Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Gawat darurat adalah suatu keadaan yang mana penderita
memerlukan pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan
berakibat fatal bagi penderita. Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu
unit di rumah sakit yang harus dapat memberikan playanan darurat kepada
masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai
dengan standar. IGD adalah suatu unit integral dalam satu rumah sakit dimana
semua pengalaman pasien yang pernah datang ke IGD tersebut akan dapat
menjadi pengaruh yang besar bagi masyarakat tentang bagaimana gambaran
Rumah Sakit itu sebenarnya. Fungsinya adalah untuk menerima, menstabilkan
dan mengatur pasien yang menunjukkan gejala yang bervariasi dan gawat
serta juga kondisi-kondisi yang sifatnya tidak gawat. IGD juga menyediakan
sarana penerimaan untuk penatalaksanaan pasien dalam keadaan bencana, hal
ini merupakan bagian dari perannya di dalam membantu keadaan bencana
yang terjadi di tiap daerah. (Nasution, 2011)
Penggunaan awal kata trier mengacu pada penampisan
screening di medan perang.Kini istilah tersebut lazim digunakan untuk
menggambarkan suatu konsep pengkajian yang cepatdan terfokus dengan
suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan
serta fasilitas yang paling efisien terhadap hampir 100 juta orang yang
memerlukan pertolongan di unit gawat darurat (UGD) setiap tahunnya.
Berbagai system triase mulaidikembangkan pada akhir tahun 1950-an seiring

jumlah kunjungan UGD yang telah melampauikemampuan sumber daya yang


ada untuk melakukan penanganan segera. Tujuan triage adalah memilih atau
menggolongkan semua pasien yang datang ke UGD dan menetapkan prioritas
penanganan (Kathleen dkk,2008)
Petugas kesehatan IGD dalam melakukan triage harus
berdasarkan standar ABCDE (Airway: jalan nafas, breathing: pernapasan,
Circulation: sirkulasi,Disability: ketidakmampuan,

Exposure:

paparan) (Ignatavicius, 2006 dalam Krisanty, 2009). Triage dapat


dilakukan oleh dokter ahli, dokter umum ataupun tenaga keperawatan sesuai
dengan kelas atau kebijaksanaan rumah sakit (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2004).
Berdasarkan observasi pada tanggal ............................
Kegagalan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan umumnya
disebabkan oleh kegagalan mengenal risiko, keterlambatan rujukan, kurangnya
sarana yang memadai maupun pengetahuan dan keterampilan tenaga medis,
paramedis dalam mengenal keadaan risiko tinggi secara dini, masalah dalam
pelayanan kegawatdaruratan, maupun kondisi ekonomi (Ritonga, 2007).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006), petugas kesehatan
IGD pada suatu rumah sakit terdiri dari dokter ahli, dokter umum, dan tenaga
keperawatan yang dibantu oleh perwakilan unitunit lain. Mengingat banyaknya
kasus gawat darurat yang paling sering ditemukan di IGD seperti trauma,
jantung, stroke, anak dan korban masal, maka untuk memenuhi standar
pelayanan 24 jam/hari

petugas kesehatan IGD harus mendapat pelatihan

Advance Trauma Life Support (ATLS), Basic Trauma Cardiac Life Support
(BT&CLS), Advance Cardiac Life Support (ACLS), Penanggulangan Penderita
Gawat Darurat (PPGD), Advance Neonatus Life Support (ANLS), Advance

Pediatric Life Support (APLS), Resusitasi neonatus dan Disaster Management


(BT&CLS, 2011).
Seorang petugas kesehatan IGD harus mampu bekerja di IGD
dalam menanggulangi semua kasus gawat darurat, maka dari itu dengan adanya
pelatihan kegawatdaruratan diharapkan setiap petugas kesehatan IGD selalu
mengupayakan efisiensi dan efektifitas dalam memberikan pelayanan. Petugas
kesehatan IGD sedapat mungkin berupaya menyelamatkan pasien sebanyakbanyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya bila ada kondisi pasien gawat
darurat yang datang berobat ke IGD. Pengetahuan, sikap dan keterampilan
petugas kesehatan IGD sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan klinis
agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan pemilahan saat triage sehingga
dalam penanganan pasien bisa lebih optimal dan terarah (Oman, 2008).
1.2 Rumuasan Masalah
Bagaimanakah Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi perawat dalam
pelaksanaan triase di RSUD Syarifa Ambami Rato Ebu
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perawat dalam
pelaksanaan triase di RSUD Syarifa Ambami Rato Ebu
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.2 Manfaat Praktis