Anda di halaman 1dari 49

FILSAFAT KOMUNIKASI

TUGAS PENGGANTI UTS

ANGGUN NUR LESTARI


210110110727
HUMAS C
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG

FILSAFAT KOMUNIKASI
TUGAS PENGGANTI UTS

PERTANYAAN:
1. Jelaskan pemahaman anda tentang?
a. Ontologi?
b. Epistemologi?
c. Aksiologi?
Lengkapi jawaban anda dengan buku-buku rujukan
2. Apa perbedaan antara pandangan Socrates dengan Aristoteles. Jelaskan dan lengkapi
dengan contoh kehidupan?
3. Apa perbedaan Mazhab Empirisme dan Rasionalisme? Jelaskan dan lengkapi dengan
contoh yang tepat?
4. Apa pentingnya menurut anda keberadaan filsafat dalam keilmuan kita?
JAWABAN
A. Pengertian Ontologi Ilmu (Hakikat Ilmu)
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti
sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang
pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada
menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia,
ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan
tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono, 2007). Ontologi dapat pula diartikan
sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu
adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian,
obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan
pada logika semata.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan
tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam
setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang

meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka
dapat dikatakan bahwa obyek formal dari ontologi adalah hakikat seluruh realitas.
Hal senada juga dilontarkan oleh Jujun Suriasumantri (2000: 34 35), bahwa
ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu
pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan
dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu.
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan
yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat
tentang apa dan bagaimana (yang ) ada itu (being, sein, het zijn). Paham monism
yang terpecah menajdi idealism atau spiritualisme, paham dualism, pluralism dengan
berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan
pendapa bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang)
ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari. Dengan demikian, penulis
mendapatkan sebuah simpulan bahwa ontologi merupakan sebuah jawaban atas
pertanyaan mengenai hakikat kenyataan. Kita harus memahami dengan baik masalahmasalah ontologi agar dapat memahami dengan baik masalah dunia, tempat kita
tinggal.
Beberapa Konsep Mengenai Ontologi Ilmu
Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam
filsafat, antara lain:
1. Filsafat Materialisme
2. Filsafat Idealisme
3. Filsafat Dualisme
4. Filsafat Skeptisisme
5. Filsafat Agnostisisme
Kattsoff (1996: 212), ia menyatakan bahwa masalah ontologi terdiri dari
hakikat yang ada dan hakikat kenyataan. Adapun hakikat eksistensi merupakan
bidang garapan filsafat alam (kosmologi).
Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM)
dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada
ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap
sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau
konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik
itu kuda yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun sudah

mati. Idea kuda itu adalah faham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk
seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini.
Ontologi dapat mendekati masalah hakikat kenyataan dari dua macam sudut
pandang. Orang dapat mempertanyakan kenyataan itu tunggal atau jamak? yang
demikian ini meripakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat juga mengajukan
pertanyaan, Dalam babak terakhir apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?
yang demikian itu merupakan pendekatan secara kualitatif.
Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam
persoalan keberadaan, yaitu:
1. Keberadaan dipandang dari segi jumlah (kuantitas)
a Monisme, aliran yang menyatakan bahwa hanya satu keadaan
fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau
b

substansi lainnya yang tidak dapat diketahui.


Dualisme (serba dua), aliran yang menganggap adanya dua substansi
yang masing-masing berdiri sendiri. Misal dunia indera (dunia bayang-

bayang) dan dunia intelek (dunia ide).


Pluralisme (serba banyak), aliran yang tidak mengakui adanya sesuatu
substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, misalnya
hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, api, air dan

tanah (empedogles).
2. Keberadaan dipandang dari segi sifat, menimbulkan beberapa aliran,
yaitu:
a

Spiritualisme, mengandung arti ajaran yang menyatakan bahwa


kenyataan yang terdalam adalah roh yaitu roh yang mengisi dan

mendasari seluruh alam.


Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal

yang nyata kecuali materi.


3. Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan
a Mekanisme (serba mesin), menyatakan bahwa semua gejala atau
b

peristiwa dapat dijelaskan berdasarkan asas mekanik (mesin).


Teleologi (serba tujuan), berpendirian bahwa yang berlaku dalam
kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat tetapi sejak semula
memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam

ke suatu tujuan.
Vitalisme, memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya
dijelaskan secara fisika, kimia, karena hakikatnya berbeda dengan yang
tak hidup.

Organisisme

(lawannya

mekanisme

dan

vitalisme).

Menurut

organisisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu


kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan tetapi
yang utama adalah adanya sistem yang teratur.
Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence) bersangkutan dengan
cabang filsafat metafisika. Istilah metafisika berasal dari kata yunani meta ta physika
yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda fisik.
Aristoteles tidak memakai istilah metafisika melainkan proto philosophia (filsafat
pertama). Filsafat pertama ini memuat uraian tentang sesuatu yang ada dibelakang
gejala-gejala fisik seperti gerak, berubah, hidup, mati.
Metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah metafisika
ini terkadang dipadankan dengan ontologi jika demikian, karena sebenarnya
metafisika juga mencakup telaahan lainnya seperti telaahan tentang bukti-bukti
adanya Tuhan. Metafisika dapat didefinisikan sebagai studi atau pemikiran tentang
sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan.
Persoalan-persoalan metafisik dibedakan menjadi tiga yaitu persoalan
ontologi, persoalan kosmologi, dan persoalan antropologi.
1. Persoalan-persoalan ontologi diantaranya:
a Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu?
b Bagaimana penggolongan dari ada, keberadaan atau eksistensi?
c Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan?
2. Persoalan-persoalan kosmologi (alam) diantaranya:
a Apa jenis keraturan yang ada di dalam alam?
b Apakah keteraturan dalam alam seperti halnya sebuah mesin atau
keteraturan yang bertujuan?
c Apakah hakikat hubungan sebab dan akibat?
d Apakah ruang dan waktu itu?
3. Persoalan-persoalan antropologi (manusia) diantaranya:
a. Bagaimana terjadi hubungan antara badan dan jiwa?
b. Manusia sebagai mahluk bebas atau tak bebas?
Hakikat ada dan eksistensi
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata ada berarti hadir, telah sedia,
sedangkan keberadaan berarti hal berada, kehadiran. Hakikat ada dan
keberadaan diperoleh melalui alur berikut.
MANUSIA
(Subjek)

SENSE/
PENGINDERAAN

REALITAS
(Objek))
DATA INDERA/
PENAMPAKAN

Gambar 1. Alur hakikat ada dan keberadaan


Manusia sebagai subjek yang dapat berpikir dan melihat lewat penginderaan dapat
melihat realitas kehidupan sebagai obyek. Dari obyek inilah akan muncul data indera atau
penampakan. Dengan menggunakan data penampakan, manusia sampai pada suatu intinya
yang terdalam yaitu substansi hakikat ada dan keberadaan.

Hakikat Ada dan Eksistensi Suatu Ilmu Melalui Proses Abstraksi Yang
Mendasar Untuk Suatu Kebenaran Spekulatif
Untuk memperoleh pemahaman tentang hakikat segala sesuatu dilakukan dengan
suatu metode analisis yang disebut analisis abstraksi. Metode analisis abstraksi dilakukan
setingkat demi setingkat untuk akhirnya sampai pada suatu pemahaman pengertian hakikat.
Begitu juga dalam memahami hakikat ada dan keberadaan suatu ilmu bisa diperoleh
melalui proses analisis abstraksi tersebut. Metode abstraksi digunakan ontologi untuk
mencari kejelasan tentang dunia fakta seluruhnya sampai pada pengertian yang fundamental.
Pengetahuan fundamental yang dihasilkan oleh ontologi dapat dijadikan dasar untuk
membahas kembali asumsi dasar yang oleh ilmu pengetahuan telah dianggap mapan
kebenarannya.
Filsafat spekulatif sesungguhnya hanyalah merupakan sebutan lain dari metafisika.
Menurut perumusan Alfred North Whitehead, filsafat spekulatif adalah usaha untuk
menyusun sebuah system ide-ide umum yang berpautan dan perlu yang dalam kerangka
system itu setiap unsur dari pengalaman dapat ditafsirkan (Speculative Philosophy is the
endeavour to frame a coherent, logic, necessary system of general ideas in terms of which
every element of our experience can be interpreted). Dengan demikian, kebenaran spekulasi
adalah kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang,
dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error.

Dengan metode analisis abstraksi kita coba untuk menelaah hakikat ada dan
eksisitensi ilmu. Sebelum manusia memiliki berbagai ilmu, peristiwa alam yang terjadi tak
dapat dimengerti apalagi diramalkan dan dikuasai. Untuk dapat menerangkan peristiwa
tersebut, manusia lari kepada aneka penjelasan tahyul atau uraian serba gaib. Misal bila
gunung berapi meletus dan mendatangkan malapetaka maka dia menjelaskan bahwa dewa
gunung sedang marah. Dengan berkembangnya ilmu seperti vulcanology, geografi fisis
manusia dapat menerangkan secara tepat dan cermat berbagai peristiwa yang dijumpai dan
bisa meramalkan peristwa yang belum terjadi.
Pada tahap awal perkembangan filsafat di Yunani, pertanyaan tentang ke-ada-an atau
eksistensi cukup mendomisasi dalam pemikiran para Filsuf dengan pembahasannya mengenai
Bahan dasar dari alam. Ke-ada-an yang mengelilingi kehidupan manusia banyak sekali, ada
yang dapat disentuh oleh pancaindera, ada juga yang tidak, ada benda mati, tumbuhan,
hewan, manusia, pikiran, jiwa yang beragam perwujudannya. Apakah esensi ke-ada-an semua
itu merupakan realitas sendiri-sendiri, atau hanya penampakan saja dari suatu esensi ke-adaannya yang tunggal?.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para filsuf menelaah melalui filsafati sampai
memperoleh hakikat ada dan eksisitensi ilmu.
Jika ditinjau dari segi ontologi yang berarti persoalan tentang hakikat keberadaan ilmu
menunjukkan bahwa ilmu selalu berada dalam hubungannya dengan eksistensi kehidupan
manusia, karena ilmu berdasar pada beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan
tentang fenomena yang nampak dalam kehidupan. Asumsi-asumsi dasar tersebut meliputi:
1
2
3

dunia itu ada dan kita dapat mengetahui bahwa dunia itu benar ada;
dunia empiris itu dapat diketahui oleh manusia melalui pancaindera;
fenomena-fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu sama lain
secara kausal.

Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa ontologi ilmu berarti ilmu dalam hubungannya
dengan asal mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa manusia ilmu tak pernah
ada. Tetapi bagaimana halnya dengan keberadaan manusia tanpa ilmu? Mungkinkah itu ada?
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan pernyataan Deskrates yang menekankan pentingya
kecakapan berpikir dalam skeptisimanya yang radikal, yang diungkap dalam Cogito
ergosom (saya bepikir maka saya ada). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ontologi
merupakan dasar pemikiran filsafat.

B. Pengertian Epistemologi
Epistemologi (teori pengetahuan), karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu
manusia, termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat gamblang, merupakan
dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. Walaupun ilmu logika dalam beberapa
bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi, akan tetapi, ilmu logika merupakan ilmu
tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar, diletakkan setelah epistemologi.
Hingga tiga abad sebelum abad ini, epistemologi bukanlah suatu ilmu yang
dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. Akan tetapi, pada dua abad sebelumnya,
khususnya di barat, epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu.
Epistomologi berasal dari bahasa Yunani episteme dan logos. Episteme berarti
pengetahuan (knowledge),logos berarti teori. Dengan demikian epistomologi secara
etimologis berarti teori pengetahuan. (Rizal, 2001: 16). Epistomologi mengkaji mengenai apa
sesungguhnya ilmu, dari mana sumber ilmu, serta bagaimana proses terjadinya. Dengan
menyederhanakan batasan tersebut, Brameld (dalam Mohammad Noor Syam, 1984: 32)
mendefinisikan epistomologi sebagai it is epistemologi that gives the teacher the assurance
that he is conveying the truth to his student. Definisi tersebut dapat diterjemahkan sebagai
epistomologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan
kebenaran kepada murid-muridnya. Disamping itu banyak sumber yang mendefinisikan
pengertian Epistomologi diantarannya:
1. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah
filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.
2. Epistomologi adalah pengetahuan sistematis yang membahas tentang terjadinnya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara
memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (Ilmiah).
3. Epistomologi adalah cabang atau bagian filsafat yang membicarakan tentang
pengetahuan yaitu tentang terjadinnya pengetahuan dan kesahihan atau kebenaran
pengetahuan.
4. Epistomologi adalah cara bagaimana mendapatkan pengetahuan, sumber-sumber
pengetahuan, ruang lingkup pengetahuan.
Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui
sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa:
1. Hakikat itu ada dan nyata;

2. kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu;


3. hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami;
4. manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal
dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya,
dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia.
Cakupan Epistomologi

Dalam hal ini, ada dua poin penting akan dijelaskan:


1. Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau
ilmu dalam pengertian khusus. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan
penginderaan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Terdapat tiga
persoalan pokok dalam epistomologi yaitu:
a

Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari manakah pengetahuan yang benar itu

datang?
Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang real di luar akal dan kalau ada
dapatkah kita mengatahui? Ini adalah problem penampilan (appearance) terhadap

realitas.
Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan kebenaran
dan kekeliruan? Ini adalah persoalan menguji kebenaran (verivication). (Titus, 1984:
20-21 dalam Kaelan, 1991:27-28).

2. Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka
dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi,
logika, dan psikologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu.
Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Sisi ini menjadi
salah satu pembahasan di bidang ontologi dan filsafat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu
dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sementara aspek
penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang
menjadi penyebab hadirnya penginderaan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dan ilmu
psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan
pencapaian suatu ilmu. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam
pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu.
Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan
observasi ilmu, dan batasan-batasan pengetahuan. Dengan demikian, ilmu yang diartikan

sebagai keumuman penyingkapan dan penginderaan adalah bisa dijadikan sebagai subyek
dalam epistemologi.
Sejarah epistomologis
Bermula dari sini setidaknya perkembangan epistemilogi hingga saat ini dapat kita bagi
dalam tiga perspektif utama:
1
2
3

perspektif klasik
perspektif modern
perspektif kontemporer

Dalam perspektif klasik, prolog wacana epistemologi dimulai dengan pengakuan atas
keberadaan realitas, eksistensi alam nyata, kumungkinan untuk memperoleh pengetahuan
yakin tentangnya, wujudnya kesalahan dan kemampuan.
perspektif modern epistemologi menjadikan keraguan normatif sebagai titik tolak
kajian epistemologinya. Descartes sebagai arsitek pandangan ini menjadikan keraguan
disegala hal termasuk meragukan eksistensi diri sendiri sebagai upaya untuk mencapai
keyakinan. "Cogito, ergo sum; aku berpikir (ragu) maka aku ada". Berpegang pada
pernyataan inilah Descartes mencapai pada simpulan bahwa keraguan pada setiap hal
meniscayakan kita untuk meyakini adanya ragu yang tak bisa dipungkiri dan adalah mustahil
adanya ragu tanpa wujudnya peragu. Karena itu menurut Descartes di sinilah pengetahuan
yang meyakinkan akan dijumpa.
Perspektif kontemporer merupakan cara pandang epistemik yang lahir dalam tradisi
filsafat analitik anglo-saxon. dalam perspektif kontemporer secara metodologis gaya
penyajian dan kajian epistemogis yang diajukan melazimkan adanya analisa bahasa atas
setiap terminus yang dipakai. kerena itu telaah epistemologi mereka diawali dengan definisi
dan analisa kata epistemik. Bersandar pada metode analitik, epistemologi kontemporer
berupaya untuk menafsirkan hakikat pengetahuan dengan cara mengkaji setiap rukun dari
definisi epistem yang dihasilkan. Umumnya mereka membongkar secara analitis term
epistemik ke dalam formula TBJ (True, Believe, Justification). Di samping itu persoalan
semacam skeptisme dan kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan yang telah
terdefinisikan sebelumnya, merupakan beberapa tema pokok lain dalam epistemologis
kontemporer.
Berikut adalah aliran-aliran dalam epistemologis:

1. Rationalisme
Aliran ini berpendapat semua pengetahuan bersumber dari akal pikiran atau ratio.
Tokohnya antara lain: Rene Descrates (1596 1650), yang membedakan adanya tiga idea,
yaitu: innate ideas (idea bawaan), yaitu sejak manusia lahir, adventitinous ideas, yaitu idea
yang berasal dari luar manusia, dan faktitinous ideas, yaitu idea yang dihasilkan oleh pikiran
itu sendiri. Tokoh lain yaitu: Spinoza (1632-1677), Leibniz (1666-1716).

2. Empirisme
Aliran ini berpendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui
pengalaman indera. Indera memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alam empiris,
selanjutnya kesan-kesan tersebut terkumpul dalam diri manusia menjadi pengalaman.
Tokohnya antara lain:
a. John Locke (1632-1704), berpendapat bahwa pengalaman dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu: (a) pengalaman luar (sensation), yaitu pengalaman yang diperoleh dari
luar, dan (b) pengalaman dalam, batin (reflexion). Kedua pengalaman tersebut merupakan
idea yang sederhana yang kemudian dengan proses asosiasi membentuk idea yang lebih
kompleks.
b. David Hume (1711-1776), yang meneruskan tradisi empirisme. Hume berpendapat
bahw ide yang sederhana adalah salinan (copy) dari sensasi-sensasi sederhana atau ideide
yang kompleks dibentuk dari kombinasi ide-ide sederhana atau kesankesan yang kompleks.
Aliran ini kemudian berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abad 19 dan 20.
3. Realisme
Realisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek yang
kita serap lewat indera adalah nyata dalam diri obyek tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak
tergantung pada subjek yang mengetahui atau dengan kata lain tidak tergantung pada pikiran
subjek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi interaksi tersebut mempengaruhi
sifat dasar dunia tersebut. Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari serta akan tetap ada
setelah pikiran berhenti menyadari. Tokoh aliran ini antara lain: Aristoteles (384-322 SM),
menurut Aristoteles, realitas berada dalam benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses

perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita cerap. Bentuk (form) atau idea
atau prinsip keteraturan dan materi tidak dapat dipisahkan. Kemudian aliran ini terus
berkembang menjadi aliran realisme baru dengan tokoh George Edward Moore, Bertrand
Russell, sebagai reaksi terhadap aliran idealisme, subjektivisme dan absolutisme. Menurut
realisme baru : eksistensi obyek tidak tergantung pada diketahuinya obyek tersebut.

4. Kritisisme
Kritisisme menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri
(yang meliputi indera dan pengalaman). Kemudian akal akan menempatkan, mengatur, dan
menertibkan dalam bentuk-bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan
merupakan permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akal merupakan pembentukannya.
Tokoh aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Kant mensintesakan antara rasionalisme
dan empirisme.
5. Positivisme
Tokoh aliran ini diantaranya adalah August Comte,yang memiliki pandangan sejarah
perkembangan pemikiran umat manusia dapat dkelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu:
a. Tahap Theologis, yaitu manusia masih percaya pengetahuan atau pengenalan yang
mutlak. Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh tahyul-tahyul sehingga subjek dengan
obyek tidak dibedakan.
b. Tahap Metafisis, yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan
kenyataan akan tetapi belum mampu membuktikan dengan fakta.
c. Tahap Positif, yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukumhukum dan saling hubungan lewat fakta. Maka pada tahap ini pengetahuan manusia dapat
berkembang dan dibuktikan lewat fakta (Harun H, 1983: 110 dibandingkan dgn Ali Mudhofir,
1985: 52, dlm Kaelan, 1991: 30)
6. Skeptisisme

Menyatakan bahwa pencerapan indera adalah bersifat menipu atau menyesatkan.


Namun pada zaman modern berkembang menjadi skeptisisme medotis (sistematis) yang
mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengalaman diakui benar. Tokoh skeptisisme
adalah Rene Descrates (1596-1650).
7. Pragmatisme
Aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan namun mempertanyakan
tentang pengetahuan dengan manfaat atau guna dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain
kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai sarana bagi suatu
perbuatan. Tokoh aliran ini, antara lain: C.S Pierce (1839- 1914), menyatakan bahwa yang
terpenting adalah manfaat apa (pengaruh apa) yang dapat dilakukan suatu pengetahuan dalam
suatu rencana. Pengetahuan kita mengenai sesuatu hal tidak lain merupakan gambaran yang
kita peroleh mengenai akibat yang dapat kita saksikan. (Ali Mudhofir, 1985: 53, dalam
Kaelan 1991: 30). Tokoh lain adalah William James (1824-1910, dalam Kaelan 1991: 30),
menyatakan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal adalah ditentukan oleh akibat praktisnya.
Metodologi memperoleh pengetahuan
Jenisjenis pengetahuan dapat dibedakan menjadi:
1. Dari keilmiahannya
a. pengetahuan ilmiah, yang memiliki beberapa ciri pengenal sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

berlaku umum,
mempunyai kedudukan mandiri,
mempunyai dasar pembenaran,
sistematik, dan
intersubjektif.

b. pengetahuan nir ilmiah. dari jenis pengetahuan yang dibangun dapat dibedakan menjadi:
1) Pengetahuan biasa (ordinary knowledge,common sense knowledge)
Pengetahuan ini bersifat subjektif, artinya amat terikat pd subjek yang
mengenal.

Sehingga

memiliki

sifat

selalu

benar

memperolehnya bersifat normal, tidak ada penyimpangan.


2) Pengetahuan ilmiah

sejauh

sarana

untuk

Pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan
menerapkan pendekatan metodologis yang khas. Kebenarannya bersifat relatif,
karena selalu mendapatkan revisi dan diperkaya oleh hasil penemuan yang paling
mutakhir. Dengan kata lain kebenarannya selalu mengalami pembaharuan sesuai
dengan hasil penelitian paling akhir dan mendapatkan persetujuan (agreement) oleh
para ilmuwan di bidangnya.
3) Pengetahuan filsafati
Pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati.
Sifat pengetahuannya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang
analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolut inter-subjektif.
Maksud absolut inter-subjektif adalah nilai kebenaran yang terkandung pada jenis
pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang melekat pada pandangan
seorang filsuf serta mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan
metodologi pemikiran yang sama.
4) Pengetahuan agama
Pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan dan ajaran agama tertentu.
Sifat dari pengetahuan ini adalah dogmatis, artinya pernyataan dalam ayat-ayat
kitab suci memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk
memahaminya. Kandungan kebenaran maksud dari ayat dalam kitab suci bersifat
absolut, meskipun dalam implikasi pemaknaannya mungkin berkembang secara
dinamik sesuai dengan perkembangan waktu dan pemahaman orang yang
memaknakannya.
Karakteristik pengetahuan dapat dibedakan menjadi:

pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang didasarkan atas sense (indera)

atau pengalaman manusia sehari-hari.


pengetahuan akal budi, yaitu pengetahuan yang didasarkan atas kekuatan

ratio.
pengetahuan intuitif, yaitu pengetahuan yang memuat pemahaman secara
cepat.

pengetahuan kepercayaan/pengetahuan otoritatif, yaitu pengetahuan yang


dibangun atas dasa kredibilitas seorang tokoh atau sekelompok orang yang
dianggap profesional dalam bidangnya.
Dengan memperhatikan definisi dan pengertian epistemologi, maka menjadi

jelaslah bahwa metode ilmu ini adalah menggunakan akal dan rasio, karena untuk
menjelaskan pokok-pokok bahasannya memerlukan analisa akal. Yang dimaksud
metode akal di sini adalah meliputi seluruh analisa rasional dalam koridor ilmu-ilmu
hushl dan ilmu hudhr. Dan dari dimensi lain, untuk menguraikan sumber kajian
epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan
metode analisa sejarah.
Hubungan Epistemologi dengan Ilmu-Ilmu Lain
1. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang
mengajarkan tentang metode berpikir benar, yakni metode yang digunakan oleh akal untuk
menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan
pembenaran. Dengan memperhatikan definisi ini, bisa dikatakan bahwa epistemologi jika
dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah, karena
apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan, maka mustahil kita
membahas tentang metode akal untuk mengungkap suatu hakikat dan bahkan metode-metode
yang ditetapkan oleh ilmu logika masih perlu dipertanyakan dan rekonstruksi, walhasil masih
menjadi hal yang diragukan.
2. Hubungan epistemologi dengan Filsafat. Pengertian umum filsafat adalah pengenalan
terhadap eksistensi (ontologi), realitas eksternal, dan hakikat keberadaan. Sementara filsafat
dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang
eksistensi[9]. Dalam dua pengertian tersebut, telah diasumsikan mengenai kemampuan,
kodrat, dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Jadi, epistemologi
dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat.
3. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu
ilmu yang menjabarkan proposisi-proposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi
demi mempertahankan peran dan posisi agama. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang
berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. Jadi, epistemologi berperan sentral
sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut, khususnya pembahasan yang terkait dengan

kontradiksi ilmu dan agama, atau akal dan agama, atau pengkajian seputar pluralisme dan
hermeneutik, karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi.
Syarat Ilmu Pengetahuan
Syarat ilmu pengetahuan merupakan pembatas atau ukuran suatu penelitian dapat
dipertanggungjawabkan sebagai ilmu. Beberapa syarat pokok ilmu pengetahuan, adalah:
1. Ada obyeknya, obyek tertentu yang diselidiki sebagaimana adanya (obyektif).
2. Obyek tersebut diselidiki dengan menggunakan metode atau cara tertentu. Jadi syarat yang
kedua adalah metodis.
3. Penelitian demi penelitian akan selalu menghasilkan kesimpulan, yang telah diketahui,
disusun, diorganisasi, diklasifikasi, digolong-golongkan. Dari kesimpulan muncullah asas
umum, asas khusus (berupa dalil, thesis, prinsip, aksioma, hukum). Semua ini merupakan
satu sistematika. Jadi syarat ketiga adalah adanya sistematika keilmuan (sistematis)
4. Semua aktivitas penelitian ilmiah dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Syarat keempat adalah kecenderungan berkembang, dinamis, dan manfaat. Jadi hasrat
penelitian ilmu pengetahuan bukan semata-mata di dorong oleh hasrat ingin tahu (science for
the seek of science atau intellect par excellence). Manusia terdorong melakukan penelitian
untuk kesejahteraan manusia lahir dan batin, untuk mengembangkan kepribadian.
Kepribadian orang berilmu seperti pepatah: seperti padi, makin berisi makin menunduk,
semakin berilmu, makin sabar, rendah hati, makin baik, arif bijaksana. Dapat pula dikatakan
syarat keempat adalah tujuan yang luhur. Dari keempat syarat diatas, menunjukkan
perwujudan ilmiah berlaku bagi semua jenis ilmu.
Obyek Epistomologi
Obyek material epistomologi adalah pengetahuan, sedangkan obyek formalnya adalah
hakikat pengetahuan. Setiap perangkat aturan untuk menguji berbagai tuntutan yang dapat
menjadikan kita memilliki pengetahuan harus benar-benar mapan, karena definisi tentang
kepercayaan, kebenaran merupakan masalah yang tetap dan terus ada, sehingga teori
pengetahuan merupakan suatu bidang utama dalam penyelidikan filsafat. Definisi ilmu
pengetahuan, beberapa pengertian/definisi mengenai ilmu pengetahuan:
1. Websters New Word Dictionary, yang artinya: Ilmu pengetahuan: semua yang telah
diamati atau dimengerti oleh jiwa (pikiran) belajar, dan sesuatu yang telah jelas.

2. Runes dalam Dictionary of Philosophy: Ilmu pengetahuan berhubungan dengan tahu


(yang diketahui), kebenaran yang dimengerti. Lawan dari pendapat, tetapi di bawah tarafnya
jika dibandingkan dengan kebenaran.
3. American Peoples Encyclopedia: Ilmu pengetahuan, suatu kesadaran penuh dan
terbuktikan dari suatu kebenaran mengenai sesuatu: bersifat praktis, suatu kesadaran yang
teratur, tersusun tentang apa pun yang secara definitif dapat diterima sebagai realita.
Ilmu pengetahuan meliputi, baik yang ada dalam perbendaharaan kebudayaan manusia
maupun dalam pribadi-pribadi cendekiawan. Ilmu akan selalu mengalami proses
perkembangan sejalan dengan perkembangan kepribadian manusia cendekiawan itu melalui
segala usaha penelitian dan pengembangan yang mereka laksanakan. Antara ilmu
pengetahuan dan kepribadian ada aksi positif saling membina. Semakin banyak tantangan
sosial, alamiah, hidup dan sebagainya, semakin berkembang pula ilmu pengetahuan, sebab
pada hakikatnya pengetahuan adalah usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidup
lahir dan batin. Ilmu yang telah dimiliki seseorang akan mendorong pribadi untuk lebih
dinamis, energik dalam menjelajahi lautan ilmu yang tak terbatas, semakin berilmu pribadi
seseorang semakin haus, semakin tahu manusia, semakin manusia tersebut merasa bodoh.
Dengan demikian menunjukkan ilmu memiliki watak dinamis, progresif, menjadi asas
pembina kepribadian. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa epistemologis merupakan
kunci pengembangan ilmu.
Ilmu yang berkembang di dalam masyarakat dapat menjadi faktor luar yang membantu
perkembangan potensi pribadi manusia. Dengan pengertian (teoretis) dan penguasaan
(praktik) ilmu pengetahuan, sebagai prestasi manusia yang ideal tercapai. Masuk dalam
kategori ini adalah kemampuan kreatif, karya kebudayaan dan ilmiah merupakan prestasi
kepribadian. Pengetahuan dan manusia merupakan satu integritas, pengetahuan adalah fungsi
kepribadian manusia.
C. Aksiologi
Landasan Aksiologi Ilmu
Landasan aksiologi ilmu menyangkut permasalahan pertama, apakah ilmu mendekatkan
manusia pada kebenaran Tuhan itu sendiri. Kedua, apakah ilmu bermanfaat bagi kehidupan
manusia itu sendiri. Ketiga, apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai, sebab nilainilai menyatu dengan ilmu itu sendiri.

