Anda di halaman 1dari 26

Laporan Akhir

BAB III
ANALISIS HIDROLOGI
3.1.

UMUM

Analisis hidrologi secara umum dilakukan guna mendapatkan karakteristik hidrologi dan
meteorologi Daerah Aliran Sungai (DAS), dimana dalam pekerjaan ini adalah DAS untuk
Boyo. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui karakteristik hujan, debit atau potensi air
yang akan digunakan sebagai dasar dalam analisis selanjutnya, yaitu perhitungan debit
andalan dan debit banjir rancangan untuk keperluan perencanaan maupun desain bangunan
berupa bendungan atau embung beserta bangunan penunjang lainnya.
Kondisi iklim di daerah studi mempunyai karakteristik temperatur tinggi, kelembaban udara
tinggi dan curah hujan sedang sampai tinggi. Temperatur rata-rata sekitar 25C ~ 27C dan
kelembaban udara relatif rata-rata 80% ~ 85%. Data klimatologi yang digunakan adalah
data yang tercatat di Stasiun terdekat dengan lokasi kegiatan yaitu Sta. Klimatologi
Semarang.
Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) dilakukan berdasar pada peta topografi skala 1 :
25.000 (Bakosurtanal, 2001) serta data maupun peta-peta hasil studi terdahulu yang ada.
Deskripsi DAS untuk masing-masing tinjauan dapat dilihat pada uraian dan gambar berikut
ini.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Daerah Aliran Sungai


Nama Sungai
Luas DAS & Panjang Sungai
Kemiringan sungai rerata
Tata Guna Lahan
Kemiringan lahan

:
:
:
:
:
:

DAS Boyo (keseluruhan)


S. Boyo
A = 153,41 Km2
2,5 %
Semak belukar, hutan, tegalan dan sawah
2~ 40 %

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Daerah Aliran Sungai


Nama Sungai
Luas DAS & Panjang Sungai
Kemiringan sungai rerata
Tata Guna Lahan
Kemiringan lahan

:
:
:
:
:
:

DAS Boyo (Rencana Bendungan Kedunglanggar)


S. Boyo
A = 74,01 Km2
3,5 %
Semak belukar, hutan, tegalan dan sawah
2 ~ 40 %

III - 1

Laporan Akhir

Lokasi Rencana
Bendungan Kedunglanggar

Gambar 3.1. Peta DAS Boyo

III - 2

Laporan Akhir

3.2.

ANALISIS CURAH HUJAN

a) Data Curah Hujan


Data untuk analisis hidrologi yang tersedia cukup lengkap adalah data curah hujan harian,
debit limpasan bendung dan AWLR. Sehingga untuk mengetahui potensi aliran (debit) baik
aliran rendah (debit andalan) maupun aliran tinggi (debit banjir) dilakukan melalui
perhitungan secara empiris dengan menggunakan data hujan yang dikontrol/kalibrasi
dengan data debit sungai berdasarkan pencatatan limpasan bendung dan AWLR.
Data hujan yang digunakan dalam analisis adalah hasil pencatatan curah hujan harian di
stasiun terdekat yang mewakili yaitu Sta. Bandar (No. 13a), Sta. Blado dan Sta.
Wonotunggal dengan periode pencatatan selama 15 tahun yaitu mulai Januari 1997 hingga
Desember 2011.
b) Curah Hujan Rerata
Besarnya curah hujan rata-rata daerah dihitung dengan rata-rata aljabar. Dalam analisis
curah hujan diperlukan data lengkap dalam arti kualitas dan panjang periode data. Apabila
data curah hujan ada yang hilang dikarenakan sesuatu hal atau dianggap kurang panjang
jangka waktu pencatatannya akan diantisipasi dengan menggunakan Metode Reciprocal,
dimana metode ini menggunakan data curah hujan referensi dengan mempertimbangkan
jarak stasiun yang akan dilengkapi datanya dengan stasiun referensi tersebut.
Sesuai dengan kondisi yang ada, maka data curah hujan yang digunakan dalam pekerjaan ini
diambil dari dua stasiun seperti disebutkan diatas. Sedangkan periode pencatatan data yang
ada cukup panjang yaitu selama 15 tahun.
3.3.

DEBIT ANDALAN

Debit debit andalan merupakan debit tersedia yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
air. Debit ini digunakan untuk analisis kesetimbangan air ataupun simulasi operasi
tampungan waduk untuk pemanfaatan airnya. Salah satu metode yang digunakan untuk
perhitungan debit andalan adalah menggunakan distribusi frekuensi.
Debit bulanan yang digunakan untuk analisis dihitung berdasarkan perhitungan/simulasi
metode FJ Mock yang dikalibrasi dengan menggunakan data debit dari AWLR.
Berkaitan dengan rencana penyediaan air untuk berbagai kepentingan, maka akan dipilih
debit andalan dengan probailitas 80% sebagai dasar perancangan yang secara teknis dapat
dilakukan dengan mengunakan metode distribusi frekuensi atau basic month.
Hasil analisis debit andalan dengan menggunakan data debit hasil simulasi metode FJ Mock
diatas disajikan pada tabel dan gambar berikut ini.

