, 2009 166 Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 Jummlah Responden Berdasarkan Hisil Survei Th Jenis Ketamin Gambar 2 Proporsi Jenis Kelamin Responden Apabila ditinjau berdasarkan kelompok umur, menunjukkan bahwa jumlah responden penumpang angkutan penyeberangan pengguna kendaraan pribadi, pengguna angkutan umum/bus, pengguna sepeda motor dan pejalan kaki yang berumur dibawah 20 tahun berjumlah sebesar 2,50 %, yang berumur antara 21- 30 tahun berjumlah 22,50 %, yang berumur antara 31- 40 tahun sebesar 27,50 % , berumur antara 41-50 tahun sebesar 37,50 % dan sisanya sebesar 10 % berumur antara 51- 60 tahun, secara rinci dapat dilihat dalam gambar 3 dibawah ini. Berdasarkan hasil survei terhadap tingkat pendidikan responden secara keseluruhan baik pengguna mobil pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, didapatkan bahwa sebesar 5 % berpendidikan setingkat SD, 8,75 % berpendidikan setingkat SLTP, 36,25 % berpendidikan setingkat SLTA, 8,75 % berpendidikan D3/Sarjana Muda, 27,5 % berpendidikan Sarjana/S1, 11,25 % berpendidikan $2 dan sisanya sebesar 2,5 % berpendidikan $3, secara rinci dapat dilihat dalam gambar. 4 dibawah ini Juottah Respenden Berdasarkan Usia 28 W30Tawe TDD Bevwah 20 Tahun D140 Taha DarsoTabun Gambar 3, Proporsi Kelompok Umur Responden Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 167 16s a itanethy Soc loer te Wht Caigs Fokn Eller sie Gambar 4. Prop orsi Tingkat Pendidikan Responden Profil responden dari segi profesi secara Bila dilihat dari segi pendapatan rata-rata keseluruhan baik pengguna mobil pribadi, secara keseluruhan baik pengguna mobil angkutan umum/bus, sepeda motor _pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, didapat bahwa 48,75 maupun pejalan kaki, perbulannya memiliki % dari responden merupakan pegawai pendapatan dibawah Rp. 500.000,-, sebesar Swasta, terbanyak kedua sebesar 31,25 % 1,25 %, pendapatan diatas Rp. 500.000,-s.d.1 berprofesi sebagai Wiraswasta/ pedagang _Juta sebesar 17,5 %, pendapatan diatas 1 juta dan sisanya masing-masing sebesar 13,75 _s.d. 1,5 juta sebesar 20 %, pendapatan diatas % berprofesi sebagai petani dan 1,25 % Rp. 1,5jutas.d. Rp. 2juta sebesar 21,25 % dan berprofesi pensiun, secara rinci dapat diatas Rp. 2juta sebesar 40 %, secara rinci dapat dilihat dalam gambar 5. dilihat dalam gambar 6 dibawah ini. JJumiah Res ponden Berlasarkan Pekerjaan Ae oo 5200 ig a } $2 kb BB Be CRS Re SWORN DWanesa/Pebene Onan iewlunn Gambar 5, Proporsi Jenis Pekerjaan Responden Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 2 a Jumal Transportasi Dare | ora Rede entero Ponti 4 i i i i i i i 1 Gambar 6. Proporsi Tingkat Pendapatan Responden Karakteristik Perjalanan Responden Penyeberangan Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) Jika dilihat dari informasi terhadap asal tujuan perjalanan secara keseluruhan baik bagi pengguna mobil pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, untuk penyeberangan dari Kamal menuju Ujung, sebagian besar yaitu 75 % berasal dari Bangkalan, 15 % berasal dari Asal Perjalanan Responden Dari Madura Sampang dan 10 % berasal dari Pamekasan. Sedangkan untuk tujuan perjalanan adalah sebagian besar responden sebanyak 67,50 % menyatakan melakukan perjalanan menuju Surabaya, sedangkan sisanya 32,50 % menuju kota- kota di Jawa Timur (Malang, Gersik, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan Banyuwangi) hal tersebut dapat dilihat pada gambar. 