Anda di halaman 1dari 6

A Germ Theory

Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi dan parasitologi oleh Louis Pasteur


(1822-1895), Robert Koch (1843-1910), Ilya Mechnikov (1845-1916) dan para
pengikutnya

merupakan

era

keemasan

teori

kuman.

Para

ilmuwan

tersebut

mengemukakan bahwa mikroba merupakan etiologi penyakit.


Louis Pasteur pertama kali mengamati proses fermentasi dalam pembuatan
anggur. Jika anggur terkontaminasi kuman maka jamur mestinya berperan dalam proses
fermentasi akan mati terdesak oleh kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses
pasteurisasi yang ia temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai temperatur
tertentu hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur tidak rusak. Temuan
yang paling mengesankan adalah keberhasilannya mendeteksi virus rabies dalam organ
saraf anjing, dan kemudian berhasil membuat vaksin anti rabies. Atas rintisan temuantemuannya memasuki era bakteriologi tersebut, Louis Pasteur dikenal sebagai Bapak dari
Teori Kuman.
Robert Koch juga merupakan tokoh penting dalam teori kuman. Temuannya
yang paling terkenal dibidang mikrobiologi adalah Postulat Koch yang terdiri dari:

1
2
3

Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada yang sehat,
Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,
Kuman yang dibiakkan dapat ditularkan secara sengaja pada hewan yang sehat dan

menyebabkan penyakit yang sama


Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi.

Penemuan Bakteri Berspora


John Tyndall (1820-1893), dalam suatu percobaannya juga mendukung
pendapat Pasteur. Cairan bahan organik yang sudah dipanaskan dalam air garam yang
mendidih selama 5 menit dan diletakkan di dalam ruangan bebas debu, ternyata tidak
akan membusuk walaupun disimpan dalam waktu berbulan-bulan, tetapi apabila tanpa
pemanasan maka akan terjadi pembusukan. Dari percobaan Tyndall ditemukan adanya
fase termolabil (tidak tahan pemanasan, saat bakteri melakukan pertumbuhan) dan
termoresisten pada bakteri (sangat tahan terhadap panas). Dari penyelidikan ahli botani
Jerman yang bernama Ferdinand Cohn, dapat diketahui secara mikroskopis bahwa
pada fase termoresisten, bakteri dapat membentuk endospora.
Dengan penemuan tersebut, maka dicari cara untuk sterilisasi bahan yang
mengandung bakteri pembentuk spora, yaitu dengan pemanasan yang terputus dan
diulang beberapa kali atau dikenal sebagai Tyndallisasi. Pemanasan dilakukan pada
suhu 100oC selama 30 menit, kemudian dibiarkan pada suhu kamar selama 24 jam,

cara ini diulang sebanyak 3 kali. Saat dibiarkan pada suhu kamar, bakteri berspora yang
masih hidup akan berkecambah membentuk fase pertumbuhan / termolabil, sehingga
dapat dimatikan pada pemanasan berikutnya.
C

Peran Mikroba Dalam Transformasi Bahan Organik


Suatu bahan yang ditumbuhi oleh mikroba akan mengalami perubahan
susunan kimianya. Perubahan kimia yang terjadi ada yang dikenal sebagai fermentasi
(pengkhamiran) dan pembusukan (putrefaction). Fermentasi merupakan proses yang
menghasilkan alkohol atau asam organik, misalnya terjadi pada bahan yang
mengandung

karbohidrat.

Pembusukan

merupakan

proses

peruraian

yang

menghasilkan bau busuk, seperti pada peruraian bahan yang mengandung protein.
Pada tahun 1837, C. Latour, Th. Schwanndon, dan F. Kutzing secara
terpisah menemukan bahwa zat gula yang mengalami fermentasi alkohol selalu
dijumpai adanya khamir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan gula menjadi
alkohol dan CO2 merupakan fungsi fisiologis dari sel khamir tersebut. Teori biologis
ini ditentang oleh Jj.Berzelius, J. Liebig, dan F. Wahler. Mereka berpendapat bahwa
fermentasi dan pembusukan merupakan reaksi kimia biasa. Hal ini dapat dibuktikan
pada tahun 1812 telah berhasil disintesa senyawa organik urea dari senyawa anorganik.
Pasteur banyak meneliti tentang proses fermentasi (1875-1876). Suatu saat
perusahaan pembuat anggur dari gula bit, menghasilkan anggur yang masam.
Berdasarkan pengamatannya secara mikroskopis, sebagian dari sel khamir diganti
kedudukannya oleh sel lain yang berbentuk bulat dan batang dengan ukuran sel lebih
kecil. Adanya sel-sel yang lebih kecil ini ternyata mengakibatkan sebagian besar proses
fermentasi alkohol tersebut didesak oleh proses fermentasi lain, yaitu fermentasi asam
laktat. Dari kenyataan ini, selanjutnya dibuktikan bahwa setiap proses fermentasi
tertentu disebabkan oleh aktivitas mikroba tertentu pula, yang spesifik untuk proses
fermentasi tersebut. Sebagai contoh fermentasi alkohol oleh khamir, fermentasi asam
laktat oleh bakteri Lactobacillus, dan fermentasi asam sitrat oleh jamur Aspergillus.