III - 3

Laporan Akhir

Tabel 3.1. Debit Bulanan Sungai Boyo (Total) hasil Perhitungan Metode FJ Mock

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

III - 4

Laporan Akhir

Gambar 3.2. Grafik Debit Aliran Bulanan Sungai Boyo (Total) hasil Simulasi Metode FJ Mock

III - 5

Laporan Akhir

Tabel 3.2. Debit Bulanan Sungai Boyo (Bendungan Kedunglanggar) hasil Perhitungan Metode FJ Mock

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

III - 6

Laporan Akhir

3.4.

DEBIT BANJIR RANCANGAN

Secara praktis besaran debit banjir rancangan yang akan digunakan untuk perencanaan
bangunan dalam hal ini adalah QPMF untuk bendungan dan Q100 untuk embung.
Pertimbangan yang digunakan untuk menentukan kala ulang tersebut didasarkan pada tipe
pekerjaan, kondisi penduduk, tingkat strategis kewilayahan dan tingkat kepentingan.
Perancangan kala ulang (return period) suatu debit banjir pada prinsipnya berlandaskan
pada teori kemungkinan lebih, sehingga bila terjadi debit banjir tertentu melebihi rancangan
maka prasarana yang dibangun tidak akan mampu berfungsi seperti yang diharapkan.
Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan kala ulang prasarana
pengairan, meliputi aspek teknis dan non teknis antara lain sebagai berikut:
a) Kepentingan, manfaat utama dan masa guna prasarana.
b) Tingkat resiko yang mungkin terjadi berkaitan dengan kepentingan pengguna.
c) Pertimbangan biaya berdasarkan analisa ekonomi.
d) Pengelompokan pelaksanaan konstruksi, bangunan baru, rehabilitasi dan perbaikan.
e) Penduduk dan daerah yang mendapatkan manfaat atau diproteksi.
Dalam kegiatan ini, analisis debit banjir rancangan dilakukan secara empiris menggunakan
data curah hujan yang hasilnya dibandingkan dengan data debit limpasan bendung
Kedunglanggar dan data debit dari AWLR. Data yang ada di Bendung Kedunglanggar
adalah berupa data pencatatan limpasan diatas mercu Bendung Kedunglanggar, dimana
pencatatannya kurang akurat karena bentuk mercu bendung di bagian tengahnya terdapat
lubang yang tidak terkontrol dan dicatat alirannya. Sedangkan data debit yang masuk ke
saluran irigasi juga tidak tercatat dan tidak terkontrol karena pintu rusak. Sehingga data
debit yang tercatat hanya melalui limpasan saja yang tentunya lebih kecil dari debit sungai
yang sesungguhnya.
3.4.1. Curah Hujan Harian Maksimum
Transformasi curah hujan rancangan menjadi debit banjir rancangan diperlukan curah hujan
jam-jaman. Pada umumnya data hujan yang tersedia pada suatu stasiun meteorologi adalah
data hujan harian, artinya data yang tercatat secara komulatif selama 24 jam. Apabila tesedia
data hujan otomatis (Automatic Rainfall Recorder, ARR) maka pola distribusi hujan jamjaman dapat dibuat dengan menggunakan metode kurva massa untuk setiap kejadian hujan
lebat dengan mengabaikan waktu kejadian.
Data hujan yang diperoleh dan akan digunakan untuk perhitungan debit banjir rancangan
selanjutnya adalah berupa data hujan harian maksimum dari tiga (3) stasiun yang mewakili
yaitu, Sta. Bandar (No. 13a), Sta. Blado dan Sta. Wonotunggal dengan periode pencatatan
selama 15 tahun yaitu mulai Januari 1997 hingga Desember 2011. Data hujan tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
III - 7

Laporan Akhir

Tabel 3.3. Data Curah Hujan Harian Maksimum di DAS Boyo


No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Curah Hujan
(mm)
178,00
120,00
148,67
107,33
77,00
210,33
110,33
121,33
113,33
203,00
148,33
117,33
112,67
158,00
133,33

Hujan bulanan
(mm)
1219,33
536,67
708,00
800,00
520,67
1478,33
808,33
876,33
650,67
1022,67
793,33
1009,67
768,67
577,00
761,67

Sumber : Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Batang

3.4.2. Analisis Frekuensi


Hujan rancangan merupakan kemungkinan curah hujan yang terjadi dalam kala ulang
tertentu sebagai hasil dari suatu rangkaian analisis hidrologi yang biasa disebut analisis
frekuensi curah hujan.
Analisis frekuensi ini dilakukan dengan menggunakan teori distribusi probabilitas yang
sering digunakan, yaitu antara lain distribusi Gumbel, Normal, Log Normal dan Log
Pearson type III. Untuk menggunakan sebaran yang akan digunakan dalam analisis
frekuensi, maka dilakukan penentuan parameter statistik yang sesuai.
a). Penentuan Jenis Sebaran
Untuk menggunakan sebaran yang akan digunakan dalam analisis frekuensi, maka
dilakukan penentuan parameter statistik yang sesuai.
Secara sistematis perhitungan hujan rancangan ini dilakukan secara berurutan sebagai
berikut.
- Penentuan Parameter Statistik
- Pemilihan Jenis Sebaran
- Perhitungan Hujan Rancangan
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan seperti disajikan dalam tabel dibawah ini,
diperoleh kesimpulan bahwa jenis sebaran yang sesuai adalah Pearson Type III.

