Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Rumah Pemotongan Hewan (RPH) merupakan salah satu industri yang

mengeluarkan limbah cair dalam jumlah besar. Limbah cair RPH mengandung bahan
organik dengan konsentrasi tinggi, padatan tersuspensi, serta bahan koloid seperti
lemak, protein, dan

selulosa. Jumlah masyarakat yang semakin sadar akan

permasalahan lingkungan serta peraturan pemerintah yang semakin ketat membuat


penanganan terhadap limbah cair RPH ini perlu mendapatkan perhatian secara
seksama (Budiyono, 2007).
Limbah cair di RPH berasal dari beberapa kegiatan pada proses pemotongan
hewan yakni pembersihan hewan, penyembelihan, pengulitan, pemotongan bagianbagian tubuh hewan, pembersihan lantai, dan penyimpanan daging. Limbah cair ini
merupakan limbah organik yang biodegradable yang terdiri atas darah, partikelpartikel kulit dan daging, sisa-sisa dari sistem pencernaan, cairan rumen, kotoran
hewan, urin, dan polutan-polutan lainnya dari proses pencucian (Fang, 2000).
Menurut Kusnoputranto (1995), limbah ini akan berdampak pada kualitas fisik
air yakni total padatan terlarut, padatan tersuspensi, kandungan lemak, Biochemical
Oxygen Demand (BOD), Total Suspended Solid (TSS), Chemical Oxygen Demand
(COD), amonia, nitrogen, fosfor, dan pH akan mengalami peningkatan. Menurut
Bewick (1980), limbah ternak merupakan sumber pencemaran bagi air yang
1

mempunyai kandungan BOD tinggi dan dengan jumlah kandungan oksigen terlarut
yang sedikit. Penelitian Mahmut (2006) menunjukkan hasil komposisi air limbah
berupa pH sebesar 6,7; BOD sebesar 11.000 mgO2/l, COD sebesar 27.500 mgO2/l,
dan TSS sebesar 1.020 mg/l. Apabila limbah RPH tidak ditangani akan menimbulkan
masalah pada lingkungan, seperti berkurangnya oksigen di dalam air, munculnya gas
berbau busuk, serta bersarangnya makhluk hidup pembawa penyakit (Laksmi, 1993).
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Kegiatan Rumah Pemotongan Hewan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas
lingkungan hidup dan menurunkan beban pencemaran lingkungan melalui upaya
pengendalian pencemaran dari kegiatan RPH yang diatur dalam Peraturan Gubernur
Jawa Timur Nomor 72 Tahun 2013 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri
dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya yang menyebutkan bahwa kadar maksimum air
limbah Rumah Pemotongan Hewan yang diijinkan antara lain COD sebesar 200
mg/L, BOD sebesar 100 mg/L, TSS sebesar 100 mg/L, minyak dan lemak sebesar 15
mg/L, NH3-N sebesar 25 mg/L dan pH sebesar 6-9 (Anonim, 2013).
Limbah cair RPH harus diolah sebelum dibuang ke lingkungan untuk
melindungi keselamatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Limbah cair RPH dapat
diolah dengan sistem biologis dan kimia karena memiliki komposisi polutan utama
berupa bahan organik seperti karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Polutan
tersebut umumnya dalam bentuk tersuspensi atau terlarut. Beberapa proses yang
dapat diterapkan dalam pengolahan air limbah RPH diantaranya adalah koagulasiflokulasi (Anonim, 2007).

Teknik pengolahan air limbah dibagi menjadi tiga metode yakni pengolahan
secara fisika, kimia, dan biologi. Salah satu proses dalam pengolahan air limbah
secara kimia adalah koagulasi dan flokulasi. Koagulasi merupakan proses
destabilisasi koloid dalam air limbah dengan menambahkan bahan kimia (koagulan)
(Sugiharto, 1987). Koagulasi dan flokulasi dapat dilakukan dengan penambahan
koagulan atau flokulan disertai dengan pengadukan yakni dengan kecepatan tinggi
dalam waktu yang singkat dan pengadukan dengan kecepatan lambat dalam waktu
lama (Siregar, 2005).
Pemanfaatan biji asam Jawa (Tamarindus indica) yang selama ini hanya
sebagai limbah yang jarang digunakan perlu dikembangkan lebih lanjut untuk
pengolahan limbah cair, yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Hasil penelitian
Nurika dkk. (2007) menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi serbuk biji asam
Jawa dan pengaturan lama pengadukan berpengaruh nyata terhadap nilai TSS, BOD 5,
DO, dan pH air limbah tahu. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi serbuk biji
asam Jawa 14 g/L dan pengadukan selama 3 menit. Hasil perlakuan terbaik tersebut
mampu menurunkan TSS 67,29% dan BOD5 24,18% serta meningkatkan Dissolve
Oxygen (DO) 53,85% dan pH 16,28% (Nurika dkk., 2007). Koagulan alami seperti
biji asam Jawa (Tamarindus indica) merupakan alternatif sebagai pengganti koagulan
kimia. Biji asam Jawa memiliki kandungan tanin sebesar 20,2% yang terdapat pada
kulit biji dan kandungan pati dalam daging biji cukup besar sekitar 33,1% (Gunasena,
2000).

