Anda di halaman 1dari 40

BAB III

METODOLOGI & OBJEK PENELITIAN


3.1 Metodologi Penelitian
3.1.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. penelitian ini tidak
menggunakan metode deskriptif kualitatif karena pada penelitian ini peneliti
sudah dibebani pada konsep sebelumnya dan tidak menggunakan teori-teori
kualitatif. Menurut Menurut Whitney (1960:160), metode deskriptif adalah
pencarian fakta dsengan interpretasi yang tepat. Sedangkan definisi yang
dikemukakan oleh Nazir dalam bukunya Metode Penelitian. bahwasannya metode
penelitian deskriptif adalah:
Suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek,
suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada
masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat
deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antarfenomena yang diselidiki. (Nazir, 2005:54)
Kesimpulannya metode deskriptif adalah metode penelitian untuk
membuat gambaran mengenai sesuatu atau kejadian, sehingga metode ini
berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun, dalam pengertian
metode penelitian yang luas, peneliti deskriptif mencakup metode penelitian yang
luas diluar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering
disebut dengan metode survei. Kerja peneliti, bukan saja memberikan gambaran
terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji
hipotesis-hipotesis, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi
dari suatu masalah yang ingin dipecahkan,. Dalam mengumpulkan data digunakan

96

97

teknik wawancara, dengan menggunakan schedule questionair ataupun interview


guide. Sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan
bagaimana perencanaan Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Kota
Bandung dalam pelayanan informasi publik oleh Unit Pelayanan Pengaduan
Masyarakat (UPPM).
Kriteria Pokok Metode Deskriptif
Kriteria umum
1. Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak
terlalu luas.
2. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu
umum.
3. Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan
opini.
4. Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus
mempunyai validitas.
5. Harus ada deskriptif yang terang mengenai tempat dan waktu
penelitian.
6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik
dalam mengumpulkan data serta studi kepustakaan yang dilakukan.
Kriteria khusus
1. Prinsip-prinsip atau data yang digunakan dinyatakan dalam nilai.
2. Fakta-fakta atau prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai
masalah status.
3. Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol
terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau
manipulasi terhadap variabel.

98

Langkah-Langkah Umum Metode Deskriptif


1

Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi


ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan

2
3

sumber yang ada.


Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan.
Memberikan limitasi dari area atau sejauh mana penelitian

deskriptif tersebut akan dilaksanakan.


Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya

5
6
7

dengan masalah yang ingin dipecahkan.


Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji.
Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data.
Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data

yang telah dikumpulkan.


Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan
kondisi sosial yang ingi diselidiki serta data yang diperoleh serta

referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.


Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta

hipotesis-hipotesis yang ingin diuji.


10 Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah (Nazir,2005:553.1.2

63).
Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data penelitian ini dilakukan beberapa metode


pengumpulan data sebagai berikut, yakni :
1.

Wawancara
Untuk memperdalam lagi data yang akan diperoleh maka dalam penelitian

ini akan menggunakan wawancara mendalam (indepth interview). Jenis


wawancara dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam
dengan lebih memfokuskan pada persoalan yang menjadi pokok dari minat

99

penelitian. Pedoman wawancara mengancar-ancarkan peneliti mengenai data


mana yang akan lebih dipentingkan. Pedoman wawancara biasanya tidak berisi
pertanyaan-pertanyaan yang mendetail, tetapi sekadar garis besar tentang data
atau informasi apa yang ingin didapatkan dari informan yang nanti akan
dikembangkan dengan memperhatikan perkembangan, konteks, dan situasi
wawancara (Pawito, 2007, 133).
Alasan dari pemilihan teknik ini adalah: fleksibilitas, nilai jawaban,
perilaku nonverbal, mengendalikan lingkungan, susunan pertanyaan, spontanitas
jawaban langsung dari responden, kelengkapan dan waktu. Model wawancara
yang dipilih adalah model wawancara tidak terstruktur (unstructured interview)
tetapi terfokus (focused interview) atau open interview. Model wawancara ini
sering disebut sebagai wawancara mendalam.
Dilihat menurut kriteria informan secara umum, maka peneliti disni
mewawancarai 4 informan untuk data penelitian diantaranya:

TABEL 3.1
Narasumber Wawancara
NO

NAMA

JABATAN

1.

Bapak Drg. Bulgan Alamin, M.Si

Kepala

Dinas

Informatika
2.

Komunikasi
Pemerintah

dan
Kota

Bandung
Bapak Aos Wijaya A. Bintang SE, Kepala Humas Dinas Komunikasi
M.Si.

dan Informatika Pemerintah Kota


Bandung

100

3.

Ibu Drs. Peni Setiati

Kepala Seksi Pengolahan Data dan


Informasi

Bidang

Diseminasi

Informasi Dinas Komunikasi dan


Informatika
4.

Ibu Ratna Ningrum, SH.

Bandung.
Kepala UPTD

Pemerintah
(Unit

Kota

Pelaksana

Teknis Dinas Daerah) Pelayanan


Informasi Dinas Komunikasi dan
Informatika

Pemerintah

Kota

Bandung
Agar hasil wawancara yang didapat, terekam dengan baik, peneliti akan
melakukan wawancara kepada informan yang telah ditentukan, maka dibutuhkan
alat-alat sebagai berikut:
1. Buku catatan, yang berfungsi untuk mencatat semua hasil dari interview
dengan informan,
2. Tape recorder, berfungsi untuk merekam semua percakapan atau
pembicaraan pada saat interview berlangsung,
3. Hasil wawancara yang berisikan pertanyaan dan jawaban dari informan
secara lengkap.
4. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu. Maksud dari mengadakan wawancara itu
sendiri, seperti yang ditegaskan oleh Lincoln dan Guba, dikutip dalam
Moleong yakni, untuk mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian,

101

organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain


2.

(Moleong, 2013; 186).