III - 8

Laporan Akhir

Tabel 3.4. Hasil Perhitungan Parameter Statistik


No.

Tahun

1
2002
2
2006
3
1997
4
2010
5
1999
6
2007
7
2011
8
2004
9
1998
10
2008
11
2005
12
2009
13
2003
14
2000
15
2001
Jumlah
Rerata
Maksimum
Minimum
Standar Deviasi
(Stdev)
Skewness (Cs)
Koefisien Kurtosis
(Ck)

Curah Hujan (Xi)


(mm)
210,33
203,00
178,00
158,00
148,67
148,33
133,33
121,33
120,00
117,33
113,33
112,67
110,33
107,33
77,00
2059,000
137,267
210,333
77,000
37,223
0,707
-0,010

Pemilihan Jenis Sebaran :


Distribusi
Normal
-0.05 < Cs <
0.05
2,7 < Ck <
3,3

Distribusi
Gumbel

Ck > 5,4002

-0.05 < Cs <


0.05
tidak memenuhi
2,7 < Ck <
3,3
tidak memenuhi

Distribusi
Log Pearson

Distribusi
Iwai - Kadoya

Cs > 1.1395
tidak memenuhi

tidak ada batasan

tidak ada
batasan

Ck > 5,4002
tidak memenuhi

tidak ada batasan

tidak ada
batasan

Cs > 1.1395

Sumber : Sriharto, 1993:245

b). Perhitungan Hujan Rancangan

III - 9

Laporan Akhir

Sesuai dengan jenis sebaran yang terpilih tersebut (metode Log Pearson III), maka
dapat dihitung curah hujan rancangannya. Hasil perhitungan curah hujan rancangan
selengkapnya disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.5. Perhitungan Curah Hujan Rancangan


No.

Tahu
n

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

2002
2006
1997
2010
1999
2007
2011
2004
1998
2008
2005
2009
2003
2000
2001

Curah
Hujan (Xi)
(mm)
210,33
203,00
178,00
158,00
148,67
148,33
133,33
121,33
120,00
117,33
113,33
112,67
110,33
107,33
77,00

Jumlah
Rerata
Maksimu
m
Minimum
Standar Deviasi
(Stdev)
Skewness
(Cs)
Koefisien Kurtosis
(Ck)

Log
Xi

Log Xi-Log
Xrt

(Log Xi-Log
Xrt)2

(Log Xi-Log
Xrt)3

Probabili
ty

2,323
2,307
2,250
2,199
2,172
2,171
2,125
2,084
2,079
2,069
2,054
2,052
2,043
2,031
1,886
31,84
7
2,123

0,1998
0,1844
0,1273
0,0756
0,0491
0,0481
0,0018
-0,0391
-0,0439
-0,0537
-0,0687
-0,0713
-0,0804
-0,0924
-0,2366

0,0399
0,0340
0,0162
0,0057
0,0024
0,0023
0,0000
0,0015
0,0019
0,0029
0,0047
0,0051
0,0065
0,0085
0,0560

0,0080
0,0063
0,0021
0,0004
0,0001
0,0001
0,0000
-0,0001
-0,0001
-0,0002
-0,0003
-0,0004
-0,0005
-0,0008
-0,0132

6,25
12,50
18,75
25,00
31,25
37,50
43,75
50,00
56,25
62,50
68,75
75,00
81,25
87,50
93,75

0,000

0,188

0,001

2,323
1,886
0,116
0,076
0,123

Sumber : Hasil Perhitungan

Jumlah data
Cs
Log X
Log X rt
StDev

No.
1

Periode
Ulang
( tahun )
1,01

=
=
=

15
0,08
Log Xrt + G.S

=
=

2,123
0,116
G
(tabel)
-2,271

Log X
1,860

Xt
(mm)
72,48

Probability
99,01

III - 10

Laporan Akhir

2
3
4
5
6
7
8
9
10

2
5
10
20
25
50
100
200
1000

-0,013
0,837
1,290
1,615
1,777
2,094
2,383
2,648
3,200

2,122
2,220
2,272
2,310
2,329
2,366
2,399
2,430
2,494

132,31
165,99
187,26
204,20
213,24
232,07
250,61
268,95
311,63

50,00
20,00
10,00
5,00
4,00
2,00
1,00
0,50
0,10

Tabel 3.6. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Curah Hujan Rancangan


No.

