Anda di halaman 1dari 23

Makna Motif Batik Mega Mendung sebagai Simbol

Budaya Cirebon
Studi Analisis Semiotika Roland Barthes mengenai Pemaknaan Motif Batik Mega
Mendung sebagai Simbol Budaya Cirebon

Usulan Masalah
Diajukan untuk memenuhi Usulan Masalah
Pada Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Disusun oleh

Dewi Wulansari
Humas A Kelas Sore
210110110613

ILMU HUBUNGAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Konteks Penelitian
Batik merupakan salah satu produk budaya bangsa Indonesia.

Dalam perkembangannya, batik mengalami perkembangan corak, teknik, proses,


dan fungsi akibat perjalanan masa dan sentuhan berbagai budaya lain. Batik
dibangun dengan pandangan dasar artistik yang berkembang sesuai dengan
tuntutan zaman. Kekayaan ragam hias sangat dipengaruhi oleh perjalanan sejarah,
terutama sejak masa prasejarah yang kemudian ditambah dengan bentuk ragam
hias paduan budaya Cina dan India. Hal ini merupakan variasi yang sangat
menarik karena memadukan berbagai budaya antar bangsa , khususnya di Cirebon
yang terkenal dengan Budaya Batiknya.
Dalam sejarah pembatikan, aktivitas membatik telah mengalami
pertumbuhan dengan berbagai corak orientasinya. Pertama, batik sebagai kegiatan
sambilan wong cilik. Ke dua, batik sebagai mata dagangan. Ke tiga, batik sebagai
kegiatan tradisi dari kalangan bangsawan. Ke empat, batik sebagai usaha dagang
sebagian orang Cina dan Belanda-Indo, Ke lima, batik sebagai kebutuhan seni
atau desain dengan konsep kontemporer. Batik sebagai mata dagangan
mempunyai pemakai dalam jumlah banyak dan mencakup wilayah pasar yang
luas. Dalam hal ini juga dikenal batik klasik, yaitu batik yang dipengaruhi oleh

nilai-nilai tradisi Jawa dan didukung oleh kalangan bangsawan keraton


Yogyakarta dan Surakarta. Batik klasik atau batik keraton dibuat untuk
mewujudkan nilai-nilai budaya Jawa.
Dalam budaya Jawa, khususnya di lingkungan keraton, terdapat ketentuanketentuan yang menyangkut keluarga raja dan pejabat keraton dalam bertindak,
berbicara dan berpakaian agar sesuai dengan aturan keraton. Keraton memandang
perlu membuat aturan supaya kedudukan raja tetap kuat dan mutlak. Dampak
aturan itu membangkitkan feodalisme, dan feodalisme sendiri adalah sikap mental
yang memperlakukan secara khusus orang-orang tertentu karena usia atau
kedudukannya. Dari kerajaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad 17, 18
dan 19, batik berkembang luas khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik
hanya sekedar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Tujuan
orang Jawa membatik terutama adalah untuk keperluan sendiri, namun
perkembangan selanjutnya dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.
Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna makna yang tertuang dalam
symbol symbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah
system dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk
bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan dan
memperkembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap
kehidupan ini.
Budaya dan Komunikasi tak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak
hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang
menyandi pesan , makna yang dimiliki untuk pesan dan kondisi kondisinya

untuk mengirim, memperlihatkan dan menafsirkan pesan. Seperti pengertian


komunikasi yang disampaikan oleh Bernald Berelson dan Gary A Steiner yaitu :
Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan
sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol, kata kata, gambar, grafik dan
sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut
komunikasi. (Mulyana,2004:62).
Batik merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna,
salah satunya batik motif Mega Mendung . Cirebon adalah kota yang
memiliki warisan budaya yang beragam. Salah satunya adalah batik motif
Mega Mendung merupakan warisan batik khas Cirebon. Bentuk motif Mega
Mendung pada saat sekarang sudah banyak berubah dan dimodifikasi sesuai
dengan

