Anda di halaman 1dari 38

PROGRAM HUMAS FOCUS DAN LOCUS DALAM

MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN BPPT (Badan


Pengkajian dan Penerapan Teknologi)
Studi Kasus Mengenai program Humas Focus dan Locus BPPT (Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan
Usulan Masalah
Diajukan untuk memenuhi Usulan Masalah
Pada Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Disusun oleh

AnggunNur Lestari
Humas C Kelas Sore
210110110727

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEHUMASAN
BANDUNG
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang (Konteks Penelitian)
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, disingkat BPPT,
adalah

Lembaga

Pemerintah

Non

Departemen

Indonesia

Badan

Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah lembaga pemerintah


non-departemen yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara
Riset dan Teknologi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi. Terakhir,
Kepala BPPT adalah Marzan Aziz Iskandar, yang menggantikan Prof. Ir.
Said Djauharsjah Jenie, Sc.D.
Dalam melaksanakan

tugasnya,

BPPT

mempunyai

fungsi

pemantauan, pembinaan, dan pelayanan terhadap kegiatan instansi


pemerintahdan swasta di bidang pengkajian dan penerapan teknologi, serta
penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan jasa teknologi. Biro Umum
dan Humas BPPT mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengelolaan,
perlengkapan, rumah tangga hukum dan hak kekayaan intelektual serta
hubungan masyarakat.
Pada dasarnya Humas BPPT berperan sebagai ujung tombak dalam
menyampaikan pengetahuan dan hasil kinerja dari instansi pemerintah
kepada publik. Begitu juga sebaliknya, melalui humas, instansi pemerintah
dapat mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari suatu instansi
pemerintah.

Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia


Nomor:

03/M/PER/VI/2010

tentang

Organisasi

dan

Tata

Kerja

Kementerian Riset dan Teknologi dalam memberikan kemudahan pada


manusia, organisasi pemerintahan maupun non pemerintahan dalam
melaksanakan pelayanan teknologi informasi, penyajian teknologi
informasi serta pendistribusian teknologi informasi kepada pengguna
selaku penerima dan pemanfaat informasi. Berpegang kepada peraturan
tersebut yang disesuaikan kepada visi Biro Umum dan Humas BPPT
dalam pelayanan prima di bidang umum dan kehumasan dalam
mendukung tercapainya tugas pokok BPPT.
Berbicara mengenai kinerja dan pencapaian tujuan organisasi tidak
terlepas dari siapa yang ada dan menjalankan organisasi tersebut, tidak lain
adalah manusia itu sendiri. Sebagai unsur organisasi, manusia memiliki
peran yang sangat penting dalam menjalankan fungsinya dalam rangka
kemajuan organisasi. Potensi setiap individu yang ada dalam organisasi
harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga mampu memberikan
hasil yang maksimal. Di mana keberhasilan organisasi sangat tergantung
pada peran manusia didalamnya karena manusia sebagai sumber daya
yang potensial dan merupakan sumber kekuatan untuk menggerakkan roda
aktivitas organisasi. Hal tersebut dikaitkan dengan upaya BPPT untuk
terus

meningkatkan

kinerjanya

yang

ditandai

dengan

semakin

meningkatnya pelayanan BPPT kepada stakeholder.


Untuk mengetahui kinerja pegawai dalam suatu organisasi publik
menjadi sangat penting atau dengan kata lain memiliki nilai yang amat

strategis. Informasi mengenai kinerja aparatur dan faktor-faktor yang ikut


berpengaruh terhadap kinerja aparatur sangat penting untuk diketahui,
sehingga pengukuran kinerja aparat hendaknya dapat diterjemahkan
sebagai suatu kegiatan evaluasi untuk menilai atau melihat keberhasilan
dan kegagalan pelaksanaan tugas dan fungsi yang dibebankan kepadanya.
Oleh karena itu evaluasi kinerja merupakan analisis interpretasi
keberhasilan dan kegagalan pencapaian kinerja. Seperti dalam Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor PER/09/M.PAN/5/2007
pasal 12 ayat 1 dan 2 tentang pedoman umum penetapan indikator kinerja
di lingkungan instansi pemerintah yang mengatakan bahwa :(1) instansi
Pemerintah

melaksanakan

analisis

dan

evaluasi

kinerja

dengan

memperhatikan capaian indikator kinerja untuk melengkapi informasi


yang dihasilkan dalam pengukuran kinerja dan digunakan untukperbaikan
kinerja dan peningkatan akuntabilitas kinerja.(2)Analisis dan evaluasi
kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat 1dilakukan secara berkala dan
sederhana dengan meneliti fakta-fakta yangada baik berupa kendala,
hambatan maupun informasi lainnya.
Salah satu usaha untuk mencapai tujuan organisasi adalah adanya
keterlibatan dari seluruh anggota organisasi, dimana mereka benar-benar
mengabdikan diri kepada organisasi dengan melaksanakan tugas dengan
sebaik-baiknya yang diwujudkan dalam suatu bentuk yang disebut
komitmen pegawai terhadap organisasi. Komitmen ini sangat dibutuhkan
oleh setiap pegawai dalam organisasi. Komitmen merupakan suatu sikap

kerja yang diperlukan untuk dapat menggerakkan dan mengarahkan tubuh


organisasi.
Seperti yang ditegaskan dalam pasal 3 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 43 tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (1999:4) yaitu:
Pegawai negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur Negara yang
bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas Negara,
pemerintah, dan pembangunan.
Untuk itu pegawai dituntut memiliki kinerja yang baik, sehingga
perlu adanya penilaian kinerja secara proporsional terhadap setiap program
dan aktivitas pegawai.Penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil. Unsur-unsur yang
dinilai dalam melaksanakan penilaian pelaksanaan pekerjaan adalah
kesetiaan, prestasi kerja, tanggungjawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama,
prakarsa dan kepemimpian. Dengan penilaian ini setiap pegawai mampu
menilai ketetapan strateginya, menangani segala urusan administratif
seperti gaji, promosi, pemberian sanksi bagi yang melanggar ketentuan
kepegawaian dan lain sebagainya. Khususnya untuk pemerintah, penilaian
kinerja menjadi sangat penting karena adanya tuntutan akuntabilitas
pelaksanaan fungsi kontrol, dan kebutuhan pengembangan organisasi
pemerintah.
Salah satu upaya untuk mengimplementasikan kebijakan peraturan
tersebut sesuai dengan visi Biro Umum dan Humas BPPT adalah dengan
menjalankan Program Focus dan LocuS.