Pada penelitian ini akan menggunakan koagulan biji asam Jawa (Tamarindus
indica) untuk pengolahan air limbah RPH kemudian hasil penelitian dibandingkan
dengan Baku Mutu SK Gubernur Jatim No. 72 Tahun 2013. Penelitian ini dilakukan
juga untuk mengetahui kemampuan biji asam Jawa sebagai koagulan alami untuk
menurunkan BOD dan TSS air limbah RPH, sehingga diharapkan dapat digunakan
sebagai alternatif dalam pengolahan air limbah RPH. Penelitian ini menggunakan
variabel bebas, yaitu konsentrasi koagulan biji asam Jawa (mg/L) dan waktu
pengadukan lambat (menit) pada proses koagulasi menggunakan Jar Test, serta
variabel terikatnya adalah penyisihan kadar BOD dan TSS.

1.2
1.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Apakah penambahan berbagai variasi konsentrasi koagulan biji asam Jawa

2.

(Tamarindus indica) dapat menurunkan TSS dan BOD pada air limbah RPH?
Apakah dengan berbagai variasi lama waktu pengadukan lambat koagulan biji
asam Jawa (Tamarindus indica) dapat menurunkan TSS dan BOD pada air

3.

limbah RPH?
Apakah pemberian kombinasi koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica)
pada berbagai variasi konsentrasi dan waktu pengadukan lambat dapat
menurunkan TSS dan BOD pada air limbah RPH?

1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

Mengetahui penambahan berbagai variasi konsentrasi koagulan biji asam


Jawa (Tamarindus indica) dapat menurunkan TSS dan BOD pada air limbah

2.

RPH.
Mengetahui berbagai variasi lama waktu pengadukan lambat koagulan biji
asam Jawa (Tamarindus indica) dapat menurunkan TSS dan BOD pada air

3.

limbah RPH.
Mengetahui pemberian kombinasi koagulan biji asam Jawa (Tamarindus
indica) pada berbagai variasi konsentrasi dan waktu pengadukan lambat dapat

1.3.2

menurunkan TSS dan BOD pada air limbah RPH.


Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai koagulan alternatif bagi

usaha RPH dalam menemukan koagulan yang lebih ramah lingkungan dalam
pengolahan air limbah.
1.4
Hipotesis Penelitian
1.4.1 Hipotesis kerja
Jika penambahan konsentrasi koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica)
dan lama waktu pengadukan dapat menurunkan kadar TSS dan BOD pada air limbah
RPH, maka semakin besar konsentrasi koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica)
dan lama waktu pengadukan lambat akan semakin menurun kadar TSS dan BOD
pada air limbah RPH.
1.4.2

Hipotesis statistik
Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:

H01:

Tidak ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air
limbah RPH.

Ha1:

Ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air
limbah RPH.

H02:

Tidak ada beda nilai penurunan BOD pada pemberian koagulan biji asam
Jawa (Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada
pengolahan air limbah RPH.

Ha2:

Ada beda nilai penurunan BOD pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air
limbah RPH.

H03:

Tidak ada beda nilai penurunan TSS pada berbagai variasi lama waktu
pengadukan lambat koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica) dengan
berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air limbah RPH.

Ha3:

Ada beda nilai penurunan TSS pada berbagai variasi lama waktu pengadukan
lambat koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica) dengan berbagai variasi
konsentrasi pada pengolahan air limbah RPH.

H04:

Tidak ada beda nilai penurunan BOD pada berbagai variasi lama waktu
pengadukan lambat koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica) dengan
berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air limbah RPH.

Ha4:

Ada beda nilai penurunan BOD pada berbagai variasi lama waktu pengadukan
lambat koagulan biji asam Jawa (Tamarindus indica) dengan berbagai variasi
konsentrasi pada pengolahan air limbah RPH.

H05:

Tidak ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air
limbah RPH.

Ha5:

Ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi konsentrasi pada pengolahan air
limbah RPH.

H06:

Tidak ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi lama waktu pengadukan lambat
pada pengolahan air limbah RPH.

Ha6:

Ada beda nilai penurunan TSS pada pemberian koagulan biji asam Jawa
(Tamarindus indica) dengan berbagai variasi lama waktu pengadukan lambat
pada pengolahan air limbah RPH.

1.5

Ruang Lingkup
Pada penelitian ini meliputi penurunan TSS dan BOD dengan penambahan

koagulan alami asam Jawa (Tamarindus indica) berdasarkan variabel bebas


konsentrasi dan waktu pengadukan lambat dalam pada air limbah RPH dan
disesuaikan dengan baku mutu air limbah Rumah Pemotongan Hewan berdasarkan
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 72 Tahun 2013 Tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Industri dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya.