Anda di halaman 1dari 8

111Equation Chapter 1 Section 1AKTIVITAS ZAT RADIOAKTIF

Fitri Ramadhani*, Usman Sambiri, Risnawati Ticia, Muh Sugiarto, Minarti Usman, Ahmad Swandi
Laboratorium Fisika Modern Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Negeri Makassar
Abstrak. Percobaan Aktivitas Zat Radioaktif dirancang untuk menyelidiki karakteristik pancaran radioaktivitas
zat radioaktif, menyelidiki dan membandingkan daya tembus sinar dan , menyelidiki kemampuan bahan
dalam menyerap radiasi, serta menyeldiki hubungan antara jarak sumber radioaktif dengan aktivitas sumber.
Percobaan ini memerlukan tabung GM, ratemeter, komputer, sumber radioaktif, sampel holder, beberapa bahan
penyerap dengan tebal yang berbeda, dan mikrometer sekrup. Adapun prosedur umum praktikum ini yaitu
penyetelan alat, pengaktifan program pada komputer, penentuan sumber radioaktif dan hasil cacahannya,
pengolahan data. Berdasarkan analisis data diperoleh koefisien daya tembus radiasi untuk penghalang
Pb dan Al secara berturut-turut yaitu |1.03 0.37|, |1.22 0.034, |0.45 0.28|, |0.95 0.12|, |0.18
0.0032|, dan |0.73 0|. Melalui percobaan ini disimpulkan bahwa jenis sumber radiasi memiliki aktivitas yang
berbeda dan yang lebih aktif dari ketiga sumber tersebut adalah sinar , sinar kemudian sinar , sumber
radiasi yang memiliki daya tembus yang paling besar adalah sumber radiasi sinar dan daya tembus yang paling
kecil adalah sinar dan aktivitas sumber , , dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber.

KATA KUNCI: daya tembus sumber radioaktif, hukum kebalikan kuadrat, radioaktivitas
PENDAHULUAN
Praktikum aktivitas zat radioaktif ini
bertujuan untuk menyelidiki karakteristik
pancaran radioaktivitas beberapa zat radioaktif,
menyelidiki dan membandingkan daya tembus
sinar , , dan , menyelidiki kemampuan
berbagai material (bahan) dalam menyerap
radiasi, serta menyeldiki hubungan antara
jarak sumber radioaktif dengan aktivitas
sumber.
Pada tahun 1896, Antoni Henri
Becquerel
ahli
fisika
dari
perancis
mengumumkan penemuan radioaktivitas. Pada
tahun 1895 sinar x telah diketemukan oleh
Roentgen dan diketahui bawha sinar X berasal
dari dinding-dinding tabung lucutan yang
terpendar sehingga diduga bahwa fluorisensi
dan fossforisensi
merupakan penyebab
terjadinya sinar x. Becquerel mengetahui
bahwa garam uranium bercahaya bilamana
terkena cahaya matahari , dan ia telah
mendengar bahwa radiasi-radiasi berfosfor dari
garam-garam teraktivasi ini dapat menemmbua
benda-benda gelap . dengan mempelajari efek
efek ini ia menemukan bahwa radiasi-radiasi
uranium teraktivasi cahaya dapat membentuk
bayang-bayang benda logam pada pelat-pelat
fotografis yang terbungkus kertas hitam,
penemuan Becquerel tersebut menunjukkan
bahwa radiasi yang berasal dari uranium tetap
terjadi meskipun uranium ini tidak tereksitasi
oleh cahaya. Ia juga menemukan bahwa

