Anda di halaman 1dari 21

KEMAJEMUKAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI TERJADINYA DISINTEGRASI BANGSA

KEMAJEMUKAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI TERJADINYA DISINTEGRASI BANGSA Kelompok 5 : Siti Nurul Badriyah 04121001086 Muhamad

Kelompok 5 :

Siti Nurul Badriyah

04121001086

Muhamad Arief Rahman Hakim

04121001090

Sarah Amalia

04121001093

Mohammad Fadhiel

04121001100

RA. Endah Jona Sari

04121001106

Fredy Ciputra

04121001117

Rizkia Retno D

04121001120

Putri Ayu Ratnasari

04121001123

Dosen Pembimbing MPK ISBD : Drs. Nukmal Hakim

Pendidikan Dokter Umum

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

2014

Abstrak

Istilah Masyarakat Indonesia Majemuk pertama kali diperkenalkan Furnivall dalam bukunya Netherlands India: A Study of Plural Economy (1967), untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras dan etnis sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Kemajemukan masyarakat di Indonesia memiliki banyak sekali dampak positif dan negatif, salah satunya adalah terjadinya disintegrasi bangsa. Disintegrasi bangsa adalah suatu keadaaan antar suatu kelompok yang tinggal di tempat yang sama dan awalnya memiliki satu tujuan yang sama kemudian mengalami masalah atau konflik yang menyebabkan perpecahan dan bersikap saling menghancurkan dengan segala cara. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat mengancam keutuhan, persatuan dan kesatuan NKRI. Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya disintegrasi bangsa ialah dengan cara memperkuat sendi persatuan dan kesatuan yaitu dari segi ekonomi, politik dan ideologi negara. Hal ini dapat dilakukan oleh semua pihak termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menunjukkan aksi yang nyata untuk mengubah pola pikir masyarakat dan mengajak masyarakat untuk merangkul satu sama lain. Mereka harus mampu menjadi contoh bagi masyarakat dengan cara memiliki jiwa tenggang rasa dan saling menghormati. Nilai-nilai keadilan dan persamaan kedudukan tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, dan suku haruslah dipegang teguh oleh mahasiswa sepanjang hidupnya.

I.

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara kesatuan pada dasarnya dapat mengandung potensi kerawanan akibat keanekaragaman suku bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan. Hal tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik sosial. Dengan semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu pertanda menurunnya rasa nasionalisme di dalam masyarakat. Kondisi seperti ini dapat terlihat dengan meningkatnya konflik yang bernuansa SARA, serta munculya gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI akibat dari ketidak puasan dan perbedaan kepentingan, apabila kondisi ini tidak segera ditangani dengan baik akhirnya akan berdampak pada disintegrasi bangsa. Seperti halnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), yang kini hampir sudah tidak terngiang lagi di telinga kita. Dulu kelompok ini benar-benar membuat repot bangsa Indonesia, seandainya GAM berhasil berdisintegrasi dari Indonesia maka tidak ada lagi lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”, lagu pemersatu bangsa kita. Namun rakyat dan bangsa ini tidak rela jika Aceh lepas dari pangkuan bunda pertiwi, maka dengan segala upaya dilakukan bangsa ini untuk menghentikan gerakan ini, baik secara militer maupun diplomatik. Masalah disintegrasi bangsa merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan kelangsungan hidup bangsa ini. Bangsa Indonesia yang kaya dengan keragaman yang dimiliki masyarakatnya menempatkan dirinya sebagai masyarakat yang plural. Masyarakat yang plural juga berpotensi dan sangat rentan kekerasan etnik, baik yang dikonstruksi secara kultural maupun politik. Bila etnisitas, agama, atau elemen premordial lain muncul di pentas politik sebagai prinsip paling dominan dalam pengaturan negara dan bangsa, apalagi berkeinginan merubah sistem yang selama ini berlaku, bukan tidak mungkin ancaman disintegrasi bangsa dalam arti yang sebenarnya akan terjadi di Indonesia.

II.

MASALAH

  • 1. Apa yang dimaksud dengan kemajemukan masyarakat Indonesia?

  • 2. Apa definisi dari disintegrasi bangsa?

  • 3. Apa keuntungan dan kerugian suatu bangsa memiliki keanekaragaman budaya dan ras (kemajemukan bangsa?

  • 4. Apa yang menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa?

  • 5. Apa dampak dari disintegrasi bangsa?

  • 6. Jelaskan contoh konflik kemajemukan masyarakat di Indonesia?

  • 7. Bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia?

  • 8. Bagaimana sikap dan peranan mahasiswa dalam menghadapi disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia?

III.

PEMBAHASAN

  • 1. Apa yang dimaksud dengan kemajemukan masyarakat Indonesia?

    • a. Definisi Kemajemukan Masyarakat

Kemajemukan [KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA] ma·je·muk a 1 terdiri atas beberapa bagian yg merupakan kesatuan:

masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yg --; 2 Ek mengenai penambahan bunga kpd pokok berdasarkan waktu dng tujuan mendapatkan dasar baru untuk menghitung bunga berikutnya; ke·ma·je·muk·an n keanekaragaman: kita tidak akan mengulangi kesalahan

pimpinan yg lama, sekarang kita melihat ke depan, berdasarkan - dan kejujuran Istilah Masyarakat Indonesia Majemuk pertama kali diperkenalkan oleh Furnivall dalam bukunya Netherlands India: A Study of Plural Economy (1967), untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras dan etnis sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Kemajemukan masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh struktur masyarakatnya yang unik, karena beranekaragam dalam berbagai hal. Nasikun, menyatakan bahwa masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang menganut sistem nilai yang berbeda di antara berbagai kesatuan sosial yang menjadi anggotanya. Para anggota masyarakat tersebut kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar untuk mengembangkan sikap saling memahami. Senada dengan itu, Clifford Geertz, berpendapat bahwa masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi atas subsistem-subsistem yang lebih kurang berdiri sendiri dan dipersatukan oleh ikatan-ikatan primordial.

Faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:

  • a. Keadaan geografi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan menyebabkan penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian dari satu pulau tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memandang dirinya sebagai suku jenis tersendiri.

  • b. Letak Indonesia diantara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik serta diantara Benua Asia dan Australia, maka Indonesia berada di tengah-

tengah lalu lintas perdagangan. Hal ini mempengaruhi terciptanya pluralitas/kemajemujkan agama.

  • c. Iklim yang berbeda serta struktur tanah di berbagai daerah kepulauan Nusantara ini merupakan faktor yang menciptakan kemajemukan regional.

Kemajemukan Indonesia tampak pada perbedaan warga maryarakat secara horizontal yang terdiri atas berbagai ras, suku bangsa, agama, adat dan perbedaan-berbedaan kedaerahan.

Karekteristik Masyarakat Majemuk

Pierre van de Berghe, mengemukakan beberapa karakteristik

masyarakat majemuk sebagai berikut.

  • 1. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kebudayaan, tepatnya subkebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya.

  • 2. Memiliki struktur sosial yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer.

  • 3. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.

  • 4. Secara relatif, sering terjadi konflik antarkelompok.

  • 5. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan ketergantungan ekonomi.

  • 6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok- kelompok lain.

Jenis-Jenis Masyarakat Majemuk

Menurut konfigurasi dari komunitas etnisnya, masyarakat majemuk

dapat dibedakan menjadi empat katagori sebagai berikut.

  • a. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang, yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnis yang memiliki kekuatan kompetitif seimbang.

  • b. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan, yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnis yang kekuatan kompetitip tidak seimbang.

  • c. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan, yaitu masyarakat yang antara komunitas atau kelompok etnisnya terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif di atas yang lain, sehingga mendominasi politik dan ekonomi.

  • d. Masyarakat majemuk dengan fragmentasi, yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis, dan tidak ada satu kelompok pun yang mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan.

  • 2. Apa definisi dari disintegrasi bangsa?

  • a. Definisi disintegrasi

Menurut KBBI, dis-in-teg-ra-si (n) 1 keadaan tidak bersatu padu;

keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan; 2 (Fis) sebarang transformasi, baik spontan maupun terimbas

oleh radiasi, yg dibarengi dng pemancuran zarah atau foton Adapun beberapa bidang ilmu memiliki definisi lain terhadap disintegrasi, yaitu

  • 1. Ilmu Pengetahuan Sosial mendefinisikan disintegrasi sebagai kehidupan suatu masyarakat atau bangsa yang ditandai dengan adanya pemisahan atau perpecahan.

  • 2. Pendidikan Kewarganegaraan mendefinisikan disintergrasi sebagai suatu perpecahan ; perpecahan atau pemecahan diri dalam sebuah negara ditandai dengan bentrokan antardaerah, antargolongan, agama, politik, dan lain-lain. Sedangkan disintegrasi secara harfiah dipahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah (Webster’s New Encyclopedic Dictionary 1996).

  • b. Definisi bangsa

Pada awalnya bangsa hanya diartikan sekelompok orang yang dilahirkan pada tempat yang sama. Seiring dengan perkembangan dunia,

banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang ariti bangsa, antara lain :

1. Otto Bauer : bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki persamaan karakter atau perangai yang timbul karena persamaan nasib dan pengalaman sejarah budaya yang tumbuh dan berkembang bersama bangsa tersebut.

  • 3. Ir. Soekarno : Bangsa adalah segerombolan manusia yang besar, keras ia mempunyai keinginan bersatu, le desir d’etre ensemble (keinginan untuk hidup bersama), keras ia mempunyai character gemeinschaft(persamaan nasib/karakter), persamaan watak, tetapi yang hidup di atas satu wilayah yang nyata satu unit. Sedangakan pengertian bangsa menurut ilmu sosiologis-antropologis dibedakan menjadi dua, yaitu bangsa dalam arti etnis dan bangsa dalam arti kultural. Bangsa dalam arti etnis merupakan sekelompok manusia yang memiliki satu keturunan atau ras yang tinggal dalam satu wilayah tertentu dengan ciri-ciri jasmani yang sama, seperti kesamaan warna kulit dan bentuk tubuh. Bangsa dalam arti kultural adalah sekelompok manusia yang memiliki ciri-ciri khas kebudayaan yang sama, seperti adat istiadat, mata pencaharian, bahasa, dan unsur-unsur kesamaan budaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa disintegrasi bangsa adalah suatu keadaaan antar suatu kelompok yang tinggal di tempat yang sama dan awalnya memiliki satu tujuan yang sama kemudian mengalami masalah atau konflik yang menyebabkan perpecahan dan bersikap saling menghancurkan dengan segala cara.

  • 3. Apa keuntungan dan kerugian suatu bangsa memiliki keanekaragaman budaya dan ras (kemajemukan bangsa? Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beraneka ragam. Hal itu dapat menimbulkan beberapa dampak positif dan negative pada perubahan kebudayaan dan kehidupan masyarakat, seperti berikut: Positif

    • 1. Keanekaragaman budaya sangat menarik dan dapat dijadikan objek pariwisata

    • 2. Keanekaragaman budaya daerah dapat membantu meningkatkan pengembangan kebudayaan nasional

    • 3. Tertanamnya sikap untuk saling menghormati dan menghargai antar suku yang berbeda

    • 4. Keanekaragaman memberikan ruang bagi masyarakat untuk terbuka dalam menjalin hubungan sosial maupun berbudaya

6. Kebudayaan daerah yang berwujud bahasa daerah dapat memperkaya perbedaharaan istilah dalam bahasa Indonesia

Negatif

  • 1. Kecurigaan antar suku

  • 2. Adanya pontensi konflik antar suku dan hambatan pergaulan antar suku karena perbedaan bahasa dan budaya

  • 3. Banyaknya suku bangsa yang ingin menerapkan hukum adatnya

  • 4. Munculnya sikap etnosentrisme, yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri. Dimana setiap anggota masyarakatakan mengukur keadaan atau situasi berdasarkan nilai dan norma kelompoknya. Sikap ini menghambat tejadinya integrasi bangsa

  • 5. Stereotip etnik yaitu pandangan umum suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lain. Dimana suatu kelompok me-universal-kan beberapa ciri khusus dari beberapa anggota kelompok etnis kepada ciri khusus seluruh anggota etnis.

  • 6. Munculnya sikap fanatisme dan ekstrim. Fanatisme atau fanatic adalah suatu keyakinan yang kuat terhadap agama, kebudayaan, kelompok, dll. Ekstrim adalah sangat kuat, keras yang solidaritas terhadap persamaan atau kelompoknya sendiri

  • 4. Apa yang menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa? Bila dicermati adanya gerakan pemisahan diri sebenarnya sering tidak berangkat dari idealisme untuk berdiri sendiri akibat dari ketidak puasan yang mendasar dari perlakuan pemerintah terhadap wilayah atau kelompok minoritas seperti masalah otonomi daerah, keadilan sosial, keseimbangan pembangunan, pemerataan dan hal-hal yang sejenis. Kekhawatiran tentang perpecahan (disintegrasi) bangsa di tanah air dewasa ini yang dapat digambarkan sebagai penuh konflik dan pertikaian, gelombang reformasi yang tengah berjalan menimbulkan berbagai kecenderungan dan realitas baru. Segala hal yang terkait dengan Orde Baru termasuk format politik dan paradigmanya dihujat dan dibongkar. Bermunculan pula aliansi ideologi dan politik yang ditandai dengan menjamurnya partai-partai politik baru. Seiring dengan itu lahir sejumlah tuntutan daerah-daerah diluar Jawa agar mendapatkan otonomi yang lebih

luas atau merdeka yang dengan sendirinya makin menambah problem, manakala diwarnai terjadinya konflik dan benturan antar etnik dengan segala permasalahannya. Penyebab timbulnya disintegrasi bangsa juga dapat terjadi karena perlakuan yang tidak adil dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah khususnya pada daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya/kekayaan alamnya berlimpah/ berlebih, sehingga daerah tersebut mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Selain itu disintegrasi bangsa juga dipengaruhi oleh perkembangan

politik dewasa ini. Dalam kehidupan politik sangat terasa adanya pengaruh dari statemen politik para elit maupun pimpinan nasional, yang sering mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa, sebagai akibat masih kentalnya bentuk-bentuk primodialisme sempit dari kelompok, golongan, kedaerahan bahkan agama. Hal ini menunjukkan bahwa para elit politik secara sadar maupun tidak sadar telah memprovokasi masyarakat. Keterbatasan tingkat intelektual sebagian besar masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan para elitnya sehingga dengan mudah terpicu untuk bertindak yang menjurus kearah terjadinya kerusuhan maupun konflik antar kelompok atau golongan.

Faktor Disintegrasi Bangsa ditinjau dari Asta Gatra

a.Geografi. Indonesia yang terletak pada posisi silang dunia merupakan letak yang sangat strategis untuk kepentingan lalu lintas perekonomian dunia selain itu juga memiliki berbagai permasalahan yang sangat rawan terhadap timbulnya disintegrasi bangsa. Dari ribuan pulau yang dihubungkan oleh laut memiliki karakteristik yang berbeda-beda dengan kondisi alamnya yang juga sangat berbeda-beda pula menyebabkan munculnya kerawanan sosial yang disebabkan oleh perbedaan daerah misalnya daerah yang kaya akan sumber kekayaan alamnya dengan daerah yang kering tidak memiliki kekayaan alam dimana sumber kehidupan sehari-hari hanya disubsidi dari pemerintah dan daerah lain atau tergantung dari daerah lain. b. Demografi. Jumlah penduduk yang besar, penyebaran yang tidak merata, sempitnya lahan pertanian, kualitas SDM yang rendah berkurangnya lapangan pekerjaan, telah mengakibatkan semakin tingginya tingkat

kemiskinankarena rendahnya tingkat pendapatan, ditambah lagi mutu pendidikan yang masih rendah yang menyebabkan sulitnya kemampuan bersaing dan mudah dipengaruhi oleh tokoh elit politik/intelektual untuk mendukung kepentingan pribadi atau golongan. c. Kekayaan Alam. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah baik hayati maupun non hayati akan tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi negara Industri, walaupun belum secara keseluruhan dapat digali dan di kembangkan secara optimal namun potensi ini perlu didayagunakan dan dipelihara sebaik-baiknya untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat dalam peran sertanya secara berkeadilan guna mendukung kepentingan perekonomian nasional. d. Ideologi. Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia dalam penghayatan dan pengamalannya masih belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai dasar Pancasila, bahkan saat ini sering diperdebatkan. Ideologi pancasila cenderung tergugah dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang mengedepankan faham liberal atau kebebasan tanpa batas, demikian pula faham keagamaan yang bersifat ekstrim baik kiri maupun kanan. e. Politik. Berbagai masalah politik yang masih harus dipecahkan bersama oleh bangsa Indonesia saat ini seperti diberlakukannya Otonomi daerah, sistem multi partai, pemisahan TNI dengan Polri serta penghapusan dwi fungsi BRI, sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas karena berbagai masalah pokok inilah yang paling rawan dengan konflik sosial berkepanjangan yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya disintegrasi bangsa. f. Ekonomi. Sistem perekonomian Indonesia yang masih mencari bentuk, yang dapat pemberdayakan sebagian besar potensi sumber daya nasional, serta bentuk-bentuk kemitraan dan kesejajaran yang diiringi dengan pemberantasan terhadap KKN. Hal ini dihadapkan dengan krisis moneter yang berkepanjangan, rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan meningkatnya tingkat pengangguran serta terbatasnya lahan mata pencaharian yang layak. g. Sosial Budaya. Kemajemukan bangsa Indonesia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dan dapat menimbulkan konflik etnis kultural. Arus globalisasi yang mengandung berbagai nilai dan budaya dapat

melahirkan sikap pro dan kontra warga masyarakat yang terjadi adalah konflik tata nilai. Konflik tata nilai akan membesar bila masing-masing mempertahankan tata nilainya sendiri tanpa memperhatikan yang lain. h. Pertahanan dan Keamanan. Bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara yang terjadi saat ini menjadi bersifat multi dimensional yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, hal ini seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi dan komunikasi. Serta sarana dan prasarana pendukung didalam pengamanan bentuk ancaman yang bersifat multi dimensional yang bersumber dari permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya. Proses Terjadinya Disintegrasi Bangsa. Disintegrasi bangsa dapat terjadi karena adanya konflik vertikal dan horizontal serta konflik komunal sebagai akibat tuntutan demokrasi yang melampaui batas, sikap primodialisme bernuansa SARA, konflik antara elite politik, lambatnya pemulihan ekonomi, lemahnya penegakan hukum dan HAM serta kesiapan pelaksanaan Otonomi Daerah. Dari hasil penelitian diatas dapatlah dianalisis dengan menggunakan pisau astra gatra sebagai berikut :