permintaan

pasar

diantaranya

oleh

komunitas

perancang

busana (fashion designer). Motif Mega Mendung sudah dikombinasi dengan


motif-motif bentuk hewan, bunga atau unsur motif lainnya. Dilihat dari segi
proses produksi batik Mega Mendung yang dahulunya dikerjakan dengan
batik tulis dan batik cap, seiring berkembangnya alat-alat teknologi
sekarang ini proses membatik dikembangkan pula dengan proses produksi
sablon (print). Dengan demikian harga produksi bisa ditekan lebih murah
karena lebih cepat dalm waktu pengerjaanya.
Motif Mega mendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon (Jawa
Barat) sebagai motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia
pecinta batik, begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Sejarah
timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang

diambil dari berbagai macam buku dan literatur selalu mengarah pada sejarah
kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas
dalam sejarah bahwa Sunan Gunung jati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri
China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah
keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk awan dalam beragam
budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk
awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental
(Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia
kesenirupaan Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan
dunia besar atau alam bebas.
Hal yang diuraikan diatas, membuat penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berkaitan dengan budaya cirebon. Hasil penelitian akan
dituangkan dalam karya ilmiah yang berjudul BAGAIMANA MAKNA MOTIF
BATIK MEGA MENDUNG SEBAGAI SIMBOL BUDAYA CIREBON?
1.2

Fokus Kajian Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti memfokuskan kajiannya


pada Makna Motif Batik Mega Mendung sebagai Simbol Budaya

Cirebon

1.3

Pertanyaan Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti akan memfokuskan penelitian dengan membuat


pertanyaan pertanyaan yang akan menjadi dasar bahan penelitian agar penelitian
yang akan dilakukan dapat lebih terarah dan tidak melenceng atau keluar dari jalur
penelitian, adapun pertanyaan pertanyaan tersebut adalah :
1. Bagaimana makna denotasi dalam motif batik mega mendung ?
2. Bagaimana makna konotasi dalam motif batik mega mendung ?
3. Bagaimana mitos dalam motif batik mega mendung ?

1.4

Tujuan Penelitian
Ada beberapa tujuan diangkatnya kasus ini untuk dijadikan bahan

penelitian, yaitu :
1. Untuk mengetahui makna denotasi dalam motif batik mega mendung
2. Untuk mengetahui makna konotasi dalam motif batik mega mendung
3. Untuk mengetahui mitos dalam motif batik mega mendung

1.5

Ruang Lingkup Penelitian dan Kegunaan Penelitian

1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian


Metode penelitian kualitatif dapat digunakan pada ruang lingkup
yang paling kecil, yaitu satu situasi sosial (single social situation) sampai
masyarakat yang luas dan kompleks. Satu situasi sosial dapat terdiri dari satu
orang, aktivitas, dan tempat tertentu.
Dalam hal ini ruang lingkup penelitian yang akan diteliti yaitu Makna Motif Batik
Mega Mendung dalam Simbol Budaya Cirebon.
1.5.2

Kegunaan Penelitian

1.5.2.1 Kegunaan teoritis


1.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan

kegunaan yang terkait dalam bidang kesenian budaya terutama


untuk kajian penelitian komunikasi.
2.

Dapat memberikan sumbangan informasi dari kajian ilmu

komunikasi untuk melihat bagaimana sebuah komunikasi non


verbal melalui pesan dan symbol dapat mengunkapkan sebuah
pemaknaan terutama dalam pengkajian analisi semiotika yang telah
didapatkan semasa perkuliahan

1.5.2.2 Kegunaan Praktis


1.

Penelitian ini dapat berguna sebagai bahan masukan bagi

masyarakat terkhusus masyarakat Cirebon agar dapat lebih


mengetahui makna motif pada batik mega mendung serta dapat
menambah pengetahuan praktis yang sangat berguna untuk
memperdalam pengetahuan tentang ilmu semiotika terutama dalam
mengkaji bidang kebudayaan.
2.

Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan

sebagai bahan perbandingan antara teori yang telah dipelajari


dengan praktek yang ada di lapangan.

