Anda di halaman 1dari 55

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang

dilakukan atas kesadaran semua anggota keluarga dan masyarakat, sehingga keluarga

dan masyarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-

kegiatan kesehatan di masyarakat. Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah

perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat, dan menciptakan lingkungan

sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan

ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangakan oleh semua pihak

secara keseluruhan (totalitas).

Pembangunan

kesehatan

juga

bertujuan

untuk

meningkatkan

kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan

sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam rangka

mewujudkan tujuan tersebut maka dituangkan dalam Millenium Development Goals

(MDG’s) tahun 2015, dimana titik berat pembangunan bidang kesehatan melalui

pendekatan preventive, tidak hanya kuratif.

Bertambahnya

penduduk

yang

tidak

sebanding

dengan

area

pemukiman

menyebabkan masalah pembuangan kotoran manusia meningkat dilihat dari segi

1

kesehatan masyarakat. Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah

yang pokok untuk sedini mungkin di atasi karena kotoran manusia adalah sumber

penyakit yang multi komplek (Soekidjo,N,1997).

Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan

kotoran atau tinja masyarakat merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan

yang perlu mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat

terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta

masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan perilaku, tingkat ekonomi,

kebudayaan dan pendidikan.

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu

bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan

sebagai media bibit penyakit, seperti: diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan

gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan

bau busuk serta estetika.

Upaya program peningkatan akses masyarakat terhadap sanitasi layak, telah

dilaksanakan khususnya pembangunan sanitasi diperdesaan. Hasil studi evaluasi

menunjukkan bahwa banyak sarana sanitasi yang dibangun tidak digunakan dan

dipelihara oleh masyarakat.

Namun di sisi lain, tampaknya perilaku buang air besar masih merupakan suatu

kebiasaan yang kurang menunjang upaya peningkatan kesehatan lingkungan dan

kesehatan masyarakat

2

Menurut L Green, untuk merubah perilaku hidup bersih dan sehat pada

masyarakat diperlukan beberapa faktor seperti faktor predisposisi (predisposing factor)

seperti pengetahuan masyarakat tentang arti dan mamfaat jamban yang sehat juga sikap

masyarakat terhadap pembangunan jamban keluarga yang sehat tersebut, tindakan dan

sosial ekonomi. Kemudian juga faktor lain yang mendukung adalah faktor pemungkin

(enabling factor) seperti penyediaan sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadi

perilaku kesehatan misalnya tempat pembuangan tinja dan sebaginya. Serta faktor

penguat (reinforcing factor) meliputi sikap dan perilaku petugas yang mendukung.

Berdasarkan data WHO pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 1.1 milyar orang

atau 17% penduduk dunia masih buang air besar di area terbuka, dari data tersebut

diatas sebesar 81% penduduk yang BABS terdapat di 10 negara dan Indonesia sebagai

Negara kedua terbanyak ditemukan masyarakat buang air besar di area terbuka , yaitu

India (58%), Indonesia (5%), China (4,5%), Ethiopia (4,4%), Pakistan (4,3%), Nigeria

(3%), Sudan (1,5%), Nepal (1,3%), Brazil (1,2%) dan Niger (1,1%).

Di Indonesia, penduduk yang masih buang air besar di area terbuka sebesar 5%

merefleksikan 26% total penduduk Indonesia. Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan

penduduk yang buang air besar di area terbuka sebesar 36,4% Sedangkan akses sanitasi

dasar sebesar 55,5 %.

Di Propinsi Jawa Tengah masih ditemukan penduduk yang buang air besar di

area terbuka sebesar 33,4%, data sanitasi dasar kepemilikan jamban sebesar 71%

(2008), 72% (2009) dan 65% (2010), akses air bersih 74% (2008), 78% (2009).

3

Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2011 2015 pada capaian kinerja

program tahun 2009; berdasarkan profil kesehatan jumlah rumah seluruhnya 235.091

buah, diperiksa 85.254 buah (36,3%) dengan kondisi rumah sehat 59.863 buah

(70,2%). Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar menurut kecamatan,

jumlah KK 261.470 KK diperiksa 83.763 KK yang memiliki persediaan air bersih

75.900

KK

(90,81%),

memiliki

jamban

54.965

KK

(65,62%),dan

pengelolaan air limbah 22.451 KK ( 26,80%).

memiliki

Penyakit diare adalah salah satu dari 10 besar penyakit di Kabupaten boyolali. Penyakit

tersebut berkaitan dengan derajat kesehatan lingkungan masyarakat. Dinas Kesehatan

Kabupaten

Boyolali

melalui

Bidang

Pencegahan,

Pemberantasan

Penyakit

dan

Penyehatan Lingkungan dan Seksi Penyehatan Lingkungan serta Seksi Promosi

Kesehatan mencoba mengatasi masalah tersebut menggunakan pendekatan STBM,

yaitu pemberdayaan masyarakat melalui kesadaran buang air besar sesuai syarat

kesehatan. Hal ini didasarkan pada hasil studi kasus WHO (2007) yang menyebutkan

akses masyarakat terhadap sarana sanitasi dasar dapat menurunkan kejadian Diare

32%, perilaku mencuci tangan pakai sabun 45% dan perilaku pengelolaan air minum

yang aman di rumah tangga 39%. Sedangkan, dengan mengintegrasikan ketiga perilaku

tersebut, Diare menurun sebesar 94%.

Berdasarkan data yang diperoleh, sebagian masyarakat memiliki perilaku yang

berbeda-beda dalam menggunakan jamban keluarga. Dimana sesuai hasil pengamatan

awal yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa perilaku buang air besar pada

keluarga yang tidak mempunyai jamban keluarga sebagian besar dilakukan di sungai

4

dan kolam, persawahan, atau kebun. Hal yang mendasari masyarakat yang tidak

mempunyai jamban keluarga adalah social ekonomi yang rendah dan lahan terbatas

yang bada di dalam rumah. Intinya adanya perbedaan perilaku masyarakat tersebut

timbul karena kurangnya kesadaran yang baik dalam membuang kotoran atau tinja

dengan menggunakan jamban keluarga.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalah dalam

bidang kesehatan lingkungan yaitu Analisis Perilaku Buang Air Besar Masyarakat

di Boyolali.

1.3 Tujuan

Tujuan penyusunan laporan magang di Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa

Tengah adalah sebagai berikut :

1)

Mengidentifikasi

masalah

terkait

dengan

Kesehatan

lingkungan

dan

keselamatan kerja di wilayah kerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa

Tengah

2)

Menentukan prioritas masalah dalam kegiatan magang

 

3)

Menganalisa masalah

 

5

4)

Menentukan intervensi terhadap permasalahan di wilayah kerja Badan

Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

1.4 Manfaat Kegiatan

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan magang yang dilakukan di Badan

Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut :

1.4.1 Manfaat Bagi Mahasiswa

1)

Mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang telah diperoleh selama

di bangku kuliah sehingga dapat membandingkan antara teori dan

fakta yang ada di lapangan.

 

2)

Menambah pengetahuan dan pengalaman di luar kampus sesuai

dengan program studi dan jenjang tempuh sebagai bekal pengetahuan

yang dapat digunakan untuk persiapan masa studi selanjutnya.