a. Geografi. Letak Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan kepulauan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Daerah yang berpotensi untuk memisahkan diri adalah daerah yang paling jauh dari ibu kota, atau daerah yang besar pengaruhnya dari negara tetangga atau daerah perbatasan, daerah yang mempunyai pengaruh global yang besar, seperti daerah wisata, atau daerah yang memiliki kakayaan alam yang berlimpah. b. Demografi. Pengaruh (perlakuan) pemerintah pusat dan pemerataan atau penyebaran penduduk yang tidak merata merupakan faktor dari terjadinya disintegrasi bangsa, selain masih rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan SDM. c. Kekayaan Alam. Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam dan berlimpah dan penyebarannya yang tidak merata dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya disintegrasi bangsa, karena hal ini meliputi hal- hal seperti pengelolaan, pembagian hasil, pembinaan apabila terjadi kerusakan akibat dari pengelolaan.

  • d. Ideologi. Akhir-akhir ini agama sering dijadikan pokok masalah didalam terjadinya konflik di negara ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap agama yang dianut dan agama lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan bijaksana pada akhirnya dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan disintegrasi bangsa, oleh sebab itu perlu adanya penanganan khusus dari para tokoh agama mengenai pendalaman masalah agama dan komunikasi antar pimpinan umat beragama secara berkesinambungan.

  • e. Politik. Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut berbagai ketidak nyamanan atau ketidak tenangan dalam bermasyarakat dan sering mengakibatkan konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak ditangani dengan bijaksana akan menyebabkan konflik sosial di dalam masyarakat. Selain itu ketidak sesuaian kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang diberlakukan pada pemerintah daerah juga sering menimbulkan perbedaan kepentingan yang akhirnya timbul konflik sosial karena dirasa ada ketidak adilan didalam pengelolaan dan pembagian hasil atau hal-hal lain seperti perasaan pemerintah daerah yang sudah mampu mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat, konflik antar partai, kabinet koalisi yang melemahkan ketahanan nasional dan kondisi yang tidak pasti dan tidak adil akibat ketidak pastian hukum.

  • f. Ekonomi. Krisis ekonomi yang berkepanjangan semakin menyebabkan sebagian besar penduduk hidup dalam taraf kemiskinan. Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia yang semakin lebar antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin dan adanya indikasi untuk mendapatkan kekayaan dengan tidak wajar yaitu melalui KKN.

  • g. Sosial Budaya. Pluralitas kondisi sosial budaya bangsa Indonesia merupakan sumber konflik apabila tidak ditangani dengan bijaksana. Tata nilai yang berlaku di daerah yang satu tidak selalu sama dengan daerah yang lain. Konflik tata nilai yang sering terjadi saat ini yakni konflik antara kelompok yang keras dan lebih modern dengan kelompok yang relatif terbelakang.

  • h. Pertahanan Keamanan. Kemungkinan disintegrasi bangsa dilihat dari aspek pertahanan keamanan dapat terjadi dari seluruh permasalahan aspek asta gatra itu sendiri. Dilain pihak turunnya wibawa TNI dan

Polri akibat kesalahan dimasa lalu dimana TNI dan Polri digunakan oleh penguasa sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya bukan sebagai alat pertahanan dan keamanan negara.

  • 5. Apa dampak dari disintegrasi bangsa? Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) yang memiliki keanekaragaman baik dilihat dari segi ras, agama, bahasa, suku bangsa dan adat istiadat, serta kondisi faktual ini disatu sisi merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain yang tetap harus dipelihara. Keanekaragaman tersebut juga mengandung potensi konflik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat mengancam keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa, seperti gerakan separatisme yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akibat dari ketidakpuasan dan perbedaan kepentingan yang dapat mengakibatkan terjadinya disintegrasibangsa. Potensi disintegrasi bangsa di Indonesia sangatlah besar hal ini dapat dilihat dari banyaknya permasalahan yang kompleks yang terjadi dan apabila tidak dicari solusi pemecahannya akan berdampak pada meningkatnya konflik. Kondisi ini dipengaruhi pula dengan menurunnya rasa nasionalisme yang ada didalam masyarakat dan dapat berkembang menjadi konflik yang berkepanjangan yang akhirnya mengarah kepada disintegrasi bangsa, apabila tidak cepat dilakukan tindakan-tindakan yang bijaksana untuk mencegah dan menanggulanginya sampai pada akar permasalahannya secara tuntas makaakan menjadi problem yang berkepanjangan. Nasionalisme yang melambangkan jati diri bangsa Indonesisa yang selama ini demikian kukuh, kini mulai memperlihatkan keruntuhan. Asas persamaan digerogoti oleh ketidakadilan pengalokasian kekayaan yang tidak berimbang antara pusat dan daerah selama ini. Menurut Aristoteles, persoalan asas kesejahteraan yang terlalu diumbar, merupakan salah satu sebab ancaman disintegrasi bangsa, di samping instabilitas yang diakibatkan oleh para pelaku politik yang tidak lagi bersikapnetral. Meskipun barangkali filosof politik klasik Aristoteles dianggap usang, namun bila dlihat dalam konteks masa kini, orientasinya tetap bisa dijadikan sebagai acuan. Paling tidak untuk melihat sebab-sebab munculnya disintegrasi bangsa. Maka