uranium yang telah diproteksi selama berbulan


bulan masih tetap memancarkan radiasi tanpa
pelemahan yang dapat teramati. Ia mengakui
bahwa kemiripan penemuannya dengan
penemuan sinar x dam ia menemukan bahwa
jenis radiasi baru ini dapat melucuti bendabenda bermuatan listrik. Ia menyadari bahwa
radiasi ini tidak bisebabkan oleh fluorisensi
melainkan dari sumber uranium itu sendiri.[1]
Pentingnya melakukan praktikum ini
karena fenomena dan gejala dari aktivitas zat
radioaktif dapat diperlihatkan dan dianalisis
secara langsung. Adapun metode dan
gambaran umum dari praktikum ini yaitu
penyetelan alat, pengaktifan program pada
komputer, penentuan sumber radioaktif dan
hasil cacahannya, pengolahan data.
TEORI
Radioaktivitas adalah kemampuan inti
atom yang tak stabil untuk memancarkan
radiasi dan berubah menjadi inti yang stabil.
Proses perubahan ini disebut peluruhan, dan
inti atom yang tak stabil disebut radionuklida.
Materi yang mengandung radionuklida disebut
zat radioaktif. Radioaktivitas melibatkan
transmutasi unsur-unsur. Peristiwa pemancaran
sinar-sinar radioaktif dari sebuah inti atom
yang tidak mantap secara spontan disebut
radioaktivitas. Gejala radiokativitas sangat
berperan dalam pengembangan Fisika nuklir.

Detektor Geiger Muller adalah alat


pencacah radiasi yang berfungsi untuk
mendeteksi dan mencacah radiasi. Detektor
Geiger terdiri dari tabung silinder yang pada
pusatnya memanjang dipasang kawat anoda
dan pada selubung silinder bagian dalam
dipasang kulit sebagai katoda. Detektor Geiger
Muller berfungsi untuk menentukan atau
mencacah banyaknya radiasi sinar radioaktif.
Cara kerja dari detektor Geiger Muller adalah
mendeteksi radiasi dari suatu sumber atau
bahan radioaktif. [1]
Inti radioaktif adalah inti yang
memancarkan sinar radiokatif (sinar , , atau
). Akibat pemancaran sinar ini, inti radioaktif
makin lama makin kecil (meluruh). Laju
perubahan inti radioaktif dinamakan aktifitas
inti. Semakin besar aktifitasnya semakin
banyak inti atom yang meluruh tiap detiknya
(catatan aktifitas hanya berhubungan dengan
jumlah peluruhan tiap detik, tidak tergantung
pada sinar apa yang dipancarkan).
Satuan
aktifitas
inti
adalah
curie;
10
1 curie (Ci) = 3,7 x 10 peluruhuan /detik.
Salah satu sifat unik yang dimilikioleh
atom adalah kemampuannya bertransformasi
secara spontan dari suatu inti dengan nilai Z
dan N tertentu menjadi inti yang lain. Peristiwa
ini disebut dengan peluruhan. Sifat seperti ini
dimiliki oleh inti yang tidak stabil dan disebut
inti yang bersifat radioaktif. Ada tiga jenis
radiasi yang mungkin dipancarkan dalam
sebuah peristiwa peluruhan, yaitu radiasi sinar
, dan . [2]
Peluruhan bahan radioaktif memiliki
karakteristik yang aneh. Selain bahwa
peristiwa ini tidak dapat dideteksi oleh panca
indera, proses peluruhan ini juga terjadi secara
acak, walaupun masih dapat diperkirakan. Saat
terjadi peluruhan, maka akan terpancarkan
radiasi sinar radioaktif, yaituradiasisinar ,
dan . Radiasi ini mempunyai kemampuan
menembus bahan yang berbeda-beda untuk
setiap jenisnya. Daya tembus radiasi ini
umumnya memenuhi persamaan.

I t =I o . et .(1)
dimana, I t = aktifitas zat radioaktif tanpa
penghalang, I o = aktifitas zat radioaktif
tanpa penghalang, t
=
tebal bahan
penghalang, = koefisien daya tembus
bahan. [3]

