Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE

OLEH :
OLEH
:
  • 1. Rode Novianti Bai Feto ( 16112049 )

  • 2. Maria Januaria Shepa

( 16112056 )

  • 3. Ferdinandus Bhate

( 16112064 )

  • 4. Aminah Ati Susanti

( 16112123 )

  • 5. Andry Oktovian Amalo ( 16111030 )

  • 6. Afrianus Irwan Tewan

( 16111012 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KATHOLIK WIDYA MANDIRA KUPANG

2014

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kekuatan dan petunjuk-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini dengan baik. Kami menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan dan saran. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kupang

2014

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang Inovasi pembelajaran berasal dari kata inovasi dan pembelajaran. Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang artinya perubahan dan pembaruan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arah perbaikan atau ke arah yang berbeda dari yang sebelumnya, dan dilakukan dengan sengaja dan berencana. Istilah perubahan dan pembaruan memiliki perbedaan dan persamaan. Perbedaan diantara keduanya adalah jika pembaruan terdapat unsur kesengajaan, sedangkan perubahan lebih cenderung pada unsur ketidaksengajaan. Persamaan dari pembaruan dan perubahan adalah sama-sama akan menimbulkan suatu unsur yang berbeda dari sebelumnya. Salah satu cara yang dapat dipakai agar mendapatkan hasil optimal seperti yang diinginkan adalah memberi tekanan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih salah satu model pembelajaran yang tepat. Karena pemilihan model pembelajaran yang tepat pada hakikatnya merupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, kami membuat makalah yang berjudul” Penerapan Model Kooperatif Learning Tipe Think Pair and Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Peserta didik”. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memiliki prosedur secara eksplisit sehingga model pembelajaran Think-Pair-Share dapat diisosialisasikan dan digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran di sekolah. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah peserta didik dapat berkomunikasi secara langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan. Model TPS juga merupakan bentuk refleksi dari structural kelas yang kurang optimal. Oleh karena itu, penulis ingin memperbaiki struktur kelas yang seperti itu dengan menerapkan model pembelajaran tipe Think-Pair-Share (TPS). Model pembelajaran TPS sepertinya akan diterapkan dikalangan sekolah manapun. Karena model ini tidak membutuhkan banyak biaya, sehingga dapat digunakan baik di sekolah yang kurang memiliki fasilitas hingga sekolah elite sekalipun.

Rumusan Masalah 1.2

Rumusan Masalah

1.2

  • a. Apakah pengertian Model Pembelajaran Cooperative ?

  • b. Apakah pengertian Think Pair and Share ?

  • c. Bagaimanakah langkah-langkah model pembelajaran kooperative tipe Think Pair and Share ?

  • d. Apakah kelebihan dan kekurangan model pembelajaran cooperative tipe Think Pair and Share ?

  • e. Apa saja manfaat model pembelajaran cooperative tipe Think Pair and Share ?

    • 1.3 Tujuan

      • a. Untuk memberikan informasi tentang pengertian Model Pembelajaran Cooperative.

      • b. Untuk memberikan informasi tentang pengertian Think Pair and Share.

      • c. Untuk memberikan informasi tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperative tipe Think Pair and Share.

      • d. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperative tipe Think Pair and Share.

      • e. Untuk mengetahui manfaat model pembelajaran kooperative tipe Think Pair and Share.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Model Pembelajaran Cooperative

2.1 Pengertian Model Pembelajaran Cooperative

1)

Cooperative Learning Sistem pembelajaran gotong-royong atau cooperative learning merupakan system pengajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran cooperative dikenal dengan pembelajaran yang berkelompok. Tetapi belajar cooperative lebih dari sekedar belajar kelompok, karena dalam cooperative ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepensi efektif diantara anggota kelompok.

2)

Ciri-ciri Model Pembelajaran Cooperative

 

Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajarnya.

Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang,

dan rendah. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin

berbeda. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.

3)

Tujuan dan hasil belajar pada pembelajaran cooperative Setidaknya ada 3 tujuan pembelajaran penting dalam model pembelajaran cooperative, antara lain :

 

Hasil belajar akademik

Penerimaan terhadap perbedaan individu

Pengembangan keterampilan social.

  • 2.2 Pengertian Think-Pair-Share (TPS)

Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok secara keseluruhan.

Pada kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 peserta didik perlu dipupuk suasana persaingan. Peserta didik harus diberi pengertian bahwa orang yang memberi ilmu justru akan lebih memperkaya orang yang memberinya. Sambil menjelaskan kepada temannya ia akan lebih menguasai materi itu. Karakteristik model TPS, peserta didik dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan. Model ini selain diharapkan dapat menjembatani dan mengarahkan KBM juga mempunyai dampak lain yang sangat bermanfaat bagi peserta didik. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah peserta didik dapat berkomunikasi secara langsung dengan individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.

