Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembinaan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus bangsa dan pembangunan nasional
A. Latar Belakang
Pembinaan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus
bangsa
dan
pembangunan
nasional
dengan
memberikan
bekal
ketrampilan,
kepemimpinan,
kesegaran
jasmani,
daya
kreasi,
patriotisme,
idealisme,
kepribadian dan budi pekerti luhur, tetapi suatu kenyataan bahwa selama ini
agresivitas
remaja
yang
muncul
dengan
kualitas dan
kuantitas yang
selalu
meningkat.
Maraknya tingkah laku agresif akhir-akhir ini yang dilakukan oleh remaja
merupakan sebuah kajian yang menarik untuk dibahas. Perkelahian antar pelajar
yang pada umumnya masih remaja sangat merugikan dan perlu upaya untuk
mencari jalan keluar dari masalah ini atau setidaknya mengurangi.
Pada tahun 1960 an, agresivitas remaja nampak dengan gejala pemunculan
cross boys dan cross girls yang pada waktu itu dipandang sebagai jenis perilaku
melanggar nilai dan norma yang sedang berlaku. Pada tahun 1980an, agresivitas
remaja menunjukkan gejala pengedaran dan penggunaan narkotika yang semakin

meningkat,

pelanggaran

norma susila, penggunaan

kekerasan, penganiayaan,

pengeroyokan, dan perkelahian antar kelompok. Tahun 2000an sampai saat ini

gejala tersebut kelihatan semakin meningkat, baik dilihat dari segi intensitas dan

kualitasnya,

seperti

perampokan,

pemerkosaan

,

dan

pembunuhan.

Masalah

agresivitas

remaja

yang

merupakan

gejala

sosial

yang

menonjol

saat

ini,

mengundang perhatian berbagai pihak seperti orang tua, pendidik, masyarakat dan

lembaga-lembaga pemerintah (Djalali dalam Farida, 2010).

Cole (dalam Lailunnafar, 2010) mengamati bahwa agresivitas pada anak dan adanya perilaku kekerasan adalah salah
Cole (dalam Lailunnafar, 2010) mengamati bahwa agresivitas pada anak
dan adanya perilaku kekerasan adalah salah satu masalah yang paling menantang
untuk dihadapi pendidik dan profesional kesehatan mental. Tidak mengherankan
bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini banyak penelitian dan tulisan telah
diarahkan secara langsung ke ruang lingkup kekerasan serius yang terjadi di
sekolah dan perilaku yang mengganggu ( Carter, Janzen, dan Patterson dalam
Sears, dkk, 2008).
Untuk memperoleh data awal mengenai agresivitas, penulis membagikan
Buss-Perry Aggression questionnaire kepada siswa kelas VIII G, yang hasilnya
sebagai berikut :
Tabel 1.1
Tabel hasil Buss-Perry Aggression questionnaire
Categories
Interval
Frequency
Percent
Rendah
3 – 6
7
21.2
Sedang
7 – 10
10
30.4
Tinggi
11
– 14
8
24.2
sangat tinggi
15
– 18
8
24.2
Total
33
100.0

Hasil dari penyebaran kuesioner agresivitas diketahui bahwa 7 (21.2%)

siswa yang berkategori rendah dan 10 (30.4%) siswa berada pada kategori

agresivitas

sedang.

Sedangkan

8

(24.2%)

(

siswa

lain

berada

pada

kategori

agresivitas tinggi, serta 8 (24.2%) siswa berkategori sangat tinggi. Dari hasil

tersebut maka agresivitas perlu ditangani secara serius.

Menurut laporan dari guru BK di SMP N 2 Ambarawa, kelas VIII G ada

beberapa kasus tentang agresivitas seperti ada siswa – siswa kelas VIII G terlibat tawuran dengan
beberapa kasus tentang agresivitas seperti ada siswa – siswa kelas VIII G terlibat
tawuran dengan siswa dari SMP lain. Selain itu seorang siswa memaki salah satu
gurunya di media facebook. Dari hasil penyebaran instrumen serta laporan dari
guru tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti di kelas VIII G.
Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi frekuensi agresivitas pada
siswa, salah satunya adalah dengan layanan konseling. Konseling behavioral
merupakan salah satu model konseling yang berorientasi pada perilaku, bertujuan
untuk menghilangkan perilaku yang tidak betul dan membantu konseli menguasai
perilaku yang baru (Loekmono, 2003). Dalam konseling behavioral ada banyak
teknik yang dapat digunakan baik secara kelompok maupun individu. Salah satu
teknik dalam konseling behavioral adalah self management. Penulis memilih self
management
karena
teknik
ini
membuat
konseli
lebih
mandiri
dengan
menentukan sendiri strategi pemecehan masalah yang harus dilakukan dan konseli
secara aktif dan mandiri mengarahkan perubahan tingkah laku yang diingin
diubah.
Self
management adalah suatu proses di mana konseli mengarahkan

perubahan tingkah laku sendiri, dengan menggunakan satu strategi atau kombinasi

strategi

(Cormier &

Nurius,

2003).

