Anda di halaman 1dari 6

1

SORE

Kadang kita suka lupa sama apa yang udah kita dapetin. Terlalu jauh melihat ke atas, tanpa tau
kalau di bawah ada banyak kebahagiaan yang seharusnya kita sadari itu.. ujar Gian sambil membenarkan
tali sepatunya.
Kenapa, ya, kamu selalu aja bisa bikin aku tenang? Thanks, ya, Yan. Aluna tersenyum simpul
menatap Gian yang duduk di hadapannya bersandar di tiang ring basket yang sudah tidak terpakai lagi.
Karena aku ngerti gimana caranya bersyukur, Al, sambung Gian.
Aluna memanyunkan bibirnya menatap Gian. Mereka berdua kemudian beranjak dari lapangan
basket tempat favorit mereka. Lapangan itu terletak di dataran yang cukup tinggi sehingga pemandangan
kota tampak jelas terlihat. Mereka berdua sering menghabiskan waktu di situ ketika sore hingga malam
menjelang, karena lapangan basket itu sudah tidak digunakan lagi
Aluna dan Gian adalah sepasang kekasih. Mereka sudah berpacaran hampir dua tahun dan
masing-masing masih kuliah di universitas yang berbeda. Aluna sedang uring-uringan karena masalah
kedua orang tuanya yang kemungkinan besar akan bercerai. Gian adalah cowok yang sangat sabar dan
pengertian terhadap semua yang ada pada Aluna. Ia selalu mendengarkan keluh kesah Aluna dan
menemaninya hingga Aluna merasa lebih baik.
Sekali lagi, sore ini langit yang berwarna orange menemani langkah mereka meninggalkan
lapangan basket itu.

***

Langkah kaki Gian tampak tergesa-gesa setelah memarkirkan motornya di pinggir lapangan
basket tempat biasa. Ia menghampiri Aluna yang sedang tiduran di bawah tiang basket sambil memainkan
gadget-nya. Ia menggunakan tas ransel hitam miliknya sebagai bantalan kepalanya. Aluna ingin Gian
menemaninya
Maaf, ya, Al, aku rada telat, nih. Suara Gian terdengar tersengal-sengal. Kamu inget gak? Aku
pernah ngirimin design aku untuk lomba design cover yang aku ikutin di kampus? Tanya Gian semangat
#Sore

@ollaaaa_05

2
setelah berada di samping Aluna tanpa memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk menormalkan
nafasnya.
Aluna kemudian bangun dan duduk di samping Gian. Iya? Terus? Aluna merespon sekenanya.
Gian yang masih tampak sumringah kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Aku dapet
juara satunya, Al. Aku menang! pekik Gian sambil memperlihatkan piagam penghargaan yang ia
dapatkan.
Aluna yang wajahnya terlihat sedikit berantakan mengamati piagam yang dipegang oleh Gian.
Selamet, ya, Yan. Aku ikut seneng.. Aluna tersenyum tipis seraya jemarinya mengusap pipi Gian
sebentar.
Raut bahagia di wajah Gian perlahan memudar ketika melihat respon dari Aluna.
Makasih, ya, Al. tutur Gian. Kamu kenapa?
Tadi aku denger papa sama mama aku berantem lagi, Yan. Aku capek denger mereka ribut terus.
Kenapa, sih, enggak ada hal yang biarin aku tenang dan bahagia sebentar?! Kayaknya ada aja yang bikin
aku

muak! racau Aluna yang tampak dari nada suaranya begitu kesal dengan keadaan yang

menimpanya.
Gian kemudian seperti hari-hari sebelumnya, selalu mendengarkan apa yang Aluna sedang
rasakan, memberikan masukan dan menemaninya hingga ia merasa lebih tenang.
Dan lagi, di sore dan tempat yang sama seperti biasanya, Gian menemani Aluna.

