Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa di gunakan dalam kehidupan


sehari-hari. Walaupun pemakaian praktis dari kelistrikan telah dikembangkan
khususnya pada abad kedua puluh, penelitian dibidang kelistrikan mempunyai
sejarah yang panjang. Pengamatan terhadap gaya listrik dapat ditelusuri sampai
pada zaman Yunani kuno. Orang-orang Yunani telah mengamati bahwa setelah
batu amper digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami atau
bulu. Kata listrik berasal dari bahasa Yunani untuk amper yaitu electron.
Selama periode hujan badai pada tahun 1786, Luigi Galvani menyentuh
otot tungkai seekor katak dengan menggunakan suatu metal, dan teramati bahwa
otot katak tersebut berkontraksi. Dari pengamatan tersebut, ia menyimpulkan
bahwa aliran listrik akibat badai tersebut merambat melalui saraf si katak sehingga
otot-ototnya berkontraksi. Sel saraf menghantarkan impuls dari satu bagian tubuh
ke bagian tubuh yang lain. Namun dengan mekanisme yang jauh berbeda dengan
hantaran aliran listrik pada suatu konduktor metal. Dalam rentang waktu yang
cukup lama, kita mengetahui implus dalam system saraf terdiri dari ion-ion yang
mengalir sepanjang sel-sel saraf lebih lambat dan kekuatannya lebih rendah
(konduksinya ada atau tidak sama sekali) dibandingkan konduksi pada metal.
Alessandro Volta meneliti fenomena ini dan, dalam prosesnya menemukan
baterai salah satu penemuan terpenting dalam sejarah fisika. Temuan tersebut
merupakan sumber arus listrik tetap yang pertama.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua
aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang kedokteran, yaitu listrik dan magnet
yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada
permukaan tubuh manusia. Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi

untuk mengendalikan dan mengoperasikan saraf, otot dan berbagai organ. Kerja
otak pada dasarnya bersifat elektrik.
Tubuh manusia mengandung sistem kelistrikan. Mulai dari mekanisme
otak,jantung, ginjal, paru-paru, sistem pencernaan, sistem hormonal, otot-otot dan
berbagai jaringan lainnya. Semuanya bekerja berdasar sistem kelistrikan. Karena
itu kita bisa mengukur tegangan listrik di bagian tubuh mana pun yang kita mau.
Semuanya ada tegangan listriknya. Bahkan setiap sel di dalam tubuh memiliki
tegangan antara -90 mvolt pada saat rileks sampai 40 mvolt pada saat beraktifitas.
Tubuh disebut sebagai sistem elektromagnetik. Sebab, kelistrikan sangat erat
kaitannya dengan kemagnetan. Otak memiliki medan kemagnetan. Sebagaimana
jantung ataupun bagian-bagian lain di dalam tubuh. Setelah mengetahui berbagai
hal tersebut, maka dari itu perlu adanya pembahasan mengenai kelistrikan dalam
tubuh.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah kelistrikan yang terjadi dalam sel dan syaraf?
2. Bagaimanakah pengertian Biolistrik dan hukum yang bekerja pada Biolistrik?
3. Bagaimanakah kelistrikan dan kemagnetan dalam tubuh?
4. Bagaimanakah perambatan potensial aksi?
5. Bagaimanakah perekaman aktifitas listrik di dalam tubuh?
6. Bagaimanakah kegunaan elektroda pada kelistrikan dalam tubuh?
1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan kelistrikan yang terjadi dalam sel dan syaraf.
2. Mendeskripsikan pengertian Biolistrik dan hukum yang bekerja pada Biolistrik.
3. Mendeskripsikan kelistrikan dan kemagnetan dalam tubuh.
4. Mendeskripsikan perambatan potensial aksi.
5. Mendeskripsikan perekaman aktifitas listrik di dalam tubuh.
6. Mendeskripsikan kegunaan elektroda pada kelistrikan dalam tu

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kelistrikan yang Terjadi dalam Sel dan Syaraf.
2.1.1 Kelistrikan Sel
2.1.2 Sistem Syaraf dan Neuron
Sistem saraf dibagi dalam dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf
otonom.
a.