menyikapi berbagai kasus dan tuntutan yang mengemuka dari berbagai daerah sudah barang tentu diperlukan konsekuensi politik dan legitimasi bukan janji-janji sebagaimana yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan.

  • 6. Jelaskan contoh konflik kemajemukan masyarakat di Indonesia? Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Hal ini tidak terhindarkan dikarenakan keanekaragaman suku bangsa yang berasal dari ribuan pulau di Indonesia. Keanekaragaman juga dikarenakan perbedaan agama dan budaya di Indonesia. Ada 6 agama yang diakui di Indonesia yaitu, Islam, Kristen, Katolik, Budha , Hindu, dan Kongucu. Bangsa Indonesia kini pun mempunyai berbagai paham, persepsi, dan pandangan yang bertentangan akibat pengaruh globalisasi sehingga informasi dengan mudah kita dapatkan dari berbagai sumber. Dalam satu etnis, budaya, dan agama bisa terjadi perbedaan paham yang bisa meruncing menjadi konflik horizontal. (Drs Kristiawan Hadisusanto MSi, 2012) Pada era reformasi ini, pada tahun 2009 tercatat ada 58 kasus dan pada tahun 2010 meningkat dengan 81 kasus. Kemudian pada awal tahun 2011 muncul kasus kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah di Desa Cikeusik, Pandeglang Provinsi Banten. Tiga orang tewas dalam kasus kekerasan tersebut. Berikutnya di Temanggung masa membakar gereja, sekolah, panti asuhan dan merusak kantor polisi. Beberapa hari kemudian muncul penyerangan terhadap Pondok Pesantren YAPI di Pasuruan. Kehidupan menjadi lebih demokratis saat era reformasi bergulir, Kebebasan berserikat ( antara lain mendirikan partai politik ), berkumpul dan menyatakan pendapat ( misalnya melalui demonstrasi ) lebih semarak. Tetapi kebebasan tersebut sering bersifat anarkis, tanpa mempedulikan hukum yang berlaku. Sikap penegak hukum juga sering tidak tegas, misalnya terhadap kelompok sosial keagamaan yang melakukan tindakan anarkis dan penuh kekerasan. Hal ini dapat dimaklumi karena penegak hukum dihadapkan pada situasi dilematis. Mereka tidak mau dituduh melanggar HAM sementara masyarakat yang dirugikan menuntut mereka bertindak tegas. Kasus di Makasar misalnya, polisi setempat dianggap bersikap brutal terhadap mahasiswa. Dilain pihak kasus Ahmadiyah di Pandeglang, polisi dianggap lemah dan tidak mampu mengatasi amuk masa. (Drs Kristiawan Hadisusanto MSi, 2012) Dari kajian terhadap konflik-konflik besar yang telah terjadi di

Indonesia beberapa peristiwa yang telah menjadi pemicu konflik sangat bervariasi, contohnya:

  • 1. Pemicu konflik di Poso dan di Maluku yang berkepanjangan sampai beberapa tahun, diawali oleh perkelahian antara seorang pemuda dengan seorang pemuda beragama lain walaupun tinggalnya tidak berjauhan.

  • 2. Konflik masal antar wilayah di NTB, Jateng dan beberapa Wilayah lainnya diawali oleh peristiwa pemukulan pemuda yang sedang berkunjung rumah pacanya di wilayah tetangga.

  • 3. Beberapa konflik masal di Papua diawali dengan peristiwa tindakan keras oknum aparat terhadap warga masyarakatnya.

  • 4. Pemicu konflik isu Pilkada, isu pemekaran wilayah di beberapa wilayah sering berawal dari tindakan petugas lapangan yang kurang profesional.

  • 5. Konflik bernuansa ekonomi antara kelompok pengemudi taxi sering diawali dari saling rebutan penumpang.

