Anda di halaman 1dari 30

BAGIAN RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN KASUS
JANUARI 2015

FRAKTUR

OLEH
Fadli Amali
Nuria Iftitah Dedikasih D.
Andi Muh. Fadlillah Firstiogusran
Muh. Rahmat Ridha

C11110268
C11110829
C11111352
C11111318

PEMBIMBING:
dr. Darwin Horas

KONSULEN
dr. Isqandar Masoud, Sp.Rad

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama/Stambuk
: FadliAmali
C11110268
NuriaIftitahDedikasih D
C11110829
AndiMuh. FadlillahFirstiogusran C11111352
Muh. RahmatRidha
C11111318
Laporan Kasus
: Fraktur
Menyatakan bahwa telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada
bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Penguji

Konsulen

Makassar, Januari 2015


Pembimbing

dr. Isqandar Masoud, Sp. Rad

dr. Darwin Horas

KetuaBagianRadiologi
FakultasKedokteranUniversitasHasanuddin

Prof. Dr. dr. Muhammad Ilyas, Sp. Rad (K)

BAB 1
LAPORAN KASUS

No. Rekam Medik


: 694358
Nama Pasien
: Ny. B
Umur
: 54 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Bulukumba
Pekerjaan
: Tempat/Tanggal lahir : 14-02-1960
Agama
: Islam
Kebangsaan
: Indonesia
Tanggal Pemeriksaan : 24Desember 2014
Perawatan Bagian
: Lontara 2 Ortopedi K. 9 RS.WahidinSudirohusodo
Anamnesis :
Keluhan Utama : Luka padapahakanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Luka yang dialami pasien sejak1 hari sebelum MRS diakibatkan karena
terjadinya kecelakaan lalu lintas. Mekanisme trauma yaitu pasien sedang
dibonceng naik motor, ditabrak di bagian lutut oleh motor lain dari arah
berlawanan. Tidak ada riwayat pingsan maupun muntah.
Riwayat Penyakit dahulu: Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Pengobatan :
Dirawat di RS Bulukumba selama 1 hari sebelum masuk RS Wahidin
Sudirohusodo dengan diagnosis open fracture femur 1/3 distal.
Riwayat penggunaan alat bantu: Inspeksi
- Tampaklacerated wound di medial aspekdistal site, ukuran 10 x 8 cm, bone
exposedada. Lacetaded wound di anterior aspek, 4 x 2 cm, bone exposed ada,
- Deformitas (+)
- Hematoma (+)
Palpasi
- Nyeritekan (+)
- ROM: Gerakanaktifdanpasifknee joint terbataskarenanyeri
- NVD: Sensibilitasbaik, arteridorsalispedisteraba, arteritibialis posterior teraba,
CRT < 2 detik, extend big toe ada.
Pemeriksaan Fisis
Keadaan umum
: Sakit Sedang/GiziBaik
Kesadaran
: Compos Mentis, GCS 15
Vital Sign
: BP : 100/60 mmHg
HR : 80 x/menit
T
: 36,5C
RR
: 20 x/menit

Radiologi

Foto Genu/Knee Joint Dextra AP/ Lateral:


Tampakfrakturkominutifpada 1/3 distal of femur dextradenganfragmen distal
kecraniolateroposterior.
Tampakfrakturkominutifos patella dextra.
Tampakfrakturavulsibagian anterior condylus lateral os tibia dextra.
Mineralisasi tulang baik.
Celahsendisulitdievaluasi.
Jaringanlunak di sekitarnyakesanswelling
Kesan : Frakturkominutif 1/3 distal os femur dextra
Frakturkominutifos patella dextra
Frakturcondylus lateral os tibia dextra
Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal Pemeriksaan: 24 Desember 2014
RBC

Hasil
2,01 x 106 /mm3

Nilai Rujukan
3,8 5,8

HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
PCT
PDW
WBC
NEU
LYM
MON
Waktu Bekuan
Waktu Pendarahan
GDS
HBs Ag (ICT)

6,8 g /dL
19,0 %
94 m3
33,9 pg
36,0 g/dL
0,115 %
9,8 %
16,1 103/mm3
86,9%
13,97
8,3 %
1,33
3,7%
0,59
7 menit
3 menit
144 mg/dl
Non reaktif

12,0 16,0
37,0 47,0
80 100
27,0 32,0
32,0 36,0
0,150 0,500
11,0 18,0
4,0 10,0
0,0 99,9
2,00 7,50
0,0 99,9
1,00 4,00
0,0 99,9
0,20 1,00
4 10
17
140
Non reaktif

