Anda di halaman 1dari 23

Bioteknologi merupakan salah satu hasil dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan

teknologi. Bioteknologi adalah pemanfaatan makhluk hidup untuk mengubah bahan menjadi
produk dan jasa, dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Bioteknologi ini meliputi
biologi molekuler, biokimia dan rekayasa genetika. Rekayasa genetika merupakan proses
dan teknik untuk menghasilkan produk dan jasa yang melibatkan pemanfaatan mikroba.
Rekayasa genetika merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi.
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan
manusia. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan teknikteknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau
mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Teknologi
rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya
dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa
genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Proses rekayasa genetika pertama kali
ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953. Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan
Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa genetika untuk pertama kalinya.
Prinsip dasar dalam rekayasa genetika adalah suatu proses penyematan segmen DNA dari
organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentuk
rekombinan DNA baru. Rekayasa genetika telah berperan dalam segala bidang yakni dalam
bidang kesehatan, pertanian dan juga industri. Rekayasa genetika juga memiliki keuntungan
dan kerugian serta memiliki dampak positif dan negatif terhadap lingkungan dan
masyarakat. Salah satu contoh hasil rekayasa genetika di bidang kesehatan yaitu
terciptanya hormon insulin hasil rekayasa genetika. Dengan adanya hormon insulin hasil
rekayasa genetika maka penyakit diabetes mellitus dapat diatasi.
Berdasarkan hal tersebut maka pada makalah ini akan diuraikan mengenai pengertian,
sejarah, prinsip dasar, aplikasi, dampak, serta keuntungan dan kerugian dari rekayasa
genetika.

1.
2.
3.
4.

2.1
Pengertian Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan
manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaaan hewan atau tanaman melalui seleksi
dalam populasi dan penerapan mutasi buatan tanpa target dapat dimasukkan ke dalam
rekayasa genetika. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan
teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau
mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Obyek
rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi,
hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.. Rekayasa genetika
merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi, di mana terdapat keterlibatan banyak
proses di dalamnya yang terdiri dari:
Tahap isolasi gen.
Modifikasi gen sehingga berfungsi sesuai yang diinginkan.
Mempersiapkan gen untuk disisipkan ke dalam organisme baru.
Kemudian pengembangan transgenik atau GMOs.
Teknologi rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen
lainnya dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa
genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Misalnya gen pankreas babi

ditransplantasikan ke bakteri Escheria coli sehingga dapat menghasilkan insulin dalam


jumlah yang besar. Sebaliknya gen bakteri yang menghasilkan toksin pembunuh hama
ditransplantasikan ke tanaman jagung maka akan diperoleh jagung transgenik yang tahan
hama tanaman. Domba Dolly dihasilkan dari hasil transplantasi gen atau gen yang satu
dipindahkan ke gen yang lain. Demikian pula gen tomat ditransplantasikan ke ikan
transgenik sehingga ikan menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan.
Rekayasa genetika dalam bibit pangan nabati telah berkembang dengan luas begitu juga
produk rekayasa genetika pada hewan misalnya produksi hormon untuk peningkatan
kuantitas maupun kualitas dari pangan hewani. Dengan adanya produk-produk rekayasa
genetika tersebut dapat dikatakan bahwa produk rekayasa genetika khususnya bahan
pangan mengintroduksi unsur toksis, bahan-bahan asing dan berbagai sifat yang belum
dapat dipastikan dan berbagai karakteristik lainnya.
2.2
Sejarah Perkembangan Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu
rekayasa(keteknikan). Hal ini muncul dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkapi
material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Rekayasa ini muncul
ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan gen.
Penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian
dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang
adalah suatu polimer bervariasi. Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian
penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari
penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknikPCR, transformasi genetik,
teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah
(seperti Tilling). Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang
biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting dalam
kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.
Pada awalnya, proses rekayasa genetika ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953.
Rekayasa genetika merupakan suatu rangkaian metode yang canggih dalam perincian akan
tetapi sederhana dalam hal prinsip yang memungkinkan untuk dilakukan pengambilan gen
atau sekelompok gen dari sebuah sel dan mencangkokkan gen atau sekelompok gen
tersebut pada sel lain dimana gen atau sekelompok gen tersebut mengikat diri mereka
dengan gen atau sekelompok gen yang sudah ada dan bersama-sama mengalami reaksi
biokimiawi. Pada dasarnya rekayasa genetika memanipulasi DNA (asam deoksiribosenuklat).
Gen atau pembawa sifat yang bisa diturunkan dalam mahkluk terdiri dari rantai DNA.
Rekayasa genetika menyeleksi gen DNA dari suatu organisme ke organisme lainnya. Pada
awalnya, perkembangan tersebut hanya antara satu jenis mahkluk hidup, tetapi kini
perkembangan sudah sedemikian maju sehingga bisa dimungkinkan untuk memindahkan
gen dari satu jenis mahkluk hidup ke mahkluk hidup lainnya yang berbeda jenisnya, sebagai
contohnya adalah gen ikan yang hidup di daerah dingin dipindahkan ke dalam tomat untuk
mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.
Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa
genetika untuk pertama kalinya. Kemudian tahun 1981, pertama kali di kembangkan tikus
dan lalat buah produk rekayasa genetika, menyusul pada tahun 1985 Plant Genetic Systems
(Ghent, Belgium), sebuah perusahaan yang didirikan oleh Marc Van Montagu dan Jeff Schell,

merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan tanaman tembakau toleran


terhadap hama dengan mengambil protein insektisida dari bakteri Bacillus thuringiensis.
2.3
Prinsip- prinsip Dasar Rekayasa Genetika
Zaman rekayasa genetika dimulai ketika Dr. Paul Berg dari Stranford University di California
USA dan usaha sekelompok peneliti lainnya, yaitu Dr Stanley Cohen dan Dr Annie Chang dari
Stranford University serta Dr Herbert Boyer dan Dr Robert Helling dari University of
California di San Fransisco menemukan bahwa bahan-bahan tertentu yang dinamakan enzim
pembatas mampu bertindak sebagai gunting biologi, yaitu dapat mengenal dan kemudian
secara kimia memotong tempat-tempat khusus sepanjang molekul DNA. Enzim-enzim yang
mampu menggunting suatu gen dari DNA suatu makhluk tersebut ternyata dapat pula
memotong tempat-tempat serupa dalam molekul DNA dari mahkluk berkaitan.
Sebuah penemuan penting lainnya ialah suatu enzim disebut ligase, membiarkan suatu gen
yang digunting dari suatu molekul DNA ditempelkan pada tempat serupa dalam DNA
mahkluk tak berkaitan. Hibrid yang terbentuk dari cara ini disebut DNA rekombinan. Selama
ini lebih dari 200 enzim pembatas telah ditemukan, dan dengan demikian tersedialah
beraneka ragam gunting biologi untuk memotong gen-gen yang diinginkan dan
mencangkokkannya ke rumah-rumah baru. Para ahli genetika kini dimungkinkan untuk
membongkar sel-sel bakteri, virus, hewan, dan tumbuhan untuk diambil DNA-nya dengan
menggunakan enzim-enzim pembatas. Akan tetapi mengambil DNA dari suatu mahkluk dan
memasukkannya ke dalam makhluk lain bukanlah sekedar pekerjaan memotong dan
menempel. Suatu gen harus diikutsertakan untuk dipindahkan ke suatu pengangkut khusus,
yaitu vektor. Sekelompok vektor yang bermanfaat adalah plasmid-plasmid, yaitu ikalanikalan DNA kecil yang terdapat dalam sel bakteri diluar kromosomnya. Sebuah plasmid
dapat diambil dari bakteri, ikalan dibuka dengan enzim pemotong, fragmen DNA baru dapat
dimasukkan dan plasmid itu dikembalikan ke bakteri. Selanjutnya setiap kali bakteri itu
membelah diri menjadi dua, dan plastid rekombinan juga membelah diri. Dengan demikian
DNA rekombinan itu terus membuat klon-klon DNA dari dirinya.
Secara singkat prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan
segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk
membentuk rekombinan DNA baru. Sebagai sel inang molekul baru ini dapat berupa sel
prokariotik atau sel eukariotik tergantung dari titik awal replikasi yang ada pada vektor.
Enzim endonuklease restriksi memungkinkan pemotongan rantai DNA, yang menghasilkan
ujung-ujung bersifat lekat atau kohesif dan dapat digabungkan lagi dengan perantaraan
enzim ligase DNA.
Teknologi DNA Rekombinan
Bersama dengan beberapa metode manipulasi biokimiawi dan biologi lainnya, metodametoda pembelahan dan penggabungan molekul-molekul DNA ini dikembangkan menjadi
suatu bioteknologi yang dinamakan Teknologi DNA Rekombinan. Potensinya pertama kali
ditunjukkan oleh Stanley Cohen dari Universitas Stanfordd bersama Herbert Boyer dari ECSF
(1972).
Langkah-langkah utama dalam Teknologi DNA Rekombinan ini adalah:
1.
Penyiapan gen yang akan diklon dan vektor untuk kloning Gen, berupa fragmen DNA
yang akan diklon dapat disiapkan melalui beberapa cara:
1.
Jika fragmen DNA yang dimaksud dapat diidentifikasi dan dikarakterisasi,
fragmen DNA tersebut dapat langsung dipakai.

2.

3.
4.

1.
2.

Kadang-kadang fragmen DNA yang diinginkan sulit diidentifikasi, tetapi


membawa fungsi yang dapat diseleksi dan diungkapkan dalam sel inang. Dalam kasus ini
dapat dilakukancloning shotgun (senapan tabor). Klon yang tepat dapat diseleksi dengan uji
biologik.
Dalam kasus-kasus tertentu hanya mRNA yang dapat diperoleh. DNA kopi
(cDNA) dapat direkontruksi dari mrna dengan enzim transcriptase balik.
Jika eksperimen dimulai dengan data rangkaian asam amino dari proteinnya,
suatu gen sintetik dapat direkontruksi menurut aturan kode genetik dengan menggunakan
metode-metode sintesa DNA.
Kebanyakan segmen DNA tidak memiliki kemampuan bawaan untuk mereplikasi sendiri.
Bahkan suatu segmen DNA yang dapat mereplikasi dalam sel inang aslinya tidak selalu
memiliki syarat-syarat genetik spesifik yang diperlukan untuk mereplikasi dalam lingkungan
yang berbeda. Untuk memproduksinya dalam sintesis biologi ia harus diintegrasi ke dalam
molekul DNA yang mengandung gen-gen yang mengkode fungsi replikasi dalam inang yang
sesuai. Molekul yang demikian ini disebut vektor.
Untuk kloning dalam berbagai organisme telah dikembangkan sistem-sistem inang vektor
tertentu yang berbeda-berbeda. Ada empat macam vector yang telah dikembangkan untuk
kloning DNA dalamEscherichia coli, yaitu plasmid, fag, kosmid, dan plasmid. Plasmid adalah
molekul-molekul DNA lingkar kecil yang dapat mereplikasi sendiri dalam sel bakteri. Selain
mengandung gen perlu untuk replikais, kebanyakkan plasmid mengandung juga satu gen
yang mengkode suatu enzim yang berguna untuk inangnya, misalnya menggangu aksi
antibiotik spesifik. Gen ini disebut faktor R (resistansi) yang memberi pada sel inangnya
ketahanan terhadap antibiotik tersebut. Sifat ini sangat berguna untuk menyeleksi klon
yang diinginkan. Karena itu adalah penting bahwa plasmid dapat dibelah oleh enzim restriksi
tanpa menggangu kemampuan plasmid untuk mereolikasi dan atau untuk memberi
resistensi antibiotik.
Vektor-vektor baru telah dikonstruksi untuk meningkatkan frekuensi pemasukan molekul
DNA rekombinan dan memudahkan penyeleksian bakteri yang mengandungnya. Sebagai
contoh plasmid Pbr 322 terdiri dari 4326 nukleotida dan mengandung gen-gen yang
teresistansi terhadap tetrasiklin dan ampisilin. Vektor lainnya adalah fag. Sebagian besar
DNA-nya tidak penting untuk infeksi dan dapat diganti dengan DNA asing. Mutan-mutan fag
yang dirancang untuk kloning DNA telah dikonstruksi. Hampir semua partikel-partikel fag
yang dibentuk akan mengandung DNA asing yang disisipkan. Kelebihan penggunaan virionvirion ini sebagai vektor ialah bahwa virion akan memasuki bakteri dengan frekuensi lebih
tinggi dari plasmid. Molekul-molekul DNA rekombinan dapat dikemasin vitro untuk
membawa virion-virion yang infektif.
Kosmid adalah vektor lain yang dikonstruksikan dari plasmid normal dan tempat cos (ujung
kohesif) dari fag . Plasmid normal diurutkan dari fag dan plasmid Col E1.
Pembentukan Molekul DNA Rekombinan
Pemasukan Molekul DNA Rekombinan Ke Sel Inang
Kebanyakan sel bakteri prokariot dan eukariot mengambil molekul-molekul DNA telanjang
dari medium. Chang, Cohen dan Hsu (1972) menemukam bahwa jika membran
sel E.coli dibuat permeabel dengan perlakuan Kalsium klorida, molekul DNA rekombinan
dapat dimasukkan. Efisiensi pengambilan sangat rendah, sekitar 1.1, tetapi sel cukup dapat

ditransformasi dalam kondisi eksperimen yang tepat. Efisiensi pemasukan akan lebih besar
jika sel-sel target ditransfeksi dengan virion-virion yang telah dirakit ulang.
1.
Seleksi Klon Yang Mengandung Molekul DNA Rekombinan
Walaupun frekuensi pemasukan molekul DNA rekombinan ke dalam sel inang sangat rendah,
klon sel-sel yang mengandung molekul rDNA dapat diseleksi dengan mudah berdasarkan
adanya vektor atau gen yang disisipkan. Misalnya sel yang mengandung faktor R akan tetap
hidup dan berlipat ganda dalam medium yang mengandung antibiotik yang sesuai,
sedangkan sel-sel lainnya mati. Pendekatan lain adalah menentukan sel-sel mana yang
menambat RNA komplementer terhadap gen yang diamati. Klon-klon yang mengandung
rDNA stabil untuk beberapa ratus generasi.
Penelitian genetika bergantung pada satu prinsip pokok, yaitu bahwa organisme-organisme
memiliki persamaan dan perbedaan daripada kedua induknya. Informasi genetik dari
organisme dibawa dalam molekul-molekul yang disebut asam nukleat. Semua organisme
yang tubuhnya terdiri atas sel-sel menggunakan asam dioksiribonukleat (DNA) untuk
menyimpan informasi genetik. Beberapa tipe asam ribonukleat (RNA) memindahkan
informasi genetik tadi dan membuat protein yang sangat dibutuhkan sel-sel hidup.
Sebaliknya, beberapa mikroba, virus dan viroid menggunakan RNA untuk menyimpan
informasi genentik.
2.4
Aplikasi Rekayasa Genetika dalam Berbagai Aspek Kehidupan
2.4.1 Rekayasa Genetika dalam Aspek Pertanian
Pada dasarnya rekayasa genetika di bidang pertanian bertujuan untuk menciptakan
ketahanan pangan suatu negara dengan cara meningkatkan produksi, kualitas, dan upaya
penanganan pascapanen serta prosesing hasil pertanian. Peningkatkan produksi pangan
melalui revolusi gen ini ternyata memperlihatkan hasil yang jauh melampaui produksi
pangan yang dicapai dalam era revolusi hijau. Di samping itu, kualitas gizi serta daya
simpan produk pertanian juga dapat ditingkatkan sehingga secara ekonomi memberikan
keuntungan yang cukup nyata. Adapun dampak positif yang sebenarnya diharapkan akan
menyertai penemuan produk pangan hasil rekayasa genetika adalah terciptanya
keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.
Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertanian berkembang pesat dengan
dimungkinkannya transfer gen asing ke dalam tanaman dengan bantuan
bakteri Agrobacterium tumefaciens. Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah
tanaman transgenik seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan,
misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama dan penyakit
tertentu.
1.
Pemuliaan Tanaman
Pada dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk
menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama,
yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun
rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan
kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.
Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan
dengan mata tertutup sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di
samping sifat yang diharapkan. Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan
gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi

dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan dikembangkannya metode-metode


DNA rekombinan.
2.
Varietas baru
Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik
tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua
langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam
jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut
ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi.
Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan
sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada
bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara
koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di
antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifatsifat seperti hasil produksi tanaman.
Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu
yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi
tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian
menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor
yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun,
tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel
daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya.
Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran.
Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ
tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan,
kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan
kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih
unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini.
2.4.2 Rekayasa Genetika dalam Aspek Kesehatan
1.
Sebagai alat penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA
Teknologi rekombinasi DNA menjadi alat penelitian yang essensial pada genetika molekul
modern. Mutasi dihasilkan dalam klon gen dan memungkinkan mengisolasi suatu gen dan
memasukkan kembali dalam sel hidup atau bahkan dalam sel germinal. Disamping
menghemat waktu dan tenaga, mutasi genetik mampu mengkonstruksi mutan yang secara
praktis tidak dapat dibuat dengan berbagai cara.
Perkembangan teknik gene cloning pada tahun 1970-an memberikan motivasi kuat bagi
dunia riset untuk mempelajari gen dan aktivitasnya dengan teknik atau prosedur kedua
terjadi pada akhir tahun 1980-an dengan ditemukannya teknologi PCR (Polymerase Chain
Reaction. Dengan teknik ini kita dapat memperbanyak DNA dalam tabung reaksi sehinga
memberikan kemudahan aplikasi di berbagai bidang, mialnya mengamplifikasi gen tertentu
untuk sequencing, cloning, fingerprinting dan mendeteksi pathogen. Ditemukannya
enzim Taq polymerase pada bakteri termofilik (Thermus aquaticus) yang dapat bekerja pada
suhu tinggi (960C) merupakan dasar teknik PCR karena enzim ini dapat mensintesis molekul
DNA dalam tabung reaksi dengan cara mengatur temperature dari alat yang
disebut thermocycler.

1.
2.

3.

4.

Salah satu aplikasi PCR yang mencengangkan adalah dalam bidang kedokteran forensik.
Teknik PCR dapat digunakan untuk mengamplifikais DNA dari suatu sampel yang jumlahnya
sangat sedikit, misalnya sehelai rambut, cairan tubuh seperti sperma atau darah bahkan
dari tulang manusia yang sudah berumur ratusan tahun. Hasil amplifikasi tersebut
selanjutnya dapat dianalisis dengan DNAfingerprinting (sidik jari DNA) sehingga dapat
dijadikan sebagai bukti dalam menentukan pelaku kejahatan, misalnya perkosaan.
Teknik PCR juga dapat digunakan untuk mengungkap keanekaragaman genetik mikrobia
tanpa harus melakukan kultivasi terlebih dahulu. Hal ini membawa konsekuensi yang
penting dalam ekologi mikrobia karena aktivitas populasi mikrobia dalam suatu habitat
dapat dipantau melalui DNAfingerprinting dan sequencing terhadap DNA amplikon yang
diperoleh dari sample tanah atau air.
Mempercepat Produksi Zat anti Kanker. Teknik kultivasi bioreaktor ini juga telah
berhasil dilakukan untuk memproduksi zat anti kanker dari beberapa spesies tanaman Taxus.
Menghasilkan Anti Bodi. Prinsip rekayasa genetika merupakan terobosan penting di
dalam pembuatan serangan virus, bakteri dan bahan-bahan protein lainnya. Anti-bodi pada
umumnya diperoleh dari darah binatang, tetapi sekarang dapat dibuat melalui cara melebur
sel-sel tumor yang potensial menghasilkan antibodi dengan sel-sel yang benar-benar bisa
membuat sebuah antibodi yang penting. Sel hibrida kemudian melanjutkan pembelahan
dan membentuk sebuah klona sel-sel yang berkembang cepat (seperti layaknya sel-sel
tumor) menghasilkan antibodi yang dibutuhkan. Teknik hibrida ini menghasilkan antibodi
monoklonal. Antibodi monoklonal ini sangat berguna untuk mengembangkan produk
diagnostik, immunoterapetik dan uji kehamilan
Dalam bidang kesehatan, industri farmasi adalah yang pertama kali memperkenalkan
potensi bioteknologi termasuk rekayasa genetik, dan telah membuka pendekatan bans
dalam pengembangan obat. Rekayasa genetilk mempunyai dampak terhadap perbaikan dan
keamanan produk, dan memberikan pemecahan teknis dalam penyebarluasan pemakaian
obat dengan bahan baku yang terbatas. Misalnya, sejak tahun 1982 telah dipasarkan insulin
sebagai hasil pemanfaatan rekayasa genetik dalam industri. Dengan mengambil bagian
yang mengatur pembuatan insulin pada sel-sel Langerhans manusia, dimasukkan ke dalam
kuman E.Coli. Kuman ini dapat menghasilkan insulin yang sama dengan insulin manusia.
Pengembangan Antibiotik. Pada segi lain penerapan DNA rekombinan untuk
pengobatan terbuka bagi pengembangan antibiotik. Kepentingan untuk pengembangan
antibiotik dengan teknik ini didukung oleh kenyataan nilai penjualan dan keuntungan
perdagangan antibiotik yang menduduki tempat teratas dewasa ini. Suatu hal yang perlu
dicatat adalah, antibiotik bukan merupakan produk gen primer, tetapi lebih merupakan
produk metabolit sekunder, dimana pembentukan antibiotik dalam sel melalui reaksi yang
dikatalisir oleh enzim protein sebagai produk gen primer. Obat ini memiliki struktur kimia
yang berbeda satu dengan lain dan memiliki kesamaan aksi sebagai penghambat
pertumbuhan bakteri. Pada umumnya antibiotik dihasilkan oleh mikroba golongan
aktinomisetes, dan biasanya dari jenis streptomises. Dalam perdagangan, ada beberapa
kelompok besar antibiotik yang memegang peranan seperti penisilin,sefalosporin, dan
tetrasiklin. Kelompok antibiotik lainnya adalah yang termasuk makrolida polien,
streptomisin, eritromisin, rifampisin, bleomisin dan antrasiklin yang mempengaruhi segi-segi
metabolisme sel yaitu dari replikasi DNA sampai kepada pembentukan protein. Sekurangnya

ada tiga saluran penerapan DNA rekombinan dalam produksi antibiotik: melalui
penyempurnaan produk, modifikasi invivo, dan anti- biotik hibrida
5.
Penyediaan Vaksin. Vaksin juga adalah suatu produk dalam bidang kesehatan yang
bisa didekati dengan rekayasa genetik. Kegiatan penelitian terhadap hepatitis B adalah
sebuah contoh. Melalui rekayasa genetik gen dari virus hepatitis B telah diklonakan, dan
strukturnya telah diketahui pada tingkat nukleotida, kendatipun virusnya belum dapat
dikembangkan di dalam sel jaringan biakan. Antigen permukaan yang diperlukan untuk
memproduksi vaksin ini adalah suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan, dalam arti sulit
mencapai modifikasi yang cocok dari antigen, dan itu tidak akan terjadi pada pembawa
prokariotik. Jalan untuk mengelakkan diri dari masalah yang muncul akibat penggunaan
sistem pembawa eukariotik, adalah dengan menggunakan ragi atau sel binatang sebagai
pembawa, yang dalam beberapa segi lebih menguntungkan
2.4.3 Rekayasa Genetika Dalam Aspek Industri
1.
Pembuatan sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara
ekonomi
Gen dari spesies bakteri yang berbeda dapat memetabolisme beberapa komponen minyak,
dapat disematkan dalam plasmid dan dapat digunakan untuk mengubah spesies bakteri
laut, yang kemudian dapat memetabolisme minyak untuk membersihkan tumpahan minyak
di laut. Beberapa perusahaan bioteknologi merencanakan bakteri yang dapat mensintesis
bahan kimia atau memecah limbah industri. Bakteri dirancang mampu memecah bahan
buangan secara lebih efisien, mengikat nitrogen (untuk meningkatkan fertilitas tanah) dan
membuat organisme yang dapat mengubah limbah biologi menjadi alkohol. Obat-obatan
dan molekul penting komersial lain dihasilkan dalam sel rekayasa genetik. Apabila
bioteknologi dalam bidang industri meliputi rekayasa bakteri untuk memecah limbah
berbahaya, penggunaan selulosa oleh yeast untuk menghasilkan glukosa dan alcohol untuk
bahan baker, penggunaan algae laut untuk bahan makanan dan substansi lain yang
bermanfaat. Saccharomyces cerevisiae yang telah dimodifikasi dengan plasmid yang berisi
dua gen selulase, yaitu endoglucanase dan exogluconase, dapat mengubah selulosa
menjadi glukosa. Glukosa kemudian diubah menjadi ethyl alcohol oleh yeast. Yeast ini
sekarang mampu mencerna kayu (selulosa) dan mengubah secara langsung menjadi
alkohol.
Kemajuan industri dan bergesernya pola hidup manusia telah melahirkan bencana sampah
plastik yang tidak dapat diuraikan oleh mikrobia. Hal ini menimbulkan masalah karena akan
mencemari lingkungan dan menurunkan ualitas lingungan hidup. Salah satu upaya yang
dilakukan dalam bioteknologi adalah menghasilkan biodegradable plastic yang dibuat dari
bahan dasar polyhydroxy butirate (PHB) yang dihasikan oleh mikrobia. Plastik tersebut jika
dibuang akan mengalami biodegradasi oleh mikrobia karena bahannya merupakan produk
alami yang dapat terurai secara alami pula. Perkembangan penelitian dalam bidang ini telah
mengupayakan pemindahan gen yang bertanggung jawab terhadap biosintesis PHB
bakteri Alcaligenes eitrophus kedalam tanamanArabidopsis thaliana. Tanaman transgenik
tersebut akan menghasilkan PHB yang banyak sehingga dapat diproduksi dalam skala besar
untuk menghasilkan bahan dasar plastik yang dapat terurai dan tidak akan mencemari
lingkungan.
2.4.4 Rekayasa Genetika Dalam Aspek Lingkungan

Rekayasa genetika ternyata sangat berpotensi untuk diaplikasikan dalam upaya


penyelamatan keanekaragaman hayati, bahkan dalam bioremidiasi lingkungan yang sudah
terlanjur rusak. Dewasa ini berbagai strain bakteri yang dapat digunakan untuk
membersihkan lingkungan dari bermacam-macam faktor pencemaran telah ditemukan dan
diproduksi dalam skala industri. Sebagai contoh, sejumlah pantai di salah satu negara
industri dilaporkan telah tercemari oleh metilmerkuri yang bersifat racun keras baik bagi
hewan maupun manusia meskipun dalam konsentrasi yang kecil sekali. Detoksifikasi logam
air raksa (merkuri) organik ini dilakukan menggunakan tanaman Arabidopsis
thaliana transgenik yang membawa gen bakteri tertentu yang dapat menghasilkan produk
untuk mendetoksifikasi air raksa organik.

2.5
Dampak Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak negatif
terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Adapun beberapa dampak yang diakibatkan oleh
rekayasa genetika adalah sebagai berikut.
(a). Dampak rekayasa genetika terhadap kesehatan
Satu-satunya gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh penggunaan hasil rekayasa
genetika adalah reaksi alergis. Hal ini terkait dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh
manusia.
(b). Dampak rekayasa genetika terhadap lingkungan
Dampak negatif dari rekayasa genetika terhadap lingkungan dapat muncul diakibatkan oleh
sisa-sisa hasil rekayasa yang tidak dibersihkan secara maksimal. Sebagai contoh, apabila
tanaman hasil rekayasa genetika tidak dibersihkan, maka dikhawatirkan dapat membunuh
jasad renik dalam tanah bekas penanaman tanaman tersebut.
(c). Dampak rekayasa genetika terhadap religi dan etika
Dampak negatif rekayasa genetika secara religi dan etika dikarenakan dalam rekayasa
genetika memungkinkan untuk dihasilkan suatu produk yang dalam tubuh manusia yang
sakit tidak dapat dihasilkan. Sebagai contoh, penggunaan obat insulin yang diproduksi dari
transplantasi sel pankreas babi ke sel bakteri, serta xenotransplatation yang
menggunakan katup jantung babi ditransplantasikan ke jantung manusia memberikan
kekhawatiran terhadap mereka yang beragama Islam.
2.5
Keuntungan dan Kerugian Rekayasa Genetika
Produk hasil rekayasa genetika memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan. Adapun
kelebihan dari produk rekayasa genetika adalah sebagai berikut.
1.
1. PRG yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.
PRG telah memberikan keuntungan kepada petani yaitu dengan menekan pengeluaran
biaya untuk pembelian pestisida. Selain itu, PRG juga mengurangi hilangnya pasar akibat
penolakan konsumen atas komoditas yang tercemar oleh pestisida, serta dapat menekan
rusaknya lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan dalam pengendalian
hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman B.t. corn dapat secara
nyata menekan aplikasi pestisida dan mengurangi hilangnya biaya pengendalian OPT.
1.
PRG toleran terhadap jenis herbisida.
PRG ini memberikan keuntungan biaya dalam mengatasi gulma karena petani tidak
memerlukan penggunaan herbisida dalam jumlah besar dengan berbagai jenis

1.

1.

1.

1.

1.

1.

1.

1.

2.

3.

4.

herbisida.Tanaman hasil rekayasa genetika tersebut resisten terhadap jenis


herbisida,contohnya strain kedele hasil rekayasa genetika Mosanto yang tidak memiliki efek
negatif apabila diaplikasikan herbisida jenis Roundup.
PRG tahan terhadap serangan penyakit tanaman.
Beberapa cendawan, virus, dan bakteri banyak menimbulkan kerugian. Para pakar
fitopatologi telah banyak menemukan beberapa varietas tanaman hasil rekayasa genetika
yang tahan terhadap seranagan penyakit.
PRG toleran terhadap dingin.
Gen antibeku dari ikan air dingin telah diintroduksi ke beberapa tanaman diantaranya
tembakau dan tomat, sehingga tanaman dapat mentolelir terhadap suhu dingin yang pada
tanaman biasa dapat mengakibatkan kerusakan pada proses perkecambahan.
PRG toleran terhadap kekeringan atau salinitas.
PRG ini mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang kering dan tanah yang mengandung
garam yang tinggi.
PRG sebagai tambahan nutrisi.
PRG dapat membantu menambah kekurangan jenis vitamin tertentu, seperti strain golden
rice yang merupakan varietas PRG padi yang ditambahkan vitamin A mampu mencegah
kebutaan pada penduduk di negara-negara berkembang.
PRG sebagai obat atau vaksin.
Vaksin yang disisipkan pada produk tanaman seperti pada tanaman tomat atau kentang
lebih memeudahkan dalam proses pengiriman dan penyimpanan, dibandingkan dengan
vaksin injeksi.
PRG sebagai phytoremediation.
PRG tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi polusi logam berat dalam tanah.
Produk rekayasa genetika selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan. Beberapa
kelompok pemerhati lingkungan, organisasi keagamaan, dan para ahli menganggap bahwa
pemanfaatan PRG akan menimbulkan bahaya terhadap lingkungan, kesehatan, dan tidak
ekonomis.
1. Bahaya lingkungan.
Bahaya lingkungan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika
antara lain :
Kematian organisme bukan target. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa
varietas jagung B.t. telah menyebabkan kematian yang tinggi pada monarc butterfly
caterpillars meskipun serangga ini tidak menyerang tanaman jagung. Hal ini karena pollen
jagung B.t terbawa oleh angin ke tanaman milkweed yang merupakan inang monarc
butterfly caterpillars.
Penurunan efektifitas dari pestisida. Penggunaan PRG tumbuhan yang tahan
terhadap hama secara terus menerus dapat menstimulir munculnya gen-gen baru hama
yang tahan/resisten terhadap beberapa jenis pestisida.
Transfer gen kepada spesies yang tidak menjadi target. Kasus munculnya
superweeds yang sangat resisten terhadap herbisida akibat penggunaan PRG (soybean
roundup). Hal ini terjadi karena adanya transfer gen dari PRG tumbuhan ke gulma.
2. Gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika
anatara lain:

1.
2.

PRG dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia, antara lain :


Alergi. Beberapa produk makanan yang berasal dari PRG menimbulkan dampak alergi
terhadap manusia. Intoduksi gen tertentu seperti gen kacag-kacangan ke dalam tanaman
kedelai dapat menimbulkan reaksi allergi yang berpengaruh terhadap ketahanan tubuh.
3.
Pengaruh lain yang belum diketahui. Pengaruh PRG terhadap kesehatan masih terus
diteliti, akan tetapi berdasarkan penomena yang telah terjadi seperti kasus cross polinasi
dan kasus alergisitas, para ahli berpendapat kemungkinan reaksi buruk yang lain dapat
terjadi.
1.

1.

2.

3.

4.
1.
2.

3.
5.

3. Pertimbangan ekonomi.
Penggunaan PRG dinilai tidak ekonomis dan merugikan petani, karena untuk menghasilkan
PRG membutuhkan biaya yang tinggi dan selanjutnya PRG ini biasanya dipatenkan oleh
penciptanya. Biaya penelitian dan hak paten PRG akan dibebankan kepada pengguna
(petani) melalui penjualan PRG yang mahal. Selain itu, PRG pada umumnya tidak
menghasilkan keturunan dan digunakan hanya satu kali tanam. Kondisi ini tentunya
menimbulkan ketergantungan yang tinggi petani terhadap benih PRG oleh perusahaan
penghasil PRG. Hasil penelitian oleh lembaga penelitian dan universitas terkemuka di AS
(1989) menyebutkan bahwa varietas kedelai PRG menghasilkan panen yang lebih rendah
dibandingkan dengan varietasnonPRG. PRG yang mengandung B.t ternyata tidak secara
nyata mengurangi penggunaan pestisida seperti yang terjadi pada penanaman kapas PRG di
Sulawesi Selatan, dan kasus kedelai RR yang ternyata tidak menurunkan pemakaian
herbisida. Kondisi di atas membuktikan bahwa penggunaan PRG menurunkan keuntungan
petani. Benbrook (1999) melaporkan bahwa petani di AS harus mengeluarkan biaya
tambahan 12 % karena menanam kedelai PRG.
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
Rekayasa genetika adalah suatu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk
mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang
diarahkan pada kebermanfaatan tertentu.
Rekayasa genetika pertama kali ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953.
Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa
genetika untuk pertama kalinya.
Prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan
segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk
membentuk rekombinan DNA baru.
Aplikasi rekayasa genetika dalam berbagai aspek kehidupan adalah sebagai berikut.
Dalam Aspek Pertanian, memanipulasi struktur genetika tanaman untuk
mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.
Dalam Aspek Kesehatan, rekayasa genetika dapat digunakan sebagai alat
penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA dan koreksi kelainan genetik yang potensial pada
hewan dan terapi gen.
Dalam Aspek Industri, rekayasa genetika dapat digunakan dalam pembuatan
sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara ekonomi.
Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak
negatif terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

6.

1.
2.
3.
4.

Rekayasa genetika dapat memberikan keuntungan dan kerugian bagi kehidupan.


Bioteknologi merupakan salah satu hasil dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi. Bioteknologi adalah pemanfaatan makhluk hidup untuk mengubah bahan menjadi
produk dan jasa, dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Bioteknologi ini meliputi
biologi molekuler, biokimia dan rekayasa genetika. Rekayasa genetika merupakan proses
dan teknik untuk menghasilkan produk dan jasa yang melibatkan pemanfaatan mikroba.
Rekayasa genetika merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi.
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan
manusia. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan teknikteknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau
mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Teknologi
rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya
dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa
genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Proses rekayasa genetika pertama kali
ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953. Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan
Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa genetika untuk pertama kalinya.
Prinsip dasar dalam rekayasa genetika adalah suatu proses penyematan segmen DNA dari
organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentuk
rekombinan DNA baru. Rekayasa genetika telah berperan dalam segala bidang yakni dalam
bidang kesehatan, pertanian dan juga industri. Rekayasa genetika juga memiliki keuntungan
dan kerugian serta memiliki dampak positif dan negatif terhadap lingkungan dan
masyarakat. Salah satu contoh hasil rekayasa genetika di bidang kesehatan yaitu
terciptanya hormon insulin hasil rekayasa genetika. Dengan adanya hormon insulin hasil
rekayasa genetika maka penyakit diabetes mellitus dapat diatasi.
Berdasarkan hal tersebut maka pada makalah ini akan diuraikan mengenai pengertian,
sejarah, prinsip dasar, aplikasi, dampak, serta keuntungan dan kerugian dari rekayasa
genetika.
2.1
Pengertian Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan
manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaaan hewan atau tanaman melalui seleksi
dalam populasi dan penerapan mutasi buatan tanpa target dapat dimasukkan ke dalam
rekayasa genetika. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan
teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau
mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Obyek
rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi,
hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.. Rekayasa genetika
merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi, di mana terdapat keterlibatan banyak
proses di dalamnya yang terdiri dari:
Tahap isolasi gen.
Modifikasi gen sehingga berfungsi sesuai yang diinginkan.
Mempersiapkan gen untuk disisipkan ke dalam organisme baru.
Kemudian pengembangan transgenik atau GMOs.
Teknologi rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen
lainnya dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa

genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Misalnya gen pankreas babi
ditransplantasikan ke bakteri Escheria coli sehingga dapat menghasilkan insulin dalam
jumlah yang besar. Sebaliknya gen bakteri yang menghasilkan toksin pembunuh hama
ditransplantasikan ke tanaman jagung maka akan diperoleh jagung transgenik yang tahan
hama tanaman. Domba Dolly dihasilkan dari hasil transplantasi gen atau gen yang satu
dipindahkan ke gen yang lain. Demikian pula gen tomat ditransplantasikan ke ikan
transgenik sehingga ikan menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan.
Rekayasa genetika dalam bibit pangan nabati telah berkembang dengan luas begitu juga
produk rekayasa genetika pada hewan misalnya produksi hormon untuk peningkatan
kuantitas maupun kualitas dari pangan hewani. Dengan adanya produk-produk rekayasa
genetika tersebut dapat dikatakan bahwa produk rekayasa genetika khususnya bahan
pangan mengintroduksi unsur toksis, bahan-bahan asing dan berbagai sifat yang belum
dapat dipastikan dan berbagai karakteristik lainnya.
2.2
Sejarah Perkembangan Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu
rekayasa(keteknikan). Hal ini muncul dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkapi
material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Rekayasa ini muncul
ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan gen.
Penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian
dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang
adalah suatu polimer bervariasi. Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian
penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari
penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknikPCR, transformasi genetik,
teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah
(seperti Tilling). Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang
biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting dalam
kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.
Pada awalnya, proses rekayasa genetika ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953.
Rekayasa genetika merupakan suatu rangkaian metode yang canggih dalam perincian akan
tetapi sederhana dalam hal prinsip yang memungkinkan untuk dilakukan pengambilan gen
atau sekelompok gen dari sebuah sel dan mencangkokkan gen atau sekelompok gen
tersebut pada sel lain dimana gen atau sekelompok gen tersebut mengikat diri mereka
dengan gen atau sekelompok gen yang sudah ada dan bersama-sama mengalami reaksi
biokimiawi. Pada dasarnya rekayasa genetika memanipulasi DNA (asam deoksiribosenuklat).
Gen atau pembawa sifat yang bisa diturunkan dalam mahkluk terdiri dari rantai DNA.
Rekayasa genetika menyeleksi gen DNA dari suatu organisme ke organisme lainnya. Pada
awalnya, perkembangan tersebut hanya antara satu jenis mahkluk hidup, tetapi kini
perkembangan sudah sedemikian maju sehingga bisa dimungkinkan untuk memindahkan
gen dari satu jenis mahkluk hidup ke mahkluk hidup lainnya yang berbeda jenisnya, sebagai
contohnya adalah gen ikan yang hidup di daerah dingin dipindahkan ke dalam tomat untuk
mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.
Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa
genetika untuk pertama kalinya. Kemudian tahun 1981, pertama kali di kembangkan tikus
dan lalat buah produk rekayasa genetika, menyusul pada tahun 1985 Plant Genetic Systems
(Ghent, Belgium), sebuah perusahaan yang didirikan oleh Marc Van Montagu dan Jeff Schell,

merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan tanaman tembakau toleran


terhadap hama dengan mengambil protein insektisida dari bakteri Bacillus thuringiensis.
2.3
Prinsip- prinsip Dasar Rekayasa Genetika
Zaman rekayasa genetika dimulai ketika Dr. Paul Berg dari Stranford University di California
USA dan usaha sekelompok peneliti lainnya, yaitu Dr Stanley Cohen dan Dr Annie Chang dari
Stranford University serta Dr Herbert Boyer dan Dr Robert Helling dari University of
California di San Fransisco menemukan bahwa bahan-bahan tertentu yang dinamakan enzim
pembatas mampu bertindak sebagai gunting biologi, yaitu dapat mengenal dan kemudian
secara kimia memotong tempat-tempat khusus sepanjang molekul DNA. Enzim-enzim yang
mampu menggunting suatu gen dari DNA suatu makhluk tersebut ternyata dapat pula
memotong tempat-tempat serupa dalam molekul DNA dari mahkluk berkaitan.
Sebuah penemuan penting lainnya ialah suatu enzim disebut ligase, membiarkan suatu gen
yang digunting dari suatu molekul DNA ditempelkan pada tempat serupa dalam DNA
mahkluk tak berkaitan. Hibrid yang terbentuk dari cara ini disebut DNA rekombinan. Selama
ini lebih dari 200 enzim pembatas telah ditemukan, dan dengan demikian tersedialah
beraneka ragam gunting biologi untuk memotong gen-gen yang diinginkan dan
mencangkokkannya ke rumah-rumah baru. Para ahli genetika kini dimungkinkan untuk
membongkar sel-sel bakteri, virus, hewan, dan tumbuhan untuk diambil DNA-nya dengan
menggunakan enzim-enzim pembatas. Akan tetapi mengambil DNA dari suatu mahkluk dan
memasukkannya ke dalam makhluk lain bukanlah sekedar pekerjaan memotong dan
menempel. Suatu gen harus diikutsertakan untuk dipindahkan ke suatu pengangkut khusus,
yaitu vektor. Sekelompok vektor yang bermanfaat adalah plasmid-plasmid, yaitu ikalanikalan DNA kecil yang terdapat dalam sel bakteri diluar kromosomnya. Sebuah plasmid
dapat diambil dari bakteri, ikalan dibuka dengan enzim pemotong, fragmen DNA baru dapat
dimasukkan dan plasmid itu dikembalikan ke bakteri. Selanjutnya setiap kali bakteri itu
membelah diri menjadi dua, dan plastid rekombinan juga membelah diri. Dengan demikian
DNA rekombinan itu terus membuat klon-klon DNA dari dirinya.
Secara singkat prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan
segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk
membentuk rekombinan DNA baru. Sebagai sel inang molekul baru ini dapat berupa sel
prokariotik atau sel eukariotik tergantung dari titik awal replikasi yang ada pada vektor.
Enzim endonuklease restriksi memungkinkan pemotongan rantai DNA, yang menghasilkan
ujung-ujung bersifat lekat atau kohesif dan dapat digabungkan lagi dengan perantaraan
enzim ligase DNA.
Teknologi DNA Rekombinan
Bersama dengan beberapa metode manipulasi biokimiawi dan biologi lainnya, metodametoda pembelahan dan penggabungan molekul-molekul DNA ini dikembangkan menjadi
suatu bioteknologi yang dinamakan Teknologi DNA Rekombinan. Potensinya pertama kali
ditunjukkan oleh Stanley Cohen dari Universitas Stanfordd bersama Herbert Boyer dari ECSF
(1972).
Langkah-langkah utama dalam Teknologi DNA Rekombinan ini adalah:
1.
Penyiapan gen yang akan diklon dan vektor untuk kloning Gen, berupa fragmen DNA
yang akan diklon dapat disiapkan melalui beberapa cara:
1.
Jika fragmen DNA yang dimaksud dapat diidentifikasi dan dikarakterisasi,
fragmen DNA tersebut dapat langsung dipakai.

2.

3.
4.

1.
2.

Kadang-kadang fragmen DNA yang diinginkan sulit diidentifikasi, tetapi


membawa fungsi yang dapat diseleksi dan diungkapkan dalam sel inang. Dalam kasus ini
dapat dilakukancloning shotgun (senapan tabor). Klon yang tepat dapat diseleksi dengan uji
biologik.
Dalam kasus-kasus tertentu hanya mRNA yang dapat diperoleh. DNA kopi
(cDNA) dapat direkontruksi dari mrna dengan enzim transcriptase balik.
Jika eksperimen dimulai dengan data rangkaian asam amino dari proteinnya,
suatu gen sintetik dapat direkontruksi menurut aturan kode genetik dengan menggunakan
metode-metode sintesa DNA.
Kebanyakan segmen DNA tidak memiliki kemampuan bawaan untuk mereplikasi sendiri.
Bahkan suatu segmen DNA yang dapat mereplikasi dalam sel inang aslinya tidak selalu
memiliki syarat-syarat genetik spesifik yang diperlukan untuk mereplikasi dalam lingkungan
yang berbeda. Untuk memproduksinya dalam sintesis biologi ia harus diintegrasi ke dalam
molekul DNA yang mengandung gen-gen yang mengkode fungsi replikasi dalam inang yang
sesuai. Molekul yang demikian ini disebut vektor.
Untuk kloning dalam berbagai organisme telah dikembangkan sistem-sistem inang vektor
tertentu yang berbeda-berbeda. Ada empat macam vector yang telah dikembangkan untuk
kloning DNA dalamEscherichia coli, yaitu plasmid, fag, kosmid, dan plasmid. Plasmid adalah
molekul-molekul DNA lingkar kecil yang dapat mereplikasi sendiri dalam sel bakteri. Selain
mengandung gen perlu untuk replikais, kebanyakkan plasmid mengandung juga satu gen
yang mengkode suatu enzim yang berguna untuk inangnya, misalnya menggangu aksi
antibiotik spesifik. Gen ini disebut faktor R (resistansi) yang memberi pada sel inangnya
ketahanan terhadap antibiotik tersebut. Sifat ini sangat berguna untuk menyeleksi klon
yang diinginkan. Karena itu adalah penting bahwa plasmid dapat dibelah oleh enzim restriksi
tanpa menggangu kemampuan plasmid untuk mereolikasi dan atau untuk memberi
resistensi antibiotik.
Vektor-vektor baru telah dikonstruksi untuk meningkatkan frekuensi pemasukan molekul
DNA rekombinan dan memudahkan penyeleksian bakteri yang mengandungnya. Sebagai
contoh plasmid Pbr 322 terdiri dari 4326 nukleotida dan mengandung gen-gen yang
teresistansi terhadap tetrasiklin dan ampisilin. Vektor lainnya adalah fag. Sebagian besar
DNA-nya tidak penting untuk infeksi dan dapat diganti dengan DNA asing. Mutan-mutan fag
yang dirancang untuk kloning DNA telah dikonstruksi. Hampir semua partikel-partikel fag
yang dibentuk akan mengandung DNA asing yang disisipkan. Kelebihan penggunaan virionvirion ini sebagai vektor ialah bahwa virion akan memasuki bakteri dengan frekuensi lebih
tinggi dari plasmid. Molekul-molekul DNA rekombinan dapat dikemasin vitro untuk
membawa virion-virion yang infektif.
Kosmid adalah vektor lain yang dikonstruksikan dari plasmid normal dan tempat cos (ujung
kohesif) dari fag . Plasmid normal diurutkan dari fag dan plasmid Col E1.
Pembentukan Molekul DNA Rekombinan
Pemasukan Molekul DNA Rekombinan Ke Sel Inang
Kebanyakan sel bakteri prokariot dan eukariot mengambil molekul-molekul DNA telanjang
dari medium. Chang, Cohen dan Hsu (1972) menemukam bahwa jika membran
sel E.coli dibuat permeabel dengan perlakuan Kalsium klorida, molekul DNA rekombinan
dapat dimasukkan. Efisiensi pengambilan sangat rendah, sekitar 1.1, tetapi sel cukup dapat

ditransformasi dalam kondisi eksperimen yang tepat. Efisiensi pemasukan akan lebih besar
jika sel-sel target ditransfeksi dengan virion-virion yang telah dirakit ulang.
1.
Seleksi Klon Yang Mengandung Molekul DNA Rekombinan
Walaupun frekuensi pemasukan molekul DNA rekombinan ke dalam sel inang sangat rendah,
klon sel-sel yang mengandung molekul rDNA dapat diseleksi dengan mudah berdasarkan
adanya vektor atau gen yang disisipkan. Misalnya sel yang mengandung faktor R akan tetap
hidup dan berlipat ganda dalam medium yang mengandung antibiotik yang sesuai,
sedangkan sel-sel lainnya mati. Pendekatan lain adalah menentukan sel-sel mana yang
menambat RNA komplementer terhadap gen yang diamati. Klon-klon yang mengandung
rDNA stabil untuk beberapa ratus generasi.
Penelitian genetika bergantung pada satu prinsip pokok, yaitu bahwa organisme-organisme
memiliki persamaan dan perbedaan daripada kedua induknya. Informasi genetik dari
organisme dibawa dalam molekul-molekul yang disebut asam nukleat. Semua organisme
yang tubuhnya terdiri atas sel-sel menggunakan asam dioksiribonukleat (DNA) untuk
menyimpan informasi genetik. Beberapa tipe asam ribonukleat (RNA) memindahkan
informasi genetik tadi dan membuat protein yang sangat dibutuhkan sel-sel hidup.
Sebaliknya, beberapa mikroba, virus dan viroid menggunakan RNA untuk menyimpan
informasi genentik.
2.4
Aplikasi Rekayasa Genetika dalam Berbagai Aspek Kehidupan
2.4.1 Rekayasa Genetika dalam Aspek Pertanian
Pada dasarnya rekayasa genetika di bidang pertanian bertujuan untuk menciptakan
ketahanan pangan suatu negara dengan cara meningkatkan produksi, kualitas, dan upaya
penanganan pascapanen serta prosesing hasil pertanian. Peningkatkan produksi pangan
melalui revolusi gen ini ternyata memperlihatkan hasil yang jauh melampaui produksi
pangan yang dicapai dalam era revolusi hijau. Di samping itu, kualitas gizi serta daya
simpan produk pertanian juga dapat ditingkatkan sehingga secara ekonomi memberikan
keuntungan yang cukup nyata. Adapun dampak positif yang sebenarnya diharapkan akan
menyertai penemuan produk pangan hasil rekayasa genetika adalah terciptanya
keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.
Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertanian berkembang pesat dengan
dimungkinkannya transfer gen asing ke dalam tanaman dengan bantuan
bakteri Agrobacterium tumefaciens. Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah
tanaman transgenik seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan,
misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama dan penyakit
tertentu.
1.
Pemuliaan Tanaman
Pada dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk
menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama,
yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun
rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan
kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.
Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan
dengan mata tertutup sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di
samping sifat yang diharapkan. Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan
gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi

dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan dikembangkannya metode-metode


DNA rekombinan.
2.
Varietas baru
Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik
tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua
langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam
jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut
ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi.
Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan
sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada
bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara
koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di
antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifatsifat seperti hasil produksi tanaman.
Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu
yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi
tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian
menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor
yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun,
tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel
daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya.
Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran.
Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ
tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan,
kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan
kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih
unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini.
2.4.2 Rekayasa Genetika dalam Aspek Kesehatan
1.
Sebagai alat penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA
Teknologi rekombinasi DNA menjadi alat penelitian yang essensial pada genetika molekul
modern. Mutasi dihasilkan dalam klon gen dan memungkinkan mengisolasi suatu gen dan
memasukkan kembali dalam sel hidup atau bahkan dalam sel germinal. Disamping
menghemat waktu dan tenaga, mutasi genetik mampu mengkonstruksi mutan yang secara
praktis tidak dapat dibuat dengan berbagai cara.
Perkembangan teknik gene cloning pada tahun 1970-an memberikan motivasi kuat bagi
dunia riset untuk mempelajari gen dan aktivitasnya dengan teknik atau prosedur kedua
terjadi pada akhir tahun 1980-an dengan ditemukannya teknologi PCR (Polymerase Chain
Reaction. Dengan teknik ini kita dapat memperbanyak DNA dalam tabung reaksi sehinga
memberikan kemudahan aplikasi di berbagai bidang, mialnya mengamplifikasi gen tertentu
untuk sequencing, cloning, fingerprinting dan mendeteksi pathogen. Ditemukannya
enzim Taq polymerase pada bakteri termofilik (Thermus aquaticus) yang dapat bekerja pada
suhu tinggi (960C) merupakan dasar teknik PCR karena enzim ini dapat mensintesis molekul
DNA dalam tabung reaksi dengan cara mengatur temperature dari alat yang
disebut thermocycler.

1.
2.

3.

4.

Salah satu aplikasi PCR yang mencengangkan adalah dalam bidang kedokteran forensik.
Teknik PCR dapat digunakan untuk mengamplifikais DNA dari suatu sampel yang jumlahnya
sangat sedikit, misalnya sehelai rambut, cairan tubuh seperti sperma atau darah bahkan
dari tulang manusia yang sudah berumur ratusan tahun. Hasil amplifikasi tersebut
selanjutnya dapat dianalisis dengan DNAfingerprinting (sidik jari DNA) sehingga dapat
dijadikan sebagai bukti dalam menentukan pelaku kejahatan, misalnya perkosaan.
Teknik PCR juga dapat digunakan untuk mengungkap keanekaragaman genetik mikrobia
tanpa harus melakukan kultivasi terlebih dahulu. Hal ini membawa konsekuensi yang
penting dalam ekologi mikrobia karena aktivitas populasi mikrobia dalam suatu habitat
dapat dipantau melalui DNAfingerprinting dan sequencing terhadap DNA amplikon yang
diperoleh dari sample tanah atau air.
Mempercepat Produksi Zat anti Kanker. Teknik kultivasi bioreaktor ini juga telah
berhasil dilakukan untuk memproduksi zat anti kanker dari beberapa spesies tanaman Taxus.
Menghasilkan Anti Bodi. Prinsip rekayasa genetika merupakan terobosan penting di
dalam pembuatan serangan virus, bakteri dan bahan-bahan protein lainnya. Anti-bodi pada
umumnya diperoleh dari darah binatang, tetapi sekarang dapat dibuat melalui cara melebur
sel-sel tumor yang potensial menghasilkan antibodi dengan sel-sel yang benar-benar bisa
membuat sebuah antibodi yang penting. Sel hibrida kemudian melanjutkan pembelahan
dan membentuk sebuah klona sel-sel yang berkembang cepat (seperti layaknya sel-sel
tumor) menghasilkan antibodi yang dibutuhkan. Teknik hibrida ini menghasilkan antibodi
monoklonal. Antibodi monoklonal ini sangat berguna untuk mengembangkan produk
diagnostik, immunoterapetik dan uji kehamilan
Dalam bidang kesehatan, industri farmasi adalah yang pertama kali memperkenalkan
potensi bioteknologi termasuk rekayasa genetik, dan telah membuka pendekatan bans
dalam pengembangan obat. Rekayasa genetilk mempunyai dampak terhadap perbaikan dan
keamanan produk, dan memberikan pemecahan teknis dalam penyebarluasan pemakaian
obat dengan bahan baku yang terbatas. Misalnya, sejak tahun 1982 telah dipasarkan insulin
sebagai hasil pemanfaatan rekayasa genetik dalam industri. Dengan mengambil bagian
yang mengatur pembuatan insulin pada sel-sel Langerhans manusia, dimasukkan ke dalam
kuman E.Coli. Kuman ini dapat menghasilkan insulin yang sama dengan insulin manusia.
Pengembangan Antibiotik. Pada segi lain penerapan DNA rekombinan untuk
pengobatan terbuka bagi pengembangan antibiotik. Kepentingan untuk pengembangan
antibiotik dengan teknik ini didukung oleh kenyataan nilai penjualan dan keuntungan
perdagangan antibiotik yang menduduki tempat teratas dewasa ini. Suatu hal yang perlu
dicatat adalah, antibiotik bukan merupakan produk gen primer, tetapi lebih merupakan
produk metabolit sekunder, dimana pembentukan antibiotik dalam sel melalui reaksi yang
dikatalisir oleh enzim protein sebagai produk gen primer. Obat ini memiliki struktur kimia
yang berbeda satu dengan lain dan memiliki kesamaan aksi sebagai penghambat
pertumbuhan bakteri. Pada umumnya antibiotik dihasilkan oleh mikroba golongan
aktinomisetes, dan biasanya dari jenis streptomises. Dalam perdagangan, ada beberapa
kelompok besar antibiotik yang memegang peranan seperti penisilin,sefalosporin, dan
tetrasiklin. Kelompok antibiotik lainnya adalah yang termasuk makrolida polien,
streptomisin, eritromisin, rifampisin, bleomisin dan antrasiklin yang mempengaruhi segi-segi
metabolisme sel yaitu dari replikasi DNA sampai kepada pembentukan protein. Sekurangnya

ada tiga saluran penerapan DNA rekombinan dalam produksi antibiotik: melalui
penyempurnaan produk, modifikasi invivo, dan anti- biotik hibrida
5.
Penyediaan Vaksin. Vaksin juga adalah suatu produk dalam bidang kesehatan yang
bisa didekati dengan rekayasa genetik. Kegiatan penelitian terhadap hepatitis B adalah
sebuah contoh. Melalui rekayasa genetik gen dari virus hepatitis B telah diklonakan, dan
strukturnya telah diketahui pada tingkat nukleotida, kendatipun virusnya belum dapat
dikembangkan di dalam sel jaringan biakan. Antigen permukaan yang diperlukan untuk
memproduksi vaksin ini adalah suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan, dalam arti sulit
mencapai modifikasi yang cocok dari antigen, dan itu tidak akan terjadi pada pembawa
prokariotik. Jalan untuk mengelakkan diri dari masalah yang muncul akibat penggunaan
sistem pembawa eukariotik, adalah dengan menggunakan ragi atau sel binatang sebagai
pembawa, yang dalam beberapa segi lebih menguntungkan
2.4.3 Rekayasa Genetika Dalam Aspek Industri
1.
Pembuatan sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara
ekonomi
Gen dari spesies bakteri yang berbeda dapat memetabolisme beberapa komponen minyak,
dapat disematkan dalam plasmid dan dapat digunakan untuk mengubah spesies bakteri
laut, yang kemudian dapat memetabolisme minyak untuk membersihkan tumpahan minyak
di laut. Beberapa perusahaan bioteknologi merencanakan bakteri yang dapat mensintesis
bahan kimia atau memecah limbah industri. Bakteri dirancang mampu memecah bahan
buangan secara lebih efisien, mengikat nitrogen (untuk meningkatkan fertilitas tanah) dan
membuat organisme yang dapat mengubah limbah biologi menjadi alkohol. Obat-obatan
dan molekul penting komersial lain dihasilkan dalam sel rekayasa genetik. Apabila
bioteknologi dalam bidang industri meliputi rekayasa bakteri untuk memecah limbah
berbahaya, penggunaan selulosa oleh yeast untuk menghasilkan glukosa dan alcohol untuk
bahan baker, penggunaan algae laut untuk bahan makanan dan substansi lain yang
bermanfaat. Saccharomyces cerevisiae yang telah dimodifikasi dengan plasmid yang berisi
dua gen selulase, yaitu endoglucanase dan exogluconase, dapat mengubah selulosa
menjadi glukosa. Glukosa kemudian diubah menjadi ethyl alcohol oleh yeast. Yeast ini
sekarang mampu mencerna kayu (selulosa) dan mengubah secara langsung menjadi
alkohol.
Kemajuan industri dan bergesernya pola hidup manusia telah melahirkan bencana sampah
plastik yang tidak dapat diuraikan oleh mikrobia. Hal ini menimbulkan masalah karena akan
mencemari lingkungan dan menurunkan ualitas lingungan hidup. Salah satu upaya yang
dilakukan dalam bioteknologi adalah menghasilkan biodegradable plastic yang dibuat dari
bahan dasar polyhydroxy butirate (PHB) yang dihasikan oleh mikrobia. Plastik tersebut jika
dibuang akan mengalami biodegradasi oleh mikrobia karena bahannya merupakan produk
alami yang dapat terurai secara alami pula. Perkembangan penelitian dalam bidang ini telah
mengupayakan pemindahan gen yang bertanggung jawab terhadap biosintesis PHB
bakteri Alcaligenes eitrophus kedalam tanamanArabidopsis thaliana. Tanaman transgenik
tersebut akan menghasilkan PHB yang banyak sehingga dapat diproduksi dalam skala besar
untuk menghasilkan bahan dasar plastik yang dapat terurai dan tidak akan mencemari
lingkungan.
2.4.4 Rekayasa Genetika Dalam Aspek Lingkungan

Rekayasa genetika ternyata sangat berpotensi untuk diaplikasikan dalam upaya


penyelamatan keanekaragaman hayati, bahkan dalam bioremidiasi lingkungan yang sudah
terlanjur rusak. Dewasa ini berbagai strain bakteri yang dapat digunakan untuk
membersihkan lingkungan dari bermacam-macam faktor pencemaran telah ditemukan dan
diproduksi dalam skala industri. Sebagai contoh, sejumlah pantai di salah satu negara
industri dilaporkan telah tercemari oleh metilmerkuri yang bersifat racun keras baik bagi
hewan maupun manusia meskipun dalam konsentrasi yang kecil sekali. Detoksifikasi logam
air raksa (merkuri) organik ini dilakukan menggunakan tanaman Arabidopsis
thaliana transgenik yang membawa gen bakteri tertentu yang dapat menghasilkan produk
untuk mendetoksifikasi air raksa organik.

2.5
Dampak Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak negatif
terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Adapun beberapa dampak yang diakibatkan oleh
rekayasa genetika adalah sebagai berikut.
(a). Dampak rekayasa genetika terhadap kesehatan
Satu-satunya gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh penggunaan hasil rekayasa
genetika adalah reaksi alergis. Hal ini terkait dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh
manusia.
(b). Dampak rekayasa genetika terhadap lingkungan
Dampak negatif dari rekayasa genetika terhadap lingkungan dapat muncul diakibatkan oleh
sisa-sisa hasil rekayasa yang tidak dibersihkan secara maksimal. Sebagai contoh, apabila
tanaman hasil rekayasa genetika tidak dibersihkan, maka dikhawatirkan dapat membunuh
jasad renik dalam tanah bekas penanaman tanaman tersebut.
(c). Dampak rekayasa genetika terhadap religi dan etika
Dampak negatif rekayasa genetika secara religi dan etika dikarenakan dalam rekayasa
genetika memungkinkan untuk dihasilkan suatu produk yang dalam tubuh manusia yang
sakit tidak dapat dihasilkan. Sebagai contoh, penggunaan obat insulin yang diproduksi dari
transplantasi sel pankreas babi ke sel bakteri, serta xenotransplatation yang
menggunakan katup jantung babi ditransplantasikan ke jantung manusia memberikan
kekhawatiran terhadap mereka yang beragama Islam.
2.5
Keuntungan dan Kerugian Rekayasa Genetika
Produk hasil rekayasa genetika memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan. Adapun
kelebihan dari produk rekayasa genetika adalah sebagai berikut.
1.
1. PRG yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.
PRG telah memberikan keuntungan kepada petani yaitu dengan menekan pengeluaran
biaya untuk pembelian pestisida. Selain itu, PRG juga mengurangi hilangnya pasar akibat
penolakan konsumen atas komoditas yang tercemar oleh pestisida, serta dapat menekan
rusaknya lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan dalam pengendalian
hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman B.t. corn dapat secara
nyata menekan aplikasi pestisida dan mengurangi hilangnya biaya pengendalian OPT.
1.
PRG toleran terhadap jenis herbisida.
PRG ini memberikan keuntungan biaya dalam mengatasi gulma karena petani tidak
memerlukan penggunaan herbisida dalam jumlah besar dengan berbagai jenis

1.

1.

1.

1.

1.

1.

1.

1.

2.

3.

4.

herbisida.Tanaman hasil rekayasa genetika tersebut resisten terhadap jenis


herbisida,contohnya strain kedele hasil rekayasa genetika Mosanto yang tidak memiliki efek
negatif apabila diaplikasikan herbisida jenis Roundup.
PRG tahan terhadap serangan penyakit tanaman.
Beberapa cendawan, virus, dan bakteri banyak menimbulkan kerugian. Para pakar
fitopatologi telah banyak menemukan beberapa varietas tanaman hasil rekayasa genetika
yang tahan terhadap seranagan penyakit.
PRG toleran terhadap dingin.
Gen antibeku dari ikan air dingin telah diintroduksi ke beberapa tanaman diantaranya
tembakau dan tomat, sehingga tanaman dapat mentolelir terhadap suhu dingin yang pada
tanaman biasa dapat mengakibatkan kerusakan pada proses perkecambahan.
PRG toleran terhadap kekeringan atau salinitas.
PRG ini mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang kering dan tanah yang mengandung
garam yang tinggi.
PRG sebagai tambahan nutrisi.
PRG dapat membantu menambah kekurangan jenis vitamin tertentu, seperti strain golden
rice yang merupakan varietas PRG padi yang ditambahkan vitamin A mampu mencegah
kebutaan pada penduduk di negara-negara berkembang.
PRG sebagai obat atau vaksin.
Vaksin yang disisipkan pada produk tanaman seperti pada tanaman tomat atau kentang
lebih memeudahkan dalam proses pengiriman dan penyimpanan, dibandingkan dengan
vaksin injeksi.
PRG sebagai phytoremediation.
PRG tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi polusi logam berat dalam tanah.
Produk rekayasa genetika selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan. Beberapa
kelompok pemerhati lingkungan, organisasi keagamaan, dan para ahli menganggap bahwa
pemanfaatan PRG akan menimbulkan bahaya terhadap lingkungan, kesehatan, dan tidak
ekonomis.
1. Bahaya lingkungan.
Bahaya lingkungan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika
antara lain :
Kematian organisme bukan target. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa
varietas jagung B.t. telah menyebabkan kematian yang tinggi pada monarc butterfly
caterpillars meskipun serangga ini tidak menyerang tanaman jagung. Hal ini karena pollen
jagung B.t terbawa oleh angin ke tanaman milkweed yang merupakan inang monarc
butterfly caterpillars.
Penurunan efektifitas dari pestisida. Penggunaan PRG tumbuhan yang tahan
terhadap hama secara terus menerus dapat menstimulir munculnya gen-gen baru hama
yang tahan/resisten terhadap beberapa jenis pestisida.
Transfer gen kepada spesies yang tidak menjadi target. Kasus munculnya
superweeds yang sangat resisten terhadap herbisida akibat penggunaan PRG (soybean
roundup). Hal ini terjadi karena adanya transfer gen dari PRG tumbuhan ke gulma.
2. Gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika
anatara lain:

1.
2.

PRG dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia, antara lain :


Alergi. Beberapa produk makanan yang berasal dari PRG menimbulkan dampak alergi
terhadap manusia. Intoduksi gen tertentu seperti gen kacag-kacangan ke dalam tanaman
kedelai dapat menimbulkan reaksi allergi yang berpengaruh terhadap ketahanan tubuh.
3.
Pengaruh lain yang belum diketahui. Pengaruh PRG terhadap kesehatan masih terus
diteliti, akan tetapi berdasarkan penomena yang telah terjadi seperti kasus cross polinasi
dan kasus alergisitas, para ahli berpendapat kemungkinan reaksi buruk yang lain dapat
terjadi.
1.

1.

2.

3.

4.
1.
2.

3.
5.

3. Pertimbangan ekonomi.
Penggunaan PRG dinilai tidak ekonomis dan merugikan petani, karena untuk menghasilkan
PRG membutuhkan biaya yang tinggi dan selanjutnya PRG ini biasanya dipatenkan oleh
penciptanya. Biaya penelitian dan hak paten PRG akan dibebankan kepada pengguna
(petani) melalui penjualan PRG yang mahal. Selain itu, PRG pada umumnya tidak
menghasilkan keturunan dan digunakan hanya satu kali tanam. Kondisi ini tentunya
menimbulkan ketergantungan yang tinggi petani terhadap benih PRG oleh perusahaan
penghasil PRG. Hasil penelitian oleh lembaga penelitian dan universitas terkemuka di AS
(1989) menyebutkan bahwa varietas kedelai PRG menghasilkan panen yang lebih rendah
dibandingkan dengan varietasnonPRG. PRG yang mengandung B.t ternyata tidak secara
nyata mengurangi penggunaan pestisida seperti yang terjadi pada penanaman kapas PRG di
Sulawesi Selatan, dan kasus kedelai RR yang ternyata tidak menurunkan pemakaian
herbisida. Kondisi di atas membuktikan bahwa penggunaan PRG menurunkan keuntungan
petani. Benbrook (1999) melaporkan bahwa petani di AS harus mengeluarkan biaya
tambahan 12 % karena menanam kedelai PRG.
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
Rekayasa genetika adalah suatu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk
mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang
diarahkan pada kebermanfaatan tertentu.
Rekayasa genetika pertama kali ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953.
Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa
genetika untuk pertama kalinya.
Prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan
segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk
membentuk rekombinan DNA baru.
Aplikasi rekayasa genetika dalam berbagai aspek kehidupan adalah sebagai berikut.
Dalam Aspek Pertanian, memanipulasi struktur genetika tanaman untuk
mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.
Dalam Aspek Kesehatan, rekayasa genetika dapat digunakan sebagai alat
penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA dan koreksi kelainan genetik yang potensial pada
hewan dan terapi gen.
Dalam Aspek Industri, rekayasa genetika dapat digunakan dalam pembuatan
sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara ekonomi.
Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak
negatif terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

6.

Rekayasa genetika dapat memberikan keuntungan dan kerugian bagi kehidupan.