Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

SEBUAH KENANGAN DAN HARAPAN

DISUSUN OLEH :
Tias Rahestin

(11306141020)

FISIKA SUBSIDI

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

I.PENDAHULUAN
Warga negara adalah pengertian yuridis yang menyangkut keanggotaan
dari suatu negara tertentu . Menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 26 ayat 1
yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orangorang bangsa lain yang disahkan dengan Undang-Undang sebagai warga
negara. Suatu kewarganegaraan dalam suatu negara biasanya terkait dengan dua
asas: Ius sanguinis, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang
berdasarkan keterunan dan Ius soli, yaitu asas yang menetukan kewarganegaraan
seseorang berdasarkan negara tempat kelahirann. Lazimnya kedua asas itu dipakai
bersama- sama dalam kewarganegaraan suatu negara.(Sunarso,dkk.2006:27)
Sebagai seorang warga negara tentunya memiliki kewajiban yang harus
dipenuhi sebagai bentuk pengabdian kita terhadap negara,di samping hak-hak
yang wajib negara berikan kepada warga negaranya,dalam Undang- Undang 1945
pasal 27 disebutkan segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya,tiap-tiap warga negara berhak atas penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan dan setiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam upaya pembelaan negara.
Beberapa contoh Hak Warga Negara Indonesia diantaranya adalah:
1. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum
2. Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
3. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di
dalam pemerintahan
4. Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama
dan kepercayaan masing-masing yang dipercayai
5. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
6. Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan
Indonesia atau NKRI dari serangan musuh

7. Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat,


berkumpul mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang
yang berlaku
Sedangkan contoh kewajiban Warga Negara Indonesia, diantaranya adalah:
1.Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela,
mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh
2. Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan
oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda)
3. Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara,
hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya
4. Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala
hukum yang berlaku di wilayah negara indonesia
5. Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun
bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik.(
http://organisasi.org/hak_dan_kewajiban_sebagai_warga_negara_indonesia_ilmu_
ppkn_pendidikan_kewarganegaraan_pmp_pendidikan_moral_pancasila).
Sebagai seorang warga negara tentunya kita harus paham akan batas antara
hak dan kewjiban, jangan menuntut hak dan mengbaikan kewjiban tetapi
penuhilah kewajiban lantas menuntut hak. Begitupaun pemerintah hendaknya
jangan selalu menuntut haknya yang berupa kewajiban warga negaranya tetapi
melaksanakan pula yang menjadi kewajibannya yang mana merupakan hak bagi
warga negaranya.
Dari contoh di atas yaitu mengenai hak untuk memperoleh pendidikan dan
pengajaran yang layak, telah diatur pula dalam Undang-Undang 1945 yaitu pasal
31 yang terdiri atas 5 ayat yang salah satunya berbunyi setiap warga negara
berhak mendapat pendidikan. Dalam konteks ini pendidikan merupakan hak, hak
negara kepada warga negaranya.

Namun terkadang berbagai hal yang semestinya dan wajar menjadi hak
kita terampas oleh oknum negeri ini, inilah yang saya rasakan hingga merasa
begitu kecewa dan tak di akui sebagai WNI hanya karena saya ini berasal dari
keluarga yang tak cukup berpendidikan dan sangat sederhana.
II.PEMBAHASAN
Saya adalah seorang anak yang dilahirkan dan tumbuh dari keluarga yang
sederhana, tumbuh dalam kasih sayang petani karet Jambi, bahkan mungkin
banyak yang tidak mengetahui Jambi itu dimana, ini terbukti dari pengalaman
saya pertama kali datang di Yogyakarta. Keluarga saya bukanlah keluarga yang
terpelajar dalam artian tidak mempunyai kesempatan untuk mengenyam
pendidikan apalagi keluarga terpandang. Akan tetapi saya bangga karena meski
dari keluarga yang sangat sederhana, Tuhan memberi kesempatan untuk
mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dengan kaki keluarga saya, orang
tua saya. Apalagi diterima di Kota pendidikan, di Universitas Negeri Yogyakarta
merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya, seorang anak dari sumatra yang
tumbuh di desa yang bahkan untuk menempuh kota Provinsi harus berkedara
kurang lebih enam jam, mampu ikut bersaing di kota besar ini.
Namun di balik semua itu ada kendala yang pasti selalu datang dan
melintang, bahkan ini terjadi ketika saya ingin merasakan dunia pendidikan untuk
pertama kali. Pengalaman menjadi seorang warga negara yang terebut atau
terampas haknya, mungkin itulah istilahnya. Memang efek psikis tak tampak
namun, psikologis lah yang menanggungnya, rasa malu,marah dan sedih
bercampur.
Ketika itu tahun 1998, bulan juli tepat pada saat usia saya menginjak 5
tahun 9 bulan atau kebanyakan mengatakan 6 tahun, misalnya ketika
memeriksakan diri di Rumah sakit, pasti disebut 6 tahun. Karena itulah orang tua
saya bermaksud untuk mendaftarkan saya di SD terdekat. Hari itu dengan diantar
bapak, kami datang ke SD terdekat tersebut. Sesampainya di sana, Kepala Sekolah