Diagnosis
Open comminutive fracture intercondyler right femur grade 3A
Penatalaksanaan
Medikamentosa:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ringer laktat infus 20 tetes per menit


Ceftriaxon 1 gram/12 jam IV
Metronidazol 500 mg/8 jam IV
Hypobac 300 mg/12 jam IV
Ketorolac 30 mg / 8 jam IV
Transfusi PRC 2 bag
Premedikasi Dexametason 1 amp

Operatif:
1. Debridement
2. Apply K-Wire
3. Apply External Fixation

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Fraktur adalah pemecahan satu bagian, terutama tulang. Fraktur adalah
hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang

bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma berat;
kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri
terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan
fraktur.1,2
Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya
telah mengalami proses paotologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder,
mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis, dan sebagainya. Trauma ringan saja
sudah dapat menimbulakan fraktur.2
Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus, misalnya
fraktur fibula pada pelari jarak jauh, frkatur tibia pada penari balet, dan sebagainya.2

2.2 Epidemiologi
Insidensi fraktur distal femur adalah 6% dari seluruh fraktur yang terjadi pada
femur. Insiden Fraktur distal femur ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, kelompok
pertama adalah pasien dengan umur dibawah 40 tahun yang lebih dominan terjadi
pada laki-laki dan disebabkan oleh trauma berat yang disebabkan kecelakaan lalu
lintas dan jatuh dari tempat yang tinggi. Sedankan kelompok yang lainnya adalah
pasien dengan usia lebih dari 50 tahun dan lebih dominan pada wanita dengan
osteoporosis yang disebabkan trauma ringan. Sekitar 60% dari fraktur distal femur
terjadi pada kelompok dengan usia lebih dari 50 tahun yang faktor utamanya adalah
osteoporosis.3

2.3 Anatomi dan Fisiologi


Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan
tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang di
tengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hemapoetik, yang membentuk
berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyimpan dan
mengatur kalsium dan fosfat.4

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima
fungsi utama, yaitu:5
a. Membentuk rangka badan.
b. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot.
c. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat
dalam, seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru.
d. Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium, dan garam.
e. Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemapoetik

untuk

memproduksi sel-sel darah merah , sel-sel darah putih, dan trombosit.


Tulang dalam garis besarnya dibagi atas; tulang panjang, tulang pendek,
dan tulang pipih dimana os femur termasuk kedalam salah satu tulang panjang.5
Os femur terdiri atas Caput, Corpus dan collum dengan ujung distal dan
proksimal. Tulang ini bersendi dengan acetabulum dalam struktur persendian
panggul dan bersendi dengan tulang tibia pada sendi lutut. Os femur atau Tulang
paha atau tungkai atas merupakan tulang terpanjang dan terbesar pada tubuh yang
termasuk seperempat bagian dari panjang tubuh. Tulang paha terdiri dari 3 bagian,
yaitu epiphysis proximalis, diaphysis, dan epiphysis distalis.5

Gambar 1. Os Femur Sinistra7


a. Epiphysis Proksimalis
Ujung membuat bulatan 2/3 bagian bola disebut caput femoris yang
punya facies articularis untuk bersendi dengan acetabulum ditengahnya
terdapat cekungan disebut fovea capitis. Caput melanjutkan diri sebagai
collum femoris yang kemudian disebelah lateral membulat disebut throcantor

major ke arah medial juga membulat kecil disebut trochantor minor. Dilihat
dari depan, kedua bulatan major dan minor ini dihubungkan oleh garis yang
disebut linea intertrochanterica (linea spiralis). Dilihat dari belakang, kedua
bulatan ini dihubungkan oleh rigi disebut crista intertrochanterica. Dilihat dari
belakang pula, maka disebelah medial trochantor major terdapat cekungan
disebut fossa trochanterica.5
b. Diaphysis
Merupakan bagian yang panjang disebut corpus. Penampang melintang
merupakan segitiga dengan basis menghadap ke depan. Mempunyai dataran
yaitu facies medialis, facies lateralis, facies anterior. Batas antara facies
medialis dan lateralis nampak di bagian belakang berupa garis disebut linea
aspera, yang dimulai dari bagian proximal dengan adanya suatu tonjolan kasar
disebut tuberositas glutea. Linea ini terbagi menjadi dua bibit yaitu labium
mediale dan labium laterale, labium medial sendiri merupakan lanjutan dari
linea intertrochanrterica. Linea aspera bagian distal membentuk segitiga
disebut planum popliseum. Dari trochantor minor terdapat suatu garis disebut
linea pectinea. Pada dataran belakang terdapat foramen nutricium, labium
medial lateral disebut juga supracondylaris lateralis/medialis.5
c. Epiphysis distalis
Merupakan bulatan sepasang yang disebut condylus medialis dan
condylus lateralis. Disebelah proximal tonjolan ini terdapat lagi masingmasing sebuah bulatan kecil disebut epicondylus medialis dan epicondylus
lateralis. Epicondylus ini merupakan akhir perjalanan linea aspera bagian
distal dilihat dari depan terdapat dataran sendi yang melebar disebut facies
patelaris untuk bersendi dengan os. patella. Intercondyloidea yang dibagian
proximalnya terdapat garis disebut linea intercondyloidea.5
2.5 Etiologi
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita
harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan
tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan
tekanan memuntir (shearing).2
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
membengkok, memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat5 :