Studi pustaka
Studi pustaka adalah pengumpulan data dengan cara mencari sumber-

sumber tertulis literatur ke beberapa tempat atau sumber dengan maksud


melengkapi data yang dibutuhkan dalam penelitian. Pada bagian studi pustaka
peneliti mendapatkan beberapa sumber tertulis diantaranya: rekapitulasi selama
setahun jenis media pengaduan dari publik berdasarkan media komunikasi yang
digunakan Diskominfo Kota Bandung, 2013, rekapitulasi selama setahun jenis
pengaduan informasi publik melalui media cetak Diskominfo Kota Bandung,
2013, serta sistem bagaimana cara memberikan pengaduan kepada pelayanan
publik UPPM.
3.

Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu dokumen yang berupa catatan peristiwa

yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar atau karya-karya
monumental ataupun autentik dari seseorang yang disimpan oleh peneliti. Adapun
Peneliti

mendapati

dokumentasi

tentang

undang

undang

Nomor

63/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang Pelayanan Publik, UU Nomor 14 tahun 2008


tentang Keterbukaan Informasi Publik, Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi
Publik, Peraturan Daerah Kota bandung Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Pelayanan
Publik yang peneliti dapat dari arsip dari Dinas Komunikasi dan Informatika
(DISKOMINFO) Pemerintah Kota Bandung.
4.

Observasi partisipatif

102

Observasi yang melibatkan peneliti atau observer secara langsung dalam


kegiatan pengamatan di lapangan. Artinya peneliti merupakan bagian dari subjek
yang ditelitinya dan ikut melakukan kegiatan yang dilakukan oleh subjek.
Menurut Rosady Ruslan, dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian
Public Relations dan komunikasi, Observasi Partisipatif yaitu peneliti melakukan
observasi dengan cara melibatkan diri atau menjadi bagian lingkungan sosial
(organisasi) tengah diamati melalui teknik partisipasi dapat memperoleh data
relatif lebih akurat dan lebih banyak, karena peneliti secara langsung mengamati
perilaku dan kejadian atau peristiwa dalam lingkungan sosial tertentu. Teknik
pengamatan ini, biasanya digunakan untuk pengumpulan data dan informasi
melalui kombinasi antara observasi langsung dan wawancara secara formal atau
informal dalam waktu yang bersamaan. Disini peneliti ikut serta PPID dalam
menangani pengaduan publik secara tatap muka yang diajukan oleh salah satu
masyarakat, sehingga peneliti paham tentang bagaimana tahap awal hingga
pengaduan tersebut memperoleh kesepakatan.
5.

Foto
Pada dewasa ini, foto menjadi lebih banyak dipakai sebagai alat untuk

penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai keperluan. Foto


menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering menelaah segi
segi subjektif dan hasilnya sering di analisis secara induktif. Ada dua kategori foto
yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan peneliti sendiri (Bodgan dan
Biklen, 1982:102).

103

Foto yang dihasilkan sendiri oleh peneliti biasanya bermanfaat


sebagaimana sudah diutarakan pada foto hasil orang lain. Selain itu, foto banyak
digunakan bersama sama dengan pengamatan berperanserta. Saat saat suatu
peristiwa yang bernilai sejarah, berkesan dan tidak ingin dilupakan akan sangat
bermanfaat bila dipelajari dan dikenang secara lebih rinci dalam foto. Disini
peneliti mendapati beberapa foto rapat tentang bimbingan teknis pejabat
pelayanan informasi dan dokumentasi di pemkot Bandung.
3.1.3 Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, mengorganisasikan data, memilah milahnya menjadi satuan yang
dapat dikelola, mensintesiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
kepada orang lain, seperti yang ditegaskan oleh Bogdan dan Biklen, 1982, dikutip
dalam Moleong .(Moleong, 2013; 248).
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia
dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam
catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah
berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan
membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti,
proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di
dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuansatuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori
itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ialah

104

mengadakan pemeriksaan keabsahan data. setelah selesai tahap ini, mulailah kini
tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif
dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Menurut Afifuddin dan Saebani (2009) yang juga di dalam buku Elvinaro
Ardianto yang berjudul Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif
dan Kualitatif, prinsip pokok analisis kualitatif ialah mengolah dan menganalisis
data yang terkumpul menjadi data yang sistematis, teratur, terstruktur, dan
1.

mempunyai makna. Prosedur analisis data kualitatif dibagi menjadi lima langkah:
Mengorganisasikan data. Cara ini dilakukan dengan membaca berulang ulang
data yang ada sehingga peneliti dapat menemukan data yang sesuai dengan

2.

penelitiannya dan membuang data yang tidak sesuai.


Membuat kategori, menentukan tema, dan pola. Dalam hal ini, peneliti
menentukan kategori yang merupakan suatu proses yang cukup rumit
karena peneliti harus mampu mengelompokkan data yang ada ke dalam
suatu kategori dengan tema masing masing sehingga pola keteraturan

3.

data menjadi terlihat secara jelas.


Menguji hipotesis yang muncul dengan menggunakan data yang ada. Setelah
proses pembuatan kategori, peneliti menguji kemungkinan berkembangnya

4.

suatu hipotesis dengan menggunakan data yang tersedia.


Mencari eksplanasi alternatif data. Peneliti memberikan keterangan yang masuk
akal tentang data yang ada dengan didasarkan pada hubungan logika

5.

makna yang terkandung dalam data tersebut.


Menulis laporan. Penulisan laporan merupakan bagian analisis kualitatif yang
tidak terpisahkan. Dalam laporan ini, peneliti harus mampu menuliskan
kata, frase dan kalimat serta pengertian secara tepat yang dapat digunakan

105

untuk mendeskripsikan data dan hasil analisisnya (Afifuddin dan


Saebani,2009:159-160).
Penulis akan memaparkan kesimpulan pada penelitian ini, yang akan
menjelaskan tentang proses perencanaan Humas Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung dalam pelayanan informasi publik oleh
Unit Pelayanan Pengaduan Masyarakat (UPPM).
3.1.4 Pengecekan Keabsahan Data
Yang dimaksud dengan keabsahan data adalah bahwa setiap
keadaan harus memenuhi;
1
2
3

mendemonstrasikan nilai yang benar


menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan
memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang
konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan
keputusan-keputusannya. (Moleong, 2013; 320-321)

Keabsahan data merupakan harus memenuhi konsep penting yang


diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realibilitas)
menurut versi positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan,
kriteria dan paradigmanya sendiri agar dapat diperoleh dari pandangan dan
pendapat seorang ahli paradigma alamiah, yakni Egon Guba (Lincoln dan
Guba, 1981: 291-294, catatan: Penulis menemui dan berdiskusi dengan
beliau di Indiana University, Bloomington, Februari 1988, sewaktu
menulis naskah buku ini).(Moleong, 2013; 322)
Validitas didapatkan jika peneliti mampu mendapatkan deskripsi
yang akurat dari data yang benar benar ditemukan dilapangan dan data
tersebut diperoleh melalui proses yang benar serta mengikuti prosedur

106

yang telah ditetapkan. Selain itu, validitas dalam penelitian kualitatif


bukan dijelaskan dengan realitas itu sendiri. Melainkan dengan
mengevaluasi dan menginterpresentasikan pengalaman yang diperoleh
peneliti melalui informan peneliti atau yang biasa disebut key informan.
Terdapat empat kriteria yang digunakan dalam teknik keabsahan
data data, yaitu :
1.

Derajat Kepercayaan (Credibility)

Kriterium ini berfungsi untuk melaksanakan inkuiri sedemikian


rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan
mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil hasil penemuan dengan
jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti
(Moleong,2000;324).
2.

Keteralihan (Transferability)

Konsep validitas itu menyatakan bahwa generalisasi suatu


penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks dalam
populasi yang sama atas dasar penemuan yang diperoleh pada sampel yang
secara representatif mewakili populasi itu. Keteralihan mencari dan
mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan
demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif
secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut.
Untuk keperluan itu peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk
memastikanusaha memverifikasi tersebut. (Moleong,2013; 324-325)
3.

Kebergantungan (Dependebility)

107

Kriterium ketergantungan merupakan substitusi ialah realibilitas


dalam penelitian non kualitatif. Konsep ketergantungan lebih luas
dibandingkan reliabilitas. Hal tersebut disebabkan oleh peninjauannya dari
segi bahwa konsep itu memperhitungkan segala-galanya yaitu yang ada
pada realibilitas itu sendiri ditambah faktor faktor lainnya yang
tersangkut. Bagaimana hal itu akan dibicarakan dalam konteks
pemeriksaan. (Moleong,2013;325). Teknik pemeriksaan data yang dipakai
adalah audit ketergantungan.
4.

Kepastian (Confirmability)

Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut


penelitian non kualitatif. Dikatakan bahwa pengalaman seseorang adalah
subjektif, sedangkan jika disepakati beberapa banyak orang barulah
dikatakan objektif. Jadi objektivitas subjektivitasnya suatu hal
bergantung pada orang seorang. (Moleong,2013;326).
Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan kriteria
kreadibiltas (kepercayaan) yang memiliki fungsi melaksanakan inquiry,
sedemikian rupa, sehingga tingkat kepercayaan hasil hasil penemuan
dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang
diteliti. Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila
tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. (Moleong,2013;324).
Derajat kepercayaan keabsahan data (kredibilitas data) dapat diadakan
pengecekan dengan teknik sebagai beikut :

108

a.

Triangulasi

Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang


memanfaatkaan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding tarhadap data itu. Dalam penelitian
ini validitas atau keabsahan data diperiksa dengan metode Triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori untuk kepentingan
pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong,
2013; 330).
Dalam penelitian ini variasi teknik yang digunakan oleh penulis
adalah Triangulasi 1, yaitu Triangulasi sumber. Hal ini dilakukan karena
pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara,
dokumentasi dan observasi yang dilakukan terhadap Kepala Dinas
Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung, dan Kepala
Seksi Pengolahan Data dan Informasi Bidang Diseminasi Informasi
Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung..
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:

Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil

wawancara.
Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang
berlainan.
b.

Pengecekan Sejawat Melalui Diskusi

109

Teknik ini dilakukan peneliti dengan cara mengekspos hasil


semantara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik
dengan rekan-rekan sejawat. Hal ini dilakukan dengan maksud : (a) Untuk
membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran,
(b) diskusi dengan teman sejawat ini memberi suatu kesempatan awal yang
baik untuk memulai menjajagi dan menguji hipotesis yang muncul dari
pemikiran peneliti. Pengecekan sejawat ini,dilakukan melalui diskusi. Para
peserta diskusi dalam rangka pengecekan keabsahan data ini,terdiri dari
rekan-rekan sejawat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tantang
wajib balajar.
Validitas data merupakan faktor penting dalam penelitian. Oleh
karena itu perlu pemeriksaan data sebelum analisis dilakukan dengan
teknik pemeriksaan yang didasarkan pada sejumlah kriteria tertentu. Ada
empat kriteria yang dapat digunakan untuk meningkatkan atau mengetahui
keabsahan data, yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan
dan kepastian.
d. Member Check
Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh
peneliti kepada pemberi data. Tujuan dari member check ini adalah sejauh
mana data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh informan
atau narasumber. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi
data, berarti data tersebut valid sehingga semakin kredibel. Namun, jika
data yang diperoleh peneliti tidak disepakati oleh pemberi data, peneliti

110

perlu melakukan diskusi dengan pemberi data dan apabila terdapat


perbedaan tajam setelah dilakukan diskusi, peneliti harus mengubah
temuannya dan menyesuaikannya dengan data yang diberikan oleh
peneliti. Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu periode
pengumpulan data selesai atau setelah mendapatkan suatu temuan atau
kesimpulan (Moleong, 2013;335).
c.

Ketekunan Pengamatan.

Ketekunan pengamatan yaitu secara konsisten mencari interpretasi


dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan
atau tentative. Mencari suatu usaha yang membatasi berbagai pengaruh
dan mencari apa yang dapat diperhitungkan dan apa yang tidak dapat. Hal
ini berarti peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan
rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol.
Kemudian ia menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik sehingga
pada pemerikasaan tahap awal tempak salah satu atau seluruh faktor yang
ditelaah sudah dipahami dengan cara yang biasa (Moleong, 2013; 329 330).
3.1.5

Triangulasi
Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkaan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding tarhadap data itu. Dalam penelitian ini validitas atau
keabsahan data diperiksa dengan metode Triangulasi. Triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode,

111

penyidik, dan teori untuk kepentingan pengecekan data atau sebagai pembanding
terhadap data itu (Moleong, 2013; 330).
Triangulatian menurut Patton (dalam Moleong, 2013; 330331) dibagi menjadi 4
(empat), yaitu :
1

Triangulasi Sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat


kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang
berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal itu dapat diperoleh dengan jalan:
1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;
2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa
yang dikatakannya secara pribadi; 3) membandingkan apa yang
dikatakannya orang orang tentang situasi penelitian dengan apa yang
dikatakanya sepanjang waktu; 4) membandingkan keadaan dan perspektif
seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat
biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada,
orang pemerintahan; 5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu
dokumen yang berkaitan. Yang penting disini ialah bisa mengetahui
adanya alasan alasan terjadinya perbedaan perbedaan tersebut (Patton,

1987; 331 dalam Moleong dengan Judul Metodologi Penelitian Kualitatif)


Triangulasi Metode, yaitu dengan menggunakan dua strategi; (1)
pengecekan terhadap derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian
dengan beberapa teknik pengumpulan data, (2) pengecekan derajat
kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. (Patton,
1987; 329 dalam Moleong dengan Judul Metodologi Penelitian Kualitatif)

112

Triangulasi Peneliti, yakni dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat


lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan.
Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemelencengan
dalam pengumpulan data. Pada dasarnya penggunaan suatu tim penelitian
dapat direalisasikan dilihat dari segi teknik ini. Cara lain ialah

membandingkan hasil pekerjaan seorang analis dengan analis lainnya.


Triangulasi Teori, yakni melakukan penelitian tentang topik yang sama dan
datanya dianalisa dengan menggunakan beberapa perspektif teori yang
berbeda. (Patton, 1987; 327 dalam Moleong dengan Judul Metodologi
Penelitian Kualitatif)
Dalam penelitian ini variasi teknik yang digunakan oleh penulis adalah

Triangulasi 1, yaitu Triangulasi sumber. Hal ini dilakukan karena pengambilan


data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi
yang dilakukan terhadap Public Kepala Dinas Diskominfo Pemerintah Kota
Bandung dan Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi Bidang Diseminasi
Informasi Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berlainan.
Sumber dalam proses triangulasi ini berjumlah 1 (satu) orang, beliau yang
terlibat dan berperan penting dalam proses perencanaan Humas Dinas Komunikasi
dan Informatika Kota Bandung dalam pelayanan informasi publik oleh Unit
Pelayanan Pengaduan Masyarakat (UPPM) diantaranya:

113

Tabel 3.2
Triangulasi Sumber
NO

NAMA

JABATAN

1.

Bapak Drg. Bulgan Alamin, M.Si

Kepala

Dinas

Informatika
2.

Komunikasi
Pemerintah

dan
Kota

Bandung
Kepala Seksi Pengolahan Data dan

Drs. Peni Setiati

Informasi

Bidang

Diseminasi

Informasi Dinas Komunikasi dan


Informatika

Pemerintah

Kota

Bandung.
3.1.6 Teknik Penentuan Key Informant
Dalam penelitian ini peneliti memiliki key informan yang dapat
memberikan

keterangan

mengenai

penelitian

yang

diteliti.

Dengan

menggunakan purpossive sampling, peneliti dapat menentukan key informant


yang mampu memenuhi kebutuhan penelitian.
3.1.7 Kriteria Informan
Menurut Sanafiah faisal (1990) dalam (Sugiyono: 293) menentukan
Kriteria untuk menjadi informan bagi penelitian ini antara lain adalah:
1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses
enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui tetapi juga
dihayatinya.
2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat
pada kegiatan yang tengah diteliti.
3. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai
informasi.

114

4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil


kemasannya sendiri.
5. Mereka yang pada mulanya tergolong cukup asing dengan peneliti
sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau
narasumber.
Dilihat menurut kriteria informan secara umum, maka peneliti
disni dapat memberikan kriteria secara khusus bagaimana kriteria
Informan menurut diatas yang sesuai dengan kegiatan peneliti jadikan:
1. Bapak Drg. Bulgan Alamin, M.Si (Key Informan) :
1. Beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung, dalam memimpin,
mengatur, merumuskan, membina, mengawasi, mengendalikan,
mengkoordinasikan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan
kebijakan teknis pelaksanaan urusan pemerintahan daerah
berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di bidang
komunikasi dan informatika sesuai dengan kewenangannya
khususnya mengenai kegiatan pelayanan informasi publik.
2. Beliau sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung selama kurang lebih
12tahun jadi beliau mengetahui benar bagaimana perencanaan
pelayanan informasi publik di Diskominfo Pemerintah Kota
Bandung.
3. Beliau meluangkan waktu setidaknya seminggu 2 kali untuk
melakukan wawancara skripsi bagi peneliti agar data yang
didapat benar-benar aktual.

115

4. Beliau memberikan informasi seputar proses prencanaan humas


Diskominfo Pemerintah Kota Bandung berdasarkan data akurat
dan pengalamannya menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi
dan Informatika Kota Bandung mengenai pelayanan informasi
publik yang telah dilaksanakannya.
5. Beliau sangat membimbing peneliti bagi skripsi ini karena
beliau sangat terbuka dalam memberi informasi secara informal
maupun formalitas serta loyalitas tinggi dalam memberikan data
bagi peneliti.
2. Bapak Aos Wijaya A. Bintang SE, M.Si.:
1. Beliau menjabat sebagai Kepala Humas Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung
2. Beliau bertugas dari tahap Perencanaan dan penyusunan program
lingkup peliputan dan

dokumentasi

serta

kemintraan dan

publikasi; Penyusunan petunjuk teknis lingkup peliputan dan


dokumentasi

serta

kemintraan media dan publikasi;

Pelaksanaan dan pengkoordinasian lingkup

peliputan dan

dokumentasi serta kemintraan dan publikasi; dan Monitoring,


evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup peliputan dan
dokumentasi serta kemintraan dan publikasi. Dengan begitu
beliau berperan dalam proses perencanaan humas Diskominfo
Pemerintah Kota Bandung dalam kegiatan pelayanan informasi
publik

karena

beliau

mengkoordinasikan

serta

yang

menyusun

memonitoring

petunjuk
jugakebijakan

dan

kebijakan dalam kegiatan pelayanan informasi publik di

116

Diskominfo Pemkot Bandung sesuai dengan keputusan Kepala


Dinas dan Walikota Bandung dan disusun berdasarkan UUKIP
no 14 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
3. Beliau meluangkan waktu setidaknya seminggu 2 kali untuk
melakukan wawancara skripsi bagi peneliti agar data yang
didapat benar-benar aktual.
4. Beliau memberikan informasi seputar proses prencanaan humas
Diskominfo Pemerintah Kota Bandung berdasarkan data akurat
dan pengalamannya menjabat sebagai Kepala Humas Dinas
Komunikasi

dan

Informatika

Kota

Bandung

mengenai

pelayanan informasi publik yang telah dilaksanakannya.


5. Beliau sangat membimbing peneliti bagi skripsi ini karena beliau
sangat terbuka dalam memberi informasi secara informal
maupun formalitas serta loyalitas tinggi dalam memberikan data
bagi peneliti.
3. Ibu Drs. Peni Setiati:
1. Beliau menjabat sebagai Kepala Seksi Pengolahan Data dan
Informasi Bidang Diseminasi Informasi Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung.
2. Beliau bertugas mengumpulkan dan penganalisaan data
lingkup Pengolahan Data dan Informasi; Penyiapan bahan
petunjuk teknis lingkup Pengolahan Data dan Informasi;
Pelaksanaan lingkup Pengolahan Data dan Informasi yang
meliputi data dan informasi pengaduan masyarakat baik dari
media elektronik dan cetak serta tatap muka; dan Evaluasi dan
pelaporan

pelaksanaan

lingkup

Pengolahan

Data

dan

117

Informasi. Dengan begitu beliau berperan langsung dalam


kegiatan unit pelayanan pengaduan masyarakat (UPPM)
karena beliau yang terjun langsung dalam menghadapi
pengaduan dari pemohon Informasi.
3. Beliau meluangkan waktu setidaknya seminggu 2 kali untuk
melakukan wawancara skripsi bagi peneliti agar data yang
didapat benar-benar aktual.
4. Beliau memberikan informasi seputar proses prencanaan humas
Diskominfo Pemerintah Kota Bandung berdasarkan data akurat
dan pengalamannya menjabat sebagai Kepala Seksi Pengolahan
Data dan Informasi Bidang Diseminasi Informasi Dinas
Komunikasi

dan

Informatika

Kota

Bandung

mengenai

pelayanan informasi publik yang telah dilaksanakannya.


5. Beliau sangat membimbing peneliti bagi skripsi ini karena beliau
sangat terbuka dalam memberi informasi secara informal
maupun formalitas serta loyalitas tinggi dalam memberikan data
bagi peneliti.
4. Ibu Ratna Ningrum, SH.:
1. Beliau menjabat sebagai Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis
Dinas Daerah) Pelayanan Informasi Dinas Komunikasi dan
Informatika Pemerintah Kota Bandung.
2. Beliau bertugas merumuskan kebijakan teknis di bidang
komunikasi,

informatika

dan

hubungan

masyarakat,

Pembinaan dan pelaksanaan komunikasi, informatika dan


kehumasan yang meliputi pos dan telekomunikasi, sarana
komunikasi, desiminasi informasi dan teknologi informasi

118

serta hubungan masyarakat,

Pelaksanaan pelayanan teknis

administratif Dinas, dan, Pelaksanaan tugas yang diberikan


oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan
begitu beliau terlibat langsung dalam proses perencanaan
humas pelayanan informasi publik di Diskominfo Kota
Bandung dalam hal merumuskan kebijakan kebijakan apa
saja yang harus ditetapkan dalam kegiatan pelayanan informasi
publik sesuai dengan keputusan bapak Walikota Bandung
3. Beliau meluangkan waktu setidaknya seminggu 2 kali untuk
melakukan wawancara skripsi bagi peneliti agar data yang
didapat benar-benar aktual.
4. Beliau memberikan informasi seputar proses prencanaan
humas Diskominfo Pemerintah Kota Bandung berdasarkan
data akurat dan pengalamannya menjabat sebagai Kepala Seksi
Pengolahan Data dan Informasi Bidang Diseminasi Informasi
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung mengenai
pelayanan informasi publik yang telah dilaksanakannya.
5. Beliau sangat membimbing peneliti bagi skripsi ini karena
beliau sangat terbuka dalam memberi informasi secara
informal maupun formalitas serta loyalitas tinggi dalam
memberikan data bagi peneliti.
3.1.8 Subjek Penelitian
Narasumber atau informan adalah orang yang bisa memberikan
informasi-informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian kita. Dalam
penelitian survai sosial, subjek penelitian ini adalah manusia sedangkan
dalam

penelitian-penelitian

psikologi

yang

bersifat

eksperimental

119

seringkali digunakan pula hewan sebagai subjek, di samping manusia.


Dalam proses pelaksanaan eksperimen, hewan atau manusia sebagai
subjek penelitian ini ada yang berpartisipasi secara aktif dan ada yang
berpartisipasi hanya secara pasif.
Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai
kesimpulan hasil penelitian. Apabila subjek penelitiannya terbatas dan
masih dalam jangkauan sumber daya, maka dapat dilakukan studi
populasi, yaitu mempelajari seluruh objek secara langsung. Sebaliknya,
apabila subjek penelitian sangat banyak dan berada diluar jangkauan
sumber daya peneliti, atau batasan populasinya tidak mudah untuk
didefinisikan, maka dapat dilakukan study sempel.
Subjek penelitian yang diambil untuk menjadi pembahasan dalam
penelitian adalah pihak-pihak Dinas Komunikasi dan Informatika
Pemerintah Kota Bandung yang terlibat dalam Proses Humas dalam Unit
Pelayanan Pengaduan Masyarakat (UPPM) terkait dengan pelayanan
informasi publik di Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota
Bandung dalam menyampaikan Informasi mengenai kebijakan pemerintah
Kota Bandung.
3.9 Informan Penelitian
TABEL 3.3
Informan Penelitian
NO

NAMA

JABATAN

1.

Bapak Drg. Bulgan Alamin, M.Si

Kepala

Dinas

Informatika
2.

Komunikasi
Pemerintah

dan
Kota

Bandung
Bapak Aos Wijaya A. Bintang SE, Kepala Humas Dinas Komunikasi

120

3.

M.Si.

dan Informatika Pemerintah Kota

Ibu Drs. Peni Setiati

Bandung
Kepala Seksi Pengolahan Data dan
Informasi

Bidang

Diseminasi

Informasi Dinas Komunikasi dan


Informatika
4.

Ibu Ratna Ningrum, SH.

Bandung.
Kepala UPTD

Pemerintah
(Unit

Kota

Pelaksana

Teknis Dinas Daerah) Pelayanan


Informasi Dinas Komunikasi dan
Informatika

Pemerintah

Kota

Bandung
3.2

Objek Penelitian
Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung sebagai

salah satu bagian Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung dalam
lingkup wilayah Kota Bandung yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian
urusan Pemerintahan Daerah di bidang komunikasi, informatika dan hubungan
masyarakat berdasarkan azas otonomi dan pembantuan. Dalam kurun waktu 20092013.

Dalam konteksnya Proses Perencanaan Kegiatan yang dilakukan oleh

Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung yang bertujuan untuk
melayani informasi publik mengenai kebijakan pemerintah Kota Bandung.
Dengan disediakan fasilitas Unit Pelayanan Pengaduan masyarakat
(UPPM) sebagai fasilitas Layanan keterbukaan Informasi Publik yang disediakan
oleh Pemerintah Kota Bandung adalah salah satu cara untuk menyampaikan
pelayanan informasi kepada masyarakat karena mempunyai masalah yang

121

mendasar yaitu masih banyak masyarakat Kota Bandung yang belum mengetahui
bagaimana menyampaikan aspirasinya dan pengaduan atas pelayanan untuk
mendapatkan informasi berbagai kebijakan pemerintah daerahnya, tidak
sampainya informasi informasi kepada masyarakat mungkin dari sistem yang
kurang jelas, pola pikir dan juga budaya kerja di setiap pegawai, dengan begitu
Pemerintah Kota Bandung menjadikan informasi tersebut sebagai fasilitas untuk
menunjukkan kepada masyarakat bahwa Pemerintah Kota Bandung sudah
menetapkan sistem pemerintah yang bersih dan baik.
Penelitian ini mengambil objek penelitian perencanaan Humas dalam
pelayanan informasi publik, dimana objek penelitian berada dalam lingkup
pengenalan situasi, penetapan tujuan, definisi khalayak, pemilihan media dan
teknik-teknik Humas, perencanaan anggaran, dan pengukuran hasil (Frank Jefkins
Edisi ke 4, 1992; 49 65) dalam melakukan kegiatan perencanaan yang
dijalankan tim pengarah dan tim pelaksana Unit Pelayanan Pengaduan Masyarakat
(UPPM) di dalam Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung
(Diskominfo). Disini peneliti mencari informasi melalui catatan observasi yang
sudah peneliti buat pada saat melakukan observasi langsung di kantor Dinas
Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung (Diskominfo). Pemilihan
objek penelitian proses perencanaan Humas dalam pelayanan informasi publik ini
agar dapat mengetahui perencanaan Humas yang digunakan dalam meningkatkan
kualitas pelayanan informasi publik, karena dengan adanya perencanaan Humas
dalam

pelayanan informasi publik yang tepat maka sebuah organisasi dapat

berjalan sesuai yang direncanakan dan diharapkan pada saat awal perencanaan itu
berlangsung.

122

Adapun bagian struktur organisasi yang dilibatkan dalam kegiatan


pelayanan informasi publik diantaranya:
a. Bidang Deseminasi Informasi
b. Bidang Hubungan Masyarakat dan
c. Unit Pelaksana Teknis Dinas
3.2.1 Sejarah Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota
Bandung
Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Pemerintah Kota
Bandung adalah instansi yang berada dibawah naungan

Pemerintah Kota

Bandung. Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Pemerintahan


Kota Bandung mengalami perkembangan

berdasarkan kebijakan yang terus

menerus mengalami perubahan kearah yang lebih baik, sehingga dapat


menjalankan kegiatan secara maksimal dalam memperbaiki kesejahteraan
masyarakat.

A. Lambang dan Bendera Kota Bandung


Gambar 3.1
Lambang Kota Bandung

I. LAMBANG

123

Lambang kota Bandung ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota besar