1.6

Kerangka Pemikiran
Perspektif Teoritis merupakan landasan peneliti dalam melakukan

penelitian. Landasan pemikiran digunakan agar jalannya penelitian yang


dilakukan sejalan dengan permsalahan yang diangkat atau dibahas.
Dalam penelitian ini yang menjadi landasan pokok adalah fenomenologi.
Fenomenologi merupakan salah satu aliran filsafat, sekaligus metode berpikir
yang membawa perubahan besar dalam ilmu sosial. Pendekatan inilah yang
membuat para ilmuwan melihat gejala sosial secara berbeda, sekaligus membuat

ilmu sosial menemukan dirinya sendiri. Tokoh-tokoh yang berpengaruh antara lain
: Edmund Husserl, Alfred Schultz, dan Peter Berger
Menurut pandangan fenomenologis peneliti berusaha memahami arti
peristiwa dan kaitan kaitannya terhadap orang orang yang berbeda dalam
situasi situasi tertentu. Dalam hal ini, desain yang menunjukkan kebudayaan
Indonesia.
Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai
motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik,
begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran motif
Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover sebuah
buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van
Roojen bangsa Belanda.
Penulis mencoba untuk mengidentifikasikan Motif Mega Mendung dengan
Makna Denotatif, Konotatif dan Mitos.

Kerangka Pemikiran Penelitian


Konotasi

Fenomenologi

Denotasi
Motif Mega Mendung

Mitos

Fenomenologi

10

1.7.

Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan

metode penelitian kualitatif. Moleong (2010) dalam buku Metodologi Penelitian


Kualitatif edisi Revisi mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai berikut :
Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan,dll. Secara holistic dan dengan cara deskriptif dalam
bentuk kata kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong,2010:6).
Penelitian kualitatif berusaha untuk mengkaji dan memahami suatu
fenomena secara lebih mendalam, dimana pemahaman yang diperlukan adalah
secara kualitas, bukan jumlah populasi (kuantitas). Dengan kata lain dan
Penelitian Kualitatif berusaha untuk mengkaji dan memahami suatu fenomena
secara lebih mendalam, dimana pemahaman yang diperlukan adalah secara
kualitas, bukan jumlah populasi (kuantitas). Dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan
(angka). Sedangkan kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan perhitungan
(angka).
Penelitian ini termasuk jenis kualitatif dengan pendekatan Semiotika
Roland Barthes. Artinya data yang digunakan merupakan data kualitatif (data

11

yang tidak terdiri dari angka-angka) melainkan berupa kata-kata yang terdapat
pada budaya batik mega mendung. Sumber data berasal dari observasi lapangan
dan mengumpulkan banyak data dokumen dari berbagai literature yang
berkembang seiring dengan berjalannya penelitian.
1.7.1

Pendekatan Semiotika Roland Barthes


Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Semiotika

Roland Barthes. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan


komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal yang bias dikomunikasikan dengan
berbagai tanda. Untuk memahami tanda, maka harus juga memahami budaya
dimana tanda tersebut berada. Setiap tanda harus ada konsep yang abstrak di
dalamnya.
Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia
artinya semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni
sesuatu yang harus kita beri makna.
Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda , studi mengenai tanda dan
segala yang berhubungan dengan tanda-tanda lainnya. Cara berfungsinya,
pengiriman dan penerimaan oleh penggunaannya. (Ruslan,2010:351). Semiotik
menganggap bahwa fenomena social dan kebudayaan merupakan tanda tanda
atau ingin mempelajari system, aturan, dan konvensi yang memungkinkan tanda
tanda tersebut memiliki suatu arti tertentu.(Preminger dalam Ruslan,2010:225).
Barthes mengaplikasikan semiologinya ini hamper dalam setiap bidang
kehidupan seperti mode busana, boneka film, fotografi, sastra dan otomotif. Eco

12

(1979) mengemukakan tiga batas sehubungan dengan penelitian semiotika yaitu


ranah budaya .ranah alam dan ranah epistemologis. (Sobur,2009:108)
1.8

Penentuan Data dan Sumber Data


Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata kata dan

tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain lain. Dalam
penelitian kualitatif, sumber data tersebut informasi dan berfungsi sebagai subjek
penelitian. (Lofland & Lofland (1904;47) (dalam Maleong,2001;112).
Penentuan dan penentuan informasi menggunakan tipe purposive, dimana
peneliti cenderung memilih informan yang dianggap tahu dan dapat dipercaya
untuk menjadi sumber data yang mantap dan mengetahui masalah secara
mendalam. Namun informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan
kemantapan penelitian memperoleh data.
Ada dua jenis yang menjadi sumber penelitian ini, yakni data primer dan
data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari isi
wawancara yang dilakukan dengan narasumber. Data primer ini bersumber dari isi
rekaman percakapan antara peneliti dan narasumber. Sedangkan data sekunder
adalah data dari sumber lain yang dapat mendukung penelitian ini, seperti studi
kepustakaan terhadap teori dan informasi yang relevan dan merupakan pelengkap
untuk mengkonstruksi realitas yang ada, yang diperoleh dari berbagai sumber
seperti buku, majalah, Koran, internet dan sebagainya. Juga melalui wawancara.

13

Hasil dari penelitian kualitatif ini diharapkan dapat menghasilkan data


serta berbagi informasi yang bermakna seputar Makna Motif Batik Mega
Mendung sebagai Simbol Budaya Cirebon.

1.8.1

Teknik Pengumpulan Data


Analisis data pada penelitian kualitatif dilakukan sepanjang proses

penelitian. Hal tersebut mengandung konsekuensi bahwa pada penelitian dengan


metode kualitatif tidak memiliki teknik teknik standar yang diakui bersama.
Data dalam penelitian ini adalah segala fakta dan informasi yang dapat
dijadikam instrument penelitian. Penjelasan singkat tentang teknik pengumpulan
data penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Wawancara, yaitu peneliti melakukan wawancara langsung dengan
pihak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan data data
mengenai fakta yang terjadi. Metode pengumpulan data yang
digunakan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif ini adalah
wawancara mendalam. Dimana, menurut Berger, wawancara adalah
suatu percakapan antara periset (seseorang yang berharap mendapatkan
informasi) dan informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai
informasi penting mengenai suatu objek (dalam Kriyantono, 2006;96).
Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang digunakan
untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.

14

b. Observasi, yaitu penelitian yang diawali dengan pra-penelitian atau


pra survey yang dilakukan langsung oleh peneliti pada tempat
terjadinya artis menjadi caleg. Dengan penelitian, pengubahan,
pencatatan dan pengumpulan data serta serangkaian perilaku, dan
suasana yang berkenan dengan tujuan tujuan empiris.
c. Studi Pustaka, yaitu peneliti mengumpulkan data dan informasi
berdasarkan penelaahan literature atau referensi, baik yang bersumber
dari artikel artikel, buku buku, majalah majalah, surat kabar,
maupun catatan penting mengenai hal hal yang berkaitan dengan
permasalahan yang sedang diteliti. Pustaka primer dengan
menggunakan buku buku pelajaran komunikasi dan psikologis.
Sedang pustaka sekunder menggunakan artikel Koran dan internet.

1.8.2

Validitas dan teknik Keabsahan Data

1.8.2.1 Validitas
Peneliti mereflesikan makna sebelum mengujinya ke lapangan
dalam rangka mencuri validitas intersubjektif yang biasa didapatkan dari orang
lain yang mengalami fenomena tersebut juga, data yang didapat kemudian diuji
melalui interaksi social antara peneliti dengan narasumber.
Validitas didapatkan jika peneliti mampu mendapatkan deskripsi yang
akurat dari data yang benar benar ditemukan dilapangan dan data tersebut

15

diperoleh melalui proses yang benar serta mengikuti prosedur yang telah
ditetapkan. Selain itu, validitas dalam penelitian kualitatif bukan dijelaskan
dengan realitas itu sendiri. Melainkan dengan mengevaluasi dan
menginterpresentasikan pengalaman yang diperoleh peneliti melalui informasn
peneliti atau yang biasa disebut key informan.
Terdapat empat kriteria yang digunakan dalam teknik validitas data, yaitu :
1. Derajat Kepercayaan (Credibility)
Kriterium ini berfungsi untuk melaksanakan sedemikian rupa sehingga
tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan
mempertunjukkan dearajat kepercayaan hasil hasil penemuan dengan
jalan pembukuan oleh kenyataan ganda yang sedang diteliti
(Moleong,200;173).
2. Keteralihan (Transferability)
Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan
antara konteks pengiriman dan penerima. Untuk melakukan pengalihan
tersebut peneliti meneliti dengan mengumpulkan kejadian empiris
tentang kesamaan konteks. (Moleong,2000;1780)
3. Kebergantungan (Dependebility)
Kriterium ketergantungan merupakan substitusi ialah realibilitas dalam
penelitian non kualitatif. Konsep ketergantungan lebih luas

