Anda di halaman 1dari 9

Latar Belakang

Dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat yang berbasis pada upaya promotif dan
preventif, dimana pembangunan kesehatan ini berguna untuk meningkatkan derajat kesehatan
manusia.Upaya pemerintah dalam meningkatkan taraf hhidup bersih sehat terus-menerus
dioptimalkan dengan program-program kesehatan untuk masyarakat.Salah satunya ialah program
Prilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) yang ditekankan pada rumah tangga.
Rumah Tangga Ber-PHBS didapatkan dari rumah tangga yang seluruh anggotanya
berperilaku hidup bersih dan sehat. Indikator ini merupakan indikator komposit dari 10 indikator,
yaitu 1) pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, 2) bayi diberi ASI eksklusif, 3) balita
ditimbang setiap bulan, 4) menggunakan air bersih, 5) mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun, 6) menggunakan jamban sehat, 7) memberantas jentik di rumah sekali seminggu, 8)
makan sayur dan buah setiap hari, 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan 10) tidak merokok
di dalam rumah. Apabila dalam Rumah Tangga tersebut tidak ada ibu yang melahirkan, tidak ada
bayi dan tidak ada balita, maka pengertian Rumah Tangga ber-PHBS adalah rumah tangga yang
memenuhi 7 indikator Presentase Rumah tangga Ber-PHBS tahun 2012 sebesar 56,5%.
Persentase capaian sebesar 94,2% dari target yang ditetapkan. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa target 60% rumah tangga yang Ber-PHBS pada tahun 2012 belum tercapai. (Kemenkes
RI, 2012).
Salah satu indikator yang menjadi permasalahan pada masyarakat saat ini ialah masalah tinja
beserta pengelolaannya. Dari laporan Riskesdas 2001, penduduk yang memiliki akses terhadap
jamban sehat sebesar 54,3 persen dan masih ada 34 persen penduduk yang masih menjadikan
lahan terbuka sebagai tempat pembuangan tinja. Sementara rumah tangga yang menggunakan air
PDAM tercata baru 13,3 persen.
Di negara berkembang, masih banyak terjadi pembuangan tinja secara sembarangan akibat
tingkat sosial ekonomi yang rendah, pengetahuan dibidang kesehatan lingkungan yang kurang,
dan kebiasaan buruk dalam pembuangan tinja yang diturunkan dari generasi ke generasi.Kondisi
tersebut terutama ditemukan pada masyarakat di pedesaan dan didaerah kumuh perkotaan.
Seseorang umumnya menghasilkan 1,8 liter ekskreta sehari, yang terdiri dari 350 gram bahan
padat kering, termasuk 90 gram bahan organik 20 gram nitrogen. hal ini memutuhkan
pengelolaan ekskreta dengan baik dan ramah lingkungan.(Mara, 1994).
Ditinjau dari segi kesehatan lingkungan, kotoran manusia dapat menjadi masalah yang sangat
penting.Pembuangan tinja secara layak merupakan kebutuhan kesehatan yang paling
diutamakan. Pembuangan tinja secara tidak baik dan sembarangan dapat mengakibatkan
kontaminasi pada air, tanah, atau menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi
kesehatan, karena penyakit yang tergolong waterborne disease akan mudah berjangkit.
Oleh karena itu kami perlu mendeskripsikan tinja dan cara pengolahannya agar dapat
mencegah penularan penyakit pada manusia.

B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka penulis merumuskan
masalah
Bagaimana cara menanggulangi tinja agar tidak menimbulkan penyakit bagi manusia?
C. Tujuan Penulisan
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait pentingnya kesehatan khususnya
pengelolaan tinja.
2. Mencegah penularan peyakit yang diakibatkan oleh tinja.
3. Memberikan informasi terkait penyakit yang disebabkan oleh tinja.
D. Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi penulis dan pembaca sebagai tambahan
informasi agar masyarakat mampu berprilaku hidup sehat yang berguna untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat dengan mengelola tinja secara aman.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tinja
Eskreta manusia merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh
manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dibutuhkan tersebut berbentuk tinja dan air seni.(Chandra, 2012).
Kotoran manusia (faeces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks.
Penyebaran penyakit yang bersumber pada faeces dapat melalui berbagai macam jalan dan cara.
(Notoatmodjo,2006).
Kotoran dari manusia yang sakit atau sebagai carrier dari suatu penyakit dapat menjadi
sumber infeksi.Kotoran tersebut mengandung agent penyakit yang dapat ditularkan pada pejamu
baru dengan dengan perantara lalat.(Chandra, 2012).
1. Komposisi Tinja
Komposisi tinja manusia terdiri atas :
a. Zat padat
b. Zat organik
c. Zat anorganik