2.3 Langkah-langkah model pembelajaran kooperative tipe Think Pair and Share adalah sebagai berikut:

Langkah 1. Thinking (berpikir)

Guru mengajukan suatu pertanyaan yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta peserta didik menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri.

Langkah 2. Pairing (berpasangan)

Guru meminta peserta didik untuk berpasangan dan berdiskusi dengan peserta didik lain untuk menyatukan jawaban yang sudah mereka peroleh. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3. Sharing (berbagi)

Langkah terakhir guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian. Dalam hal ini dapat dilakukan hal – hal sebagai berikut :

  • a. Semua peserta didik menulis jawabannya di papan tulis pada saat yang sama.

b.

Para

peserta

didik

memberikan

jawaban

dengan

cepat

dan

peserta

didik

lain

menanggapi dengan cepat.

  • c. Semua peserta didik memberikan jawabannya dengan cara berdiri kemudian duduk kembali. Dan setiap peserta didik yang memberikan jawaban yang sama dengan peserta didik yang menulis di papan tulis ikut duduk. Proses ini dilanjutkan sampai semua peserta didik duduk.

  • d. Setiap peserta didik berbagi jawaban dengan peserta didik dengan kelompok yang lain.

    • 2.4 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share

1.

Kelebihan

Proses kegiatan belajar mengajar tidak bergantung pada guru. Dengan demikian,

peserta didik dirangsang untuk lebih aktif sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari beberapa sumber, dan dapat saling dan bertukar informasi antar peserta didik. Memberi peserta didik waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling

membantu satu sama lain. Peserta didik dapat memiliki kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkan dengan ide-ide orang lain.

2.

Kekurangan

Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktifitas.

Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran

yang berharga, untuk itu guru harus membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang. Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruang kelas.

  • 2.5 Manfaat Model Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah:

(1) Para peserta didik menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think- Pair-Share lebih banyak peserta didik yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab

setelah berlatih dalam pasangannya. Para peserta didik mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik. (2) Para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban peserta didik, mengamati reaksi peserta didik, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Kegiatan model pembelajaran Think-Pair-Share dapat mengembangkan pemikiran peserta didik secara individu karena adanya waktu berpikir, sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan karena banyak peserta didik yang terlihat antusias saat proses belajar mengajar berlangsung. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tipe TPS, sebelum berdiskusi secara kelompok, peserta didik berupaya berpikir terlebih dahulu, kemudian didiskusikan dengan pasangannya sehingga peserta didik telah mempunyai bahan untuk dibawa dalam diskusi kelompok. Dengan demikian peserta didik akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar.

3.2 Saran

 

Guru sebaiknya membentuk kelompok – kelompok belajar, supaya peserta didik

dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Sebelum berdiskusi secara kelompok hendaknya peserta didik telah mempunyai

pendapat dari pemikirannya sendiri dan didiskusikan terlebih dahulu dengan teman pasangannya sehingga suasana diskusi kelompok lebih hidup.

Dalam

pembelajaran

dengan

model

kooperatif,

diupayakan

agar

kelompok –

kelompok belajar terdiri dari peserta didik yang memiliki kemampuan akademik

berfariasi. Guru sebaiknya menggunakan model pembelajaran TPS agar pesrta didik dapat

memahami materi yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, M. D. Diponegoro

Prof. Dr. 1990. “Model – Model Mengajar” . Bandung: CV.

http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and-share.html

Pertanyaan atas hasil presentasi :

  • 1. Dari semua tipe model pembelajaran yang telah kita pelajari, menurut kelompok pemateri manakah yang lebih baik diterapkan di dalam kelas, apakah model pembelajaran tipe TPS atau model pembelajaran tipe yang lainnya?

  • 2. Jelaskan aplikasi model pembelajaran tipe TPS di dalam kelas!

  • 3. Jelaskan apa itu pertanyaan tingkat tinggi!

5.

Pada bagian 2.2 (pengertian TPS) apa yang dimaksudkan dengan metode resitasi ?

  • 6. Pada kekurangan model pembelajaran tipe TPS bagian ketiga, “membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas”. Jelaskan maksud dari pernyataan diatas !