( tahun )

Log Pearson Type


III
(mm)

1,01
2
5
10
20
25
50
100
200
1000
PMP

72,476
132,306
165,986
187,264
204,204
213,240
232,073
250,607
268,950
311,633
832,284

Periode Ulang

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Sumber : Hasil Perhitungan

c). Distribusi Hujan


Perhitungan banjir rancangan dengan menggunakan data hujan perlu sekali
mendapatkan distribusi curah hujannya. Pada studi ini distribusi curah hujan didekati
dengan formula Mononobe karena tidak tersedia data hujan jam-jaman di lapangan.
Lamanya hujan terpusat di Indonesia berkisar antara 5 7 jam/hari. Untuk daerah di
lokasi embung diperkirakan 6 jam/hari. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan
persamaan tersebut di atas didapatkan rasio distribusi hujan tiap jamnya sebagai
berikut:
Rt = R24/6.(6/t)
(2/3)

Curah Hujan jam ke T


Rt = t . Rt - (t 0,5). R(t-1)
Jam ke(t)
0,50
1,00
1,50

Distribusi hujan
(Rt)
0,5 jam-an
0,87 R24
0,55 R24
0,42 R24

Curah
hujan
jam ke0,44 R24
0,11 R24
0,08 R24

Rasio
(%)
43,68
11,35
7,96

Kumulatif
[%]
43,68
55,03
63,00

III - 11

Laporan Akhir

2,00
2,50
3,00
3,50
4,00
4,50
5,00
5,50
6,00

0,35 R24
0,30 R24
0,26 R24
0,24 R24
0,22 R24
0,20 R24
0,19 R24
0,18 R24
0,17 R24
Jumlah

0,06
0,05
0,05
0,04
0,04
0,03
0,03
0,03
0,03
1,000

R24
R24
R24
R24
R24
R24
R24
R24
R24

6,34
5,35
4,68
4,18
3,80
3,50
3,25
3,04
2,86
100,00

69,34
74,69
79,37
83,55
87,36
90,86
94,10
97,14
100,00

Sumber: Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

3.4.3. Koefisien Pengaliran


Koefisien pengaliran merupakan suatu variabel yang didasarkan pada kondisi daerah
pengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh di daerah tersebut. Adapun kondisi dan
karakteristik yang dimaksud adalah :
Keadaan hujan,
Luas dan bentuk daerah aliran,
Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai,
Daya infiltrasi dan perkolasi tanah,
Kebasahan tanah,
Suhu udara dan angin serta evaporasi dan
Tata guna tanah
Koefisien pengaliran seperti yang disajikan pada tabel berikut, didasarkan dengan suatu
pertimbangan bahwa koefisien tersebut sangat tergantung pada faktor-faktor fisik.
Kemudian Dr. Kawakami menyusun sebuah rumus yang mengemukakan bahwa untuk
sungai-sungai tertentu, koefisien itu tidak tetap, tetapi berbeda-beda tergantung dari curah
hujan seperti diuraikan dalam rumus berikut ini.
f = 1- R/R = 1 f
dengan,
f
f
Rt
R
S

= koefisien pengaliran
= laju kehilangan = s/Rts
= jumlah curah hujan (mm)
= kehilangan curah hujan
= tetapan

Berdasarkan jabaran rumus di atas, maka tetapan nilai koefisien pengaliran dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.6. Angka Koefisien Pengaliran
Kondisi DPS

Angka Pengaliran

III - 12

Laporan Akhir

Pegunungan curam
Pegunungan tersier
Tanah relief berat dan berhutan kayu
Dataran pertanian
Dataran sawah irigasi
Sungai di pegunungan
Sungai di dataran rendah
Sungai besar yang sebagian alirannya berada di ataran rendah

0,75 0,90
0,70 0,80
0,50 0,75
0,45 0,60
0,70 0,80
0,75 0,85
0,45 0,75
0,50 0,75

Tabel 3.7. Rumus Koefisien Limpasan


Daerah
Hulu
Tengah
Tengah
Tengah
Hilir

Kondisi Sungai

Curah Hujan

Sungai biasa
Sungai di zone lava
Rt > 200 mm
Rt < 200 mm

Koefisien Pengaliran
f = 1 (15,7/Rt3/4)
f = 1 (5,65/ Rt3/4)
f = 1 (7,2/ Rt3/4)
f = 1 (3,14/ Rt3/4)
f = 1 (6,6/Rt Rt3/4)

III - 13

Laporan Akhir
Tabel 3.8. Nilai Koefisien Pengaliran yang Dipengaruhi oleh Intensitas Curah Hujan
Rumus
Rt
1-15,7/Rt3/4
1-5,65/ Rt1/2
1-7,20/ Rt1/2
1-3.14/ Rt1/3
1-6.60/ Rt1/2
Jumlah
Rerata

