Anda di halaman 1dari 9

Cerita Ulang: Mengenal dan Menginterpretasi Oleh: Abit Adya Mubakhit, S.Pd.

Setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman yang berkesan dalam hidupnya. Sebagian besar dari mereka pasti memiliki hasrat untuk menceritakan pengalaman yang pernah dialami tersebut kepada orang lain. Hasrat tersebut akan melahirkan kebiasaan untuk mengungkapkan kisah yang pernah dilakukan, perasaan yang dirasakan, dan pemikiran yang dimiliki. Penceritaan yang dilakukan pun tak hanya lewat saluran lisan. Dewasa ini penceritaan melalui tulisan mulai digemari. Penceritaan seperti ini dinilai akan lebih otentik dan terseimpan secara permanen peristiwa yang telah mereka lalui. Tipe tulisan demikian yang kemudian disebut sebagai recount (cerita ulang). Model tulisan cerita ulang termasuk dalam genre teks faktual. Hal tersebut karena teks ini bersifat menceritakan ulang peristiwa yang telah terjadi. Selain itu, secara subjektif, tulisan ini juga merekam apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang. Peristiwa yang telah terjadi, yang diceritakan kembali dalam bentuk tulisan itu, merupakan serangkaian fakta yang dialami penulisnya. Bersama dengan perkembangan media di era global melahirkan kebiasaan menulis bentuk recount dalam social media dan laman pribadi mereka. Mereka menuangkan peristiwa-peristiwa berkesan sekaligus pikiran dan perasaan mereka secara ekspresif dalam laman pribadi yang mereka bangun. Berdasarkan ilustrasi di atas teks cerita ulang dapat didefinisikan sebagai jenis teks yang berisikan deskripsi mengenai peristiwa yang pernah dialami seseorang dengan kronologi yang terjadi secara berurutan. Teks cerita ulang merupakan sebuah teks yang bertujuan untuk memberikan informasi dan menghibur pembacanya. teks cerita ulang memiliki beberapa ciri yang melekat di dalamnya. Pertama, selalu menggunakan bentuk lampau (use of past tense), karena recount berupa cerita ulang sebuah peristiwa yang telah terjadi. Kedua, fokus pada peristiwa tertentu. Ketiga, terfokus pada partisipasi individu. Teks cerita ulang memiliki yang berbeda dengan teks lain. Struktur tersebut terdiri atas orientasi (orientation), rangkaian peristiwa (events), orientasi ulang (re-orientation). Orientasi berisi latar belakang informasi terkait apa, siapa, bagaimana, kapan, di mana, dan mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Latar belakang berfungsi memberi suatu gambaran umum kepada pembaca sebelum memasuki detail cerita. Rangkaian peristiwa mendeskripsikan kejadian-kejadian secara berurutan atau kronologis. Peristiwa-peristiwa tersebut disusun berdasarkan urutan waktu. Orientasi ulang berisi simpulan atau opini personal terkait peristiwa yang terjadi. Dalam cerita ulang, orientasi ulang cerita tidak selalu ada.

Selain struktur identitas sebuah teks juga terletak pada ciri kebahasaaan yang melekat di dalamnya. Ciri bahasa yang melekat pada teks cerita ulang di antaranya adalah Jenis teks cerita ulang ada tiga, yaitu cerita ulang personal, fakta, dan imajinasi. Cerita ulang personal adalah cerita ulang yang melibatkan penulis atau pencerita secara personal di dalamnya. Cerita ulang fakta adalah cerita ulang yang merekam suatu peristiwa berdasarkan kenyataan. Cerita ulang imajinasi adalah cerita ulang yang diceritakan berdasarkan pengalaman imajinasi. Pada bahasan ini pembahasan mengenai cerita ulang dibatasi pada cerita ulang fakta yaitu teks biografi. Hal tersebut disesuaikan dengan standard isi yang ditetapkan Depdikbud dalam kurikulum 2013. Perhatikan contoh identifikasi struktur teks cerita ulang berikut!