3)

Mendapatkan

pengalaman

kerja

yang

relevan,

memiliki

pengetahuan, sikap, dan keterampilan di Kesehatan Lingkungan dan

keselamatan Kerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

1.4.2 Manfaat Bagi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Semarang

1)

Memberikan informasi dan menjadi bahan evaluasi terhadap pola perilaku

masyarakat di wilayah kerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa

Tengah

6

2)

Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara

instansi tempat magang dengan program S1 Jurusan Ilmu Kesehatan

Masyarakat,

Universitas

Negeri

Semarang,

khususnya

peminatan

Kesehatan Lingkungan dan Keselamatan Kerja (KLKK).

1.4.3 Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat

1)

Sebagai laporan yang dapat dijadikan sebagai salah satu audit internal

2)

Memperkenalkan jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan terbinanya

jaringan kerjasama dengan instansi tempat magang

3)

Menjadi media pembelajaran sehingga jurusan kesehatan masyarakat lebih

berkembang.

7

BAB II

ANALISIS SITUASI

2.1

Analisis Situasi umum

2.1.1

Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi

Untuk menangani berbagai permasalahan lingkungan hidup dalam era

Otonomi Daerah dengan kendala koordinasi yang sering belum dapat dijalankan

secara baik, maka Institusi Lingkungan Hidup di Provinsi

dan Kabupaten/Kota

pada

era

Otonomi

Daerah

telah

bersepakat

serta

menetapkan

penanganan

permasalahan lingkungan berbasis ekosistem DAS dengan melibatkan seluruh

Stakeholders termasuk perwakilan masyarakat, mulai dari proses perencanaan,

pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pengembangannya di lapangan. Proses dan

mekanisme pengambilan keputusan dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan

sejumlah

kegiatan

pada

tiap

DAS

dijalankan

melalui

forum

yang

terus

disempurnakan sesuai perkembangan dan kebutuhan di lapangan.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 84 Tahun 2008

tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Badan Lingkungan Hidup

Provinsi Jawa Tengah Bab II, Pasal 2 dan 3 , maka Tugas Pokok dan Fungsi Badan

Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut :

1)

Tugas

Pokok

Badan

Lingkungan

Hidup

adalah

melaksanakan

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan kegiatan daerah di bidang

lingkungan hidup.

8

2)

Fungsi Pokok Badan Lingkungan Hidup meliputi :

a. Perumusan kebijakan teknis bidang lingkungan hidup;

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di

bidang lingkungan hidup;

c. Pembinaan,

fasilitasi

dan

pelaksanaan

tugas

di

bidang

pengembangan kapasitas dan pengamanan lingkungan hidup,

pengkajian dampak dan pengembangan teknologi lingkungan

hidup,

pengendalian

pencemaran

lingkungan

hidup,

pengendalian

kerusakan

dan

konservasi

lingkungan

hidup

lingkup Provinsi dan Kabupaten/ Kota;

d. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang lingkungan hidup;

e. Pelaksanaan kesekretariatan badan;

f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai

dengan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 84 Tahun 2008

tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Badan Lingkungan Hidup

Provinsi Jawa Tengah, Struktur organisasi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa

Tengah adalah sebagai berikut :

1) Kepala Badan Lingkungan Hidup

2) Sekretariat, membawahkan 3 (tiga) Sub Bagian yaitu :

2.1.1.1.1 Sub Bagian Program

2.1.1.1.2 Sub Bagian Keuangan

2.1.1.1.3 Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

9

3) Bidang

Pengembangan

Kapasitas

dan

Pengamanan

Lingkungan

Hidup, membawahkan 2 (dua) Sub Bidang yaitu :

2.1.1.1.3.1.1.1 Sub Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama Lingkungan

Hidup

2.1.1.1.3.1.1.2 Sub Bidang Pengamanan Lingkungan Hidup

4)

Bidang

Pengkajian

Dampak

dan

Pengembangan

Teknologi

Lingkungan Hidup, membawahkan 2 (dua) Sub Bidang yaitu :

a. Sub Bidang Pengakajian Dampak Lingkungan Hidup

 

b.

Sub

Bidang

Pengembangan

Sarana

Teknis

dan

Teknologi

 

Lingkungan Hidup

 

5)

Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup, membawahkan

2 (dua) Sub Bidang yaitu :

 

a. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Air dan Laut

 

b. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Udara, Limbah Padat dan

 

Bahan Berbahaya Beracun

 

6)

Bidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Lingkungan Hidup,

membawahkan 2 (dua) Sub Bidang yaitu :

 

a. Sub

Bidang

Pengendalian

Kerusakan

dan

Konservasi

 

Lingkungan Hidup

 
 

b. Sub Bidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Pesisir dan

 

Laut Lingkungan Hidup

 

7)

Balai Pengujian dan Laboratorium Lingkungan Hidup

(BPL2H)

dengan susunan organisasi sebagai berikut :

10

a. Kepala Balai

b. Seksi Pengujian dan Analisis Air

c. Seksi Pengujian dan Analisis Udara, Biologi dan Tanah

d. Sub Bagian Tata Usaha

Gambar 2.1 Struktur Organisasi BLH Provinsi Jawa Tengah

KEPALA

SEKRETARIAT

SUB BAG

SUB BAG

SUB BAG

BIDANG BIDANG PENGENDALIAN PENCEMARAN PENGENDALIAN SUBBIDANG SUBBIDANG PENGENDALIAN PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN
BIDANG
BIDANG
PENGENDALIAN
PENCEMARAN
PENGENDALIAN
SUBBIDANG
SUBBIDANG
PENGENDALIAN
PENGENDALIAN
KERUSAKAN DAN
PENCEMARAN AIR
SUBBIDANG
SUBBIDANG
PENGENDALIAN
PENCEMARAN UDARA,
LIMBAH PADAT DAN
PENGENDALIAN
KERUSAKAN DAN
KONSERVASI PESISIR
BIDANG BIDANG KELOMPOK PENGEMBANGAN KAPASITAS DAN PENGAKAJIAN DAMPAK PENGAMANAN JABATAN DAN PENGEMBANGAN
BIDANG
BIDANG
KELOMPOK
PENGEMBANGAN
KAPASITAS DAN
PENGAKAJIAN DAMPAK
PENGAMANAN
JABATAN
DAN PENGEMBANGAN
LINGKUNGAN HIDUP
SUBBIDANG
SUBBIDANG
PENGEMBANGAN
PENGKAJIAN DAMPAK
KAPASITAS DAN
SUBBIDANG
SUBBIDANG
PENGAMANAN
LINGKUNGAN HIDUP
PENGEMBANGAN
SARANA TEKNIS DAN
UPT
UPT

Sebagaimana Gambar 2.1 di atas, masing-masing unsur dari organisasi Badan

Lingkungan Hidup memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

1.

Sekretaris

11

Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan

teknis, pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara

terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang program,

keuangan, umum dan kepegawaian.

a. Subbagian Program

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan

teknis,

pembinaan,

pengkoordinasian

penyelenggaraan

tugas secara terpadu, pelayanan administrasi dan pelaksanaan bidang

program,

meliputi : koordinasi perencanaan, pemantauan, evaluasi

dan pelaporan serta pengelolaan sistem informasi di lingkungan

Badan Lingkungan Hidup

b. Subbagian Keuangan

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan

teknis,

pembinaan,

pengkoordinasian

penyelenggaraan

tugas secara terpadu, pelayanan administrasi dan pelaksanaan bidang

keuangan, meliputi : pengelolaan keuangan, verifikasi, pembukuan

dan akuntansi di lingkungan Badan Lingkungan Hidup.

c. Subbagian Umum dan Kepegawaian

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan

teknis,

pembinaan,

pengkoordinasian

penyelenggaraan

tugas secara terpadu, pelayanan administrasi dan pelaksanaan bidang

umum

dan

kepegawaian,

12

meliputi

:

pengelolaan

administrasi

kepegawaian,

hukum,

humas,

organisasi

dan

tatalaksana,

ketatausahaan, rumah tangga dan perlengkapan di lingkungan Badan

Lingkungan Hidup.

2. Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengamanan Lingkungan Hidup

Mempunyai

tugas

melaksanakan

penyiapan

perumusan

kebijakan

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengembangan kapasitas

dan

kerjasama

lingkungan

lingkungan hidup.

hidup

dan

pengamanan

lingkungan

a. Subbidang Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama Lingkungan

Hidup.

Mempunyai

tugas

melakukan

penyiapan

bahan

perumusan

kebijakan

teknis,

pembinaan

dan

pelaksanaan

di

bidang

pengembangan kapasitas dan kerjasama lingkungan hidup, meliputi

: penetapan kurikulum/materi ajar tambahan dan pengembangan

pembelajaran

di

bidang

lingkungan

hidup

sesuai

dengan

karakteristik

dan

permasalahaan

Provinsi,

penyelenggaraan

pelayanan di bidang pengendalian lingkungan hidup skala provinsi,

koordinasi dalam perencanaan konservasi keanekaragaman hayati,

koordinasi pengelolaan kualitas air skala provinsi, pembinaan dan

pengawasan

penerapan

Standar

Nasional

Indonesia

(SNI)

dan

standar kompetensi personil bidang lingkungan pada skala provinsi,

perjanjian internasional di bidang pengendalian dampak lingkungan,

pelaksanaan dan pemantauan penaatan atas perjanjian internasional

13

di

bidang

pengendalian

dampak

penyelenggaraan bimbingan teknis

lingkungan

skala

provinsi,

di bidang lingkungan hidup

sesuai permasalahan lingkungan hidup skala provinsi, pembinaan

dan pengawasan penerapan standar kompetensi personil bidang

lingkungan hidup.

b. Subbidang Pengamanan Lingkungan Hidup

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengamanan

lingkungan hidup, meliputi : penerapan paksaan pemerintahan atau

uang paksa terhadap pelaksanaan penanggulangan pencemaran air

skala provinsi pada keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak

terduga lainnya skala provinsi, penegakan hukum terhadap peraturan

yang

dikeluarkan

oleh

daerah

provinsi

atau

yang

dilimpahkan

kewenangannya oleh pemerintah, penegakan hukum lingkungan skala

Provinsi, pengawasan pelaksanaan pengendalian pencemaran air skala

provinsi, pengawasan pelaksanaan pengendalian pencemaran pesisir

dan laut, pengawasan atas pengendalian kerusakan lahan dan/atau

tanah akibat kegiatan yang berdampak atau yang diperkirakan dapat

berdampak skala provinsi, pengawasan terhadap penanggungjawab

usaha

dan/atau

kegiatan

yang

dapat

menyebabkan

terjadinya

pencemaran udara skala provinsi, pengawasan baku mutu emisi udara

sumber

bergerak

dan

tidak

bergerak,

pengawasan

penaatan

pengelolaan limbah B3 skala provinsi, dan pengawasan terhadap

14

pelaksanaan

pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup bagi

jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dalam

wilayah provinsi dalam rangka uji petik.

1.

Bidang

Pengkajian

Dampak

dan

Pengembangan

Teknologi

Lingkungan Hidup

 

Mempunyai

tugas

melaksanakan

penyiapan

perumusan

kebijakan

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengkajian dampak

lingkungan hidup,

lingkungan.

dan pengembangan sarana teknis dan teknologi

a. Sub bidang Pengkajian Dampak Lingkungan Hidup

Mempunyai

tugas

melakukan

penyiapan

bahan

perumusan

kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengkajian

dampak lingkungan hidup, meliputi : penilaian AMDAL bagi jenis

usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap

lingkungan hidup di Provinsi sesuai standar, norma, prosedur

yang

ditetapkan oleh Pemerintah, pembinaan dan pengawasan terhadap

penilaian

AMDAL

di

Kabupaten/Kota,

pengawasan

terhadap

pelaksanaan pemberian rekomendasi UKL/UPL yang dilakukan oleh

Kabupaten/Kota

dalam

wilayah

Provinsi,

pembinaan

terhadap

pelaksanaan pengawasan pengelolaan dan pemantauan lingkungan

hidup yang dilakukan oleh Kabupaten/Kota bagi jenis kegiatan yang

wajib dilengkapi AMDAL dan UKL/UPL dalam wilayah Provinsi,

15

dan

pembinaan

terhadap

pelaksanaan

pemberian

rekomendasi

UKL/UPL yang dilakukan oleh Kabupaten/Kota dalam wilayah

Provinsi.

c.

Subbidang

Pengembangan

Lingkungan Hidup

Sarana

Teknis

dan

Teknologi

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan

teknis,

pembinaan

dan

pelaksanaan

di

bidang

Pengembangan Sarana Teknis dan Teknologi Lingkungan Hidup,

meliputi : pembinaan dan pengawasan penerapan Standar Nasional

Indonesia (SNI) bidang lingkungan, pembinaan dan pengawasan

penerapan sistem manajemen lingkungan, ekolabel, produksi bersih

dan

teknologi

berwawasan

lingkungan

yang

mendukung

pola

produksi

bersih

dan

konsumsi

yang

berkelanjutan

pada

skala

Provinsi,

penunjukkan

Laboratorium

lingkungan

yang

telah

diakreditasi/direkomendasi untuk melakukan analisis lingkungan,

pembinaan Laboratorium lingkungan, penetapan peraturan daerah di

bidang

penerapan

instrumen

ekonomi

yang

Kabupaten/Kota

dalam

pengelolaan

sumber

bersifat

linbtas

daya

alam

dan

lingkungan, penetapan baku mutu udara ambien Nasional, penetapan

baku mutu air lebih ketat dan/atau penambahan parameter dari kriteria

mutu air skala Provinsi, penetapan baku mutu air limbah untuk

berbagai kegiatan sama atau lebih ketat dari Pemerintah, penatapan

baku mutu udara ambien daerah lebih ketat atau sama dengan baku

16

mutu udar ambien Nasional, penetapan baku mutu

emisi udara

sumber tidak bergerak, ambang batas emis gas buang

kendaraan

bermotor alam dan penetapan baku tingkat kebisingan dan getaran

sumber

tidak

bergerak

dan

baku

tingkat

kebisingan

kendaraan

bermotor lama skala Provinsi, penetapan baku mutu air laut skala

Provinsi, penetapan kriteria baku kerusakan lingkungan pesisir dan

laut

skala

Provinsi,

penetapan

kriteria

teknis

lingkunga hidup skala Provinsi yang berkaitan

baku

kerusakan

dengan kebakaran

hutan dan/atau lahan, penetapan kriteria Provinsi baku kerusakan

lahan dan/atau tanah Provinsi untuk kegiatan pertanian, perkebunan

dan hutan tanaman serta pertambangan berdasarkan kriteria

baku

kerusakan

tanah

Nasional,

dan

pembinaan

dan

pengawasan

penerapan instrumen ekonomi yang bersifat lintas Kabupaten/Kota

dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

1. Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup

Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijaksanaan

teknis

,

pembinaan

dan

pelaksanaan

di

bidang

pengendalian

pencemaran air dan laut, pengendalian pencemaran udara, limbah padat

dan bahan berbahaya dan beracun (B3).

a. Subbidang Pengendalian Pencemaran Air dan Laut

Mempunyai

tugas,

melaukan

penyiapan

bahan

perumusan

kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian

17

pencemaran air dan laut, meliputi : koordinasi pengelolaan kualitas air

skala Provinsi, penetapan kelas air pada sumber air skala Provinsi,

koordinasi pemantauan kualitas air pada sumber air skala Provinsi,

penetapan

Provinsi,

pengendalian

pencemaran

air

pada

pengaturan

pengelolaan

kualitas

air

sumber

air

skala

dan

pengendalian

pencemaran air skala Provinsi, pengaturan pengendalian pencemaran

wilayah

pesisir

dan

laut

skala

Provinsi,

dan

penaggulangan

pencemaran lingkungan akibat bencana skala Provinsi.

b. Subbidang Pengendalian Perncemaran Udara, Limbah Padat dan

Bahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian

pencemaran udara, limbah padat dan bahan berbahaya dan beracun,

meliputi

:

pelaksanaan

koordinasi

operasional

pengendalian

pencemaran

udara

skala

Provinsi,

koordinasi

dan

pelaksanaan

pemantauan

kualitas

udara

skala

Provinsi,

pembinaan

dan

pengawasan baku mutu emisi udara sumber bergerak dan tidak

bergerak, pemantauan kualitas udara dalam ruangan, penanggulangan

pencemaran lingkungan akibat bencana skala Provinsi, penetapan

kebijakan pelaksanaan pengendalian dampak perubahan iklim skala

Provinsi,

pemantauan

dampak

deposisi

asam

skala

Provinsi,

pengendalian

pencemaran

lingkungan

hidup

yang

berkaitan

kebakaran hutan dan/ atau

18

lahan yang dampaknya skala Provinsi,

pengawasan atas pengendalian pencemaran lingkungan hidup yang

berkaitan kebakaran hutan dan/ atau

lahan yang berdampak atau

diperkirakan

dapat

berdampak

skala

Provinsi,

pengawasan

pelaksanaan

pengelolaan

limbah

B3

skala

Provinsi,

izin

pemngumupulan limbah B3 skala Provinsi (sumber limbah lintas Kab/

Kota), rekomendasi izin pengumpulan limbah B3 skala Provinsi,

pengawasan penanggulangan kecelakaan pengelolaan limbah B3

skala

Provinsi

dan

pengawasan

pelaksanan

pemulihan

akibat

pencemaran limbah B3 pada skala Provinsi

2. Bidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Lingkungan Hidup

Mempunyai tugas

melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian kerusakan

dan konservasi pesisir dan laut serta pengendalian kerusakan dan

konservasi sumberdaya alam

a. Subbidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Pesisir dan Laut

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian kerusakan

dan konservasi pesisir dan laut, meliputi : pemantauan kualitas

lingkungan

wilayah

pesisir

dan

laut

skala Provinsi,

pengaturan

pengendalian kerusakan wilayah pesisir dan laut skala Provinsi,

penetapan lokasi dalam pengelolaan konservasi laut skala Provinsi,

koordinasi dalam perencanaan konservasi keanekaragaman hayati

19

skala Provinsi, penetapan dan pelaksanaankebijakan konservasi dan

pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati skala Provinsi,

penetapan

dan

pelaksanaan

pengendalian

kemerosotan

keanekaragaman hayati skala Provinsi, pemantauan dan pelaksanaan

konservasi

keanekaragaman

hayati

skala

Provinsi,

penyelesaian

konflik dalam pemanfaatan keanekargaman hayati skala Provinsi dan

pengembangan

sistem

informasi

dan

pengelolaan

data

base

keanekaragaman hayati skala Provinsi.

b. Subbidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Sumberdaya

Alam

Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan

kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian

kerusakan dan konervasi sumberdaya alam, meliputi : koordinasi

penanggulangan kebakaran hutan dan/ atau lahan skala Provinsi

pengendalian kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan

kebakaran hutan dan/ atau lahan yang dampaknya skala Provinsi,

pengawasan akan pengendalian kerusakan lingkungan hidup yang

berkaitan dengan kebakaran hutan dan/ atau lahan yang berdampak

atau diperkirakan dapat berdampak

skala Provinsi, pengaturan

pengendalian kerusakan lahan dan/ atau tanah untuk produksi biomasa

skala Provinsi, penaggulangan kerusakan lingkungan akibat bencana

lingkungan skala Provinsi, penetapan kawasan yang beresiko rawan

bencana

lingkungan,

koordinasi

20

dalam

perencanaan

konservasi

keanekaragaman

hayati

skala

pelaksanaankebijakan

konservasi

Provinsi,

penetapan

dan

dan

pemanfaatan

berkelanjutan

keanekaragaman hayati skala Provinsi, penetapan dan pelaksanaan

pengendalian kemerosotan keanekaragaman hayati skala Provinsi,

pemantauan dan pelaksanaan konservasi keanekaragaman hayati

skala

Provinsi,

penyelesaian

konflik

keanekargaman hayati skala Provinsi.

dalam

pemanfaatan

3. Balai Pengujian dan Laboratorium Lingkungan Hidup (BPL2H)

Mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan teknis operasional

dan/atau kegiatan teknis penunjang Badan di bidang pengujian dan

laboratorium lingkungan hidup.

Balai

Pengujian

dan

Laboratorium

menyelenggarakan fungsi :

Lingkungan

Hidup

a. Penyusunan rencana teknis operasional pengujian dan analisis air,

udara, biologi, dan tanah ;

b. Pelaksanaan kebijakan teknis operasional pengujian dan analisis

air, udara, biologi, dan tanah;

c. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pengujian dan analisis air,

udara, biologi, dan tanah ;

d. Pengelolaan ketatausahaan ;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai

dengan tugas dan fungsinya.

21

2.1.2

Visi dan Misi

Visi : Menjadi Lembaga yang tanggap dan mampu mewujudkan lingkungan

hidup yang lestari bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat”.

1. Misi : Meningkatkan upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan

lingkungan mitigasi dan adaptasi bencana, kelestarian ekosistem serta

pengawasan dan penaatan hukum bidang lingkungan;

2. Mengembangkan

dan

memperkuat

kelembagaan,

aparatur

yang

profesional, peraturan perundangan, sistem informasi dan pelayanan

di bidang lingkungan hidup;

3. Meningkatkan

kemitraan

bersama

masyarakat

dan

pemangku

kepentingan

lainnya,

ketrampilan

dan

kemandirian

dalam

perlindungan

dan

pengelolaan

lingkungan

hidup

dengan

memperhatikan kearifan lokal.

2.2 Analisis Situasi Khusus

Jenis jamban yang ada di Kabupaten Boyolali sebagian besar sudah

menggunakan kloset leher angsa meskipun ada beberapa wilayah yang masih

menggunakan kloset jenis cemplung bahkan masih buang air besar di sungai.

Berikut adalah tabel akses buang air besar warga di Kabupaten Boyolali yang

diperoleh dari data Rekapitulasi Sarana Sanitasi Dasar Dinas Kesehatan Kabupaten

Boyolali Tahun 2010.

22

Tabel 2.1 Akses Buang Air Besar Warga Kabupaten Boyolali

No

Jenis Jamban

Rumah Tangga (%)

1.

Milik sendiri

72,1

2.

Bersama

4,9

3.

Umum/Tidak memiliki

23,0

Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23
Rumah Tangga (%) 1. Milik sendiri 72,1 2. Bersama 4,9 3. Umum/Tidak memiliki 23,0 23

23

Berdasarkan hasil survei Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan (EHRA

2011) yang

dilaksanakan di Kabupaten Boyolali, pada bulan September 2011,

terhadap

1600 responden, hasil wawancara dan pengamatan langsung diperoleh

hasil sebagai berikut :

2.2.1 Identitas Wilayah

a. Kabupaten Boyolali mempunyai wilayah 19 Kecamatan, pada pelaksanaan

studi EHRA semua dipilih menjadi lokasi survei, dengan harapan dapat

tergambarkan hasil penilaian risiko kesehatan lingkungan karena masing-

masing Kecamatan mempunyai karakteristik yang berbeda.

b. Sebanyak 267 desa/kelurahan di Kabupaten Boyolali, dilakukan klaster

dengan penentuan tentang kepadatan penduduk, kemiskinan, aliran sungai,

banjir/air genangan dan daerah pegunungan (hasil terlampir)

c. Jumlah desa/kelurahan sesuai klater, yang terambil secara acak sebagai

sampel sebanyak 40 desa/kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel

2.3

Desa/Kelurahan

sebagai

sampel

lokasi

studi

EHRA

 

Kabupaten Boyolali 2011

 

No

Klaster

Jumlah

%

Desa

%

Propors

Desa

Sampel

i

1

0

3

1,12

3

7,5

100

2

1

43

16,10

12

30,0

40

3

2

126

47,19

10

25,0

7,94

4

3

81

30,34

10

25,0

12,34

5

4

14

5,24

5

12,5

35,71

 

Jumlah

267

100

40

100

 

24

o

Klasifikasi kluster yang dilakukan dari 267 desa yang ada di Kabupaten

Boyolali, terbanyak katagori klaster 3 yaitu 126 desa (47,19%), dan

paling sedikit klaster 4 yaitu hanya 3 desa (1,12 %).

o

Desa/kelurahan sampel terbanyak pada kluster 3 (30 %) dan klaster 0

yang paling sedikit (7,5 %).

o

Agar proporsi pengambilan desa sampel merata maka kluster 0 diambil

semua dari 3 desa karena jumlah desa sedikit, kluster 1 diambil 40 %

merupakan pengambilan kluster terbanyak.

Grafik 2.1 Distribusi Desa Berdasarkan Jumlah Sampel Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011.

Jumlah Sampel Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011. d. Penentuan lokasi RT sebagai lokasi survei EHRA

d. Penentuan lokasi RT sebagai lokasi survei EHRA menggunakan teknik

sampling (random sampling) dengan tidak meninggalkan kaidah-kaidah

statistik, sehingga masing-masing desa kluster mempunyai kesempatan

yang sama untuk mewakili kluster.

Desa/kelurahan berdasarkan kluter dan lokasi survei (RT) terpilih dapat

dilihat pada tabel berikut :

25

Tabel 2.4 Desa/Kelurahan berdasarkan klaster dan jumlah RT terpilih Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

     

Jumlah

 

No

Klaster

Desa

 

RT

Responden

%

Terpilih

RT

Terpilih

   

1

4

3

42

15

120

7,5

2

3

12

308

60

480

30

3

2

10

232

50

400

25

4

1

10

276

50

400

25

5

0

5

39

25

200

12,5

 

Jumlah

40

1.860

200

1.600

100

Jumlah desa/kelurahan terpilih sebanyak 40 dengan jumlah RT : 1.860,

setelah dilakukan random sampling didapatkan RT terpilih sebanyak 200 desa,

masng-masing RT sebayak 8 responden sehingga jumlah responden total responden

sebanyak 1.600 KK/responden. Jumlah responden terbanyak pada klaster 3 (30 %).

2.2.2 Informasi Umum

Sebelum pelaksanaan survei EHRA, telah dilakukan pelatihan petugas yaitu

pelatihan bagi enumerator (check), pelatihan bagi supervisor (re-check) dan

koordinator (Final check) serta petugas entry data.

Survei EHRA dilaksanakan selama 6 hari, dilaksanakan mulai tanggal

7

September

2011

sampai

dengan

11

September

2011.

Petugas

wawancara/enumerator sebanyak 80 orang yang terdiri dari 40 mahasiswa Poltekes

Surakarta dan 40 orang Bidan Desa, Supervisor sebanyak 22 orang beasal dari

petugas

Hygiene

Sanitasi

Puskesmas

dan

Koordinator

wilayah

Kecamatan

sebanyak

19

orang

berasal

dari

Kepala

Seksi

Pemberdayaan

Masyarakat

26

Kecamatan, masing-masing pelaksana mempunyai peran sendiri-sendiri namun

terkoordinasi.

Proses

pengumpulan

data

dengan

wawancara

yang

dilakukan

oleh

enumerator menggunakan kuesioner terstruktur, supervisor melakukan recheck

hasil isian wawancara serta melakukan observasi pada beberapa obyek pengamatan

sedangkan koordinator melakukan final check dan mengkoordinasi pelaksanaan

survei. Hasil kuesioner penilaian risiko kesehatan lingkungan dilakukan entry data

oleh petugas entry dan dianalisis data oleh Pokja Kabupaten.

Berdasarkan pelaksanaan wawancara untuk pengisian Kuesioner Penilaian

Risiko

Kesehatan

Lingkungan/Studi

EHRA

2011,

distribusi

frekuensi

lama

wawancara oleh enumerator dapat ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 2.5 Lama Waktu Wawancara pada Studi EHRA Kabupaten Boyolali

2011

No

Waktu

 

Frekuensi

 

Persen

 

1

21

30 menit

2

 

0,13

2

31

40 menit

548

34,25

3

41

50 menit

785

49,06

4

51

60 menit

126

7,88

5

61

70 menit

139

8,68

 

Jumlah

 

1.600

 

100

 

Lama

waktu

wawancara

yang

dilakukan

enumerator

terbanyak

membutuhkan waktu antara 41-50 menit sebanyak 785 responden (49,06%),paling

cepat selama 21 30 menit sebanyak 2 responden (0,13%).

27

Hubungan responden dengan Kepala Keluarga/Rumah tangga, dapat digambarkan

dalam distribusi frekuensi seperti pada tabel berikut .