7 dan gambar. 8 berikut ini. i Lom Bud Pengguna MobiPrbadi Pengguna Angkutmn Pengguna Sepeda Motor ——_-Pejdlan Kali ‘Ununy Bis DBmgan Siping OParckas Gambar 7. Proporsi Asal Perjalanan Responden dari Kamal (Madura) Vol. 11, Nomor ‘September 2009 169 Gambar 8. Peoporsi Tujuan Perjalanan Responden dari Kamal (Madura) b. Penycberangan Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) Jika dilihat dari informasi terliadap asal tujuan perjalanan secara keseluruhan baik bagi pengguna mobil pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, untuk penyeberangan dari Ujung menuju Kamal, sebagian besar yaitu 85 % berasal dari Surabaya, 5 % berasal dari Malang, 5 % berasal dari Pasuruan dan 10 % berasal dari Probolinggo. Sedangkan untuk tujuan perjalanan adalah sebagian besar responden sebanyak 65 % menyatakan melakukan_perjalanan menuju Bangkalan, sedangkan sisanya 35 % menuju kota Sumenep dan Kota Sampang hal tersebut dapat dilihat pada gambar 9 dan gambar 10 berikutini. Aco Paseo ag MmgMahra 1s. = 10%. w a m Ds a ned FrgguaMbiPid Ponsa Argsan PegewaSged Moe aplnkile Ununes Tanta Mottin Raman Ohne (Gambar 9, Proporsi Asal Perjalanan Responden dari Ujung (Surabaya) ‘Teen Pesan Ree ig Drea Decl Sorte 170 jung (Surabaya) Jarnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 Ditinjau davi frekuensi perjalanan berdasarkan hasil survei secara keseluruhan baik pengguna mobil pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, proporsi penumpang yang menggunakan angkutan penyeberangan sebesar 30 % menyatakan “satu kali”, sebesar 26,25 % menyatakan “dua kali”, sebesar 2,5 % menyatakan “tiga kali”, sebesar 11,25 % menyatakan “lima kali” dan sisanya 15 % menyatakan “lebih dari lima kali”, secara rinci dapat dilihat dalam gambar 11 dibawah ini. Bila dilihat dari informasi maksud perjalanan dari hasil survei secara kesehuruban baik pengguna mobil pribadi, angkutan umum/bus, sepeda motor maupun pejalan kaki, menunjukkan sebesar 30 % melakukan perjalanan Dinas, 27,5 % melakukan perjalanan bisnis, 33,75 % melakukan perjalanan untuk keperluan keluarga, 6,25 % melakukan perjalan wisata dan sisanya sebesar 2,50 % perjalanan lainnya, secara rinci dapat dilihat dalam gambar. 12 dibawah ini. HoH HE i Gambar 11. Proporsi Frekuensi Perjalanan st pian Kart Por Gambar12 Praporsi Maksud Responden Dalam Melakukan Perjalanan Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 171 3. T72 Persepsi Responden Terhadap Pilihan Moda Perjalanan. Seperti dalam hasil survei, bahwa responden dikelompokkan menurut jenis moda yang mereka gunakan yaitu mobil pribadi, sepeda motor, angkutan umum/ bus dan pejalan kaki (Individual travellers) dan arah perjalan (dari Surabaya ke Madura dan sebaliknya). Pada kuesioner ditanyakan kepada responden untuk diminta merespon terhadap pertanyaan” JIKA JEMBATAN SURAMADU DIOPERASIKAN, APAKAH ANDA AKANBERPINDAHMODA ATAUTETAP MENGGUNAKAN — ANGKUTAN PENYEBERANGAN ?”. Dari respon atas pertanyaan tersebut menurut kelompok responden dapat ditampilkan sebagai berikut pada gambar. 