No

Struktur

Teks

1

Judul

Nelson Mandela: Sang Pemaaf Peruntuh Apartheid

2

Orientasi

Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di Umtata, Afrika Selatan. Dia anak dari seorang kepala suku. Nama Rolihlala kadang diartikan sebagai ‘pembuat onar’, sementara nama Nelson baru kemudian ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya yang membayangkan suatu kemegahan kerajaan pada nama itu. Masa kecil Mandela cukup damai, dia banyak menghabiskan waktu menggembala atau melakukan kesibukan pedesaan yang lain. Ketika ayahnya meninggal, dia diurus oleh seorang sanak keluarganya yang menjadi bupati. Wanita yang pernah mendampingi hidupnya ada beberapa orang, yaitu Evelyn Mase (cerai 1957), Nkosikazi Nomzamo Madikizela atau

Winnie Mandela (cerai 1996), dan Graca Machel-Mandela (menikah 1998)

Mandela pernah mengenyam pendidikan di College of Fort Hare, University of South Africa, dan University of Witwaterrand, Johannesburg. Keterlibatannya dalam politik dimulai saat dia keluar dari sekolah College of Fort Hare. Dia mulai melibatkan diri dalam aksi protes mahasiswa menentang tatanan politik yang menempatkan orang kulit putih lebih tinggi dari orang kulit hitam. Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang harus ditempuhnya dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas orang kulit hitam di Afrika Selatan. Mandela kemudian magang pada sebuah biro hukum. Kariernya dalam bidang hukum berlanjut hingga dia bisa menjadi pengacara yang cukup sukses. Namun, selama bertahun-tahun kemudian dia menyaksikan bagaimana politik apartheid (politik diskriminasi warna kulit) sangat tidak manusiawi. Hanya karena berkulit hitam orang bisa kehilangan status sebagai manusia. Mandela meneguhkan hatinya untuk melawan semua ini. Dia rela meninggalkan kehidupan desa yang damai, bahkan kariernya sebagai pengacara, untuk memasuki masa depan yang penuh pengorbanan dan penderitaan. Harapan Mandela untuk berhasil sangatlah kecil karena selama berabad-abad pemerintah kolonial telah mengonsentrasikan semua kekuasaan politik dan militer, akses pendidikan, dan sebagian besar kekayaan di tangan minoritas kulit putih. Kondisi yang mendukung keberhasilan revolusi hampir tidak ada sama sekali. Rakyat banyak telah dijinakkan dalam kepatuhan, wilayah geografis yang luas merintangi komunikasi dan mobilitas, sementara perang antar-ras bukan suatu pilihan yang realistis, bahkan bisa menghebohkan. Dalam situasi semacam itu, Mandela memilih jalan tanpa kekerasan sebagai strategi. Dia bergabung dengan Liga Kaum Muda, organisasi pemuda Kongres Nasional Afrika (ANC) pada 1944. Dia mengambil bagian dalam program perlawanan pasif untuk menentang aturan agar orang kulit hitam membawa pas jalan dan membuat mereka tetap dalam posisi budak terus- menerus. Pemerintah kemudian menggelar peradilan besar-besaran terhadap para “pengkhianat”, Mandela termasuk di antaranya. Namun, pada 1961 semua itu berakhir dengan pembebasan ke-156 tertuduh. Kemudian, Afrika Selatan “bergolak” karena pembantaian para demonstran kulit hitam di Sharpeville pada Maret 1960. Akan tetapi, Pemerintah tetap konsisten menghantam oposisi: sebagian besar gerakan pembebasan, termasuk ANC, dilarang. Mandela yang telah meraih reputasi sebagai pemimpin orang kulit hitam, berjuang di bawah tanah selama lebih dari setahun dan bepergian ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi ANC. Ketika Mandela kembali, dia ditahan dan dikirim ke penjara Robben Island selama lima tahun. Namun, dia tetap kukuh, “Sepanjang hidup saya, saya mendedikasikan diri pada perjuangan rakyat Afrika. Saya telah berjuang menentang dominasi kulit putih, dan telah berjuang melawan dominasi kulit hitam. Saya mengharapkan demokrasi dan masyarakat bebas yang ideal, memperlihatkan bahwa setiap orang hidup bersama dalam harmoni dan mendapat kesempatan yang sama. Hal itulah yang ingin saya hidupkan dan saya capai. Jika perlu, untuk itu saya siap mati.”