Maka kata kunci dalam mengelola konflik ( conflict management ) adalah bagaimana kita hidup berdampingan dalam keanekaragaman tetapi tet[1]ap memiliki semangat persatuan; dalam kerangka NKRI. Selama kita memiliki semangat Bhineka Tunggal Ika, dalam menghadapi konflik akan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan, musyawarah – mufakat dalam bentuk komunikasi dialogis serta menjauhkan diri dari fanatisme sempit dan kekerasan. Konflik itu sendiri akan tetap muncul setiap saat, tetapi kita perlu memiliki konsensus untuk menyelesaikan dalam koridor persatuan bangsa. Untuk itu Pancasila yang telah disepakati sebagai dasar negara dan way of life harus kita jadikan alat pemersatu bangsa. Mengenai hal ini M. Dawam Rahardjo ( 2010 ) menyatakan bahwa konsep NKRI hanya dapat dipertahankan kalau kita tetap berpegang teguh pada semangat Bhineka Tunggal Ika, sehingga kemajemukan masyarakat Indonesia bukan merupakan ancaman, melainkan justru merupakan kekuatan dan sumber dinamika.

Bapak Presiden dalam kaitannya dengan berbagai konflik horisontal yang terjadi pada akhir-akhir ini, berpesan agar perbedaan diantara kita diselesaikan secara damai dan konstitusional. Damai artinya tanpa kekerasan apalagi sampai merampas hak hidup orang lain. Dan konstitusional artinya kita kembali menyimak ketentuan yang terdapat

dalam UUD 1945. Didalamnya diatur tentang hak dan kewajiban setiap warganegara. Antara lain hak untuk hidup dan hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif serta kewajiban menghormati hak asasi manusia ( pasal 28 ).

7. Bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia?

Disintegrasi bangsa haruslah dicegah dan dihilangkan. Hal ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni secara struktural dan kultural. Secara struktural dengan cara pemerintah yang berwenang (pusat dan daerah) mengeluarkan kebijakan yang dapat mencegah berbagai hal yang berkenaan dengan disintegrasi bangsa. Secara kultural ialah dengan memberdayakan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pencegahan disintegrasi bangsa. Dengan cara ini, pencegahan yang dilakukan bersifat sistemis dan holistik. Adapun strategi yang digunakan dalam penanggulangan disintegrasi bangsa

antara lain :

  • a. Menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia

  • b. Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi butir-butir Pancasila dalam rangka melestarikan dan menanamkan kesetiaan kepada ideologi bangsa

  • c. Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi

  • d. Membentuk satuan sukarela yang terdiri dari unsur masyarakat, TNI, dan Polri dalam memerangi separatis

  • e. Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primordialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN.

  • f. Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha pemecahbelahan dari anasir luar dan kaki tangannya.

  • g. Melarang, dengan melengkapi dasar dan aturan hukum setiap usaha untuk menggunakan kekuatan massa. Upaya yang dilakukan dalam menanggulangi tantangan disintegrasi

bangsa ialah dengan cara memperkuat sendi persatuan dan kesatuan yaitu dari segi ekonomi, politik dan ideologi negara. Dari segi ekonomi dilakukan dengan cara membuat kebijakan-kebijakan yang merata dan tidak bersifat diskriminatif terhadap daerah-daerah di Indonesia. Sedangkan dari segi politis dan ideologis ialah menjadikan Pancasila sebagai ideologi bersama yang dapat mengeratkan keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan kebijakan yang dibuat pemerintah hendaknya jangan sampai menimbulkan kesenjangan antar daerah.

8. Bagaimana sikap dan peranan mahasiswa dalam menghadapi disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia?

  • 1. Definisi Mahasiswa

Definisi mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No. 30 tahun 1990

adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Selanjutnya menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. Pengertian mahasiswa menurut Knopfemacher (dalamSuwono, 1978) adalah insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa, menurut KBBI pengertian mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi,secara adminitrasi mereka terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi.

  • 2. Peran Mahasiswa

Mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Secara umum, peran mahasiswa dalam dapat dibagi menjadi 3, yaitu sebagai Agent of Change, Iron Stock, dan Guardian of Value. Mahasiswa memiliki peranan dalam kehidupan sebagai pembawa perubahan (Agent of Change). Sebagai pembawa perubahan, mahasiswa dituntut untuk menjadi kaum yang kritis dan mampu mengimplementasikan pemikiran-pemikiran baru mereka yang mampu membawa bangsa dan Negara kearah yang lebih baik. Mahasiswa memegang peranan penting dalam perjuangannya menjaga