13 berikut. Sedangkan kelompok responden pengguna angkutan umum/bus maupun pengguna sepeda motor cukup berimbang secara keseluruhan penumpang dati Surabaya maupun sebaliknya. Khususnya responden pejalan kaki yang menyatakan tetap menggunakan angkutan penyeberangan sebesar 40 % berasal dari Surabaya dan yang berasal dari Madura terlihat seimbang yaitu sebesar 50 % dan 50% = menyatakan _ berpindah menggunakan jembatan Suramadu Secara keseluruhan, dari 80 responden, maka respon responden terhadap pilihan moda mereka ketika jembatan Suramadu dioperasikan ternyata 47,5 % memberi respon tetap memilih angkutan penyeberangan dan 52,5 % akan beralih menggunakan jembatan Suramadu. Bila dilihat dari arah pergerakan proporsi Mapai MiiPitd = Agata = Aghuin «Speer Sch Mir PapinKeki Pein ka GyM@)— (MbSy) Unis UnunBs yl) (MAS) GMD (MES) (QyMty (MES) Dap Barth Gambar 13. Respon atas pilihan moda ketika jembatan Suramadu dioperasikan Dari hasil survei dapat diketahui bahwa sebesar 30 % kelompok responden pengguna mobil pribadi asal Madura yang akan tetap menggunakan angkutan penyeberangan. Sedangkan yang berasal dari Surabaya hampir berimbang yaitu sebesar 60 % yang tetap menggunakan angkutan penyeberangan dibandingkan yang menggunakan jembatan Suramadu. pilihannya relatif berimbang, dengan proporsi pilihan terhadap angkutan penyeberangan agak lebih besar untuk arah pergerakan Surabaya ke Madura (52,5 %), sedangkan untuk arah pergerakan dari Madura ke Surabaya proporsi pilihan cenderung lebih besar pada jembatan Suramadu (57,5 %), hal tersebut dapat dilihat dalam gambar 14 berikut ini. Jurnal Transportasi Darat, Vol. 41, Nomor 3, September 2009 ‘Ta ar 0% Gambar 14. Respon pilihan moda ketika jembatan Suramadu dioperasikan, Menurut arah pergerakan Cc Analisis 1. Proporsi jenis pekerjaan terhadap pilihan moda perjalanan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi jenis pekerjaan responden terhadap pilihan moda perjalanan dari 40 responden yang disurvei meliputi pengguna kendaraan pribadi, pengguna angkutan umum/bus, pengguna sepeda motor dan pejalan kaki baik dari arah Surabaya ke Madura maupun sebaliknya, diperoleh hasilnya sebagai berikut, Untuk Responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan berpindah berprofesi sebagai PNS sebesar 30 %, berprofesi sebagai Pegawai swasta/ BUMN sebesar 12,50 % dan Wiraswasta/ pedagang sebesar 10 %, sedangkan yang Persea menyatakan tetap berprofesi sebagai PNS sebesar 25 %, berprofesi sebagai Pegawai swasta/BUMN sebesar 7,50 % dan Wiraswasta/pedagang sebesar 15 %, begitu juga sebaliknya untuk responden dari Kamal (Madura) menuju Ujung, (Surabaya) yang menyatakan berpindah berprofesi sebagai PNS sebesar 5 %, berprofesi sebagai Pegawai swasta/BUMN sebesar 30 % dan Wiraswasta/ pedagang sebesar 20 % dan untuk Pensiunan sebesar 2,50 %, sedangkan yang menyatakan tetap berprofesi sebagai PNS sebesar 5 %, berprofesi sebagai Pegawai swasta/BUMN. sebesar 12,50 %, berprofesi sebagai Wiraswasta/pedagang sebesar 22,50 % dan yang berprofesi sebagai petani sebesar 2,50 %, hal tersebut dapat dilihat dalam gambar. 15 dan gambar. 16 berikut ini ndaan Tertadap Perey Ret pomien eal Suraaya Gambar 15. Proporsi Jenis Pekerjaan terhadap Pilihan Moda Perjalanan Dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 5, September 2009 173 174 |, erst sang eng Rpm AsINire \Gaarbarre—Fropont Tenis Pekerjaan Proporsi Jenis PeKerjaan terhadap Pilihan Moda Perjalanan Dani Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) Proporsi pendapatan terhadap pilihan moda perjalanan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi pendapatan responden terhadap pilihan moda perjalanan dari 40 responden yang disurvei meliputi pengguna kendaraan pribadi, pengguna angkutan umum/bus, penggura sepeda motor dan pejalan