Makna Aksiologi Ilmu


Makna aksiologi ilmu bisa diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperoleh. Seperti diketahui setiap pengetahuan, termasuk pengetahuan
ilmiah, mempunyai tiga dasar, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aksiologi ilmu
ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu,
yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan
yang didapatkanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudahankemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dangan
mempelajari atom kita dapat memanfaatkan untuk sumber energi bagi keselamatan manusa,
tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom atom akan
meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan
akan mengancam keselamatan umat manusia.
Hakikat dan Makna Nilai
Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara: orang
dapat mengatakan bahwa:
1. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif
Ditinjau dari sudut pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh
manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman
mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan subjektivitas.
2. Nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang
dan waktu
Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melaui akal. Pendirian
ini dinamakan obyektivitas logis.
3. Nilai merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan
Pendirian ini disebut obyektivitas metafisik.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa nilai memiliki bermacam makna,
diantaranya:

1. Mengandung nilai (artinya berguna)


2. Merupakan nilai (artinya baik atau benar atau indah)
3. Mempunyai nilai (artinya, merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat
menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui, atau mempunyai sifat nilai tertentu)
4. Memberi nilai (artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal
yang menggambarkan nilai tertentu).
Kegunaan dan Nilai Ilmu
Kegunaan ilmu secara moral harus ditujukan untk kebaikan manusia tanpa merendahkan
martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Tiap ilmu terutama dalam implementasinya
selalu terkait dengan aksiologinya. Dalam hal ini akan dijelaskan seberapa jauh ilmu
mempunyai peranan dalam membatu mencapai kehidupan manusia yang sejahtera di dunia
ini atau apakah manfaat ilmu bagi kehidupan manusia di dunia ini. Manusia belajar dari
pengalamannya dan berasumsi bahwa alam mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturannya.
Ilmu merupakan hasil kebudayaan manusia, dimana lebih mengutamakan kuantitas yang
obyektif dan mengesampingkan kualitas subjektif yang berhubungan dengan keinginan
pribadi sehingga dengan ilmu, manusia tidak akan mementingkan dirinya sendiri.
Pada tingkat aksiologis, pemahaman tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai
menyangkut etika, moral, dan tanggung jawab manusia itu sendiri. Oleh karena dalam
penerapannya ilmu pengetahuan juga mempunyai efek negatif dan desktruktif, maka
diperlukan aturan nilai dan norma untuk mengendalikan potensi nafsu angkara murka
manusia ketika hendak bergelut dengan ilmu pengetahuan. Di sininlah etika menjadi
ketentuan mutlak yang akan menjadi penyemangat yang baik bagi pengetahuan untuk
meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Etika adalah
pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar atau salah. Hal ini bertalian dengan
hati nurani, bernaung di bawah filsafat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang
melahirkan kewajiban, dengan asumsi bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan akan
mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia.
DAFTAR PUSTAKA
(REFERENSI)

Jujun S. Suriasumantri. (2003). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:


Pustaka Sinar Harapan.
Kattsoff, Louis O. (1996). Pengantar Filsafat, Alih Bahasa oleh Soedjono
Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Mohammad Noor Syam. (1984). Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan.
Surabaya: Pancasila Usaha Nasional.
Noeng Muhadjir. (2001). Filsafat Ilmu: Telaah Sistematis Fungsional Komparatif.
Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin.
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. (2001). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset.
S. Burhanudin. (1997). Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Suparlan Suhartono. (2007). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kelompok Penerbit ArRuzz Media.
Surajiyo. (2005). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
The Liang Gie. (2000). Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. (2000) . Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Penerbit Liberty Yogyakarta bekerjasama dengan YP Fakultas filsafat.

2. Apa perbedaan antara pandangan Socrates dengan Aristoteles. Jelaskan dan


lengkapi dengan contoh kehidupan?
Doktrin Socrates
Permenungan filosofis Socrates bertitik tolak dari pergulatannya dalam mencari
prinsip-prinsip yang mengatur alam semesta. Itulah fase pertama pergulatan Socrates.
Namun, Socrates lambat laun merasa jenuh dan buntu atas kesimpangsiuran dan pertentangan
doktrinal para fisikawan dan kosmolog. Akhirnya, Socrates berbalik arah dan mengikuti jalan
yang ditempuh para sofis: memperhatikan dan memusatkan diri pada soal manusia.
Permenungan-permenungan Socrates memiliki banyak kesamaan dengan sofisme, sehingga
tanpa penjelasan dari Platon, Xenophon dan Aristoteles, orang bisa menyetujui kesimpulan
Aristophanes bahwa Socrates adalah seorang sofis.

a) Penemuan Hakekat Manusia


Socrates memulai permenungannya dengan bertitik tolak dari pengalaman konkrit dan
hidup harian. Baginya, manusia adalah seorang pelaku yang memiliki kemampuan akal budi
dan organisasi diri. Perbedaan dasar permenungan Socrates dibandingkan dengan kaum sofis
terletak pada kedalaman refleksi. Socrates mencari hakekat manusia: siapakah manusia?
Socrates menjawab demikian, manusia adalah jiwa atau batinnya. Jiwa atau batin
adalah faktor pembeda dasariah dan esensial antara manusia dan benda-makhluk lainnya.
Gagasannya tentang jiwa berbeda dari pengertian-pengertian sebelumnya, seperti Homer dan
Orfisme. Bagi Socrates, jiwa bukanlah phantasma, roh yang meninggalkan badan setelah
kematian, bukan pula ilah-ilah yang terkurung dalam badan karena dosa asal. Jiwa berkaitan
dengan kesadaran berpikir dan berkarya, bersinggungan dengan nalar dan tempat aktivitas
berpikir dan bertindak secara moal. Jiwa socratesian adalah saya yang berpikir, aku yang
sadar dan personalitas intelektual dan moral.

b) Metode Permenungan
Metode permenungan kaum Sofis berciri monolog dan pengajarannya dilakukan
dengan diskursus parade yakni teknik berpidato yang menggelorakan dan meyakinkan para
pendengar lewat aliran kata yang seakan tiada habisnya. Metode permenungan monolog ini
bertitik tolak dari keyakinan kuat dan angkuh para sofis bahwa hanya mereka yang memiliki
kebenaran, sementara para pendengar adalah ignoran sama sekali. Kebalikan dari itu,
Socrates menggunakan metode dialog (dia-logos). Artinya dengan menggunakan logos, guru
dan murid terlibat secara intens dalam pengalaman spiritual untuk mencari kebenaran lewat
konstruksi pertanyaan dan jawaban. Diskursus parade diganti dengan diskursus pendekpendek atau dialog terbuka secara mengalir dan mendalam.
Finalitas metode dialog socratesian adalah etika dan edukasi. Dialektikanya terarah
pada nasihat (eksortasi) keutamaan bahwa jiwa dan pemeliharaannya merupakan kebaikan
tertinggi bagi manusia dan membebaskan jiwa dari kekeliruan dan mendapatkan kebenaran.
Socrates mau mengajak orang agar memperhatikan dan memuaskan jiwanya (Lakhes, 187d
188b) dan lewat dialog harus menelanjangi jiwa dan berkontemplasi (Kharmides, 154d-e)
agar lewat pemurnian itu orang menjadi sadar akan hidupnya (Apologia, 29d-e, 39c-d).

1) Ketidaktahuan
Titik berangkat diskusi atau dialog socratesian adalah afirmasi tidak tahu. Di
hadapan rekan-rekan dialognya, Socrates selalu menghadirkan diri sebagai orang yang tidak
tahu apa-apa dan karena itu ia ingin belajar, bukan mengajar. Ketidaktahuan socratesian ini
berciri mendua atau khiasan, sehingga orang kerap memahaminya sebagai prinsip skeptisme.
Dalam kenyataan, Socrates hanya bermaksud memutuskan diri dari pengetahuan dan
spekulasi para kosmolog, kaum sofis serta kebudayaan tradisional dan membuka sebuah
horison baru dan forma baru pengetahuan yakni, kebijaksanaan manusia.
Terhadap para kosmolog dan fisikawan, afirmasi tidak tahu merupakan suatu tuduhan
atas kecenderungan mereka yang mencari jawaban pada daya-daya ekstra human dan upaya
untuk mengetahui rahasia hukum-hukum alam, sehingga mengabaikan dan melupakan

manusia. Atas kaum sofis, tidak tahu Socrates merupakan suatu dakwaan atas kepongahan
(presumpsi) intelektual mereka bahwa mereka tahu segala sesuatu (sejenis ilmuan
ensiklopedia ala Giorgias). Sementara atas tradisi kebudayaan pada umumnya (politisi,
seniman, pemahat dst.) tidak tahu Socrates adalah dakwaan atas inkonsistensi total mereka,
dengan membiarkan diri mengapung di permukaan dan kesombongan mengetahui semua
karena menguasai satu displin ilmu. Anggapan ketidaktahuan socratesian berada dalam
konteks pengetahuan Dewata. Pengetahuan manusia bersifat terbatas dan rapuh; hanya Allah
saja adalah omniscientist.

2) Ironi
Tidak tahu Socrates merupakan sebuah metode dialog. Ia berpura-pura tidak tahu agar
memancing lawan bicara untuk mengambil sikap superior atasnya dan membuatnya
membangun alur berpikir sendiri. Dengan begitu, Socrates menggiringnya pada posisi
penjelas dan pembela daripada penanya dan penyelidik serta pendakwa.
Berpura-pura tidak tahu merupakan sebuah ironi (). Ironi berarti penyamaran
(dissimulation) dan merujuk pada permainan berantai, beragam dan fiksif. Ia menampilkan
diri sebagai pengagum atas tampilan, jasa dan pengetahuannya, teman baginya dan meminta
nasihat dan pelatihan darinya. Namun, ciri pura-pura terlalu kuat untuk disembunyikan,
karena terpancar lewat nada yang meremehkan dan pilihan kata yang mendua. Kadangkadang, Socrates menyanjung gagasan dan metode-metode para lawan bicaranya sedemikian
tinggi sehingga terkesan sebagai karikatur semata untuk kemudian menggiring mereka lewat
pengertian, definisi dan pendapat-pendapat mereka pada posisi orang yang tidak tahu,
setengah tahu dst. Jadi, ironi merupakan sandi, ciri khas dari filsafat socratesian.

3) Konfutasi (Elenchus)
Pada kesempatan pertama, Socrates selalu membawa rekan dialognya untuk mengakui
kepongahan intelektualnya. Rekan dialog diposisikan sebagai orang yang memiliki
pengetahuan pasti dan aman. Kemudian Socrates memaksa teman dialog untuk
mendefinisikan argumentasi seputar tema yang dibicarakan dan didalami. Setelah itu,
Socrates memilah-milah dan menarik satu per satu kekurangan, kontradiksi dan kekeliruan

dari uraian dan definisi yang dibuat. Sesudah mempresentasikan semua kekurangan,
kontradiksi dan kelemahan, Socrates mulai mendiskusikannya dan memperlihatkan status
rekan dialog sebagai orang yang sesungguhnya ignoran. Dia hanya mengetahui kulit ari
semata dan tidak sampai pada inti sari dari pengetahuan. Para rekan dialog sungguh-sungguh
tersekak mati hingga kehabisan argumentasi dan alasan, dan akhirnya pergi dengan malu dan
sakit hati (Sophis, 230b-e).
Terhadap para sofis medioker yang tidak pernah mau mengakui ketidaktahuannya,
metode konfutasi diarahkan untuk menghancurkan kepastian-kepastian yang dangkal dan
keliru. Konfutasi menjadi alat untuk membersihkan jiwa dari kekeliruan-kekeliruan. Di sini
mereka bukan dikalahkan melainkan diperkaya. Misalnya, kaum sofis mengatakan bahwa
dalam jiwa terdapat opini-opini dan kepastian-kepastian yang keliru sehingga mustahil orang
dapat sampai pada kebenaran. Socrates mencoba membersihkan batin dari kekeliruan
demikian agar dia dapat menemukan kebenaran.