16

dibandingkan reliabilitas. (Moleong,2000;178). Teknik pemeriksaan


data yang dipakai adalah audit ketergantungan.
4. Kepastian (Confirmability)
Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut
penelitian non kualitatif. Dikatakan bahwa pengalaman seseorang
adalah subjektif, sedangkan jika disepakati beberapa banyak orang
barulah dikatakan objektif.
Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan kriteria kreadibiltas
(kepercayaan) yang memiliki fungsi melaksanakan inquiry, sedemikian rupa,
sehingga tingkat kepercayaan hasil hasil penemuan dengan jalan pembuktian
oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti. Dalam penelitian
kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang
dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang
diteliti.
a. Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas ini dilakukan dengan
pengecekan data dari berbagai sumber yang berbeda.
b. Menggunakan Bahan Referensi
Bahan referensi disini adalah adanya pendukung untuk membuktikan
data yang ditentukan oleh peneliti berupa data hasil wawancara yang
telah ditemukan oleh peneliti berupa data hasil wawancara ataupun

17

pihak pihak terkait berupa rekaman wawancara, atau foto foto jika
diperlukan.
c. Member check
Member Check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti
kepada artis yang menjadi caleg dan beberapa pihak yang dapat
disajikan informasi penelitian. Tujuan member check adalah untuk
mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang
diberikan oleh informan.
1.9 Informan
Karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang hasilnya
menekankan pada makna bukan pada generalisasi. Sample digunakan untuk
mendapatkan data untuk menjawab masalah penelitian sebagai tujuan penelitian.
Tujuan dari sample adalah untuk merinci kekhususan konteks yang unik,
informan dalam penelitian ini adalah orang orang yang bisa dijadikan
narasumber oleh penulis dalam penelitian ini. Dengan menggunakan purposive
sampling. Dimana peneliti cenderung memilih informan yang dianggap tahu dan
dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap dan mengetahui masalah
secara mendalam.
Sample dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden , tetapi
sebagai narasumber , atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.
Maka, untuk selanjutnya sample yang dimaksud dalam penelitian ini disebut

18

informan, karena dianggap memiliki sumber data yang dibutuhkan dalam


penelitian. Sugiyono ( 2005 : 50 ).
1.10

Teknik Analisis Data


Metode analisis dalam kualitatif dikenal dengan nama metode

reduksi yang secara garis merduksi keseluruhan pernyataan hasil wawancara dan
dirumuskan menjadi esensi pengalaman. Adapun tahap analisis yang digunakan
dalam menganalisa hasil wawancara dalam penelitian ini adalah metode yang
direkomendasikan oleh Van Kaam, antara lain :
1. Pendataan dan Pengelompokkan awal
Semua data pernyataan yang relevan dan informasi yang dibutuhkan
dalam mengangkat motif denotasi, konotasi dan mitos dalam batik
mega mendung.
2. Reduksi dan Eliminasi
Pernyataan narasumber yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan
penelitian dalam mengungkap makna motif denotasi, konotasi dan
mitos batik mega mendung, dihilangkan atau dieliminasi, yaitu
pernyataan pernyataan yang sama, mengulang dan hampa.
3. Thematizing
Pernyataan dari narasumber yang memiliki tema yang sama dipisahkan
dan dikelompokkan sehingga mudah untuk dilihat kembali dan

19

dicerna. Pengelompokkan itu kemudian menjadi tema utama dalam


memahami pengalaman narasumber mengenai makna motif denotasi,
konotasi dan mitos batik mega mendung.
4. Validasi data wawancara
Peneliti memeriksa pernyataan dan tema yang terbentuk apakah
dinyatakan secara eksplisit, kalaupun tidak apakah tersirat.
Pemeriksaan ulang kepada semua narasumber, dan orang orang yang
mungkin terkait dilakukan untuk memastikannya, sehingga jika tidak
keduanya maka peneliti harus menyingkirkan pernyataan tersebut.
1.11