3 Tahapan

peristiwa

Nelson Mandela memiliki sifat pemaaf yang luar biasa. Sudah sepantasnya sosok yang bersahaja ini dihormati dan dikenang banyak orang di penjuru dunia. Perjuangan yang mendobrak kekuasaan apartheid di Afrika Selatan itu meninggalkan pelajaran berharga bagi dunia.

4 Reorientasi

Berikut identifikasi ciri bahasa teks di atas.

No

Ciri kebahasaan

contoh

1

Menggunakan partisipan “siapa” melakukan “apa” (peristiwa) di suatu tempat pada waktu lalu yang ditandakan dengan pronominal.

Ketika Mandela kembali, dia ditahan dan dikirim ke penjara Robben Island selama lima tahun

2

Menggunakan Pengacuan

Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang harus dia tempuh dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas

   

orang kulit hitam di Afrika Selatan.

3

Menggunakan

kata-kata

yang

menunjukkan

Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di Umtata, Afrika Selatan

kejadian atau peristiwa, waktu dan tempat

4

Menggunakan kata-kata yang menunjukkan kata kerja material untuk menunjukkann aktivitas nyata yang dilakukan oleh partisipan.

Kami melihat reruntuhan, ada kayu dan pohon, papan, dan sampah lainnya terapung di tengah laut

5

Menggunakan kata-kata konjungsi temporal untuk menata urutan-urutan peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Dia tidak mengigau meskipun kakinya sudah berubah menjadi pucat ketika kami mengangkatnya.

6

Menggunakan

kalimat

simpleks

yang

hanya

Mandela yang telah meraih reputasi sebagai pemimpin orang

terdiri

dari

satu

verba

utama

yang

S

kulit hitam berjuang di bawah tanah selama lebih dari setahun.

menggambarkan

satu

aksi,

peristiwa,

atau

P

Pelengkap + Keterangan

keadaan.

 

Sumber:

1. Buku pegangan siswa Depdikbud

2. LKS Intan Pariwara

3. Mengenal recount Dwi Budiyanto, Mengenal teks Recount

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (Memahami Struktur, Kaidah, Menginterpretasi, dan Mengabstraksi teks cerita ulang)