Trauma langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan


terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.

Trauma tidak langsung


Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah
yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan
extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini
biasanya jaringan lunak tetap utuh.

Tekanan pada tulang dapat berupa2 :

Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau

oblik
Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur

impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi


Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau

memecah misalnya pada bahan vertebra.


Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu

akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z.


Fraktur oleh karena remuk
Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian
tulang.

2.6 Patofisiologi dan Klasifikasi


Berdasarkan patofisiologinya, fraktur dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu2:
1. Fraktur traumatik yang diakibatkan oleh trauma yang terjadi secara tiba-tiba.
2. Fraktur patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil apabila
tulang telah melemah akibat osteoporosis atau penyakit lainnya.
3. Fraktur stresyangterjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada
suatu tempat tertentu.
Klasifikasi klinis17

Fraktur tertutup (simple fracture)

Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
Fraktur terbuka (compound fracture)
Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika
pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau
from without (dari luar).
Fraktur terbuka dapat dibagi menjadi beberapa grade yaitu:
Grade I
: Fraktur terbuka kurang dari 1 cm dan bersih.
Kerusakan jaringan minimal, frakturnya simpel atau
Grade II

oblique dan sedikit kominutif


: fraktur terbuka dengan luka robek lebih dari 1 cm
tanpa kerusakan jaringan
yang

luas

serta

fraktur

lunak, flap kontusio avulsi


komunitif

sedang

dan

Grade IIIA

kontaminasisedang.
:fraktur segemntal atau sangat kominutif penutupan

Grade IIIB

tulang dengan jaringan lunak cukup adekuat


: trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak
yang cukup luas, terkelupasnya daerah periosteum dan
tulang tampak terbuka, serta adanya kontaminasi yang

Grade III C

cukup berat
: Berhubungan

dengan

luka

pada

arteri

yang

membutuhkan perbaikan.
Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)
Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion, delayed
union, nonunion, infeksi tulang.
Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :

1. Lokalisasi (gambar 2)
Diafisial
Metafisial
Intra-artikuler
Fraktur dengan dislokasi

Gambar 2klasifikasi fraktur menurut lokalisasi2


a. Fraktur diafisis
c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis
d. Fraktur intra-artikule
2. Konfigurasi (gambar 3)
Fraktur transversal
Faktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur Z
Fraktur segmental
Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya

fraktur epikondilus humeri, fraktur patela


Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang

tengkorak
Fraktur impaksi
Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah pada

fraktur vertebra, patela, talus, kalkaneus


Fraktur epifisis

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Gambar 3.klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.2


Transversal
Oblik
Spiral
Kupu-kupu
Komunitif
Segmental
Depresi

3. Menurut ekstensi (gambar 4)


Fraktur total
Fraktur tidak total (fraktur crack)
Fraktur buckle atau torus
Fraktur garis rambut
Fraktur green stick

Gambar 4.Beberapa gambaran radiologik konfigurasi fraktur.2


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Transversal
Oblik
Segmental
Spiral dan segmental
Komunitif
Segmental
Depresi

4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya (gambar 5)


Tidak bergeser (undisplaced)
Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :
a) Bersampingan
b) Angulasi
c) Rotasi
d) Distraksi
e) Over-riding
f) Impaksi
Gambar 5. Pergeseran tulang.2

.FRAKTUR DISTAL FEMUR.