Sistem saraf pusat


Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer ini adalah
serat-serat yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke medulla spinalis
disebut saraf afferensedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari

otak dan medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut serat efferen.
b. Sistem saraf otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung, usus dan
kelenjar-kelenjar. Pengontrolan

ini

dilakukan

secara

tidak

sadar. Otak

berhubungan langsung dengan medulla spinalis; keduanya diliputi cairan serebro


spinalis dan dilindungi tulang tengkorak serta tulang vertebralis (columna
vertebralis). Berfat otak 1500 gram dan hanya 50 gram yang efektif.
Struktur dasar dari sistem saraf di sebut neuron/sel saraf. Suatu sel saraf
mempunyai fungsi menerima, interpretasi dan menghantarkan aliran listrik.
2.1.3 Kelistrikan Saraf
Dalam bidang neuroanatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf ;
serat saraf yang berdiameter besar mempunyai kemampuan menghantar impuls
lebih cepat dari pada serat saraf yang berdiameter kecil. Kalau ditinjau besar
kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu serat
saraf tipe A, B dan C.
Dengan mempergunakan mikroskop elektron, serat saraf dibagi dalam dua
tipe,

yaitu

serat

saraf

bermielin

dan

serat

saraf

tanpa

mielin.

1. Bermyelin : Banyak terdapat pada manusia. Suatu insulator yang baik,

kemampuan mengaliri listrik sangat rendah. Aliran sinyal dapat meloncat dari satu
simpul ke simpul yang lain.
2. Tanpa Myelin : Akson tanpa myelin diameter 1 mm mempunyai 20 -50 m/s.
Akson

bermyelin

diameter

mempunyai

kecepatan

100

m/s.

Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat (tidak adanya
proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak diluar sel dari
pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative dibandingkan dengan di luar
sel. Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90 m Volt,
membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan potensial membrane
istirahat -90 m Volt.
Dalam

keadaan

normal

Na+

diluar

sel

>

Diukur dengan Galvanometer -90 mVolt Polarisasi.

Berikut adalah konsentrasi ion di dalam dan diluar sel :

Na+

di

dalam

sel.

2.1.4 Kelistrikan Pada Sinapsis dan Neuromyal Junction


Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis; berakhirnya saraf pada sel
otot/hubungan saraf otot disebut Neuromnyal junction.
Baik sinapsis maupun Neuromnyal junction mempunyai kemampuan
meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang
berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membran sel otot, oleh
karena pada waktu terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan
trigger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi
repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami relaksasi.
2.1.5 Kelistrikan Otot Jantung
Sel membran otot jantung sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris. Pada
saraf maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan
ragsangan ion-ion Na+ akan masuk ke dalam sel dan setelah tercapai nilai ambang
akan timbul depolarisasi. Sedangkan pada sel otot jantung, ion Na + berlahan-lahan
akan masuk kembali kedalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara
spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa
memerlukan rangsangan dari luar.

Gambar grafik natural rate atau kecepatan dasar jantung


Untuk menentukan natural rate dihitung dari mulai depolarisasi spontan
sampai

nilai

ambang

setelah

repolarisasi.

Yang

mempengaruhi

1. Potensial membran istirahat.


2. Tingkat dari nilai ambang.
3. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.
Pada miokardium ada sekumpulan sel utama yang secara spontan
menghasilkan potensial aksi yang akan dengan cepat mendepolarisasi sel otot
miokardium yang sedang mengalami istirahat, sekumpulan sel utama tersebut
disebut pace maker / perintis jantung. Dan natural ratenya sangat menentukan
frekuensi jantung.
2.2 Pengertian Biolistrik dan Hukum yang Bekerja pada Biolistrik.
2.2.1 Pengertian Biolistrik
Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari ATP
(Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi yang
bernama mitchondria melalui proses respirasi sel. Biolistrik juga merupakan
fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan potensial listrik yang merupakan
lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar dan lapisan tipis muatan negatif
pada permukaan dalam bidang batas/membran. Kemampuan sel syaraf (neurons)
menghantarkan isyarat biolistrik sangat penting.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan
Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron. Stimulus
untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan temperature, dan

isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu otot dapat menyebar
ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.
Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan memasang beberapa
elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat listrik dari jantung
(Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya pada
ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan memasang beberapa elektroda pada
posisi tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala
epilepsy, tumor, geger otak dan kelainan otak lainya.
2.2.2 Hukum yang Bekerja pada Biolistrik
Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan biolistrik diantaranya:
Hukum Ohm
Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus
yang melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor.
Hukum Ohm ini dapat dinyatakan dalam rumus:

R=
Keterangan:

V
I
R = dalam Ohm (

I = amper ( A )
V = tegangan ( Volt )
Hukum Joule
Arus listrik yang melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam
waktu tertentu akan menimbulkan panas. Dengan keterangan sebagai berikut:
V = tegangan dalam Voltage.
I = arus dalam ampere
T = waktu dalam detik.
J = Joule = 0,239 kal.
2.3 Kelistrikan dan kemagnetan dalam tubuh.
Listrik berperan penting di dalam kontrol sistem fungsi tubuh manusia.
Muatan listrik menentukan respon seluler terhadap stimulasi, meliputi resting
state, treshold state, active state. Resting state adalah respon dasar sel saat besar
stimulasi di bawah batas minimum aktifasi sel; threshold state adalah respon sel
saat besar stimulasi mencapai batas minimum aktifasi sel; active state adalah
respon sel saat besar stimulasi melebihi batas minimum aktifasi sel. Bentuk
aktifasi sel beragam, bergantung jenis dan fungsi sel, contoh : sel endokrin

mensekresi hormone, sel B limfosit mensekresi antibodi, sel makrofag yang


melakukan fagositosis dan sel otot yang berkontraksi.
Listrik dapat tercipta manakala terdapat perbedaan muatan listrik antara
satu bagian tertentu dengan bagian yang lain. Di dalam tubuh manusia, kita
mengenal dua bagian kompartemen besar yang berisi cairan. Bagian yang terletak
di dalam sel, dibatasi oleh membran sel disebut cair intra sel (cis). Sedangkan
bagian yang terletak di luar sel disebut dengan cair ekstra sel (ces). Komponen
penyusun cis dan ces sebagian besar adalah elektrolit yang mengandung ion
bermuatan listrik. Semakin besar perbedaan muatan listrik antara cis dan ces,
semakin besar pula potensi listrik yang dihasilkan. Perbedaan muatan listrik antara
cis dan ces inilah yang disebut dengan beda potensial membran.
Komposisi di dalam cis dan ces bersifat dinamis dan selalu berubah,
mengingat kedua kompartemen tersebut saling berhubungan. Pada saat resting,
komposisi ion cis dan ces menghasilkan bedaan muatan listrik, dimana muatan
listrik cis lebih kecil dibandingkan dengan muatan listrik ces. Beda potensial
tersebut terukur dengan galvanometer menghasilkan nilai negatif (pada sel syaraf
= -70 m volt). Nilai negatif mengisaratkan bahwa muatan listrik cis kurang 70 volt
daripada ces. Artinya, muatan positif relatif lebih
banyak pada ces, sedangkan muatan negatif relatif menumpuk di cis. Perbedaan
inilah yang kemudian disebut dengan resting membrane potensial (RMP).
Ion

Ekstrasellular (ces)
Plasma
Interstisial

Intrasellular (cis)

Cenderung

Beda potensial membran pada saat resting (RMP) menunjukan potensi


arah kecenderungan ion untuk bergerak. Potensi tersebut terbatasi oleh
keberadaan membran sel yang bersifat semipermeable. Ion yang cenderung
bergerak masuk atau keluar sel harus melewati membran sel, sayangnya ion tidak
dapat menembus membran sel. Ion hanya dapat melewati membran sel melalui
kanal khusus yang terbuka atau tertutup oleh pemicu listrik ligand gated channel
atau pemicu kimia ligand gated channel.