Maksud dari Focus pada program tersebut adalah merubah pola


kerja, dimulai dengan restrukturisasi unit-unit yang ada di BPPT sehingga
diharapkan lebih mampu untuk mewujudkan penguatan sistem inovasi
nasional. Setiap kegiatan yang ada dievaluasi secara rinci. Yang tidak
terfokus kepada sistem inovasi, terpaksa dicoret. Tidak ada lagi kegiatankegiatan lepas dan kecil-kecil yang tidak terkoneksi dan terintegrasi
dengan kegiatan lain. Dengan terus menjalankan konsep learning
organization sebagai bagian dari kegiatan Focus maka dapat diartikan
bahwa konsep learning organization sebagai kemampuan suatu organisasi
untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran (self learning)
sehingga organisasi tersebut memiliki kecepatan berpikir dan bertindak
dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Hal ini pun menjadi
ilham bagi BPPT untuk menata organisasi kedepannya. BPPT siap menjadi
Learning organization dan terus menerus melakukan pembelajaran untuk
menjadi yang terbaik serta dapat menginspirasi dan memberi contoh bagi
organisasi lainnya.
Lokus atau lokasi kegiatan yang tersebar pun dikumpulkan hanya
di beberapa titik tetapi diharapkan berdampak besar. Yang lebih penting
lagi, sekat-sekat unit organisasi perlahan-perlahan dihilangkan. Suatu unit
yang selama ini asyik dengan kegiatan dirinya sendiri, tidak mengetahui
dan tidak peduli dengan kegiatan di ruangan sebelahnya, dipaksa untuk
membuka diri dan saling berkomunikasi.
Masalah mengenai kinerja pegawai seringkali dihadapi banyak
instansi pemerintah yang mana masalah yang dihadapi menyangkut

tentang sarana dan prasarana, hal ini sangat mempengaruhi kinerja


pegawai dan juga kurangnya pegawai yang bekerja di organisasi tersebut
sehingga dapat menghambat jalannya proses penyelesaian pekerjaan serta
masalah mengenai kedisiplinan pegawai.
Oleh karena itu BPPT (Badan Pengkajian dan penerapan
Teknologi) sebagai organisasi publik dituntut untuk meningkatkan kinerja
pegawai yang ada dalam organisasi. Melihat dari tugas dan fungsi yang
diemban oleh setiap individu dalam organisasi maka dituntut kinerja yang
optimal dalam mencapai tiap tujuan yang telah ditetapkan, namun
berdasarkan observasi awal secara umum kinerja yang ditunjukkan oleh
pegawai pada BPPT (Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi) belum
optimal dimana terdapat pegawai yang kurang menyadari tugas dan
fungsinya sehingga seringkali timbul ketimpangan-ketimpangan dalam
menjalankan tugasnya sehingga masih terdapat pegawai yang belum
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Hal ini tentu saja menjadi fokus kajian yang menarik untuk diteliti
dikarenakan bahwa kinerja adalah sesuatu yang sangat penting dan harus
dimiliki oleh tiap individu yang terlibat didalam organisasi. Kinerja bukan
saja menyatakan soal hasil akhir tapi juga bagaimana proses kerja
berlangsung, yang mana proses inilah yang akan menentukan pencapaian
kerja seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana proses dari
kinerja pegawai bisa berjalan secara optimal, para pemimpin harus
memperhatikan bagaimana para pegawai bisa meningkatkan kinerja
mereka.

Maka dari itu penulis ingin melakukan penelitian ini karena


penelitian ini belum ada yang melakukanya terutama di BPPT (Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Dengan demikian penulis meneliti
PROGRAM

HUMAS

MENINGKATKAN

FOCUS

KINERJA

DAN

LOCUS

KARYAWAN

BPPT

DALAM
(Badan

Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jakarta Pusat.


1.2 Rumusan Masalah (Fokus Penelitian)
Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan masalah
penelitian ini adalah untuk mengetahui BAGAIMANA PROGRAM
HUMAS

FOCUS

DAN

LOCUS

DALAM

MENINGKATKAN

KINERJA KARYAWAN BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan


Teknologi) Jakarta Pusat?.

1.3 Pertanyaan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, Penulis menyimpulkan
Pertanyaan penelitian ini adalah :
1. Bagaimana latar belakang penerapan program Humas Focus dan Locus
yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan Kinerja
Karyawan?
2. Bagaimana proses penerapan program Humas Focus dan Locus yang
dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan Kinerja Karyawan?
3. Bagaimana implementasi terhadap pelaksanaan program Humas Focus
dan Locus yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan Kinerja
Karyawan?
1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, Penulis menyimpulkan


tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui latar belakang penerapan program program Humas
Focus dan Locus yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan
Kinerja Karyawan?
2. Untuk mengetahui proses penerapan program Humas Focus dan Locus
yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan Kinerja
Karyawan?
3. Untuk mengetahui implementasi terhadap pelaksanaan program Humas
Focus dan Locus yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan
Kinerja Karyawan?

1.5 Ruang Lingkup Penelitian dan Kegunaan Penelitian


1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian
Metode penelitian kualitatif dapat digunakan pada ruang lingkup
yang paling kecil, yaitu satu situasi sosial (single social situation) sampai
masyarakat yang luas dan kompleks. Satu situasi sosial dapat terdiri dari
satu orang, aktivitas, dan tempat tertentu.
Dalam hal ini ruang lingkup penelitian yang akan diteliti yaitu
Program Humas Focus dan Locus Dalam meningkatkan Kinerja Karyawan
BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jakarta Pusat.
1.5.2 Kegunaan Penelitian
1. Secara Teorities
Hasil penelitian ini sangat penting bagi penulis karena penelitian
ini belum pernah ada yang melakukannya terutama di BPPT (Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jakarta Pusat, dirasa penting bagi
saya karena program ini telah berjalan sehingga dapat memberikan

manfaat bagi saya terhadap penelitian in, serta diharapkan dapat memberi
kontribusi akademis dalam ilmu komunikasi bidang studi public relations
tentang meningkatkan citra suatu perusahaan, khususnya mengenai image
building.
2. Secara Praktis
1) Bagi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang
akurat tentang Pelaksanaan Program Humas Focus, Locus, Good News
Sebagai Upaya Dalam Meningkatkan Citra BPPT (Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi) Jakarta Pusat, Kepada Masyarakat dengan terus
memberikan menjalankan peranan Humas secara konsisten dan
memperbaiki kualitas pelayanan Humas sehingga menjadi terbaik untuk
semua kriteria terutama dalam bidang produk teknologi. Agar ketika
masyarakat mengetahui adanya teknologi baru, mereka menyebut nama
BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang muncul. Dan
juga bahan masukan bagi perusahaan-perusahaan, khususnya bagi BPPT
(Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Jakarta Pusat mengenai
peningkatan citra perusahaan yang baik. Sehingga aktivitas pelaksanaan
program Humas Focus, Locus, Good News dalam peningkatan citra
mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat yang pada akhirnya
mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif

10

dalam pembangunan nasional karena Iptek harus mendorong dan menjadi


pengungkit ekonomi nasional.
2) Bagi Masyarakat.
Mengenalkan kepada Masyarakat mengenai inovasi-inovasi
teknologi baru yang sudah terealisasikan agar masyarakat tidak tabu lagi
terhadap perkembangan teknologi saat ini. Serta dapat terjalinnya
komunikasi dua arah agar tercipta hubungan yang baik antara BPPT dan
masyarakat selaku pengguna teknologi sehingga masyarakat percaya akan
ainovasi teknologi yang diciptakan oleh BPPT.
1.6 Kerangka Pemikiran
BPPT sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia
hatus mampu memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan keinginan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Berpegang kepada Peraturan
Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor:
03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset
dan Teknologi yang disesuaikan kepada visi Biro Umum dan Humas BPPT
dalam pelayanan prima di bidang umum dan kehumasan dalam
mendukung tercapainya tugas pokok BPPT. Salah satu usaha untuk
mencapai tujuan organisasi adalah adanya

keterlibatan dari seluruh

anggota organisasi, dimana mereka benar-benar mengabdikan diri kepada


organisasi dengan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya yang
diwujudkan dalam suatu bentuk yang disebut komitmen pegawai terhadap
organisasi. Upaya untuk mengimplementasikan kebijakan peraturan
11

tersebut sesuai dengan visi Biro Umum dan Humas BPPT adalah dengan
menjalankan Program Focus dan Locus. Penulis melakukan penelitian ini
karena penelitian ini belum ada yang melakukanya terutama di BPPT
(Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
Maksud dari Focus pada program tersebut adalah merubah pola
kerja, dimulai dengan restrukturisasi unit-unit yang ada di BPPT sehingga
diharapkan lebih mampu untuk mewujudkan penguatan sistem inovasi
nasional. Setiap kegiatan yang ada dievaluasi secara rinci. Yang tidak
terfokus kepada sistem inovasi, terpaksa dicoret. Tidak ada lagi kegiatankegiatan lepas dan kecil-kecil yang tidak terkoneksi dan terintegrasi
dengan kegiatan lain. Dengan terus menjalankan konsep learning
organization sebagai bagian dari kegiatan Focus maka dapat diartikan
bahwa konsep learning organization sebagai kemampuan suatu organisasi
untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran (self learning)
sehingga organisasi tersebut memiliki kecepatan berpikir dan bertindak
dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Hal ini pun menjadi
ilham bagi BPPT untuk menata organisasi kedepannya. BPPT siap menjadi
Learning organization dan terus menerus melakukan pembelajaran untuk
menjadi yang terbaik serta dapat menginspirasi dan memberi contoh bagi
organisasi lainnya.Hal tersebut dikaitkan dengan upaya BPPT untuk terus
meningkatkan kinerjanya yang ditandai dengan semakin meningkatnya
pelayanan BPPT kepada stakeholder.
Lokus atau lokasi kegiatan yang tersebar pun dikumpulkan hanya
di beberapa titik tetapi diharapkan berdampak besar. Yang lebih penting

12

lagi, sekat-sekat unit organisasi perlahan-perlahan dihilangkan. Suatu unit


yang selama ini asyik dengan kegiatan dirinya sendiri, tidak mengetahui
dan tidak peduli dengan kegiatan di ruangan sebelahnya, dipaksa untuk
membuka diri dan saling berkomunikasi.
Latar belakang penerapan program Humas Focus dan Locus yang
dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan kinerja pegawai
diantaranya:
a)
Untuk menetapkan target-target operasi humas yang nantinya
b)
c)

d)

akan menjadi tolak ukur atas segenap hasil yang diperoleh.


Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya
yang diperlukan.
Untuk menyusun skala prioritas guna menentukan:
1. Jumlah program
2. Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan segenap
program humas yang telah diprioritaskan itu
Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan pelaksanaan berbagai
upaya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai
dengan jumlah dan kualitas:
1. Personil yang ada
2. Daya dukung dari berbagai peralatan fisik seperti alat-alat
kantor, mesin cetak, kamera, kendaraan, dan sebagainya
3. Anggaran dana yang tersedia
Dalam melaksanakan program Focus dan Locus terdapat beberapa

proses dalam pelaksanaanya ialah


1. Program peningkatan pelayanan dan penyediaan fasilitas
Kegiatan dari program peningkatan pelayanan dan
1.

penyediaan fasilitas diantaranya:


Perawatan Gedung kantor Pusat, Tugu, rumah dinas

2.

dan klaster klaster BPPT di serpong ,dll


Penghematan energi, air diseluruh lingkungan BPPT

13

3.

Gerakan nasional Indonesia bersih di lingkungan


BPPT

4.
5.
6.
7.
8.

Pelayanan operasional perkantoran


Layanan pengadaan secara elektronik
Pengelolaan administrasi perlengkapan
Pengelolaan dan monitoring BMN
Penyediaan pakaian kerja
2. Program Penataan administrasi rumah tangga dan kearsipan
Kegiatan dari Program penataan adsministrasi rumah
tangga dan kearsipan diantaranya:
1. Penataaan administrasi SIM-perjalanan dinas
2. Penertiban dan pengelolaan kendaraan operasional
3. Pelaksanaan JRA ( jadwal retensi arsip ) sebagai
amanah UU. No.43,
4. Pembinaan fungsional arsiparis diseluruh unit kerja
BPPT
3. Program peningkatan pelayanan kehumasan untuk kinerja
Humas BPPT
Kegiatan dari program peningkatan pelayanan kehumasan
BPPT diantaranya:
1. Layanan kehumasan dan protokol
2. Layanan media campaign Humas
3. Layanan publikasi dan dokumentasi Humas
4. Layanan peliputan dan analisis berita
4. Program peningkatan kualitas pelayanan inovasi HKI
Kegiatan dari program peningkatan kualitas pelayanan
inovasi HKI diantaranya:
1. Layanan Proses

Percepatan

Inovasi

melalui

Mediasi ;
2. Layanan Peningkatan Kualitas Inovasi BPPT.
Bentuk Implementasi Program Humas Focus, Locus, Good news
sesuai dengan misi BPPT Menjadi pengelola BUMN (Barang Milik
Negara) yang qualified,

14

a. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui


pemotivasian karyawan secara maksimum.
b. Pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan seperti
promosi, transfer dan pemberhentian.
c.

Mengidentifikasikan

kebutuhan

pelatihan

dan

pengembangan

karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi


program pelatihan karyawan.
d. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan
mereka menilai kinerja.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori Interaksionisme simbolik
karena berkaitan dengan judul yang penulis ambil bahwa interaksionisme
simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan
kelompok-lah yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan aturanaturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Dalam konteks
ini, makna dikonstruksikan dalam proses interaksi, dan proses tersebut bukanlah
suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan
perannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial
dan kekuatan sosial. Bagi penganut interaksionisme simbolik, masyarakat adalah
proses interaksi simbolik dan pandangan ini memungkinkan mereka menghindari
problem-problem strukturalisme dan idealisme, dan mengemudikan jalan tengah
diantara kedua pandangan tersebut.
Secara ringkas, interaksionisme simbolik didasarkan premis-premis
sebagai berikut:

15

1. individu merespons suatu situasi simbolik. Mereka merespons


lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku
manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen
lingkungan tersebut bagi mereka. Ketika mereka menghadapi suatu
situasi, respons mereka tidak bersifat mekanis, tidak pula ditentukan
oleh faktor-faktor eksternal; alih-alih, respons mereka bergantung pada
bagaimana mereka mendefinisikan situasi yang dihadapi dalam
interaksi sosial. Jadi, individu-lah yang dipandang aktif untuk
menentukan lingkungan mereka sendiri.
2. Makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat
pada objek, melainkan di negosiasikan melalui penggunaan bahasa.
Negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu menamai segala
sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan
tanpa kehadiran objek fisik, tindakan atau peristiwa), namun juga
gagasan yang abstrak. Akan tetapi, nama atau simbol yang digunakan
untuk menandai objek, tindakan, peristiwa atau gagasan itu bersifat
arbitrer (sembarang). Artinya, apa saja bisa dijadikan simbol dan
karena itu tidak ada hubungan logis antara nama atau simbol dengan
objek yang dirujuknya, meskipun terkadang sulit untuk memisahkan
kedua hal itu. Melalui penggunaan simbol itulah manusia dapat
berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia.
3. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke
waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam
interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu

16

dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya


sendiri. Manusia membayangkan atau merencanakan apa yang akan
mereka lakukan. Dalam proses ini, individu mengantisipasi reaksi
orang lain, mencari alternatif-alternatif ucapan atau tindakan yang akan
ia lakukan. Individu membayangkan bagaimana orang lain akan
merespons ucapan atau tindakan mereka. Proses pengambilan peran
tertutup (covert role taking) itu penting, meskipun hal itu tidak
teramati. Oleh karena itu, kaum interaksionis simbolik mengakui
adanya tindakan tertutup dan tindakan terbuka, dan menganggap
tindakan terbuka sebagai kelanjutan dari tindakan tertutup. Karena
lebih mengedepankan karakteristik perilaku manusia dari sudut
pandang subjek (individu) inilah, maka teori interaksionisme simbolik
berada pada rentang subjektif dalam kajian ilmu-ilmu sosial, tak
terkecuali dalam disiplin ilmu komunikasi.
Cormick dan Tiffin 1980 (Sutrisno 2010 : 172) memperjelas bahwa kinerja
adalah kuantitas, kualitas dan waktu yang digunakan dalam menjalankan tugas.
Kuantitas adalah hasil yang dapat dihitung sejauh mana seseorang dapat berhasil
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kualitas adalah bagaiman seseorang
dalam menjalankan tugasnya, yaitu mengenai banyaknya kesalahan yang dibuat,
kedisiplinan dan ketepatan. Waktu kerja adalah mengenai jumlah absen yang
dilakukan, keterlambatan, dan lamanya masa kerja dalam tahun yang telah
dijalani. Dari definisi tersebut, menyimpulkan bahwa yang dimaksud kinerja
karyawan adalah hasil kerja karyawan dilihat pada aspek kualitas, kuantitas,

17

waktu kerja, dan kerjasama untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh
organisasi.
Bernardin dan Russel (1993), mengutarakan untuk mengetahui kinerja
atau hasil kerja dari seseorang karyawan digunakan sebuah daftar pertanyaan yang
berisikan beberapa dimensi tentang hasil kerja atau kinerja yang telah meningkat.
Ada 6 (enam) kriteria untuk mengetahui kinerja karyawan (Bernardin dan Russel,
1993) yaitu:
1)

Quality Adalah sebagai "the degree to which the process or either

conforming to some ideal way performing the activity or fulfilling the activitys
intended purpose". Ini berarti quality berarti suatu tingkatan yang rnenunjukkan
proses pekerjaan atau hasil yang telah dicapai dari suatu pekerjaan yang
mendekati kesempurnaan.
2)

Quantity Yaitu "the amount produced, expressed in such term as dollar

value, number of unit or number of compIeted activity cycler" artinya quantity


merupakan jumlah yang diproduksi yang dinyatakan dalam nilai mata uang,
jumlah unit produksi ataupun dalam jumlah siklus aktivitas yang telah
terselesaikan.
3)

Timeliness Yaitu "the degree to which an activiy completed, or a result

produced, at the earliest time desirable from the stand points of both coordinating
with the outputs of other and maximizing the time available for ather activities",
ini berarti timeliness merupakan suatu tingkatan yang rnenunjukkan bahwa suatu
pekerjaan dapat terselesaikan lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

18

4)

Cost effectiveness Yaitu "the degree to which the use of organization

resources (eg: human, monetary, technological, material) is maximized in the


sense of getting the highest gain or reduction in loss form each unit instead of use
of resource", ini berarti cost effectiveness merupakan suatu tingkatan yang paling
maksimal dari penggunaan sumber daya (manusia, keuangan, teknologi) yang
dimiliki perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal atau
mengurangi kerugian dari masing-masing unit atau sebagai pengganti dari
penggunaan sumber daya.
5)

Need for supervision Yaitu "the degree to which a performer can carry out

a job function without either having to request supervisory intervention to prevent


an adverse outcome", ini berarti need for supervision merupakan suatu tingkatan
di mana seseorang karyawan dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa
harus meminta bimbingan atau campur tangan dari penyelia.
6)

Interpersonal impact Yaitu "the degree to which a perfomer promotes

feelings

selfesteem,

goodwill,

and

cooperation

among

cowokerr

and

subordinates", ini berarti interpersonal impact merupakan suatu tingkatan keadaan


di mana karyawan dapat menciptakan suasana nyaman dalam bekerja, percaya
diri, berbuat baik dan kerjasama antar rekan sekerja.
Program humas adalah upaya perencanaan strategis dalam menangani publik
untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam program humas kata-kata berikut ini
menjadi konsepnya: Disengaja, terencana, dan upaya yang berkesinambungan,
Menciptakan dan memelihara, Pengertian bersama. Program humas dalam
keseluruhannya

merupakan

kegiatan

19

yang

kompleks

dan

harus

dapat

mengakomodasi aktifitas humas dari hari ke hari dalam kerangka strategis. Karena
itulah wujud strategi humas merupakan program humas dan didalamnya setiap
aktifitas ataupun acara menjadi taktik. Program humas berupa tindakan,
merupakan langkah korektif untuk melayani kepentingan bersama dari organisasi
dan publiknya.
Pada pelaksanaan program Focus dan Locus humas melakukan pola
komunikasi organisasi dengan tujuan agar pesan yang disampaikan oleh humas
sampai kepada sasaran-sasarannya terutama karyawannya. Dimana humas
melakukan Implementasi terhadap program. implementasi menurut definisi
Brown dan Wildansky (dalam Nurdin dan Usman, 2004 : 70) mengemukakan
bahwa implementasi merupakan perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan.
Adapun menurut Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002 : 70) mengemukakan
bahwa implementasi adalah rekayasa.
Pengertian-pengertian diatas menjelaskan bahwa kata implementasi adalah
adanya aktivitas, aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan
mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi
suatu kegiatan terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan
norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.

20

Gambar 1.1
Bagan Kerangka Pemikiran
Keberadaan

Humas

ditujukan

1.

untuk

mendapatkan citra(Image) yang baik di mata


masyarakat.

Salah

satu

upaya

untuk

mengimplementasikan kebijakan peraturan tersebut


sesuai dengan visi Biro Umum dan Humas BPPT

b)

adalah dengan menjalankan Program Focus, Locus,


Good news. Maka dari itu penulis ingin melakukan
penelitian ini karena penelitian ini belum ada yang
melakukanya terutama di BPPT (Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi).

d)

Bentuk Implementasi program humas


a.
b.
c.

d.

Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien


melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
Pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
karyawan seperti promosi, transfer dan pemberhentian.
Mengidentifikasikan
kebutuhan
pelatihan
dan
pengembangan karyawan dan untuk menyediakan
kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai
bagaimana atasan mereka menilai kinerja

Latar belakang pelaksanaan Program


Focus dan Locus
Ada 4 (empat) program, terdiri dari :
Untuk menetapkan target-target operasi humas yang
nantinya akan menjadi tolak ukur atas
segenap hasil yang diperoleh.
Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan
berbagai biaya yang diperlukan.
Untuk menyusun skala prioritas guna menentukan:
1.
Jumlah program
2. Waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan segenap program
humas yang telah diprioritaskan itu
Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan
pelaksanaan berbagai upaya dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai
dengan jumlah dan kualitas
2. Proses pelaksanaan Program Focus dan Locus
Sesuai dengan misi BPPT
1. Program peningkatan pelayanan dan
penyediaan fasilitas
2. Program Penataan administrasi rumah
tangga dan kearsipan
3. Program
peningkatan
pelayanan
kehumasan untuk kinerja Humas BPPT
4. Program peningkatan kualitas pelayanan
inovasi HKI
3. Bentuk Implementasi program humas
a. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan
efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
b. Pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
karyawan seperti promosi, transfer dan pemberhentian.
c. Mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan dan
pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria
seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
d. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai
bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.

21

1. Program Humas adalah upaya perencanaan strategis


dalam menangani publik untuk mencapai tujuan
organisasi.
2. kinerja adalah kuantitas, kualitas dan waktu yang
digunakan dalam menjalankan tugas. Kuantitas
adalah hasil yang dapat dihitung sejauh mana
seseorang dapat berhasil mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
3. implementasi adalah adanya aktivitas, aksi, tindakan,
atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan
mekanisme mengandung arti bahwa implementasi
bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan
terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh
berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan
kegiatan.

4.

interaksionisme simbolik didasarkan premis-premis


sebagai berikut: pertama, individu merespons suatu
situasi simbolik. Mereka merespons lingkungan,
termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial
(perilaku manusia) berdasarkan makna yang
dikandung
komponen-komponen
lingkungan
tersebut bagi mereka.(Herbert Blummer)

Review Penelitian Sejenis


1.7 Metodologi Penelitian
Metodologi adalah: Bagaimana cara peneliti menemukan pengetahuan?

Secara lebih sederhana dapat dikatakan metodologi mempertanyakan


bagaimana cara peneliti menemukan pengetahuan, atau lebih konkret lagi
metodologi mempertanyakan cara atau metoda apa yang digunakan oleh
peneliti untuk menemukan pengetahuan?. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Maman (2002; 3) penelitian deskriptif
berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada
saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir
sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak
dapat diterapkan pada berbagai masalah (Husein Umar, 1999:81).
1.7.1 Jenis Studi
Penelitian ini lebih memfokuskan pada studi kasus yang
merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentu selama
kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh. Menurut