Supracondylar
Nondisplaced
Displaced
Impacted
Continuited

Gambar 6. Klasifikasi fraktur distal


femur.7

Condylar
Intercondylar

Fraktur suprakondiler femur


Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur
dan batas metafisis dengan diafisis femur. Fraktur terjadi karena tekanan varus atau
valgus disertai kekuatan aksial dan putaran. Klasifikasi fraktur suprakondiler femur

terbagi atas: tidak bergeser, impaksi, bergeser, dan komunitif, yang dapat dilihat pada
gambar 7.2

Gambar 7. Klasifikasi fraktur suprakondiler.2


A. Fraktur tidak bergeser
B. Fraktur impaksi

C&D. Fraktur bergeser


E. Fraktur komunitif

Gambaran klinis pada pasien ditemukan riwayat trauma yang disertai


pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Krepitasi mungkin
ditemukan.2
Pengobatan dapat dilakukan secara konservatif, berupa: traksi berimbang
dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson, Cast-bracing, dan
spika panggul. Terapi operatif dapat dilakuan pada fraktur terbuka atau adanya
pergeseran fraktur yang tidak dapat direduksi secara konservatif. Terapi dilakukan
dengan mempergunakan nail-plate dan screw dengan macam-macam tipe yang
tersedia.2
KLASIFIKASI FRAKTUR PATELLA
A. Nondisplaced
Pada fraktur nondisplaced, jarak antara fragmen tulang kurang dari 3 mm dan
jarak antara permukaan sendi dari tampak lateral kurang dari 2 mm.8
1. Stellata
Fraktur stellata pada patella adalah hasil dari penekanan langsung pada
patella terhadap condylus pada femur.8

Gambar 8.Fraktur nondisplaced stellata pada patella. Proyeksi


radiografik adalah anteroposterior (A), oblique (B), dan lateral (C).8
2. Transversal
Fraktur transversal patella adalah hasil dari tekanan terhadap
mekanisme extensor.9

Gambar 9. Fraktur nondisplaced transversal pada patella.9


3. Vertikal
Fraktur vertical patella merupakan hasil dari penekanan langsung
terhadap patella dalam keadaan sedikit hiperfleksi pada lutut.8

Gambar10. Fraktur nondisplaced vertikal pada patella.9


B. Displaced
1. Noncomminuted
a. Transversal (sentral)
Pada fraktur displaced noncomminuted sentral, pasien kehilangan
kemampuan extensi lutut secara aktif setelah dilakukan aspirasi, jarak
antara fragmen fraktur lebih dari 3 mm, atau jarak articular step lebih
dari 2 mm.8

Gambar 11. Fraktur displaced transversal patella. A. Tampak


anteroposterior. B. Tampak lateral.8
b. Polar
Fraktur polar pada patella adalah fraktur transversal yang terjadi baik
di bagian proksimal atau distal dari ekuator patella.8
1. Apikal/distal

Gambar12.Fraktur displaced pada polar distal patella. A. Tampak


anteroposterior B. Tampak lateral.8
2. Basal/proksimal
2. Comminuted
a. Stellata
Merupakan hasil dari tekanan langsung, fraktur stellata comminuted
biasanya memperlihatkan pergeseran tulang dengan berbagai tingkat.

Gambar 13.Fraktur stellata displaced patella. A. Tampak


anteroposterior. Fraktur sulit dilihat. B. Tampak lateral. Fraktur terlihat,
namun pergeseran terlihat moderate. C. Radiografi skyline dengan
jelas mengindikasikan displacement dan inkongruitas dari permukaan
sendi.8
b. Transversal/polar
Kominusi pada fragmen atas biasanya disertai satu atau dua garis
fraktur tambahan yang pergeserannya minimal. Kominusi pada
fragmen bawah biasanya lebih berat dan dapat disertai dengan
kominusi polar atas. Kominusi lebih sering terdapat pada kutub atas
daripada polar bawah.

Gambar 14.Fraktur comminutive transversal patella. A. Tampak


anteroposterior. Detail dari konfigurasi fraktur sulit dilihat. Komponen
transversal utama yang mengalami pergeseran dan fraktur sekunder
vertical terlihat. B. Tampak lateral. Pergeseran lebih jelas, namun
kominutif kurang terlihat.8

c. Highly comminuted, highly displaced


Pada tipe ini terdapat baik fraktur transversal dengan kominusi masif
yang merupakan efek sekunder dari penekanan atau fraktur stellata
dengan diastasis masif akibat dari kontraksi quadriceps yang terlalu
kuat.
C. Fraktur yang berkaitan dengan tulang-tendon patella-autograft tulang
Etiologi dari fraktur ini berhubungan dengan trauma akibat jatuh, namun ada
juga hipotesis akibat protokol rehabilitasi yang dipercepat.
1. Longitudinal
2. Transversal
KLASIFIKASI FRAKTUR PROXIMAL TIBIA

1. Klasifikasi Schatzker.10
I: Lateral split fracture
II: Split-depressed fracture of lateral plateau
III: Pure depression fracture of lateral plateau
IV: Medial plateau fracture
V: Bicondylar fracture
VI: Metaphyseal-diaphyseal disassociation

