Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA
DI RUANG 25 RSSA
I. KONSEP DASAR
A. Definisi
Pneumonia merupakan infeksi akut pada jaringan paru-paru (alveoli).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran
gas setempat. (Zul, 2001).
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang
mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di
sekitarnya. Pada bronko pneumonia terjadi konsolidasi area berbercak.
(Smeltzer,2001).

B. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :
1. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
a. Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris
dengan opasitas lobus atau lobularis.
b. Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat
lambat dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
2. Berdasarkan faktor lingkungan :
a. Pneumonia komunitas
b. Pneumonia nosokomial

c. Pneumonia rekurens
d. Pneumonia aspirasi
e. Pneumonia pada gangguan imun
f. Pneumonia hipostatik
3. Berdasarkan sindrom klinis :
a. Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang
terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia
dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran
atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai
konsolidasi paru.
b. Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang
disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.
Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
1. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan
umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal
merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya
menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
2. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial.
Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus
stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired
pneumonia.
3. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi
infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan
hanya menurut lokasi anatominya saja.
4. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan
organisme perusak

C. Etiologi
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus
pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella
pneumonia dan P. Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama
pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan

terjadinya

Pneumocystis

carinii

pneumonia

(CPC).

Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves,


2001)
D. Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada
beberapamekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi.
Partikel infeksiusdifiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh
mukus dan epitel bersilia disaluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai
paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga
dengan mekanisme imun sistemik, danhumoral. Bayi pada bulan-bulan pertama
kehidupan juga memiliki antibodi maternalyang didapat secara pasif yang dapat
melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapatmenyebabkan anak mudah
mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomiskongenital, defisiensi

imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yangmemudahkan anak


mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitelsaluran
napas.

Pada

anak

tanpa

faktor-faktor

predisposisi

tersebut,

partikel

infeksiusdapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan


fisiologis yangnormal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas
bagian atas. Virustersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan
menyebabkan pneumonia virus.
Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme
pertahan yangnormal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran
napas bagian bawah.Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan
normal berkolonisasi disaluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari
satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang
pneumonia bakterialis dan virus ( contoh:varisella, campak, rubella, CMV, virus
Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadimelalui penyebaran
hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi
akut yangmeliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear di alveoliyang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di
alveoli menyebabkan konsolidasilobaris yang khas pada foto toraks. Virus,
mikoplasma, dan klamidia menyebabkaninflamasi dengan dominasi infiltrat
mononuklear pada struktur submukosa daninterstisial. Hal ini menyebabkan
lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, sepertiyang terjadi pada
bronkiolitis.
E. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis dari pneumonia adalah antara lain:
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur

c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronki, egofoni
3. Gerakan dada tidak simetris
4. Menggigil dan demam 38,8 C sampai 41,1C, delirium
5. Diaforesis
6. Anoreksia
7. Malaise
8. Batuk kental, produktif
a. Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan
atau berkarat
9. Gelisah
10. Cyanosis
a. Area sirkumoral
b. Dasar kuku kebiruan
11. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati.
F.Pemeriksaan Penunjang
Manifestasi klinis dari bronkopneumonia adalah antara lain:
1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan
abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau
terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus).
Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.

2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi,
tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum,
aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru
untuk mengatasi organisme penyebab.
4. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
6. LED : meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun,
hipoksemia.
8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
9. Bilirubin : mungkin meningkat
10. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear
tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV)
G. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi menyertai pneumonia adalah :
- Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang
- Efusi pleural adalah terjadi pengumpulan cairan di rongga pleura
- Empiema adalah efusi pleura yang berisi nanah
- Gagal nafas
- Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial
- Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak
- Pneumonia interstitial menahun
- Atelektasis adalah (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena
obstruksi bronkus oleh penumukan sekresi
- Rusaknya jalan nafas
H. Penatalaksanaan

1. Terapi oksigen jika pasien mengalami pertukaran gas yang tidak adekuat.
Ventiasi mekanik mungkindi perlikan jika nilai normal GDA tidak dapat
dipertahankan.
2. Blok saraf interkostal untuk mengurangi nyeri
3. Pada pneumonia aspirasi bersihkan jalan nafas yang tersumbat
4. Perbaiki hipotensi pada pneumonia aspirasi dengan penggantian volume
cairan
5. Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
6. Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
7. Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia
mikroplasma.
8. Menganjurkan untuk tirah baring
9. Berikan nutrisi dengan kalori yang cukup

1.

II. ASUHAN KEPERAWATAN


Pengkajian
a. Identitas
b. Umur
Anak-anak

cenderung

mengalami

infeksi

virus

dibanding

dewasa.

Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar


c. Tempat tinggal
Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar
d. Riwayat Masuk
Biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batukbatuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun
apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).
e. Riwayat Penyakit Dahulu
Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering
terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit
Pneumonia.Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat
memperberat klinis penderita
2. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Integumen
Subyektif : Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder),
banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan
b. Sistem Pulmonal
Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif /
nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan,

pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan


meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru.
c. Sistem Cardiovaskuler
Subyektif : sakit kepala
Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas
darah menurun
d. Sistem Neurosensori
Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi
e. Sistem Musculoskeletal
Subyektif : lemah, cepat lelah
Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan
penggunaan otot aksesoris pernafasan
f. Sistem genitourinaria
Subyektif : Obyektif : produksi urine menurun/normal
g. Sistem digestif
Subyektif : mual, kadang muntah
Obyektif : konsistensi feses normal/diare
3.
Diagnosa keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d. perubahan membran aveolar-kapiler ditandai
dengan Gas Darah Arteri abnormal, PH artery abnormal,sianosis,nafas
cuping hidung,dan gelisah (rewel).
b. Hipertermia b.d. dehidrasi dan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh diatas normal, dan kulit terasa hangat.
c. Kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan keluarga aktif ditandai
dengan penurunan turgor kulit, memebran mukosa kering, dan peningkatan
suhu tubu

4.

Intervensi dan rasional

No Diagnosa

Tujuan dan kreteria Intervensi

Rasional

hasil
1. Gangguan
gas

b.d.

pertukaran Setelah

dilakukan NIC label

perubahan tindakan

membran

aveolar- keperawatan

Respiratory Monitoring

kapiler ditandai dengan selama 4x 24 jam 1. Monitor laju ritme dari 1. Untuk mengetahui status pernapasan
Gas
Darah
Arteri diharapkan
nafas
pasien
abnormal, PH artery pertukaran
gas
suara
nafas 2. Untuk mengetahui apabila adanya
abnormal,sianosis,nafa adekuat
dengan 2. Monitor
s cuping hidung,dan kreteria hasil :
gelisah (rewel)

NOC label

tambahan seperti snoring


3. Monitor

peningkatan 3. Utuk memantau keadaan fisik pasien

kelelahan

4. Untuk

Respiratory status
4. Monitor

kelainan pada saluran pernapasan

peningatan

memantau

dan

kecemasan dari pasien

mengurangi

RR

normal

normal (skala
5)

pernafasan pasien

mempermudah

6. Berikan terapi perawatan

Oxigen therapy
7. Bersihkan

Akumulasi

skresi

kebutuhan

saluran pernapasan

8. Memeberikan

9. memastikan kebutuhan oksigen yang


sesuai untuk klien

terapi

oksigen sesuai kebutuhan


Respiratory
exchange

dari

mulut 8. Mengatasi terjadinya defisit O2

tidak

ada (skala 5)

status

keluar

7. Untuk mempermudah jalan napas

hidung dan trakea sesuai


sputum

sekret

dan

normal

(skala 5)

mengencerkan

nebulizer sesuai kebutuhan

Kedalaman
nafas

saluran napas klien

5. Monitor sekresi dari sistem 6. Untuk

Ritme
respiratory

dan 5. Untuk memantau adanya sekret pada

kekurangan oksigen

(skla 5)

kegelisahan,

:Gas 9. Monitor aliran oksigen


10. Monitor kerusakan kulit

10. mencegah terjadinya iritasi pada kulit

Tekanan

dari

gesekan

parsial

selang oksigen

dengan

karbondioksid
a pada darah
arteri

normal

(skala 5)

pH

arteri

normal (skala
5)

Tidak

terjadi

sianosis (skala
5)
2. Hipertermia

b.d. Setelah

dilakukan NIC : Vital Signs Monitoring

dehidrasi dan penyakit tindakan


ditandai
peningkatan

1. Monitor

dengan keperawatan
suhu selama 4x 24 jam

tubuh diatas normal, diharapkan

suhu

(tekanan

TTV
darah,

pasien
nadi,

suhu, dan pernapasan).

1. Untuk

mengetahui

kondisi

umum

pasien.
2. Untuk memantau adanya peningkatan

dan kulit terasa hangat.

tubuh pasien dalam 2. Monitor

dan

laporkan

batas

normal

tanda

dan

gejala

dengan

kriteria

hipertermi.

hasil :

kelembapan.

tubuh 4. Identifikasi kemungkinan

dalam

batas

normal

(36-

skala 5.

normal
darah,

(tekanan
nadi,

pernapasan) dengan
skala 5.

penyebab perubahan tanda

5. Untuk membuat tubuh merasa nyaman.

vital.
NIC

Temperatur

Regulation

TTV dalam rentang

4. Agar dapat mengontrol perubahan


TTV pasien.