D Penemuan Kehidupan Anaerob


Selama meneliti fermentasi asam butirat, Pasteur menemukan adanya proses
kehidupan yang tidak membutuhkan udara. Pasteur menunjukkan bahwa jika udara
dihembuskan ke dalam bejana fermentasi butirat, proses fermentasi menjadi terhambat,

bahkan dapat terhenti sama sekali. Dari hal ini kemudian dibuat 2 istilah, (1) kehidupan
anaerob, untuk mikroba yang tidak memerlukan Oksigen, dan (2) kehidupan aerob,
untuk mikroba yang memerlukan Oksigen.
Secara fisiologis adanya fermentasi dapat digunakan untuk mengetahui
beberapa hal. Oksigen umumnya diperlukan mikroba sebagai agensia untuk
mengoksidasi senyawa organik menjadi CO2. Reaksi oksidasi tersebut dikenal sebagai
respirasi

aerob,

yang

menghasilkan

tenaga

untuk

kehidupan

jasad

dan

pertumbuhannya. Mikroba lain dapat memperoleh tenaga dengan jalan memecahkan


senyawa organik secara fermentasi anaerob, tanpa memerlukan Oksigen. Beberapa
jenis mikroba bersifat obligat anaerob atau anaerob sempurna. Jenis lain bersifat
fakultatif anaerob, yaitu mempunyai dua mekanisme untuk mendapatkan energi. Apabila
ada Oksigen, energi diperoleh secara respirasi aerob, apabila tidak ada Oksigen energi
diperoleh secara fermentasi anaerob. Pasteur mendapatkan bahwa respirasi aerob
adalah proses yang efisien untuk menghasilkan energi.

E Penemuan Enzim
Menurut Pasteur, proses fermentasi merupakan proses vital untuk kehidupan.
Pendapat tersebut ditentang oleh Bernard (1875), bahwa khamir dapat memecah gula
menjadi alkohol dan CO2 karena mengandung katalisator biologis dalam selnya.
Katalisator biologis tersebut dapat diekstrak sebagai larutan yang tetap dapat
menunjukkan kemampuan fermentasi, sehingga fermentasi dapat dibuat sebagai proses
yang tidak vital lagi (tanpa sel).
Pada tahun 1897, Buchner dapat membuktikan gagasan Bernard, yaitu pada
saat menggerus sel khamir dengan pasir dan ditambahkan sejumlah besar gula, terlihat
dari campuran tersebut dibebaskan CO2 dan sedikit alkohol. Penemuan ini membuka
jalan ke perkembangan biokimia modern. Akhirnya dapat diketahui bahwa pembentukan
alkohol dari gula oleh khamir, merupakan hasil urutan beberapa reaksi kimia, yang
masing-masing dikatalisir oleh biokatalisator yang spesifik atau dikenal sebagai enzim.

G. Mikroba Penyebab Penyakit


Pasteur menggunakan istilah khusus untuk mengatakan kerusakan pada
minuman anggur oleh mikrobia, yaitu disebut penyakit Bir. Ia juga mempunyai dugaan
kuat tentang adanya peran mikroba dalam menyebabkan timbulnya penyakit pada jasad
tingkat tinggi. Bukti-buktinya adalah dengan ditemukannya jamur penyebab penyakit

pada tanaman gandum (1813), tanaman kentang (1845), dan penyakit pada ulat sutera
serta kulit manusia.
Pada tahun 1850 diketahui bahwa dalam darah hewan yang sakit antraks,
terdapat bakteri berbentuk batang. Davaine (1863-1868) membuktikan bahwa bakteri
tersebut hanya terdapat pada hewan yang sakit, dan penularan buatan menggunakan
darah hewan yang sakit pada hewan yang sehat dapat menimbulkan penyakit yang
sama. Pembuktian bahwa antraks disebabkan oleh bakteri dilakukan oleh Robert Koch
(1876), sehingga ditemukan postulat Koch yang merupakan langkah-langkah untuk
membuktikan bahwa suatu mikroba adalah penyebab penyakit.
Postulat Koch dalam bentuk umum adalah sebagai berikut:
1. Suatu mikroba yang diduga sebagai penyebab penyakit harus ada pada setiap
tingkatan penyakit.
2. Mikroba tersebut dapat diisolasi dari jasad sakit dan ditumbuhkan dalam bentuk
biakan murni.
3. Apabila biakan murni tersebut disuntikkan pada hewan yang sehat dan peka, dapat
menimbulkan penyakit yang sama.
4. Mikrobia dapat diisolasi kembali dari jasad yang telah dijadikan sakit tersebut.