Gambar 15. Klasifiksi Schatzker.10


2. Klasifikasi AO/OTA.10
A. Non-articular
A1: Avulsi
A2: Simple Metaphyseal
A3: Comminuted Metaphyseal
B. Parial Articular
B1: Pure split
B2: Pure Depression
B3: Split Depression

C. Complete Articular
C1: Simple
C2: Articular simple, metaphyseal comminuted
C3: Articular comminution

Gambar 16. Klasifiksi AO/OTA.11

2.7 Gejala Klinis


Fraktur batang femur pada bayi tidak jarang terjadi akibat trauma persalinan.
Secara klinis, bayi yang bersangkutan tidak mau menggerakkan tungkai yang patah
sehingga kadang dianggap lumpuh. Pada fraktur batang femur dewasa, patah tulang
diafisis femur biasanya perdarahan dalam cukup luas sehingga dapat menimbulkan
syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri tetapi juga
ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar, terlihat lebih
pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat perdarahan dalam
jaringan lunak.12
2.8 Diagnosis
A. Pemeriksaan fisik.2

Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:


1. Syok, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang
atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
B. Pemeriksaan lokal.2
1. Inspeksi (Look)
Bandingkan dengan bagian yang sehat
Perhatikan posisi anggota gerak
Keadaan umum penderita secara keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
Lidah kering atau basah
Adanya tanda-tanda anemia karena pendarahan
Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan

fraktur tertutup atau terbuka


Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan
Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ

lain
Perhatikan kondisi mental penderita
Keadaan vaskularisasi.

2. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh
sangat nyeri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Temperatur setempat yang meningkat
Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh

kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang


Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-

hati
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada

bagian distal daerah trauma, temperatur kulit.


Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai.

3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma.

Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat
sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga
dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah
dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis
atau neurotmesis. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik
karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita
serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.
2.9 Pemeriksaan Radiologi
Macam-macam pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk
menetapkan kelainan tulang dan sendi :
A. Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan bidai yang bersifat
radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan
radiologis.2
Tujuan pemeriksaan radiologis2 :
Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta

pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru

Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua2:

Dua posisi proyeksi, dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-

posterior dan lateral


Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di

bawah sendi yang mengalami fraktur


Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua
anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.

Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua
daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu

dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang.


Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto
berikutnya 10-14 hari kemudian.

Gambar 17. Fraktur kominutif suprakondiler dan intrakondiler femur.13


B. CT-Scan
Suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian tulang
atau sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis. Pemeriksaan ini
menggunakan pesawat khusus.2

Gambar 18. Fraktur distal femur.14


C. MRI

MRI dapat digunakan untuk memeriksa hampir semua tulang, sendi, dan
jaringan lunak. MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi cedera tendon,
ligamen, otot, tulang rawan, dan tulang.2

Gambar 19. MRI fraktur distal femut.15


2.10 Penatalaksanaan
A. Prinsip Umum
Pengobatan bedah ortopedi secara umum mengikuti prinsip dasar pengobatan
penyakit lainnya dan berpedoman kepada hukum penyembuhan (law of nature),
sifat penyembuhan, serta sifat manusia pada umumya. Disamping pemahaman
tentang prinsip dasar pengobatan yang rasional, metode pengobatan disesuaikan
pula secara individu terhadap setiap penderita. Pengobatan yang diberikan juga
harus berdasarkan alasan mengapa tindakan ini dilakukan serta kemungkinan
prognosisnya.2
Secara umum prinsip pengobatan bedah ortopedi adalah2 :
Jangan mebuat keadaan lebih buruk bagi penderita (Iatrogenik)
Pengobatan berdasarkan pada diagnosis dan prognosis yang tepat
Pilih jenis pengobatan yang sesuai dengan keadaan penyakit penderita
Ciptakan kerja sama yang baik tanpa melupakan hukum penyembuhan

alami
Pengobatan yang praktis dan logis
Pilih pengobatan secara individu
Jangan melakukan pengobatan yang tidak perlu.

B. Metode pengobatan kelainan bedah ortopedi

Pada umumnya penanganan pada bidang bedah ortopedi dapat dibagi dalam
tiga cara, yaitu2:
1. Tanpa pengobatan
Sekurang-kurangnya 50% penderita (tidak termasuk fraktur) tidak
memerlukan tindakan pengobatan dan hanya diperlukan penjelasan serta
nasihat-nasihat seperlunya dari dokter. Tapi tidak jarang penderita belum
merasa puas bila hanya diberikan nasihat (terutama oleh dokter umum)
sehingga perlu dirujuk kedokter ahli bedah tulang untuk penjelasan rinci
tentang penyakit yang diderita dan prognosisnya.
2. Pengobatan non-operatif
Bed Rest
Bed rest merupakan salah satu jenis metode pengobatan, baik secara
umum ataupun hanya lokal dengan mengistirahatkan anggota

gerak/tulang belakang dengan cara-cara tertentu.


Pemberian alat bantu
Alat bantu ortopedi dapat terbuat dari kayu, aluminium atau gips,
berupa bidai, gips korset, korset badan, ortosis (brace), tongkat atau alat
jalan lainnya. Pemberian alat bantu bertujuan untuk mengistirahatkan
bagian tubuh yang mengalami gangguan, untuk mengurangi beban
tubuh, membanu untuk berjalan, untuk stabilisasi sendi atau utuk
mencegah deformitas yang ada bertambah berat.
Alat bantu ortopedi yang diberikan bisa bersifat sementara dengn
menggunakan bidai, gips pada badan (gips korset), bisa juga untuk
pemakaian jangka waktu lama/permanen misalnya pemberian ortosis,
protesa, tongkat atau pemberian alat jalan lainnya untuk menyangga
bagian-bagian dari anggota tubuh/anggota gerak yang mengalami

kelemahan atau kelumpuhan pada penderita.


Pemberian obat-obatan
Pemberian obat-obatan dalam bidang ortopedi meliputi:
a. Obat-obat anti-bakteri
b. Obat-obat anti inflamasi
c. Analgetik dan sedatif
d. Obat-obat khusus
e. Obat-obat sitostatika
f. Vitamin
g. Injeksi lokal.
3. Pengobatan operatif
a. Amputasi

Indikasi pelaksanaan amputasi adalah:


Mengancam kelangsungan hidup penderita misalnya pada luka remuk
(crush injury), sepsis yang berat (misalnya gangren), adanya tumor

tumor ganas.
Kematian jaringan baik akibat diabetes melitus, penyakit vaskuler,

setelah suatu trauma, kombusio atau nekrosis akibat dingin.


Anggota gerak tidak berfungsi sama sekali (merupakan gangguan
atau benda asingsaja), sensibilitas anggota gerak hilang sama sekali,
adanya nyeri hebat, malformasi hebat atau osteomilitis yang disertai

dengan kerusakan hebat.


b. Eksostektomi
Ini adalah operasi pengeluaran tonjolan tulang/tulang rawan misalnya
pada osteoma tulang frontal atau osteokondroma.
c. Osteotomi
Osteotomi merupakan tindakan yang bertujuan mengoreksi deformitas
pada tulang, misalnya osteotomi tibial akibat malunion pada tibia (akibat
angulasi atau akibat rotasi) atau pada kubitus varus sendi siku setelah
suatu fraktur suprakondiler humeri pada anak. Osteotomi juga untuk
mengurangi rasa nyeri pada osteoartritis di suatu sendi. Pada osteoartritis
akibat genu varus misalnya, untuk mengurangi nyeri terutama pada
kompartemen medial sendi lutut dilakukan osteotomi tinggi tibia.
d. Osteosintesis
Osteosintesis adalah operasi tulang untuk menyambung dua bagian
tulang atau lebih dengan menggunakan alat-alat fiksasi dalam seperti
plate, screw, nail plate, wire/k-wire. Teknik osteosintesis yang terkenal
adalah metode AO-ASIF (Association for the Study of Internal Fixation)
yang mengadakan kursus secara teratur di Davos, Swistzerland. Prinsip
dasar metode ini adalah fiksasi rigid dan mobilisasi dini pada anggota
gerak.
e. Bone grafting (tandur alih tulang)
Dikenal tiga sumber jaringan tulang yang dapat dipakai dalam bone graft
yaitu :
Autograft
Disebut autograft bila sumber tulang berasal dari penderita senidri
(dari kristal iliaka,kosta, femur distal, tibia proksimal atau fibula).
Daerah sumber disebut daerah donor sedangkan daerah penerima
disebut resipien.

Allograft (homograft)
Disebut allograft bila sumber tulang berasal dari orang lain yang
biasanya disimpan dalam bank tulang, misalnya setelah operasi sendi
panggul atau operasi-operasi tulang yang besar. Selain itu, allograft

juga bisa dari tulang mayat.


Xenograft (heterograft)
Disebut heterograft bila sumber tulang bukan berasal dari tulang
manusia, tetapi dari spesies yang lain.