22

Vredenbregt(1987: 38). Jenis Studi kasus ialah suatu pendekatan yang


bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek,
artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai
suatu keseluruhan yang terintegrasi, di mana tujuannya adalah untuk
memperkembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai obyek yang
bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus harus disifatkan sebagai
penelitian yang eksploratif dan deskriptif.
1.8 Penentuan Data dan Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata kata dan
tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain lain.
Dalam penelitian kualitatif, sumber data tersebut informasi dan berfungsi
sebagai subjek penelitian. (Lofland & Lofland (1904;47) (dalam
Maleong,2001;112).
Penentuan dan penentuan informasi menggunakan tipe purposive,
dimana peneliti cenderung memilih informan yang dianggap tahu dan
dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap dan mengetahui
masalah secara mendalam. Namun informan dapat berkembang sesuai
dengan kebutuhan dan kemantapan penelitian memperoleh data.
Ada dua jenis yang menjadi sumber penelitian ini, yakni data
primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh
langsung dari isi wawancara yang dilakukan dengan narasumber. Data
primer ini bersumber dari isi rekaman percakapan antara peneliti dan
narasumber. Sedangkan data sekunder adalah data dari sumber lain yang

23

dapat mendukung penelitian ini, seperti studi kepustakaan terhadap teori


dan informasi yang relevan dan merupakan pelengkap untuk
mengkonstruksi realitas yang ada, yang diperoleh dari berbagai sumber
seperti buku, majalah, Koran, internet dan sebagainya. Juga melalui
wawancara.
Hasil dari penelitian kualitatif ini diharapkan dapat menghasilkan
data serta berbagi informasi yang bermakna seputar program Humas
Focus dan Locus yang dilakukan oleh Humas BPPT dalam meningkatkan
Kinerja Karyawan.
1.8.1

Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat


digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Ada beberapa teknik atau
metode pengumpulan data yang biasanya dilakukan oleh peneliti. Peneliti
dapat menggunakan salah satu atau gabungan dari metode yang ada
tergantung masalah yang dihadapi (Kriyantono, 2009: 93).
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
antara lain:
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu dengan cara mengumpulkan data yang ada mengenai
permasalahan dalam penelitian dengan membaca literatur yang
relevan untuk mendukung, seperti buku-buku, jurnal, dan
internet mengenai kecemasan berkomunikasi, ketidakpastian,
komunikasi antarpribadi dalam bimbingan skripsi.

24

b. Penelitian Lapangan (Field Research).


1. Wawancara mendalam (depth interview)
Wawancara

mendalam

(depth

interview)

merupakan

metode pengumpulan data dimana peneliti melakukan kegiatan


wawancara tatap muka secara mendalam dan terus-menerus (lebih
dari satu kali) untuk menggali informasi dari responden
(Kriyantono,2009:63). Wawancara mendalam adalah wawancara
secara intensif untuk mendapatkan data kualitatif yang mendalam.
2. Observasi; diartikan sebagai kegiatan mengamati secara
langsung, tanpa mediator, subjek penelitian untuk melihat dengan
dekat kegiatan yang dilakukan subjek tersebut. Observasi
merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan pada riset
kualitatif. Yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan
percakapan yang terjadi antara subjek yang diteliti (Kriyantono,
2009:108). Sedangkan observasi yang digunakan adalah observasi
nonpartisipan, yang merupakan metode observasi tanpa ikut terjun
melakukan aktivitas seperti yang dilakukan kelompok yang diteliti,
baik kehadirannya diketahui atau tidak (Kriyantono, 2009: 110).
3. Bahan Visual
Bahan visual bermanfaat untuk mengungkapkan suatu
keterkaitan antara subjek penelitian dengan peristiwa di masa silam
atau peristiwa saat ini. Bahan visual juga memiliki makna secara
spesifik terhadap informan penelitian. Walau bahan visual bisa

25

digunakan dalam penelitian, namun karena bahan visual ini adalah


bahan informasi sekunder, sehingga metode bahan visual ini hanya
dapat digunakan sebagai metode sekunder (Bungin, 2010:123).
1.8.2 Validitas dan teknik Keabsahan Data
1.8.2.1 Validitas
Validitas didapatkan jika peneliti mampu mendapatkan deskripsi
yang akurat dari data yang benar benar ditemukan dilapangan dan data
tersebut diperoleh melalui proses yang benar serta mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan. Selain itu, validitas dalam penelitian kualitatif
bukan dijelaskan dengan realitas itu sendiri. Melainkan dengan
mengevaluasi dan menginterpresentasikan pengalaman yang diperoleh
peneliti melalui informasn peneliti atau yang biasa disebut key informan.
Terdapat empat kriteria yang digunakan dalam teknik validitas
data, yaitu :
1.

Derajat Kepercayaan (Credibility)

Kriterium ini berfungsi untuk melaksanakan sedemikian rupa


sehingga

tingkat

kepercayaan

penemuannya

dapat

dicapai

dan

mempertunjukkan dearajat kepercayaan hasil hasil penemuan dengan


jalan

pembukuan

oleh

kenyataan

ganda

yang

sedang

diteliti

(Moleong,200;173).
2.

Keteralihan (Transferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan


antara konteks pengiriman dan penerima. Untuk melakukan pengalihan

26

tersebut peneliti meneliti dengan mengumpulkan kejadian empiris tentang


kesamaan konteks. (Moleong,2000;1780)
3.

Kebergantungan (Dependebility)

Kriterium ketergantungan merupakan substitusi ialah realibilitas


dalam penelitian non kualitatif. Konsep ketergantungan lebih luas
dibandingkan reliabilitas. (Moleong,2000;178). Teknik pemeriksaan data
yang dipakai adalah audit ketergantungan.
4.

Kepastian (Confirmability)

Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut


penelitian non kualitatif. Dikatakan bahwa pengalaman seseorang adalah
subjektif, sedangkan jika disepakati beberapa banyak orang barulah
dikatakan objektif.
Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan kriteria
kreadibiltas (kepercayaan) yang memiliki fungsi melaksanakan inquiry,
sedemikian rupa, sehingga tingkat kepercayaan hasil hasil penemuan
dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang
diteliti. Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila
tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.
a.

Triangulasi

Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas ini dilakukan dengan


pengecekan data dari berbagai sumber yang berbeda.
b.

Menggunakan Bahan Referensi

27

Bahan

referensi

disini

adalah

adanya

pendukung

untuk

membuktikan data yang ditentukan oleh peneliti berupa data hasil


wawancara yang telah ditemukan oleh peneliti berupa data hasil
wawancara ataupun pihak pihak terkait berupa rekaman wawancara, atau
foto foto jika diperlukan.
c.

Member check

Member Check adalah proses pengecekan data yang diperoleh


peneliti kepada artis yang menjadi caleg dan beberapa pihak yang dapat
disajikan informasi penelitian. Tujuan member check adalah untuk
mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang
diberikan oleh informan.
1.9 Informan
Karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang hasilnya
menekankan pada makna bukan pada generalisasi. Sample digunakan
untuk mendapatkan data untuk menjawab masalah penelitian sebagai
tujuan penelitian.
Tujuan dari sample adalah untuk merinci kekhususan konteks yang
unik, informan dalam penelitian ini adalah orang orang yang bisa
dijadikan narasumber oleh penulis dalam penelitian ini. Dengan
menggunakan purposive sampling. Dimana peneliti cenderung memilih
informan yang dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber
data yang mantap dan mengetahui masalah secara mendalam.

28

Sample dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden ,


tetapi sebagai narasumber , atau partisipan, informan, teman dan guru
dalam penelitian. Maka, untuk selanjutnya sample yang dimaksud dalam
penelitian ini disebut informan, karena dianggap memiliki sumber data
yang dibutuhkan dalam penelitian. Sugiyono ( 2005 : 50 ).
1.10

Teknik Analisis Data


Metode analisis dalam kualitatif dikenal dengan nama

metode reduksi yang secara garis merduksi keseluruhan pernyataan hasil


wawancara dan dirumuskan menjadi esensi pengalaman. Adapun tahap
analisis yang digunakan dalam menganalisa hasil wawancara dalam
penelitian ini adalah metode yang direkomendasikan oleh Van Kaam,
antara lain :
1. Pendataan dan Pengelompokkan awal
Semua data pernyataan yang relevan dan informasi yang
dibutuhkan dalam mengangkat motif denotasi, konotasi dan mitos dalam
batik mega mendung.
2. Reduksi dan Eliminasi
Pernyataan narasumber yang dianggap tidak sesuai dengan
kebutuhan penelitian dalam mengungkap makna motif denotasi, konotasi
dan mitos batik mega mendung, dihilangkan atau dieliminasi, yaitu
pernyataan pernyataan yang sama, mengulang dan hampa.
3. Thematizing

29

Pernyataan dari narasumber yang memiliki tema yang sama


dipisahkan dan dikelompokkan sehingga mudah untuk dilihat kembali dan
dicerna. Pengelompokkan itu kemudian menjadi tema utama dalam
memahami pengalaman narasumber mengenai makna motif denotasi,
konotasi dan mitos batik mega mendung.
4. Validasi data wawancara
Peneliti memeriksa pernyataan dan tema yang terbentuk apakah
dinyatakan secara eksplisit, kalaupun tidak apakah tersirat. Pemeriksaan
ulang kepada semua narasumber, dan orang orang yang mungkin terkait
dilakukan untuk memastikannya, sehingga jika tidak keduanya maka
peneliti harus menyingkirkan pernyataan tersebut.
1.11

Pedoman Wawancara
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian lain dalam buku

mengenai keterkaitan antara teori, metode pengumpulan data, dan metode


analisis data, bahwa dalam penelitian kualitatif relasi metode pengumpulan
data dan teknik-teknik analisis data kadang tidak terelakkan, karena suatu
metode pengumpulan data juga sekaligus adalah metode dan teknik
analisis data.
Dengan demikian, pedoman wawancara yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Depth Interview atau Wawancara mendalam :
Pada penelitian ini , peneliti akan menyebut informan
sebagai subjek dari penelitian. Mengingat, proses pengumpulan data ini

30

terarah pada individu individu yang secara humanistic bukan dipandang


sebagai makhluk yang pasif, melainkan makhluk yang aktif atas
pertimbangan psikologi. Menurut (Creswell, 1988;188) (dalam Sugiyono,
2005;50), menyatakan bahwa pengumpulan data yang dilaksanakan
terhadap objek, baik untuk mendapatkan data primer maupun sekunder
dengan wawancara mendalam.
Wawancara mendalam ( Indepth-Interview ) merupakan metode
pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif.
Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan peneliti dengan cara tanya jawab sambil bertatap
muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang
diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman ( guide )
wawancara, pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social
yang relative lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam
adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan.
2. Metode Wawancara Bertahap
Bentuk Wawancara yang kedua ini sedikit lebih formal dan
sistematik bila dibandingkan dengan wawancara mendalam, tetapi masih
jauh tidak formal dan tidak sistematik bila dibandingkan dengan
wawancara sistematik. Wawancara terarah dilaksanakan secara bebas dan
juga mendalam (in-depth), tetapi kebebasan ini tetap tidak terlepas dari
pokok permasalahan yang akan ditanyakan kepada respoden dan telah
dipersiapkan sebelumnya oleh pewawancara.

31

3.Melaksanakan Wawancara dengan baik


Paling utama dalam melakukan wawancara adalah memerhatikan
kemampuan pewawancara dalam mengendalikan wawancaranya. Ini
disebabkan efektivitas wawancara banyak tergantung pada pewawancara.
Untuk

melaksanakannya

tugasnya

dengan

baik,

pertama

faktor

karakteristik sosial dirinya harus dapat dipahami lebih dahulu oleh


pewawancara.
4.Perlengkapan Wawancara
Wawancara dapat menggunakan beberapa alat bantu atau
perlengkapan wawancara seperti tape recorder, pulpen, pensil, blocknote,
karet penghapus, stopmap plastik, daftar pertanyaan, hardboard, surat
tugas, surat ijin dan daftar responden, bahkan peta lokasi juga amat
membantu.
1.12

LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN


1.12.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di BADAN PENGKAJIAN DAN

PENERAPAN TEKNOLOGI BPPT Tepatnya di Jalan MH. Thamrin 8,


Jakarta 10340, Meskipun demikian, waktu dan tempat penelitian
dikondisikan dengan jadwal dan keinginan subjek penelitian.