Pedoman Wawancara
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian lain dalam buku mengenai

keterkaitan antara teori, metode pengumpulan data, dan metode analisis data,
bahwa dalam penelitian kualitatif relasi metode pengumpulan data dan teknikteknik analisis data kadang tidak terelakkan, karena suatu metode pengumpulan
data juga sekaligus adalah metode dan teknik analisis data.
Dengan demikian, pedoman wawancara yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Depth Interview atau Wawancara mendalam :
Pada penelitian ini , peneliti akan menyebut informan sebagai
subjek dari penelitian. Mengingat, proses pengumpulan data ini terarah pada
individu individu yang secara humanistic bukan dipandang sebagai makhluk

20

yang pasif, melainkan makhluk yang aktif atas pertimbangan psikologi. Menurut
(Creswell, 1988;188) (dalam Sugiyono, 2005;50), menyatakan bahwa
pengumpulan data yang dilaksanakan terhadap objek, baik untuk mendapatkan
data primer maupun sekunder dengan wawancara mendalam.
Wawancara mendalam ( Indepth-Interview ) merupakan metode pengumpulan
data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Wawancara mendalam
secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan peneliti dengan
cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau
orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman ( guide )
wawancara, pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social yang
relative lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah
keterlibatannya dalam kehidupan informan.
2. Metode Wawancara Bertahap
Bentuk Wawancara yang kedua ini sedikit lebih formal dan sistematik bila
dibandingkan dengan wawancara mendalam, tetapi masih jauh tidak formal dan
tidak sistematik bila dibandingkan dengan wawancara sistematik. Wawancara
terarah dilaksanakan secara bebas dan juga mendalam (in-depth), tetapi kebebasan
ini tetap tidak terlepas dari pokok permasalahan yang akan ditanyakan kepada
respoden dan telah dipersiapkan sebelumnya oleh pewawancara.
3.Melaksanakan Wawancara dengan baik
Paling utama dalam melakukan wawancara adalah memerhatikan
kemampuan pewawancara dalam mengendalikan wawancaranya. Ini disebabkan
efektivitas

wawancara

banyak

tergantung

pada

pewawancara.

Untuk

21

melaksanakannya tugasnya dengan baik, pertama faktor karakteristik sosial


dirinya harus dapat dipahami lebih dahulu oleh pewawancara.

4.Perlengkapan Wawancara
Wawancara dapat menggunakan beberapa alat bantu atau perlengkapan
wawancara seperti tape recorder, pulpen, pensil, blocknote, karet penghapus,
stopmap plastik, daftar pertanyaan, hardboard, surat tugas, surat ijin dan daftar
responden, bahkan peta lokasi juga amat membantu.

1.12

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Penelitian


1.12.1 Lokasi Penelitian
Adapun lokasi tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Batik Wening ,

Jalan Raya Trusmi Kulon No. 148 Plered Cirebon - Jawa Barat
Indonesia
Telp : 0231 323636 atau 0231 323637

1.12.2 Waktu Pelaksanaan Penelitian


Penelitian akan dilakukan pada bulan April Juli 2013. Sebelumnya
peneliti juga telah melakukan observasi berkaitan dengan kajian penelitian
sebelum waktu terhitung penelitian berlangsung.

22

DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro, dan Q - Aness, Bambang. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi
Bandung : Simbiosa Rekatama Media
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi Ekonomi dan
Kebijakan Dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana Prenada Media Group
Moleong, Lexy J. 2004. Metode penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
Mulyana, Deddy, dan Solatun. 2007. Kualitatif Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Mulyana, Deddy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Rakhmat, Jallaludin. 2003. Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
Ruslan, Rosady. 2006. Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi Jakarta
: Rajawali Pers

23

Alex, Sobur. 2003. Semiotika Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakary


Soemirat, Solleh dan Ardianto Elvinaro, 2005. Dasar Dasar Public Relations
Bandung : PT Remaja Rosdakarya