2.11 Komplikasi
1. Infeksi
Komplikasi utama dari penanganan operatif pada fraktur distal femur adalah
infeksi. Pada literatur-literatur terdahulu, khususnya pada tahun 1960-an,
infeksi pada pasca operasi mencapai angka 20%. Pada saat ini infeksi pada
pasca operasi fracture hanya mencapai angka 0-7%. Faktor-faktor predisposisi
terjadinya infeksi yaitu, (1) Trauma berat, khususnya ketika terjadi kerusakan
pembuluh darah yang luas pada sekitar tulang, (2) Fraktur terbuka (open
fractures), (3) Pembedahan yang banyak melibatkan kerusakan vaskulervaskuler tulang, (4) Operator pembedahan yang kurang berpengalaman
sehingga memperpanjang waktu kontak jaringan dalam dengan dunia luar
pada luka terbuka, (5) Fiksasi luka yang tidak adekuat.16
2. Nonunion
Insiden nonunion sangat bervariasi yang disebutkan dari beberapa literatur,
tapi komplikasi ini banyak ditemukan pada pasien yang telah menjalani
treatment ORIF yaitu lebih dari 10%. Nonunion lebih banyak dilaporkan
terkena pada daerah supracondylar dibandingkan intercondyler. Faktor
predisposisi terjadinya nonunion yaitu, (1) Pada tulang-tulang rapuh atau yang
mengalami kerusakan, (2) Trauma berat, khususnya pada fraktur terbuka (open
fractures) atau pada comminuted fractures dengan jaringan-jaringan lunak
yang terbuka secara luas dan kerusakan vaskuler-vaskuler sekitar tulang, (3)
fiksasi yang tidak adekuat, (4) kegagalan penyatuan kembali pada kasus
comminuted fracture, (5) pada kasus infeksi luka.16
3. Malunion atau Malalignment
Malunion pasca penanganan fraktur distal femur lebih banyak terjadi pada
orang-orang yang menjalani terapi konsevatif ketimbang pada terapi operatif.
Masalah-maslah yang sering terjadi adalah seperti malrotasi, pemendekan

(shortening), dan axial malalignment. Untuk menghindari kejadian


malalignment pada internal fixation, maka perencanaan pra operasi menjadi
hal yang sangat penting. Penentuan posisi anatomi normal, penentuan lokasi
alat fiksasi yang tepat, dan memperoleh gambaran lokasi operasi secara
radiografi yang layak dapat membantu untuk menghindari kejadian
malalignment.16
4. Loss of fixation
Salah satu komplikasi utama setelah ORIF pada distal femur adalah hilangnya
fiksasi tulang-tulang. Faktor predisposisi dari komplikasi ini adalah (1) Usia
tua dan osteopenia, (2) Fragmen fraktur yang banyak, (3) fraktur berfragmen
pada intercondylar yang membuat fiksasi tulang pada daerah distal tidak
sempurna, (4) Infeksi.16
5. Kontraktur dan penurunan pergerakan lutut (Knee Motion)
Pasca penanganan fraktur pada distal femur, biasa didapatkan penurunan knee
motion. Bagaimanapun, pergerakan yang normal menjadi hal yang penting
untuk tetap dipertahankan pasca operasi. Penelitian menyebutkan bahwa
beberapa pasien pasca operasi mengalami penurunan range of motion dan hal
ini didapatkan pada pasien-pasien usia muda yang mengalami trauma berat.16
2.12 Prognosis
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan.
Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa
jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada
penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan
apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai smapai terjadi konsolidasi. Faktor
mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting
dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang
sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.2

BAB III
DISKUSI
3.1 Resume
Seorang wanita 54 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan luka pada paha
kanan yang dialami sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit setelah mengalami
kecelakaan lalulintas. Mekanisme trauma yaitu pasien dibonceng naik sepeda motor
dan ditabrak di bagian lutut oleh motor lain dari arah berlawanan. Riwayat pingsan
(-), riwayat muntah (-). Pada pemeriksaan fisis didapatkan Tampak lacerated wound
di medial aspek distal site, ukuran 10 x 8 cm, bone exposed ada. Lacetaded wound di
anterior aspek, 4 x 2 cm, bone exposed ada, tampak deformitas dan hematoma. Pada
hasil foto radiologi tampak fraktur kominutif pada 1/3 distal dari femur dextra dengan
fragmen distal ke arah craniolatero posterior, tampak fraktur kominutif os patella
dextra, tampak fraktur avulsi bagian anterior condylus lateral os tibia dextra, serta
jaringan lunak di sekitarnyadengankesan swelling. Dari anamnesis, pemeriksaan fisis
dan hasil foto radiologi maka pasien didiagnosis dengan open komminutif fracture
intercondylar right femur grade III A.
3.2 Pembahasan
Dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan
laboratorium pasien ini didagnosis dengan Open comminutive fracture intercondyler
right femur grade 3A. Open fraktur adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within
(dari dalam) atau from without (dari luar), dengan tipe 3A yang maksudnya adalah
fraktur segemntal atau sangat kominutif yang penutupan tulang dengan jaringan
lunakny cukup adekuat. Sedangkan dari foto radiologis dikatakan fraktur kominutif