***

Dua bulan berlalu sejak kejadian di lapangan basket dimana Aluna berkeluh kesah tentang
masalah keluarganya yang kini sudah terselesaikan dengan cara damai. Kedua orang tua Aluna tidak jadi
bercerai. Selama itu pula Gian selalu ada dan menemani Aluna.
Sore ini, Gian sedang bersandar di tiang basket sambil menunggu Aluna datang. Gian tampak
sedang memutar-mutar handphone-nya. Sesekali ia mendongak ke atas langit dan memperhatikan awan
yang berarak pelan. Tak lama kemudian langkah riang kaki Aluna mendekati Gian.

#Sore

@ollaaaa_05

3
Kamu tumben cepet kesininya? Kamu udah makan? sapa Aluna setelah duduk di samping Gian
seperti biasanya.
Udah, kamu? jawab Gian sambil melihat Aluna hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam
tasnya..
Aluna menggeleng pelan. Belum. Si mama masak ikan. Padahal mama tau aku enggak suka
ikan, gerutu Aluna. Jadi aku beli sandwich aja tadi waktu mau kesini. Nih, buat kamu satu. Aluna
menyodorkan sandwich isi daging sapi dilapisi keju itu kepada Gian.
Pandangan Gian tidak beranjak dari wajah Aluna saat menerima sandwich dari tangan kekasihnya
itu. Aluna yang menyadari pandangan Gian kemudian tersenyum tidak mengerti.
Kamu kenapa, sih? Tanya Aluna sedikit malu-malu.
Gian membenarkan duduknya dan menatap Aluna dengan serius. Al, aku sayang banget sama
kamu. Kamu tau itu, kan?
Aluna menggigit sandwich-nya sambil menatap Gian. Hm? Iya, tau. Aku, kan, juga sayang
banget sama kamu.
Kamu bahagia sama aku? lanjut Gian.
Pandangan Aluna semakin tidak mengerti ke arah Gian. Iya, aku bahagia. Kamu kenapa, sih,
kok, aneh gini?
Tapi aku enggak pernah lihat kalau kamu bahagia kalau sama aku.. kalimat Gian terdengar
mengambang di udara.
Aluna menghentikan kunyahan di mulutnya. Maksudnya kamu apa, ya?
Dua tahun aku sama kamu, Al. Aku selalu temenin kamu, dengerin cerita kamu, keluhan kamu.
Saat itu juga aku ada untuk tenangin kamu.. jawab Gian. Ia mengambil nafas perlahan kemudian
melanjutkan.
Hampir tiap waktu kita ketemu pasti ada aja cerita yang bikin kamu kesel, ngeluh. Tentang
kuliah kamu, temen-temen kamu, juga keluarga kamu.. dan aku selalu dengerin kamu, tenangin kamu.
Aku selalu ngertiin kamu, Al. lanjut Gian.

#Sore

@ollaaaa_05

4
Kamu enggak tulus ngelakuin itu semua? Iya, Gian? Nada suara Aluna tampak tidak percaya
dengan apa yang dikatakan Gian barusan.
Al.. suara lirih Gian memanggil Aluna bersamaan dengan awan yang berarak menemani
mereka berdua di sore ini.
Aku pacar kamu. Kenapa hampir tiap ketemuan kamu selalu ngeluh dan ada aja yang bikin
kamu marah? Kamu enggak pernah nanya apa aja yang terjadi sama aku? Aku sedih, aku seneng.. kamu
enggak pernah tau kapan aku ngalamin itu semua, kan?
Kok, kamu ngomong gitu, sih, Yan!? suara Aluna terdengar meninggi.
Aku pikir aku udah sabar, Al, ngadepin kamu dan semua tentang diri kamu. Lalu aku kapan
kamu dengerinnya? Ketika aku seneng dapet juara design juga aku musti ngalah untuk dengerin apa yang
kamu rasain..
Tapi, kan, kamu tau waktu itu orang tua aku lagi ada masalah, Yan.. potong Aluna.
Aku ngerti, Al. Tapi kenapa, sih, kamu juga enggak pernah bersyukur sama apa yang ada
disekitar kamu? Kamu cuman lihat keburukan yang ada di sekeliling kamu. Hal yang bikin kamu bahagia
enggak pernah kamu lihat. Aku, Al.. ujar Gian tenang.
Terus kamu maunya apa sekarang, Yan? Kamu bilang kamu sabar ngadepin aku. Tanya Aluna
pelan.
Aku sabar, Al. Kamu enggak lihat gimana sabarnya aku ke kamu selama ini? Aku rela nyimpen
sendiri perasaan sedih atau senengnya aku. Karena aku udah sibuk dengerin kamu, Al. Kamu pernah tau
itu? Enggak, Al. Kamu egois!
Dan sekarang kenapa kamu enggak bisa sabar lagi, Yan?
Bukan enggak bisa, Al. Tapi udah cukup buat aku. Aku enggak mau kamu terus-terusan biarin
diri kamu jadi orang yang enggak pernah tumbuh dewasa dan menghargai hal yang udah kamu punya.
Kamu selalu ngeluh dan ngeluh..
Aluna tak bergeming mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Gian. Kemudian Gian
melanjutkan kalimatnya kembali sambil terus menatap Aluna.