Suhu

37,50C) dengan

3. Untuk mengetahui adanya tanda dan


gejala hipertermi.

3. Kaji warna kulit, suhu,

NOC : Vital Signs

suhu tubuh pasien.

dehidrasi.

5. Anjurkan
selimut

6. Untuk

penggunaan
hangat

untuk

menyesuaikan perubahan
suhu tubuh.
6. Anjurkan asupan nutrisi

menghindari

terjadinya

dan cairan adekuat.


7. Untuk menurunkan panas badan.

NIC : Fever Treatment


7.

Anjurkan

pemberian

kompres hangat.
3. Kekurangan

volume Setelah

dilakukan NIC

cairan b.d. kehilangan tindakan


dengan selama 4x 24 jam

penurunan turgor kulit, diharapkan


memebran
kering,
peningkatan
tubuh.

mukosa kebutuhan volume


dan cairan

Fluid

management

cairan keluarga aktif keperawatan


ditandai

label:

pasien

1. Monitoring status hidrasi


(kelembaban
mukosa,

membrane
nadi

1. Untuk mengetahui status hidrasi pasien

yang 2. Untuk memastikan jumlah cairan yang

adekuat) secara tepat

masuk dan keluar

suhu terpenuhi

dengan 2. Atur catatan intake dan


3. Untuk memenuhi
kriteria hasil :
output cairan secara akurat
pasien
Noc label:
Hydrasi:

3. Beri cairan yang sesuai


Fluid monitoring:

4. Untuk

mengetahui

ketidakseimbangan

kebutuhan

cairan

factor

risiko

cairan

dan

mencegah secara dini factor tersebut

Turgor

kulit 4. Identifikasi

kembali

ketidakseimbangan

normal (skala

(hipertermi,

5)

muntah dan diare)

Membrane
tampak
lembab (skala
5)
Intake

cairan

awal periode pengobatan antimikroba.

infeksi,

Kurva suhu tubuh memberikan indeks


respon pasien terhadap terapi. Hipotensi

5. Monitoring tekanan darah,

cairan

(skala 5)
Tidak terdapat
diare (skala 5)
Fluid balance:

yang

terjadi

penyakit

dapat

pada

perjalanan

mengindikasikan

diberikan dengan kewaspadaan, karena


antipiretik

pemberian

dini

hipoksia atau bakterimia. Antipiretik

IV teraphy:
6. Lakukan

yang adekuat

risiko 5. Komplikasi letal dapat terjadi selama

nadi dan RR

mukosa

factor

dapat

mengakibatkan

benar

penurunan suhu dan dengan demikian

terapi

infuse

mengganggu evalusasi kurva suhu

(benar obat, dosis, pasien,


6. Untuk memastikan terapi diberikan

rute, frekuensi)

secara benar
7. Monitoring
tempat
pemberian

tetesan
IV

dan

selama 7. Untuk memastikan pemberian terapi


diberikan secara tepat
8. Untuk mengetahui tanda dan gejala
diare

Nadi

normal Diarrhea managemenet:

(skala 5)
-

8. Monitoring

Intake

dan

output

cairan

seimbang

tanda

9. Untuk mengetahui apa factor penyebab


dan

gejala diare

dari diare
10. Untuk mengetahui efek obat terhadap

9. Ketahui penyebab diare

gastrointestinal
11. Untuk mengetahui perubahan penyakit

dalam

pasien

sehari(skala 5)
10. Evaluasi

mengenai

pengobatan terhadap efek


gastrointestinal
11. Instruksikan

keluarga

untuk memantau warna,


volume,

frekuensi

dan

konsistensi feses
12. Monitoring
perianal

kulit
pasien

dan
untuk

mengethui adanya iritasi

12. Untuk mengetahui adanya iritasi dan


perlukaan pada kulit pasien

dan ulserasi

LAPORAN PENDAHULUAN
PNEUMONIA
DI RUANG 25 RSSA MALANG

OLEH :
NURUL WIENDA WARDHANI
12.1.04
POLTEKKES RS TK II dr. SOEPRAOEN MALANG
PRODI KEPERAWATAN
2015

DAFTAR PUSTAKA
Wijayaningsih, Kartika Sari. 2013. Standart Asuhan Keperawatan. Jakarta :
TIM
Smeltzer SC, Bare B.G (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Volume I, Jakarta : EGC
Taylor, Cynthia M. 2010. Diagnosis Keperawatan Dengan Rencana Asuhan.
Jakarta : EGC
Kusuma, Hardhi dan Amin Huda Nurarif. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : Media Hardy
Shinigami,

Hergun.

2014.

Laporan

Pendahuluan

Pneumonia.

https://www.scribd.com/doc/201041507/laporan-pendahuluan-PNEUMONIAdocx. Di publikasikan pada 21 Januari 2014.