Potensi pergerakan ion (muatan listrik) melintasi membran dapat dipahami


sebagai penjabaran Hukum Coulomb yang menyatakan bahwa gaya tarik (F) yang
diciptakan oleh RMP adalah berbanding lurus dengan besar muatan ion (Q) yang
berada di cis maupun di ces dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (r 2)
antara cis dan ces. Fenomena ini disebut dengan bioelektrostatika.
Kuadrat jarak antara cis dan ces dipahami sebagai tebal membran sel;
semakin tabal membran sel maka semakin kecil gaya tarik (F) yang ditimbulkan,
artinya potensi listrik statis juga semakin kecil. Sel cenderung tidak mudah
dirangsang atau kurang sensitif. Contoh adalah sel syaraf yang berselubung
myelin pada bagian aksonya. Selubung myelin menyebabkan ketebalan membran
akson syaraf bertambah sehingga pada bagian yang terdapat myelin, akson syaraf
menjadi kurang sensitif atau tidak mudah dirangsang.
2.4 Perambatan Potensial Aksi.
Potensi listrik statik pada membran (RMP) dapat berubah dinamik saat
potensial aksi terjadi. Potensial aksi merupakan rangkaian persitiwa yang terjadi
akibat beda potensial membran distimulasi. Potensial aksi hanya akan muncul bila
terdapat stimulus atau rangsangan yang adekuat atau lebih untuk membuka
voltage gated ion channel. Setiap channel memiliki nilai ambang kepekaan (firing
level/ treshold) yang berbeda. Respon sel yang mendapatkan stimulasi sampai
betas minimal, disebut treshold state dan yang mendapatkan stimulasi melebihi
batas minimal, disebut active state (potensial aksi).
Potensial aksi dimulai dengan depolarisasi membran, yang berarti
peniadaan atau berkurangnya polarisasi (beda potensial) antara cis dan ces. Bila
RMP terukur adalah -70 mv, maka stimulasi yang adekuat merubah beda potensial
membran dari -70 mv menjadi lebih kecil hingga mendekati nol. Penurunan beda
potensial disebabkan oleh pembukaan kanal ion natrium (Na+). Sensor listrik
kanal ion natrium peka terhadap beda potensial yang paling kecil, sehingga kanal
ion natrium terbuka pertama kali setelah sel distimulasi. Kanal ion natrium yang
terbuka menyebabkan pergerakan masuk (influx) ion natrium menjadi nyata.
Influx ion natrium membawa masuk muatan positif ke dalam cis menjadi lebih
positif, sehingga beda potensial antara cis dan ces berkurang mendekati nol.

Depolariasi membran akan berhenti manakala beda potensial membran


telah mencapai nilai ambang dari sensor kanal ion kalium dan chlor. Nilai ambang
sensor kanal ion chlor menghendaki beda potensial yang lebih kecil dibandingkan
kanal ion kalium sehingga kanal ion chlor terbuka terlebih dahulu. Kanal ion chlor
yang terbuka membawa masuk sejumlah muatan negatif ke dalam sel (cis)
sehingga menambah beda potensial membran. Dengan demikian beda potensial
yang semula mengecil akibat depolarisasi, kembali meningkat akibat pembukaan
kanal ion chlor. Beda potensial yang kembali meningkat sampai pada nilai
ambang kanal ion kalium, maka kanal tersebut akan terbuka dan membawa keluar
muatan positif dari dalam sel. Negatifitas muatan di dalam sel meningkat kembali
dan polarisasi membran pun bertambah mendekati kondisi semula. Hal inilah
yang disebut dengan fenomena repolarisasi, artinya polarisasi membran
kembalipada kondisi semula.
Repolarisasi terkadang melebihi potensial membran saat resting (RMP)
sehingga sejumlah ion natrium dan chlor terjebak di dalam sel sedangkan ion
kalium terjebak di luar sel. Fenomena ini sering disebut dengan positive after
potential. Upaya untuk mengembalikan komposisi ion seperti semula tidak
mudah, karena sel harus mengaktifkan pompa ion yang mentransport secara aktif
dengan bantuan ATP (Na K ATP ase).
Semakin besar beda potensial membran (polarisasi membran), semakin
sensitif sel tersebut. Pada kondisi potensial membran yang besar dibutuhkan
stimulus yang besar pula untuk memicu depolarisasi. Beda potensial membran
yang melebihi RMP disebut dengan hiperpolarisasi, sedangkan beda potensial
yang kurang dari RMP disebut dengan hipopolarisasi.
Selama potensial aksi terjadi, sel menjadi kurang sensitif terhadap
rangsangan. Periode penurunan sensitifitas ini disebut dengan periode refrakter.
Periode refrakter terbagi menjadi periode refrakter absolut dan relatif. Periode
refrakter absolut menggambarkan kondisi sel tak dapat dirangsang kembali
walupun dengan stimulus yang lebih besar. Sedangkan periode refrakter relatif
menggambarkan sel masih dapat depolarisasi kembali bila stimulus yang
diberikan lebih besar.