Jawaban atas pertanyaan :

  • 1. Seperti yang kita ketahui, setiap materi dalam pembelajaran mempunyai ciri khas masing – masing. Cara menyajikan satu materi dengan materi yang lain juga berbeda untuk mendapatkan tingkat pemahaman yang baik bagi para peserta didik. Model pembelajaran yang dipakai dalam penerapan materi juga tentunya berbbeda satu dengan yang lainnya. Dari sebab itu,setiap tipe model pembelajaran yang dipakai juga tidak dapat dibandingkan. Semuanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing – masing, dan cara penerapan atau langkah – langkah yang berbeda dalam semua tipe model pembelajaran. Misalnya diambil contoh antara tipe TPS dan Jigsaw, pada langkah penerapan TPS diawali dengan thingking dimana guru memberikan pertanyaan dan memberi siswa waktu untuk berpikir,setelah itu pairing dimana secara berpasangan siswa mendiskusikan jawabannya dengan siswa yang lain, dan langkah terakhir sharing dimana setiap pasangan berbaur dengan pasangan lain di dalam kelas untuk berbagi hasil diskusi yang telah dillakukan dengan pasangan sebelumnya. Pada langkah penerapan Jigsaw guru membagi kelompok yang dinamakan kelompok asal, dan memberikan pertanyaan berbeda pada setiap kelompok, setelah berdiskusi masing – masing anggota dari kelompok asal akan membentuk suatu kelompok baru yang di sebut kelompok ahli dimana setiap anggota kelompok memberikan jawaban atas hasil diskusi yang telah dilakukan pada kelompok asal, setelah diskusi selesai masing – masing anggota pada kelompok ahli kembali ke kelompok asalnya dan melaporkan hasil diskusi pada kelompok ahli. Dari contoh diatas, kita dapat memahami bahwa tiap tipe model pembelajaran memiliki ciri masing – masing dalam menyajikan suatu materi tergantung dari materi itu sendiri. Jadi tidak dapat dikatakan mana yang lebih baik antara tipe TPS dan tipe yang lainnya.

  • 2. Aplikasi model pembelajaran tipe TPS di dalam kelas dapat kita ketahui dari langkah – langkah model pembelajaran tersebut.

Guru mengajukan pertanyaan dan memberi kesempatan kepada siswa

untuk berpikir Siswa secara berpasangan berbagi hasil pemikirannya

Dari pasangan tersebut, semua pasangan berbaur dengan pasangan lain di dalam kelas dan berdiskusi tentang hasil pemikiran tiap pasangan. Pada langkah ini,dapat dilakukan hal- hal sebagai berikut :

Siswa menulis jawabannya di papan tulis pada saat yang sama

Siswa memberi jawaban dengan cepat dan siswa lain menanggapi dengan cepat pula

Semua siswa memberi jawabannya dengan cara berdiri kemudian

duduk kembali. Setiap siswa yang memberikan jawaban yang sama dengan siswa yang menulis di papan ikut duduk. Proses ini dilakukan sampai semua siswa duduk. Setiap siswa berbagi jawaban dengan siswa dengan kelompok yang

lain.

  • 3. Pertanyaan tingkat tinggi adalah pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir secara lebih dan dapat menjelaskan materi pembelajaran itu. Disini maksudnya guru dituntut agar bisa menyajikan pertanyaan yang jawabannya membutuhkan penjelasan dari siswa, tidak hanya jawaban ya atau tidak. Contoh pertanyaannya seperti bagaimana cara kerja suatu termometer. Disini siswa diharuskan untuk berpikir sehingga apa yang dijawab selalu diingat dan dimengerti.

  • 4. Model pembelajaran tipe TPS yang bersifat interdepensi maksudnya adalah dalam model pembelajaran tipe TPS ini dituntut agar setiap siswa dapat bekerja sama dengan baik antara sesamanya dengan hubungan ketergantungan yang efektif antara setiap siswa. Setiap siswa saling membutuhkan dan melengkapi sehingga proses pembelajaran dapat dimengerti dengan baik dan menambah wawasan dari setiap hasil pembelajaran koopratif yang dilakukan.

  • 5. Metode resitasi adalah cara menyajikan bahan pelajaran dimana guru memberikan sejumlah tugas terhadap muridnya untuk mempelajari sesuatu, kemudian murid disuruh untuk mempertanggungjawabkannya. Disini menjelaskan bahwa tipe TPS ini dapat mengubah asumsi tentang metode resitasi tersebut yang harus atau perlu diselenggarakan dalam setting kelompok secara keseluruhan.

  • 6. Pada kekurangan tipe TPS “membutuhkan perhatian khusus dalam ruangan kelas”, maksudnya ruang kelas seperti apa yang mungkin menduungkung pembelajaran tipe TPS ini, misalnya ruang kelas yang cuukup luas karena pada saat siswa berbagi dengan pasangan lain dalam kelas pada saat proses diskusi membutuhkan atau melibatkan seluruh anggota kelas. Pada saat terjadi pergantian pasangan atau pada saat pembawaan hhasil diskusi siswa dituntut untuk terlibat aktif, ruang kelas juga merupakan salah satu faktor yang mendukung proses pembelajaran ini berlangsung. Ruang kelas yang cukup luas membantu siswa untuk bergerak bebas dan santai selama melakukan diskusi dan pembacaan hasil diskusi.