#Sore

@ollaaaa_05

5
Aku tulus, Al, sama kamu. Semua hal yang aku lakuin ke kamu aku lakuin dengan tulus. Tapi
aku enggak mau biarin orang yang aku sayang gak pernah coba untuk jadi orang yang lebih bisa
menghargai orang lain.. Gian mengambil nafas perlahan.
Lebih baik aku pergi dari hidup kamu, Al.
Yan.. aku tau aku emang egois. Aku sadar aku salah banget ke kamu. Kamu udah baik banget
sama aku selama dua tahun ini.. aku enggak mau jauh dari kamu, apa kamu bakal tetep tinggal kalau aku
bilang aku bakal berubah, Yan? Tanya Aluna. Tampak air mata menggenang di pelupuk matanya.
Gian tak langsung menjawab pertanyaan dari Aluna. Beberapa detik hanya suara angin semilir
yang terdengar di antara mereka berdua.
Aku enggak bisa, Al.. pungkas Gian.
Seuntai air mata tampak jatuh dari mata Aluna. Ia tidak tau lagi kalimat apa yang hendak ia
utarakan untuk membuat Gian tetap bersamanya. Beberapa saat suasana kembali hening.
Aluna tampak menghela nafas panjang kemudian mengusap air matanya.
Maafin aku, ya, Yan? Kamu enggak apa-apa pergi dari kehidupan aku sekarang. Tapi aku
bakalan buktiin aku bisa berubah supaya kamu bisa kembali sama aku.. tutur Aluna. Dan kamu juga
musti tau, aku emang egois, Yan, tapi aku bener-bener bahagia banget pernah punya kamu.. Makasih ya,
Yan.
Gian menatap Aluna kembali. Wajahnya yang selalu terlihat tenang tampak sedikit muram setelah
mendengar Aluna berbicara. Kemudian ia meraih tas di sampingnya.
Kamu baik-baik, ya, Al.. tukas Gian sambil beranjak berdiri untuk pergi dari lapangan
meninggalkan Aluna.
Aluna memperhatikan Gian yang berjalan membelakanginya.
Haloo, Gian! teriak Aluna dari belakang.
Gian menghentikan langkahnya. Itu adalah kalimat pertama yang di ucapakan oleh Aluna ketika
mereka baru pertama berkenalan.
Gian tersenyum. Haloo, Aluna!

#Sore

@ollaaaa_05

6
Gian kemudian melanjutkan langkahnya pergi meinggalkan Aluna yang juga berdiri hendak
beranjak dari lapangan itu.
Dan sekali lagi, di sore yang sama namun arah langkah yang berbeda, Gian semakin menjauh
meninggalkan Aluna yang berjalan gontai meninggalkan lapangan basket itu. Tempat dimana Gian selalu
membuatnya nyaman, tenang. Tapi kini Aluna harus merelakan kebahagiaan yang tidak pernah dia lihat
dan hargai yang berada tepat di depan matanya, yaitu Gian.
Kini Aluna sadar, kadang untuk membuat orang agar lebih bisa bersyukur dan menghargai orang
lain adalah dengan cara kehilangan orang yang ternyata sangat begitu berharga setelah dia hilang.
***End***

#Sore

@ollaaaa_05