Jika peluang untuk meluruh disebut


tetapan paluruhan (lambang ), maka aktivitas
bahan bergantung pada banyak inti radioaktif
dalam bahan (N) dan . Secara matematis
ditulis
A = N..(2)
Tetapan peluruhan memiliki harga
berbeda untuk inti yang berbeda tetapi konstan
terhadap waktu. Makin banyak inti yang
meluruh per satuan waktu, makin besar A.
Secara matematis dinyatakan oleh
A = - dNdt ....(3)
Tanda negatif kita berikan karena
Neutron berkurang terhadap waktu, sedang
kita menginginkan atom berharga positif.
Hukum peluruhan radioaktif
N = N0e-t...(4)
Dengan N0 = banyak inti radioaktif saat t= 0 ,
N = banyak inti pada selang waktu t, e =
bilangan natural = 2,718, = tetapan
peluruhan (satuan s-1). Banyaknya inti induk
dalam suatu contoh berkurang secara
eksponensial terhadap waktu.
Kita tidak dapat mengukur banyaknya
inti radioaktif Neutron, tetapi kita dapat
menyatakan dalam persamaan aktivitas, yaitu
dengan menggalikan kedua ruasnya dengan
sehingga memberikan
N = N0e-t ..(5)
aktivitas radioaktif
A = A0e-t ..(6)
Dengan A0 = aktivitas awal pada t = 0, A =
aktivitas setelah selang waktu t. [4]
Pada litosfer, banyak terdapat inti
radioaktif yang sudah ada bersamaan dengan
terjadinya bumi, yang tersebar secara luas dan
disebut radionuklida alam. Radionuklida alam
banyak terkandung dalam berbagai macam
materi dalam lingkungan, misalnya dalam air,
tumbuhan, kayu, bebatuan, dan bahan
bangunan. Radionuklida primordial dapat
ditemukan juga di dalam tubuh manusia.
Radiasi dari sinar radioaktif memang dapat
memberikan dampak yang buruk bagi tubuh,
antara lain dapat terjadi mutasi gen karena
akan terjadi perubahan struktur zat serta pola

reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh


makhluk hidup sehingga makhluk
hidup
dapat mengalami kecacatan fisik. [5]
METODOLOGI EKSPERIMEN
Pada percobaan aktivitas zat radioaktif
ada beberapa alat yang digunakan yaitu tabung
Geiger-Muller atau GM tube, ratemeter,
komputer, sumber radioaktif ( sumber sinar
, , dan sinar ), sampel holder, beberapa
bahan penyerap dengan tebal yang berbeda,
dan mikrometer sekrup.
Perlu diperhatikan tegangan operasional
(tegangan kerja) pada detektor GM tersebut
agar detektor berfungsi dengan baik. Tegangan
kerja alat ini dapat dipilih dalam rentang
tegangan pada daerah plateau yaitu 400 volt
900 volt. Daerah ini disebut daerah discharge.
Jadi agar detektor ini bekerja dengan baik dan
aman, pilihlah tegangan kerja sekitar 500 volt
atau 25% di sekitar daerah bawah plateau.
Selanjutnya menyalakan ratemeter dengan
memutar tombol ratemeter dari posisi off ke
posisi HV dan aktifkan program radiation
detection pada komputer. Kemudian memutar
tombol pengatur tegangan pada ratemeter
sampai diperoleh penunjukan tegangan 500
volt pada skala ratemeter. kemudian pada
program radiation detector di komputer,
kemudian pilih com 1 lalu tekan enter dan pilih
count pada layar dan tekan enter. Menekan
tombol ESC pada keyboard komputer untuk
kembali ke scaler. Menekan tombol F1 untuk
mengisi waktu pencacahan (misalnya 1 sekon
atau 2 sekon), kemudian enter. Dan menekan
F2 untuk mengisi jumlah data yang diinginkan
(misalnya 30 kali).
Untuk kegiatan pertama yaitu mengenal
aktifitas zat radioaktif langkah pertama yaitu
memastikan komputer telah dalam keadaan
siap merekam data. Kemudian meletakkan
sumber latar belakang ( tanpa sumber radiasi)
pada rak sampel.kemudianmemutar tombol
HV ratemeter ke posisi count. Kemudian
menekan enter pada komputer agar cacahan
terekam pada komputer kemudian mencatat
hasil yang tertulis pada komputer ke dalam
tabel pengamatan kemudian mengulangi
langkah 1 sampai 5 untuk sumber radiasi beta
dan gamma.
Untuk kegiatan kedua yaitu mengukur
daya tembus sinar , , dan . Langkah
pertama yaitu komputer masih dalam program
radiation detection program dan posisi siap
merekam data. Kemudian meletakkan sumber

radiasi beta pada rak sampel dengan spesifikasi


SR 90 dan waktu paruh 28,6 y dan aktivitas
mula-mula 0.1 ci dengan jenis pengalang
timbal (Pb) dimulai dari penghalang yang
paling tipis (Pb 1, Pb 2, Pb 3) dengan terlebih
dahulu mengukur ketebalan penghalangpenghalang yang akan Anda gunakan dengan
menggunakan mikrometer. Kemudian memutar
tombol ratemeter ke posisi HV. memutar
secara perlahan tombol HV adjust sampai
jarum menunjukkan angka tegangan 500 V
kemudian memindahkan tombol ratemeter ke
posisi count lalu menekan tombol enter dan
mencatat hasil yang tampil pada komputer ke
dalam tabel pengamatan, mengulangi langkah
3 6 untuk bahan Pb2 dan Pb 3. Dan
mengulangi langkah 3 7 dengan mengganti
Pb dengan aluminium (Al1, Al2, Al3).
Selanjutnya mengulangi langkah 2 8 dengan
menggunakan sumber radiasi gamma dan alfa.
Untuk kegiatan ketiga yaitu hukum
kebalikan kuadrat langkah pertama yaitu
memastikan bahwa komputer dengan program
radiation detection dalam posisi siap merekam
data. Kemudian meletakkan sumberradiasi
beta pada rak sampel posisi 1. Terlebih dahulu
mengukur jarak sampel dari ujung tabung GM.Ratemeter dalam posisi HV. memutar secara
perlahan tombol HV adjust sampai jarum
menunjukkan angka tegangan 500 V
memindahkan tombol ratemeter ke posisi
count lalu menekan enter untuk memulai
pencacahan pada computer. Kemudian
mengulangi langkah 2 4 dengan mengubah
posisi rak sampel dari 1 ke 3, 5, dan 7.
mengulangi langkah 2-5 untuk sumber gamma
dan alfa. Mencatat hasilnya pada tabel
pengamatan.
HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISA
DATA
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan diperoleh data kemudian dianalisis
dengan memplot grafik, sehingga diperoleh
hasil sebagai berikut.

Sumber radiasi = Co60


Waktu paruh = 5,27 y
Aktivasi mula-mula = 1 ci
Kegiatan 1
8
6
4
2
0

Jenis penghalang = Pb dan Al


Nst mikrometer = 0,01 mm
3
2

standar deviasi

f(x) = - 0.04x + 2.18


cps rata-rata 1 R = 0.64
0
2 4 6 8 1012 1416

GAMBAR 1. Histogram dari sumber radiasi


beta, gamma dan latar belakang
Berdasarkan grafik di atas (kegiatan 1),
diperlihatkan sebuah histogram aktivitas dari
sumber radiasi beta, gamma dan sumber
radiasi latar belakang. Histogram tersebut
menjelaskan bahwa sumber radioaktif yang
memiliki keaktifan lebih tinggi yaitu sumber
radiasi latar belakang, disusul sumber radiasi
gamma dan sumber radiasi beta. Hasil yang
diperoleh tidak sesuai dengan teori dimana
seharusnya radiasi gamma memiliki keaktifan
yang paling tinggi. Hal ini kemungkinan
disebabkan
karena kurang cermatnya
praktikan dalam melakukan percobaan,
misalnya dalam hal peletakan sumber radiasi.
Kegiatan 2
Pada kegiatan ini digunakan 2 jenis
penghalang yaitu Pb dan Al dimana masingmasing ketebalan yang berbeda, dan 3 jenis
sumber radiasi. Berikut disajikan grafik
pengukuran daya tembus dari ketiga jenis
sumber radiasi.