1,01
72,48
0,59
0,55
0,73
0,51
0,66
1,7958
0,599

Koefisien pengaliran ( C ) yang dipengaruhi curah hujan RT


2
5
10
20
25
50
100
200
165,9
232, 250,6 268,9
132,31
9
187,26 204,20
213,24
07
1
5
0,38
0,32
0,29
0,27
0,26
0,25
0,23
0,22
0,40
0,36
0,34
0,33
0,32
0,31
0,29
0,28
0,54
0,48
0,45
0,43
0,42
0,41
0,39
0,38
0,42
0,39
0,37
0,36
0,36
0,35
0,34
0,33
0,49
0,43
0,41
0,39
0,38
0,37
0,35
0,34
1,113
0,92 0,880 0,846
1,2679
5
1,0394 0,9894
0,9654
01
9
4
0,30
0,423
0,371
0,346
0,330
0,322
7
0,294 0,282

1000
311,6
3
0,20
0,26
0,35
0,32
0,32
0,778
8

PMP
832,2
8
0,09
0,16
0,21
0,23
0,19
0,450
2

0,260

0,150

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

Tabel 3.9. Nilai Koefisien Pengaliran yang Dipengaruhi oleh Tata Guna Lahan
Kondisi DAS
Pegunungan
Pegunungan tersier
Tanah ber-relief berat dan berhutan kayu
Dataran pertanian
Dataran sawah irigasi/rawa
Sungai di pegunungan
Sungai di dataran rendah
Sungai besar yang sebagian alirannya berada di
dataran rendah

C
0.75 0.90
0.70 0.80
0.50 0.75
0.45 0.60
0.70 0.80
0.75 0.85
0.45 0.75
0.50 0.75

Prosentase
Lahan

Nilai C

C.(%lahan)

0,75

0,000

0,70

0,000

95

0,50

0,475

0,45

0,000

0,70

0,035

0,75

0,000

0,45

0,000

0,50

0,000

III - 14

Laporan Akhir
100

Rerata

0,510

Tabel 3.10. Nilai Koefisien Pengaliran Rerata


Kala Ulang
Hujan
TGL

1,01
0,599
0,510

2
0,423
0,510

5
0,371
0,510

10
0,346
0,510

Rerata

0,554

0,466

0,441

0,428

Koefisien pengaliran ( C )
20
25
50
100
0,330
0,322
0,307
0,294
0,510
0,510
0,510
0,510
0,420

0,416

0,408

0,402

200
0,282
0,510

1000
0,260
0,510

PMP
0,150
0,510

0,396

0,385

0,330

Rera
ta

0,42
2

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

III - 15

Laporan Akhir

3.4.4. Hujan Netto Efektif


Hujan netto adalah bagian hujan total yang menghasilkan direct run off (limpasan
langsung). Limpasan langsung ini terdiri atas surface run off (limpasan permukaan) dan
interflow (air masuk dalam lapisan tipis di bawah permukaan tanah dengan permeabilitas
rendah, yang keluar lagi di tempat yang lebih rendah dan berubah menjadi limpasan
permukaan). Dengan menganggap bahwa proses transformasi hujan menjadi limpasan
langsung mengikuti proses linier dan tidak berubah oleh waktu, maka hujan netto (Rn) dapat
dinyatakan sebagai berikut.
Rn
dengan :
Rn
C
R

=CxR
= hujan netto (efektif)
= koefisien limpasan
= intensitas hujan

3.4.5. Analisis Debit Banjir Rancangan


Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa tujuan analisis hidrologi ini salah satunya
adalah untuk mengetahui besaran debit banjir rancangan yang akan digunakan sebagai dasar
dalam analisis desain. Mengingat pencatatan data debit di lokasi rencana bendungan tidak
ada dan data yang ada adalah berupa data limpasan di Bendung Kedunglanggar (terletak
dihilirnya) yang pencatatannya kurang akurat karena bentuk mercu bendung di bagian
tengahnya terdapat lubang yang tidak terkontrol. Sedangkan data debit yang masuk ke
saluran irigasi tidak tercatat dan tidak terkontrol karena pintu rusak. Sehingga data debit
yang tersedia lebih kecil dari debit sungai yang sesungguhnya.
Karena itu
perhitungan/analisis debit rancangan dilakukan secara empiris menggunakan metode
Nakayasu. Metode tersebut sudah banyak digunakan pada pekerjaan-pekerjaan bendungan
di Indonesia. Formulasi metode dan perhitungan debit banjir Nakayasu tersebut dapat
diuraikan seperti berikut ini.
Persamaan umum hidrograf satuan sintetik Nakayasu adalah sebagai berikut (Soemarto,
1987), dan dikoreksi untuk nilai waktu puncak banjir dikalikan 0,75 serta debit puncak
banjir dikalikan 1,2 untuk menyesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
Debit puncak banjir diformulasikan sebagai berikut :

Qp

12 * A *Ro
3.68 * (0.3 * Tp T 0.3)

III - 16

Laporan Akhir

Dimana,
Qp =

debit puncak banjir (m3 /dt)

R0

hujan satuan (mm)

Tp

tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)

T0.3 =

waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai

Tp =

menjadi 30 % dari debit puncak


Tg + 0.8 Tr

Tg =

0.21 L 0.7

L 15 km

Tg =

0.4 + 0.058 L

L 15 km

T0.3 = Tg
dengan :
L
= panjang alur sungai (km)
Tg
= waktu konsentrasi (jam)
Tr

= satuan waktu hujan diambil 0.25 jam


= untuk daerah pengaliran biasa diambil nilai 2

Persamaan hidrograf satuannya adalah:


1. Pada kurva naik
Qt = ( t / Tp )2.4 x Qp

0tT
2.

Pada kurva turun


t-Tp

- Tp < t Tp + T0.3

Qt=Qp 0.3

T0.3

t-Tp 0.5T0.3

- Tp +T , < t T +2,5T

Q t Q p 0.3

1.5T0.3

i
t

Tr
0.8Tr

Tg

Q (m^3/dt)

T (jam)
Tp

T0.3

1.5 T0.3

Gambar 3.4. Hidrograf Satuan Nakayasu


III - 17

Laporan Akhir

Perhitungan Debit Banjir Rancangan Metode HSS Nakayasu :


Parameter DAS
Luas
Panjang Sungai Utama

Ro
Parameter Tg
Tg = 0,4 + (0,058 * L)
Tg
Parameter tr
tr = 0,60* tg
Parameter Tp
Tp = Tg + 0.8 Tr
Tp
Parameter T 0.3
T0.3 = a * Tg
T0.3
Tp + T0.3

2
74,01 km

=
=
=
=

23,51
3
1

km

1,76

jam

1,06

jam

2,61

jam

=
=

5,29
7,90

jam
jam

15,84

jam

3,4

m3/dt

<

< 2,61

2,61

<

< 7,90

7,90

<

< 15,84

>

15,84

0,6

Tp + T0.3 + 1.5 T0.3 = Tp + 2.5T0.3

mm

Parameter Qp (debit puncak)


Qp =

A * Ro

3.6 (0.3 Tp T
)
0.3
Mencari Ordinat Hidrograf
1
0 < t < Tp --------->
.
Qt = Q max (t/Tp)^2.4
2
.

Tp < t < (Tp + T0.3) ------->


Qt = Q max (0.3)^(t-Tp/(T0.3))

3
.

(Tp + T0.3) < t < (Tp + 2.5T0.3) ---->

Qt = Qmax (0.3)^((t-Tp) + 0.5 T0.3) / 1.5 T0.3)


4
.

t > (Tp + 2.5 T0.3) ------------>

Qt = Qmax (0.3)^((t- Tp) + 1.5 T0.3)/(2 T0.3))

III - 18

Laporan Akhir

Gambar 3.5. Hidrograf Satuan Nakayasu S. Boyo (Bendungan Kedunglanggar)


Tabel 3.11. Hidrograf Satuan Nakayasu S. Boyo (Bendungan Kedunglanggar)
t

U (t,1)

Q (m3/dt)

(ja
m)

(m3/det/m
m)

0,00

0,00

8,60

8,60

8,60

8,60

8,60

8,60

8,60

1,00

0,34

14,30

19,01

23,33

24,67

28,32

33,12

74,08

2,00
3,00

1,79
3,10

42,29
82,48

70,10
143,47

95,65
199,49

103,52
216,76

125,09
264,06

153,46
326,27

4,00

2,47

99,76

175,02

244,15

265,45

323,82

400,58

5,00

1,96

106,86

187,98

262,49

285,45

348,37

431,10

6,00

1,56

108,52

191,01

266,78

290,14

354,11

438,25

7,00

1,25

105,57

185,63

259,16

281,82

343,91

425,56

8,00
9,00
10,0
0
11,0
0
12,0
0
13,0
0
14,0
0
15,0
0
16,0
0
17,0
0
18,0
0
19,0
0
20,0
0

1,00
0,86

94,51
78,16

165,42
135,58

230,56
188,33

250,64
204,58

305,64
249,12

377,98
307,69

395,48
857,02
1.055,
47
1.136,
99
1.156,
08
1.122,
19
995,10
807,38

0,74

65,64

112,72

155,97

169,30

205,82

253,85

663,59

0,63

55,94

95,02

130,92

141,98

172,29

212,15

552,24

0,55

48,37

81,20

111,35

120,65

146,11

179,60

465,28

0,47

42,41

70,32

95,96

103,86

125,51

153,97

396,85

0,40

37,65

61,63

83,66

90,45

109,05

133,51

342,20

0,35

33,56

54,17

73,09

78,93

94,91

115,93

295,24

0,30

30,08

47,81

64,10

69,12

82,87

100,95

255,25

0,27

27,24

42,63

56,77

61,13

73,06

88,76

222,68

0,24

24,89

38,33

50,68

54,49

64,92

78,63

195,64

0,21

22,92

34,73

45,59

48,93

58,10

70,15

172,99

0,19

21,25

31,70

41,29

44,25

52,35

63,00

153,89

Q1

Q2

Q10

Q20

Q100

Q1000

QPMF

III - 19

Laporan Akhir

U (t,1)

(ja
m)
21,0
0
22,0
0
23,0
0
24,0
0
25,0
0
26,0
0
27,0
0
28,0
0
29,0
0
30,0
0
31,0
0
32,0
0
33,0
0
34,0
0
35,0
0
36,0
0

(m3/det/m
m)

Q (m3/dt)
Q1

Q2

Q10

Q20

Q100

Q1000

QPMF

0,17

19,84

29,12

37,65

40,27

47,47

56,94

137,70

0,15

18,63

26,92

34,52

36,87

43,29

51,74

123,81

0,13

17,55

24,95

31,74

33,83

39,56

47,10

111,42

0,12

16,59

23,19

29,25

31,11

36,23

42,96

100,36

0,11

15,73

21,62

27,03

28,69

33,26

39,26

90,50

0,10

14,96

20,22

25,04

26,53

30,61

35,97

81,69

0,09

14,28

18,97

23,28

24,60

28,24

33,02

73,83

0,08

13,67

17,85

21,70

22,88

26,13

30,40

66,81

0,07

13,12

16,86

20,29

21,35

24,24

28,05

60,55

0,06

12,64

15,97

19,03

19,98

22,56

25,96

54,96

0,05

12,20

15,18

17,91

18,75

21,06

24,09

49,98

0,05

11,82

14,47

16,91

17,66

19,72

22,43

45,53

0,04

11,47

13,84

16,02

16,69

18,52

20,94

41,56

0,04

11,16

13,28

15,22

15,82

17,46

19,61

38,01

0,03

10,89

12,77

14,51

15,04

16,50

18,43

34,85

0,03

10,64

12,32

13,87

14,35

15,65

17,37

32,03

Maksimum

108,52

191,01

266,78

290,14

354,11

438,25

1.156,
08

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan, 2013

III - 20

Laporan Akhir

Gambar 3.6. Hidrograf Banjior Rancangan S. Boyo (Bendungan Kedunglanggar)


Hasil Perhitungan dengan Metode HSS Nakayasu

Resume hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai periode ulang dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.12. Hasil Analisis Debit Banjir Rancangan
No.

Kala Ulang
(tahun)

Debit Banjir
(m3/det)

1,01

108,52

191,01

237,45

10

266,78

20

290,14

25

302,60

50

328,56

100

354,11

200

379,40

10

1000

438,25

11

PMF

1.156,08

III - 21

Laporan Akhir

3.4. OPTIMASI TAMPUNGAN WADUK


3.5.1. Umum
Analisis optimasi tampungan waduk dalam kegiatan ini dilakukan melalui simulasi operasi
tampungan waduk yang bertujuan untuk menemukan hubungan antara volume tampungan
waduk dan tinggi muka air, mengetahui penyediaan air baku, luas areal irigasi beserta pola
tanam dan intensitas tanam. Pada intinya, simulasi operasi tampungan waduk tersebut
dimaksudkan untuk mengetahui kesetimbangan air (water balance) sehingga diperoleh skala
pengembangan yang optimal. Prinsip dasar simulasi operasi tampungan waduk adalah
menggunakan persamaan kontinuitas.
Pendekatan sistem operasi ini menggunakan metode analisis kesetimbangan air yang
ditinjau pada kondisi tahun normal (debit andalan) dengan periode 15 harian selama 20 (dua
puluh) tahun. Beberapa parameter yang saling berhubungan dalam sistem pola operasi
tampungan waduk ini adalah volume effektif tampungan, volume tampungan mati, volume
tampungan total, elevasi muka air minimum, elevasi muka air normal, elevasi muka air
banjir, debit inflow andalan, debit kebutuhan air baku domestik dan air irigasi serta elevasi
ambang pelimpah.
Untuk memenuhi kesetimbangan air (water balance) antara kebutuhan dan ketersediaan air,
maka perlu adanya perencanaan kebutuhan air baku yang harus dilayani serta luas area, pola
dan intensitas tanam. Yang perlu mendapat perhatian dari sistem neraca air ini adalah
menjaga muka air tampungan agar tidak kurang dari elevasi muka air operasi minimum dan
tidak lebih dari elevasi muka air banjir.
Kondisi yang optimal adalah kondisi dimana volume tampungan yang diperlukan mampu
melayani kebutuhan air baku domestik dan areal irigasi dengan pola tanam yang
direncanakan sesuai dengan kondisi inflow yang ada. Prinsip pola pengoperasian tampungan
yang optimal adalah kondisi muka air tampungan waduk pada akhir operasi harus lebih
tinggi atau sama dengan muka air tampungan waduk awal, dan muka air tampungan waduk
berada pada posisi antara muka air normal dan muka air rendah. Selain itu kondisi
tampungan waduk saat awal operasi harus sama dengan kondisi akhir operasi dalam
setahun.
Dalam menentukan skala pengembangan yang optimum untuk tampungan waduk terdapat
dua jenis orientasi optimasi yaitu :
1.