Tabel 2.6 Karakteristik Responden pada Studi EHRA Kabupaten Boyolali

2011

No

Responden

Frekuensi

Persen

1

Suami

798

49,88

2

Istri

369

23,06

3

Anak (sudah menikah 18-60 th)

433

27,06

 

Jumlah

1.600

100

Responden yang terbanyak adalah suami (49,88 %) sebagai kepala rumah

tangga dan yang paling sedikit adalah istri (23,06 %), gambaran responden dapat

ditampilkan pada grafik berikut :

2.2.3 INFORMASI RESPONDEN

Data ini ditampilkan untuk memberikan gambaran dari responden yang

meliputi status rumah, pendidikan terakhir dan anak yang tinggal didalam rumah

kepala keluarga, Hasil survey dapat dilihat pada tabel berikut :

1. Status Rumah

Rumah yang ditempati responden pada studi EHRA, hasil wawancara

terbanyak milik sendiri (86,19 %) dan yag paling sedikit berstatus kontrak (0,13 %)

secara lengkap dapat ditampilkan pada tabel berikut.

28

Tabel 2.7 Status Rumah Responden Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

No

Status Rumah

Frekuensi

Persen

1

Milik Sendiri

1.379

86,19

2

Rumah Dinas

3

0,19

3

Berbagi dengan Keluarga lain

14

0,88

4

Sewa

2

1,13

5

Kontrak

2

0,13

6

Milik Orang Tua/Anak/Saudara

196

12,25

7

Lainnya

4

0,25

 

Jumlah

1.600

100

2. Pendidikan Terakhir Responden

Pendidikan terakhir responden ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 2.8 Pendidikan Terakhir Responden pada Studi EHRA Kabupaten

Boyolali

No

Pendidikan

Frekuensi

Persen

1

Tidak Sekolah Formal

3

0,19

2

SD

134

8,38

3

SMP

658

41,13

4

SMA

692

43,25

5

SMK / Kejuruan

89

5,56

6

Universitas / Akademi

24

1,50

 

Jumlah

1.600

100

29

3.

Anak Responden

Responden yang mempunyai anak sebesar 95,06 % dan berdasarkan jenis

kelamin dapat ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 2.9 Anak Responden pada Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

No

Responden Mempunyai Anak

Frekuensi

Persen

1

Ya

1.521

95,06

2

Tidak

79

4,94

 

Jumlah

1.600

100

Tabel 2.10 Karakteristik Anak Responden Berdasarkan Kelompok Umur dan

Jenis Kelamin Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

No

Umur

Laki-

%

Wanita

%

Jumla

%

Anak

laki

h

1

<

2 tahun

96

15,8

123

13,4

219

14,40

 

2

6

2

2

5 tahun

127

20,9

156

17,0

283

18,61

 

2

7

3

6

12 tahun

179

29,4

329

36,0

508

33,40

 

9

0

4

> 12 tahun

205

33,7

306

33,4

511

33,60

7

8

 

Jumlah

573

37,6

948

62,3

1.521

100

7

3

Jumlah responden 1.600, yang mempunyai anak 1.521 (95,06 %) dengan

usia terbanyak umur lebih dari 12 tahun (33,60 %), menurut jenis kelamin, paling

banyak anak perempuan (62,33 %). Proporsi anak laki-laki terbanyak pada usia

30

lebih dari 12 tahun (33,77 %) sedangkan pada anak perempuan terbanyak pada usia

6 12 tahun (36,0 %).

2.2.4 Pembuangan Air Kotor/Limbah Tinja Mausia Dan Lumpur Tinja

Pembuangan air kotor/tinja manusia, data yang dikumpulkan dari hasil

kuesioner

dikelompokkan

meliputi

sarana

pembuangan

dan

perilaku.

Hasil

wawancara dengan 1.600 responden dapat ditampilkan sebagai berikut :

Tabel 2.11 Kebiasaan Orang Dewasa Buang Air Besar (D-1) Studi EHRA

Kabupaten Boyolali 2011

No

Kebiasaan BAB

Tidak

%

Ya

%

1

Jamban pribadi

379

23,7

1.221

76,3

2

MCK/WC umum

1.532

95,7

68

4,3

3

WC “Holikopter” diempang

1.582

98,9

18

1,1

4

Sungai/pantai/laut

1.450

90,6

150

9,4

5

Kebun/Pekarangan rumah

1.566

97,9

34

2,1

6

Selokan/Parit/Got

1.590

99,4

10

0,6

7

Lubang galian

1.538

96,1

62

3,9

8

Lainnya

1.572

99,4

28

0,6

9

Tidak tahu

1.591

97,2

9

1,8

 

Total

   

1.600

100

Proporsi anggota keluarga yang sudah dewasa buang air besar di jamban

pribadi sebanyak 1.221 orang (76,3 %), sedangkan yang lain buang air besar di WC

umum (4,3 %), WC Helikopter (1,1 %), sungai (2,1 %), Kebun (2,1 %), Selokan

(0,6 %) Lubang galian (3,9 %), lainnya misal di sawah/hutan (1,8 %) dan yang

menjawab tidak tahu (0,6 %).

31

Grafik 2.2 Orang Luar Anggota Keluarga Yang Sering Buang Air Besar

Ditempat Terbuka pada Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

N = 1.600, bobot, wawancara, jawaban tunggal

Boyolali 2011 N = 1.600, bobot, wawancara, jawaban tunggal Kebiasaan diluar anggota keluarga yang sering buang

Kebiasaan diluar anggota keluarga yang sering buang air besar ditempat

terbuka untuk Anak hingga remaja baik laki-laki maupun perempuan berkisar

antara 4,4 % 5,8 %, sedangkan orang dewasa lebih tinggi yaitu antara

6,7 % -

7,9 %. Responden menyatakan lain-lain tidak jelas siapa dan berapa usianya

menyatakan 27,1 %.

Tabel 2.12 Jenis Kloset Yang dipakai di Rumah (D-3) Studi EHRA Kabupaten

Boyolali 2011

No

Jenis Jamban

Jumlah

%

1

Kloset jongkok leher angsa

1068

73,4

2

Kloset duduk leher angsa

12

0,8

3

Plengsengan

156

10,7

4

Cemplung

219

15,1

 

Total

1.455

100

32

Sebanyak 1.600 responden, yang menyatakan mempunyai Kloset dirumah

sebanyak 1.455 responden dan menurut jenis kloset menurut hasil wawancara

terbanyak adalah kloset jongkok leher angsa (73,4 %) dan yang paling sedikit

adalah kloset duduk leher angsa (0,8 %).

Jika dikaitkan dengan, kebiasaan anggota keluarga yang sudah dewasa

buang air besar dengan jawaban di jamban pribadi (1.221 responden) dan MCK

umum (68 responden), maka berarti masih ada 166 anggota keluarga yang memiliki

jamban / WC umum namun buang air besar di sembarang tempat.