Periode refrakter absolut terjadi sejak nilai ambang tercapai hingga


depolarisasi berlangsung. Sedagkan periode refrakter relatif terjadi saat
repolariasasi berlangsung hingga melewati nilai ambang semula. Stimulus yang
lebih besar diberikan pada saat periode refrakter berpotensi menghasilkan
potensial aksi yang lebih besar dari sebelumnya.
Pada otot jantung dan otot polos tipe single unit terdapat fenomena
plateau. Fenomena plateau merupakan perlambatan dari fase relaksasi. Hal ini
dimungkinkan terjadi bila :
1. terjadi perlambatan pembukaan kanal ion kalium
2. terjadi pembukaan dari slow natrium-calcium channel yang hanya
terdapat di membran sel otot jantung. Respon dari kanal ion ini terlambat, dimana
kanal baru terbuka setelah depolariasasi berlangsung.
Plateau memperpanjang periode refrakter sehingga otot jantung tidak
mudah mengalami tetani meskipun diberikan rangsangan berulang dengan
intensitas yang meningkat.
Potensial aksi yang terjadi akan ditularkan pada bagian lain dari membran
ke segala arah. Peristiwa ini disebut dengan propagasi atau konduksi. Propagasi
tidak akan berhenti hingga seluruh membran mengalami potensial aksi. Propagasi
menyebabkan potensial aksi yang semula bersifat lokal berjalan dan
menjalar menjadi arus listrik. Arus listrik (I) berbanding lurus dengan besar
potensial aksi (V) yang terjadi dan berbanding terbalik dengan besar hambatan
(R). Besar hambatan (R) bergantung pada kualitas membran sel, seperti ketebalan
membran, konduktifitas membran dan jumlah protein membran.
Macam-macam gelombang Potensial Aksi adalah sebagai berikut :

Gelombang potensial aksi dari akson

Gelombang potensial aksi dari sel otot bergaris

Gelombang potensial aksi dari sel oto jantung

2.5 Perekaman Aktifitas Listrik di dalam Tubuh.

Aktifitas listrik tubuh dapat direkam dan diamati dengan menggunakan


alat khusus yang disebut EEG, EMG dan EKG. EEG (encephalography) adalah
alat

yang

dapat

merekam

akifitas

listrik

otak,

sedangkan

EMG

(elektromyography) merupakan alat perekam aktifitas listrik otot rangka. EKG


(elektrocardiography) merekam aktifitas listrik jantung.
Upaya merekam aktifitas listrik tubuh dilakukan dengan menggunakan
tranducer. Tranducer merupakan bahan tertentu yang bersifat konduktan listrik
dan mampu mengubah energi listrik menjadi bentuk lain, seperti kinetik atau
termal. Aktifitas listrik yang ditangkap oleh tranducer kemudian diamplifikasi
dengan tujuan memperbesar sinyal yang ditangkap sehingga dapat diamati dengan
lebih jelas. Secara umum alat EEG, EMG dan EKG menggunakan prinsip kerja
tranduksi dan amplifikasi ini.
Penggunaan alat perekam aktifitas listrik tubuh dalam praktek medis
ditujukan untuk membantu diagnosis kelainan yang terjadi dan terapi. EKG
misalnya, merupakan standar emas di dalam penegakan diagnosis berbagai
kelainan jantung, seperti : infarc myocard acute (IMA) dan blokade impuls.
Khusus EKG, perekaman menggunakan lebih dari satu elektroda
tranducer, yaitu terdiri dari tiga elektroda extremitas dan enam elektroda yang
diletakan di dinding dada. Perekaman EKG dapat menentukan beda potensial pada
satu titik kedudukan (unipolar) dan beda potensial antara dua titik kedudukan
(bipolar). Beda potensial bipolar yang diukur adalah antara tangan kanan dengan
tangan kiri (lead I), tangan kanan dengan kaki kiri (lead II) dan tangan kiri dengan
kaki kiri (lead III).
Hasil pengukuran beda potensial lead I menunjukan tangan kanan lebih
negatif dibandingkan tangan kiri. Sedangkan pada lead II menunjukan tangan
kananlebih negatif dari kaki kiri dan pada lead III tangan kiri lebih negatif
daripada kaki kiri. Dengan demikian arah vektor lead II adalah resulatante dari
lead I dan lead III.
Keterangan:
RA = tangan kanan (right arm), LA = tangan kiri (left arm), dan LL = kaki kiri
(left leg). Lead I bertugas merekam keadaan jantung dari bahu bagian atas dan