kaki baik dari arah Surabaya ke Madura maupun sebaliknya, diperoleh hasilnya sebagai berikut. Untuk Responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan berpindah mempunyai pendapatan antara >15 Juta - 2 juta sebesar 12,50 % dan pendapatan > 2 juta sebesar 35 %, sedangkan yang menyatakan tetap mempunyai pendapatan antara >0,5 Juta -1juta sebesar 5 %, pendapatan antara >1 juta ~ 1,5 juta sebesar 10 %, pendapatan antara >1,5 Juta — 2 juta sebesar 12,50 %, dan pendapatan > 2 juta sebesar 25 %, begitu juga sebaliknya untuk responden dari Kama (Madura) menuju Ujung (Surabaya) yang menyatakan berpindah mempunyai pendapatan antara > 1/2 jata ~ 1 juta sebesar 12,50 %, pendapatan antara > 1 juta - 1,5 juta sebesar 17,50 %, pendapatan antara > 1,5 juta- 2juta sebesar 10 % dan pendapatan > 2juta sebesar 17,50 %, sedangkan yang menyatakan tetap mempunyai pendapatan < dari 0,5 juta sebesar 2,50 %, mempunyai pendapatan antara > 1/2 juta - 1 juta sebesar 1750 %, pendapatan antara > 1 juta - 1,5juta sebesar 12,50 %, pendapatan antara > 1,5 juta - 2 juta sebesar 7,50 % % dan pendapatan > 2 juta sebesar 2,50 %, hal tersebut dapat dilihat dalam gambar 17 dan gambar 18 berikut ini, Gambar17. Proporsi Pendapatan Responden terhadap Pilihan Moda Perjalanar ot ee eae Jurnal Transportasi Daxat, Vi | 11, Nomor 3, September 2009 rae S os Ttenltpaneia) epson mean ood >apiguanae > maNHEHD Gambaris. Proporsi Pendapatan Responden terhadap Pilihan Moda Perjalanan Dadi Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) 3. Proporsi keperluan perjalanan terhadap pilihan moda perjalanan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi keperluan perjalanan responden terhadap pilihan moda perjalanan dari 40 responden yang disurvei meliputi pengguna kendaraan pribadi, pengguna angkutan umum/bus, pengguna sepeda motor dan pejalan kaki baik dari arah Surabaya ke Madura maupun sebaliknya, diperoleh hasilnya sebagai berikut. Untuk Responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan berpindah untuk keperluan perjalanan dinas sebesar 20 %, untuk perjalanan bisnis sebesar 15 %, untuk keperluan keluarga sebesar 12,50 % dan Wisata sebesar 5 %, sedangkan yang menyatakan tetap untuk Persentase Kepertuan Perjalanan Testa dap Persepsi Responden Asal Surabaya keperluan perjalanan dinas sebesar 10 %, untuk perjalanan bisnis sebesar 5 %, untuk keperluan keluarga sebesar 27,50 % dan Wisata sebesar 5 %, begitu juga sebaliknya untuk responden dari Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) yang menyatakan berpindah untuk keperluan perjalanan dinas sebesar 17,50 %, untuk perjalanan bisnis sebesar 17,50 %, untuk keperluan keluarga sebesar 15 %, untuk perjalanan Wisata sebesar 2,50 % dan perjalanan lainnya sebesar 5 %, sedangkan yang menyatakan tetap untuk keperluan perjalanan dinas sebesar 12,50 %, untuk perjalanan bisnis sebesar 17,50 %, dan untuk keperluan keluarga sebesar 12,50 %, hal tersebut dapat dilihat dalam gambar 19 dan gambar 20 berikut ini. PojumesDanas eon Bane Gambar 19. Proporsi Keperluanan Perjalanan terhadap Pilihan Moda Perjalanan Dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) Jarnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 175 Fesoaehiqern Pyne Testy Rise Rs john A Nes |: um ss srs sar Gambar20. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan tabulasi dan analisis data terhadap hasil survei melalui wawancara_ terhadap 80 responden penumpang angkutan penyeberangan lintas Ujung (Surabaya) - Kamal (Madura) dan sebaliknya, yang meliputi responden pengguna kendaraan pribadi, pengguna angkutan umum/bus, pengguna sepeda motor dan pejalan kaki (Individual Travellers), dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Jumlah responden secara keseluruhan terkait dengan pilihan angkutan penyeberangan atau jembatan Suramadu hasilnya hampir berimbang, yaitu sebesar 42,50 % kelompok responden dari Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan, sedangkan sisanya sebesar 57,50 % beralih menggunakan jembatan Suramadu. 2. Untuk kelompok responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan adalah sebesar 52,50 % dan sisasnya sebesar 47,50 % beralih menggunakan jembatan Suramadu; 176 Proporsi Kepertuanan Perjalanan terhadap Pilihan Moda Perjalanan Dari Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) 3. Proporsi jenis pekerjaan terhadap pilihan moda perjalanan untuk kelompok responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan terbesar adalah berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu sebesar 25 % sedangakan yang terkecil adalah berprofesi sebagai pegawai swasta/BUMN sebesar 7,50 %, yang menyatakan beralih menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah Derprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu sebesar 30 % dan yang paling kecil berprofesi sebagai Wiraswasta/ pedagang yaitu sebesar 10 %; 4. Propotsi jenis pekerjaan terhadap pilihan moda perjalanan untuk kelompok responden dari Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) yang terbesar adalah berprofesi sebagai Wiraswasta/pedagang yaitu sebesar 22,50 % dan yang paling kecil adalah berprofesi sebagai petani yaitu sebesar 2,50 %, yang menyatakan beralih menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah berprofesi sebagai Pegawai Swasta/BUMN yaitu sebesar 30 % dan yang paling keci] berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitusebesar 5 Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 5. Proporsi pendapatan terhadap pilihan moda perjalanan untuk’ kelompok responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan tetap memilih angkutan penyeberangan terbesar adalah yang berpendapatan > 2 juta dan yang terkecil adalah berpendapatan antara > 0,5 juta - 1 juta sebesar 5 %, yang menyatakan beralih menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah berpendapatan > 2juta yaitu sebesar 35 % dan yang paling kecil berpendapatan antara > 1/5 juta ~ 2juta yaitu sebesar 12,5 %; 6. Proporsi pendapatan terhadap pilihan moda perjalanan untuk kelompok responden dari Kamal (Madura) menuju ‘Ujung (Surabaya) yang terbesar adalah berpendapatan antara > 0,5 juta - 1 juta sebesar 17,50 %, dan yang terkecil berpendapatan < 0,5 juta dan > 2 juta masing-masing sebesar 2,50 %, yang menyatakan beralin_ menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah berpendapatan antara > 1 juta - 2Juta dan berpendapatan > 2 juta yaitu masing- masing sebesar 17,5 %, dan yang paling kecil berpendapatan antara > 15 juta - 2 jata yaitu sebesar 10 % 7. Proporsi keperluan perjalanan terhadap pilihan moda perjalanan untuk kelompok responden dari Ujung (Surabaya) menuju Kamal (Madura) yang menyatakan tetap untuk memilih angkutan penyeberangan terbesar adalah keperluan perjalanan keluarga yaitu 27,50 %, dan yang terkecil adalah untuk keperluan bisnis dan wisata masing-masing