Anda di halaman 1dari 6

A.

Pengertian Tinja
Eskreta manusia merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia
yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Zatzat yang tidak dibutuhkan tersebut berbentuk tinja dan air seni.(Chandra, 2012).
Kotoran manusia (faeces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks.
Penyebaran penyakit yang bersumber pada faeces dapat melalui berbagai macam jalan dan cara.
(Notoatmodjo,2006).
Kotoran dari manusia yang sakit atau sebagai carrier dari suatu penyakit dapat menjadi
sumber infeksi.Kotoran tersebut mengandung agent penyakit yang dapat ditularkan pada pejamu
baru dengan dengan perantara lalat.(Chandra, 2012).
1.

Komposisi Tinja
Komposisi tinja manusia terdiri atas :

2.

a. Zat padat
b. Zat organik
c. Zat anorganik
Kuantitas Tinja
Kuantitas tinja dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Keadaan setempat
Faktor fisiologi
Kebudayaan
Kepercayaan

B. Bahaya Tinja Terhadap Kesehatan


Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pembuangan kotoran secara tidak
baik adalah pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan dan perkembangbiakan
lalat. Sementara itu, penyakit-penyakit yang dapat terjadi akibat keadaan diatas, antara lain ,
tifoid, paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral dan beberapa penyakit
infeksi gastrointestinal, serta infestasi parasit lain. Penyakit tersebut bukan saja menjadi beban

komunitas (dilihat dari angka kesakitan, kematian dan harapan hidup), tetapi juga penghalang
bagi tercapainya kemajuan dibidang social dan ekonomi.Pembuangan kotoran manusia yang baik
merupakan hal yang mendasar bagi keserasian lingkungan.(Chandra, 2012).
Ekskreta yang dimanfaatkan manusia dalam hal pertanian dan budidaya air ternyata memiliki
dampak juga terhadap kesehatan manusia. Ekskreta mengandung kadar pathogen yang tinggi
karena ekskreta mengandung virus, bakteri, protozoa dan cacing yang keluar dari dalam tubuh
manusia kemudian masuk melalui makanan yan dikonsumsi manusia sehingga dapat
menimbulkan infeksi. (Mara dan Cairncross (1994).
Berikut ini kelompok infeksi yang diakibatkan oleh ekskreta :
Tabel 1.2
Penggolongan infeksi asal ekskreta menurut lingkungan
No Kasus

Kelompok
Corak

Pusat

Tindakan

Penularan

Pengendalian
Utama
Penyediaan

Infeksi

Dan

Epidemiologi
Tidak laten, Amoebiasis,

Perorangan

Dosis infeksi balantidiasis,

dan rumah air

rendah

Infeksi

II

Tidak

enterobiasis,

dan

jamban

virus usus, giardiasis,

tangga,

himenolepiasis,hepatiti

pendidikan

s A, infeksi rotavirus
laten, Infeksi campylobacter, Perorangan

dosis infeksi kolera,


sedang

infeksi tangga

rumah

atau Escherichia

tinggi

salmonellosis,

kekanjangan

shigellosis,

sedang

yersiniosis

kesehatan.
Penyediaan

infeksi dan rumah air


coli, tangga
Air
tifus Tanaman

dan

rumah
jamban

tangga,
pendidikan
kesehatan.

mampu

Pengolahan

berkembang

ekskreta

biak.

perumahan

yang
3

III

Laten

dan Ascariasis

Halaman

Kejang, tidak Infeksi cacing tambang, Ladang


ada inang
4

IV

Laten

strongylodiasis,
trichuriasis
dan Taeniasis

Kanjang,
Sapi

atau

babi sebagai

diperbaiki.
Penyediaan
jamban

Tanaman
Halaman

Penyediaan

Ladang

Jamban

Pakan

Pengolahan

Ternak

Ekskreta

inang

Pemasaakn,
pemeriksaan

Laten
kanjang

dan Cloonorchiasis

Air

daging
Penyediaan

Diphyllobothriasis

Jamban

Fasciolliais

Pengolahan

Gastrodiscoidiasis

Ekskreta

Heterophyasis. Dsb.