saling mempengaruhi dengan Lead yang lain dengan hubungan II = I + III.

Gambar 1. Tiga Lead bipolar yang dikenal dengan segitiga Einthoven

Evolusi EKG berlanjut ketika F.N. Wilson menambahkan konsep


perekaman multikutub. Pada konsep ini ada titik referensi yang merata-ratakan
beda potensial ketiga cabang lainnya. Wilson menyusun tiga Lead cabang terminal
dan enam Lead cabang yang ditempatkan pada dada depan untuk membentuk 12
Lead standar EKG.

Gambar 2. Tiga Lead cabang Wilson (VW) dan enam Lead cabang dada depan (Vi)
(J.D. Bronzino. The Biomedical Engineering Handbook. 2nd Ed. CRC & IEEE Press. 2000)

Sinyal pengukuran EKG memiliki rentang potensial sekitar 2 mV dan


frekuensi 0.05 150 Hz. Huruf P, Q, R, S, T, dan U yang dipilih Einthoven
sebagai identitas nama gelombang dipakai oleh standar Asosiasi Jantung Amerika
(American Heart Association) dan Asosiasi Instrumen Medis tingkat lanjut
(Association for the Advancement of Medical Instrumentation). Instrumen
modern EKG merupakan sebuah sistem pengukuran yang mengintegrasikan
peralatan komputer, 12-16 bit analog-digital (A/D) converter, micro controller,
dan processor input-output (I/O). Sistem ECG menghitung matriks-matriks dari
12 sinyal Lead dan menganalisisnya dengan aturan yang baku sehingga tercipta
hasil akhir pengukuran.
Gelombang P disebabkan oleh arus listrik yang dibangkitkan sewaktu
atrium mengalami depolarisasi sebelum kontraksi dan menunjukan depolarisasi
pada otot-otot atrial. Gelombang QRS merupakan hasil gabungan repolarisasi
otot-otot atrial dan depolarisasi ventrikular yang terjadi pada waktu yang hampir
bersamaan. Selang waktu dari P Q menunjukan waktu tunda didalam fiber-fiber
didekat node AV. Gelombang T disebabkan oleh arus listrik yang dibangkitkan
sewaktu ventrikel kembali dari keadaan depolarisasi.

Gambar 3. Hasil pengukuran Lead II


(Smeltzer SC, Bare BG. Brunner & Suddarths Textbook of Medical Surgical Nursing. 9th Ed.
Lippincott Williams & Wilkins. 2000)

Dasar perekaman EKG adalah propagasi impuls depolarisasi dan


repolarisasi. Arah propagasi depolarisasi dan repolarisasi pada umunya tiap sel
adalah bolak-balik, namun khusus pada sel jantung arah propagasi satu arah.
Kekhasan otot jantung yang lain adalah memiliki serabut konduksi tersendiri,
yaitu : sa node, av node, bundle of his dan serabut purkinje.
Hasil rekaman EKG merupakan resultante dari arah propagasi impuls yang
merujuk dari sa node menuju ke apex jantung. Defleksi positif ditunjukan bila
arah propagasi mendekati elektroda, sedangkan defleksi negatif muncul bila arah
propagasi menjauhi elektroda. Elektroda yang dilalui oleh propagasi impuls akan
menghasilkan bentukan bifasik.
Model EKG normal adalah hasil rekaman dari elektroda lead II. Hal ini
didasarkan pada arah vektor lead II yang searah dengan propagasi impuls jantung.
Rekaman EKG normal dari lead II terdiri dari gelombang p, kompleks qrs dan
gelombang t. Gelombang p menunjukan depolarisasi atrium, sedangkan kompleks
qrs menggambarkan depolarisasi ventrikel dan gelombang t menggambarkan
repoalrisasi ventrikel. Fase repolarisasi atrium tidak nampak oleh karena
bersamaan dengan depolarisasi ventrikel.
Interval antar gelombang menunjukan kualitas konduksi impuls. RR
interval mewakili jedah waktu antara satu impuls dengan impuls berikutnya dan
mewakili kualitas dan frekuensi irama jantung. PR interval mewakili kualitas