1. Bacalah teks berikut ini dengan saksama!

Chaerudin: Kisah Jawara di Tepian Sungai Pesanggrahan

Oleh: Abit Adya Mubakhit

Sekilas tidak ada yang tampak istimewa dari sosok paruh baya yang biasa beredar di bantaran sungai pesanggrahan ini. Rambutnya mulai memutih kontras dengan songkok hitam yang dikenakan. Mengenakan kaos dan ditutup dengan pakaian khas betawi dan golok yang terselip di ban piggangnya. Jika kita belum mengenalnya maka akan timbul pertanyaan. Siapakah sosok ini? Dia adalah H. Chaerudin yang biasa dipanggil Bang Idin oleh masyarakat yang tinggal di bantaran Pesanggrahan. Siapa sangka sosok jawara Betawi dari bantaran kali pesanggahan ini salah satu peraih penghargaan kalpataru 2013. Keberadaanya yang jauh dari sorot media dan publisitas menjadikan sosok pria kelahiran 13 April 1956 ini tidak dikenal. Padahal kiprahnya patut kita teladani. Tempat tinggalnya bak dunia lain di dalam kota Jakarta. Paradoksal memang jika kita bandingkan dengan daerah lain di Ibu Kota. Padahal lokasinya hanya berjarak sekitar empat kilometer dari keramaian Terminal Lebak Bulus, tepatnya kampung Karang Tengah. Demikian pula kondisi rumah beliau tampak sederhana. Sangat kontras jika dibanding dengan beberapa bangunan yang berada di sekitarnya. Siapa sebenarnya Bang Idin, dan apa prestasi seperti apa yang mengantarkannya meraih berbagai penghargaan mengenai lingkungan. Jika ditilik dari kiprahnya beliau adalah sosok pejuang lingkungan yang tangguh. Dengan keuletan dan usahanya yang gigih ia berhasil menyulap bantaran sungai pesanggrahan yang tak sedap dipandang mata menjadi hutan wisata seluas 40 hektare. Tentunya bukan suatu kebetulan. Kiprahnya berawal dari kekesalan melihat kampong halamannya. Ketika ia meniti rakit seorang diri menyusuri Sungai Pesanggrahan. Sendirian ia susuri mulai daerah hulu di Gunung Pangrango, hingga ke muaranya di kawasan utara Jakarta-sejauh kira-kira 136 kilometer. Dengan tekun dan teliti di sela perjalanan itu, dia mencatat pepohonan, ikan-ikan, serta satwa apa saja yang hilang akibat perilaku manusia. Dengan nada agak masygul, Bang Idin kemudian membandingkan kenyataan pahit di sepanjang sungai itu dengan nilai-nilai tradisi yang dulu dinikmati olehnya dan warga betawi lainnya selama turun-temurun tinggal di pinggiran Sungai Pesanggrahan silam. Usahanya dimulai dengan membersihkan sampah. Langkah awal ini ternyata tidak mudah. Berkali-kali saya bersitegang dengan orang-orang “gedongan”. Tak jarang ia sering disebut orang gila bahkan yang lebih tragis ia sering saya diinterogasi dan ditangkap aparat. Akan tetapi perlakukan yang didapatkannya tersebut, tidak membuat darah kependekaran yang mengalir deras dalam nadinya menggelegak. Baginya, untuk menyadarkan orang “gedongan” yang bertabiat kampungan itu, tidak berarti harus menggunakan bahasa kekerasan. Berbagai cara ia lakukan untuk kemudian “menyadarkan” mereka. Dengan berkat kesabaran dan tekad kuat, lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Bang Idin kemudian juga mengajak teman-temannya sesama petani penggarap untuk mengikuti langkahnya. Kini, mereka berhasil menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali. Burung-burung yang dulunya pergi akhirnya kembali. Mata air yang dulu tertutup sampah, kembali hidup. Air kali Pesanggrahan kini sudah normal kembali. Ikan-ikan bisa hidup dan berkembang biak. Hal yang paling utama, si Jampang Penghijau ini tidak hanya sekadar merehabilitasi dan melakukan konservasi alam, tetapi juga berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar bantaran kali sehingga mereka bisa hidup dari kegiatan bertani dan beternak. Pohon produktif, seperti melinjo, kelapa, dan durian bisa dipanen. Demikian juga sayur-mayur yang ditanam di bantaran kali. Sementara pembibitan ikan juga bisa dilakukan di air

dipanen. Demikian juga sayur-mayur yang ditanam di bantaran kali. Sementara pembibitan ikan juga bisa dilakukan di

yang jernih. Sebagian lahan bantaran kali juga digunakan untuk berternak kambing etawa. “Penyelamatan alam itu harus punya nilai kehidupan,” usungnya. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta, seperti buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, dan bisbul dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis. Di balik sikap kerasnya, pria tamatan SMP ini ingin membuktikan, hanya orang yang benar-benar memahami alam yang dapat menyelamatkannya. Di tangannya Kali Pesanggrahan yang kotor dengan bantaran yang tak terurus berubah menjadi lahan produktif dan alami yang berhasil menarik pengunjung untuk berwisata dan menimba ilmu darinya. Wajar jika berbagai penghargaan dari dalam dan mancanegara telah berhasilnya. Penghargaan tersebut di antranya adalah Kalpataru, penghargaan penyelamatan air dan lingkungan dari berbagai negara, seperti Abu Dhabi, Jerman, dan Belanda.

2.

Identifikasilah struktur isi teks cerita ulang yang telah dibaca

 

No

Struktur

Letak

Alasan

1

Orientasi

   

2

Tahap peristiwa

   

3

Reorientasi

   

3.

Identifikasilah ciri bahasa teks cerita ulang yang telah dibaca

 

NO

Ciri Bahasa

Contoh

 

4.

Jawablah pertanyaan di bawah ini?

 

a. Jelaskan siapa tokoh yang telah anda baca?

b. Apa kontribusinya dalam masyarakat?

c. Sifat apa yang dapat diteladani dari tokoh tersebut?

d. ciri khas apa yang dimiliki oleh tokoh tersebut yang tidak dimiliki tokoh lain.

