Anda di halaman 1dari 5

Laboratorium Mikropaleontologi 2014

Pengaruh Kedalaman Terhadap Komposisi Test Foraminifera


I.

Komposisi Test Foraminifera


Berdasarkan komposisnya test foraminifera dikelompokkan menjadi

empat, yaitu:
1. Dinding chitin/tektin
Dinding tersebut terbuat dari zat tanduk yang disebut chitin, namun
foraminifera dengan dinding seperti ini jarang dijumpai sebagai fosil.
Foraminifera yang mempunyai dinding chitin, antara lain:
Golongan Allogromidae
Golongan Miliolidae
Golongan Lituolidae
Beberapa golongan Astroizidae
Ciri-ciri dinding chitin adalah fleksibel, transparan, berwarna kekuningan
dan imperforate.
2. Dinding arenaceous dan aglutinous
Dinding arenaceous dan agglutinin terbuat dari zat atau material asing
disekelilingnya kemudian direkatkan satu sama lain dengan zat perekat oleh
organisme tersebut. Pada dinding arenaceous materialnya diambil dari butir-butir
pasir saja, sedangkan agglutinin materialnya diambil dari butir-butir pasir,
sayatan-sayatan mika, spone specule, fragmen-fragmen foraminifera lainnya dan
lumpur. Zat perekatnya bisa chitin, oksida besi, silica dan gampingan. Zat perekat
gampingan adalah cirri khas dari foraminifera yang hidup di perairan tropis,
sedangkan zat perekat silica khas untuk foraminifera yang hidup di perairan
dingin.
Contoh :
Dinding aglitinous : Ammobaculites aglutinous
Dinding Arenaceous : Psammosphaera

3. Dinding siliceous
Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug: 6

Page 1

Laboratorium Mikropaleontologi 2014

Beberapa ahli (Brady, Hubler, Chusman, Jones) berpendapat bahwa


dinding silicon dihasilkan oleh organisme itu sendiri. Menurut Glessner dinding
silicon berasal dari zat primer (organisme itu sendiri) maupun zat sekunder. Tipe
dinding ini jarang ditemukan, hanya dijumpai pada beberapa golongan
Ammodiscidae dan beberapa spesies dari Miliolidae.
4. Dinding calcareous/gampingan
Dinding yang terbuat dari zat gampingan dijumpai pada sebagian besar
foraminifera. Dinding gampingan dapat dikelompokkan menjadi :

Gampingan porselen : adalah dinding gampingan yang tidak berpori,


mempunyai kenampakan seperti pada porselen, bila kena sinar berwarna

putih opaque. Contohnya Quingueloculina, Pyrgo.


Gamping granular : adalah dinding yang terbuat dari Kristal-kristal kalsit

yang granular, pada sayatan tipis terlihat gelap. Contohnya Endothyra.


Gamping komplek : dinding yang dijumpai berlapis, kadang-kadang terdiri
dari satu lapis yang homogen, kadang terdiri dari dua bahkan empat lapis.

Terdapat pada glongan Fussulinidate.


Gamping hyaline : terdiri dari zat-zat gamping yang trasparan dan berpori.
Kebanyakan dari foraminifera plankton yang mempunyai dinding seperti
ini.

II.

Karakteristik Foraminifera
Dari phylum protozoa, khususnya foraminifera sangat penting dalam

geologi karena memiliki bagian yang keras dengan ciri masing-masing foram,
antara lain :
a. Planktonik (mengambang), ciri-ciri :
- Susunan kamar trochospiral
- Bentuk test bulat
- Komposisi test Hyaline

b. Benthonik (di dasar laut), ciri-ciri :


- Susunan kamar planispiral
Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug: 6

Page 2

Laboratorium Mikropaleontologi 2014

- Bentuk test pipih


- Komposisi test adalah aglutine dan aranaceous
A. Foraminifera Planktonik
Foraminifera planktonik jumlah genusnya sedikit, tetapi jumlah spesiesnya
banyak. Plankton pada umumnya hidup mengambang di permukaan laut dan fosil
plankton ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah geologi, antara
lain :

Sebagai fosil petunjuk


Korelasi
Penentuan lingkungan pengendapan
Foram plankton tidak selalu hidup di permukaan laut, tetapi pada

kedalaman tertentu ;

Hidup antara 30 50 meter


Hidup antara 50 100 meter
Hidup pada kedalaman 300 meter
Hidup pada kedalaman 1000 meter
Ada golongan foraminifera plankton yang selalu menyesuaikan diri

terhadap temperatur, sehingga pada waktu siang hari hidupnya hampir di dasar
laut, sedangkan di malam hari hidup di permukaan air laut. Sebagai contoh adalah
Globigerina pachyderma di Laut Atlantik Utara hidup pada kedalaman 30 sampai
50 meter, sedangkan di Laut Atlantik Tengah hidup pada kedalaman 200 sampai
300 meter
B. Foraminifera Benthonik
Fosil foraminifera benthonik sering dipakai untuk penentuan lingkungan
pengendapan, sedangkan fosil foram benthonik besar dipakai untuk penentuan
umur. Fosil benthonik ini sangat berharga untuk penentuan lingkungan purba.
Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum adalah :

Pada kedalaman 0 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak


dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella,

Nama: Erlangga Dwi P.


NIM: 111.120.016
Plug: 6

Page 3

Laboratorium Mikropaleontologi 2014

Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari

pasiran.
Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina,

Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.


Pada kedalaman 90 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus,

Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.


Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina,
Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin dalam lingkungan kedalaman,

maka komposisi testnya akan berkurang sifat gampingannya, dan semakin dalam
sifat yang dijumpai berupa silikaan.

http://www.scribd.com/doc/125113190/Foraminifera
Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug: 6

Page 4

Laboratorium Mikropaleontologi 2014

http://allaboutgeo.wordpress.com/2013/12/04/foraminifera-plankton/
http://laporanp.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-1_07.html

Nama: Erlangga Dwi P.


NIM: 111.120.016
Plug: 6

Page 5