Berdasarkan

jenis

kloset

maka

akan

berhubungan

dengan

tempat

penyaluran buangan akhir tinja, hasil survey dari jawanan 1.455 responden yang

mempunyai kloset tempat penyaluran buangan akhir tinja sebagai berikut :

33

Tabel 2.13 Tempat Penyaluran Buangan Akhir Tinja (D-4) Studi EHRA

Kabupaten Boyolali 2011

No

Penyaluran

Klaster

 

Jumla

%

Buangan

 

0

1

2

3

4

h

Akhir Tinja

 

1

Tangki Septic

 

11

31

26

30

77

1.080

74,23

0

6

8

9

2

Cubluk/Lubang

 

30

27

81

63

18

219

15,05

tanah

 

3

Langsung ke saluran drainase

 

0

2

3

2

1

8

0,55

4

Sungai/danau/parit/l

 

5

16

24

44

16

105

7,22

aut

 

5

Kolam/sawah

 

3

5

2

4

0

14

0,96

6

Kebun/tanah lapang

 

18

1

4

6

0

29

1,09

7

Lainnya

 

0

0

0

0

0

0

0,0

8

Tidak tahu

 

0

0

0

0

0

0

0,0

 

Total

 

16

36

38

42

11

1.455

100

1

7

2

8

5

Penyaluran buangan akhir tinja terbanyak di tangki septik (67,5 %) dan

masih ada yang menyalurkan ketempat terbuka, misal saluran drainase (0,5 %),

sungai (6,6 %), kolam (0,9 %) dan di kebun (1,8 %). Jumlah tempat pembuangan

akhir tinja di tangki septik sebanyak 1.080 rumah (67,5 %), responden menyatakan

lama tangki septik dibuat ditampilkan pada tabel berikut.

34

Tabel 2.14 Jamban dengan Tengki Septik Studi EHRA Kabupaten Boyolali

2011

No

Jamban dengan tangki septik

Klaster

 

Jumlah

%

0

1

2

3

4

   

1

Ya

110

316

268

309

77

1.080

74,,23

2

Tidak

51

51

114

119

38

375

25,77

 

Total

161

367

382

428

115

1.455

100

Keluarga tempat pembuangan akhir tinja penyalurannya selain tangki septik,

maka bila ada anak berumur 0-5 tahu dilingkungan tempat tinggal apakah anak

tersebut masih terbiasa buang air besar di lantai, kebun, jalan, selokan/sungai, hasil

survei terhadap 375 responden sebagai berikut :

Tabel 2.15 Anak Umur 0 5 tahun Di Lingkungan Rumah Tempat Tinggal

masih terbiasa BAB di lantai, kebun, jalan , selokan, sungai (D-9) Studi EHRA

Kabupaten Boyolali 2011

No

Terbiasa BABS

Jumlah

%

1

Ya, sangat sering

106

28,27

2

Ya, kadang-kadang

105

28,0

3

Tidak, tidak bisa

113

30,13

4

Tidak tahu

51

13,6

 

Total

375

100

35

Dilingkungan Rumah tempat tinggal, masih ditemukan anak berumur 0-5

tahun terbiasa buang air besar di lantai, dikebun, di jalan, diselokan/sungai. Proporsi

terbesar responden menjawab tidak (30,13 %), namun masih ada yang menyatakan

sering (28,27 %) dan kadang-kadang (28 %).

Dirumah yang ada balita dan masih sering buang air besar di lantai, kebun,

jalan, selokan (8,50 %) lebih kecil dibanding dengan yang tidak biasa (27,44 %),

lebih lengkap ditampilkan dalam tabel berikut :

Tabel 2.16 Anak Balita Di Rumah Masih Terbiasa BAB di Lantai, kebun, jalan , selokan, sungai (D-10) Studi EHRA Kabupaten Boyolali 2011

No

Pengamatan anak 0-5 th BAB Sembarangan

Klaster

 

Jum

%

0

1

2

3

4

lah

1

Ya, sangat sering

40

20

16

58

2

136

8,50

2

Ya,

kadang-

18

26

62

60

4

170

10,6

kadang

3

3

Tidak, tidak bisa

53

94

115

118

59

439

27,4

4

4

Tidak tahu

53

94

115

118

59

439

53,4

4

 

Total

200

400

400

480

120

1600

100

36

Tabel 2.17 Kebiasaan Buang Tinja yang ada di Pampers/Popok/Celana

(D-11) Studi EHRA kabupaten Boyolali 2011

No

Kebiasaan buang tinja di Pampers

Jumlah

%

1

Ke WC/jamban

112

7,00

2

Ke tempat sampah

29

1,81

3

Ke kebun/pekarangan/jalan

62

3,88

4

Ke sungai/selokan/got

44

2,75

5

Lainnya

157

9,81

6

Tidak tahu

1.196

74,75

 

Total

1.600

100

37

BAB III

IDENTIFIKASI MASALAH

3.1

Identifikasi Masalah

 

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan magang khususnya di Bidang

III

(Pengendalian

Pencemaran

Lingkungan

Hidup)

di

temukan

beberapa

permasalahan. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

1)

Keterbatasan ruang tempat penyimpanan data. Hal ini menyebabkan

proses bekerja menjadi terganggu akibat harus memakan waktu lebih lama

untuk mencari dokumen-dokumen atau keperluan lain yang diperlukan

untuk melakukan pekerjaan.

2)

Program Stop BABS di wilayah kerja Badan Lingkungan Hidup Provinsi

Jawa tengah yaitu Kabupaten Boyolali yang belum mencapai target. Stop

BABS merupakan salah satu program

yang mendukung percepatan

pencapaian MDG’s 2015 dengan target 80% penduduk terakses oleh

jamban keluarga.

3.2 Prioritas Masalah

Berdasarkan permasalahan yang sudah dijumpai selama proses identifikasi

masalah, maka perlu adanya penentuan prioritas masalah. Penetapan prioritas

masalah menjadi bagian penting dalam proses pemecahan masalah dikarenakan dua

38

alasan. Pertama, karena terbatasnya sumber daya yang tersedia dan karena itu tidak

mungkin menyelesaikan semua masalah. Kedua, karena adanya hubungan antara

satu masalah dengan masalah lainnya, dan karena itu tidak perlu semua masalah

diselesaikan. Penentuan prioritas masalah dirasa perlu karena dapat mengetahui

seberapa besar masalah dan kegawatan masalah yang terjadi sehingga dapat

diketahui

upaya

penanggulangan

masalah

yang

sesuai

apabila

dilihat

dari

perbandingan antara perkiraan hasil atau manfaat penyelesaian masalah yang akan

di peroleh dengan sumber daya yang ada (tenaga, sarana dan prasarana, cara dan

metode) untuk menyelesaikan masalah.

3.2.1. Kriteria A (Besar Masalah)

Yaitu jumlah/prosentase (%) kelompok penduduk yang terkena masalah

serta dapat juga berupa tingkat kriteria dan peran serta masyarakat atau instansi

terkait. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari yang terkecil

sampai yang terbesar.

5

= sangat kuat

4

= kuat

3

= cukup kuat

2 = kurang kuat

1 = sangat kurang kuat

3.2.2. Kriteria B (Kegawatan Masalah)

39

Yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas serta kecenderungannya

(Trend) dari waktu ke waktu. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5

dari yang terkecil sampai yang terbesar.

5

= sangat gawat

4

= gawat

3

= cukup kuat

2

= kurang kuat

1

= sangat kurang kuat

3.2.3. Kriteria C (Efektifitas)

Kemudahan dalam penanggulangan masalah di lihat dari perbandingan

antara perkiraan hasil/manfaat penyelesaian masalah yang akan di peroleh dengan

sumber

daya

yang

ada

(Tenaga,

sarana

/prasarana

dan

metode)

untuk

menyelesaikan masalah. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari

yang terkecil sampai yang terbesar.