4) Maieutica
Diskusi dan konfutasi untuk membersihkan jiwa dari kekeliruan disebut maieutika.
Status pengetahuan manusia ibarat orang yang sedang hamil. Agar si jabang bayi dapat
melihat dunia, diperlukan seoran bidang yang dapat membantu proses persalinan. Begitu juga
jiwa murid-murid yang terbebani ketidaktahuan dan hamil kebenaran memerlukan seorang
bidan spiritual yang dapat membuat kebenaran itu muncul ke permukaan. Bagi Socrates,
setiap orang telah memiliki basis-basis pengetahuan. Persoalannya adalah tidak setiap orang
mampu mencapai dan mengkomunikasikan pengetahuan tertentu kepada orang lain. Gagasan
mengenai maieutika terungkap dalam buku Theaitetos, 148e 151d.
Dari sudut metode, Socrates menyumbang dua hal bagi dunia filsafat pada umumnya
yakni, gagasan mengenai universalitas, keumuman atau definisi-definisi umum dan
argumentasi induktif. Kedua gagasan ini merupakan cikal bakal bagi logika yang akan
digagas secara sistematis oleh Aristoteles beberapa dasawarsa berikutnya (Metafisica, A6,
987b 1).

c)

Etika

Telah dibahas sebelumnya bahwa permenungan filosofis Socrates berpusat pada


manusia dan berorientasi pada kebenaran praktis. Sasaran utama permenungan Socrates
bukanlah logika atau gnoseologia melainkan etika-moral. Socrates hendak mengajarkan
manusia untuk sampai pada penemuan hakekat dirinya dan bagaimana mewujudkannya.
Gagasan Socrates mengenai jiwa bersifat rasional-intelektual. Ada suatu identifikasi
antara psyche dan tempat sejati intelek serta karakter individu. Manusia adalah makhluk
rasional dan jiwanya adalah rasio atau inteleknya.
Premis dasar etika socratesian adalah proposisi gnoti seauton, kenalilah dirimu sendiri
dan rawatlah dirimu. Kenalilah dirimu bukan sekedar suatu pengetahuan tentang siapa nama,
dari mana berasal, berapa ukuran tinggi dan berat badan, melainkan suatu introspeksi dan
refleksi atas tata hidup batin. Maka rawatlah dirimu berada dalam konteks memelihara
keseimbangan dan kesehatan tata batin. Tugas Socrates, sebagaimana diyakininya sebagai
perintah dewata, adalah mengajar manusia untuk mengenal dan merawat dirinya. Prinsip
dasar etika socratesian dapat disimpul secara demikian: bukan badan memberi hidup kepada
jiwa, melainkan jiwa menghidupi badan. Socrates adalah dokter bagi jiwa manusia.

i)

Keutamaan

Konsepsi dasar mengenai hakikat dengan sendirinya mengandung pengertian


mengenai tujuan hidup manusia. Apa tujuan otentik dan terakhir manusia? Apa keutamaan
(arte) manusia? Bagi Socrates arte bukanlah techne. Kebajikan manusia terletak pada upaya
untuk membuat jiwa menjadi baik seturut kodratnya. Menuai arte berarti menjadikan jiwa
yang terbaik, mewujudkan aku batiniah, mencapai tujuan akhir manusia rohani, menjadi
bahagia.
Apa artinya arte? Jika manusia dibedakan dari yang lain karena batin/jiwanya dan
jika jiwa adalah aku sadar, tahu dan rasional, nah arte atau apa yang mewujudkan secara
penuh kesadaran dan inteligensi demikian adalah ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan adalah
nilai tertinggi bagi manusia, membuat jiwa menjadi sebagaimana seharusnya dan
merealisasikan manusia yang memiliki hakikat dalam jiwanya.
Konsepsi socratesian tentang dimensi rasional dan sadar sebagai jati diri sejati
manusia dan ukuran kepenuhan realisasi diri telah mengubah susunan nilai dalam

kepercayaan Yunani klasik. Jika bagi para sofis nilai tradisional terkait erat dengan hal-hal
badaniah: hidup, kesehatan tubuh dan kecantikan serta hal ihwal yang berkaitan dengan aspek
eksternal manusia seperti kekayaan, kepopuleran, kekuasaan dst. Socrates malah membalik
semuanya itu. Baginya nilai tertinggi terletak pada hal-hal batiniah rasional; jiwa lebih tinggi
daripada badan dan manusia diidentikkan dengan jiwa.
Konsepsi sokrates mengenai konsepsi pengetahuan dipertentangkan dengan ketidak
tahuan (paradoks dari arte adalah ignoransi). Ignoransi adalah kurang pengetahuan dan
lemah dalam kesadaran. Jika seluruh dan setiap arte direduksikan pada pengetahuan,
demikian pula cacat cela manusia, semua disatukan dalam ignoransi. Konsekwensi dari
proposisi etis semacam ini adalah orang berbuat jahat dikarenakan ia kurang sadar dan tidak
tahu semata. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa prinsip epistemologi dan etis
socratesian adalah sebagai berikut: a) keutamaan adalah pengetahuan dan b) tiada seorang
pun berbuat jahat/ berdosa secara sadar.
Identifikasi keutamaan dengan pengetahuan merupakan sebuah revolusi nilai.
Mentalitas Yunani klasik hingga kaum Sofis menganggap keutamaan bertalian dengan
kebiasaan, adat istiadat dan keyakinan umum masyarakat, dan bukan berdasarkan penilaian
rasional. Socrates menempatkan hidup manusia di bawah dominasi nalar, sama seperti
menundukkan dunia luar dan material pada akal budi manusia. Keutamaan bukanlah sekedar
menyesuaikan diri pada adat istiadat, kebiasaan dan keyakinan umum melainkan sesuatu
yang dimotivasi secara rasional, dijustifikasi dan difondasikan di atas pengetahuan. Itulah
pengetahuan tertinggi.
Mengenai tidak seorang pun berbuat jahat secara sadar, Socrates tentu memiliki
alasan memadai. Tentu saja ia mengakui kebenaran pepatah video meliora proboque, sed
deteriora sequor. Namun di balik perbuatan jahat yang dilakukannya secara sengaja, ada
suatu dunia yang carut cemarut. Kelemahan moral atau melakukan yang jahat meskipun hal
tersebut adalah buruk merupakan pengalaman harian setiap individu. Namun tiada seorang
pun melakukan yang jahat karena melihatnya jahat. Umumnya orang kerap kali melakukan
kejahatan karena pada saat pertama dilihatnya sebagai kebaikan. Dasar dari setiap perbuatan
adalah keinginan atas kebaikan dan kebahagiaan dan bukan kejahatan dan kesedihan. Tak
seorang pun menilai lebih ide tentang kekayaan dan kekuasaan, kesenangan dan keadilan
daripada realitas kaya, berkuasa, senang dan adil; kita tidak pernah mengapresiasi bayangan
lebih daripada kenyataan dan tempelan-tempelan daripada substansi. Dengan demikian,

perbuatan jahat selalu berdiam dalam penilaian keliru tentang sesuatu hal; ia berharap dapat
memperoleh kuasa, harta benda, keuntungan, kesenangan dari suatu perbuatan buruk yang
dinilainnya baik. Namun, ia tidak sadar bahwa semua hal itu kemudian dapat menggerogoti
jiwa secara tamak.

ii) Autodominio, Libertas dan Autarchia


Istilah autodominio (-enkrateia dari akar kata ) memang berasal
dari Socrates untuk menunjukkan kebaikan ekselen bagi manusia. Enkrates sendiri merujuk
pada orang yang mempunyai kuasa atau hak untuk mengatur-mengelola sesuatu. Enkrateia
adalah penguasaan atas diri sendiri terutama dalam kaitan dengan kesenangan dan derita,
keletihan dan dorongan insting dan perasaan. Enkrateia merupakan penguasaan atas
animalitas diri. Menjaga dan merawat enkrateia dalam jiwa berarti menjadikan jiwa sebagai
tuan atas badan dan nalar atas insting-insting. Kekurangan pengekangan dan kontrol diri
membuat badan berkuasa atas jiwa dan insting-insting atas nalar (Giorgias, 491d).
Socrates mengidentikan secara tegas enkrateia dengan -eleutheria,
kebebasan. Sebelum Socrates, kebebasan memiliki makna eksklusif dalam ranah yuridis dan
politik semata, tetapi dengan Socrates kebebasan memuat makna moral tentang kekuasaan
rasionalitas atas animalitas (Xenophontes, Memorabili, IV, 5, 2).
Kemudian Socrates mengembangkan gagasan enkrateia dan eleutheria dan
mengaitkan- nya dengan -autarchia. Autarchia berarti otonomi keutamaan dan
manusia bijak. Ide ini kiranya terinspirasi dari doktrin Antistene yang beranggapan bahwa
tujuan dari setiap orang adalan mencapai autarchia technica, yakni kemampuan melakukan
segala sesuatu yang berguna bagi hidup secara mandiri. Nah, Socrates ingin memperdalam
gagasan itu dengan menunjukkan tujuan sejati dari setiap pencaharian seturut hakekat
manusia adalah autarchia moralis.
Ada dua sifat dasar dalam gagasan autarchia: a) kemandirian terhadap kebutuhankebutuhan dan dorongan-dorongan badani melalui pengontrolan oleh nalar (psyche) dan b)
menjadikan nalar sebagai satu-satunya alat untuk mencapai kebahagiaan. Secara umum
gagasan Socrates mengenai autarchia terkait erat dengan pemahaman umum Yunani klasik
tentang heroisme seperti tergambar dalam Heracles dan usaha kerasnya (): kemampuan
mengerjakan sendiri. Jika heroisme sebelumnya berkaitan erat dengan perjuangan melawan

kekuatan-kekuatan jahat eksternal, dalam Socrates tekanannya terutama pada heroisme dalam
tataran batiniah,
Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa autodominio merupakan penguasaan
nalar dan pengetahuan (bukan voluntas) atas impulsi inderawi; kebebasan berkaitan erat
dengan kemampuan nalar (bukan kebebasan arbitrio-volitium) untuk mewajibkan tuntutannya
demi mengatasi tuntutan animalitas manusia dan autarchia merujuk pada sikap autosufisien
logos manusia dari tuntutan-tuntutan kebutuhan badani.

iii) Kesenangan dan Kegunaan


Dalam Protagoras, Platon lewat mulut Socrates memperlihatkan adanya keterkaitan
timbal balik antara kesenangan dan kebaikan. Gagasan ini amat baru karena dalam dialogdialog yang lain, kedua hal tersebut ditempatkan pada posisi berlawanan. Apakah gagasan
dalam Protagoras berasal dari Socrates atau pendapat Platon semata?
Lepas dari persoalan itu, adanya keterkaitan antara kebaikan dan kesenangan
menunjuk-kan bahwa kebahagiaan tidak terletak dalam penyangkalan kesenangan, melainkan
dalam kalkulasi terhadap kesenangan. Dalam konteks ini, doktrin Socrates bahwa keutamaan
adalah ilmu dan pengetahuan mendapat aplikasinya dalam bentuk seni mengukur
kesenangan. Bagi Socrates, kesenangan bersifat netral; ia tergantung pada pemakaiannya: jika
kesenangan ditundukkan pada disiplin enkrateia dan virtu, hal itu merupakan sesuatu yang
positif.
Berkaitan dengan kegunaan, Socrates selalu mengaitkannya dengan dunia batin.
Semua kegunaan selalu menjurus pada utilitas animae, sementara kegunaan material-badani
selalu berada dalam terang kegunaan batin. Jadi parameter kegunaan berada dalam perspektif
arte virtu animae, ilmu dan pengetahuan dan bukan utilitarisme empiristis, materialistis dan
positivistis.

iv) Kebahagiaan

Tujuan dari seluruh proses pengajaran socratesian adalah kebahagiaan (eudaimonia).


Socrates adalah seseorang yang mencari kebahagiaan dan mengajarkan cara-cara untuk
sampai pada penemuan kebahagiaan tersebut.
Kebahagiaan sama sekali berada di luar hal ihwal eksterior, badani maupun material.
Bagi Socrates kebahagiaan berkaitan erat dengan dunia batin, penghalusan dan
penyempurnaan dimensi spiritual lewat keutamaan-keutamaan atau ilmu dan pengetahuan.
Menyempurnakan jiwa dengan kebajikan-kebajikan berarti mewujudkan kodrat hakiki
manusia atau menjadi individu seutuhnya.
Keutamaan itu dibatinkan seluruhnya dan dilepaskan dari segala sesuatu yang datang
dari luar dan bahkan dari tubuh itu sendiri. Kebahagiaan berada dalam jiwa manusia dan
dengan demikian ditempatkan dalam kekuasaan manusia. Singkat kata kebahagiaan
bergantung sepenuhnya pada logos dan pembinaan rohani. Selain itu keutamaan tidak
memerlukan juga segala sesuatu yang berada diatas manusia. Keutamaan itu adalah autarchia
dan tidak memerlukan suatu imbalan di masa depan. Gagasan ini memperlihatkan bahwa
secara epistemologis Socrates tidak merasa perlu memecahkan persoalan mengenai
imortalitas jiwa pada tataran teoretis. Hal ini disebabkan adanya kekurangan kategorikategori metafisik.
Bagi Socrates manusia bijak terlepas dari kejahatan. Pelepasan itu terjadi karena
manusia memiliki keutamaan. Itulah alasan utama mengapa Socrates menghirup racun
dengan tenang dan menerima hukuman mati dengan lapang dada.

v)

Persahabatan

Socrates menghubungkan konsep persahabatan dengan nilai moral. Sahabat sejati


merupakan kebaikan tak terkira bagi manusia dan untuk mendapatkannya seseorang mesti
berani berkurban.
Siapakah sahabat sejati bagi Socrates? Sahabat sejati bukanlah orang yang berkuasa,
terkenal, kaya raya, cantik dan molek. Sahabat sejati adalah manusia bijak, manusia yang
tahu batas (autarkis), menguasai diri sendiri (enkarates) dan kualitas-kualitas batiniah lainnya.
Sarat pertama untuk mendapatkan teman sejati adalah individu itu sendiri hendaknya
berkebajikan. Sesungguhnya hanya orang baik dapat menjadi sahabat yang baik pula. Orang-

orang jahat adalah orang-orang yang memiliki sikap bermusuhan; takkan pernah ada
persahabatan antara orang baik dan orang jahat. Dengan kata lain, persahabatan diletakkan
dalam dimensi batin dan didirikan di atas keutamaan.

d) Politik
Socrates beranggapan bahwa dirinya dilarang berpartisipasi dalam politik praktis oleh
dewata lewat suatu tanda. Socrates mengkritik semua praksis demokrasi dan tata kelola
pemerintahan yang berlangsung masa itu meskipun demikian ajaran-ajaran Socrates tentang
politik tetap beroreantasi pada polis khususnya polis Athena.
Pengajaran dan pendidikan yang digagas oleh Socrates diarahkan untuk mendidik
orang-orang menjadi manusia berkeutamaan sehingga mereka dapat mengurus kehidupan
bersama dan kepentingan umum dengan adil.
Bagi Socrates seorang politikus ulung adalah manusia sempurna secara etis moral; ia
adalah seorang politikus dalam dimensi batin dan mampu merawat jiwa-jiwa lainnya.
Aspek lain yang muncul adalah revolusi anti kekerasan. Socrates adalah seorang
revolusioner.

Namun cara berevolusinya bukanlah dengan kekuatan dan kekerasan

melainkan dengan sikap anti kekerasan. Senjata revolusi Socratesian adalah persuasi, kata,
bahasa. Hidupnya dan kematiannya merupakan contoh nyata dari sikap anti kekerasan.

e) Allah Socrates
Salah satu alasan utama penjatuhan hukuman mati terhadap Socrates adalah atheisme.
Socrates memang bersikap kritis terhadap doktrin dan praksis hidup religius masa itu. Ia
menentang antropomorfisme fisik maupun moral dan politiesme.
Bagi Socrates, Allah itu berada di luar jangkauan manusia. Allah adalah intelek
pengatur dan pengarah. Karena itu ada hubungan antara Allah dan jiwa serta kaitan antara
intelek ilahi dan intelek manusia.
Socrates memperkenalkan sebuah dewa baru (daimonia). Divinitas Socrates ada
kaitannya dengan tanda (semeon) atau suara (gone) yang dianggapnya sebagai suara Allah.

Allah itulah yang telah memberi tanda kepada Socrates supaya tidak terlibat dalam politik
praktis. Nah, tanda ilahi disampaikan kepada Socrates lewat seorang dewa dan dewa ini
berada di luar jangkauan manusia. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gagasan dewata
dalam Socrates berkaitan dengan dua faktor berikut, yakni : a) religiusitas Socrates yang
sangat intens dan b) pemahaman Socrates tentang Allah sebagai penyelenggara.
3) Doktrin Gnoseologis
Aristoteles membedakan pengetahuan dalam tiga kelompok besar: a) ilmu teoretis yang
mencari pengetahuan atau pemahaman per se; b) ilmu praktis yang mencari pengetahuan dan
lewat pengetahuan itu bermaksud mencapai kesempurnaan moral dan c) ilmu poietis atau
produktif yang mencari pengetahuan dalam rangka menghasilkan suatu barang tertentu atau
tehne-keterampilan.
Dari sudut martabat dan nilai, ilmu terulung adalah metafisika dan fisika sebab merangkum di
dalamnya psikologi dan matematika.

a)

Metafisika

Istilah metafisika tidak berasal dari Aristoteles melainkan atau dibuat oleh para siswa
Peripatetis atau diberi nama oleh Andronikus dari Rhodi sewaktu mengedit karya-karya
Aristoteles pada abad pertama sebelum masehi. Aristoteles sendiri menggunakan istilah
filsafat pertama atau teologi untuk membedakannya dari filsafat kedua atau fisika. Namun,
istilah metafisika tentu lebih pas mengingat obyek kajiannya adalah realitas yang non-fisikinderawi atau realitas trans-fisik.
Ada empat definisi tentang metafisika yang diberikan oleh Aristoteles sendiri. Pertama,
metafisika adalah disiplin ilmu yang menyelidiki sebab-sebab dan prinsip-prinsip pertama
atau tertinggi (Metafisika, A,, B). Kedua, metafisika mempelajari ada sejauh ada
(Metafisika, atau E, 2-4, K3). Definisi ketiga menegaskan bahwa metafisika mendalami
substansi (Metafisika, , , ). Terakhir, metafisika adalah ilmu yang meneliti Allah dan
substansi trans-inderawi (Metafisika, E1, A).
Keempat definisi mengenai tugas metafisika sejalan dengan pencaharian para filosof
sebelumnya dan jawaban-jawaban Aristoteles merupakan solusi atas persoalan-persoalan itu.
Definisi pertama merupakan jawaban dan rangkuman atas arche, prinsip (eziologia) dan
causa prima (aitiologia) yang dicari oleh para filosof kosmologis dan Platon. Definisi kedua
merupakan jawaban dan sintesis atas permenungan Parmenides dan Platon. Definisi ketiga
mengenai ousia merupakan jawaban atas monisme eleatis. Definisi keempat merupakan
penegasan atas pendapat para filosof sebelumnya yang menempatkan Allah sebagai prinsip.
Keempat definisi metafisika itu sendiri saling berkaitan dan harmonis; semuanya ada dalam
satu kesatuan. Pencarian mengenai sebab-sebab pertama secara niscaya bertemu dengan
Allah sebagai causa dan prinsip pertama par excellence. Pencarian tentang aitiologia dan

eziologia bermuara pada teologia. Begitu pula definisi soal ada, prinsip, sebab dan substansi
berhubungan dengan persoalan apakah hanya ada realitas inderawi-fisik-badani atau terdapat
realitas trans-, super-inderawi-fisik-badani. Soal ini secara eksplisit menjadi soal teologi. Jika
tidak ada yang super-inderawi, trans-fisik, sebab-sebab dan prinsip-prinsip, hanya akan ada
yang inderawi-fisik-alamiah dan terdapat satu disiplin saja: ilmu-ilmu alam.

. Empat sebab
Gagasan mengenai keempat sebab telah digagas oleh Aristoteles dalam buku Fisika, B, 3.
Kemudian, gagasan ini diperdalam dalam Metafisika, A, 2, 983, 3-10. Elaborasi ini sesuai
dengan disiplin metafisika sebagai pencaharian dan permenungan tentang sebab-sebab
pertama. Sebab-sebab menurut Aristoteles haruslah berhingga seperti bilangan dan sejauh
berkenaan dengan dunia menjadi, ia telah menegaskan bahwa sebab-sebab itu dapat
direduksikan ke dalam empat jenis saja: yakni 1) causa materialis, 2) causa formalis, c )causa
efficiens, 4) causa finalis.
Dua sebab pertama adalah materia dan forma yang mendasari, menyusun dan menjadi syarat
bagi segala sesuatu. Bila segala sesuatu dilihat dan dipahami sebagai ada yang tetap, dua
sebab pertama sudah memadai untuk menjelaskannya. Namun, bila segala sesuatu dimengerti
sebagai ada yang dinamis, bergerak menjadi, bertumbuh, muncul, hancur dan mati maka
diperlukan dua sebab lainnya yakni penggerak atau pelaku (causa efficiens) dan sasaran,
tujuan atau telos (causa finalis).
Causa materialis atau materia () adalah id ex quo, , sesuatu oleh mana terjadi atau
terbuat suatu hal. Materia dari binatang-binatang adalah daging dan tulang, materia bagi
patung adalah kayu atau marmer, materia bagi bangunan rumah adalah pasir, batu, kayu,
semen dan lain sebagainya. Causa materialis merujuk pada bahan yang menjadi unsur untuk
membuat segala sesuatu.
Causa formalis atau forma atau esensi dari segala sesuatu. Forma merujuk pada struktur atau
hakekat yang membuat materi berbeda dari materi lainnya. Misalnya kayu gelondongan dapat
dibuat menjadi sekian banyak barang karena formanya: untuk meja adalah ke-meja-an, kursi:
ke-kursi-an, lemari: ke-lemari-an, manusia: ke-manusia-an dst.
Causa efficiens atau penggerak/pelaku adalah sesuatu dari mana perubahan dan gerak dari
segala sesuatu berasal. Misalnya, tukang adalah orang yang membuat meja, kursi, lemari,
pemahat adalah pelaku yang mengubah sebongkah marmer atau sepotong kayu menjadi
patung atau benda-benda lainnya
Causa finalis atau tujuan dari suatu aksi adalah sesuatu untuk apa atau seturut fungsi apa (id
cuius gratia) setiap hal dibuat. Aristoteles mengatakan bahwa causa finalis adalah kebaikan
(agathon) dari setiap hal. Misalnya, kursi dibuat untuk duduk, meja untuk makan dan
menulis, lemari untuk menyimpan pakaian atau piring dan mangkok, dst.

Jadi, eksistensi dan kemenjadian dari segala sesuatu selalu mensyaratkan keempat sebab
tersebut. Itulah yang disebut dengan causa proxima dari segala sesuatu, tetapi selain keempat
sebab itu masih terdapat sebab-sebab lainnya yang dihasilkan dari gerakan langit dan
penyebab dan penggerak pertama yang tidak digerakkan (Metafisika, A, 4-5, 6-8).

. Makna Ada
Metafisika adalah ajaran tentang ada sebagai ada. Pembahasan atas tema ini bertitik tolak dari
persoalan yang ditimbulkan oleh Parmenides dan eleatisme yang memahami ada secara
univox, ada sebagai ada, identik dengan dirinya sendiri serta ada dalam ke-utuhan-nya.
Zenon, Melissos dari Megara dan eleatis lainnya menyintesiskan doktrin ada dalam
terminologi Ada-Satu. Artinya ada sebagai genus transenden, substansi universal yang ada in
se dan per se di luar segala sesuatu yang inderawi-fisik. Aristoteles menyangkal pendapat
tersebut dan menegaskan kemajemukan makna ada (polivox).
Ada beberapa karakter ada dalam gagasan aristoteles: 1) ada bukan univox maupun sebagai
genus transenden, 2) ada mengungkapkan suatu multiplisitas makna, 3) ada bukan pula suatu
genus maupun spesies; ada merupakan suatu konsep trans-generis dan trans-species, 4)
kesatuan ada bukan pula suatu kesatuan genus maupun species melainkan merujuk pada
sesuatu, 5) sesuatu itu adalah substansi (Metafisika, , 2, 1003b, 5-10).
Adapun makna ada adalah sebagai berikut.
1)
Ada mengungkapkan makna aksiden, atau ada aksidental dan kasual (on kata
symbebekos). Contoh, Michael Jackson adalah penyanyi. Pele adalah pesepakbola
termashyur. Kata penyanyi dan pesepakbola tidak mengungkapkan hakekat manusia
melainkan sekedar berada secara tertentu, suatu aksiden.
2)
Ada dimengerti sebagai ada per se, ens per se. Ada per se adalah substansi,
hakikat yang membuat aksiden-aksiden mungkin ada. Misalnya hakikat manusia adalah
kemanusiaannya yang terungkap dalam kesadaran (tahu dan mau, makhluk rasional).

3)
Ada dipahami sebagai ada sebenarnya. Ada sesungguhnya dipertentangkan
dengan ada yang keliru. Karena itu, ada sesungguhnya dapat dimengerti sebagai ada logika
berkaitan dengan keputusan benar dan keputusan keliru.
4)
Ada sebagai ada dalam potensi dan ada sebagai aktus. Contohnya, akar, batang,
dahan, daun dan buah merupakan ada potensi dalam benih padi, sedangkan pohon padi
merupakan ada sebagai aktus.

. Kategori

Makna ada pertama-tama merujuk pada substansi. Istilah substansi mengandung arti sesuatu
yang berdiri sendiri dan sekaligus mendasari sesuatu lainnya (sub-stare). Pada substansi
dapat ditambahkan keterangan, dirinci menjadi berbagai macam, tetapi substansi itu sendiri
tidak dapat dijadikan sebagai keterangan atau rincian pada yang lain. Substansi adalah yang
diterangkan. Di samping itu ada pula makna sekunder ada, yakni aksiden-aksiden. Aksiden
mengandung makna menempel, melekat pada suatu subyek. Aksiden tidak dapat berdiri
sendiri; untuk berada ia tergantung pada sesuatu. Aksiden adalah yang menerangkan
substansi. Artinya, aksiden hanya berada dalam substansi. Contoh, substansi manusia dapat
dikenakan dengan rincian tua, pandai, berdiri, berusia 50 tahun, sehat walafiat dst.
Aristoteles berpendapat bahwa secara umum terdapat sepuluh cara untuk memaknai ada.
Kesepuluh cara memaknai ada disebut Aristoteles dengan kategori. Kategori-kategori ini
memberikan makna pertama dan hakiki ada dan memantulkan pembedaan tertinggi ada atau
dalam bahasa Aristoteles sebagai genus supreme ada (Metafisika, , 4, 1030a 32-b3).
Berikut ini adalah bagan atau susunan kategori.
1.

Substansi (ousia): manusia, hewan, tumbuhan, air.

2.

Kwalitas (poln): merah, dingin, buruk, baik, pintar, bijaksana.

3.

Kwantitas (poson): sepuluh tahun, sekilo, dua meter.

4.
Suharto.

Relasi (prosti): Suharto adalah ayah Mbak Tutut, Prabowo adalah menantu

5.

Aksi/tindakan (poiein): makan, minum, menulis.

6.

Menderita (paschein): lapar, ngantuk, letih.

7.

Tempat (po): di Malang, di dusun, di kota.

8.

Waktu (pot): tahun 2009.

9.

Milik (chein): rambut, kuku, panca indera.

10.

Posisi/keadaan (keisthai): duduk, berbaring, berdiri.

. Konsep Substansi
Apa yang dimaksudkan Aristoteles dengan substansi pada umumnya? Apakah hanya sekedar
atau materia atau forma atau perpaduan materia dan forma? Menurut Aristoteles, istilah
substansi dapat dimengerti dalam tiga aspek berikut ini.
1.
Substansi adalah forma (eidos, morphe). Forma adalah hakekat terdalam dan
terdekat dari segala sesuatu. Misalnya, hakekat manusia adalah anima rationale, hakekat
binatang adalah anima sensitiva dan hakekat tumbuhan adalah anima vegetativa. Forma
adalah sesuatu yang memberi bentuk, menguraikan dan menentukan suatu hal.

2.
Substansi adalah pula materia. Jika jiwa rasional, jiwa sensitif dan jiwa vegetatif
tanpa memiliki bahan fisik, material, maka tidak akan ada manusia, hewan maupun pohon.
Materia adalah prinsip individuasi.
3.
Substansi berarti perpaduan (synolon) dari materia dan forma (hilemorfisme).
Semua hal fisik-badani merupakan perpaduan dari materia dan forma, jiwa dan badan.
Adapun suatu hal dapat disebut substansi bila memenuhi lima syarat berikut.

Bila sesuatu itu tidak melekat atau dijadikan predikat dari suatu hal lain,
melainkan menjadi dasar dan subyek dari yang lain.

Sesuatu yang mampu berada per se atau mandiri, terpisah dari segala sesuatu.

Sesuatu yang tertentu, bukan atribut universal maupun abstrak.

Sesuatu yang secara intrinsik berpadu dan utuh.

Sesuatu yang berada dalam aktus.

. Aktus dan Potensi


Hubungan antara materia dan forma adalah pola hubungan materialitas dan formalitas.
Materia adalah potensi, suatu potensialitas atau kapasitas untuk menerima dan membawa
forma. Marmer adalah sebuah potensi bagi patung karena mampu menerima dan membawa
forma patung, kayu adalah suatu kemampuan untuk mengemban dan menyerap sekian
banyak forma, sehingga terbentuklah sekian banyak benda, dst. Aktus adalah intelechia,
forma, esensi yang menentukan dan memberikan serta mewujudkan suatu bentuk tertentu
kepada materi. Begitulah jiwa manusia misalnya merupakan aktus dan intelechia bagi badan.
Perpaduan atau sinolon antara materia dan forma (hilemorphisme), jika dianggap sebagai ada
sebagaimana adanya adalah aktus; jika dipandang dari sudut forma merupakan aktus atau
entelechia. Sebaliknya, bila dilihat dari sudut materialitas, perpaduan itu merupakan
gabungan dari potensi dan aktus. Karena itu, segala sesuatu yang memiliki materi memiliki
dalam dirinya potensialitas entah besar maupun kecil, sementara semua forma substansi
inderawi-fisik adalah aktus dan intelechia. Pada tempat terakhir hanya Allah adalah aktus
murni.
Aktus mempunyai prioritas dan superioritas atas potensi. Potensi tidak dapat dikenal jika
tidak diwujudkan menjadi aktus. Aktus adalah syarat, tata aturan dan tujuan dari potensialitas.
Jadi aktus lebih tinggi daripada potensi karena menjadi cara berada dari substansi abadi.

. Motor Immobilis

Apakah ada substansi super-, trans-inderawi atau hanya ada substansi inderawi? Atas
pertanyaan itu, Aristoteles membedakan tiga jenis substansi yang secara hirarkis amat tertata.
1) substansi pertama menyangkut substansi inderawi yang muncul dan hancur binasa. 2)
substansi yang meliputi substansi inderawi tetapi tidak dapat hancur, yakni langit, planet dan
bintang. 3) substansi abadi, tetap, kekal, transenden: Motor Immobilis dan substansi
penggerak lainnya.
Dua jenis substansi pertama terdiri atas materia dan forma atau tersusun dari empat unsur
dasar: air, udara, api dan tanah dan elemen kekal. Yang mengkaji kedua substansi ini adalah
fisika dan astronomi. Sedangkan substansi jenis terakhir adalah forma murni dan bidang studi
yang menggelutinya adalah metafisika.
Pembuktian mengenai eksistensi dunia atas didasarkan pada pemahaman Aristoteles bahwa
waktu dan gerak adalah kekal dan abadi. Sebab jika waktu dilahirkan, semestinya ada
sebelum waktu maupun bila ada kehancuran waktu seharusnya ada sesudah waktu. Begitu
pula jika waktu dimengerti sebagai determinasi gerak: jika gerak diciptakan niscaya ada
sebelum gerak dan bila gerak hancur seyogyanya ada sesudah gerak. Jadi waktu dan gerak
adalah abadi.
Tetapi apa syarat keberadaan gerak dan waktu abadi? Jika ada Prinsip pertama yang menjadi
penyebabnya. Bagaimana Prinsip dapat menjadi sebab? Pertama-tama, Prinsip haruslah
abadi, mengingat waktu dan gerak adalah abadi. Kedua, Prinsip hendaknya immobilis. Hanya
yang tetap dapat menjadi sebab bagi yang bergerak. Ketiga, Prinsip wajib berada sebagai
aktus purus, aktus murni.
Dapatkah Prinsip Pertama, Penggerak Pertama bergerak dengan tinggal tetap secara absolut?
Aristoteles menjawab dengan memberikan ilustrasi berikut. Penggerak Pertama bergerak
seperti obyek tercinta menggerakkan kekasih ( ). Artinya, apa yang baik
dan indah menstimulir kehendak manusia tanpa kehendak itu bergerak dengan cara apapun,
begitu pula intelek bergerak tanpa mengggerakkan diri atas obyek yang menarik baginya.
Jadi, gerak Penggerak Pertama bukan dalam pengertian causa efficiens, melainkan causa
finalis.
Penggerak Pertama adalah juga Hidup itu sendiri, karena aktivitas intelek berarti hidup dan
Dia sendiri adalah aktivitas. Dia adalah Hidup, Abadi dan Optimum (Metafisika A7, 1072b
13-18, 24-30).
Apa yang dipikirkan Prinsip Pertama? Dia berpikir tentang hal terbaik dan tertinggi. Yang
terbaik dan tertinggi itu adalah Dia sendiri. Penggerak Pertama berpikir tentang diri sendiri
atau aktivitas kontemplatif mengenai diriNya, pikiran dari pikiran ( )
(Metafisika, A7, 1072b 18-24). Apa yang tunggal dan fisik ini sama sekali tidak dikenal oleh
Prinsip Pertama. Karena pengenalan atas manusia individual dan benda-benda fisik lainnya
merupakan suatu pengenalan yang tidak sempurna, cacat dan penurunan bagi Allah. Manusia
dan makhluk hidup lainnya bukanlah obyek kasih dan pikiran Prinsip Pertama.
b)

Fisika

Bertitik tolak dari distingsi Platon tentang dunia ide dan dunia inderawi, Aristoteles
mengembangkan sebuah distingsi yang lebih tajam lagi dengan membedakan realitas dalam
golongan non-inderawi dan golongan inderawi. Berbeda dari Platon, Aristoteles mencoba
menempatkan ide-ide bukan di luar realitas empiris, melainkan berada di dalam realitas
inderawi dan fisik. Golongan substansi yang berbeda demikian mensyaratkan juga perbedaan
ilmu yang mempelajarinya, yakni fisika untuk ada fisik - inderawi dan metafisika untuk ada
non-inderawi.
Distingsi mengenai metafisika dan fisika memperlihatkan pelampauan definitif atas horison
filsafat prasokratesian dan perubahan makna secara radikal tentang physis atau alam. Physis
bukan lagi merujuk pada totalitas ada, melainkan ada inderawi, alam fisik-material.
Sebuah catatan penting mengenai fisika Aristoteles kiranya harus diberikan. Makna fisika
dalam Aristoteles berbeda sekali dari pengertian modern kontemporer. Fisika dalam konsepsi
modern kontemporer yang dipengaruhi oleh gagasan Galileo berciri kwantitatif atau sebagai
ilmu kwantitatif tentang alam semesta. Sementara Aristoteles memahami fisika sebagai ilmu
kwalitatif tentang alam semesta atau dalam pengertian berikutnya dinamakan filsafat alam.
. Perubahan dan Gerak
Adapun pokok kajian fisika Aristotelian adalah gerak spontan, gerak alami atau gerak
substansial dari benda-benda dan bukan gerak yang ditimbulkan dari suatu aksi eksterior.
Karena itu, istilah gerak dalam gagasan Aristotelian memuat di dalam dirinya pengertian
tentang perubahan yang terjadi baik di luar maupun di dalam benda-benda itu sendiri. Salah
satu contoh adalah perubahan dari kayu yang dibakar menjadi abu atau benih menjadi pohon
dst.
Berkaitan dengan penolakan eleatisme tentang eksistensi gerak, bahwa jika gerak diakui
dengan sendirinya mengandaikan eksistensi non-essere, Aristoteles memberikan sebuah
solusi brilian. Dengan bertitik tolak dari kemajemukan makna Ada dan terutama gagasan
mengenai pasangan aktus (ada) dan potensi (belum- atau tidak- ada bila dibandingkan dengan
aktus), Aristoteles memberikan sebuah pembuktian mengenai eksistensi gerak. Gerak atau
perubahan pada umumnya adalah peralihan dari ada sebagai potensi kepada ada sebagai
aktus. Gerak adalah aktualitasi dari apa yang ada secara potensial.
Selain itu, dalam gagasan aktus dan potensi terkandung pula kategori-kategori ada. kategori
aksi, menderita dan waktu merupakan kategori yang mempunyai makna gerak. Begitu pula
kategori substansi, kwalitas, kwantitas dan tempat, meskipun tidak memuat gerak dalam
artian perubahan tempat, tetapi memuat di dalam dirinya gerak atau perubahan. Gerak dalam
substansi dinyatakan dalam kelahiran dan kehancuran; gerak dalam pengertian relasi
terungkap dalam perubahan kwalitas; gerak dalam pengertian kwantitas ternyana dalam
penambahan dan pengurangan, sedangkan gerak dalam pengertian tempat dinyatakan dapan
perpindahan tempat.

. Ruang dan Waktu

Gagasan mengenai gerak berkaitan erat dengan ruang, waktu dan ruang kosong. Apa yang
dimaksud dengan tempat atau ruang? Ruang adalah apa yang umum bagi banyak hal dan
sekaligus khusus bagi tiap obyek (Fisika 2, 209a 31-b2.) Kemudian, Aristoteles memberikan
sebuah definisi lain bahwa tempat adalah penampung tetap, pertama dan terbatas atau
terminus continentis immobilis primus. Jadi tempat berada dalam semesta dan bukan pula
semesta raya (Fisika, 5, 212b 16-22).
Kerap kali ruang kosong dipahami sebagai tempat di mata tiada apapun atau tempat di mana
tiada benda apa saja (Fisika, 7, 213b 21, 33). Namun, dari definisi di atas bahwa tempat
adalah terminus continentis, tampak bahwa eksistensi ruang kosong disangkal oleh
Aristoteles.
Sedangkan mengenai waktu, Aristoteles memberikan sebuah analisa yang mendalam. Misteri
waktu dipecahkan dengan merujuk pada dua hal yakni gerak dan jiwa. Waktu bukanlah gerak
atau perubahan, tetapi jika gerak merupakan aktivitas melalui ruang berlanjut, nah berlanjut
itu merupakan waktu. Sebab jumlah waktu yang dihabiskan selalu sepadan dengan gerak.
Maka, waktu adalah bilangan gerak seturut sebelum dan sesudah (Fisika 11, 219b 1-2).
Untuk mengukur waktu diperlukan kesatuan ukuran. Nah, kesatuan ini mesti ditermukan
dalah gerak seragam dan sempurna. Mengingat gerak seragam dan sempurna hanya berada
dalam gerak melingkar, maka kesatuan ukuran adalah gerak semesta dan benda-benda langit.
Sedangkan Penggerak Pertama dan penggerak-penggerak lainnya berada di luar ruang dan
waktu.

c) Psikologi
Pokok kajian tentang psikologi dalam aristotelisme mengacu para buku karangannya yang
berjudul De Anima. Menurut Aristoteles, makhluk hidup dibedakan dari benda mati justru
karena memiliki sebuah prinsip hidup dan prinsip hidup demikian adalah jiwa.

. Konsep tentang Jiwa


Apa itu jiwa? Aristoteles tidak menjawab langsung melainkan merujuk kembali pada
konsepsi hilemorfis atau perpaduan materi dan forma. Materi adalah potensi dan jiwa adalah
aktus atau intelechia. Distingsi ini berlaku juga bagi makhluk hidup. Badan hidup memiliki
hidup tetapi bukan hidup itu sendiri, sehingga adalah niscaya bahwa jiwa adalah substansi
seperti halnya forma dari suatu badan fisik yang memiliki hidup dalam potensi. Namun
substansi sebagai forma adalah intelechia, aktus. Jiwa adalah intelechia bagi badan (De
Anima, B1, 412a 19-22), jiwa adalah intelechia pertama [ ] (Ibid, B1 412a
27-28), jiwa adalah intelechia pertama bagi badan alami orgnanis (Ibid, B1, 412b 4-6).
Bagaimana hubungan badan dan jiwa? Aristoteles mencoba mengambil jalan tengah dari dua
ekstrim, yaitu para pemikir prasokratis yang mengidentikkan psyche sebagai prinsip fisik dan

Platon yang menempatkan psyche terpisah daripada badan. Artinya Aristoteles melihat bahwa
jiwa adalah sesuatu yang intrinsik dengan badan (sejauh sebagai forma, prinsip inteligibel
yang membuat badan sebagaimana mestinya) dan di satu sisi berbeda daripada badan (kekal
dan abadi dan prerogatif) atau ada salah satu bagian yang terpisah dari badan (Ibid, B2, 413b
24-29).

. Tri Bagian Jiwa


Konsepsi Aristoteles tentang bagian-bagian jiwa bertitik tolak dari pengandaian bahwa
fenomen-fenomen hidup mensyaratkan tindakan-tindakan yang secara tetap saling berbeda.
Jiwa sebagai prinsip hidup seniscayanya memiliki kemampuan, fungsi, bagian yang
menjalankan dan mengatur perbuatan-perbuatan demikian.
Fungsi-fungsi hidup yang ada adalah berkarakter a) vegetatif, seperti lahir, makan-minum,
bertumbuh, b) sensitif motorik, misalnya sensasi dan gerak dan c) intelektif, umpamanya
tahu, memilih, memutuskan. Bertolak dari fenomen-fenomen hidup yang demikian, maka
Aristoteles membedakan jiwa dalam a) jiwa vegetatif, b) jiwa sensitif dan c) jiwa intelektif
atau rasional.
v
Jiwa vegetatif merupakan prinsip yang mengatur keturunan, nutrisi dan
pertumbuhan. Jiwa vegetatif merupakan prinsip yang paling elementer dalam makhluk hidup.
Dengan gagasan ini, Aristoteles menjawab sekaligus mengoreks penjelasan para pemikir
sebelumnya yang mengasalkan pertumbuhan pada unsur-unsur material (Ibid, B4, 416b 2023.

v
Jiwa sensitif merupakan prinsip yang mendasari sensasi, makan-minum dan
gerak. Sensasi bukanlah perubahan atau pergantian yang ditimbulkan oleh hal yang sama
maupun hal yang berbeda, melainkan proses realisasi potensi, gerak maju sesuatu menuju
aktualitas (Ibid, B5, 418a 3-6).
Dalam sensasi tidak terjadi asimilasi dalam pengertian material dan lokal melainkan formal.
Untuk setiap sensasi pada umumnya, tulis Aristoteles, perlu dimengerti bahwa indera
adalah sesuatu yang memiliki kemampuan forma-forma inderawi tanpa materia. Itu berarti
bahwa sensasi merupakan menjadikan diri sama dengan yang inderawi.
Manusia memiliki lima indera atau panca indera dan masing-masing berkaitan dengan obyek
tercerap dan sensasi yang dihasilkan: indera pencium, indera pendengar, indera pelihat,
indera perasa, indera peraba. Selain panca indera luar, terdapat juga panca indera dalam yang
berkaitan dengan gerak, figura, keluasan dan diam (Ibid, 1, 425a 14-20). Berkaitan dengan
obyek-obyeknya, panca indera tidak dapat salah (infalibilis).

Dari sensasi timbul fantasi dan memori. Fantasi menghasilkan gambaran-gambaran,


sedangkan memori merupakan pelestarian gambaran-gambaran tersebut. Dari sekian data
yang tertampung itu muncul pengalaman.
Gerak makhluk hidup berasal dari hasrat atau desiderium. Pengerak adalah satu saja:
fakultas appetitif (Ibid, 10, 433a 21) dan lebih tepat hasrat. Hasrat pada dasarnya adalah
salah satu jenis dari fakultas appetitif (Ibid, 10, 433a 25-26). Hasrat bergerak karena
distimulir oleh obyek-obyek cerapi melalui sensasi. Jadi, makan dan minum bergantung
sepenuhnya pada sensasi.

Jiwa intelektif/rasional

Karena sensibilitas tidak dapat direduksikan kepada hidup vegetatif dan prinsip nutrisi
melainkan memuat suatu kelebihan, demikian pula pikiran dan kegiatan-kegiatan fakulta
intelektif tidak dapat direduksikan pada hidup vegetatif dan sensitif. Aktivitas penalaran
memiliki sebuah kelebihan dan kelebihan itu muncul dari prinsip jiwa rasional. Inteligensi
atau rasio merupakan kemampuan dan potensialitas mengenal forma-forma murni dan formaforma tersebut berada dalam sensasi dan gambaran fantasi. Untuk itu diperlukan sesuatu yang
dapat mewujudkan dwi potensialitas ini menjadi aktus, dengan menerima forma dalam aktus
dan forma yang berada dalam gambaran menjadi konsep dalam aktus.
Untuk itu Aristoteles membedakan dua jenis kemampuan intelektual, yakni intelek potensial
(intellectus possibilis) yang menerima dan menampung dan intelek aktual (intellectus agens)
yang menerangi sehingga intelek dapat melihat yang rasional. Intelektus agens datang dari
luar, artinya tidak berasal dari badan tetapi tetap tinggal dalam jiwa [ ] (Ibid, 5,
430a 13).

d) Etika
Ilmu jenis kedua dibagi menjadi etika dan politik. Di sini kita akan mencoba melihat muatan
etika dalam pemikiran Aristoteles.
. Kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi
Setiap tindakan manusia selalu mengarah pada tujuan yang tepat dan tujuan demikian disebut
kebaikan. Karena itu, kebaikan didefinisikan oleh Aristoteles sebagai sesuatu ke mana setiap
hal menuju (Etika Nikomakea, A1, 1094a 1-3). Ada sekian banyak kebaikan yang menjadi
arah dan tujuan dari setiap aksi, namun dari sekian banyak pasti ada kebaikan yang paling
baik, yang tertinggi.
Apa kebaikan tertinggi itu? Tanpa ragu Aristoteles menjawab bahwa kebaikan tertinggi bagi
manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan, felisitas (Ibid, A4, 1095a 17-20). Jadi, semua
manusia secara sadar ingin mendapatkan kebahagiaan.

Apa itu kebahagiaan? Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan terletak dalam
kesenangan dan kenikmatan atau kehormatan dan kekayaan. Namun Aristoteles menolak
semua pendapat demikian: kesenangan dan kenikmatan membuat manusia sama dengan para
budak dan binatang (Ibid, A5, 1095b 19), sementara yang kedua lebih merupakan hal yang
luaran, sementara kekayaan merupakan sarana dan bukan tujuan.
Kebahagiaan manusia menurut Aristoteles bukan pula berada di luar atau transenden, tetapi
imanen, yakni kebaikan yang dapat diwujudkan dan dipenuhi oleh manusia dan untuk
manusia. Kebaikan terletak dalam karya; karya mata adalah melihat, kerja telinga adalah
mendengar, kegiatan hidung adalah melihat. Lalu karya manusia adalah hal yang khas
baginya, bukan sekedar hidup dan merasa melainkan terutama aktivitas berpikir, bernalar.
Kebaikan sejati atau kebahagiaan bagi manusia adalah aktivitas jiwa seturut nalar, kebaikan
rohani. Itulah keutamaan manusia sebagai subyek berpikir.
Adapun kebahagiaan yang sempurna adalah vita contemplativa, serupa dengan yang ilahi,
mengkontemplasikan kebenaran sebagaimana Allah mengkontemplasikannya. Kebaikan dan
kebahagiaan tertinggi adalah mengkontemplasikan Allah sendiri yang adalah rasionalitas
suprema.

. Keutamaan-Keutamaan
Mengingat kebahagiaan manusia terletak dalam aktivitas nalar, maka gagasan tentang
keutamaan manusia mengalir dari pemahaman tentang jiwa intelektif. Itu berarti bahwa
keutamaan manusia berciri rasional.

Keutamaan Etis

Keutamaan etis berasal dari habitus, kebiasaan. Dengan melakukan sekian banyak perbuatan
yang baik dan adil, perlahan-lahan perbuatan-perbuatan tersebut melahirkan sikap tertentu
dalam diri subyek. Begitulah, orang yang terus menerus bertindak jujur, lambat laun akan
membentuh habitus jujur.
Lalu muncul pertanyaan: apa hakekat semua keutamaan etis? Keutamaan merupakan jalan
tengah, ukuran yang tepat antara kelebihan dan kekurangan (Ibid, B6, 1106a 26-b7).
Sedangkan kekurangan dan kelebihan berkaitan dengan perasaan, hawa nafsu dan aksi (Ibid,
B6, 1106b 18-28). Namun gagasan tentang jalan tengah, ukuran yang pas bukan dalam artian
medioker atau antithesis, melainkan melampaui atau berada di atas dua ekstrim, bagian yang
tertinggi dari keduanya (Ibid, B6, 1107a 6-8). Misalnya, keutamaan keberanian merupakan
jalan tengah antara takut dan nekad, murah hati merupakan ukuran yang tepat dari kikir dan
tamak dan keadilan merupakan tengahan antara kelebihan dan kekurangan, dst.

Keutamaan dianoetis

Selain keutamaan etis terdapat keutamaan yang tergolong ke dalam bagian lebih tinggi dari
jiwa, yakni jiwa rasional. Keutamaan demikian disebut keutamaan nalar. Mengingat ada dua
fungsi atau bagian jiwa, yakni bagian yang mengenal segala sesuatu yang kontingen dan
beragam dan bagian yang mengenal hal ihwal yang niscaya dan tetap, secara logis terdapat
keutamaan yang berhubungan dengan bagian-bagian jiwa tersebut. Kedua bagian jiwa
rasional tersebut adalah nalar praktis dan nalar teoretis. Keutamaan khas nalar praktis adalah
kebajikan (phronesis), sedangkan keutamaan khas nalar teoretis adalah kebijaksanaan
(sophia).
Kebajikan terletak dalam kemampuan membimbing, menuntun hidup manusia secara tepat,
mampu memutuskan seputar apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia, yakni
berkaitan dengan sarana-sarana terpuji untuk mencapai tujuan sejati. Tindakan manusia
dilakukan melalui kebajikan dan keutamaan etis: keutamaan membuat tujuan menjadi tepat,
sedangkan kebajikan membuat sarana-sarana menjadi pas.
Apakah ada dan bagaimana hubungan keutamaan etis dengan keutamaan dianoetica
kebajikan? Aristoteles mengatakan bahwa keduanya berhubungan lewat dua hal berikut. a)
Keutamaan etis, yang merupakan habitus ditentukan oleh recta ratio. Recta ratio ini adalah
keutamaan orang bijak. Jadi kebajikan adalah syarat niscaya bagi semua keutamaan etis. b)
tidak ada orang bijak tanpa keutamaan etis. Kebajikan membawa orang untuk menemukan
sarana-sarana yang tepat sehingga dapat sampai pada kebaikan moral.
Kebijaksanaan adalah keuntamaan yang paling tinggi. Kebijaksanaan terdiri atas pencerapan
intuitif atas prinsip-prinsip lewat nalar maupun pengetahuan diskursif tentang akibat-akibat
yang timbul dari prinsip-prinsip tersebut. Kebijaksanaan adalah keutamaan yang lebih tinggi
daripada kebajikan; jika kebajikan berkaitan dengan manusia, kebijaksanaan menyangkut apa
yang di atas manusia. Kebijaksanaan berkaitan dengan metafisika.

. Persahabatan
Ada tiga hal yang menyebabkan orang menjalin persahabatan dan ketiga hal tersebut adalah
kegunaan, kesenangan dan kebaikan. Hal pertama dan kedua merupakan persahabatan
ekstrinsik; menjadi sahabat karena ada kepentingan tertentu atau apa yang dimiliki oleh
seseorang (kekayaan, kekuasaan, kesenangan). Sementara persahabatan atas dasar kebaikan
didasarkan pada apa adanya orang tersebut atau pada kebaikan dan kemurahan hati
intrinsiknya. Karena itu, Aristoteles menghubungkan persahabatan dengan keutamaan:
persahatan sejati adalah ikatan yang dijalin oleh orang baik dan bijak dengan orang baik dan
bijak lainnya atas dasar dan demi keutamaan itu sendiri.

. Tindakan Moral
Socrates telah mereduksikan keutamaan pada ilmu dan pengetahuan, sehingga menyangkal
kemungkinan dan kemampuan manusia untuk berbuat jahat secara sadar dan sengaja.

Aristoteles mencoba keluar dari penafsiran intelektualistis semacam ini dengan memberikan
garis batas antara mengenal atau memahami kebaikan dan melaksanakan kebaikan dalam
hidup. Untuk itu, Aristoteles membedakan perbuatan sengaja dan perbuatan tidak sengaja.
Tindakan manusia selain disengaja, disertai juga dengan pilihan (prohairesis) dan pilihan
demikian mengandaikan adanya penalaran, refleksi tentang sesuatu dan aksi yang tergantung
pada subyek pelaku. Pola penalaran dan refleksi demikian disebut keputusan (deliberation).
Perbedaan antara pilihan dan keputusan terletak dalam menentukan sarana-sarana dan aksiaksi untuk dilakukan (keputusan) dan tujuan-tujuan yang diambil dan diwujudkan (pilihan).
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Aristoteles bermaksud menegaskan kenyataan bahwa
setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya; dia adalah sebab, pelaku dari
habitus moralnya.

e) Politik
Aristoteles berpendapat bahwa apa yang baik baik individu adalah baik pula bagi negara.
Namun demikian, negara tetap memiliki posisi, fungsi dan nilai yang lebih tinggi, lebih mulia
dan lebih ilahi daripada individu. Singkat kata, gagasan politik Aristotelian selalu berorientasi
pada polis sebagai dasar dan tujuan dari hidup setiap warga.
. Konsep Negara
Dasar eksistensi negara hendaknya ditemukan dalam hakekat manusia sebagai individu.
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial atau makhluk polis (zoon politikon); ia
memerlukan uluran tangan orang lain dalam setiap momen hidupnya. Ada beberapa alasan
yang dikemukakan oleh Aristoteles.

Pertama, alam telah membedakan manusia dalam dua jenis kelamin: perempuan
dan laki-laki. Untuk membangun keluarga, meneruskan keturuan dan kebutuhan-kebutuhan
dasar, keduanya harus bersatu.

Namun, karena keluarga tidak memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhannya,


muncullah desa atau kampung yang secara teritorial dan institusional lebih luas dan lebih
besar daripada keluarga.

Selanjutnya, ketika keluarga dan kampung tidak mampu menjamin kehidupan


yang lebih sempurna, khususnya kehidupan moral, maka diperlukan sebuah institusi lain.
Bentuk hidup moral-spiritual dapat dijamin hanya oleh hukum, pengadilan dan institusi
politik yang lebih solid, yaitu negara. Negara merupakan sebuah institusi sosial dan politik
yang membuat setiap individu dapat keluar dari egoismenya dan hidup bukan seturut apa
yang baik secara obyektif melainkan apa yang secara obyektif sungguh baik. Dengan
demikian, negara adalah terakhir secara kkronologis dan pertama secara ontologis.

. Negara Ideal
Dua buku terakhir dari Politica didedikasikan Aristoteles untuk menggagas negara ideal.
Salah satu ciri dasar dari pembahasan negara ideal adalah dimensi etis-moral yang sangat
menonjol daripada gagasan mengenai bentuk organisatoris pemerintahan.
Aristoteles memberikan beberapa persyaratan untuk negara ideal dan persyaratan itu adalah
sebagai berikut. Pertama berkaitan dengan penduduk. Jumlah penduduk tidak boleh terlalu
sedikit maupun terlalu banyak melainkan berjumlah proporsional. Kedua mengenai wilayah.
Wilayah hendaknya tidak terlalu sempit maupun tidak terlalu luas. Ketiga bertalian dengan
kwalitas ideal para warga polis. Warga polis harus merupakan gabungan dari kwalitas orangorang Barat dan orang-orang Timur yakni, pintar, bersemangat, bebas, berani. Keempat
adalah fungsi-fungsi dasar polis dan pembagian idealnya. Untuk hidup, sebuah polis harus
mempunyai: a) pembajak tanah atau petani untuk menyediakan makanan, b) pekerja tangan
yang menyediakan sarana dan prasarana fisik, c) pedagang agar dapat menghasilkan
kekayaan, d) pejuang untuk menjaga dan melindungi polis dari pemberontak dan musuh, e)
orang-orang pemerintahan, dewan kota dan kehakiman yang menetapkan apa yang berguna
bagi komunitas dan hak-hak timbal balik warga polis dan f) imam untuk menjalankan
peribadatan. Kelima adalah keutamaan. Keutamaan polis tergantung pada keutamaan setiap
warga polis.

. Pengaturan Keluarga
Keluarga terdiri atas empat unsur dasar berikut ini: a) hubungan suami-isteri, b) relasi bapakanak, c) hubungan tuan-budak, dan d) seni atau ketrampilan untuk mendapatkan segala
sesuatu yang berguna untuk hidup dan kekayaan (krematistika). Aristoteles selanjutnya hanya
memfokuskan diri pada relasi ketiga dan keempat.
Tata kelola keluarga memerlukan banyak hal dan untuk itu dibutuhkan sarana-sarana yang
tepat baik makhluk hidup maupun benda mati. Dalam konteks itu, tenaga kerja dan budak
dianggap niscaya. Tenaga kerja adalah sebagai sebuah sarana yang mendahului dan
menentukan sarana-sarana lainnya serta berguna untuk menghasilkan barang-barang tertentu
dan keperluan-keperluan lainnya. Sedangkan budak merupakan alat yang berguna untuk aksi,
yakni pada perilaku hidup.
Gagasan Aristoteles mengenai perbudakan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip metafisik
yang telah digagasnya dengan begitu rasional dan sistematis. Secara lugas Aristoteles telah
menegaskan bahwa perbedaan hakiki dan menentukan antara manusia dan binatang terletak
pada nalar. Tentu saja ada manusia yang memiliki kwalitas intelektual lebih daripada yang
lainnya, namun perbedaan kemampuan demikian kiranya tidak dapat mengubah hakekat dan
kodrat manusia sebagai manusia. Sejauh memiliki nalar, manusia adalah manusia tanpa
perbedaan apapun. Namun, Aristoteles ternyata belum mampu keluar dari prasangka rasial
dan rasis kaum sebangsanya terhadap suku bangsa lainnya. Kesimpulan yang ditarik
Aristoteles, mengikuti Euripide, bertentangan dengan premis itu sendiri bahwa kaum barbar

secara kodrati adalah inferior dari orang Yunani, sehingga adalah alami bila orang Yunani
memerintah kaum barbar (Politik, A2, 1252b 8).
Berkaitan dengan upaya untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup dan kekayaan,
Aristoteles membedakannya dalam tiga cara berikut: a) cara alamiah dan langsung yang
terjadi melalui aktivitas-aktivitas perburuan, peternakan dan pengolahan lahan pertanian; b)
secara tidak langsung lewat sukar menukar barang secara seimbang dan senilai (barter) dan c)
secara tidak alamiah sebagaimana berlangsung dalam perdagangan dengan menggunakan
uang. Aristoteles mengkritik dan mengutuk bentuk ketiga ini karena tiada batasan bagi
peningkatan kekayaan, sehingga terjadi pengaburan makna dan penghilangan tujuan dari
ekonomi yang sehat. Bangunan ekonomi dibalik sedemikian rupa sehingga bukan lagi
menjadi sebuah sarana untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk menumpuk kekayaan.
Tujuan menjadi sarana dan sarana menjadi tujuan. Selain itu, Aristoteles mengutuk juga
penanaman modal (investasi) untuk menghasilkan uang, karena dalam pandangannya orang
bukan lain menghasilkan uang untuk hidup, melainkan menggunakan hidup untuk
menghasilkan uang.