konduksi impuls dari sa node melewati av node hingga mencapai dinding


ventrikel mengalami depolarisasi. Lebar kompleks qrs menggambarkan periode
depolarisasi dinding ventrikel. Sedangkan ST segment adalah waktu yang
dibutuhkan dari peralihan fase depolarisasi ventrikel menjadi repolarisasi
ventrikel. Interval yang memanjang menunjukan kualitas konduksi yang
memburuk, misalnya blokade pada salah satu serabut konduksi.
Hasil rekaman EKG di luar lead II merupakan hasil rekaman yang khas
pada lokasi perekaman dimana elektroda diletakan. Pembacaan hasi rekaman
tersebut perlu mempertimbangkan posisi elektroda dan memahami arah propagasi
impuls dan vektor jantung.
2.6 Kegunaan Elektroda pada Kelistrikan dalam Tubuh
Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan elektroda. Kegunaan
dari elektroda untuk memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron. Bahan
yang dipakai sebagai elektroda adalah perak dan tembaga. Apabila sebuah
elektroda tembaga da sebuah elektroda perak di celupkan dalam sebuah larutan
misalnya larutan elektrolit seimbang cairan badan/tubuh maka akan terjadi
perbedaan potensial antara kedua elektroda itu.
Perbedaan potensial ini kira-kira sama dengan perbedaan antara potensial
kontak kedua logamtersebut disebut potensial offset elektroda.
Macam- macam bentuk elektroda :
a. Elektroda Jarum (Mikro Elektroda)
Berbentuk konsentrik ( consentrik elektoda ). Elektroda berbentuk jarum ini
dipergunakan untuk mengukur aktivitas motor unit tunggal.

b. Elektroda Mikropipet
Dibuat dari gelas dengan diameter 0.5 m. Untuk mengukur potensial
biolistrik di dekat/dalam sebuah sel. Dapat menyalurkan elektroda dalam sebuah
sel.

.
c. Elektroda Permukaan Kulit
Elektroda permukaan kulit terbuat dari metal/logam yang tahan karat,
Misalnya perak, nikel, atau alloy.

Bentuk-bentuk elektroda, antara lain sebagai berikut :


a) Bentuk plat Dipakai untuk mengukur potensial listrik yang dipasangkan
pada tubuh EKG, EEG, dan EMG. Dipakai tahun 1917

didaerah yang

elektrodanya digosok dengan saline solution (air garam fisiologi). Diganti dengan
Jelly atau pasta (elektrolit).
b) Bentuk Suction Cup Dipakai waktu melakukan EKG.
c) Bentuk Floating Type elektroda ngambang, agar mencegah kontak
langsung antara logam dengan kulit.
d) Bentuk Ear Clip Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.
e) Bentuk Batang Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Biolistrik adalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup, tegangan listrik
pada tubuh berbeda dengan yang kita bayangkan seperti listrik di rumah tangga.
Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam
tubuh. Kelistrikan dan kemagnetan didalam tubuh sangat berpengaruh pada sistem
saraf. Sistem saraf di dalam tubuh mempuanyai listrik. Pada sistem saraf pusat
dan sistem saraf otonom.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan
Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron.
Gelombang arus listrik bekaitan erat dengan penggunaan arus listrik untuk
merangsang saraf motoris atau saraf sensoris. Dalam biolistrik terdapat beberapa
hukum, yaitu Hukum Joule dan Hukum Ohm

DAFTAR PUSTAKA

http://strengthlive1899.blogspot.com/2012/11/makalah-kimiakeperawatan-1-bio-listrik.html

http://mustikadewi.student.esaunggul.ac.id/2012/12/05/tugas-online-iiifisika-kelistrikan-dan-kemagnetan-dalam-tubuh-manusia/