Ketebalan (mm)

GAMBAR 2. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Pb) dengan cps rata-rata
sumber radiasi alfa

cps rata-rata

2
f(x) = - 0.14x + 2.31
R = 0.97
1.8
1.6
2 2.5 3 3.5 4 4.5
Ketebalan (mm)

GAMBAR 3. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Al) dengan cps rata-rata
sumber radiasi alfa
2

cps rata-rata

1.8f(x) = - 0.01x + 1.9


R = 0.37
1.6

Sumber radiasi = Po 210


Waktu paruh = 138 d
Aktivasi mula-mula =0,1 ci
Jenis penghalang = Pb dan Al
Nst mikrometer = 0,01 mm
Sumber radiasi = SR 90
Waktu paruh = 28,6 y
Aktivasi mula-mula = 0,1 ci
Jenis penghalang = Pb dan Al
Nst micrometer = 0,01 mm

10 15 20

Ketebalan (mm)

GAMBAR 4. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Pb) dengan cps rata-rata
sumber radiasi beta

6
4

f(x) = - 1.26x + 6.23


cps rata-rata 2
R = 0.87
0
1.5

2.5

3.5

Ketebalan (mm)

GAMBAR 5. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Al) dengan cps rata-rata
sumber radiasi beta

rata maka diperoleh nilai koefisien daya


tembus untuk setiap sumber radiasi, untuk
sumber radiasi dengan jenis penghalang Pb
sebesar = |1.03 37.6|, dan jenis penghalang
Al sebesar = |1.22 3.41| selanjutnya untuk
sumber radiasi dengan jenis penghalang Pb
sebesar = |0.45 28.5|, dan jenis
pengahalang Al sebesar = |0.95 12.42| dan
untuk sumber radiasi dengan jenis
penghalang Pb sebesar = |0.18 0.32| dan
jenispenghalang Al sebesar = |0.73 0|
Kegiatan 3

30
20
f(x) = - 0.42x + 21.59
cps rata-rata 10
R = 0.98
0
2 4 6 8 10121416
Ketebalan (mm)

GAMBAR 6. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Pb) dengan cps rata-rata
sumber radiasi gamma
21.6
f(x) = - 0.13x + 21.86
21.4
R = 1
cps rata-rata 21.2
21
2

Ketebalan (mm)

GAMBAR 7. Grafik hubungan antara


ketebalan penghalang (Al) dengan cps rata-rata
sumber radiasi gamma
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan
dengan memplot grafik data dapat dilihat
bahwa jenis sumber radiasi yang memiliki
daya tembus paling besar adalah sinar ,
kemudian sumber radiasi dan yang paling
kecil adalah sumber radiasi . Jadi dapat
dikatakan bahwa daya tembus dari masingmasing sumber radiasi dipengaruhi
oleh
ketebalan dari penghalangnya.
Dimana
semakin tebal bahan penghalang yang
digunakan maka semakin kecil daya
tembusnya, begitupun sebaliknya. Berdasarkan
grafik ketebalan penghalang dengan cps rata-

Pada kegiatan ini akan disajikan tabel analisis


terhadap hasil yang diperoleh
TABEL 1. Hubungan antara Jarak Sumber
dengan Aktivitas Sumber
Cps
Jarak
Jarak
Cps
Sumber
rata(D) kuadrat rataRadiasi
rata x
(cm)
(D2)
rata
D2
2.03
Alfa
1.00
1.00
2.03
20.7
3.00
9.00
2.30
58.3
5.00
25.00
2.33
118
7.00
49.00
2.40
29.9
Beta
1.00
1.00
29.9
3.00
9.00
9.10
81.9
5.00
25.00
6.13
153
7.00
49.00
4.50
221
Gamma 1.00
1.00
30.0
30.0
3.00
9.00
20.7
180
5.00
25.00 9.73
243
7.00
49.00 7.40
363
2.50
f(x) = 0.06x + 2.04
2.00R = 0.83
cps rata-rata
1.50
2.00
6.00
0.00
4.00
8.00
Jarak sumber radiasi (cm)

GAMBAR 8. Grafik hubungan antara jarak


sumber sinar alfa dengan cps rata-rata

40

40

20
cps rata-rata f(x) = - 3.96x + 28.24
R = 0.75
0
0.00

cps rata-rata

20

f(x) = 24.9x + 5.12


R = 0.99

0
5.00

10.00

Jarak sumber radiasi (cm)