5

= sangat mudah

4

= mudah

3

= cukup mudah

2

= mudah

1

= sangat mudah

3.2.4. Kriteria D (Pearl Faktor)

Yaitu berbagai pertimbangan yang harus di pikirkan dalam kemungkinan

pelaksanaannya.

Skor 0= tidak 1=Ya

40

Keterangan:

1)

P: Appropriatness

 

Yaitu

kesesuaian

masalah/alternatif

dengan

prioritas

kebijakan

program

pemerintah/kegiatan instansi terkait.

 

2)

E: Economic Feasibility

Yaitu kelayakan dari segi pembayaran, ada tidaknya biaya yang tersedia.

3)

A: Acceptability

 

Yaitu situasi penerimaan masyarakat dalam instansi terkait, kesesuaian dengan

tata nilai yang ada di lingkungan.

 

4)

R: Resources Availability

Yaitu ketersediaan sumber daya untuk memecahkan.

 

5)

L: Legality

 

Yaitu dukungan aspek-aspek hukum dan perundangan yang berlaku dan terkait.

Setelah

berbagai

kriteria

diisi

dan

diberikan

skoring

maka

langkah

berikutnya adalah menghitung nilai NPD dan NPT dengan rumus:

NPD

:

Nilai Prioritas Dasar

=

( A+B ) x C

NPT

:

Nilai Priorotas Total

= ( A+B )C x D

Prioritas utama adalah alternatif yang mempunyai nilai NPT tertinggi. Dari

identifikasi masalah di atas dapat di lihat hasil perhitungan dengan menggunakan

metode Hanlon Kuantitatif sebagai berikut :

41

Tabel 3.1 Metode Hanlon Kuantitatif

     

Skor

       

No.

Inventarisasi

Masalah

Kriteria

 

Skor D (PEARL)

 

NPD

NPT

Prio-

ritas

A

B

C

P

 

E A

R L

 

1.

Keterbatasan

3

2

3

0

 

1 0

 

1 0

15

30

II

ruang tempat

penyimpanan

data

2.

Program Stop

4

4

3

1

 

1 1

1 1

 

24

120

I

BABS

Berdasarkan hasil perhitungan di atas diperoleh bahwa prioritas masalah

utama di wilayah kerja badan lingkungan hidup provinsi Jawa Tengah adalah

masih adanya perilaku BABS pada masyarakat.

3.3 Pembahasan Prioritas Masalah

Proporsi anggota keluarga yang sudah dewasa buang air besar di jamban

pribadi sebanyak 1.221 orang (76,3 %), sedangkan yang lain buang air besar di WC

umum (4,3 %), WC Helikopter (1,1 %), sungai (2,1 %), Kebun (2,1 %), Selokan

(0,6 %) Lubang galian (3,9 %), lainnya misal di sawah/hutan (1,8 %) dan yang

menjawab tidak tahu (0,6 %).

Berdasarkan hasil studi EHRA di Kabupaten Boyolali menunjukan masalah

kesehatan yaitu masih adanya masyarakat yang memiliki kebiasaan buang air besar

tidak di jamban. Perilaku seperti tersebut jelas sangat merugikan kondisi kesehatan

masyarakat. Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar

sembarangan, antara lain anggapan bahwa membangun jamban itu mahal, lebih

enak buang air besar di sungai, tinja dapat untuk pakan ikan, dan lain-lain yang

akhirnya dibungkus sebagai alasan karena kebiasaan sejak dulu, sejak anak-anak,

sejak nenek moyang, dan sampai saat ini tidak mengalami gangguan kesehatan.

42

Alasan dan kebiasaan tersebut harus diluruskan dan dirubah karena akibat

kebiasaan yang tidak mendukung pola hidup bersih dan sehat jelas-jelas akan

memperbesar masalah kesehatan. Di pihak lain bilamana masyarakat berperilaku

higienis, dengan membuang air besar pada tempat yang benar, sesuai dengan kaidah

kesehatan, hal tersebut akan dapat mencegah dan menurunkan kasus-kasus penyakit

menular.

Sebenarnya, masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai

jamban sendiri di rumah. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat

mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belum

mempunyai uang. Melihat kenyataan tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di

setiap rumah tangga bukan semata faktor keadaan ekonomi. Tetapi lebih kepada

belum adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat

(PHBS) ( Depkes, 2006 ).

43

BAB IV

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

4.1 Alternatif Pemecahan Masalah

Berdasarkan

gambaran

permasalahan

mengenai

perilaku

babs

pada

masyarakat

di

boyolali,

alternatif

pemecahan

masalah

yang

diambil

yaitu

Pembuatan plang di tempat yang biasa digunakan untuk BABS, Posterisasi di

tempat umum, dan Penerapan STBM.

4.2 Prioritas Pemecahan Masalah

Dalam menetapkan pioritas pemecahan masalah ini, metode yang

digunakan adalah metode Delbeg dengan Pembobotan yang terdiri dari :

4.2.1 Langkah pertama

Menetukan kriteria yang dimaksud dengan kriteria adalah faktor-faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya nilai alternatif pemecahan masalah

sehingga alternatif yang satu dengan yang lainnya dapat dibedakan, yaitu :

1. Besarnya alternatif Merupakan prosentase (%) atau jumlah kelompok yang merasakan alternatif dan keterlibatan penduduk dan instansi terkait.

2. Kepentingan alternatif Merupakan keberadaan alternatif dalam sistem dianggap berpengaruh dan sejauh atau seluas mana pengaruhnya.

3. Kegunaan alternatif

44

Merupakan manfaat yang dirasakan oleh semua pihak dengan adanya alternatif tersebut.

4. Kemudahan Merupakan teredianya tenaga, sarana/peralatan, waktu serta cara atau metode dan teknologi dalam pelaksanaan maupun kemudahan dalam penerimaan pemahaman masyarakat.

4.1.2 Langkah kedua Mengkaji apakah kriteria tersebut dapat dipakai untuk menilai permasalahan.

4.1.3 Langakh ketiga

Menentukan bobot dari masing-masing kriteria, yaitu memberikan urutan penetapan bobot pada tiap-tiap kriteria.

1)

Besarnya alternatif

(A) bobot

: 8

2)

Kepentingan alternatif (B) bobot

: 8

3)

Keguanaan alternatif

(C) bobot

: 9

4)

Kemudahan

(D) bobot

: 9

4.1.4 Langkah keempat Menentukan skala nilai untuk kriteria tersebut, misalnya 1 sampai dengan 10. Setiap anggota diberi kesempatan untuk memberikan nilai, apabila sudah dilakukan penilaian kemudian menjumlahkan antar nilai dan dibagi dengan jumlah anggota yang berpendapat.

4.1.5 Langkah kelima Berdasarkan penghitungan dnegan Metode Delbeg untuk menetapkan prioritas masalah, didapatkan prioritas pemecahan maslaah seperti yang terlihat pada tabel berikut :

45

Tabel 4.1 Metode Delbeg

Kriteria alternatif pemecahan

A

B

C

D

Jumlah

Urutan