Pemeriksaan
Cadangan
Air hewan
Pemeriksaan
inang
Memasak air
dan ikan
Mengurangi
sentuhan
(Kontak)
dengan air.

C. Tinja dan Penyakit

Menurut Chandra (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi penyakit dari tinja,
antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Agent penyebab penyakit


Reservoir
Cara menghindar dari reservoir
Cara transmisi dari reservoir ke pejamu potensial
Cara penularan ke pejamu baru
Pejamu yang rentan (sensitif).
Kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran

penyakit yang bersumber pada feces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara. Berikut
bagan tinja dan penyakit, yaitu

D. Bahaya Tinja Bagi Lingkungan


Air yang tercemar tinja manusia bisa memicu 2 jenis penyakit, yakni water-borne
disease dan water-washed disease. Water-borne disease dipicu oleh air yang diminum
misalnya diare, kolera dan disenteri, sementara water-washed disease dipicu oleh air untuk
mandi misalnya infeksi kulit.
Meski lebih banyak, luas penyebaran polutan mikrobiologis umumnya lebih rendah
dibandingkan polutan kimia. Jika polutan kimia bisa meresap hingga kedalaman 95 meter
dan radius 9 meter, kuman-kuman dalam tinja hanya bisa meresap 4-11 meter dan radius 2
meter.

Karena itu pencegahannya juga lebih mudah, yakni dengan memastikan septic tank
dan sumur terisolasi dengan baik. Jika sudah terisolasi, maka jarak septictank dengan sumur
sudah tidak perlu menjadi masalah terutama di wilayah padat penduduk seperti di perkotaan.
Berikut ini adalah permasalahan yang mungkin ditimbulkan akibat buruknya
penanganan buangan tinja:
1. Mikroba
Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koli-tinja.
Sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi
penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A,
dan virus penyebab polio. Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia
sangat tinggi. BAPPENAS menyebutkan, tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk.
Sedangkan polio masih dijumpai, walaupun dinegara lain sudah sangat jarang.
2. Materi Organik
Kotoran manusia (tinja) merupakan sisi dan ampas makanan yang tidak tercerna. Ia
dapat berbentuk karbohidrat, dapat pula protein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati.
Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS
(kandungan bahan organik). Kandungan BOD (Biological Oxygen Demand) yang tinggi itu
mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna kehitaman.
3. Telur Cacing
Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telu-telur
cacing. Cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang, dan keremi. Satu gram tinja berisi
ribuan telur cacing yang siap berkembang biak diperut orang lain. Anak cacingan adalah
kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan
cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70 persen dari balita.
4. Nutrien
Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa
sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium,

sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar
25 gram dan fosfat seberat 30 mg.
Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang (algae). Akibatnya, warna air
menjadi hijau. Ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan lainnya
mati
E. Septic Tank
Tangki septic adalah suatu bak berbentuk empat persegi panjang yang biasanya
terletak di bawah muka tanah dan menerima atau menampung kotoran dan air
penggelontor yang berasal dari toilet glontor, termasuk juga segala buangan limbah
rumah tangga. Periode tanggal (detention time) di dalam tangki adalah 1 3 hari. Zat
padat akan diendapkan pada bagian tangki dan akan dicernakan secara anaerobic
(digested anaerobically) dan suatu lapisan busa tebal akan terbentuk dipermukaan.
Walaupun proses pencernaan zat padat yang terendap berlangsung secara efektif,
namun pengambilan lumpur yang terakumulasi perlu dilakukan secara periodic antara 1-5
tahun sekali.
F. MCk
MCK singkatan dari Mandi, Cuci, Kakus adalah sarana fasilitas umum yang
digunakan bersama beberapa keluarga untuk keperluan mandi, mencuci dan buang air di
lokasi permukiman tertentu yang dinilai berpenduduk cukup padat dan tingkat
kemampuan ekonomi rendah.
Tujuan dibangun MCK dengan sistem komunal di pemukiman padat adalah
sebagai beriku : (Soenarto, 1992)
1. Untuk mengkomunalkan sarana mandi, cuci, dan kakus agar limbahnya mudah
dikendalikan dan pencemaran lingkungan dapat dibatasi.
2. Serta memudahkan pengadaan air bersih.