Ada

empat

macam

strategi

dalam

self

management yaitu self monitoring, stimulus control, self reward, dan self as a

model. Keempat strategi ini dikelompokkan menjadi strategi self management

3

karena

masing-masing

prosedur

konseli

sendiri

yang

mengarahkan

secara

langsung gayanya, memonitor, mengubah, memberi penghargaan, sebagai model,

dan proses self efficacy untuk menampilkan tugas yang khusus untuk menciptakan

keinginan merubah perilakunya (Cormier & Nurius, 2003). Kursin (2005) meneliti tentang “Efektivitas Layanan
keinginan merubah perilakunya (Cormier & Nurius, 2003).
Kursin
(2005)
meneliti
tentang
“Efektivitas
Layanan
Konseling
Kelompok
dalam
Mengurangi
Perilaku
Agresif
Siswa
Panti
Pamardi
Putra
Mandiri Semarang Tahun 2004/2005” menjelaskan bahwa perilaku agresif fisik
siswa pada mulanya tinggi dan setelah mendapatkan layanan konseling kelompok
menurun menjadi kategori rendah sedangkan perilaku agresif verbal siswa yang
pada mulanya sangat tinggi setelah mendapatkan layanan konseling kelompok
juga menurun menjadi kategori rendah. Hal ini diperkuat dengan hasil uji
wilcoxon diperoleh Zhitung = 2,521 > Ztabel = 1,96. Maka layanan konseling
kelompok
sangat
efektif
untuk
mengurangi
perilaku agresif
siswa
di
Panti
Pamardi Putra Mandiri Semarang.
Sedangkan Novi Kristina (2011) meneliti mengenai “Pengaruh Layanan
Konseling Kelompok terhadap Perilaku Agresif pada siswa kelas VIII MTs At-
Taqwa Jatingarang Bodeh Pemalang Tahun 2010/2011” mengemukakan bahwa
ada pengaruh layanan konseling kelompok terhadap perilaku agresif pada siswa
kelas VIII MTs At-Taqwa Jatingarang Bodeh Pemalang Tahun 2010/2011 yang

ditunjukkan dengan t hitung = 2,208 > t tabel = 1,684.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka penulis tertarik

untuk mengadakan penelitian dengan judul ”Efektivitas Konseling Kelompok

4

dengan Teknik Self Management dalam Mengurangi Agresivitas

pada Siswa

kelas VIII G SMP N 2 Ambarawa Kabupaten Semarang.”

B. Rumusan masalah Apakah layanan konseling kelompok dengan teknik self management secara efektif dapat mengurangi
B. Rumusan masalah
Apakah layanan konseling kelompok dengan teknik self management secara
efektif dapat mengurangi agresivitas
siswa kelas VIII G di
SMP Negeri 2
Ambarawa Kabupaten Semarang ?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui efektifitas layanan konseling kelompok dengan teknik
self management dalam mengurangi agresivitas siswa kelas VIII G di SMP N 2
Ambarawa Kabupaten Semarang.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan informasi di
bidang bimbingan dan konseling khususnya yang berkaitan dengan mengurangi
agresivitas dan konseling kelompok khususnya teknik self management.

2.

Manfaat Praktis

a.

Memberikan masukan kepada guru BK untuk mengurangi agresivitas

siswa di sekolah menggunakan konseling kelompok khususnya teknik

self management.

5

b. Memberikan masukan kepada guru kelas maupun guru BK mengenai

suatu layanan untuk mengurangi agresivitas.

c. Memberi pengertian kepada siswa agar mengurangi agresivitas.

E. Sistematika Penulisan Pada penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab, bagian awal terdiri atas
E. Sistematika Penulisan
Pada penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab, bagian awal terdiri atas
halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman motto, kata
pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran, dan abstraksi.
Bab I
Pendahuluan
Meliputi
latar
belakang
masalah,
perumusan
masalah,
tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II
Landasan Teori
Bab ini diuraikan tentang Agresivitas, Konseling kelompok, Self-
management, temuan yang relevan, dan hipotesis.
Bab III
Metode Penelitian
Bab ini berisi tentang jenis penelitian, subjek penelitian, variabel,
definisi operasional, metode pengumpulan data, dan teknik analisis
data.
Bab IV
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang gambaran umum subjek penelitian, penyajian

data,

analisis

data,

pengujian

hipotesis,

dan

hasil

pembahasan

 

penelitian.

Bab V

Penutup

Bab ini berisi simpulan dan saran – saran.

6