Badan

Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah lembaga pemerintah


non-departemen yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara
Riset dan Teknologi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi. Proses

32

pembentukan BPPT bermula dari gagasan Mantan Presiden Soeharto


kepada Prof Dr. Ing. B.J. Habibie pada tanggal 28-Januari-1974. Dengan
surat keputusan no. 76/M/1974 tanggal 5-Januari-1974, Prof Dr. Ing. B.J.
Habibie diangkat sebagai penasehat pemerintah dibidang advance
teknologi dan teknologi penerbangan yang bertanggung jawab langsung
pada presiden dengan membentuk Divisi Teknologi dan Teknologi
Penerbangan (ATTP).
Melalui surat keputusan Dewan Komisaris Pemerintah Pertamina
No.04/Kpts/DR/DU/1975 tanggal 1 April 1976, ATTP diubah menjadi
Divisi Advance Teknologi Pertamina. Kemudian diubah menjadi Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Keputusan Presiden
Republik Indonesia No.25 tanggal 21 Agustus 1978. Diperbaharui dengan
Surat Keputusan Presiden No.47 tahun 1991.
1.12.2 Subjek Penelitian
Riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil
riset. Hasil riset lebih bersifat kontekstual dan kausistik, yang berlaku
pada waktu dan tempat tertentu sewaktu riset dilakukan, karena itu pada
riset kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Sampel pada riset kualitatif
disebut informan atau subjek riset, yaitu orang-orang dipilih untuk
diwawancarai atau diobservasi sesuai tujuan riset. Disebut subjek riset,
bukan objek, karena informan dianggap aktif mengkonstruksi realitas,
bukan sekedar objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono, 2009:
163). Untuk studi kasus, jumlah informan dan individu yang menjadi

33

informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Orangorang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki
pengalaman sesuai dengan penelitian, orang-orang dengan peran tertentu
dan tentu saja yang mudah diakses.
Melalui metode kualitatif kita dapat mengenal orang (subjek)
secara pribadi dan melihat mereka mengembangkan definisi mereka
sendiri tentang dunia dan komunikasi yang mereka lakukan. Kita dapat
merasakan apa yang mereka alami dalam pergaulan masyarakat mereka
sehari-hari. Melalui metode ini memungkinkan kita menyelidiki konsep
yang dalam pendekatan lainnya akan hilang.
Maka,

subjek

penelitian

ini

adalah

pegawai

BADAN

PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI BPPT Jakarta.


Sesuai dengan pembatasan masalah dalam penelitian ini bahwa yang
menjadi subjek penelitian adalah Pegawai BADAN PENGKAJIAN DAN
PENERAPAN TEKNOLOGI BPPT Jakarta Berdasarkan data yang
diperoleh dari masing-masing departemen pada Februari 2013, jumlah
pegawai yang bekerja dalam setiap departement adalah Kepala BPPT, Dr.
Ir. Marzan A. Iskandar selaku pencetus program, sekretaris utama Ir.
Jumain Appe, MSi.,

Biro Perencanaan (ROREN)

25orang, Biro

Keuangan 30 orang, Biro Sumberdaya Manusia dan Organisasi 10 Orang,


Biro Umum dan Hubungan Masyarakat yang dikepalai oleh Drs. I Gst
Ketut Astana dan mempunyai bawahan 20 orang, serta kepala deputi BPPT
meliputi: Deputi bidang pengkajian kebijakan teknologi, Deputi bidang
34

teknologi pengembangan sumberdaya alam, Deputi bidang teknologi


agroindustri dan

bioteknologi, dan Deputi bidang teknologi industri

rancang bangun dan rekayasa.

DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, M Linggar. 2008. Teori dan Profesi Kehumasan: Serta
Aplikasinya di Indonesia. Jakarat: Bumi Aksara.
Bachtiar, Wardi, M,S. 2006. Sosiologi Klasik dari Comte hingga Parsons.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Bernardin, H. John and Russel, E.A., 1993. Human resource Management,
An Experiential Approach. Singapore: Mac Graw Hill Book Co.
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
--------------. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.
Cangara, Hafidz. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design: California:
Sage Publications, Inc.
Cutlip, Scott M. Allen H. Center. 1982. Effective Public Relations: Revise
5th Edition. New Jersey : Prentice Hall, Inc. Engle Wood Clips.
Effendy, Onong Uchjana. 1992. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:
Remaja Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo. PT Remaja Rosda
Karya.

35

-------------------------------. 1992. Hubungan Masyarakat: Suatu Studi


Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
-------------------------------1993. Human Relations dan Public Relations.
Bandung: Mandar Maju.
Harlow, Rex. 1978. A Model forPublic Relations Education for
Professional Practices. New York: IPRA (International Public Relation
Association).
Jefkins, Frank. 1996. "Public Relations 4'~'editions". Jakarta: Erlangga.
----------------- dan Daniel Yadin. 2004. Public Relations. Jakarta: Erlangga.
Kasali, Rhenald. 1994. Manajemen Public Relations : Konsep dan Aplikasi
di Indonesia. Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA:
Wadsworth Publishing.
Mulyana, Deddy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru
Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung : PT Remaja
Rosdakarya

---------------, dan Solatun. 2007. Kualitatif Metode Penelitian Kualitatif.


Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Moleong, Lexy J. 2004. Metode penelitian Kualitatif. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
Nurdin dan Usman 2004: 70 Pengetian Implementasi
Oliver, Sandra. 2007. Strategi Public relation. Jakarta: Erlangga.

36

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi. Bantul :


Kreasi Wacana.
Usman,

Husaini.

2006.

METODOLOGI

PENELITIAN

SOSIAL.

JAKARTA: PT.Bumi Aksara.


Rueslan, Rosady. 1998. Manajemen Public Relations dan Media
Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada.
-------------------. 2002. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.
Jakarta: Rajawali Pers.
-------------------. 2003. Manajemen Public Relations. Jakarta: Rajawali Press.
-------------------. 2005. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi:
Konsepsi dan Aplikasi. Jakarta: Devisi Buku Perguruan Tinggi PT Raja
Grafindo Persada.
Sendjaja, Sasa Djuarsa. 1994. Pengantar Komunikasi. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto. 2002. Dasar-dasar Public
Relations. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
---------------------------------. 2004. Dasar-dasar Publik Relations. Bandung :
PT Remaja Rosda Karya.
----------------------------------. 2007. Dasar-dasar Public Relations. Bandung:
PT Remaja Rosda Karya.
Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sutrisno, Edy. 2010. Manajemen Sumber daya Manusia. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.

37

Usman, Nurdin. 2002. Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum.


Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.
Zeitlin, Irving M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.

INTERNET
http://adiprakosa.blogspot.com/2008/09/pengertian-komunikasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi
Dokumen:
Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974Tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian.
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara nomor
PER/09/M.PAN/5/2007 pasal 12 ayat 1 dan 2 tentang pedoman umum
penetapan indikator kinerja di lingkungan instansi pemerintah.

38