Bandung tahun 1953, tertanggal 8 Juni 1953, yang diijinkan dengan Keputusan
Presiden tertanggal 28 april 1953 No. 104 dan diundangkan dalam Berita Propinsi
Jawa Barat tertanggal 28 Agustus 1954 No. 4 lampiran No. 6 Lambang tersebut
bertokoh PERISAI yang berbentuk JANTUNG. Perisai tersebut terbagi dalam dua
bagian oleh sebuah BALOK- LINTANG mendatar bertajuk empat buah, yang
berwarna HITAM dengan pelisir berwarna PUTIH(PERAK) pada pinggir sebelah
atasnya:
1. Bagian atas latar KUNING (EMAS) dengan lukisan sebuah GUNUNG
berwaarna HIJAU yang bertumpu pada blok-lintang daaan
2. Bagian bawah latar PUTIH(PERAK) dengan lukisan empat bidaang
jalur mendatar berombak yang berwarna BIRU.
Di bawah perisai itu terlukis sehelai PITA berwarna KUNING (EMAS)
yang melambai pada kedua ujungnya, Pada pita itu tertulis dengan huruf-huruf
besar latin berwarna HITAM amsal dalam bahasa KAWI, yang berbunyi GEMAH
RIPAH WIBAWA MUKTI.
Sebagai tokoh lambang itu diambil bentuk perisai atau tameng, yang
dikenal kebudayaan dan peradaban sebagai senjata dalam perjuangan untuk
mencapai sesuatu tujuandengan melindungi diri. Perkakas perjuangan yang
demikian itu dijadikan lambang yang mempunyai arti menahan segala mara
bahaya dan kesukaran.
KUNING (EMAS), berarti : kesejahteraan, keluhungan.
HITAM (SABEL), berarti : kokoh, tegak, kuat.
HIJAU (SINOPEL), berarti : kemakmuran sejuk
PUTIH (PERAK), berarti : kesucian
BIRU (AZUUR), berarti : kesetiaan
Gemah ripah wibawa mukti, berarti : tanah subur rakyat makmur
II. BENDERA

124

Bendera yang digunakan oleh Kotamadya Bandung adalah berdasarkan


Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara Kota Besar
Bandung tanggal 8 Juni 1953 No. 9938/53.
Bentuk bendera tersebut adalah seperti yang tercantum pada diktum
Keputusan tersebut diatas sebagai berikut :

Gambar 3.2
Bendera Kota Bandung

a. Bendera yang dipergunakan oleh Kota Besar Bandung dan tiga bidang
jalur mendatar, masing - masing berturut-turut dari atas kebawah
berwarna HIJAU, KUNING dan BIRU
b. Perbandingan-perbandingan antara lebarnya dan jalur-jalur tersebut
dibawah huruf a urutn dari atas kebawah adalah 2:1:1;
c. Perbandingan antara panjang dan lebarnya berbeda itu 7:5.
B. Sejarah Singkat Dinas
Komunikasi dan Informatika
(DISKOMINFO) Pemerintah Kota Bandung.
BAKOMINFO Kota Bandung merupakan Lembaga Teknis Daerah
dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2007,
Tanggal 4 Desember 2007 serta merupakan penggabungan Satuan Kerja
Pemerintah Daerah (SKPD) Dinas dan Kantor di lingkungan Pemerintah Kota
Bandung yaitu Dinas Informasi dan Komunikasi dengan Kantor Pengolahan Data
Elektronik (KPDE). Dengan demikian Bakominfo berdiri sejak diberlakukannya

125

PERDA Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi


Dinas Daerah Kota Bandung. Dengan diterbirkan dan berlakunya Perda Kota
Bandung Nomor : 13 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Perda Kota Bandung
No. 13 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2009 Tentang
Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2007 Tentang
Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kota Bandung Tanggal 7
Agustus 2009, maka Badan Komunikasi dan Informatika Kota Bandung menjadi
Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO).
C. Visi dan
Misi Dinas
Komunikasi

dan

Informatika

(DISKOMINFO) Pemerintah Kota Bandung.


Visi :
Terwujudnya

efektifitas

dan

efisiensi

komunikasi

dan

informatika

penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam rangka mewujudkan


sebagai kota jasa bermartabat.
Misi :
2. Meningkatkan dan mengembangkan

kemitraan,

bandung

pemberdayaan

dan

pendayagunaan prasarana dan sarana komunikasi dan informatika.


3. Meningkatkan layanan publik dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka
meningkatkan komunikasi dialogis.
4. Meningkatkan pelayanan informasi dan pemberdayaan potensi Masyarakat
dalam rangka mewujudkan budaya masyarakat
informasi.
5. Meningkatkan

kerjasama,

kemitraan

dan

berbasis teknologi

pemberdayaan

lembaga

komunikasi dan informatika pemerintah dan masyarakat.


6. Mendorong peran media massa dalam rangka meningkatkan informasi yang
beretika dan bertanggungjawab.

126

7. meningkatkan sumber daya manusia bidang komunikasi dan informatika


3.2.2

yang handal .
Tugas Pokok

dan

Fungsi

Dinas

Komunikasi dan

Informatika

(DISKOMINFO) Pemerintah Kota Bandung.


Tugas Pokok :
Melaksanakan sebagian urusan Pemerintahan Daerah di bidang komunikasi
,informatika dan hubungan masyarakat berdasarkan azas otonomi dan
pembantuan.
Fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis di bidang komunikasi, informatika dan
hubungan masyarakat.
b. Pembinaan dan pelaksanaan komunikasi, informatika dan kehumasan yang
meliputi pos dan telekomunikasi, sarana komunikasi, desiminasi informasi
dan teknologi informasi serta hubungan masyarakat.
c. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif Dinas, dan,
d. Pelaksanaan tugas yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan
3.2.3

fungsinya.
Struktur

Organisasi

(DISKOMINFO)

Dinas

Pemerintah

Komunikasi
Kota

Bandung

dan

Informatika

Sebagai

Bahan

Observasi.
Bagian struktur organisasi yang dilibatkan dalam kegiatan pelayanan
informasi publik diantaranya:
a. Bidang Deseminasi Informasi
Kepala

Bidang

Desiminasi

Informasi

mempunyai

melaksanakan sebagian tugas pokok Kepala Dinas lingkup

tugas

pokok

desiminasi

127

informasi. Untuk melaksanakan tugas pokok, Kepala Bidang Desiminasi


Informasi mempunyai fungsi :
a. Perencanaan dan penyusunan program lingkup pengelolaan data informasi,
serta komunikasi dan multimedia;
b. Pelaksanaan dan penyusunan petunjuk teknis dan bahan kebijakan
pengelolaan data informasi, serta komunikasi dan multimedia;
c. Pelaksanaan lingkup pengelolaan data informasi, serta komunikasi dan
multimedia; dan
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup pengelolaan data
informasi dan komunikasi serta multimedia.
Kepala Bidang Desiminasi Informasi membawahkan :
a. Seksi Pengelolaan Data dan Informasi;
Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok Kepala Bidang Desiminasi Informasi
lingkup

pengolahan data dan informasi. Untuk melaksanakan tugas

pokok, Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai fungsi :


a. Pengumpulan dan penganalisaan data lingkup Pengolahan Data dan
Informasi;
b. Penyiapan bahan

petunjuk teknis lingkup Pengolahan Data dan

Informasi;
c. Pelaksanaan lingkup Pengolahan Data dan Informasi yang meliputi
data dan informasi pengaduan masyarakat baik dari media elektronik
dan cetak serta tatap muka; dan
d. Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup Pengolahan Data dan
Informasi.
b. Seksi Komunikasi dan Multimedia.
Kepala Seksi Komunikasi dan Multimedia mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok kepala bidang desiminasi informasi