5.

Ceritakan kembali isi teks tersebut dalam bentuk yang lebih ringkas!

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK MEMBANDINGKAN DUA TEKS CERITA ULANG

TEKS 1

TEKS 2

Kisah Anita Si Tukang Parkir Perempuan di Kupang

Menengok Kisah Hidup Buya Hamka

Menekuni pekerjaan apa pun asalkan halal adalah prinsip Anita Tamonob. Wanita berusia 40 tahun asal Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), ini sehari-hari menjadi tukang parkir di depan rumah makan Ratu Gurih di jalan Eltari, Kelurahan Naikoten I, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Sejak hijrah dari kampung halamannya ke Kota Kupang tiga tahun lalu bersama suaminya, Micky Naibenu, Anita terpaksa membantu mencari penghasilan tambahan buat keluarganya karena pekerjaan suaminya sebagai tukang kayu dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keduanya di Kota Kupang. Mimpi untuk menjadi wanita karier yang kerja di kantoran dengan kondisi ruangan mewah ber-AC tentu hanya impian semu belaka. Pasalnya, latar belakang pendidikan Anita hanya lulusan sekolah dasar. Setiap hari, mulai pukul 08.30 Wita, Anita sudah bergegas dari tempat kosnya di Kampung Tofa, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, menuju tempat kerjanya dengan menumpang ojek yang sudah menjadi langganan tetapnya. Anita baru puang ke tempat kosnya pada sore hari sekitar pukul 17.30 Wita. “Biasa kalau ramai itu, antara pukul 11.00 sampai 12.00 Wita, sedangkan kalau sudah pukul 15.00 Wita sampai pukul 17.00 Wita pasti sudah sepi sehingga saya langsung pulang. Uang penghasilan itu kami pakai untuk beli beras buat makan sehari-hari,” kata Anita, Selasa (20/1/2015). Menjadi tukang parkir perempuan yang mungkin menjadi satu-satunya perempuan di Kota Kupang membuat Anita sedikit pun tidak merasa risih, apalagi malu karena selama dua tahun menekuni pekerjaan itu baginya sudah biasa. “Memang waktu pertama kali jadi tukang parkir saya agak malu, tetapi karena ingin mencari uang tambahan buat keluarga dengan cara halal membuat saya akhirnya terus menekuni pekerjaan ini sampai sekarang. Dari semua tukang parkir yang ada di Kota Kupang, hanya saya satu-satunya yang perempuan,” ungkapnya. Dengan tambahan penghasilan dari tukang parkir, Anita bisa membantu suaminya menabung untuk memiliki rumah sendiri di Kota Kupang. Pasalnya, menurut dia, biaya kos sebulan Rp 200.000 cukup mahal. Keduanya juga belum memiliki momongan. Anita mengaku pendapatan dari pekerjaannya sebagai tukang parkir setiap harinya selalu bervariasi. Kalau sepi pengunjung di rumah makan, biasanya ia hanya mendapat Rp 60.000 dan jika ramai bisa mencapai Rp 100.000. Penghasilannya itu pun harus dipotong Rp 30.000 kepada pemilik tanah di area

Nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah cukup asing di telinga masyarakat, bahkan di kalangan sastrawan. Namun, ketika nama Buya Hamka disebut, tentu orang familiar sosoknya. Pahlawan Nasional ini popular sebagai seorang ulama, pujangga, pejuang kemerdekaan, anggota Konstituante, aktivis Muhammadiyah, dan akademisi. Dia dikenal lewat karya-karyanya yang menggugah. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Di Bawah Lindungan Kabah, dan Tafsir Al-Azhar adalah sederet karya monumentalnya. Karya itu identik berkisah percintaan yang mendayu- dayu. Kecuali buku serius mirip Tafsir Al-Azhar yang dikerjakannya dari renungan di bilik terali besi pada era Orde Lama. Tadarus Cinta Buya Pujangga hadir sebagai upaya untuk mengenal sosok peraih doktor kehormatan Universitas Al Azhar tersebut. Akmal Nasery Basral mencoba mengonstruksi kehidupan dari sisi perjuangannya dalam merengkuh hidup. Meski terasa singkat, novel ini mampu menggambarkan perjalanan hidup Hamka (1908-1981) yang pernah menjadi joki kuda hingga sukses menjadi sastrawan besar. Uniknya, lembaran pertama malah diisi dengan kisah Hamka yang ditunjuk pemerintah sebagai imam shalat jenazah untuk almarhum Bung Karno pada Minggu, 21 Januari 1970. Meski sempat dipenjara lantaran terlalu keras mengkritik kebijakan Sang Proklamator, Hamka mencoba berdamai dengan hatinya. Dengan ikhlas, ia melupakan segala permusuhannya dengan Bung Karno dengan melepas jenazahnya. Kemudian, cerita bergulir dari getirnya Hamka yang melihat kedua orang tuanya bercerai. Dia merasa dekat dengan alam. Hamka yang kalau menangis bisa meraung-raung langsung berhenti seketika saat menatap pemandangan Danau Maninjau. Tidak heran, ia paling senang menghabiskan waktu di danau paling terkenal di Sumatra Barat itu. Ayahnya, Haji Rasul yang menganggap kegiatan anaknya itu sia-sia sering memberikan hukuman fisik untuknya. Namun, perpisahan ayah-ibunya membuat Hamka berpaling dari keluarga, dengan menjadikan dunia luar sebagai tempat peraduan baginya. Pendidikan formalnya terhenti, bahkan ia tidak pernah sempat menamatkan Sekolah Desa. Beranjak dewasa, setelah nekat berhaji dengan bekal seadanya dan menuntut ilmu di Tanah Suci, Malik—panggilan kecil Hamka—berubah pikiran. Dia tidak ingin menetap di Makkah, melainkan memutuskan balik setelah dipengaruhi Haji

parkir itu. Dengan pemasukan yang pas-pasan dan kehidupan yang masih dibilang berada di bawah garis kemiskinan, Anita bersama suaminya belum pernah sekali pun mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Kupang. Kendati demikian, Anita malah tidak mengharapkan sedikit pun bantuan dari pemerintah karena, baginya, yang menghidupi dirinya dan suami bukanlah pemerintah. “Saat ini, saya dan suami hanya menjalani pekerjaan kami masing- masing dan menikmati hidup kami apa adanya, dan untuk sekarang kami pun tidak butuh bantuan dari pemerintah,” tutur Anita sambil melangkah pergi untuk mengatur kendaraan yang keluar dari area parkir. Disadur dari http://regional.kompas.com/read diunduh 21 Januari 2014

Agus Salim. Hamka memilih jalan untuk berkiprah di negeri sendiri, merintis menjadi penulis dan pujangga. Sementara itu, bekal yang ia peroleh selama perantauan keliling Nusantara mengukuhkan kecakapannya sebagai seorang ulama. Wawasan Hamka semakin luas setelah sempat menimba ilmu di Yogyakarta kepada HOS Cokroaminoto selama beberapa bulan. Dari interaksinya dengan pahlawan nasional tersebut, ia memperolah cakrawala baru dalam memandang tantangan sosial terkini terkait upaya perjuangan melawan penjajahan Belanda maupun menghadapi gerakan komunis yang mulai menyebar di masyarakat. Disadur dari http://www.republika.co.id/

1. Bacalah teks berikut dengan saksama!

2. Lakukan identifikasi struktur teks dan ciri bahasa yang terdapat dalam teks tersebut.

3. Lengkapilah tabel berikut!

ASPEK

TEKS 1

TEKS 2

JUDUL

   

TUJUAN

   

STRUKTUR

   

CIRI BAHASA

   

JENIS TEKS

   

MENGANALISIS, MENYUNTING DAN MENGEVALUASI TEKS CERITA ULANG BIOGRAFI

1.

Bacalah teks yang terlampir!

 

2.

Lengkapilah tabel berikut!

No

Aspek

Deskripsi Cerita Ulang

Alasan/Bukti

 

1 Judul

1. Apakah

judul

 

menggambarkan keseluruhan isi teks?

2. Apakah judul singkat, padat,

dan jelas?