tidak berada di tempat lantas salah seorang guru menanyakan perihal kedatangan
kami, maka bapak saya mengatakan hendak menitipkan saya untuk belajar di SD
tersebut. Salah satu guru yang mungkin saja mempunyai posisi penting
menanyakan lulusan TK mana, Bapak menjawab bahwa anaknya tidak pernah TK,
lantas menanyakan umur, maka saya serahkan fotokopi akta yang kami bawa
sebagai syarat pendaftaran. Guru tersebut menyatakan bahwa ternyata saya belum
bisa diterima karena saya masiah kurang dari enam tahun, tidak TK pula.Memang
saya tak pernah mengenyam TK, tetapi mengapa itu dijadikan patokan seorang
anak di bawah usia enam tahun dapat diterima bersekolah. Keadaan saat itu bagi
anak yang usianya kurang dari enam tahun dan bukan lulusan TK,walaupun hanya
kurang satu minggu maka ia tidak bisa diterima, tetapi bila ia anak lulusan TK
meskipun usianya masih lima tahun lebih sedidkit maka akan diterima. Saya yang
saat itu masih anak-anak sangat ingin sekolah tetapi ternyata belum bisa diterima
sangat kecewa, mengapa hanya anak-anak yang lulusan TK yang memiliki hak
istimewa untuk dapat diteriama di SD, meski usianya tak mencukupi. Apakah TK
merupakan suatu jaminan atas perkembangan pola pikir anak? Atau meringankan
beban guru yang akan mengajar? Karena anak TK pasti telah mendapat
pendidikan formal sebelum mengenyam bangku SD.
Bapak saya meyakinkan meskipun bukan lulusan TK, tetapi saya sudah
mampu untuk berhitung dan alfabet layaknya anak yang lulus TK. Namun
ternyata tanggapan yang kami teriam sangat menyakitkan, di antara mereka ada
yang megatakan bahwa kalau memang anak bapak sudah pintar tidak perlu lagi
bersekolah disini. Saya hanya bisa menangis karena takut dan ternyata belum bisa
bersekolah. Esoknya kami mendatangi rumah Kepala Sekolahnya, beliau bertanya
mengapa tidak ke sekolah saja maka bapak menjelaskan duduk perkaranya.
Kepala Sekolah tersebut menyatakan bila guru tidak menerima maka ia juga tidak
bisa berbuat banyak, karena yang mengajar kelak adalah guru bukan dirinya,
lantas menyarankan untuk datang lagi tahun depan. Akhirnya kami kembali
pulang dengan tangan kosong. Saya tak pernah menyalahkan orang tua saya yang
tidak mampu meyekolahkan TK, karena saat itu letak sekolah tersebut sangat jauh

dan orang tua saya belum mempunyai kendaraan. Saya mengerti keadaan itu,
begitu sulitnya dan tak perlu untuk disesali. Namun hal yang sangat
mengecewakan, mengapa harus ada diskrimanasi? Ketika tahun depannya, saya
kembali mendaftar, ternyata ada sepupu saya yang masih kurang dari enam tahun
dan tidak pula dari lulusan TK diterima di SD yang sama dengan yang dulu
menolak saya. Apa arti semua ini? Apa ini harus saya sebut pilih kasih ketika itu?
Saya sangat kecewa, teramat kecewa dengan sekolah saat tersebut.
Sebagai anak-anak, sekolah sangat istimewa, apalagi untuk yang pertama
kali, mendapat teman baru, lingkungan baru dan sudah pasti bisa mengenal dunia
baru, namun ketika di vonis belum diterima, menyebabkan saya tidak
bersemangat lagi untuk sekolah, apa artinya buku yang telah saya sampul rapi, apa
artinya tas, seragam yang sudah saya impikan hari senin dipakai saat upacara
bendera. Akan tetapi kemyataan memang harus diterima saya belum berhak
sekolah. Saat itulah saya merasa mendapat perlakuan diskriminasi sebagai
seorang warga Negara. Memang saat itu saya sama sekali tidak mengerti apa itu
warga Negara, jangankan mengerti mendengar kata-katanya pun terasa asing.
Namun pengertian akan warga Negara itu tumbuh bersamaan dengan pengalaman
menjadi seorang pelajar. Bagaimana kewajiban yang harus dijalankan dan apa
pula yang menjadi hak sebagai seorang warga Negara. Namun pengalaman di atas
mengilhami saya, tak selamanya apa yang telah dituliskan itu sesuai dengan apa
yang dijalankan, teori itu tak selamanya sejalan mulus dengan praktiknya dan tak
selamanya hak itu diberikan.
Apakah dalam dunia pendidikan juga mengenal istilah diskriminasi?
Mengenal kolusi?
Penglaman ini bila ditilik dari sisi Undang-undang yang berlaku
kala itu yaitu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989
yaitu pada pasal 14 yaitu:

1. Warga negara yang berumur 6 (enam) tahun berhak


mengikuti pendidikan dasar.
2. Warga negara yang berumur 7 (tujuh) tahun berkewajiban
mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai
tamat.
3. Pelaksanaan

wajib

belajar

ditetapkan

dengan

Peraturan

Pemerintah.
Dalam pasal tersebut jelas bahwa bagi siapa saja yang telah berusia 6
tahun berhak untuk mengikuti pendidikan dasar, tanpa ada pengecualian.
Lantas bila dikaitkan dengan pengalaman saya dapat diartikan bahwa:

Saya berhak tidak berhak mengikuti pendidikan dasar karena masih

belum cukup umur, karena lahir tanggal 27 oktober 1992.


Saya berhak mengikuti pendidikan dasar, karena secara umum saat
itu umur saya dikatakan 6 tahun (pembulatan).

Ternyata saya belum diterima, ini berarti sekolah tersebut menggunakan


asumsi yang pertama. Namun, pada tahun berikutnya di sekolah yang sama pada
tahun yang sama pula sepupu saya juga diterima. Ia lahir pada tanggal 8 Agustus
1993, bila dibandingkan dengan asumsi yang disimpulkan tadi, seharusnya sepupu
saya semestinya belum diterima. Namun pada kenyataannya sepupu saya juga
diterima. Padahal ia juga tidak mengenyam bangku TK seperti saya. Apakah
faktor relasi berpengaruh? Apakah ini wajah pendidikan negeri ini? Diskriminasi.
Lantas apakah ini yang dikatakan adil.
Mungkin ini dianggap remeh, namun bagi saya berpengaruh sangat besar
terhadap perkembangan mental terutama pada rasa kepercayaan diri. Setiap kali
ada pendataan tanggal lahir atau ketika di olo-olok karena dianggap sudah tua, di
bilang tidak naik kelas , dibilang jadi nenek moyang, hal ini terasa bukan hanya

di Pendidikan Dasar saja bahkan saat di Sekolah Menengah Atas, hingga saat ini,
di Universitas juga terasa sangat malu ketika ternyata kakak tingkat lebih muda .
Jujur, ini membuat saya semakin menjadi seseorang yang bersikap minder.
Sekolah memang tempat menimba ilmu, hak bagi semua orang tanpa ada
diskriminasi sedikit pun, apakah ia seorang anak petani, pejabat, Kepala sekolah,
atau seorang anak pesuruh sekalipun. Kita berkedudukan sama di mata Negara.
Sudah selayaknya Negara

juga memberikan hak warganya secara adil, tak

memandang ras,budaya apalagi agama.


Hal

ini yang menyemangati saya untuk menjadi seorang

guru dan

seorang dosen yang dapat diandalkan dan berdedikasi tinggi terhadap


perkembangan

pendidikan terutama anak didik. Mungkin ini terdengar

ganjil,sarjana fisika menjadi seorang guru, namun semenjak dahulu, semenjak


saya duduk di bangku SD hingga saat ini tidak keinginan saya tidak pernah
melenceng dari dunia mengajar. Dan bagi saya tidak menjadi halangan ataupun
rintangan tidak adanya latar pendidikan menjadi seorang guru, namun di negeri
ini semua terkadang hanya ternilai oleh selembar kertas, untuk meluluskan
keinginan

menjadi seorang guru dan apabila kesempatan besiswa S2 belum

terbuka, akan saya tempuh PPG.


Menurut UU No 20/2003 tentang SPN pendidikan profesi adalah
pendidikan
tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk
memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian
program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S1Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat
menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan
standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik.
LANDASAN:
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidik
an.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009 tentang Program
Pendidikan Profesi Guru

Pra

Jabatan.

(http://mariyamsmg.wordpress.com/2011/03/07/pendidikan-profesi-guru/).
Menjadi seorang sarjana fisika, saya akan mengajar di kampung saya,
sebuah desa yang masih sangat membutuhkan banyak tenaga terdidik.
Perdamaian, sebuah desa di provinsi jambi dengan jarak ke kota kecamatan
kurang lebih 18 km. Apalagi dengan kota provinsi, memerlukan waktu 5 jam
itupun karena belum adanya lampu merah sepanjang jalan yang harus di taati,
jarak yang mesti ditempuh sekitar 200 km.
Di sana masih banyak kekurangan tenaga pengajar

yang berkualitas,

bahkan secara kuantitas pengajar fisika yang benar-benar alumni fisika masih
sangat minim. Di tempat saya di besarkan saya ingin menjadi seorang yang
berguna bagi desa saya. Menjadi orang yang mengerti tentang pentingnya arti
sebuah pendidikan.
Mejadi seorang pengajar merupakan impian terbesar dari hidup saya,
mendampingi para penerus bangsa tumbuh, membimbingnya, mengajarkan pada
mereka tentang segala hal yang saya ketahui, itu adalah sebuah kebahagiaan bagi
saya. Saya ingin memberi pengertian bahwa bukan siswa yang dikungkung
dengan sekolah,sekolah dan bersekolah lah yang akan menjadi seorang yang
pintar, hingga kini menjadi trend anak yang belum seharusnya bersekolah
dititipkan karena faktor efisiensi seorang ibu yang berkarir. Akan tetapi anak
tersebut akan cerdas berkat pendidikan yang tepat guna, dalam artian kualitas
seseorang tidak terlihat dari berapa lama ia mengenyam bangku sekolah, tetapi

sangat bergantung pada kualitas pengajar dan ajaran yang diterimanya. Percuma
seorang anak sekolah bahkan dari umur 2 tahun sudah PAUD, tetapi pengajar
yang membimbingnya tidak memperhatikan apa yang ia sampaikan dalam artian
hanya menggugurkan kewajiban saja. Pengajaran semacam ini telah banyak
menggejala di Negeri ini. Guru hanya di jadikan sebagai profesi yang sangat
menguntungkan, istilahnya hanya dengan berjualan obat di depan kelas sudah
dapat memberi penghasilan. Inilah yang ingin saya perbaiki sebagai seorang guru
sarjana fisika. Guru bukanlah profesi yang nyaman untuk sebuah mata
pencaharian tetapi guru adalah tombak terdepan kualitas penerus bangsa kedepan.
Mengapa

saya

memutuskan

untuk

memilih

prodi

fisika,namun

menginginkan menjadi seorang guru,hal ini tidak lain karena sikap minder yang
terbentuk bahkan sejak pertama kali ingin mengenyam sekolah, menjadi siswa
tua. Pengalaman tersebut berpengaruh besar dalam hidup saya, menjadi
pendorong untuk menegakkan bahwa semua anak tidak boleh terdiskriminasi
sedikitpun dalam dunia pendidikan apalagi terambah dunia kolusi. Mau jadi apa
negeri ini kedepannya bila pondasi negeri ini, dunia pendidikannya bahkan sudah
tercemar oleh budaya buruk KKN. Sedikit-sedikit mendahulukan kepentingan si A
karena orang tuanya seperti ini, seperi itu, bila ini telah tertanam bahkan sejak dini
pasti kelak anak tersebut akan semakin mengembangkan budaya yang telah
didapatnya sejak kecil.
Jika ingin membangun bangunan yang kuat maka perkuatlah pondasinya,
bila kita ingin menjadi bangsa yang hebat maka ciptakanlah generasi yang
cerdas,beriman dan peduli. Bila kita menginginkan hal tersebut maka carilah
tenaga ahli, ia adalah guru yang cerdas dan berdedikasi. Dan saya calon sarjana
fisika mengajukan diri menjadi tenaga ahli tersebut.
III. KESIMPULAN
Pengalaman terburuk yang menjadi motivator untuk menjadikan saya
memperbaikinya di masa yang akan datang. Tidak selamanya hak berjalan selaras

dengan apa yang telah di tetapkan karena semakin banyaknya orang yang iri
terhadap milik orang lain di negeri ini.

DAFTAR PUSTAKA
Sunarso,dkk.2008. Pendidikan Kewarganegaran: PKN untuk Perguruan Tinggi.
Yogyakarta: UNY Press
http://mariyamsmg.wordpress.com/2011/03/07/pendidikan-profesi-guru/
http://organisasi.org/hak_dan_kewajiban_sebagai_warga_negara_indonesia_ilmu_
ppkn_pendidikan_kewarganegaraan_pmp_pendidikan_moral_pancasila