2. Kuantitas Tinja
Kuantitas tinja dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :
a. Keadaan setempat
b. Faktor fisiologi
c. Kebudayaan
d. Kepercayaan
B. Bahaya Tinja Terhadap Kesehatan
Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pembuangan kotoran secara tidak
baik adalah pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan dan perkembangbiakan
lalat. Sementara itu, penyakit-penyakit yang dapat terjadi akibat keadaan diatas, antara lain ,
tifoid, paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral dan beberapa penyakit
infeksi gastrointestinal, serta infestasi parasit lain. Penyakit tersebut bukan saja menjadi beban
komunitas (dilihat dari angka kesakitan, kematian dan harapan hidup), tetapi juga penghalang
bagi tercapainya kemajuan dibidang social dan ekonomi.Pembuangan kotoran manusia yang baik
merupakan hal yang mendasar bagi keserasian lingkungan.(Chandra, 2012).
Ekskreta yang dimanfaatkan manusia dalam hal pertanian dan budidaya air ternyata memiliki
dampak juga terhadap kesehatan manusia. Ekskreta mengandung kadar pathogen yang tinggi
karena ekskreta mengandung virus, bakteri, protozoa dan cacing yang keluar dari dalam tubuh
manusia kemudian masuk melalui makanan yan dikonsumsi manusia sehingga dapat
menimbulkan infeksi. (Mara dan Cairncross (1994).
Berikut ini kelompok infeksi yang diakibatkan oleh ekskreta :
Tabel 1.2
Penggolongan infeksi asal ekskreta menurut lingkungan
No Kasus
Kelompok
Infeksi
Pusat
Tindakan
Infeksi Dan Corak
Penularan
Pengendalian
Epidemiologi
Utama
1
I
Tidak laten, Amoebiasis,
Perorangan Penyediaan
Dosis infeksi balantidiasis,
dan rumah air
rumah
rendah
enterobiasis,
infeksi tangga
dan jamban
virus usus, giardiasis,
tangga,
himenolepiasis,hepatiti
pendidikan
s A, infeksi rotavirus
kesehatan.
2
II
Tidak laten, Infeksi campylobacter, Perorangan Penyediaan
dosis infeksi kolera,
infeksi dan rumah air
rumah
sedang atau Escherichia
coli, tangga
dan jamban
tinggi
salmonellosis,
Air
tangga,
kekanjangan shigellosis,
tifus Tanaman
pendidikan
sedang
yersiniosis
kesehatan.

mampu
berkembang
biak.

C.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

III

IV

Laten
dan Ascariasis
Kejang, tidak Infeksi cacing tambang,
ada inang
strongylodiasis,
trichuriasis
Laten
dan Taeniasis
Kanjang,
Sapi
atau
babi sebagai
inang

Halaman
Ladang
Tanaman

Laten
dan Cloonorchiasis
kanjang
Diphyllobothriasis
Fasciolliais
Gastrodiscoidiasis
Heterophyasis. Dsb.

Air

Halaman
Ladang
Pakan
Ternak

Pengolahan
ekskreta
perumahan
yang
diperbaiki.
Penyediaan
jamban
Penyediaan
Jamban
Pengolahan
Ekskreta
Pemasaakn,
pemeriksaan
daging
Penyediaan
Jamban
Pengolahan
Ekskreta
Pemeriksaan
Cadangan
Air hewan
Pemeriksaan
inang
Memasak air
dan ikan
Mengurangi
sentuhan
(Kontak)
dengan air.

Tinja dan Penyakit


Menurut Chandra (2012), Faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi penyakit dari tinja,
antara lain :
Agent penyebab penyakit
Reservoir
Cara menghindar dari reservoir
Cara transmisi dari reservoir ke pejamu potensial
Cara penularan ke pejamu baru
Pejamu yang rentan (sensitif).

Kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran


penyakit yang bersumber pada feces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara. Berikut
bagan tinja dan penyakit, yaitu

D. Pemanfaatan ekskreta
Ekskreta yang memiliki dampak bahaya bagi kesehatan manusia namun disisi lain ekskreta
juga memiliki manfaat yang besar dan telah diaplikasikan sudah lama di berbagai negara salah
satuna Indonesia. (Mara 1994).
1. Dalam bidang pertanian
Ekskreta biasanya dianggap sebagai hal yang menyebabkan penyakit namun seiring
dengan perkembangan Iptek ekskreta dapat dimanfaatkan dalam bidang pertaniaan yaitu sebagai
pupuk tanaman yang dapat membantu mempertahankan kesuburan tanah. Pemanfaatan ekskreta
sebagai pupuk tanaman telah banyak dgunakan di negara-negara didunia termasuk indonesia.
2. Dalam budidaya air
Budidaya air berarti usaha tani air sama halnya dengan pertanian, ekskreta digunakan
sebagai pupuk. Hal ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu.Cara ini sanagt efektif
dalam meningkatkan hasil dengan menekan sedikit biaya pengeluar dalam hal pembelian pupuk.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam sehari, orang Asia rata-rata mengeluarkan 200-400 gram tinja, sedangkan orang
Eropa 100-150 gram tinja.Menurut McDonald, didaerah tropis pengeluaran tinja berkisar antara

280-530 gr/org/hr dan urine berkisar antara 600-1,130 gr/org/hr. Perkiraan pengeluaran tinja
gr/org/hr menurut M. B. Gotan, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1
Perkiraan pengeluaran tinja penduduk menurut M. B. Gotan
Gram/orang/hari
Tinja

135-270

35-70

Urine

1.000-1.200

50-70

Total

1.135-1.470

85-140

Melihat data diatas,maka perlu adanya sebuah penanganan dalam pengelolaan tinja agar
tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.Karena dengan produksi tinja yang sangat banyak
dalam setiap harinya dapat dipastikan berbagai masalah kesehatan tinja agar tidak menyebabkan
berkembang baknya vector penyakit dan mengganggu keseimbangan lingkungan maka perlu
dilakukan sebuah pengolahan tinja. Terutama pada daerah permukiman di bantaran rawa atau
sungai, bisa kita amati bahwa masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dalam melakukan
kegiatan sehari-hari bergantung pada air rawa atau air sungai. Namun jika air rawa atau sungai
itu terkontaminasi dengan tinja yang dibuang setiap harinya oleh masyarakat yang tinggal
disekitar rawa dan sungai mengakibatkan kulitas air dan lingkungan tercemar.
A. Pengelolaan Pembuangan Tinja
Menurut Notoatmodjo (2011), untuk mencegah dan mengurangi kontaminasi tinja
terhadap lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya
pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang sehat.Suatu jamban disebut
sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut.
2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.
3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa dan binatang-binatang lainnya.
5. Tidak menimbulkan bau.
6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance).
7. Sederhana desainnya.
8. Murah.
9. Dapat diterima oleh pemakainya.
B. Tempat Pembuangan Tinja
Untuk menciptakan keadaan lingkungan yang seimbang maka dalam menentukan
pembuangan tinja, yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Harus memperhatikan jarak dari tempat pembuangan kotoran ke sumber air terdekat.
2. Memperhatikan bagaimana keadaan tanah.
3. Kemiringannya.
4. Permukaan air tanah.
5. Pengaruh banjir pada musim hujan.
C. Macam-macam tempat pembuangan tinja dan cara pembuatannya
Berikut ini beberapa macam tempat pembuangan tinja (kakus) dan cara pembuatannya.
1. Kakus cemplung
Kakus ini paling sederhana karena cara membuatnya dengan menggali tanah sebagai
tempat penampungan tinja dan tempat jongkok diatasnya sehingga tinja secara langsung jatuh ke
lubang galian.
2. Kakus plengsengan
Kakus ini dibuat tidak jauh berbeda dengan kakus cemplung namun yang membedakan
tempat jongkok dan tempat pembuangnnya dihubungkan oleh saluraan yang miring.
3. Kakus bor
Kakus ini dibuat dengan menggunakan bor tangan (bor auger) dengan diameter 30-40
cm.
4. Angsatrine
Kakus ini pada tempat jongkoknya dibuat seperti leher angsa (bowl). Bowl berfungsi
untuk mecegah timbulnya bau dan mempertahankan air. Kakus ini dapat digunakan dirumah
karena memberikan kemungkinan terjaga kebersihannya.
5. Kakus di atas balong (empang)
Jenis kakus banyak digunakan didaerah yang banyak terdapat balong (empang). Kakus ini
tidak dianjurkan untuk dipakai, namun dapat dibuat dengan persyaratan:
Air dari balong tidak bisa digunakan untuk mandi.
Balong tidak boleh kering.
Balong hendaknya cukup luas.
Ikan dari balong tidak boleh dimakan.
Tidak terdapat sumber air minum yang terletak dibawah balong.
Tidak terdapat tanaman yang tumbuh di permukaan air.
6. Kakus septictank
Septic tank berasal dari kaat septic yang berarti pembusukan secara anaerobic. Septictank
terdapat bak yang dapat berguna untuk proses penghancuran, pembusukan dan pengendapan.
Dan didalam bak tersebut terdapat tiga macam lapisan yaitu ; lapisan terapung,lapisan cair dan
lapisan endap.
D. Syarat-syarat dari jamban
Agar persyaratan-persyaratan ini dapat dipenuhi maka perlu diperhatikan antara lain :