. Warga Negara
Negara terdiri atas warga negara. Karena itu, tanpa memberikan pembahasan tentang
kampung, Aristoteles langsung membahas persoalan mengenai warga negara. Dalam cara
pandang Aristoteles, untuk menjadi warga negara tidak cukup orang berada dalam wilayah
polis, berurusan dengan pengadilan maupun keturunan dari warga negara sebelumnya.
Menjadi warga negara mensyaratkan partisipasi pada pengadilan atau ambil bagian dalam
pengaturan dan tata kelola keadilan serta bagian dari perhimpunan atau dewan yang membuat
undang-undang dan memerintah polis (Politica, 1). Dengan kata lain, warga negara/polis
ambil bagian secara langsung dalam tata kelola negara baik dalam bidang eksekutif maupun
legislatif dan yudikatif.
Bertolak dari pengertian di atas, semua orang yang berasal dari daerah taklukan setinggi
apapun pangkatnya, penduduk koloni maupun buruh, petani dan pedagang sama sekali
bukanlah warga polis. Mereka tidak memenuhi syarat, yakni waktu untuk melaksanakan
tugas dan fungsi yang diembankan negara. Maka, jumlah warga polis amat terbatas,
sementara sekelompok besar lainnya dari masyarakat polis berfungsi sebagai sarana untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup warga negara.
Jika demikian, apa perbedaan dasar antara buruh dan budak? Menurut Aristoteles, perbedaan
keduanya terletak dalam kwantitas orang yang dilayani: budak melayani kebutuhan seorang
atau sekeluarga saja, sementara buruh melayani kepentingan publik.

. Bentuk-Bentuk Pemerintahan
Apa yang membuat bentuk-bentuk pemerintahan itu berbeda-beda? Filosof dari Stagira ini
menjawab, Konstitusi merupakan struktut yang memberikan keteraturan kepada polis,
dengan menetapkan fungsi-fungsi dari semua jabatan dan terutama otoritas tertinggi
(Politica, 6, 1278b 8-10).
Ada beberapa kemungkinan tentang bentuk-bentuk pemerintahan negara. Otoritas tertinggi
atau pemerintahan dapat dipimpin oleh a) satu orang saja, b) sedikit orang dan c) banyak
orang.
Kemudian pemerintahan dapat dijalankan atau secara baik dan benar atau secara keliru dan
jahat. Baik dan benar ditentukan oleh tujuan pemerintahan apakah untuk kepentingan pribadi
atau kepentingan umum.
Bila pemerintahan dijalankan dengan baik dan benar maka akan terdapat pemerintahan
(Politica, 7, 1279a 32 - b 10): a) Monarki (satu orang), b) aristokrasi (segelintir orang) dan
c) Politia (sebagian besar orang). Namun, tatkala pemerintahan dijalankan dengan keliru dan
jahat, maka bentuk pemerintahan adalah sebagai berikut: a) tirani (satu orang), b) oligarki
(sedikit orang demi mengejar kekayaan dan memfavoritkan kelas kaya) dan c) demokrasi
(banyak orang untuk kepentingan kelas rakyat jelata).
Mana pemerintahan yang ideal, alami dan terbaik dari ketiga bentuk pemerintahan yang
benar? Aristoteles beranggapan bahwa secara abstrak-teoretis, bentuk pemerintahan terbaik
dan sesuai dengan kodrat manusia adalah monarki. Namun dalam kenyataan sulit sekali
menemukan seorang dan segelintir orang yang sungguh-sungguh ekselen secara etis moral,
maka Aristoteles menunjuk bahwa pilihan terbaik seturut kenyataan konkrit adalah politia.
Politia adalah pemerintahan jalan tengah antara oligarki dan demokrasi dalam sistim politik
konkrit Yunani masa itu. Ciri pemerintahannya adalah sistim bergilir memerintah dan
diperintah (Politica, 11, 1295b 25-38)

. Konsep Keadilan
Jiwa dari suatu pemerintahan adalah nilai dan rasa keadilan. Karena itu, Aristoteles
memberikan pembahasan yang komprehensif tentang keadilan dan atas dasar itu gagasan
keadilan dipresentasikan dihadirkan dalam lingkup politik.
Apa itu keadilan? Keadilan adalah disposisi pribadi atau habitus yang mendorong manusia
untuk melakukan suatu tindakan secara demikian terhadap orang lain. Karena muncul dari
habitus, keadilan tidak bersifat tetap, melainkan bisa berkurang dan bertambah.
Keadilan berada di tengah dua sudut ekstrim, yakni keuntungan dan kerugian. Dasar dari
keadilan adalah kesederajadan antar-manusia. Kesederajadan atau kesamaan dibedakan dalam
kesamaan numeris dan kesamaan proporsional dan pembedaan tersebut mempunyai nilai
penting dalam keseluruhan pembahasan mengenai makna keadilan. Artinya penilaian dan

rasa keadilan wajib memperhatikan kesetaraan setiap manusia, namun demikian faktor
jabatan atau tugas yang diemban oleh seseorang dalam kehidupan bersama mesti mendapat
perhatian selayaknya. Karena itu, distingsi Aristoteles mengenai keadilan memperhatikan
baik aspek kesetaraan maupun fungsi sosial individu dalam hidup bersama.
Secara garis besar, Aristoteles membedakan kewajiban dalam beberapa jenis berikut: a)
kewajiban distributif, b) keadilan komparatif dan c) keadilan korektif. Keadilan distributif
berkaitan dengan pembagian hak seseorang seturut jabatan sosial yang diemban dan
kontribusinya dalam kehidupan bersama (gaji Presiden berbeda daripada gaji pelayan
restoran, pembagian keuntungan antara pemegang saham mayoritas dan minoritas berbeda
jumlahnya). Keadilan komparatif berhubungan dengan aktivitas jual beli. Antara penjual dan
pembeli hendaknya ada perbandingan nilai yang seimbang, sehingga kedua belah pihak tidak
menderita kerugian (misalnya, 100 gram emas: 1 rumah). Keadilan korektif berkenaan
dengan tindakan jahat yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Hukum bermaksud
mengembalikan keadilan (tidak adil berarti terdapat perbedaan proporsi aritmatis antara
pelaku dan korban) dengan memberikan bagian atau hak seseorang yang telah terampas oleh
pelaku.

f) Logika
Nama Logika tidak berasal dari Aristoteles. Ia menggunakan istiah analytika untuk
penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari keputusan yang benar dan
dialektika untuk argumentasi yang berangkat dari hiptesis. Dialektika dibahas dalam buku
Topica, sedang-kan analitika dibicarakan dalam Analytica priora dan Analytica poteriora.
Nama Logika berasal dari Alexander Aphrodisias.
Hal penting adalah tempat logika dalam struktur pemikiran Aristoteles: logika tidak mendapat
tempat dalam ketiga bidang pengetahuan. Lalu di mana posisi logika? Bagi Aristoteles logika
bukanlah sebuah pengetahuan, melainkan instrumen untuk memperoleh pengetahuan. Karena
itu, logika ditempatkan pada fase awal sebagai mata pelajaran pendahuluan dan preparatif
bagi ilmu pengetahuan.

Deduksi

Deduksi merupakan proses penalaran yang bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum dan
kebenaran universal, kemudian ditarik kebenaran-kebenaran partikular. Proses argumentasi
deduktif terungkap dalam silogisme.
Silogisme merupakan sebuah penalaran di mana kesimpulan merupakan konsekwensi niscaya
yang muncul dari proposisi anteseden. Karena itu pula, silogisme disebut sebagai penalaran
sempurna oleh Aristoteles. Penalaran silogisme terdiri atas tiga proposisi. Ketiga proposisi
dibedakan menjadi dua premis, yakni premis mayor dan premis minor dan akibat atau

kesimpulan. Ada pun premis-premis adalah sebab turunan dan bukan sebab kebenaran dan
kekeliruan, mengingat kesimpulan harus mengikuti begitu saja proposisi anteseden.
Contoh:
Semua manusia pasti mati
Socrates adalah manusia
Maka, Sokrates pasti mati

Induksi

Kebalikan dari argumentasi silogisme, induksi () merupakan pola penalaran yang


bertitik tolak dari hal-hal partikular dan dari padanya ditarik suatu kebenaran universal.
Proses penalaran induktif bertitik tolak dari pengalaman dan pengalaman itu sendiri menjadi
medium yang menuntun orang pada kebenaran universal. Dari sebab itu, induksi merupakan
proses penalaran abstraktif.
Contoh:
Air dalam gelas A mendidih pada suhu 100C
Air dalam gelas N mendidih pada suhu 100C
Jadi, air mendidih pada suhu 100C.

g) Retorika
Aristoteles berpendapat bahwa retorika bukan bertugas untuk mengajar dan menuntun pada
kebenaran dan nilai-nilai etis-politik baik secara umum maupun khusus, melainkan
menemukan cara-cara dan sarana-sarana untuk meyakinkan dalam setiap argumentasi. Dalam
artian ini, retorika menjadi semacam seni yang menganalisa dan menguraikan proses-proses
dan struktur-struktur dasa dengan mana orang mencoba meyakinkan sesama atas suatu
penalaran. Jadi retorika merupakan sebuah metode meyakinkan orang lain.
Dipandang dari aspek formal, retorika menghadirkan analogi dengan logika dialektis.
Dialektika Aristotelian mempelajari struktur berpikir dan bernalar yang bergerak bukan pada
unsur-unsur dasar secara ilmiah, melainkan pada unsur-unsur yang dibangun di atas opini,
yakni diterima oleh semua atau sebagian besar orang. Dari sudut muatan, retorika bergerak
dalam bidang politik dan etika, mengingat seni persuasi dilakukan di pengadilan (membela
atau menuduh), pertemuan raya (menerima, menasehati, mengambil suatu keputusan), etispolitik (memuji atau mencela, menghargai atau menghukum).

Jenis Argumentasi Persuasif


Ditinjau dari sudut formalnya, Aristoteles membedakan argumentasi persuasif dalam
argumentasi persuasif teknis dan argumentasi persuasif non teknis. Argumentasi non teknis,
misalnya teks-teks hukum, kesaksian, kesepakatan, pernyataan di bawah tekanan dan siksaan,
janji dan sumpah, telah ada dalam kehidupan manusia dan kita gunakan setiap saat.
Sementara itu, argumentasi teknis berkaitan dengan para ahli dan dapat dibedakan dalam tiga
jenis berkaitan dengan a) orator dan bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas, b)
mempengaruhi keadaan hati para pendengar, sehingga mereka mudah terbujuk rayu dan c)
bermaksud menekankan validitas dan kemujaraban argumen itu sendiri.
Untuk mendapatkan kredibilitas dan meyakinkan, seorang orator harus menampilkan diri
sebagai orang yang memiliki tiga keahlian: kebijaksaan, kehormatan da kemurahan hati.
Sarana untuk tampil demikian dibahas dalam pokok kajian tentang etika.
Berkaitan dengan mempengaruhi suasana hati pendengar, Aristoteles memberikan sebuah
analisa fenomenologis yang sangat kaya dan hidup tentang emosi dan hasrat yang ditemukan
dalam diri para pendengar.
Mengenai validitas dan efikasitas argumentasi, pokok bahasan ini diperdalam secara khusus
dalam logia. Aristoteles beranggapan bahwa argumentasi logis demikian sangat penting dan
baru.

Tiga Jenis Retorika


Bila dipandang dari sudut muatannya, retorika dapat dibedakan ke dalam tiga jenis. Artinya,
diskursus retorik dapat dilaksanakan dalam a) pertemuan-pertemuan politik dengan maksud
mengarahkan para peserta untuk mengambil suatu keputusan politik, atau b) dipraktek-kan
dalam ruang pengadilan dan ditujukan kepada para hakim untuk meyakinkan mereka dan
mempengaruhi mereka dalam mengambil keputusan tertentu dan c) dipraktekkan dan
ditujukan kepada para pendengar dan penonton untuk merayakan suatu pesta dan peristiwa
tertentu.
Dari ketiga jenis diskursus itu, dapat dibedakan ketiga jenis retorika yaitu a) retorika
deliberatif, b) retorika yudisial dan c) retorika epidiktis (selebratif). Retorika deliberatif
berkaitan dengan nasehat atau anjuran seputar keputusan-keputusan yang mesti diambil untuk
suatu masa depan. Retorika yudisian menyangkut tindakan menuduh dan membela yang
merujuk pada perbuatan di masa lalu untuk membuktikan bahwa perbuatan dan keadaan
suatu perkara terjadi atau tidak terjadi melawan hukum. Retorika epidiktis bermaksud
memuji atau mengaburkan fakta atau peristiwa kekinian, sehingga pantas dikagumi dan
dirayakan atau sebaliknya.
Tujuan akhir dari ketiga jenis retorika ini berciri asiologis atau nilai. Retorika deliberatif
bertujuan mendapatkan nilai kegunaan. Retorika yudisial bermaksud menggapai nilai adil dan
retorika epidiktis-selebratif ingin meraih nilai baik-indah.