 

2 Orientasi

3. Apakah ada informasi umum mengenai tokoh yang diceritakan?

 
 

3 Tahap

4. Apakah tahapan peristiwa runtut?

 

peristiwa

5. Apakah penggambaran peristiwa yang dialami tokoh menarik

 

4 Reorientasi

6. Apakah reorientasi menjelaskan hal umum mengenai tokoh yang belum banyak diketahui orang?

 

7. Apakah reorientasi memaparkan rangkuman atau kesimpulan tahapan peristiwa yang dialami tokoh?

8. Apakah pemaparan reorientasi menarik?

 

5 Ciri bahasa

Apakah saja ciri bahasa yang terdapat dalam teks tersebut!

 

3. Berdasarkan hasil temuan data yang ada apakah teks di atas termasuk teks cerita ulang biografi? Jelaskan!

4. Lakukanlah penyuntingan, sehingga teks di atas menjadi teks cerita ulang biografi yang baik!

5. Tuliskanlah evaluasi berupa komentar dalam bentuk teks yang Anda baca.

6. Tulislah komentar dengan syarat, satu paragraf yang mendeskripsikan kelengkapan struktur, satu paragraf yang mengemukakan kelebihan dan kekurangan pada teks tersebut,

dan satu paragraf yang memberikan penilaian terhadap kualitas teks yang dinilai.

Contoh teks evaluasi

Evaluasi Teks Biografi Alessandro Volta

Teks cerita pendek berjudul “Biografi Alessandro Volta” di atas memiliki struktur isi yang lengkap, yaitu memuat orientasi (pengenalan secara umum siapa Volta), tahapan peristiwa (tahapan kehidupan yang dialami Volta dari masa kecil, jenjang pendidikan, karier, penemuan-penemuan, dan prestasinya), dan reorientasi (berisi pengenalan secara umum tokoh yang belum dimunculkan dalam orientasi di atas). Teks tersebut mengenalkan tokoh dengan begitu menarik. Teks biografi tersebut dibuka dengan menyajikan latar belakang kehidupan tokoh. Cara membuka teks cerita pendek biografi ini cukup menarik, pembaca di arahkan untuk mengenal siapa dan prestasi apa yang diraih oleh tokoh sebelum membahas biodata tokoh. Tahapan kehidupan disajikan secara runtut dan sistematis. Mulai dari bagaimana kehidupan masa kecil tokoh, prestasi dan latar belakang pendidikan yang dilalui tokoh, dan karier yang dirintis dari posisi sebagai pekerja biasa hingga menjadi ilmuan ternama. Prestasi, pencapaian karier, dan berbagai karya tokoh tersebut dibahas secara rinci dan tidak menggambarkan superioritas tokoh. Hal tersebut terlihat dari ilustrasi yang digambarkan, tokoh tersebut tidak digambarkan sebagai tokoh yang selalu mengalami keberhasilan saja namun juga digambarkan kegagalan-kegagalan dan sifat-sifat kurang baik yang dimiliki tokoh. Gambaran menarik juga terdapat pada bagian akhir teks. Pembaca diajak mengenal lebih mendalam siapa tokoh tersebut dari sudut pandang lain yang belum diketahui orang lain. Penulis mengajak pembaca mengintip tokoh dari sisi yang hanya dikatahui orang dekat tokoh. Di samping kelebihannya, teks biografi berjudul “Biografi Alessandro Volta” tersebut juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut terlihat dari penggunaan bahasa. Tampaknya penulis kurang hati-hati dalam memilih diksi. Buktinya terdapat banyak sekali dijumpai penggunaan kata selanjutnya. Teks berjudul “Biografi Alessandro Volta” memiliki unsur yang lengkap, terdiri dari orientasi, tahap peristiwa dan reorientasi. Penulis teks tersebut menunjukkan kreativitas dan kemenarikan isi. Isi disusun runtut pertahap sesuai dengan alur waktu yang dilalui tokoh. Selain berisikan kelebihan teks ini juga memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut di antaranya terdapat pada pemilihan diksi yang monoton. Pemilihan diksi yang monoton ini membuat pembaca jenuh dan tidak menimbulkan efek amplifikasi.