GAMBAR 9. Grafik hubungan antara jarak


sumber sinar beta dengan cps rata-rata

0.5

1.5

1/D2

GAMBAR 12. Grafik hubungan antara


kebalikan jarak kuadrat dengan cps rata-rata
pada sumber radiasi beta

40
40
f(x) = - 3.94x + 32.73
20
cps rata-rata R = 0.95
0
0.00

5.00

cps rata-rata

f(x) = 19.32x + 11.31


20
R = 0.76
0

10.00

Jarak sumber radiasi (cm)

0.5

1.5

1/D2

GAMBAR 10. Grafik hubungan antara jarak


sumber sinar gamma dengan cps rata-rata
Pada kegiatan ini, juga disajikan grafik
hubungan antara kebalikan kuadrat jarak
dengan cps rata-rata dari ketiga sumber radiasi
tersebut. Berikut grafik hubungannya :
6.00

GAMBAR 13. Grafik hubungan antara


kebalikan jarak kuadrat dengan cps rata-rata
pada sumber radiasi gamma
Grafik terakhir yang disajikan adalah
hubungan antara jarak dari sumber radiasi
dengan cps rata-rata ke dalam bentuk
logaritma. Berikut grafik bentuk logaritmanya :

4.00
f(x) = - 2.07x + 3.97
cps rata-rata 2.00
R = 0.55
0.00

cps rata-rata
0

0.5

2.50
f(x) = 0.06x + 2.04
R = 0.83
2.00

1.5

1/D2

GAMBAR 11. Grafik hubungan antara


kebalikan jarak kuadrat dengan cps rata-rata
pada sumber radiasi alfa

1.50
012345678
Jarak sumber radiasi (cm)

GAMBAR 14. Grafik logaritma hubungan


antara cps rata-rata dengan jarak sumber sinar
alfa

40
20
cps rata-rata f(x) = - 3.96x + 28.24
R = 0.75
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Jarak sumber radiasi (cm)

GAMBAR 15. Grafik logaritma hubungan


antara cps rata-rata dengan jarak sumber sinar
beta
40
f(x) = - 3.94x + 32.73
20
cps rata-rata R = 0.95
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Jarak sumber radiasi (cm)

GAMBAR 16. Grafik logaritma hubungan


antara cps rata-rata dengan jarak sumber sinar
gamma
Dari grafik diatas, perilaku radiasi berdasarkan
hukum kebalikan kuadrat menunjukkan bahwa
semakin besar jarak kuadrat sumber radioaktif
maka aktivitas sumber akan semakin besar.
Sebaliknya, semakin kecil jarak kuadrat
sumber radioaktif maka aktivitas sumber ikut
mengecil.
SIMPULAN
Dari hasil praktikum dan analisis grafik yang
telah dilakukan, dapat dismpulkan bahwa: (1)
jenis sumber radiasi memiliki aktivitas yang
berbeda-beda dan yang lebih aktif dari ketiga
sumber tersebut adalah sinar , sinar
kemudian sinar . (2) sumber radiasi yang
memiliki daya tembus yang paling besar
adalah sumber radiasi sinar dan daya tembus
yang paling kecil adalah sinar . (3) Aktivitas
sumber , , dan berbanding terbalik dengan
kuadrat jarak sumber .
REFERENSI
[1] Sumardi Yos, 1994. Fisika Modern. Jakarta:
Universitas Terbuka

[2] Subaer, dkk. 2013. Penuntun Praktikum


Eksperimen Fisika I Unit Laboratorium Fisika
Modern Jurusan Fisika FMIPA UNM
[3] Kenneth S. Krane. 1992. Fisika Modern.
Jakarta: UI-Press
[4] (http://atophysics.wordpress.com). Diakses
pada tanggal 02 November 2013 di Makassar.
[5](http://bertiemargaretha.blogspot.com).
Diakses pada tanggal 02 November 2013 di
Makassar.