dan mempertahankan hak-hak rakyat, membongkar kebiasaan buruk yang telah mengakar dalam masyarakat, serta mengembalikan dan mengawal pemerintahan kearah yang mensejahterakan rakyat, Mahasiswa harus mampu untuk tegas dan berani dalam menyampaikan kritik dan masukannya kepada pemerintahan maupun lembaga-lembaga non pemerintah yang berperan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tidak akan terjadi jika mahasiswa sungkan dan ragu untuk menyuarakan pendapatnya. Perubahan-perubahan untuk mewujudkan pemerintahan dan kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik dan kesejahteraan rakyat tidak akan pernah ada habisnya. Ketika disintegrasi bangsa telah terjadi akibat kemajemukan masyarakat Indonesia, mahasiswa harus mau dan berani untuk meyakinkan dan mengajak masyarakat untuk merangkul satu sama lain. Mahasiswa dapat menjadi contoh bagi masyarakat dengan memegang teguh semboyan Negara “Bhinneka Tunggal Ika”. Mahasiswa harus mengingatkan dan meyakinkan masyarakat akan semboyan itu dan mengajak masyarakat untuk bersatu. Mahasiswa harus menunjukkan aksi yang nyata untuk mengubah pola pikir masyarakat ketika disintegrasi telah terjadi. Mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai yang ada di dalam masyarakatatau control social (Guardian of Value). Mahasiswa mempunyai hak kendali dan kritik terhadap pemerintah maupun masyarakat ketika terjadi pelanggaran dan ketidakadilan yang merugikan kepentingan umum. Nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak dan tidak ada keraguan lagi didalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatism. Nilai lainnya yang harus dijaga oleh mahasiswa adalah nilai-nilai kebenaran ilmiah. Mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat. Terukir tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan Negara Indonesia yang berasal dari kutipan dari kakawin Jawa Kuna semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. “Bhinneka” berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, “Tunggal” berartisatu, dan “Ika” berarti itu. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Nilai-nilai yang menjunjung tinggi kemajemukan telah terlihat mengakar kuat pada Negara Indonesia. Nilai inilah yang harus selalu dijaga oleh mahasiswa karena masyarakat Indonesia terdiri atas lebih dari 300 etnik, 1340 suku bangsa, 746 bahasa, dan perbedaan agama dan kepercayaan. Semboyaninilah yang mempersatukan seluruhbangsa Indonesia meskipun masyarakat Indonesia terpisah-pisah mengingat Indonesia adalah Negara kepulauan dengan jumlah lebih dari 17.000 dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah penduduk 249,9 juta jiwa. Diharapkan dengan mahasiswa memegang teguh semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” ini, disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia akibat kemajemukan dapat dicegah. Karena sebagai penjaga nilai- nilai yang ada di masyarakat, mahasiswa tidak hanya menjalankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada, tetapi juga mendorong dan mengajak masyarakat untuk turut menjaga, menjalankan, dan menjunjung tinggi nilai- nilai tersebut. Dengan terwujudnya masyarakat dan pemerintahan yang menjunjung semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, kemajemukan Indonesia tidak akan menjadi penyebab terjadinya disintegrasi bangsa, melainkan memperkuat dan membawa bangsa kearah yang lebih baik di masa yang akan datang. Mahasiswa sebagai iron stock diharapkan dapat menjadi manusia- manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Mahasiswa merupakan aset, investasi, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan yang lebih baik. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi muda perubahan- perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemuda yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. Kelak mahasiswa tidak hanya memiliki peranan yang penting dalam

kehidupan sosial, tetapi juga memiliki wewenang dan kekuasaan sebagai pemimpin-pemimpin pemerintahan maupun non pemerintahan di masa yang akan datang. Sebagai calon pemimpin-pemimpin yang akan menentukan arah dan tujuan kehidupan Negara dan khalayak ramai, mahasiswa harus dibekali dengan norma-norma dan nilai-nilai yang baik. Dengan dibekalinya nilai-nilai dan norma-norma tersebut, yang diharapkan akan terus dipegang teguh oleh mahasiswa sepanjang hidupnya, akan terwujudlah pemimpin- pemimpin yang berakhlak, jujur, dan cerdas. Pemimpin-pemimpin yang baik ini diharapkan kelakakan menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu, demi mencegah terjadinya disintegrasi bangsa akibat kemajemukan masyarakat Indonesia, para mahasiswa harus mampu untuk memiliki jiwa tenggang rasa dan saling menghormati. Nilai-nilai keadilan dan persamaan kedudukan tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, dan suku haruslah dipegang teguh oleh mahasiswa sepanjang hidupnya. Perpecahan akibat adanya kemajemukan dapat dicegah jika para pemimpin dapat merangkul seluruh masyarakat tanpa terkecuali dan mempersatukan mereka. Diharapkan pemimpin-pemimpin yang menerima, menghargai, dan mendukung kemajemukan dapat menjadi contoh bagi seluruh masyarakat untuk merangkul kemajemukan sebagai sarana untuk saling melengkapi, bukan untuk membedakan dan memecah belah.