H. MIKROBIOLOGI RUMEN
Jamur Rumen
Sebagaimana diuaraikan oleh Trinci et al. (1994) bahwa awal penemuan jamur
rumen ini melalui sejarah panjang yaitu saat Braune (1913) dan Hsuing (1930)
mendiskripsi Callimastix frontalis dan C. equi sebagai protozoa. Mikroba yang
pertama kali diisolasi dari caecum kuda ini memiliki polyflagella dan dikelompokkan
ke dalam satu genus dengan parasit copepoda air tawar, sedangkan C. jolepsi
ditemukan di dalam tubuh keong air tawar. Jenis lain yang ditemukan di dalam rumen
serta memiliki monoflagella dikelompokkan ke dalam genus Piromonas dan
Sphaeromonas. Namun Weissenberg (1950) berkesimpulan bahwa C. cyclopsis
mungkin bukan dari jenis protozoa melainkan adalah spora kembara (zoospora) dari
jamur. Pendapat ini didukung oleh Vavra dan Joyon (1966) ketika mereka
menemukan bagian vegetatip jamur yang berupa thallus. Oleh karena itu Vavra dan
Joyon mengelompokkan jenis yang memiliki poliflagella, Callimastix frontalis
kedalam genus baru protozoa Neocallimastix dan memberikan nama Neocallimastix
frontalis. Sampai dengan tahun 1977 jamur rumen masih belum banyak menarik

perhatian para ahli untuk menelitinya. Clarke (1977) misalnya dalam salah satu bab
yang berjudul The Gut and Its Microorganisms hanya menyebut ragi (yeast) dan
kapang (moulds) sebagai jamur dan dijumpai rumen. Demikian pula disebutkan
bahwa kedua jenis jamur tersebut hanya lewat/singgah (transients) di saluran
pencernaan hewan ruminansia. Hal ini dibuktikan bahwa pembiakan kedua jenis
jamur tersebut dengan simulator kondisi di dalam rumen tidak menghasilkan
pertumbuhan.
I

MIKROBIOLOGI MAKANAN
Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang
yang

sangat

penting

dalam biologi setelah Louis

Pasteur dapat

menjelaskan

proses fermentasi anggur (wine) dan membuat vaksin rabies. Perkembangan biologi yang
pesat pada abad ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan landasan bagi
terbukanya bidang penting lain seperti biokimia.Penerapan mikrobiologi pada masa kini
masuk berbagai bidang dan tidak dapat dipisahkan dari cabang lain karena diperlukan
juga dalam bidang farmasi, kedokteran, pertanian, ilmu gizi, teknik kimia, bahkan
hingga astrobiologi dan arkeologi.
Orang pertama yang melihat bakteri adalah Antoni van Leeuwenhoek (16321723), seorang pembuat mikroskop amatir berkebangsaan Belanda. Pada tahun 1684, van
Leeuwenhoek menggunakan mikroskop yang sangat kecil hasil karyanya sendiri untuk
mengamati berbagaimikroorganisme dalam bahan alam. Mikroskop yang digunakan
Leeuwenhoek kala itu berupa kaca pembesar tunggal berbentuk bikonveks dengan
spesimen yang diletakkan di antara sudut apertura kecil pada penahan logam. Alat itu
dipegang dekat dengan mata dan objek yang ada di sisi lain lensa disesuaikan untuk
mendapatkan fokus. Dengan alat itulah, Leewenhoek mendapatkan kontras yang sesuai
antara bakteri yang mengambang dengan latar belakang sehingga dapat dilihat dan
dibedakan dengan jelas. Beliau menemukan bakteri di tahun 1676 saat mempelajari
infusi lada dan air (pepper-water infusion). Van Leeuwenhoek melaporkan temuannya itu
lewat

surat

pada

Royal

Society

of

London,

yang

dipublikasikan

dalam

bahasaInggris pada tahun 1684. Ilustrasi van Leewenhoek tentang mikroorganisme


temuannya dikenal dengan nama "wee animalcules".

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/6670799/Kumpulan_Materi_Biologi
https://www.academia.edu/6711717/TUGAS_EPID_742014
https://www.academia.edu/8253549/MIKROBIOLOGI_TERAPAN