1. Sebaiknya jamban tersebut tertutup, artinya bangunan jamban terlindung dari panas dan hujan,
serangga dan binatang-binatang lain, terlindung dari pandangan orang (privacy) dan sebagainya.
2. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat, tempat berpijak yang kuat, dan
sebagainya.
3. Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu
pandangan, tidak menimbulkan bau dan sebagainya.
4. Sedapat mungkin disediakan alat pembersih seperti air atau kertas pembersih.
E. Proses Penghancuran tinja
Dalam tangki ini tinja akan berada selama beberapa hari dan mengalami 2 proses:
1. Proses kimiawi
Akibat penghancuran tinja akan direduksi dan sebagian besar (60%-70%) zat2 padat akan
mengendap di dalam tangki sebagai sludge. Zat2 yang tidak dapat hancur bersama2 lemak dab
busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup permukaan air dalam tangki
,lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dari cairan
dibawahnya, yang memungkinkan bakteri2 anaerob dan fakultatif anaerob dapat tumbuh subur,
yang akan berfungsi pada proses berikutnya.
2. Proses biologis
Terjadi dekomposisi melalui aktifitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob yang memekan
zat2 organik alam slidge dan scum.Hasilnya selain terbentuknya gas dan zat cair lainnya, adalah
juga pengurangan volume sludge, sehingga memungkinkan septi tank tidak cepat penuh.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Tinja atau ekskreta merupakan hasil dari manusia yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dan harus
dapat dikelola dengan bena agar tidak menjadi tempat berkembangbiaknyavector penyakit.
2. Pembuangan tinja secara tidak baik dan sembarangan dapat mengakibatkan kontaminasi pada
air, tanah, atau menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan.
3. Salah satu pengelolaan tinja yang aman bagi kesehatan manusia ialah dengan dibuatkannya
jamban.
4.2. Saran
1. sebaiknya masyarakat dapat mengelola pembuangan tinja dengan baik dan aman agar tinja tidak
menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit.

2. Masyarakat diharapkan membuang tinja pada tempatnya (jamban) agar tidak mencemari
lingkungan dan tidak menyebabkan penyakit bagi manusia.
3. Untuk pemerintah sebaiknya menyediakan fasilitas air bersih dan fasilitas jamban sehat kepada
masyarakat di permukiman agar tidak membuang tinja di air sungai.

DAFTAR PUSTAKA
Chandra, Budiman. 2012. PengantarKesehatanLingkungan. Jakarta :BukuKedokteran EGC.
Kemenkes R.I, 2012. LaporanAkuntabilitaskinerjapromosikesehatan.
Mara, Duncan dan Sandy Cairncross. 1994. Pemanfaatan Air LimbahdanEkskreta. Bandung : ITB
Mckenzie, James F, Robert R. Pingerdan Jerome E. Kotecki.KesehatanMasyarakatedisi 4.Jakarta
:BukuKedokteran EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2006. IlmuKesehatanMasyarakat (Prinsip PrinsipDasar). Jakarta
:RinekaCipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. IlmuKesehatanMasyarakat (Ilmu Dan Seni). Jakarta :RinekaCipta.

Untuk melihat slide presentasi pengolahan sampah Anda bisa mengklik link berikut ini :
http://www.slideshare.net/FKMAP13/tinja-dan-kesehatanppt