128

lingkup

komunikasi dan pengaduan masyarakat. Untuk melaksanakan

tugas pokok, kepala seksi komunikasi dan multimedia mempunyai fungsi :


a. Pengumpulan dan penganalisaan data lingkup komunikasi dan
multimedia;
b. Penyiapan bahan

petunjuk

teknis

lingkup

komunikasi

dan

multimedia;
c. Pelaksanaan lingkup komunikasi dan multimedia yang meliputi
menghimpun

dan

menganalisa

data

yang

diarsipkan,

diimplementasikan serta disosialisasikan dalam bentuk multimedia,


dan penerbitan media cetak serta penyelenggaraan media interaktif;
dan
d. Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup Komunikasi dan
Multimedia.
e. Bidang Hubungan Masyarakat
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok kepala dinas lingkup

hubungan

Masyarakat. Untuk melaksanakan tugas pokok,

kepala bidang hubungan

Masyarakat mempunyai fungsi :


f. Perencanaan dan penyusunan

lingkup

program

peliputan

dan

dokumentasi serta kemintraan dan publikasi;


g. Penyusunan petunjuk teknis lingkup peliputan dan dokumentasi serta
kemintraan media dan publikasi;
h. Pelaksanaan dan pengkoordinasian lingkup peliputan dan dokumentasi
serta kemintraan dan publikasi; dan
i. Monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup peliputan dan
dokumentasi serta kemintraan dan publikasi.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat membawahkan :
a. Seksi Peliputan dan Dokumentasi;
Kepala Seksi Peliputan dan Dokumentasi mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok kepala bidang hubungan

129

masyarakat

lingkup

peliputan

dan

dokumentasi.

Untuk

melaksanakan tugas pokok, kepala seksi peliputan dan dokumentasi


mempunyai fungsi:
a. Pengumpulan dan penganalisaan data lingkup peliputan dan
dokumentasi;
b. Penyiapan bahan petunjuk teknis lingkup peliputan dan
dokumentasi;
c. Pelaksanaan lingkup peliputan dan dokumentasi yang meliputi
kegiatan eksekutif, legislatif, konferensi pers, press release;
d. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan
peliputan dan dokumentasi; dan
e. Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup peliputan dan
dokumentasi.
b. Seksi Kemitraan Media dan Publikasi.
Kepala Seksi Kemitraan dan Media Publikasi mempunyai tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas pokok kepala
hubungan masyarakat

lingkup

bidang

kemitraan media dan publikasi.

Untuk melaksanakan tugas pokok, kepala seksi kemitraan media


dan publikasi mempunyai fungsi :
a. Pengumpulan dan penganalisaan data lingkup kemitraan media
dan publikasi;
b. Penyiapan bahan petunjuk teknis lingkup kemitraan media dan
publikasi;
c. Pelaksanaan lingkup kemitraan media dan publikasi yang
meliputi

pengembangan

kemitraan

media

skala

kota,

pemberdayaan dan pengembangan media elektronik dan cetak.

130

c. Unit Pelaksana Teknis Dinas


Rincian tugas pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja UPT pada
Dinas akan diatur dan ditetapkan oleh Peraturan Walikota tersendiri.
e. Kelompok Jabatan Fungsional
1) Kelompok Jabatan Fungsional pada Dinas mempunyai tugas membantu
Kepala Dinas dalam melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas
berdasarkan keahlian dan spesialisasi yang dibutuhkan sesuai dengan
prosedur dan ketentuan yang berlaku.
2) Kelompok jabatan fungsional dipimpin oleh seorang tenaga fungsional
senior yang ditunjuk dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas.

Gambar 3.3
Struktur Organisasi Pemerintah Kota Bandung

131

(Sumber Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung)

Gambar 3.4

132

Bagan Struktur Organisasi Dinas Komunikasi Dan Informatika Kota


Bandung
(Sumber Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Bandung)

133

3.4 Waktu dan Lokasi Penelitian


3.4.1

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA


PEMERINTAH KOTA BANDUNG Tepatnya di Jl. Wastukencana No 2 Bandung
40132, Meskipun demikian, waktu dan tempat penelitian dikondisikan dengan
jadwal dan keinginan subjek penelitian.

3.4.2

No.Telp

: (022) 4234892

Fax

: +62-22-4236150

Email

: diskominfo@bandung.go.id

Waktu Penelitian
Penelitian mengenai proses perencanaan Humas Dinas Komunikasi dan

Informatika Pemerintah Kota Bandung dalam pelayanan informasi publik oleh


Unit Pelayanan Pengaduan Masyarakat (UPPM) dilaksanakan selama 3 bulan.
Waktu penelitian berlangsung dari bulan September 2013 sampai November .

Tabel 3.5
Timeline Penelitian

Tabel 1.3 JADWAL PENELITIAN 2013

134

FEB
SEPTEMBER
KEGIATAN
Tahapan
Penyusunan
Skripsi
Penyusunan Usmas
Sidang Usmas dan
Revisi,
mendapatkan dosen
pembimbing
Pengajuan Judul
dan penyusunan
BAB 1
Wawancara dan
kuesioner
Observasi
Studi Pustaka
Pengolahan Data
Penyusunan
Laporan
Penulisan Laporan
Bimbingan Laporan
SIDANG
COMPREHENSI
F

OKTOBER
4

NOVEMBER
4

DESEMBER
4

135

SIDANG AKHIR
WISUDA 2014