Tipe water supply oriented, dimana skala pengembangan ditentukan oleh kondisi
topografi areal layanan dan potensi debit inflow. Dalam kasus ini penyediaan air baku
domestik dan luas areal irigasi beserta pola tata tanam ditentukan oleh kondisi
tampungan efektif.
III - 22

Laporan Akhir

2.

Tipe water demand oriented, dimana skala pengembangan ditentukan oleh besarnya
kebutuhan air untuk air baku domestik dan irigasi. Dalam kasus ini, tidak ada batas
dalam kondisi topografi maupun potensi inflow.

Untuk Bendungan Kedunglanggar ini, orientasi optimasi adalah water supply oriented,
karena walaupun kebutuhan air telah ditetapkan berdasarkan perhitungan, namun
kemampuan ketersediaan tergantung pada kondisi inflow dan potensi tampungan yang ada.
3.5.2. Metode Simulasi Pola Operasi
Metode yang digunakan dalam simulasi operasi tampungan waduk ini adalah bahwa
tampungan pada waktu (t+1) merupakan hasil kesetimbangan dari komponen inflow (I) dan
komponen outflow (O) serta tampungan (storage) pada waktu (t) . Hasil nilai kesetimbangan
komponen inflow dan outflow dijaga agar tidak lebih kecil dari elevasi pada pintu
pengambilan atau elevasi muka air operasi minimum. Apabila lebih besar dari nilai setara
pada ambang elevasi pelimpah (spillway) maka akan terjadi limpasan (spillout) dan nilai
tampungan pada (t+1) setara dengan elevasi pelimpah yang selanjutnya digunakan untuk
menghitung nilai kesetimbangan pada waktu berikutnya. Analisis pendekatan untuk
keseimbangan simulasi dari kemampuan air dan kebutuhan air. Prinsip dasar dari studi
optimasi dengan simulasi adalah pengembangan dari persamaan kontinuitas berupa rumus
neraca air tampungan di dalam waduk sebagai berikut :
io

dimana :
i
o

ds
dt

= inflow (m3/dt)
= outflow (m3/dt)

ds
dt

= perubahan tampungan yang merupakan fungsi dari waktu

Detail persamaam simulasi dikembangkan sebagai berikut:


I t Lt 1 St SPt Ot

W W
t 1

dt

dimana :
It
Lt
St
Spt
Ot
Wt
dt

=
=
=
=
=
=
=

rata-rata inflow di waduk (m3/dt)


kehilangan air di waduk akibat evapotranspirasi (m3/dt)
kehilangan air akibat rembesan melalui bawah pondasi bendungan (m3/dt)
air yang melalui pelimpah (m3/dt)
outflow yang dibutuhkan untuk daerah irigasi (m3/dt)
volume tampungan waduk (m3)
periode operasi dari waduk (m3/dt)

III - 23

Laporan Akhir

3.5.3. Komponen Kesetimbangan Air


(1) Debit Inflow
Komponen kesetimbangan air yang sangat penting adalah debit inflow, dimana
dalam analisis kesetimbangan air yang ditinjau adalah kondisi debit inflow rerata
dengan periode 30 harian dari masing-masing sungai di lokasi waduk.
(2) Kolam Waduk
Komponen keseimbangan air lainnya yang penting adalah waduk sebagai tempat
penampungan air dari debit inflow yang ada. Kondisi lengkung kapasitas tampungan
waduk pada masing-masing lokasi adalah sebagai berikut:

Gambar 3.7. Kurva Elevasi - Luas Genangan - Tampungan Waduk


(3) Irigasi
Komponen kesetimbangan air utama adalah kebutuhan air irigasi sesuai dengan luas
areal irigasi yang telah dibahas dalam Bab II.
(4) Air Baku
Kebutuhan air baku untuk air bersih sesuai dengan Program Petanglong yaitu
sebesar 750 l/det,.

III - 24

Laporan Akhir

3.5.4. Potensi Tampungan Waduk


(1) Tampungan Kotor
Tampungan kotor adalah merupakan tampungan total waduk pada elevasi rancangan
yaitu 24.246.000 m3.
(2) Tampungan Sedimen
Berdasarkan hasil perhitungan laju sedimentasi yang telah dilakukan, maka dapat
diketahui besarnya tampungan sedimen selama 50 tahun usia guna (lifetime).
(3) Tampungan Efektif
Tampungan efektif adalah besarnya tampungan yang bisa digunakan untuk proses
operasi tampungan waduk berupa selisih antara tampungan total dengan tampungan
mati.

I1
(DEBIT ANDALAN
SUNGAI)

TAMPUNGA
N WADUK
O1

O3
(PENGAMBILAN
LAIN BILA ADA)

SUNGAI

(IRIGASI)

O2
(AIR BAKU)

III - 25

O4
(LIMPASAN/SISA
MELALUI SPILLWAY)

Laporan Akhir

Gambar 3.8. Skema Model untuk Simulasi Pemanfaatan (Optimasi) Waduk

III - 26