karena fragmen fraktur lebih dari dua. Pasien ini diterapi dengan Debridement,
pemasangan K-Wire, dan pemasangan External Fixation. Pada pasien ini komplikasi
yang dapat terjadi diantaranya adalah infeksi, nonunion, malunion, loss of fixation,
kontraktur dan penurunan pergerakan lutut (knee motion)

DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC,
2002.
2. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Iwan Ekayuda (editor), FK
UI, Jakarta, 2011. Hal 31
3. B.-C. Link, R. Babst. Current Concepts in Fractures of the Distal Femur.Acta
Chirurgiae Orthopaedicae et Traumatologiae Cechosl., 79, 2012, p. 11-20.
4. Michael A. Anatomi dan fisiologi tulang dan sendi. Dalam : Patofisologi, konsep
klinis proses-proses penyakit. Ed 6. Editor : Sylivia.A, Lorraine M. Jakarta: EGC,
2005. P. 1357-64.
5. Rasjad C. Struktur dan Fungsi Tulang. Dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.
Makassar : Bintang Lamumpatue, 2012.
6. Grace P, Borley N. Surgery at Glance. Ed 2. British : Blackwell publishing
company. 2002.
7. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit PT Yarsif
Watampone, Jakarta, 2009. Hal 82-85, 92-94, 355-361, 364.
8. Archdeacon, M. T., Sanders R. W. Patella Fractures and Extensor Mechanism
Injuries. Chapter 54. [online]. 2003 [cited 2015 January 4]; Available from: URL:
http://olc.metrohealth.org/SubSpecialties/Trauma/Media/SkeletalTraum
a/ch54.pdf

9. Melvin, J.S., Karunakar M.A. Patella Fractures and Extensor Mechanism Injuries.
[online].
[cited
2015
January
4];
Available
from:
URL:
http://www.lww.co.uk/documents/560/Rockwood-Ch54-PatellaFractures-and-Extensor-Mechanism-Injuries.pdf

10. Awolaran O. T. Fracture Classifications in Orthopaedics. [online]. 2013 [cited


2015
January
4].
Available
from:
URL:
http://www.researchgate.net/profile/Olugbenga_Awolaran/publication/2
57067156_Fracture_Classifications_in_Orthopaedics/links/0deec52446d
0088914000000.pdf
%2Bproximal+tibia+fracture+classifications&client=safari&rls=en&hl
=id&&ct=clnk

11. Zimmer, Inc. NCB Proximal Tibia-Surgical Technique. [online]. 2008 [cited 2015
January 4]. Available from: URL: http://www.zimmer.cn/content/pdf/enUS/237000200R1_NCB_Proximal_Tibia_Final.pdf.

12. Sjamsuhidajat, de Jong. Sistem Muskuloskeletal. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah.
Ed 3. Jakarta: EGC, 2010. p959-1083.
13. Baker J.B., Escobedo E.M., Nork S.E, Henley M.B. Hoffa Fracture: A Common
Association with High-Energy Supracondylar Fractures of the Distal Femur.

[online].

2002

[cited

2015

January

4]. Available from: URL:


www.ajronline.org/dol/full/10.2214/ajr.178.4.1780994.
14. Hosn. S.S. Distal Femoral Fracture Associated with Lipohaemarthrosis. [online].
2013
[cited
2015
January
4].
Available
From:
URL:
www.radiopedia.org/cases/distal-femoral-fracture-associated-with-lipohaemarthrosis .
15. American Journal of Sports Medicine. Salter-Harris Type III Fractures of the
Distal Femur. [online]. 2015 [cited 2015 January 4]. Available from: URL:
ajs.sagepub.com/content/36/3/572/F2.expansion.html.
16. Krettek C., Helfet D.L. Fractures of Distal Femur. Chapter 54. [online]. 2003
[cited
2015
January
4];
Available
from:
URL:
http://olc.metrohealth.org/SubSpecialties/Trauma/Media/SkeletalTraum
a/ch53.pdf
17. Katta R. Study of Management of Tibial Diaphyseal Fractures with
Interlocking Nail. A Study Done at Katta Hospital. 2012. p32-3.