sebesar 5 %, yang menyatakan beralih_ menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah melakukan perjalanan dinas yaitu sebesar 20 % dan yang terkecil melakukan perjalanan wisata yaitu sebesar 5 %; 8. Proporsi keperluan perjalanan terhadap pilihan moda perjalanan untuk kelompok responden dari Kamal (Madura) menuju Ujung (Surabaya) yang menyatakan tetap Jarnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009 1 1 0. untuk memilih angkutan penyeberangan terbesar adalah melakukan perjalanan bisnis yaitu sebesar 17,50 % dan terkecil adalah untuk perjalana bisnis maupun perjalan keluarga yaitu masing-masing sebesar 12,50 %, yang menyatakan beralih menggunakan jembatan Suramadu terbesar adalah melakukan perjalanan dinas dan perjalanan bisnis masing-masing sebesar 17,5 % dan yang terkecil melakukan petjalanan wisata yaitu sebesar 2,5 %. Terkait dengan kesimpulan nomor. 1 dan 2 diatas, maka akan mengurangi jumlah permintaan perjalanan sebesar lebih Kurang setengah darijumlah armada yang beroperasi saat ini; Berpindahnya responden menggunakan Jembatan Suramadu, secara umum menyatakan alasannya tentang masalah waktu tempuh yang lebih singkat, kemudian disusul berturut-turut tentang biaya perjalan (lebih murah), transfer moda (tidak perlu berganti-ganti moda) dan kenyamanan; . Sedangkan responden yang menyatakan fetap menggunakan —_angkutan penyeberangan menyatakan alasan yang bermacam-macam (bervariasi) dan tidak ada yang dominan (seperti kenyamanan, kemudahan mencapai lokasi, dan sebagainya. . Saran Dengan beroperasinya Jembatan Suramadu akan berdampak pada penurunan terhadap jumlah permintaan perjalanan yang menggunakan angkutan penyeberangan, sehingga terdapat sejumlah armada yang harus di-non- operasikan atau dialihkan minimal setengah dari jumlah armada yang beroperasi saat ini, yaitu dari 18 armada yang beroperasi menjadi 9 armada Pengalihan armada dapat diusulkan pada lintas penyeberangan dengan yang sama dengan linfas Ujung - Kamal yang merupakan pelayanan komersial, dengan jarak dan jenis kapal yang relatif sama, 177 yaitu seperti pada lintas Ketapang - Gilimanuk, dan lintas Batu Licin-Tanjung, Serdang, namun hal ini perlu untuk dilakukan kajian yang lebih dalam lagi. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Tahun 1993-2000. Review Studi Kelayakan Jembatan Surabaya - Madura Tahun 2002. Jakarta Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. 2007. Kajian Keberadaan dan Pengalihan Angkutan Ferry Pasca Jembatan Suramadu. Jakarta. Peraturan Menteri Perhubungan Nomot KM. 49 Tahun 2005 Tentang Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS). Arikunto, Suharsini. 2000. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineke Cipta. T78 Listiyarini, Tri. 2008, Suramadu Beroperasi Awal 2009. Pendapatan Bisnis ASDP Tergerus 80 %. Jakarta. Investor Daily 15 Agustus 2008, —— ~~. 2009. Omzet Penyeberangan Ujung - Kamal Terancam Anjlok 50 %. Jakarta. Investor Daily 13 Januari 2009. Listiyarini, Tri. 2009. Suramadu Tak Bunuh Penyeberangan Ujung - Kamal. Jakarta. Investor Daily 11 Februari 2009. Balai Pustaka Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. IODATA *) Lahir di Jember, 14 September 1959, S1 Teknik Sipil Jurusan Transportasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kasubid, Dokumentasi dan Publikasi Puslitbang Perhubungan Darat, Peneliti Muda IlI/d. Jurnal Transportasi Darat, Vol. 11, Nomor 3, September 2009